Fahmi Salim Lc MA

11 Dzulhijjah 1442 / 21 Juli 2021



Pada Iedhul Adha kali ini kita merasakan suatu kondisi yang cukup mencekam. Barangkali banyak diantara kita, kaum muslimin ini dilanda kecemasan atau kepanikan. Rasa khawatir dan rasa takut karena di setiap grup baik itu media sosial bernama Whatsapp ,Telegram atau yang lain-lain. Atau kita mengikuti kanal-kanal berita portal, banyak sekali berita tentang wafatnya orang-orang yang kita kenal. Baik itu public figur ataupun sahabat-sahabat kita, guru-guru kita bahkan ulama-ulama kita yang telah berpulang ke rahmatullah.

Dengan adanya berita duka yang setiap hari kita dapatkan itu menjadi peringatan bagi kita semuanya. Menjadi alarm, warning.
Sebab Rasulullah SAW bersabda,

ﺃَﻛْﺜِﺮُﻭﺍ ﺫِﻛْﺮَ ﻫَﺎﺫِﻡِ ﺍﻟﻠَّﺬَّﺍﺕِ ‏ ﻳَﻌْﻨِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi).

Sehingga Umar bin Khattab r.a juga pernah mengatakan :

كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا

“Cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat.”

Tidak ada penasehat yang lebih berguna, yang lebih bisa memasukkan kata-kata yang menghunjam masuk ke dalam hati melebihi kematian.
Apalagi kalau kematian itu sangat dekat. Barangkali ada di antara kita, baik diri sendiri atau keluarga, atau mertua atau orang tua, atas kehendak Allah SWT terkena sakit dan harus dibawa ke Rumah Sakit.

Kadang-kadang sampai di ruang IGD ngantri, mau masuk ruang ICU juga ngantri. Ngantrinya ada dua kemungkinan yang keluar dari ruang ICU itu sembuh atau wafat.

Ketika sudah masuk, banyak ceritanya
Dalam satu ruangan bisa ada 5, 7 atau mungkin 10 orang. Disitulah seseorang itu sangat merasakan betapa dekatnya kematian. Barangkali ada pasien kiri kanan yang semalam masih ngobrol, besuk paginya salah satunya sudah tidak ada. Sudah dipanggil oleh Allah SWT. Itulah yang disebut dengan : “Kafaa Bil Mauti Wa Idzho” (Cukuplah kematian sebagai penasehat terbaik bagi kita)

Situasi Iedhul Adha kali ini memang lebih erat dibandingkan ketika kita merayakan Iedhul Fithri tahun lalu, 1441 H. Iedhul Fithri tahun lalu itu baru gelombang satu dari Covid-19 ini. Iedhul Adha tahun lalu sudah agak turun, melandai sehingga orang diijinkan untuk melaksanakan sholat Iedhul Adha dengan tetap menjaga protokol kesehatan yang ketat.

Iedhul Fithri tahun ini 1442 H, walaupun agak cemas-cemas juga karena varian delta juga sudah mulai masuk ke negeri kita, karena puncaknya di India sekitar bulan Maret- April ketika kita sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Dan sudah diingatkan oleh para pakar epidemology agar Indonesia berhati-hati jangan sampai varian delta ini masuk. Harus dilakukan pengetatan.

Ada pembatasan sosial, tapi ternyata jebol juga. Setelah Iedhul Fithri, mungkin kita sedang euphoria, banyak yang silaturahim walaupun dilarang pulang kampung. Tetapi masih tetap memaksakan diri untuk pulang kampung. Baru kemudian maa syaa Allah, laa hawla wa laa quwata illa billah. Terjadi ledakan-ledakan kasus yang luar biasa.

Kita mohon kepada Allah SWT perlindungan dan penjagaan. Karena sebaik-baik penjaga adalah Allah SWT :

فَا للّٰهُ خَيْرٌ حٰفِظًا وَّهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ

“Maka Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf 12: Ayat 64)

Sebaik-baik penjaga dan pemelihara kita adalah Allah SWT.

