Tri Bimo Soewarno Lc. MSi

22 Dzulqo’dah 1442 / 3 Juli 2021



Nasihat-nasihat Bagi Orang Sakit

Ada beberapa nasihat yang disampaikan oleh Dr. Abdul Mu’thi dalam kitabnya Risalah ila kulli marid. Tidak kita ambil semuanya. Ini merupakan ikhtiar batin semuanya.

Nasihat Pertama :
Bersungguh-sungguhlah dalam berdzikir kepada Allah, perbanyaklah mengingat Allah.

Kadang-kadang kita harus menyamarkan diri kita saat kita sakit. Kita gunakan untuk dzikir-dzikir. Kita gunakan untuk muroja’ah surat-surat pendek yang kita hafal. Karena satu sisi kita memang di- “off”- kan dari aktivitas rutin yang kita lakukan, sementara kita sakit.

Saat sakit tersebut kita masih bisa melakukan aktivitas-aktivitas positif yang lainnya, kenapa tidak kita lakukan ?. Dan itu akan menenteramkan batin.

Kadang saya juga melakukan itu karena itu juga salah satu pesan dari masayid kita kalau sakit , kita masih bisa melakukan aktivitas yang positif, maka lakukanlah. Disamping Al Qur’an kita membaca-baca sebisanya, ini penguatan batin yang luar biasa.

Dari Al Qur’an :

Banyak sekali ayat yang menerangkan keutamaan dzikir. Kita ambil yang paling masyhur :

فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ 

“yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)

Ini bagaimana menenteramkan hati, karena menurut Ibnu Rusyd tadi Hati yang tenang adalah separo dari obat itu sendiri : wal-ițmi’nān nişfud-dawā-i,

Bapak ibu mertua saya kebetulan kemarin positif Covid dan sempat dirawat di Rumah Sakit Boyolali. Kondisinya agak mengkhawatirkan. Namun alhamdulillah dengan ijin Allah kita support. Kita motivasi kadang kita guyoni kadang kita kirim sesuatu , saat ini sudah empat hari isoman di rumah.

Keduanya sudah sepuh, sudah 60 tahun lebih. Kita kirim-kirim do’a buat mereka itu bisa membuat hati senang.
Ternyata dengan hal sederhana semacam itu merupakan sedekah yang luar biasa. Membuat orang bahagia dengan cara kita, tentu yang tidak menyimpang dari aturan. Itu juga obat yang luar biasa.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”


Dari Hadits

Kita sering mendengar hadits tentang 7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah , atau pertolongan Allah di Yaumal Qiyamah.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:

Salah satunya yang disebutkan adalah :

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya ini dalam keadaan berdzikir dalam kondisi sendirian, ataupun mungkin bersama suami, isteri dan anak-anak. Tetapi hatinya benar-benar vertikal. Interaksi vertikalnya dengan Allah benar- benar nyambung.

Kemudian matanya meneteskan air mata. Bahkan mungkin bercucuran. Dalam kondisi ini walaupun sekejap, ternyata kondisi ini bisa mengangkat kualitas kita disisi Allah Ta’ala. Ini termasuk 7 golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah di yaumal Qiyamah.

Ada kisah nyata seorang dokter yang saya anggap penting untuk disinggung disini. Beliau menangani pasien kanker kulit yang ada di tangan.
Dikisahkan dalam kitab itu, dokter itu mengatakan yang artinya :
“Barang siapa yang mengetahui keutamaan dzikir kepada Allah tidak pantas untuk mendatangi kita”.

Ini harus kita pahami secara hiperbola (melebih-lebihkan) , jangan difahami secara tekstual. Ucapan diatas tidak berarti kita tidak perlu ke dokter. Dokter ini hanya menyampaikan keajaiban pertolongan Allah.

Kisahnya ada seorang pasien dari dokter ini yang tangannya divonis harus diamputasi karena ada kanker kulit yang ada ditangan yang kondisinya sudah parah.

Pasien itu minta waktu beberapa saat untuk tidak diamputasi dulu, dan dia terus berdzikir kepada Allah. Disamping juga ikhtiar mengkonsumsi obat-obat yang bisa dikonsumsi. Dia juga menuruti anjuran dokter.
Tidak dinyana ternyata saat dia menghadap ke dokter ini, kankernya sudah mulai memudar, berubah ke arah baik sehingga tidak perlu diamputasi.

Intinya pada saat kita sakit kita diharuskan ikhtiar secara zhahir. Batinnya juga harus kita kuatkan sehingga menjadi separo obat yang akan menguatkan.


Nasihat Kedua :
Bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a , karena sesungguhnya Allah akan mengabulkan siapa saja yang berdo’a kepadanya.

