Tri Bimo Soewarno Lc. MSi

22 Dzulqo’dah 1442 / 3 Juli 2021



Kajian ini terkait dengan bagaimana kita sebagai orang mukmin menyikapi sakit, dalam perspektif kita sebagai seorang mukmin. Ikhtiar kita harus maksimal, ada penggabungan antara ikhtiar zhahir dengan ikhtiar batin. Ikhtiar zhahir seperti misalnya bagaimana menjaga prokes, bagaimana kita berhati-hati dan seterusnya.

Ikhtiar batin juga penting , bagaimana kita menenteramkan batin kita, bagaimana kita memanajemeni diri kita termasuk merajut hubungan vertikal yang baik dengan Allah SWT.
Kajian ini ada kaitannya dengan ikhtiar batin.

Kajian risalah untuk orang yang sakit,
salah satu referensi yang dijadikan rujukan adalah kitabnya Syeikh Abdul Muthi Abdul Qadir Abdul Hadi yang dikenal dengan “Risalah ila kulli Marid” atau Risalah untuk orang yang sakit.


Orang Sakit disayang Allah Ta’ala

Yang pertama kali harus kita pahami sekarang kalau kita pernah sakit, bahkan sekarang kita diuji dengan sakit apapun. Situasi akhir-akhir ini memang agak riskan, banyak yang terpapar Covid Variant Delta yang baru. Biarlah para dokter yang menjelaskan analisa tentang variant Delta itu, kita akan mendekati kajian tentang orang sakit dengan konsep syariah.

Orang yang sakit bukanlah orang yang dihinakan Allah Ta’ala. Dengan sakitnya Allah hendak memuliakannya, dan menjadikannya lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya. Demikian menurut bahasa para ulama.
Orang yang sakit disebut dengan maridon, jamaknya maradha. Kalau marod itu penyakit.

Memang ada sebagian orang yang merasa bahwa ketika dirinya diuji dengan sakit , berarti dia dihukum oleh Allah Ta’ala. Tentu tidak bisa digeneralisir seperti itu, walaupun memang mungkin ada sebagian kalangan yang sakitnya memang hukuman dari Allah Ta’ala.

Apapun istilahnya, cobaan atau ujian , ketika cobaan itu ditimpakan pada orang-orang sholeh, orang-orang yang beriman maka pasti ada hikmah yang baik.

Bahkan ada salah satu hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentang orang sakit yang konteksnya sakit secara umum.

Kalau untuk wabah Covid yang saat ini lagi ngetrend , mungkin kita tidak bisa menjadikan hadits ini sebagai bahasan. Karena ketika seseorang terpapar Covid sebagai ikhtiar zhahir kita harus menjaga jarak , tidak berinteraksi sementara waktu sampai kemudian dinyatakan benar-benar sehat secara analisis kesehatan. Jangan sampai setelah normal kembali orang tersebut kita marjinalkan.

Hadits Qudsi

عَنْ ابِى هُريْرَةَ ، قَألَ : قَالَ رَسُولُ الله ( صلى الله عليه وسلم ) : ” إِن الله – عَزَّ وَجَلَّ – يَقُولُ يَوْمَ القِيَامَة : يَا بْنَ ادمَ ، مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِى. قَألَ : يَارَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَب العالَمِينَ ؟ قَالَ : َ امَا عَلمْتَ أَنَّ عَبْدى فُلألا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ ، امَا عَلمْتَ انَكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِى عنْدَهُ ؟

Dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah Saw Bersabda dalam hadis qudsi, “Sesungguhnya Allah (dalam hadits Qudsi) berfirman: “Hai Anak Cucu Adam, Aku sakit tetapi kamu tidak menjenguk-Ku”. Lalu berkata (Anak Cucu Adam): “Ya Rab, bagaimana aku menjenguk Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?”

Allah menjawab: “Apakah engkau tidak mengetahui, sesungguhnya ada hamba-Ku Fulan sedang sakit tetapi engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau tahu sesungguhnya ketika engkau menjenguknya Aku pun berada di sisinya”.

Kalau dalam bahasa Arab ini merupakan suatu ungkapan yang luar biasa. Seakan-akan Allah ingin menyampaikan kepada kita bahwa saat orang itu sakit, dia sebetulnya dibersamai oleh Allah. Ini perspektif syariah yang mungkin secara zhahir kalau orang hanya menggunakan logika saja tidak akan percaya. Tapi itu harus kita imani karena ini hadits- hadits yang shahih atau paling tidak Hasan yang kita kutip.