اَنَّ اللّٰهَ مَوْلٰٮكُمْ ۗ نِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

“.. sesungguhnya Allah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 40)

Sebaik-baik pelindung dan penolong adalah Dia, Allah SWT. Sebab banyak meskipun yang terkena infeksi Covid-19 itu adalah orang-orang yang abai terhadap protokol kesehatan. Mungkin karena informasi kurang lengkap sampai kepadanya, atau mungkin karena kejahilannya , mungkin karena dia mengabaikan, dia meremehkan meskipun dia tahu ada Covid-19.

Atau malah ada yang menyangkal adanya Covid – akibatnya kemudian dia terinfeksi. Ada juga tidak sedikit, bahkan kita sering mendengar sanak keluarga, kerabat, teman-teman kita yang sudah menaati protokol kesehatan pun terinfeksi pada akhirnya.

Maka itu kita semua wajib memohon perlindungan dan penjagaan dari Allah SWT. Tidak ada yang menjamin bahwa orang yang sudah menerapkan protokol kesehatan lalu kemudian dia akan baik-baik saja. Ada celah sedikit virus bisa masuk. Itulah takdir Allah SWT. Maka itu kita perbaiki usaha kita, ikhtiar kita. Kita perbaiki hubungan kita dengan Allah SWT dan kita perbaiki pola kehidupan kita.

Jadi ada banyak hikmah diantara musibah yang menimpa umat manusia ini. Kalau kita mengutip kitab yang ditulis oleh Allamah Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al Asqolani, seorang ahli hadits terkemuka yang mensyarah Shahih Bukhori , menulis kitab Fathul Bari. Beliau juga mengalami masa- masa yang sangat kritis di masa beliau hidup.

Tiga puterinya meninggal dunia karena wabah penyakit yang menyebar waktu itu di wilayah Mesir dan Syam. Satu diantaranya sedang hamil dan itu dicatat. Hal itu yang mendorong beliau Imam Hajar Al Asqolani menulis kitab yang berjudul “Badzlu al-Ma’un Fi Fadhli al-Tha’un”. Kitab ini sangat terkenal. Karena ada Covid-19 yang merebak di seluruh dunia pada saat ini, kitab klasik itu yang dulu tidak pernah dilirik, tidak pernah dijamah oleh para pengkaji islam pada akhirnya lalu diterjemahkan dan diterbitkan sebagai bacaan hasanah bagi kaum muslimin.

Betapa kayanya khasanah islam. Sebelum itu Imam Al Allamah Ibnu Al Qayyim Al Jauziah juga sudah menulis Kitab “Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad”. Dalam jilid yang ke-empat ketika membahas tentang bagaimana Tuntunan Rasulullah SAW dalam mencegah dan mengobati wabah penyakit.

Di halaman 30-34 ditulis langkah- langkah yang harus kita lakukan untuk mencegah, melindungi diri kita. Kalau dulu mungkin di zaman Ibnu Al Qayyim Al Jauziah belum dikenal vaksin. Belum ada teknologinya meskipun sudah ada penelitian sejak abad ke 9 Masehi.

Seorang intelek ulama muslim dokter menulis Kitab tentang Mengobati Penyakit Campak, “Al-Judari wal-Hasbah” (Penyakit Campak dan Cacar). Abad ke 9 Masehi sudah ditulis oleh Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi. Dikenal di Barat sebagai Ar Razi.

Khasanah ilmu ini terus berkembang. Ada Ibnu Sina mengembangkan pencegahan-pencegahan penyakit, kemudian sampai ke masa dokter. Baru berkembang yang disebut dengan teknik vaksin itu dulu namanya Inokulasi. Inokulasi cacar itu di abad ke 18. Justru dokter yang pertama mempraktekkannya itu adalah dokter di zaman Turki Utsmani.