Harus kita fahami bahwa pada saat kita berdo’a, kita harus yakin betul. Ini merupakan syarat pertama. Yakin betul bahwa do’a kita akan direspond oleh Allah. Tentunya diwaktu yang tepat menurut Allah untuk kita semua.
Kadang-kadang kita egois. Pada saat kita berdo’a kita ingin do’a kita segera dikabulkan. Di waktu yang paling tepat menurut kita, standarnya kita.

Padahal semestinya pada saat kita berdo’a kepada Allah kita pasrah saja. Kita berdo’a kepada Allah, kita sampaikan keluh kesah kita, kita sampaikan permintaan, permohonan kita, kemudian biarlah Allah yang mengatur. Di waktu yang paling tepat menurut Allah, Allah akan mengabulkan do’a tersebut.

Namun kadang-kadang kita kurang yakin. Misalnya pada saat kita sakit, atau kita ingin mendoakan anak kita sukses, dan sebagainya
Kita berdo’a kepada Allah
“Ya Allah, semoga anak saya begini dan begini dan sebagainya …”
Kadang masih ada, terbetik dalam hati kita keragu-raguan,
“Tapi apa ya mungkin ya begini dan begitu ..”
Terkadang ada rasa semacam itu.

Yang diperintahkan pada kita adalah ikhtiar. Maka kita nasehati anak kita, kita arahkan anak kita untuk belajar dengan baik. Selanjutnya pasrahkan kepada Allah dengan haqqul yaqin, keyakinan yang sempurna. Jangan sampai ada keragu-raguan.

Ada di dalam salah satu riwayat yang lain tidak dibolehkan berdo’a dengan lafaz in syi’ta.

Beliau SAW. bersabda:

لا يقولن احدكم أللهم اغفرلي ان شئت أللهم ارحمني ان شئت ليعزم المسألة فانه لا مكره له

La yaqulanna ahadukum allahumma ighfirli insyi’ta allahummarhamni insyi’ta liya’zimil mas’alata fainnahu la mukriha lahu.

Janganlah kalian berdoa (misal) “Ya Allah, jika engkau berkehendak, maka ampunilah hamba. Ya Alah kasihanilah hamba jika Engkau berkehendak., akan tetapi hendaklah berdoa menuju pada inti yang diminta. Karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa Allah Swt. (HR. Bukhori- Muslim)

Artinya, berdoa dengan lafaz in syi’ta itu skeptis atau ragu-ragu bahwa apa yang ia minta akan dikabulkan Allah atau tidak? Ini ungkapan ragu-ragu yang tidak diperbolehkan.

Nasihat yang kedua, ikhtiar seorang hamba harus seimbang antara ikhtiar zhahir dengan ikhtiar batin dengan do’a yang merupakan senjata seorang mukmin yang menjadi bagian dari ikhtiar.

Beberapa nash syar’i yang menjelaskan tentang keutamaan do’a :

Allah SWT berfirman:

وَقَا لَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَا دَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَا خِرِيْنَ

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.””
(QS. Ghafir 40: Ayat 60)

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذَا سَاَ لَـكَ عِبَا دِيْ عَنِّيْ فَاِ نِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّا عِ اِذَا دَعَا نِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah -Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186)

Hadits Rasulullah

لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ

“Tidak ada yang dapat menolak qadha ketentuan Allah selain doa. Dan tidak ada yang dapat menambah umur seseorang selain perbuatan baik.” (HR At-Tirmidzi).

Ketetapan Allah yang belum terjadi disebut qadha. Kalau sudah terjadi itu yang sering kita istilahkan dengan takdir. Kita baru tahu itu takdir ketika sudah terjadi. Ketika kita belum tahu, yang diperintahkan kepada kita adalah ikhtiar.

Kadang-kadang kita memahami sesuatu kurang proporsional. Kita tidak melakukan ikhtiar zhahir, tidak taat Prokes, tindakannya serampangan bahkan mengatakan : “Kalau sudah ditakdirkan mati ya pasti mati…”

Tidak mau pakai masker, tak pernah pakai sanitizer, tak pernah cuci tangan tapi keluyuran kemana-mana. Badan terasa tidak enak tetap keluyuran.
Mestinya tidak boleh semacam itu. Ikhtiar zhahir dan ikhtiar batin harus digabungkan.

Kita tidak tahu kapan kita akan meninggal. Kita tak tahu, maka yang diperintahkan kepada kita adalah berikhtiar sebaik mungkin untuk menjaga diri kita dan menjaga jiwa kita. Maka beramal sholehlah dengan amalan yang baik. Dengan amal sholeh itu in syaa Allah kita sudah mendekat kepada husnul khotimah.

Para ulama menyampaikan penjelasan hadits diatas : Ketika seseorang ditetapkan Allah, misalnya dia akan sakit bulan depan. Kemudian dia memohon kepada Allah : “Ya Allah, semoga aku sehat sehingga aku bisa mengajar, sehingga aku bisa bermanfaat pada khalayak sekitar, sehingga aku bisa membantu orang lain..”.

