Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

14 Dzulhijjah 1442 / 24 Juli 2021




Tawakal

Bentuk aktif dari tawakal adalah action kemudian baru berserah diri, pasrah kepada Allah dan berdo’a.
Sebelumnya action seperti ibu Hajar r.anha isteri Nabi Ibrahim a.s. Beliau tidak mudah ketika mencari air zam-zam. Kalau kita umrah, sekarang mudah sekali karena tempat Sa’i sudah dikeramik. Pada waktu itu masih penuh batu, pasir dan kerikil.

Beliau lari dan tidak diceritakan pakai alas kaki atau tidak. Itu sesuatu yang luar biasa. Baru kemudian setelah 7 kali dari Shofa dan Marwa, beliau mendapatkan air malah dari jejakan kaki Nabi Ismail yang sedang menangis dengan keras.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗ 

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. At-Talaq 65: Ayat 3)

Jangan diibaratkan tawakal itu datang ke Masjid lalu berdo’a : “Ya Allah berilah aku makanan”.
Tidak akan datang makanan. Untuk itu harus berusaha, dengan tetap mentaati protokol kesehatan, tetap bekerja serahkan pada Allah, rezekinya ditanggung oleh Allah karena semua diberi rezeki. Itu rumusnya mencari rezeki.

Dalam hadits Jibril, Rasulullah didatangi seseorang yang rambutnya hitam sekali, bajunya putih sekali. Lalu dia menempelkan lututnya dengan lutut Rasulullah. Setelah diskusi tentang apa itu islam, iman dan ihsan, dia langsung pergi. Dan orang-orang tak ada yang tahu dia siapa.

Rasulullah bertanya :

قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟

“Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”
Yang ditanya adalah Umar, karena yang bercerita ini Umar. Dan jawaban Umar sangat bagus :

قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim].

Ini pengalaman luar biasa karena hadits ini mutawatir. Tidak semua orang tahu siapa orang tadi. Padahal zaman dulu Kota Madinah kecil dan semua penduduknya dikenal.

Setelah kita tawakal, kemudian qolbu kita ditata, dijaga dan dirawat. Jangan sampai qolbu jadi hitam. Qolbu akan hitam kalau kita berbuat mungkar atau dosa.

Salah satu usaha untuk menjaga ini adalah dengan do’a yang diajarkan Nabi SAW

اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

Allahummahdinii li Ahsanil Akhlaaqi laa Yahdi li-Ahsanihaa illa Anta, washrif ‘Anni Sayyi-ahaa, laa Yashrif ‘Aanni Sayyi-ahaa illa Anta.

Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalingkannya kecuali Engkau”. (HR Muslim dari Ali bin Abi Tholib)

Akhlak itu ada dua, akhlak yang baik dan akhlak yang jelek, karena seperti pada saat awal kita pelajari definisi akhlak adalah sesuatu yang built in, diberikan oleh Allah dan itu melekat pada diri seseorang dan menimbulkan reaksi yang terus menerus dilakukan oleh orang itu. Kalau akhlaknya baik maka reaksinya dalam bertutur kata dalam berbuat, dalam bersikap dimanapun selalu baik. Tidak akan berubah. Karena itu diberikan oleh Allah SWT maka kita berdo’a.


Akhlak baik Kepada Orang Tua paling dicintai Allah

Allah SWT berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا ۗ اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 23)

Saya ingin menunjukkan pada ayat ini, bahwa setelah syirik, yang kedua langsung “wa bil walidaini ihsana”, jadi betapa akhlak yang baik kepada kedua orang tua ini tatarannya tinggi sekali. Maka itu jangan meremehkan berakhlak mulia kepada orang tua.

