Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

14 Dzulhijjah 1442 / 24 Juli 2021



Keutamaan Akhlak Mulia

Kalau orang itu menata, menjaga dan merawat qolbunya sehingga menjadi qolbun salim, maka akan mewujudkan usaha-usaha antara lain memperbaiki akhlak. Kita telah beberapa sesi membahas akhlak karena demikian pentingnya ini, dan jarang dibahas. Selama ini yang dibahas terus adalah ibadah-ibadah mahdoh, seperti sholat dan lainnya. Jadi saling melengkapi.

Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi. Dinilai hasan oleh Al-Albani.)

Hadits ini penting sekali, hadits ini satu rangkaian dengan hadits At Tirmidzi yang lain.

Orang yang akhlaknya mulia kelak tempatnya berdekatan dengan Rasulullah, ini luar biasa. Jadi mari kita pelajari akhlak-akhlak yang baik itu. Sudah terbukti kalau akhlaknya baik, apapun profesinya akan jadi baik. Dokter yang akhlaknya baik pasti dicintai oleh pasiennya.

Nabi SAW bersabda ,

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi. Dinilai shahih oleh Al-Albani)

Timbangan akhlak mulia itu berat sehingga akhlak ini bisa melengkapi ibadah-ibadah kita, memberatkan timbangan amal kebaikan kita.

Nabi SAW bersabda :

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ، وَإِنَّ اللهَ يُبْغِضُ الفَاحِشُ البَذِي

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlaknya yang baik. Allah sangat membenci orang yang kata-katanya kasar dan kotor.” (HR. Tirmidzi)

Kita sudah mempelajari bahwa amal yang akan dihisab pertama kali di hari kiamat adalah sholat. Nanti akhlak ini menyempurnakan timbangannya, sehingga berat sekali.


Pengamalan Orang Berakhlak Mulia

Cakupan tentang akhlak itu luas sekali, antara lain ucapan dan kegiatan atau aktivitas tangan jangan sampai membahayakan orang lain.

Nabi SAW bersabda.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah seseorang
yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya” -(HR Bukhori)

Ini memang perkara yang berat, sampai orang Melayu mempunyai bahasa pepatah : “Lidahmu harimau kamu”. Sekarang mungkin menjadi “Jarimu harimau kamu”. Ini semua tentu berasal dari otak dan qolbu yang kemudian menghasilkan tulisan sharing.

Sekarang ini orang mudah nge-share, mengomentari sampai suatu hari saya berdebat sangat gencar dengan seseorang. Karena dia mengomentari seorang ulama besar , dengan kalimat yang sangat tidak bisa diterima, sebagai orang yang mencintai ulama.
Seorang muslim pasti mencintai ulama karena orang muslim mencintai Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At-Tirmidzi)

Ulama mewarisi ilmunya para Nabi. Tidak hanya Nabi Muhammad SAW. Disini memakai kata al-Anbiya berarti jamak. Berarti dia belajar tentang akhlaknya, ibadahnya dan seluruh aspek kehidupannya para Nabi, dari Nabi Adam a.s sampai Nabi Muhammad SAW. Jadi kita harus hormat dan mencintai ulama sepanjang ulama itu berkata benar.

Jadi lisan ini penting sekali, harus kita jaga. Jangan sampai lisan kita menzalimi orang lain. Apalagi tangan kita, lebih-lebih jangan menyakiti orang lain.

Rasulullah SAW bersabda :

خِيَارُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ

Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan (H.R Ibnu Abi Syaibah, dishahihkan al-Albaniy)

Ini penting sekali di zaman Covid ini alhamdulillah Jawa Tengah mengadakan Gerakan Jogo Tonggo, yaitu memberi bahan makanan atau makanan matang kepada tetangganya. Saya mendengar dari saudara saya yang sakit, ketika mau saya kirimi dia bilang : “Sudah, terima kasih dari RT sini saya sudah dapat banyak”.
Tiap hari mendapatkan kiriman yang diatur oleh ibu RT, ini luar biasa. Kalau amalan ibu RT ini ditata niatnya menjadi ibadah yang luar biasa.

Berikutnya yang lupa dikerjakan orang- orang adalah ketika ada orang salam, didiamkan tidak dijawab. Padahal ini penting sekali, termasuk kriteria terbaik dari orang islam.

Rasulullah SAW bersabda:

خيركم من أطعم الطعام وردَّ السلام

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang memberi makan kepada orang lain dan menjawab salam.”

Seperti sudah diajarkan para ulama, karena ini dari Nabi Muhammad SAW. Pahala mengucapkan atau menjawab salam ini 10, 20 atau 30.

