Fahmi Salim Lc MA

11 Dzulhijjah 1442 / 21 Juli 2021



MengEsakan Allah bukan hanya sekedar di lisan, bukan hanya Rukuk – Sujud tapi menyembah Allah, mentauhidkan Allah dalam seluruh aspek kehidupannya menegakkan aturan-aturan Allah SWT. Karena aturan Allah itulah yang menjamin keadilan, jauh dari kezaliman.

Kezaliman terjadi di atas muka bumi ketika kita menjauh dari aturan-aturan syari’at Allah SWT.
Maka ini penting untuk kita garis bawahi. “ath’amahum ming juu’iw wa aamanahum min khouuf” – (menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan).

Kalau dalam bahasa Nabi Ibrahim, ketika Nabi Ibrahim memperkenalkan Allah dengan bahasa yang mudah kita fahami : “wallazii huwa yuth’imunii wa yasqiin” (Allah yang memberi makan dan minum kepadaku).
Dari mana makanan?
Sumbernya makanan itu ada protein nabati ada protein hewani, ada karbo hidrat, itu semua sumbernya Allah yang menciptakan.

Ada rumput-rumputan, makanya disebutkan dalam Firman :

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَ عْلَى (1) الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوّٰى (2)
وَا لَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدٰى (3) وَا لَّذِيْۤ اَخْرَجَ الْمَرْعٰى (4)

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan, lalu menyempurnakan, yang menentukan kadar dan memberi petunjuk, dan yang menumbuhkan rerumputan,” (QS. Al-A’la 87: Ayat 1-4)

Rumput-rumputan, tanaman, tumbuh- tumbuhan disediakan Allah. Protein nabati kita dapatkan saat kita makan tempe, makan tahu itu dari kedelai. Ada yang dari jagung, dari beras, sayur-sayuran kita makan. Allah SWT yang menumbuhkan itu semua.

Allah memberi kita minum. Minum apa? Air bersih yang berasal dari air tanah, dari air sungai. Yang bisa dikonsumsi diminum. Itu semua Allah SWT yang mengatur. Ada yang dari pegunungan. Ada yang dari laut berubah menjadi uap, kemudian menjadi awan. Ditampung di awan yang membawa air banyak lalu kemudian hujan.

Ada video yang menjelaskan tentang hujan. Kalau kita hanya meyakini bahwa hujan itu turun karena adanya proses penguapan dari air laut kemudian jadi awan dan turun hujan, bukan karena Allah maka Tauhid kita jadi musnah. Sebenarnya tidak perlu dipertentangkan begitu. Itu adalah proses.

Kita disuruh :
Afala Ta’qiluun (Apakah Engkau Tidak Berpikir) ?
Afala Tadabbarun (Apakah kalian tidak merenungkan) ?
Afala Tanzurun (Apakah kalian tidak melihat) ?
Qul sīrụ fil-arḍi fanẓurụ (Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah) …

Kita disuruh melihat, mengobservasi ternyata proses turunnya hujan itu begitu. Allah yang menentukan, Dia yang meniupkan angin , Dia mengarak awan agar hujan jatuh di mana, jam berapa, berapa kadar, berapa mm lebatnya hujan itu semua ditentukan Allah melalui proses. Ada al-asbab ada sebab akibat – itu diajarkan.

Allah sendiri yang memerintahkan untuk menelaah itu semua, jadi jangan dinafi’kan. Jangan dipertentangkan antara Tauhid (ilmunya Allah, perbuatan Allah, kekuasaan Allah) dengan Proses- proses alam yang bisa kita observasi. Proses alam itu sendiri Allah yang meletakkan hukum- hukumnya yang kita sebut Sunatullah.
Hukum Alam itu Hukum Allah SWT.

Problem kita umat islam ini sekarang ada yang mendikotomi antara agama dengan sains. Mendikotomi antara Tauhid dengan sains. Jangan dilakukan itu , karena Allah sendiri yang mengangkat derajat orang yang berilmu.

Allah SWT berfirman:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ 

“niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11)


شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ وَا لْمَلٰٓئِكَةُ وَاُ ولُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِۢا لْقِسْطِ ۗ 

“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan,” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 18)

وَ الَّذِيْ هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِ 

“dan yang memberi makan dan minum kepadaku;” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 79)

Allah yang memberi kita makan dan Allah yang memberi kita minum. Tetapi Allah juga memberi hukum-hukum alam :
– Bagaimana air bisa mengalir dari dataran tinggi ke tempat yang lebih rendah.
– Bagaimana hukum alam, sunatullah supaya kita bisa bercocok tanam.
– Bisa memperhatikan musim dan sebagainya.
Ada ilmunya dan itu bagian dari Sunatullah.

