KH. Abdullah Hakam Shah Lc MA

26 Dzulqo’dah 1442 / 7 Juli 2021



Ujian Allah SWT berupa pandemi ini sebenarnya di sisi lain sangat besar hikmahnya bagi umat islam dan syari’at islam. Kita oleh Allah SWT seolah-olah diberi kesempatan untuk menikmati ajaran islam seutuhnya. Kalau kita baca ayat-ayat Al Qur’an, kita hayati kitab-kitab tafsir kemudian kita telaah hadits-hadits Nabi SAW, kita akan menemukan satu kesimpulan bahwa kharakteristik ajaran islam itu yang paling utama ada tiga.

1. Islam adalah Dienul Tauhid.

Makanya sepertiga isi dari Al Qur’an dan 12 tahun pertama dakwah Rasulullah SAW itu fokusnya ke membenahi dan membangun Tauhid / Keimanan. Karena kharakteristik islam adalah agama Tauhid.

Yang kedua dan ketiga yang terkait dengan situasi pandemi dalam konteks masyarakat pada umumnya.
In syaa Allah kita dapat mengkaitkan ketiga-tiganya ini di masa pandemi.
Tauhid kita ke Allah semakin kokoh dengan wabah pandemi ini.

Betapa kedigdayaan sains yang selama ini sangat diagung-agungkan oleh sebagian umat manusia di beberapa belahan dunia ternyata “laa hawla wa laa quwwata illa billah”.
Teknologi Medis yang begitu luar biasa itu tidak berdaya hanya oleh makhluk yang super-super kecil yang disebut dengan virus.

Bagi kita yang in syaa Allah sering mengkaji syari’at islam, dienul tauhid kita justru semakin kokoh dengan situasi pandemi.

2. Islam adalah Dienul Ilm.

Islam adalah agama pengetahuan, agama sains. Makanya kalau kita renungkan mengapa ayat-ayat pertama yang Allah firmankan dari Al Qur’an, yaitu 5 ayat pertama di Surat Al Alaq :

اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ (1) خَلَقَ الْاِ نْسَا نَ مِنْ عَلَقٍ (2) اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَ كْرَمُ (3) الَّذِيْ عَلَّمَ بِا لْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْاِ نْسَا نَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 1-5)

Ini kalau kita hayati, kenapa ayat-ayat pertama yang difirmankan Allah dalam Al Qur’an bukan ayat tentang ibadah?
Tetapi “iqro bismi robbikallazii kholaq”
(Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan).

Mayoritas ulama tafsir mengatakan kalau kata kerja tidak disebutkan obyeknya, berarti mencakup semua aspek yang tidak terbatas.
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan segalanya”.

Kemudian ulama-ulama tafsir menyebutkan, diklasifikasi sederhana ada ayat Qauliyah (Allah menyatakan tanda Kebesarannya berupa Firman dan tuntunan dalam Al Qur’an dan dalam Hadits), ada ayat Kauniyah ( Alam semesta ini). Semua yang ada di alam semesta itu kita diperintahkan untuk mengkaji dan menelitinya.

“kholaqol-ingsaana min ‘alaq” (Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah).

Dari ayat ini terasa betul bahwa islam itu adalah agama ilmu pengetahuan. Jadi kalau masih ada yang mengingkari temuan ilmiah seperti virus Covid-19 , berarti keislamannya belum bulat. Karena islam itu agama sains. Maaf, saya hanya sekedar ingin menggugah kita semua dan mendeskripsikan. Saya tidak bermaksud memenangkan salah satu sisi dan kemudian menyederhanakan sisi yang lain.

Kalau kita kumpulkan secara thematik ayat-ayat di Al Qur’an, ayat yang membahas tentang sains jumlahnya lima kali lipat lebih banyak dari pada ayat-ayat yang membahas tentang ibadah. Jadi benar bahwa islam itu adalah agama ilmu pengetahuan.

Di Indonesia mayoritas umat islam madzab fiqihnya adalah Syafi’i.
Saya mau mengutip, ada dua ucapan yang sangat fenomenal dari Imam Syafi’i tentang ilmu kedokteran.