Pahala 10 didapat ketika mengucapkan salam yang pendek.
“as-Salâmu ‘alaikum” (semoga keselamatan dari Allah tercurah untukmu). Jangan disingkat lagi dengan “lam-lekum”. Mari kita benahi amal kita supaya menjadi amal kebajikan.

Bukankah kita selalu berdo’a agar agama kita diperbaiki?
Agama menjadi tolok ukur amal-amal kita.

اللَّهُمَّ أصْلِحْ لِي دِيْنِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي ، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي ، وَأَصْلِحْ لِي آخِرتِي الَّتي فِيهَا مَعَادِي ، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ ، وَاجْعَلِ المَوتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang menjadi pegangan urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku; serta jadikanlah kehidupanku mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan kematianku sebagai kebebasanku dari segala keburukan”.

Banyak yang tidak menyadari, bahwa ibadah yang dianggap sepele seperti menjawab salam jadi tolok ukur manusia terbaik.

Bagaimana dengan pahala yang 20?
Dia mengucapkan salam sebagai :
“as-Salâmu‘alaikum warahmatullah”- (semoga keselamatan dan rahmat dari Allah tercurah untukmu).

Sedangkan salam yang lengkap, sempurna pahalanya 30 :
“as-Salâmu‘alaikum warahmatullahi wabarakâtuh” (semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah tercurah untukmu).

Kita perlu saling mengingatkan hal ini. Kadang ada yang menjawab salam dengan singkatan : “www”.
Ini kan bisa diartikan macam-macam. Sebaiknya dituliskan lengkap, karena dengan menuliskan lengkap berarti memang hatinya sedang menjawab salam : “Wa alaikum salam, warahmatullahi wabarakâtuh”

Memang kadang-kadang malas menuliskan panjang. Minimal kita tulis lengkap bagian salamnya :
“Wa alaikum salam, wr.wb”
Mulai sekarang mari kita jadikan kegiatan sehari-hari, karena ini adalah tolok ukur kebaikan kita, yaitu menyampaikan salam atau menjawab salam.


Menata, Menjaga dan Merawat Qolbu

Kita ulang terus bahwa Qolbu terdiri dari empat : An Nafs, Al Fuad, As Shadr dan Al Hawa. Ini ada rujukannya dari ulama terkenal Imam Al Ghazali.

Supaya Qolbu mengarah pada Qolbun Salim kita mengusahakan agar Al Fuad menonjol, As Shadr menonjol, An Nafs menonjol tetapi Al Hawa harus mengecil. Al Hawa harus masih ada, jangan sampai tidak ada karena manusia ini diberi Al Hawa salah satunya untuk reproduksi. Jadi harus tetap ada Al Hawa tapi ditata dengan aturan agama.

Halangan untuk itu ada 8 disebutkan dalam Surat At Taubah ayat 24. Kemudian dikembangkan lagi jadi banyak sekali, karena kalau dipikir, halangan orang untuk menjadi baik itu banyak. Bahkan yang paling dekat sering menghambat : Keluarganya sendiri.

Mau shalat isya’ berjama’ah tidak jadi, karena diajak pergi kemana. Kalau bisa perginya dilakukan setelah shalat Isya’. Karena shalat Isya’ di masjid itu prime time. Merupakan tolok ukur bagi orang munafik, adalah dia yang merasa berat shalat Isya’ dan Subuh di masjid.
Kalau kita ingin terhindar dari sifat munafik harus rajin melatih diri shalat Isya’ dan Subuh berjamaah di masjid.

Tentu hal ini kalau tidak masa pandemi. Kalau masa pandemi kita harus hati-hati. Kalau kita yakin masjid kita hanya untuk lingkungan yang kita kenal, bukan masjid Raya berarti jamaahnya betul-betul dari sekitarnya itu, terukur semua, saling kenal , kondisinya tidak ada informasi tentang Covid, in syaa Allah aman tetap berjama’ah dengan menerapkan Prokes.

Kita harus mengingatkan halangan- halangan ini terus supaya kita dapat menghilangkannya dan ibadah kita lancar.

Saya dapat ilmu baru dari tukang, yaitu ilmu memindah lemari. Biasanya saya kalau memindah lemari perlu 4 orang, kalau tidak mengeluarkan isinya.
Kemarin saya melihat lemari saya digeser tukang tapi kakinya tidak patah. Ternyata dia memakai teknik seperti memindah kulkas yang tak ada rodanya dengan diberi kulit pisang. Tukang saya memindah almari saya tidak pakai kulit pisang tapi memakai olie, sehingga gerakan lemari ringan.