Yang menarik, ayat yang ketiga cara Ibrahim mendefinisikan Allah, dia tidak memakai definisi-definisi filosofy yang njlimet, tapi yang berkaitan erat dengan kehidupan nyata manusia. Seperti makan dan minum, itu bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ 

“dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 80)

Artinya penyakit itu adalah bagian yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami rasa sakit. Atau tidak pernah kena penyakit. Semua manusia pernah kena penyakit, apakah itu ringan, sedang atau berat penyakitnya. Hal itu berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain, tapi semua pernah mengalami sakit.

Apalagi sakit hati, banyak yang sakit hati. Mungkin karena dizalimi, mungkin ada yang mengghibah, mungkin ada yang dengki dan sebagainya.
Bahkan ada yang sakit jiwa, punya gangguan kesehatan jiwa.
Kalau kita sakit, Allah yang menyembuhkan. Tapi kita diperintahkan oleh Allah melalui lisannya Rasulullah SAW untuk berobat kalau sakit.

Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Allah telah menurunkan penyakit dan juga obatnya. Allah menjadikan setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah, namun jangan berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Daud).

Inilah Tauhid Ubudiyah, kita harus punya hubungan vertikal. Inilah yang menguatkan ketika kita sakit.
Maka itu penting kalau kita sakit punya sandaran spiritual. Hubungan yang dekat dengan Allah.


2. Tauhid Sosial

Selain Tauhid Ubudiyah ada Tauhid Sosial. Tauhid Sosial itu hubungan kita dengan sesama manusia. Itu diatur oleh perintah dan larangan Allah SWT dalam perilaku hubungan sosial kita.

Allah yang memerintahkan kita berbakti kepada orang tua. Ini Tauhid Sosial namanya. Allah yang memerintahkan kita berbuat baik kepada tetangga, kepada saudara, kepada kerabat, kepada anak yatim, kepada fakir miskin, kepada Ibnu sabil. Ada perintah zakat

Allah SWT berfirman:

وَاَ قِيْمُواالصَّلٰوةَ وَاٰ تُواالزَّكٰوةَ وَا رْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

“Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 43)

Zakat, shodaqoh adalah bagian dari Tauhid Sosial kita. Kita berderma, berbagi, berempati seperti sekarang kita melaksanakan ibadah kurban. Kita berkurban itu dagingnya tidak sampai ke Allah. Allah tidak memakan dagingnya. Dagingnya justru dibagikan kepada fakir miskin. Untuk disedekahkan dagingnya bisa dikonsumsi oleh si pekurban.

Kita bisa melaksanakan selama tanggal 10 sampai tanggal 13 Dzulhijjah yang disebut dengan hari tasyrik. Ini kita sedang menerapkan Tauhid Sosial dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim terhadap puteranya Ismail yang diganti oleh Allah . Itu adalah ujian yang nyata.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰٓ ؤُا الْمُبِيْنُ (106) وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ (107)

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat 37: Ayat 106-107)

Itulah Tauhid Sosial, kita berbagi kepada sesama, menumbuhkan sikap kedermawanan. Allah mencabut mitology zaman Pra islam.

Dalam sistem keyakinan mitology, keyakinan agama-agama Pra islam, pada zaman Yunani kuno, Romawi kuno kalau ada penyakit wabah, ada bencana-bencana musibah besar ada praktek pengurbanan manusia.
Katanya dewa-dewa minta persembahan dari manusia. Ada yang perawan dipersembahkan, ada yang tua, ada yang anak-anak muda dibunuh atas nama dewa-dewa untuk dipersembahkan kepada Tuhan-Tuhan palsu.

Dalam syari’at islam itu tidak ada. Itu simbolnya praktek primitif pengurbanan anak manusia dikurbankan untuk dipersembahkan kepada Tuhan dihapus oleh syari’at islam yang diwahyukan kepada Nabiyullah Ibrahim a.s dengan adanya mimpi yang Allah berikan kepada Nabiyullah Ibrahim a.s

Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَا لَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْۤ اَرٰى فِى الْمَنَا مِ اَنِّيْۤ اَذْبَحُكَ فَا نْظُرْ مَا ذَا تَرٰى ۗ قَا لَ يٰۤاَ بَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيْۤ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”” (QS. As-Saffat 37: Ayat 102)

Ini adalah syari’at islam yang mulia yang menghapuskan manusia, membebaskan manusia dari praktek persembahan, pengurbanan anak manusia untuk memuaskan Tuhan Tuhan palsu. Mulai saat itulah tidak ada praktek pengurbanan manusia untuk Tuhan. Yang ada adalah kita menyembelih hewan kurban, digantikan oleh Allah dengan gibas yang besar.

“Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamd”.
Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.

Oleh sebab itu kita bersyukur ada Tauhid Sosial. Termasuk Tauhid Sosial ketika kita menghadapi pandemi ini. Selain kita berbagi, berempati karena banyak saudara-saudara kita yang mata pencahariannya itu bersifat harian. Bukan orang dengan gaji bulanan seperti para profesional : Dokter, Insinyur, guru dan lain sebagainya. Mereka bukan orang kantoran, mereka kerjanya harian. Kalau tidak dagang, tidak cari nafkah, tidak ngojek, tidak bisa makan.

Bagaimana ini dengan situasi sekarang ini? Ayo kita saling membantu.
Pemerintah harus hadir. Negara harus hadir, bukan hanya melarang warga atau membatasi mereka untuk tinggal diam di rumah, tetapi juga memberikan jaminan sosial, membantu rakyat agar bisa survive mempertahankan kehidupan dirinya. Minimal dia bisa beli beras untuk sebulan, kalau misalnya siapkan PPKM untuk sebulan.

Mau PPKM 3 minggu, 6 minggu atau 8 minggu rakyat tidak masalah.
Mau PPKM level 1 atau level 4. Kata para netizen macam Boncabe saja ada level 10 sampai 100. Ini tidak masalah dengan catatan kalau ada pegangan mereka untuk bisa survive, bisa beli beras, bisa beli lauk pauk, bisa bayar listrik. Hajat kebutuhan dasar rakyat ini harus dipenuhi.

Maka itulah disini Tauhid Sosial harus hadir. Fungsi Pemerintahan dalam islam itu harus memberikan jaminan kesejahteraan baik secara fisik dengan memberi makan atau kesejahteraan batiniah dengan memberikan rasa aman. Dia aman, tenang tidak terganggu, tidak terancam tagihan listrik, tidak terganggu fikirannya dengan kebutuhan anak isterinya.
Harus ada rasa aman dalam jiwanya supaya bisa bertahan hidup. Ini Tauhid Sosial.

Ada bentuk Tauhid Sosial lagi sekarang yang harus kita perkuat yaitu jangan kita mudah menyebarkan berita-berita hoax yang tidak jelas sumbernya. Sebab Allah mengatakan :

اِنْ جَآءَكُمْ فَا سِقٌ   بِۢنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا   بِۢجَهَا لَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6)

Tabayun dulu kalau mendapat berita dari orang fasik. Kadang ada yang orang tidak tahu , tidak menguasai ilmunya tapi buru-buru nge-share, menyebarkan berita-berita itu padahal hoax.

Sekarang ini muncul varian baru, Virus yang lebih berbahaya dari pada varian delta, Alfa, beta atau Gama.
Nama virus baru varian Lois. Itu virus baru yang menyebarkan khabar-khabar tidak benar, bahkan dia jelas-jelas menuduh para dokter Rumah Sakit membunuh pasien, karena salah memberikan resep obat.

Naudzubillahi min dzalik, kita malah terbawa ikut kena virus ini. Menyebarkan berita seolah-olah benar. Dan secara tidak langsung itu membunuh kharakter para dokter- dokter kita. Ribuan dokter muslim yang profesional, yang sholeh, yang berada di garis depan untuk menyelamatkan umat, menyelamatkan bangsa dan negara ini kena tudingan yang sangat jahat bahwa ini adalah suatu kesengajaan untuk membunuh pasien karena interaksi obat.

Hati-hati, kita tidak boleh sembarangan menyebar informasi yang tidak jelas itu.
Dengan tegas Allah SWT berfirman dalam Surat An Nisa :

وَاِ ذَا جَآءَهُمْ اَمْرٌ مِّنَ الْاَ مْنِ اَوِ الْخَـوْفِ اَذَا عُوْا بِهٖ ۚ وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِ لٰۤى اُولِى الْاَ مْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِۢطُوْنَهٗ مِنْهُمْ ۗ 

“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. Padahal apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya mengetahuinya dari mereka.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 83)

Menyatakan salah satu ciri sifat orang munafik adalah senang menyebarkan berita-berita yang menakutkan tanpa penyaringan , baik itu di masa aman ataupun di masa orang cemas. Ini berbahaya.