Dia berdo’a dengan do’a yang positif. Dengan do’anya ini ketetapan Allah yang belum terjadi bisa berubah.
Kekuatan do’a itu luar biasa karena bisa mengubah takdir yang belum terjadi. Khususnya adalah do’a -do’a orang yang dicintai Allah, misal doa orang tua kita, do’a anak-anak sholeh, do’a guru-guru kita.

Kebaikan-kebaikan yang kita lakukan pada dasarnya, sadar atau tidak sadar sebenarnya bisa menambah umur kita.
Namun jika mendekati hadits ini pemahaman logika saja, yang terjadi mungkin penyangkalan : “Nyatanya banyak orang yang shalat malahan mati duluan …”
Ini bukan kesimpulan, karena bisa jadi orang sholeh yang meninggalnya didahulukan oleh Allah, namun dengan kebaikan yang dilakukannya mungkin dia meninggal lebih akhir.

Hadits lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad :

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أكْثَرَ مِنَ الاسْتِغْفَارِ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ.

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang memperbanyak istighfar maka Allah akan menjadikan untuknya kelapangan dari setiap kegundahan, jalan keluar dari setiap kesempitan, dan Dia memberikan rezeki untuknya dari jalan yang tidak terduga.” (HR Ahmad)

Sebetulnya dalam kondisi kita sekarang ada yang WFH (Work From Home) kita bisa melafadzkan lebih banyak kalimat Thoyibah. Demikian pula pada saat kita masuk kantor, ataupun saat mengemudi kendaraan kita bisa baca istighfar, bisa baca Tasbih atau bahkan murojah Al Qur’an. Dan tentunya sambil konsentrasi mengemudi. Dan Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tak terduga.


Nasihat Ketiga :
Bersungguh-sungguhlah dalam amal sholeh karena dia dapat menambah umur dan memberikan kesehatan.

Kita mungkin masih ingat hadits tentang ashabul kahfi, tentang tiga orang yang terjebak di dalam goa. Mereka kemudian bertawasul dengan amal sholehnya.

Mereka sudah bingung, bagaimana mau keluar goa karena pintu goa tertutup oleh batu besar. Akhirnya mereka bersepakat untuk bertawasul dengan amal sholeh mereka.

Yang pertama bertawasul terkait dengan birrul walidain. Yang kedua bertawasul karena dia mempunyai kesempatan untuk berzina dengan orang yang dia sukai, tetapi dia ingat Allah dan kemudian dia malu kepada Allah Ta’ala. Tidak jadi berzina.

Orang yang ketiga, dia melakukan perbuatan adil pada salah satu pekerjanya. Pekerjanya pergi meninggalkan gaji yang belum diambil. Gaji pekerja itu dia investasikan dan setelah banyak diberikan kepada pekerjanya tadi. Pekerjanya terkejut menerima gaji yang amat banyak.

Dengan apa yang mereka lakukan tadi, mereka bertawasul kepada Allah dengan amal-amal sholeh mereka. Akhirnya batu besar tadi bergeser sehingga mereka bisa keluar dari goa.

Allah SWT berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَا لِحًـا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَـنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةً ۚ وَلَـنَجْزِيَـنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَ حْسَنِ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 97)

Tidak ada perkecualian, asal beriman. Apakah dia laki-laki ataupun perempuan, tak ada pembedaan. Amal sholehnya diterima Allah Ta’ala.

Namun bila mereka tidak beriman maka mereka hanya mendapatkan kebaikan duniawi saja, tetapi kebaikan ukhrowi tidak didapatkan.
Orang beriman menerima kebaikan duniawi dan ukhrowi berupa pahala dari Allah Ta’ala.

Dalam hadits yang lain Nabi SAW bersabda,

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ، وَمَنْهَاةٌ عَنْ الإِثْمِ، وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الجَسَدِ

“Hendaklah kalian menghidupkan malam, karena itu merupakan kebiasaan orang sholeh sebelum kalian, mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dari perbuatan dosa, menghapus keburukan, dan mencegah penyakit dari badan.” (HR. Thabrani).

Menghidupkan malam disini menurut sebagian ulama diartikan lebih luas. Bukan hanya shalat tahajud saja. Tapi menghidupkan malam dengan menjalankan amal kebaikan. Bisa dengan shalat tahajud, membaca Al Qur’an, muroja’ah Al Qur’an, menghafal hadits, menelaah hadits dan lainnya.

Kadang kita tidak sadar bahwa pada saat kita melakukan amal sholeh, karena pikiran kita tertuju pada balasan ukhrowi, pada pahala dari Allah. Kebaikan itu ketika dominan akan mencegah kita dari perbuatan dosa dan menyehatkan kita.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here