Ilmu memindah lemari ini pada prinsipnya adalah menghilangkan hambatan. Sama dengan Gerakan Qolbu kita agar bisa bergerak menuju Qolbun Salim harus dengan menghilangkan hambatan. Setelah hambatan qolbu tidak ada maka mau ibadah apapun akan lancar.

Misalkan seperti kemarin ada ibadah kurban. Untuk itu harus mengeluarkan uang 3 juta itu untuk kambing. Bila tak ada hambatan maka ibadah ini akan lancar. Ada yang kurban sapi. Bahkan ada yang tidak seekor sapi, maa syaa Allah saya membaca mudah-mudahan benar bahwa Pak Sandiaga Uno berqurban 1000 ekor sapi. Semoga beliau barokah.

Hambatan qolbu ini supaya dicek masing-masing, karena setiap pribadi tidak sama.

Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنْ كَا نَ اٰبَآ ؤُكُمْ وَاَ بْنَآ ؤُكُمْ وَاِ خْوَا نُكُمْ وَاَ زْوَا جُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَ اَمْوَا لُ ٱِ قْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَا رَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَا دَهَا وَ مَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَاۤ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَ جِهَا دٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَ بَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَ مْرِهٖ ۗ وَا للّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

“Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 24)

Hambatan yang delapan itu :
– Bapak bapak
– Anak anak
– Saudara saudara
– Isteri
– Kaum keluarga
– Kekayaan yang diusahakan
– Perniagaan yang tidak mau rugi
– Rumah tempat tinggal yang dicintai.
Jangan sampai menghambat cinta kepada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalanNya.


Rumusannya adalah 3 I dan 2 T

3 I adalah : Islam, Iman dan Ihsan
2 T adalah : Taqwa dan Tawakal

Ada satu hadits penting yang kita kenal sebagai Hadits Jibril yang panjang sekali.
Dalam hadits itu Nabi Muhammad SAW ditanya apakah islam itu?
Beliau menjawab :

اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً.

“Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,”

Islam itu gambarannya , ada orang tidak shalat tapi ketika islam dihina dia marah. Mungkin levelnya belum mencapai apa yang disebut dalam Hadits. Tapi kemarahannya menunjukkan ghirahnya terhadap islam kuat sekali. Intinya kalau orang sudah islam tentu ghirahnya kuat.

Level berikutnya adalah Iman.
Jibril bertanya tentang Iman dan jawaban Rasulullah SAW sebagai berikut :

أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ.

“Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,”

Malaikat Jibril yang datang saat itu menyerupai manusia. Kenapa bisa begitu? Karena pada waktu itu memang sedang ada pembelajaran untuk umat. Kalau sekarang kita jangan mengharap melihat malaikat. Itu termasuk mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Level yang paling atas adalah Ihsan.

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.

”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Kita dalam menata, menjaga dan merawat qolbu harus belajar terus untuk masuk ke arah ihsan ini.
Kalau kita sudah sampai level ini maka tidak perlu diperintah untuk ibadah.

Seperti dulu Indonesia juga ada keadaan yang menggambarkan ini. Di perempatan jalan strategis dipasang Patung Polisi. Artinya untuk menaati aturan, masyarakat kita levelnya masih harus diawasi. Walaupun yang ngawasi Patung Polisi. Lama-lama patungnya diganti Fiber dan kadang-kadang ada Polisi betulan.

Sekarang tahapan pengawasan sudah lebih bagus lagi, pakai CCTV dan tilang elektronik sudah mulai diprogramkan. Kondisi ini untuk memahami bahwa Pengawasan Allah lebih dari itu. Allah itu Maha Tahu terhadap perbuatan hambanya.

Allah SWT berfirman: 

اِنَّ اللّٰهَ بَصِيْرٌ بِۢا لْعِبَا دِ

“Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”” (QS. Ghafir 40: Ayat 44)

Ayat semacam ini diulang-ulang dalam Al Qur’an.

Kalau ketiga hal (Islam, Iman dan Ihsan) terwujud dalam bentuk amal sholeh dan dia juga mencegah amalan yang mungkar maka dia masuk ke tahap mutaqin.

Mutaqin ini deskripsinya banyak.
Salah satunya di awal Surat Al Baqarah .

Allah SWT berfirman:

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ  ۛ  فِيْهِ  ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ 

“Kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 2)

Orang yang bertakwa selalu membuka Al Qur’an karena ini adalah rujukan umat Islam.