Mestinya yang dilakukan oleh orang- orang beriman adalah
“walau rodduuhu ilar-rosuuli wa ilaaa ulil-amri min-hum la’alimahullaziina yastambithuunahuu min-hum”.
(Mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka sebagai Pemegang otoritas).

Kita wajib konfirmasi dan klarifikasi pada pemegang otoritas umat yang ahli di bidangnya. Jangan buru-buru sharing tidak tanya kiri-kanan apa maksudnya, bahkan ikut memprofokasi : “vaksin ini begini, ini jahat ini…”

Mungkin ada yang kritis atau tidak setuju pada Pemerintah, atau mungkin dari awal ada pengaruh-pengaruh Pilpres kemarin itu hak masing- masing untuk mengkritik.
Tetapi jangan membabi buta bahwa seolah-olah semuanya ini salah, terutama dalam hal medis ini, itu ada otoritasnya, ada Ikatan Dokternya, ada badan POM-nya sehingga orang tidak main sembarangan.

Pemerintah tunduk pada rekomendasi IDI dan Badan POM atau Bio Farma yang menangani masalah vaksin. Ini tidak sembarangan, jangan kita menyebarkan hoax. Ini adalah bagian dari Tauhid Sosial kita.

In syaa Allah kalau kita ini kompak ikut arahan para ulama, ikut arahan para ahli, para pakar di bidang medis, kita kompak menjalankan 5M, kita kompak mewujudkan vaksinasi sehingga tercipta herd immunity (kekebalan komunitas) minimal 60-70% penduduk Indonesia divaksin In syaa Allah kita akan kembali normal seperti halnya negara- negara Eropa yang sudah menyelenggarakan Piala Euro.

Jangan kita hanya kepengin lihat hasilnya saja : “Piala Eropa sudah digelar, sudah bebas masker, sudah bisa berdekatan tanpa jarak, dan sebagainya”.
Kenapa kita hanya melihat di akhir usaha mereka? Prosesnya kita tidak mengikuti seperti apa usaha yang mereka lakukan ?

Kita tiap hari dicekoki dengan khabar- khabar yang tidak benar. Padahal itu tidak kita kuasai ilmunya, tidak tanya kepada “ahlul dikri, ahlul ilmi”.
Tidak boleh seorang muslim bersikap seperti itu. Makanya kita tidak beres- beres. Ada lagi lonjakan kasus ini dan sebagainya.

Mari kita jaga, lindungi diri kita dan lindungi orang lain. Bapak ibu pasti sudah tahu caranya, terutama para dokter tentu sudah tahu melindungi diri kita dan orang lain dengan masker sekaligus kita bersandar, bertawakal kepada Allah SWT supaya Allah menjaga kita supaya tidak terinfeksi.


3. Tauhid Saintis

Semua itu bersumber dari Allah, Tauhid. Allah yang mengetahui semua apa yang ada di langit, dan yang ada di bumi. Semua sumber ilmu itu adalah berasal dari Allah SWT. Observasi manusia, sains sudah Allah sebutkan ayat-ayat tentang kauniyah dalam ribuan ayat Al Qur’anul Kariem.

Tentang penciptaan langit , penciptaan bumi, tentang awan, tentang gunung- gunung, tentang lautan, tentang binatang, tentang tumbuh-tumbuhan semua. Jadi Tauhid itu menjalar ke seluruh aspek kehidupan kita, termasuk kita percaya pada kekuatan Sains yang dipandu oleh nilai-nilai Tauhid tidak akan bertentangan dengan islam.

Tidak ada permusuhan dalam islam antara ilmu agama dengan ilmu Dunia. Antara ilmu langit dengan ilmu Bumi tidak bertentangan. Kita tidak seperti dunia Kristen , dunia barat di abad pertengahan. Di abad kegelapan, mereka 1000 tahun memusuhi Sains, karena doktrin agama. Temuan Sains dipaksa harus sesuai dengan tafsir tunggal terhadap kitab suci mereka.

Yang dianggap mereka bertentangan dengan Bible akan ditolak dan dipersekusi. Seperti Galileo atau Copernicus yang bilang bumi itu bulat, sementara gereja Kristen meyakini bumi itu datar. Jadi kalau ada orang islam yang ikut-ikutan theori bumi itu datar, itu dari mana? Dari Kristen abad pertengahan. Kita dibodohin.