Mereka mengobati seorang isteri duta besar Inggris di Istambul, namanya Lady Mary Montagu. Dan ini berhasil.
Dia kena wabah penyakit dan diobati dengan memasukkan materi penyakit ke dalam tubuh pasien itu untuk memicu kekebalan tubuh yang sekarang dikenal dengan Ilmu vaksin yang dibawa ke Eropa dan dikembangkan oleh Edward Jenner tahun 1796. Para dokter pasti hafal betul sejarah itu. Dan itu berasal dari peradaban islam.

Imam Ibnu al Qayyim al Jauziah menuliskan langkah-langkah untuk mencegah , agar kita terhindar dari wabah itu sudah sangat maju sekali.
Seperti yang kita kenal dengan Social Distancing, memakai masker, berfikir positif, menjaga kebersihan, menjaga kesehatan, pola makan, pola kesehatan semua ditulis dalam Kitab “Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khairil Ibad”.

Maka kekayaan daripada khasanah islam ini harus kita jadikan pedoman. Saya pernah menulis di website Suara Muhammadiyah bagaimana kita memiliki ketangguhan untuk menghadapi krisis akibat Covid-19 ini. Saya menyinggung tentang tiga aspek dari Tauhid.

Yang pertama adalah Tauhid Ubudiyah. Kita harus menguatkan hubungan kita dengan Allah SWT, karena kita yakin semua yang terjadi di alam semesta ini, jangankan yang di dunia, semua yang terjadi di alam semesta ini Allah SWT mengetahui.

Allah SWT berfirman:

وَعِنْدَهٗ مَفَا تِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَاۤ اِلَّا هُوَ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ ۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَ رْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَا بِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 59)

Allah SWT mengetahui dimana jatuhnya daun, berapa banyak daun yang berjatuhan itu. Dia mengetahui berapa jumlah butir pasir di lautan. Itu semua ada ilmunya pada sisi Allah SWT.

Maka kalau kita berbicara tentang Tauhid, keEsaan Allah SWT berkaitan dengan kekuasaan Allah. Kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu.

Allah SWT berfirman:

مَاۤ اَصَا بَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ 

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang , kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghabun 64: Ayat 11)

Semua dengan izin Allah. Apakah virus itu adalah murni dari alam, ataukah virus itu adalah hasil rekayasa? Menurut ilmu virology bisa / dimungkinkan mutasi virus. Apakah itu natural ? Ataukah bentuk varian- varian virus itu memang diotak-atik manusia dan kemudian entah bocor atau bagaimana sehingga menyebar ke seluruh dunia ?

Itu semua terjadi dengan izin Allah. Kalau Allah tidak mengizinkan maka tidak terjadi. Semua itu terjadi dengan izin Allah. Semua dengan ilmunya Allah SWT. Maka tugas kita adalah percaya, mengimani kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.


Bagaimana panduan islam ketika terjadi wabah seperti ini?

Bagaimana menyikapi apa yang terjadi di dunia kita ini? Allah SWT menyatakan di dalam Al Qur’an, kalau kita baca ayat-ayat tentang Nabi Ibrahim. Sekarang kita bicara tentang memaknai Hari Raya Iedhul Adha. Iedhul Adha ini erat kaitannya dengan ibadah. Bahkan bukan hanya satu ibadah, tapi ada dua syari’at ibadah, yaitu Kurban dan Haji.

Haji dan Kurban itu erat kaitannya dengan sepak terjang dan keteladanan Nabi Ibrahim a.s dan keluarganya.
Kualitas Nabi Ibrahim a.s banyak disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an. Ada di dalam Surat Al Baqarah tentang Pendidikan Keluarga Ibrahim. Ada di Surat Ali Imran juga tentang Pendidikan Keluarga Ibrahim. Ada sifat-sifat kharakternya Nabi Ibrahim di Surat Hud.

Ada di Surat An Nahl ayat 120-121:

اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَا نَ اُمَّةً قَا نِتًا لِّـلّٰهِ حَنِيْفًا ۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ (120) شَا كِرًا لِّاَنْعُمِهِ ۗ اِجْتَبٰٮهُ وَهَدٰٮهُ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ (121)

“Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan , patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik, dia mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 120-121)

Ada perjuangan Ibrahim ketika dia masih kecil, ketika dia remaja, ketika dia menemukan siapa pencipta alam semesta ini. Digambarkan secara detail di dalam Surat Al An’am pada ayat 80 dan seterusnya.