Ini merupakan salah satu riwayat yang menegaskan bahwa orang yang sakit adalah makhluk yang dimuliakan dan disayangi oleh Allah Ta’ala.
Para ulama menyampaikan bahwasanya orang yang sakit tadi bukan orang yang dihinakan oleh Allah. Dengan sakitnya itu merupakan bukti cintanya Allah kepada orang tersebut.

Kadang kalau kita perhatikan banyak orang-orang yang ada disekeliling kita yang tidak pernah sakit. Tidak bisa lantas kita simpulkan bahwa dia orang yang terhormat, yang dimuliakan Allah. Harus ada analisa-analisa yang lainnya karena pada prinsipnya sakit ini fungsinya sangat luar biasa.


Fungsi Utama Sakit

1. Menghapus dosa orang sakit ( takfiru dzunubil maridh).

Menghapus dosa orang sakit. Sakit apapun. Apalagi sakit model-model sekarang yang mana kalau dalam banyak riwayat memang sebetulnya seperti istilah “karantina” hanya istilah kontemporer saja. Tetapi secara substansi karantina itu sudah disampaikan oleh Rasulullah SAW :
– Ketika orang yang sehat tidak mendekati orang yang sakit.
– Ketika orang sakit tidak mendekat pada orang yang sehat.
– Ketika ada dalam satu komunitas masyarakat misalnya ada wabah tho’un atau apapun yang semisalnya maka orang yang ada di dalam tidak keluar, orang yang di luar tidak ke dalam.

Istilah sekarang beragam, tetapi substansinya sebetulnya sudah disampaikan oleh Rasulullah SAW.
Diantara beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa sakit itu menghapus dosa orang yang sakit :

Hadits Pertama

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”. (HR. Bukhari Muslim)

Sakit atau yang sejenisnya, bisa mungkin kesedihan, kegundahan, kegalauan, rasa tidak nyaman dan seterusnya. Penyakit akan menggugurkan dosa sebagaimana pohon menggugurkan daunnya. Ini harus kita imani.

Bila kita merasakan sakit, apakah itu demam, flu atau apapun maka harus didekati dengan perspektif syariah. Tidak hanya kita dekati dengan pendekatan zhahir. Dengan cara itu maka in syaa Allah, kita secara psikis nanti lebih nyaman. Bahwa dengan rasa sakit ini berarti Allah menginginkan kebaikan kepada kita semuanya.

Kita akan dijadikan Allah sebagai hamba yang lebih baik dari waktu- waktu sebelumnya. Kalau kita perhatikan fenomena alam yang paling sederhana, misalnya ada pohon di halaman rumah kita. Entah itu pohon mangga atau pohon apapun. Ketika pohon menggugurkan daunnya, pasti yang digugurkan adalah daun-daun yang tidak berkualitas. Daun yang sudah menguning yang sudah jelek tidak segar. Yang dipertahankan daun-daun yang masih hijau segar.

Sebagaimana juga ketika seorang dicoba oleh Allah Ta’ala dengan sakit atau dengan suatu yang selainnya yang membuat seorang tidak nyaman, Allah ingin menggugurkan atau menghapus kesalahan-kesalahannya. Yang dirontokkan itu sesuatu yang tidak baik. Yang dipertahankan sesuatu yang baik. Sehingga pada akhirnya yang tersisa pada orang tersebut adalah hal-hal positif, hal-hal yang baik saja.

Hadits Kedua,

Perlu saya sampaikan bahwa kita bukan pada level ini. Jangan sampai difahami seperti kalangan Fatalis. Harus kita fahami secara proporsional.

Demam meminta izin kepada Rasulullah SAW, Rasul bertanya : “Siapakah engkau?” Demam menjawab : Aku adalah Ummu Muldam sejenis penyakit demam”. Rasul lantas memerintahkannya untuk mendatangi penduduk Quba, hingga banyak dari penduduk Quba yang terjangkit demam. Kemudian mereka mendatangi Rasul, dan melaporkan apa yang mereka alami. Rasul bersabda : “Terserah kalian. Jika kalian menginginkan, aku akan berdo’a kepada Allah agar mengangkat penyakit tersebut dari kalian. Dan jika kalian menghendaki biarkan penyakit itu menetap pada kalian, dia akan mensucikan dosa kalian”. Mereka bertanya, ” Apakah dengan penyakit tersebut Allah benar-benar akan mensucikan kami?”. Rasul bersabda “Ya”. Mereka berkata “Biarkanlah ia menetap pada kami”. (HR. Ahmad).