Dalam hadits Bukhori Muslim

عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ – وَاسْمُهُ سَعْدُ بْنُ إيَاسٍ – قَالَ : حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا . قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ , قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ , قَالَ : حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

Dari Abu Amr asy-Syaibâni –namanya
Sa’d bin Iyâs- berkata, “Pemilik rumah ini telah menceritakan kepadaku –sambil menunjuk rumah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu dengan tangannya, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allâh?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku (Abdullah bin Mas’ud) mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berbakti kepada dua orang tua.” Aku bertanya lagi, ‘Lalu apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allâh.” Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Itu semua telah diceritakan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku, sekiranya aku menambah (pertanyaanku), pasti Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menambah (jawaban Beliau) kepadaku.” (HR Bukhori Muslim)

Amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya. Jangan shalat dhuhur di waktu ashar.
Setelah shalat langsung yang kedua “birrul Walidain”. Jadi ini betul-betul menunjukkan akhlak kita kepada orang tua harus ditata.
Setelah itu yang ketiga baru jihad fi Sabilillah.

Ada kisah seseorang mau berperang, dia minta ijin kepada Rasulullah untuk ikut perang, Rasulullah tahu bahwa orang itu punya orang tua yang renta dan lagi sakit. Maka dia disuruh pulang : “Kamu kembali saja ke orang tuamu, rawatlah dia”.
Maknanya berarti sama dengan hadits di atas, bahwa merawat orang tua lebih disukai Allah dari pada Jihad fi Sabilillah.

Jangan sampai seperti sekarang ini, banyak orang tua yang ditinggalkan sendiri. Ada orang tua yang hidup sendiri, apa-apa sendiri, di rumah tidak ada temannya. Itu berbahaya.
Kalau ada anaknya sebaiknya menemani. Dulu saya ceritakan ada jama’ah di Telogosari, dia pulang ke Semarang walaupun sudah sukses di Jakarta. Dia berdagang pakaian, pulang ke Semarang karena orang tuanya sudah renta. Ini hebat sekali.

Kemudian termasuk akhlak yang baik adalah janganlah kita menyakiti orang lain. Karena ada hadits tentang 3 hal yang diharamkan oleh Allah atas diri seorang mukmin, yaitu darah, harta dan kehormatan.

Dari Abdullah bin Umar r.a, ia berkata: Nabi SAW bersabda:

فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا. ( رواه البخاري .)

“sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian (untuk ditumpahkan) dan harta kalian (untuk dirampas) dan kehormatan (untuk dirusak). Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” (HR. Bukhari).

Khusus terhadap tiga hal ini orang tua kita, kita jaga darahnya, hartanya, kehormatannya. Jangan sampai orang tua meninggal malah anak-anak berebutan hartanya. Ini tidak menjaga akhlak kepada orang tua. Jangan pula merusak kehormatan orang tua. Kadang ada anak yang malah menceritakan aib orang tuanya kesana kemari.

Bagaimana kalau sudah tutup buku? Orang tua meninggal dunia? Tugas anak adalah mendoakan terus supaya orang tuanya sejahtera di alam barzah.
Alam Barzah itu panjang sekali. Sejak zaman Nabi Adam sampai sekarang belum ada pengadilan. Semua arwah menunggu terus.


Kisah Ulama Yang Taat Pada Ibunya.

Imam Haiwah bin Syarih

Suatu hari Haiwah bin Syarih, beliau salah seorang imam kaum muslimin , duduk dalam majelis beliau mengajarkan ilmu.
Lalu ibunya berteriak memanggil beliau : “Berdirilah wahai Haiwah, bersihkanlah kamar mandi, baunya tidak enak tadi ada tamu yang memakai”.

Haiwah tidak menolak atau meminta tunda. Pengajiannya ditutup dulu dan ditawarkan apakah muridnya mau menunggu, karena beliau akan mengerjakan tugas dari ibunya. Kalau muridnya tidak mau menunggu maka majelisnya akan ditutup.
Muridnya menunggu dan setelah Haiwah selesai membersihkan kamar mandi beliau kembali mengajarkan ilmu.

