Tri Bimo Soewarno Lc. MSi

22 Dzulqo’dah 1442 / 3 Juli 2021



Mengangkat derajat Orang yang sakit (raf’u darajatil maridh)

Fungsi kedua sakit adalah mengangkat derajat orang yang sakit. Tidak semua penyakit berfungsi menghapus dosa orang sakit. Ada sebagian lainnya yang berfungsi mengangkat derajat orang yang sakit.

Ini membikin kita semakin optimis.
Saat kita dicoba sesuatu terus kita membaca referensi-referensi semisal ini akan muncul optimisme dan imunitas kita naik.

Saya pernah merasakan opname di Rumah Sakit karena pada saat itu ada sumbatan di saluran ginjal. Pertama saya merasa agak khawatir. Di PKU Muhammadiyah Solo saya merasa kesakitan sekali. Ketika dicek katanya tidak ada batu ginjalnya. Tapi ginjalnya bengkak. Ternyata ada penyumbatan di saluran ginjal. Sementara dibor sampai urinenya tidak keruh lagi baru dipulangkan.

Kebetulan saya banyak membaca risalah untuk orang sakit. Hal ini cukup lumayan untuk memberikan suntikan motivasi bagi kita sehingga kita bisa berinteraksi dengan fakir agak nyaman.


Berikut beberapa riwayat yang menjelaskan hal tersebut.

Hadits Pertama

Nabi SAW bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً ، أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً
رواه مسلم (2573)

“Tidaklah seorang mukmin terkena duri dan lebih dari itu melainkan Allah akan mengangkat derajat dengannya. Atau dihapuskan kesalahannya dengannya.” (HR. Muslim)

Dari sinilah para ulama menjelaskan bahwa ada sebagian sakit yang fungsinya untuk mengangkat derajat orang yang sakit dan sebagian yang lain menghapus dosa atau kesalahan- kesalahan orang yang sakit.

Jadi dua fungsi utama dari sakit adalah
– takfiru dzunubil maridh
– raf’u darajatil maridh

Hadits Kedua

Ada hadits lagi yang luar biasa dari Ibnu Hibban, ternyata kelak di yaumil Qiyamah ada didapati kalangan manusia yang mendapatkan manzilah, mendapatkan kedudukan mulia dari Allah Ta’ala. Tetapi ternyata kedudukan yang dia dapatkan itu tidak semata- mata karena amal sholihahnya. Yang menyebabkan dia mendapatkan kedudukan yang tinggi tersebut adalah karena dia sering dicoba oleh Allah Ta’ala kemudian dia berikhtiar, dia sabar sehingga kemudian Allah sehatkan. Allah coba lagi, Allah sehatkan dengan cobaan-cobaan yang lainnya karena dia sabar.

Dijelaskan dalam hadits ini :
“Sesungguhnya seseorang ada yang memiliki kedudukan mulia disisi Allah , dan amalnya tidak membuatnya sampai padanya. Dan Allah terus mengujinya dengan cobaan yang tidak ia sukai sehingga berbagai ujian tersebut membuatnya sampai pada kedudukan tersebut. (HR Ibnu Hibban)

Kedudukan yang mulia yang ia dapatkan disisi Allah itu bukan semata- mata karena amalan-amalan sholehnya, bukan semata-mata karena sholatnya, karena puasanya, karena zakatnya, karena haji dan umrohnya, karena infak shodaqohnya dan sebagainya , tetapi karena kesabarannya saat mendapatkan ujian dari Allah Ta’ala.

Ini luar biasa karena mengangkat derajat orang yang sakit di dunia dan akhirat. Di dunia dia terangkat derajatnya menjadi makhluk yang dicintai oleh Allah Ta’ala seperti disebut dalam hadits Qudsi.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي جِبْرِيلُ فِي السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ وَيُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي أَهْلِ الْأَرْضِ (رواه البخاري)

“Sesungguhnya Allah Ta’ala jika mencintai seseorang, maka Allah akan memanggil Jibril , ‘(wahai Jibril) Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah dia, sehingga Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril memanggil seluruh penghuni langit seraya berseru, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia, maka penghuni langit pun mencintainya, sehingga orang tersebut diterima oleh penduduk bumi.” (HR. Al-Bukhari).