Ini Rasulullah, bukan kita. Karena beliau memang spesial.
Demam mau menyerang orang itupun minta ijin pada Rasulullah. Ummu Muldam adalah nama demam yang dahsyat kala Itu. Kita bisa membayangkan saat itu agak sulit mencari obat secara medis, walaupun tetap ada obat dari Tabib.

Ini harus kita fahami secara proporsional. Jangan sampai pemahaman kita menjadi Fatalis. “Kalau begitu kita mencari penyakit saja biar dosa-dosanya diampuni Allah Ta’ala”. Bukan semacam itu.

Ini harus kita fahami bahwa demam yang luar biasa saat itu menyerang orang-orang Quba. Mereka juga berikhtiar, kemudian menyampaikan kepada Rasulullah SAW. Dan Rasulullah memberikan dua opsi. Setelah mereka faham bahwa penyakit bisa mensucikan dosa mereka. Mereka memilih opsi itu tapi juga dengan ikhtiar.

Tidak ada kamus dalam islam bahwa seseorang ketika menghadapi sesuatu terus tak ada usaha. Istilah tawakal itu setelah ikhtiar. Termasuk kajian ini adalah ikhtiar batin, bagaimana kita menyamankan batin atau psikologis kita. Kita meyakini bahwa sakit yang kita derita, apapun bentuk sakit itu pada dasarnya kalau kita dekati dengan pendekatan syariah fungsinya luar biasa. Salah satunya adalah untuk menghapus dosa orang yang sakit.

Allah menginginkan orang yang sakit tersebut benar-benar menjadi orang yang bersih. Semakin dahsyat sakitnya maka akan menjadi pembersih yang semakin luar biasa.

Hadits Ketiga

Ada salah satu riwayat

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُوعَكُ فَمَسِسْتُهُ بِيَدِي فَقُلْتُ إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قَالَ أَجَلْ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ قَالَ لَكَ أَجْرَانِ قَالَ نَعَمْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Ibnu Mas’ud pernah mengunjungi Rasulullah SAW, kemudian Ibnu Mas’ud mendapati Rasulullah sedang mengalami demam yang sangat panas. Sehingga Ibnu Mas’ud menyampaikan kepada Rasulullah :
“Wahai Rasulullah SAW engkau ini mengalami demam yang sangat panas ini”. Kemudian Rasulullah SAW menjawab : “Benar, rasa sakit yang menimpaku ini sama seperti rasa sakit yang menimpa dua orang dari kalian.”

Aku berujar; “Oh, kalau begitu anda mendapatkan pahala dua kali lipat?! Jawab beliau: ‘Engkau benar, tidaklah seorang muslim terkena gangguan, baik itu sakit atau lainnya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan- kesalahannya karena sakitnya sebagaimana pohon mengugurkan daunnya.”

Tentunya kita faham bahwa ketika Rasulullah SAW menghadapi cobaan macam apapun beliau senantiasa berikhtiar. Tidak pernah Rasulullah menghadapi sesuatu tanpa ikhtiar. Bahkan ikhtiarnya maksimal, akan tetapi tetap dipoles dengan kesabaran.

Hadits Keempat

Ada satu Hadits lain mirip dengan hadits yang sering kita dengar

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Semua ilmu yang kita pelajari bisa menjadi ilmu nafi’. Sebetulnya ilmu apapun, bukan hanya ilmu syari’ah. Bisa ilmu Kedokteran, ilmu Geografi, ilmu Fisika , Kimia selama ilmu itu memberikan kemanfaatan kepada khalayak maka ilmu itu layak untuk disebut ilmu nafi’. Tetapi hal-hal yang berhubungan dengan hal primer agama kita harus tahu. Persoalan arkanul iman, arkanul islam kita harus tahu, apapun spesialisasi kita.

Hadits yang mirip dengan hadits di atas adalah :

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa dikehendaki Allah mendapat kebaikan, maka ia akan diuji.” (HR. Bukhari).

Dengan memahami ini maka paling tidak psikis kita, sisi batin akan terangkat. Saat kita sakit kita tidak sendirian, kita ditemani oleh Allah Ta’ala. Bahwasanya sakit ini mempunyai faedah yang sangat luar biasa.