Imam Syafi’i pernah mengatakan dalam Kitab “Siyar A’lamin Nubala’ “

لا أعلم علما بعد الحلال والحرام أنبل من الطب إلا أن أهل الكتاب قد غلبونا عليه.

“Saya tidak mengetahui sebuah ilmu yang lebih berharga -setelah ilmu halal dan haram- yaitu ilmu kedokteran, akan tetapi ahli kitab telah mengalahkan kita”.

Seolah-olah Imam Syafi’i ingin menjelaskan bahwa kedokteran itu bagian utama dari “iqro bismi robbikallazii kholaq, kholaqol-ingsaana min ‘alaq”. Beliau menyandingkan ilmu kedokteran sama pentingnya dengan ilmu agama.

Bahkan dalam Buku Manakib Imam Syafi’i atau kumpulan riwayat Biografi Imam Syafi’i, beliau juga berkata,

لا تسكنن بلدا لا يكون فيه عالم يفتيك عن دينك، ولا طبيب ينبئك عن أمر بدنك

“Janganlah sekali-kali engkau tinggal di suatu negeri yang tidak ada di sana ulama yang bisa memberikan fatwa dalam masalah agama, dan juga tidak ada dokter yang memberitahukan mengenai keadaan kesehatan badanmu.”

Jadi Imam Syafi’i benar-benar menyandingkan ilmu fiqih dengan ilmu kedokteran. Menyandingkan Ulama dengan Tabib (dokter).

3. Islam adalah Dienul Taysiir

Islam adalah agama kemudahan.
Di situasi pandemi Covid ini bagaimana kita menyandingkan antara ilmu kedokteran dengan tuntunan syari’ah. Kemudian bagaimana kita mengoptimalkan hadiah besar Allah SWT bagi hamba-hambanya yang beriman agar dalam situasi apapun, dalam situasi yang sedang tidak sehat, dalam situasi yang sangat tidak ideal, bahkan dalam situasi yang sangat kritikal sekalipun dia tidak kehilangan kesempatan untuk dekat dengan Allah.

Allah SWT berfirman:

فَا تَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

fattaqulloha mastatho’tum

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu..” (QS. At-Taghabun 64: Ayat 16)

Ini oleh para ulama disebutkan sebagai tuntunan kunci dalam Al Qur’an.
Bertakwa dengan “mastatho’tum” atau batas maksimal kemampuan kalian.

Imam Syafi’i ketika mengomentari ayat ini dan hadits-hadits yang senada dengan ayat ini bahwa :
– Kalau orang mampunya sholat sambil duduk, maka dia dapat pahala yang sama dengan orang yang shalat berdiri.
– Kalau mampunya sholat dengan rebahan, itu sama pahalanya dengan sholat sambil berdiri ( sholat dalam keadaan sehat sempurna).
– Bahkan jika mampunya sholat dengan isyaratpun sama pahalanya kalau sholat pada saat dia sehat.

Tetapi Imam Syafi’i juga menegaskan maksud dari mastatho’tum ini sesuai batas kemampuan kalian. Imam Syafi’i mengatakan dalam Kitabnya Al Umm : “Barang siapa yang mampu untuk sholat sambil berdiri, kemudian dia sholat sambil duduk, maka sholat sambil duduk itu tidak sah baginya”.

Untuk diketahui bahwa Imam Syafi’i mempunyai karya dalam ilmu fiqih yaitu Kitab Al Umm, adapun karya beliau dalam ushul fiqih adalah Ar Risalah. Dalam hadits beliau juga punya Musnad As Syafi’i.

Tetapi kalau misalnya dia mampunya sambil duduk. Imam Syafi’i membagi sholat sambil duduk menjadi dua :
– duduk dengan kursi
– duduk di tempat duduk

Kalau sholatnya duduk dengan kursi maka rukuk dan sujudnya normal, seperti yang berdiri. Tetapi kalau memang sudah tidak mampu duduk diatas kursi, dia duduk diatas tempat tidur karena kondisi sakitnya, maka Imam Syafi’i mengatakan boleh sholatnya tetap di tempat tidur dalam keadaan duduk.