Ulama dan ilmuwan islam sudah sejak awal mengatakan berdasarkan Al Qur’an bumi itu bulat. Eh sekarang datang propaganda-propaganda Flat Earth lalu diikuti oleh orang islam.
Naudzubillahi min dzalik, dia tidak membaca Al Qur’an, tidak membaca penjelasan ulama.?

Kok bisa seperti ini tingkat keparahan peradaban islam sekarang ini?
Kita latah mengikuti theori-theori Konspirasi. Bumi datarlah, termasuk konspirasi vaksin.

Katanya ada video Netflix dengan Netanyahu yang memperlihatkan suntikan vaksin dengan gambar maket miniatur rudal. Diberi terjemahan salah (hoax) : “Dengan cara inilah kita bunuh orang islam, dengan Rudal dan dengan Vaksin”.

Eh bagaimana ini ? Padahal keterangannya tidak begitu, ada penjelasan resmi Netanyahu dalam bahasa ibrani. Janganlah kita ikut menyebarkan yang begini-begini, sudah tidak mengerti bahasa Ibrani tapi berani menyebarkan. Itu tradisi yang salah.

Yang dibilang oleh Netanyahu itu (laknatullah alaihi) mengatakan :
“Saya bangga dengan vaksin ini “.
Dia memiliki kekuatan seperti kekuatan Rudal. Israel itu dijaga dengan Iron Dome. Dan untuk melindungi rakyat Israel kita vaksinasi.
Wajib vaksin bagi Israel, sudah melampaui standar. Yang paling cepat cakupan vaksinasinya di dunia adalah Israel. Semua jenis vaksin dibolehkan dan digratiskan.

Jangan-jangan yang menyebarkan hoax vaksin ini sengaja untuk umat islam di negara islam tujuannya agar umat menghindari vaksin kemudian akhirnya banyak jatuh kurban. Ini yang konspirasi sebenarnya. Negara-negara maju semua sudah selesai vaksinasi masal. Lalu kita dibombardir informasi-informasi hoax tentang vaksin.

Sangat berbahaya sekali dan ini akan menyebabkan negara-negara berkembang , terutama negara-negara islam akan terus terbelakang. Dan kita kehilangan kesempatan untuk recovery, untuk menghadapi dan memutus mata rantai penularan Covid-19.

Jadi Tauhid Nabi Ibrahim ini harus kita fahami secara komprehensif. Tauhid itu rasional. Tauhid itu sangat dekat dengan kehidupan nyata manusia.


Allah SWT berfirman:

الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِ (78) وَ الَّذِيْ هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِ (79) وَاِ ذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ (80)
وَا لَّذِيْ يُمِيْتُنِيْ ثُمَّ يُحْيِيْنِ (81)


“(yaitu) yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan yang memberi makan dan minum kepadaku; dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali),” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 78-81)

Dan pada ayat berikutnya :

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُخْزِنِيْ يَوْمَ يُبْعَثُوْنَ (87) يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَا لٌ وَّلَا بَنُوْنَ (88) اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ (89)

“dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 87-89)

Hubungan Tauhid yang komprehensif menyentuh banyak hal, yang multi dimensional harus kita hidupkan. Tauhid yang meneguhkan dan Tauhid yang mencerahkan. Bukan hanya soal Ubudiyah, tapi juga dengan hubungan sosial kita, hubungan kita dengan Sains untuk memajukan kehidupan umat manusia.

Karena dalam sejarahnya peradaban manusia, banyak penyakit-penyakit, wabah-wabah. Allah memberikan kesempatan itu kepada kita sudah ditemukan ilmu, bagaimana kita meminimalisir pengaruh daripada wabah virus-virus yang menular.

Kita gunakan Sains itu untuk memberdayakan kehidupan umat islam. Jangan kita anti sains. Mengaku bertauhid tapi sikap kita anti sosial, sikap kita anti terhadap sains itu bukan orang bertauhid yang benar.

Tolong digaris bawahi.
Tauhid islam itu berhubungan erat dengan bagaimana menciptakan kehidupan sosial yang baik dan bagaimana ilmu bumi, ilmu manusia, teknologi-sains yang diciptakan dengan kemampuan manusia itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai Samawi yang diwahyukan kepada Para Nabi dan Rasul.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK






LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here