KH. Abdullah Hakam Shah Lc MA

26 Dzulqo’dah 1442 / 7 Juli 2021




Rukshah dalam Sholat

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Allah tidak menghendak kesukaran bagimu” (QS. Al-Baqoroh : 185)

Rukshah atau keringanan sebagai pengecualian dalam semua ibadah islam bentuknya ada dua.

1. Yang terkait dengan keadaan setiap mukalaf.(af’al ul mukallafi)

Maka nanti hukumnya bisa berbeda antara si A, si B, si C dan si D. Tidak bisa tuntunan ibadah dipukul rata kalau terkait keadaan mukalaf.

2. Karena adanya situasi yang sulit (wujudul masyaqqah)

Ini berlaku untuk semua orang. Tidak melihat keadaan orang perorang.
Contoh misalnya dalam keadaan puasa.

Hukum wujudul masyaqqah, Allah SWT berfirman dua kali dalam surat Al Baqarah “mariidhon au ‘alaa safarin” (sakit atau dalam perjalanan)
Safar atau perjalanan ini adalah wujudul masyaqqah atau situasi yang sulit. Jadi sudah tidak memperhatikan lagi, tidak membeda-bedakan stamina atau keadaan fisik dari orang perorang.

Pokoknya kalau dalam perjalanan, dapat rukshah atau hadiah pengecualian boleh tidak puasa. Apakah dia ustadz yang kurus atau atlit yang berbadan kekar, kalau dalam perjalanan boleh tidak berpuasa. Bahkan sebagian madzhab mengatakan : Yang lebih utama dan lebih diprioritaskan adalah tidak berpuasa, kalau dalam perjalanan jauh yang halal.

Tetapi ada yang af’al ul mukallafi. Misalnya kondisi ibu yang menyusui, ada yang wajib berpuasa, dan adapula yang tidak wajib berpuasa. Ini terkait kondisi masing-masing orang. Tidak bisa dipukul rata bahwa semua yang menyusui boleh tidak berpuasa.
Tidak boleh demikian karena ini terkait af’al ul mukallafi. Sehingga kondisi setiap muslim akan punya kesimpulan hukum yang berbeda.


Dilema Fāqidu ath-Thahūrain

Kita akan masuk dalam gambaran- gambaran yang mungkin ada dalam situasi pandemi ini.
Dalam situasi Fāqidu ath-Thahūrain
orang dalam keadaan tidak memungkinkan melakukan salah satu dari dua opsi bersuci.

Dalam surat Al Maidah ayat 6, opsi bersuci cuma dua : Berwudhu atau Bertayamum. Atau kalau jinabah dia harus mandi wajib. Perintahnya berwudhu, tapi bila dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan atau tidak menemukan air maka bertayamum.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَا غْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَ يْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَا فِقِ وَا مْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَ رْجُلَكُمْ اِلَى الْـكَعْبَيْنِ ۗ وَاِ نْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَا طَّهَّرُوْا ۗ وَاِ نْ كُنْتُمْ مَّرْضٰۤى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَآءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَآئِطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَآءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَا مْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَ يْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗ مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰـكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَ لِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan basuh kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik ; usaplah wajahmu dan tanganmu dengan debu itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 6)

Tapi dalam kajian syari’ah ada keadaan Fāqidu ath-Thahūrain atau Hilangnya dua media bersuci berupa air dan tanah. Ada orang dalam situasi tidak memungkinkan dua opsi bersuci ini. Mau sholat tidak memungkinkan untuk berwudhu, tidak memungkinkan membersihkan najis dengan air atau bahkan bertayamumpun tidak memungkinkan.

Ada beberapa pendapat madzhab utama Ahlul Sunah wal jamaah.


Pendapat Imam Malik

Imam Malik berpendapat bahwa orang yang dalam keadaan Fāqidu ath- Thahūrain, tidak mungkin untuk menjangkau salah satu dari dua opsi bersuci tadi, dengan air atau dengan debu, atau tidak punya daya untuk melakukan itu.