Beberapa tulisan yang sering kita baca menyatakan bahwa pada saat hati kita nyaman, tidak galau, psikologis kita stabil itu akan menaikkan imunitas yang luar biasa. Bahkan menurut Ibnu Rusyd yang sekarang sering dikutip

اَلوَهمُ نِصفُ الدَاءِ، وَالإطمِئنَانُ نِصفُ الدَوَاءِ، وَالصَبرُ بِدَايَةُ الشِفَاءِ

al-wahm nişfud-dā-i, wal-ițmi’nān nişfud-dawā-i, wal-şabr bidāyah al-syifā

“Kebimbangan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh pengobatan, dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan”.

Kebimbangan dan ketakutan itu manusiawi dengan banyaknya kasus, banyaknya saudara-saudara kita yang tersuspect. Adanya peningkatan jumlah kasus yang luar biasa dari 10.000 an turun menjadi 5.000 an, 4.500 sekarang menanjak naik lagi 8.500 sampai 10.000 lagi perhari.
Tetapi jangan sampai ketakutan ini tidak ada batasnya atau tidak bisa kita rem. Yang malah menggoncang psikologis kita. Karena ini bisa menurunkan imunitas juga.

Kebalikannya rasa tenang, mengkondisikan diri kita dengan baik. Psikologis kita bisa kita tenangkan maka itu sudah merupakan separo dari obat itu sendiri. Dan kesabaran adalah awal langkah dari kesembuhan itu sendiri. Selain itu tentunya dengan ikhtiar zhahir berdasar dari analisis para dokter. Masukan-masukannya kita perhatikan, mengkonsumsi apa yang perlu kita konsumsi. Ini digabungkan antara ikhtiar batin dengan ikhtiar zhahir.

Hadits Ke lima,

Nabi SAW bahwa beliau bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jadi sampai pada hal yang sederhana, di saat kita jalan kemudian kena duri atau pecahan kaca atau menyandung batu. Atau ibu-ibu saat memasak di dapur kemudian tangannya tergores pisau, hal yang sepele ini kalau kita fahami dengan pemahaman syari’at, kita sabar menghadapi ujian ini maka ini bisa menghapuskan kesalahan- kesalahan kita.

Hadits Ke enam

Dijelaskan dalam salah satu riwayat ada seorang sahabat wanita menghadap Nabi.

قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ إِنِّى أُصْرَعُ ، وَإِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِى . قَالَ « إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ » . فَقَالَتْ أَصْبِرُ . فَقَالَتْ إِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ ، فَدَعَا لَهَا

Ibnu ‘Abbas berkata, “Perempuan yang berkulit hitam ini, ia pernah mendatangi Nabi SAW , lantas ia pun berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku sering terbuka karenanya. Berdo’alah pada Allah untukku.”
Nabi SAW pun bersabda, “Jika mau sabar, bagimu Surga. Jika engkau mau, aku akan berdo’a pada Allah supaya menyembuhkanmu.”

Perempuan itu pun berkata, “Aku memilih bersabar.” Lalu ia berkata pula, “Auratku biasa tersingkap (kala aku terkena ayan). Berdo’alah pada Allah supaya auratku tidak terbuka.”
Nabi SAW– pun berdo’a pada Allah untuk perempuan tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita juga belum mencapai level Sahabat ini. Kalau kita sakit pasti ingin lekas sembuh. Maka kita diajari doa untuk orang sakit. Tetapi bagi sahabat imannya mungkin berapa kali lipat kita.
Kita juga sering mengamalkan doa yang dianjurkan agar fisik kita , pendengaran dan penglihatan kita dijaga Allah :

Allahumma afini fi badani wa afini fi sam’i wa afini fi bashari la ilaha illa anta (Ya Allah, berilah kesehatan untukku pada badanku, dan berilah kesehatan untukku pada pendengaranku, dan berilah kesehatan untukku pada penglihatanku. Tiada sesembahan kecuali engkau).

Tubuh, pendengaran dan penglihatan ini merupakan bagian inti fisik kita.

Sahabat wanita tadi ternyata memilih yang pertama, dia akan sabar untuk diuji oleh Allah. Namun meminta agar Rasul berdo’a saat dia pingsan auratnya tidak tersingkap.



BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here