Orang dicintai Allah itu bisa karena amal sholehnya, bisa karena dia sabar saat dia menghadapi ujian ataupun cobaan.

Saat kita sudah dicintai Allah itu secara otomatis Jibril akan mencintai kita dan Jibril akan menginformasikan itu kepada ahlu sama’ atau penduduk langit. Dan penduduk langit juga akan mencintai kita. Kemudian dia akan menjadi makhluk yang diterima di muka bumi ini.

Kalau kita melihat misalnya ada orang baik, tidak mungkin tidak disukai orang-orang yang ada disekitarnya. Pasti orang yang ada disekitarnya respect padanya. Bahwa diantara manusia pasti ada yang hasad dan dengki itu wajar.

Rasulullah saja yang sudah jelas orang-orang kafir Mekkah itu faham bahwa risalah Ilahiyah itu benar, tapi mereka sudah tidak suka kepada Rasulullah karena ada persoalan lain. Karena Rasulullah dianggap sebagai orang yang mengusik kepercayaan mereka, sehingga kedudukan mereka menjadi goyah.

Intinya adalah bahwa sakit yang diderita oleh siapapun pada dasarnya fungsinya luar biasa. Informasi semisal ini mungkin bisa kita share kepada saudara- saudara kita yang sedang mengalami sakit. Sakit apapun.


Para Nabi dan Orang-orang Sholehpun sakit.

Kalau kita perhatikan berbagai teks syar’i dan fakta sejarah, akan kita dapati bahwa para Nabi dan orang- orang sholehpun diuji Allah dengan sakit. Justru sebaliknya kadang pemimpin-pemimpin zhalim seperti Namrud, Fir’aun dan sebagainya itu tidak pernah mengalami sakit-sakit yang biasa.

Di zaman itu sudah ada orang yang sakit demam, sakit flu, sakit panas. Tapi Fir’aun fisiknya dikenal kuat. Tapi sekali Allah uji dengan sesuatu langsung tenggelam dan mati. Langsung dibinasakan oleh Allah Ta’ala.

Padahal saat menjelang ajal itu Fir’aun juga mengakui bahwa Allah adalah dzat yang berhak disembah.

حَتّٰۤى اِذَاۤ اَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَا لَ اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْۤ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْۤا اِسْرَآءِيْلَ وَ اَنَاۡ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Sehingga ketika Fir’aun hampir tenggelam, dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim.” – (QS. Yunus 10: Ayat 90)

Tapi kondisi Fir’aun sudah tinggal matinya. Ini termasuk suatu pertobatan yang tidak diterima oleh Allah Ta’ala.

Dalam salah satu Firman Allah :

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِ ۚ حَتّٰۤى اِذَا حَضَرَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَا لَ اِنِّيْ تُبْتُ الْــئٰنَ وَلَا الَّذِيْنَ يَمُوْتُوْنَ وَهُمْ كُفَّا رٌ ۗ اُولٰٓئِكَ اَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَا بًا اَ لِيْمًا

“Dan tobat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, barulah dia mengatakan, “Saya benar-benar bertobat sekarang.” Dan tidak pula diterima tobat dari orang-orang yang meninggal, sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 18)

Taubat yang tidak diterima oleh Allah adalah taubatnya orang yang sudah dalam kondisi sekaratul maut.
Kita harus memahami bahwa Allah Ta’ala mengampuni semua dosa itu benar

اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ 

innalloha yaghfiruz-zunuuba jamii’aa,

“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 53)

Tapi ada beberapa dosa ataupun kesalahan yang dikecualikan dari itu, yang tidak diampuni oleh Allah Ta’ala. Salah satunya adalah pertaubatan seseorang dalam kondisi sekaratul maut.

Maka sebetulnya penting bagi kita mentalqin orang tua, saudara kita atau siapapun saat secara analisis kedokteran, dokter sudah menyampaikan ini kondisinya sudah kritis. Secara hitungan duniawi perlu didampingi dan dibimbing membaca :
“Lâ Ilâha illalLâh Muhammad RasûluLlâh”
Karena godaan setan yang paling dahsyat itu ketika orang sudah dalam kondisi kritis.