Kemudian bagaimana Ibrahim remaja itu menentang kondisi kemusyrikan di negerinya sehingga harus berhadapan dengan Namrud dan beliau menghancurkan berhala-berhala yang jadi sesembahan kaum Namrud. Itu diceritakan dalam Surat Al Anbiya.
Dari Babilonia, dari wilayah Irak dari penindasan Namrud, beliau diperintahkan oleh Allah SWT untuk berhijrah ke negeri yang diberkahi ke Baitul Maqdis.

Allah SWT berfirman:

وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَ رْضِ الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ

“Dan Kami selamatkan dia Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 71)

Disitu beliau berkeluarga, menikah dengan Sarah. Beliau tidak punya anak, kemudian beliau menikah lagi yang kedua dengan Hajar, seorang budak perempuan yang berasal dari Mesir.

Hajar ini diabadikan oleh Allah SWT. Usahanya untuk mencari air untuk memberikan minum puteranya : Ismail, lalu kemudian menjadi syari’at dalam melakukan Sa’i pada waktu kita Umrah dan Haji. Kita berjalan dari Shofa ke Marwa, bolak balik tujuh kali menirukan apa yang dilakukan Hajar, seorang budak perempuan.

Dan dalam banyak riwayat , para ulama mengatakan bahwa Hajar itulah yang kemudian dikuburkan di bawah lokasi Hijir Ismail. Tempat berupa setengah lingkaran yang disamping Ka’bah yang itu adalah bagian dari Ka’bah. Tidak boleh ada orang yang thawaf masuk ke dalam Hijir Ismail. Kalau thawaf masuk kesitu tidak sah karena dia bagian dari Ka’bah. Jadi thawaf itu harus mengelilingi di luar Ka’bah.

Subhanallah, jadi ibunda Hajar dimuliakan oleh Allah SWT. Seorang budak perempuan yang dipilih oleh Allah untuk menjadi isteri Nabiyullah Ibrahim a.s, yang merelakan puteranya untuk disembelih oleh Sang Ayah dalam peristiwa ibadah kurban yang direkam oleh Allah SWT dalam Surat As Saffat ayat 100 sampai 111.

Sejarah Nabi Ibrahim untuk menegakkan Tauhid, diantaranya Nabi Ibrahim ini memperkenalkan kepada kita Tauhid yang komprehensif.
Coba kita lihat perkataan atau ucapan Nabi Ibrahim a.s, dalam Surat Asy Syua’ra ayat 78 ketika mendefinisikan siapa Allah Tuhan seluruh alam semesta. Yang menciptakan, yang mengendalikan, yang membina dan yang memberikan rezeki kepada seluruh makhluk :

الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِ 

“yaitu yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku,” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 78)

Itulah Tauhid Rububiyah :
Dialah Allah yang menciptakan aku.
Bukan hanya yang menciptakan manusia tetapi juga memberi petunjuk, memberi rambu-rambu untuk kehidupan manusia.

Allah tidak membiarkan manusia ini hidup sendirian, berfikir sendiri untuk membikin aturan sendiri.
Setelah Allah ciptakan manusia dan alam semesta ini, bumi dan seluruh isinya, Allah juga buat aturan hidup bagi manusia.

Allah tidak meninggalkan manusia sendirian, karena kehidupan manusia ini harus diatur. Kalau tidak, alam dunia ini akan rusak binasa.

Ini Tauhid Rububiyah, Allah sebagai Pencipta dan Allah pemberi petunjuk dan kita harus tunduk patuh pada petunjuk-petunjuk dan rambu-rambu kehidupan yang diciptakan Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَ الَّذِيْ هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِ 

“dan yang memberi makan dan minum kepadaku;” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 79)

Menarik, bahwa Tauhid bukan hanya mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta kita. Tauhid bukan hanya mengakui bahwa Allah satu-satunya yang memberi petunjuk atau hidayah buat kehidupan kita, tapi Tauhid juga berhubungan bahwa Dia yang memberi makan dan minum.