Tiba-tiba ibunya berteriak memanggil lagi : “Berdirilah wahai Haiwah, berilah makan ayam-ayam itu!”
Beliau segera berdiri dan meninggalkan majelisnya untuk memberi makan ayam milik ibunya.
Panggilan ibu sang imam untuk memberi makan ayam tidaklah membuat beliau malu dan merasa turun derajatnya di hadapan murid- murid beliau. Justru pada saat itulah beliau memberikan keteladanan yang besar kepada murid-muridnya akan kewajiban berbakti kepada orang tua dan lebih mendahulukan orang tua dibandingkan dengan orang lain.

Ini luar biasa dan perlu kita contoh. Kita ini banyak salahnya, kita lebih mementingkan teman daripada ibu. Kita perlu istighfar dan saat ibu masih hidup kita mohon maaf langsung. Jangan minta maaf ketika ibu sudah meninggal. Sampai nangis-nangis di nisan, itu tidak ada sunahnya.
Kalau memang semasa ibu hidup kita belum minta maaf, kita bertaubat mohon ampun kepada Allah, kemudian mendoakan ibu. Itu sunahnya kalau ibunya sudah meninggal.

Kisah Imam Hanafi

Berikutnya Imam Hanafi, kita sudah kenal imam Hanafi. Ibunda dari Imam Hanafi pernah bersumpah dengan satu sumpah, kemudian dia melanggarnya. Maka sang ibupun meminta fatwa kepada anaknya, Imam Hanafi.
Namun ternyata ibunya kurang setuju dengan fatwa puteranya, lalu berkata :
“Aku tidak merasa ridha, kecuali dengan mendengar langsung fatwa dari Zur’ah al Qash!”.

Padahal Zur’ah ini siapa? Mungkin muridnya Imam Hanafi.
Imam Hanafi pun mengantar ibunya untuk meminta fatwa kepada Zur’ah. Namun Zur’ah al Qash mengatakan : “Wahai ibu, engkau meminta fatwa kepadaku, sementara di depanku ada seorang yang paling alim di kota Kuffah. ?”
Imam Hanafi pun berkata dengan berbisik kepada Zur’ah : “Berilah fatwa kepadanya demikian dan demikian”. (sebagaimana fatwa Imam Hanafi kepada ibunya) , kemudian Zur’ah pun memberikan fatwa hingga ibunda Imam Hanafi merasa ridha.

Tindakan Imam Hanafi mengantar ibunya ke Zur’ah yang muridnya adalah agar hubungan anak dan ibu tidak terganggu. Sekarang ini banyak anak muda yang belajar dari Youtube terus hubungannya sama ayah ibunya tidak baik. Hal ini jangan sampai terjadi.


Kisah 3 Orang Tertutup dalam Gua.

Rasulullah SAW bersabda,

انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ

“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu goa kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan amalan baik mereka.”

فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً ، فَنَأَى بِى فِى طَلَبِ شَىْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً ، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ

Salah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku. Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika Shubuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari goa.

قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِى بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا ، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ ، فَجَاءَتْنِى فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِى وَبَيْنَ نَفْسِهَا ، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ . فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا ، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا

“Nabi SAW bersabda, lantas orang yang lain pun berdo’a, “Ya Allah, dahulu ada puteri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku karena sedang butuh uang. Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku. Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).” Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan dinar yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar- benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun mereka masih belum dapat keluar dari goa.

قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّى اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ ، فَجَاءَنِى بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِى . فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ . فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِى . فَقُلْتُ إِنِّى لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ . فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ »

“Nabi SAW bersabda, lantas orang ketiga berdo’a, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah hasil upahnya dahulu yang telah dikembangkan, yaitu ada unta, sapi, kambing dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas goa yang tertutup sebelumnya pun terbuka, mereka keluar dan berjalan. (Muttafaqun ‘alaih)

Hikmahnya, amal sholeh itu bisa untuk washilah. Dimasa pandemi ini bisa dipakai. Misalnya : “Ya Allah aku punya amalan begini, aku mohon dihindarkan dari bahaya Covid ini”.