Tapi dalam kondisi pandemi Covid sekarang, tak mungkin kita mendampingi. Maka minimal kita terus berdo’a jarak jauh, semoga akidahnya diselamatkan oleh Allah Ta’ala, dinyamankan mendapatkan husnul khotimah.

Hadits Ketiga

Dalam salah satu riwayat Sayidah Aisyah mengatakan :
“Tidaklah aku melihat seorang yang paling dahsyat merasakan dari Rasulullah” (HR Muslim)

Sayyidah Aisyah yang sehari-hari berinteraksi dengan Rasulullah SAW sampai hafal kalau Rasulullah sakit, sakitnya melebihi daripada orang- orang lain. Bahkan dalam riwayat yang disampaikan Ibnu Mas’ud , beliau berujar; “Oh, kalau begitu anda mendapatkan pahala dua kali lipat?! Jawab beliau: ‘Engkau benar”.

Hadits Keempat

Dalam riwayat Al Hakim Rasulullah SAW bersabda :
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi , kemudian para ulama, kemudian orang-orang sholeh.

Semakin dahsyat ujiannya maka Allah akan semakin menguatkan. Termasuk salah satunya misalnya Allah akan memberikan mukjizat. Cuma ada bedanya antara Rasulullah dengan Nabi -Nabi yang lain. Kalau Nabi yang lain mukjizat itu tidak berfungsi dengan wafatnya Nabi tersebut. Contohnya Tongkat Nabi Musa a.s.

Kalau Rasulullah SAW walaupun sudah wafat mukjizatnya tetap kekal, yaitu Al Qur’anul Kariem. Diistilahkan dengan Mukjizatun Kholidatun. Mukjizat yang kekal. Setelah Rasulullah wafat, Al Qur’an diwariskan kepada Para Sahabat, Tabi’in, Tabi’it Tabi’in, dan seterusnya.

Rasulullah dengan ketinggian kedudukannya dimana beliau adalah : – – Rasul yang diutus sebagai rahmatan lil alamien.
– Hamba Allah yang diampuni dosa-dosanya.
– Hamba yang Allah pilih untuk memberikan syafaat udzmah kepada umatnya kelak pada yaumal Qiyamah.
Semoga kita kelak mendapatkannya.
– Pemimpin yang senantiasa dijaga dan dimenangkan Allah dalam berbagai kondisi sulit.

Kalau kita membaca sejarah perang yang dilakukan Rasulullah, seringkali kuantitas pasukan muslim lebih sedikit daripada kalangan musuh (orang kafir, Romawi, Persia). Akan tetapi Allah sering kali memberikan kemenangan kepada Rasulullah dan pasukan muslim.

Bahkan dalam salah satu hadits dijelaskan ada satu diantara sekian hal yang Allah berikan kepada Rasulullah dan tidak diberikan kepada Nabi -Nabi sebelumnya, diantaranya Rasul menyampaikan :
“Aku dimenangkan oleh Allah Ta’ala dimana Allah menebarkan rasa takut, rasa gentar, rasa was-was dikalangan musuh sebulan sebelum sesuatu itu terjadi”.

Kita tidak bisa membayangkan ini, misalnya satu bulan sebelum peperangan ini. Pihak musuh secara mental sudah rontok. Walaupun mereka kuantitasnya banyak, mereka sangat berpotensi kalah.

Dengan semua keistimewaan yang Rasulullah miliki tersebut beliau juga diuji Allah dengan sakit. Begitupun juga para sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan para shalihin setelah mereka.

Jadi saat kita merasakan sakit, merasa tidak nyaman, kita harus memahami dengan pemahaman proporsional. Ikhtiar zhahir harus kita laksanakan secara manusiawi. Bertanya kepada orang-orang yang faham, kepada dokter. Sekali waktu kita dibantu dengan obat. Tapi kita sadari bahwa apa yang diujikan Allah kepada kita pada dasarnya untuk kebaikan kita.

Kesimpulannya, cobaan sakit yang Allah berikan kepada hambanya merupakan bukti cinta Allah kepadanya. Allah ingin membersihkan dosa-dosanya, mengangkat derajatnya hingga endingnya ia akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Ta’ala.


BERSAMBUNG BAGIAN 3

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here