Aspek Taysiir dan Rukshah dalam Islam

Taysiir artinya kemudahan, kalau rukshah artinya keringanan sebagai pengecualian. Taysiir bentuknya dua. Dari awal syari’at ini didisain mudah. Yang kedua, dibandingkan dengan syari’at agama-agama terdahulu syari’at islam lebih mudah.
Rukshah adalah kemudahan yang terkait dengan situasi yang dihadapi.

Islam itu Dienul Taysiir atau agama kemudahan. Dalam kondisi apapun kita oleh Allah tetap diberi kesempatan 100% untuk dekat dengan Allah.
Dalam syari’at islam ada tiga tingkatan kemudahan,

1. Kemudahan dalam konsepsi dasar Syari’at

Syari’at islam dari awal sudah dibikin mudah. Artinya dalam agama islam, perintah-perintahnya tidak pernah sampai menyentuh setengah saja dari batas maksimal kita.

Contoh dalam islam ada syari’at sholat. Kita hanya diwajibkan sholat lima kali sehari. Kalau setiap kalinya sepuluh menit ditambah wudhunya dua menit, jadi dua belas menit. Dikalikan lima hanya satu jam. Ini tidak sampai setengahnya dari batas kemampuan kita.

Misalnya dari 24 jam itu kita gunakan 8 jam untuk istirahat. Kemudian misalnya 8 jam yang lain kita gunakan untuk kebutuhan hidup yang pokok, misalnya untuk mandi, makan , bekerja dan seterusnya. Katakanlah kita ini sebenarnya masih punya waktu senggang.

Anda boleh tidak percaya, tetapi menurut hitungan ulama tafsir, fiqih dan sekaligus ahli dalam bidang kedokteran, yaitu Ibnu Sina manusia yang produktif punya waktu senggang rata-rata 4 jam. Dari 4 jam waktu senggang itu kita hanya diperintahkan sholat kurang lebih 1 jam. Tidak sampai setengah waktu senggang.

Contoh lain, zakat kita hanya diperintahkan 2,5%. Ada yang maksimal yaitu zakat Pertanian yang tidak merepotkan, airnya hanya mengandalkan hujan, zakatnya 10%. Ini juga tidak sampai setengah batas kemampuan kita.

Ini yang dimaksud bahwa islam itu agama yang mudah bahkan dalam konsepsi dasarnya. Sejak awal agama ini memang didisain mudah. Tujuannya adalah agar dalam situasi apapun kita optimal mendekat kepada Allah.

2. Islam itu agama yang mudah kalau dibandingkan dengan syari’at agama- agama yang terdahulu.

Kalau dibandingkan dengan agama- agama wahyu yang terdahulu, islam adalah agama wahyu yang syariatnya paling mudah. Kalau paling logis itu pasti, karena islam agama ilmu pengetahuan (dienul ilm). Tapi bahkan secara praktispun syari’at islam adalah syari’at yang paling mudah dibandingkan wahyu-wahyu agama- agama yang diturunkan Allah kepada umat sebelum kita.

3. Adanya Rukshah

Level ketiga ada kemudahan dalam beribadah. Kalau tentang puasa, Allah menegaskan kemudahan dalam Surat Al Baqarah ayat 185.

 يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ 

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)

Tentang sholat, Allah memberikan kemudahan di dalam Surat Al Maidah ayat 6, ketika Allah menjelaskan tata cara thaharah, bersuci mempersiapkan diri untuk sholat, persyaratan sholat dan seterusnya
Allah menutup firmanNya dengan :

 مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰـكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَ لِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 6)

Ketika Allah tidak ingin menyulitkan, Allah menegaskan bahwa Perintah sholat itu karena Allah ingin mensucikan lahir batin , jasmani dan rohani dan Allah benar-benar akan menyempurnakan nikmatnya.

Ini adalah gambaran konseptual, yang menggambarkan bahwa pastilah dalam situasi pandemi seperti ini, sesuai dengan kondisi tingkat kedaruratan yang dihadapi oleh masing-masing pribadi muslim, ada sangat banyak kemudahan- kemudahan rukshah atau taysiir yang Allah berikan.


BERSAMBUNG BAGIAN 2
KEMUDAHAN DALAM SHOLAT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here