Misalnya dokter atau nakes yang sedang memakai pakaian APD lengkap mulai bertugas dari jam 10.00 dan baru selesai jam 18.00. Berarti dia akan kehilangan dua waktu sholat : Dhuhur dan Ashar. Atau mungkin justru pasiennya tidak berdaya untuk tayamum, apalagi wudhu.

Madzhab Maliki memasukkan ini dalam Fāqidu ath- Thahūrain. Pendapat Imam Malik, orang dalam kondisi ini tidak berdosa ketika dia meninggalkan sholat. Imam Malik berdalil dengan Surat Al Maidah ayat 6. Karena dia tidak berdaya melakukan thaharah yang merupakan syarat sahnya sholat.

Jadi kalau misalnya ada dokter atau Nakes yang memakai APD dari jam 10.00 sampai jam 18.00, kemudian sholatnya diqadha selepas maghrib. Dengan mengqadhanya itu dia tidak berdosa.

Bahkan Imam Malik mengatakan kalau misalnya pasien, katakanlah dia sadar tapi karena dia harus dipasangi berbagai alat kesehatan yang tidak memungkinkan dia bersuci baik dengan air maupun dengan debu, dia tidak wajib sholat dan tidak wajib mengqadha kalau situasinya berkelanjutan.


Pendapat Madzhab Syafi’i dan Imam Abu Yusuf salah satu ulama Hanafiyah.

Sesungguhnya orang yang Fāqidu ath- Thahūrain , orang yang tidak memiliki salah satu dari opsi bersuci atau dia tidak memiliki daya, dia tetap harus melaksanakan sholat dengan batas maksimal yang bisa dia lakukan dengan situasi yang memungkinkan bagi dia.

Madzhab Syafi’i berdalil dengan Surat At Taghabun ayat 16.

فَا تَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu..” (QS. At-Taghabun 64: Ayat 16)

Jadi kalau ada dokter sedang mengenakan APD dari jam 10.00 sampai hampir selesai waktu ashar belum selesai tugasnya, wudhu dengan air tidak memungkinkan, tayamum dengan debu juga tidak memungkinkan dengan SOP tayamum yang benar, maka pendapat Imam Syafi’i dan Imam Abu Yusuf dari madzhab Hanafi, dia tetap wajib sholat dengan batas maksimal yang dia lakukan. Bahkan tayamumnya dengan isyarat tetap dianjurkan. Tujuannya agar tidak kena pasal melalaikan shalat. Dia tidak berdosa.

Tetapi kemudian setelah dia keluar dari situasi yang tidak memungkinkan melakukan salah satu opsi thaharah, misalnya karena sudah selesai tugasnya dalam shift. Pendapat Madzhab Syafi’i dan Imam Abu Yusuf dari Madzhab Hanafi, menganjurkan agar dia mengulang sholatnya. Karena sholat adalah ibadah yang tidak menggugurkan kewajiban qadha.

Jadi argumennya sangat mulia, yaitu ikhtiyatun atau berjaga-jaga. Maka salah satu dari kedua sholat tadi, nilainya menjadi sholat wajib dan yang lain mendapatkan pahala sholat Sunah.


Pendapat Madzhab Hanafi dan Pendapat mayoritas Madzhab Hambali.

Sesungguhnya seseorang muslim yang Fāqidu ath- Thahūrain , orang yang tidak memiliki salah satu dari opsi bersuci atau dia tidak berdaya.
Maka dia tidak perlu sholat dalam keadaan tidak berdaya untuk thaharah. Tetapi ketika nanti memungkinkan dan bisa untuk melakukan salah satu opsi bersuci itu baru dia mengqadha sholat yang ditinggalkan. Jadi pendapat ketiga ini menggabungkan pendapat yang pertama dan yang kedua.