Hadits di atas menunjukkan ibrah yang luar biasa. Kisah orang pertama menunjukkan birrul walidain. Kerjaan ini kalau disini pasti dianggap ekstrim, dia menunggu orang tuanya yang tidur sampai terbit fajar , hanya untuk memberi minum susu.

Ada lagi kisah birrul walidain yang lain yaitu kisah dua orang anak yang menuntut ilmu, yang tua menjaga orang tuanya. Kalau diminta tukar tempat ganti pekerjaan ternyata yang tua tidak mau karena dia ingin barokah dari birrul walidain.


Sedekah atas nama Orang Tua yang sudah wafat

Dari Ibnu ‘Abbas r.a :

أَنَّ سَعْـدَ بْنَ عُـبَـادَةَ -أَخَا بَـنِـيْ سَاعِدَةِ- تُـوُفّـِيَتْ أُمُّـهُ وَهُـوَ غَـائِـبٌ عَنْهَا، فَـقَالَ: يَـا رَسُوْلَ اللّٰـهِ! إِنَّ أُمّـِيْ تُـوُفّـِيَتْ، وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا، فَهَلْ يَنْـفَعُهَا إِنْ تَصَدَّقْتُ بِـشَـيْءٍ عَنْهَا؟ قَـالَ: نَـعَمْ، قَالَ: فَـإِنّـِيْ أُشْهِـدُكَ أَنَّ حَائِـطَ الْـمِخْـرَافِ صَدَقَـةٌ عَلَـيْـهَا.

Bahwasanya Sa’ad bin ‘Ubadah
–saudara Bani Sa’idah– ditinggal mati oleh ibunya, sedangkan ia tidak berada bersamanya, maka ia bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Sesungguhnya ibuku meninggal dunia, dan aku sedang tidak bersamanya. Apakah bermanfaat baginya apabila aku menyedekahkan sesuatu atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya.” Dia berkata, “Sesungguhnya aku menjadikan engkau saksi bahwa kebunku yang berbuah itu menjadi sedekah atas nama ibuku.” (HR al-Bukhari, Ahmad, Abu Dawud , at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan al-Baihaqi. Lafazh ini milik Ahmad.)

Jadi kalau orang tua sudah meninggal dan kita ingin berbakti caranya selain mendoakan adalah bersedekah atas namanya. Hadits di atas yang meriwayatkan sangat banyak, jadi sangat kuat untuk kita ikuti sebagai cara birrul walidain.

Dari Abu Hurairah r.a bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW :

إِنَّ أَبِـيْ مَاتَ وَتَـرَكَ مَالًا، وَلَـمْ يُـوْصِ، فَهَلْ يُـكَـفّـِرُ عَنْـهُ أَنْ أَتـَصَدَّقَ عَنْـهُ؟ قَالَ: نَـعَمْ.

“Sesungguhnya ayahku meninggal dunia dan meninggalkan harta, tetapi ia tidak berwasiat. Apakah Allâh akan menghapuskan kesalahannya karena sedekahku atas namanya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” (HR Muslim, Ahmad, an-Nasa-i, dan al-Baihaqi).

Jadi menyedekahkan harta orang tua yang wafat atas nama orang tua diperbolehkan. Jangan malah rebutan, tidak menyelesaikan masalah warisan dengan baik. Akhlak kepada orang tua yang baik akan menyebabkan pahala yang mengalir terus kepada orang tua yang sudah meninggal.

Akhlak anak kepada orang tua setara dengan ibadah yang paling utama (shalat dan jihad).
Akhlak menyangkut lisan, perlakuan, sedekah dan do’a, tidak berhenti ketika orang tua wafat.
Orang yang berbakti (berakhlak mulia) kepada orang tua terbukti diberi kemuliaan dan berkah oleh Allah SWT dan sebaliknya orang yang tidak berbakti, hidupnya akan banyak masalah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here