Namun kenyataan ada yang lucu jika umat islam malah membuka-buka ramalan. Di media ada yang dikenal peramal yang namanya Mbak You yang jadi rujukan. Ini lucu karena dalam Al Baqarah ayat 256 jelas :

لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ ۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِا لطَّا غُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِۢا للّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِا لْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَا مَ لَهَا ۗ وَا للّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Tidak ada paksaan dalam agama Islam , sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 256)

Sudah jelas antara yang lurus dan yang bengkok. Yang bengkok itu Thogut.
Kata Thogut ini jadi kontroversi gara- gara ada Teroris yang menuduh Pemerintah itu Thogut. Salah satu Thogut adalah orang yang mengaku bisa melihat kegaiban, melihat yang akan datang. Ini harus kita ingkari.

Bergantung itu pada Allah, jangan pada Thogut. Orang yang bergantungan pada Allah pasti akan kuat. Beda dengan orang yang bergantungan pada manusia. Kita ingat dulu Pak Harto kuat, banyak orang yang bergantung padanya. Tapi ketika Pak Harto lengser yang bergantung padanya ikut jatuh.

Kemudian dalam Surat Al Baqarah lanjutannya, ayat 3-5 tentang definisi ketakwaan, antara lain Iman kepada Hari Akhir dan seterusnya sampai Iman pada Kitab-Kitab.

Definisi takwa yang lain dalam Surat Al Baqarah ayat 177 :

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَا لْمَلٰٓئِکَةِ وَا لْكِتٰبِ وَا لنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰ تَى الْمَا لَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَا لْمَسٰكِيْنَ وَا بْنَ السَّبِيْلِ ۙ وَا لسَّآئِلِيْنَ وَفِى الرِّقَا بِ ۚ وَاَ قَا مَ الصَّلٰوةَ وَاٰ تَى الزَّکٰوةَ ۚ وَا لْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عٰهَدُوْا ۚ وَا لصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 177)

Deskripsinya banyak. Kalau semua deskripsi dilaksanakan, umat islam pasti akan unggul karena akhlaknya luar biasa, qolbunya juga luar biasa.

Kemudian ada lagi dalam Surat Ali Imran 133-134 :

وَسَا رِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَا لْاَ رْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ (133) الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ (134)

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 133-134)

Kemudian dalam Surat At Talaq ayat 2 :

وَمَنْ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا 

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,” (QS. At-Talaq 65: Ayat 2)

Seperti sekarang ini keadaan sulit karena pandemi Covid-19, kembalinya ketakwa saja. Karena Allah pasti akan memberi jalan keluar. Ini pasti karena yang mengatakan Allah.

Sekarang ini maa syaa Allah ada anak muda yang tersesat jalan. Hanya karena terputus rezekinya sampai mengupload di internet menawarkan dirinya. Naudzubillahi min dzalik. Akhirnya dia ditangkap polisi.

Saya ingatkan pada saudara-saudara sekalian, jangan sekali-sekali upload apa-apa di internet tanpa dipikir karena tidak akan hilang oleh zaman sampai kiamat. Berarti pahalanya akan hilang semua akibat digerogoti sharing yang tidak senonoh. Setiap hari share itu dibuka orang akan menambah dosanya dan mengurangi pahalanya.

Dia tidak menyadari ,walaupun hanya mau guyonan. Jama’ah yang punya Grup WA seperti ini agar menegur orang semacam itu. Kalau tidak bisa diperingatkan lebih baik dikeluarkan dari Grup karena dia akan mengotori semua anggota Grup.

Jangan mengeluarkan anggota grup karena beda pendapat. Mengeluarkan itu karena amar makruf nahi mungkar. Perbedaan pendapat bisa dikelola, silaturahim wajib dijaga. Mari kita samakan pendapat. Kalau ada yang tidak cocok, agar sepakat untuk tidak sama tapi saling menghormati.

Dalam Surat At Talaq ayat 3 Allah SWT berfirman:

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۗ 

“dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. At-Talaq 65: Ayat 3)

Jadi dalam masa pandemi Covid-19 ini tidak boleh ragu-ragu bahwa Allah tidak memberi rezeki. Allah pasti memberi, mungkin berkurang karena dimana-mana rezekinya berkurang. Memang situasinya berubah. Kita sendiri juga harus berubah, menyesuaikan dengan Sunatullah yang sudah ditetapkan oleh Allah.

Penularan Covid-19 ini memang ganas, jangan dihoaxkan. Ada orang yang dengan takabur mengatakan : “Saya tak mungkin kena Covid-19”.
Akhirnya dia kena, dan fatal sesak nafas dan wafat. Jadi kita harus mawas diri.


BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here