Pandangan Tentang Fardhiyah Dukhul Al Waqt

Syarat yang kedua tentang sholat adalah Fardhiyah Dukhul Al Waqt.

Allah SWT berfirman:

 اِنَّ الصَّلٰوةَ كَا نَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

“Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 103)

Artinya syarat sahnya sholat adalah sudah masuk waktu. Kalau belum masuk waktunya sholat dhuhur kita belum boleh sholat dhuhur. Kalau kita lakukan sholatnya tidak sah. Ini kalau dalam situasi yang ideal.

Bagaimana dalam situasi pandemi ini? Mohon maaf saya tidak pernah secara langsung ada dalam situasi covid-19 ini. Tidak pernah melihat keadaan dokter dan nakes saat berjuang menyelamatkan pasien. Saya belum pernah tahu situasi pasien.

Namun saya tahu bahwa perjuangan mereka itu luar biasa sampai ada nakes di RS Fatmawati yang tidak pernah pulang ke rumah dari sejak awal pandemi. Ada yang memilih pulang sesekali, tetapi bahkan mengisolasi diri hanya bisa melihat ke dalam rumah, melihat suami dan anaknya hanya dari balik kaca.
Benar-benar situasinya sampai serumit itu.

Dalam kajian fiqih islam ada pembahasan Fardhiyah Dukhul Al Waqt
(Kewajiban masuk waktu). Tapi katakan seandainya ada dokter atau nakes atau pasien yang tidak memungkinkan mengakses jam.
Ada pendapat ulama-ulama yang didasarkan hadits-hadits yang shahih dan hasan yang dicontohkan Rasulullah dalam konteks wabah, dalam konteks situasi yang sulit, dalam konteks peperangan.

Pendapat Madzhab Hambali

Madzhab Hambali membedakan antara mengerjakan sholat terlambat waktunya karena tidak bisa mengakses jam, mungkin karena sedang bertugas sebagai pasukan pengintai, di dalam goa, dimana waktu sholat pada waktu itu diukur dengan bayangan benda dari cahaya matahari. Atau kalau waktu maghrib, dengan terbenamnya matahari dan waktu subuh dengan Fajar shodiq.

Karena situasi itu tidak sengaja, kalau dia sholat di luar waktunya, misal sholat dhuhur tapi belum masuk waktu dhuhur maka dia tidak berdosa. Kalau sampai selesai waktu sholat dia tidak punya akses pada data waktu, maka sholatnya sah. Tetapi kalau sebelum habis waktunya dia mendapatkan akses waktu secara akurat maka dia harus mengulang sholatnya. Dan sholatnya yang tadi di luar waktunya bernilai sebagai ibadah sholat Sunah.

Tetapi Madzhab Hambali mengatakan kalau dia berada dalam dalam situasi yang bisa mengakses waktu, maka dia berdosa. Baik dia sholat sebelum waktunya atau bahkan dia ketinggalan waktu sholat.


Pendapat Madzhab Syafi’i dan Maliki

Madzhab Syafi’i dan Maliki menambahkan point yang sangat penting , berdasarkan Al Yaqin atau As Syakk.

Kalau misalnya dokter atau Nakes dalam kondisi gawat tidak mungkin melihat jam atau HP ataupun alat lain penunjuk jam, kemudian sebelum memakai APD pada jam 10.00 sempat wudhu. Nanti rencananya waktu dhuhur sholatnya akan dijamak dengan asharnya.

Dia mengkira-kira atas dasar rasa laparnya, dia menduga dan yakin sudah masuk waktu dhuhur. Menurut pendapat Madzhab Syafi’i dan Maliki, kalau dia sholat mengqadha dhuhur dan asharnya maka sholatnya sah karena dia yakin bahwa jam sholat sudah masuk. Tapi kalau perkiraannya dengan data yang tidak meyakinkan, meragukan maka sholatnya tidak sah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here