Ini konsep islam, kita bisa hidup, makan dan minum karena diberi Allah SWT.

Dikhabarkan di dalam Surat Al A’raf Allah SWT berfirman:

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَا رَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًا ۙ وَّا لشَّمْسَ وَا لْقَمَرَ وَا لنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍ بِۢاَمْرِهٖ ۗ اَ لَا لَـهُ الْخَـلْقُ وَا لْاَ مْرُ ۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

“Sungguh, Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. Dia ciptakan matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 54)

Rezeki manusia, makanan minumnya dari Allah. Infra struktur buat makanan, minum semua makhluk hidup di dunia ini dan di seluruh alam semesta sudah diciptakan oleh Allah SWT sebelum kita diciptakan.

Dalilnya ada di dalam Surat Hud Allah SWT berfirman:

وَمَا مِنْ دَآ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَ يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Hud 11: Ayat 6)

Dalam Surat Fussilat Allah SWT berfirman:

وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَا سِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبٰرَكَ فِيْهَا وَقَدَّرَ فِيْهَاۤ اَقْوَا تَهَا فِيْۤ اَرْبَعَةِ اَيَّا مٍ ۗ سَوَآءً لِّلسَّآئِلِيْنَ

“Dan Dia ciptakan padanya gunung- gunung yang kukuh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi, dan Dia tentukan makanan-makanan bagi penghuni-nya dalam empat masa, memadai untuk memenuhi kebutuhan mereka yang memerlukannya.” (QS. Fussilat 41: Ayat 10)

Allah sudah menetapkan kadar rezeki seluruh makhluk hidup ini sempurna, tidak akan berkurang sampai hari kiamat mencukupi seluruh makhluk.
“sawaaa-al lis-saaa-iliin” itu dalam empat masa Allah mempersiapkan rezeki manusia dan seluruh makhluk hidup.

Jadi tidak ada istilah busung lapar, tidak ada istilah malnutrisi.
Kalau ada manusia kelaparan lalu mati itu bukan salah Allah. Itu kesalahan manusia yang Tata Kelolanya gagal, yang zalim, yang curang, yang tidak adil.

Sehingga ada orang yang miskin secara struktural. Kalau miskin secara alamiah natural tidak masalah. Tetapi yang namanya miskin secara alamiah itupun tetap bisa makan, karena Allah sudah menjamin rezekinya.

Kemiskinan yang sekarang terjadi itu disebabkan karena kemiskinan struktural karena distribusi yang tidak adil, karena pembangunan yang tidak merata, karena ada korupsi, karena ada yang bocor. Bahkan di tengah bencana musibah Corona saja Bansos diembat juga.

Ini luar biasa gilanya, bukan luar biasa baik. Naudzubillahi dzalik.
Dia memanfaatkan musibah ini untuk memperkaya diri, memperkaya kelompok golongannya. Amit-Amit.
Ini semua yang merusak bukan Allah, tapi Tata Kelola kita manusia yang membuat kesusahan, membuat kerusakan, membuat kemiskinan, membuat orang mati karena busung lapar dan lain-lain.

Maka itu Tauhid itu berkaitan sekali dengan Tata Kelola manusia. Kalau Tata Kelola manusia dalam mengelola bumi ini mengikuti petunjuk-petunjuk Allah maka tidak ada yang namanya manusia mati kelaparan. Tidak ada yang namanya korupsi dilakukan secara massif sehingga merugikan negara. Karena jaminan Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

فَلْيَـعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِيْۤ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ (4)

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (Ka’bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan.” (QS. Quraisy 106: Ayat 3-4)

Allah akan menghilangkan lapar.
Ini Tauhid hubungannya dengan Ketahanan Pangan.
Allah akan membebaskan dari belenggu rasa takut. Kita punya Pertahanan, Keamanan yang kuat kalau kita betul-betul Tauhidnya benar.

BERSAMBUNG BAGIAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here