Dr. Ahmad Hasan Asy’ari Ulamai MAg

29 Dzulqo’dah 1442 / 10 Juli 2021



Berikut ini adalah hadits-hadits yang menguraikan tentang keutamaan amalan di awal 10 hari bulan Dzulhijjah. Termasuk nanti dengan hal -hal yang terkait dengannya.
Ada banyak hadits tentang hal ini, saya hanya sempat mengutip sekitar 17 hadits saja, tapi hampir sama, karena memiliki kemiripan.


Hadits Pertama

Dikutip oleh Imam Abu Dawud al Tayalisi , artinya :

“Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai Allah, amalan yang ada didalamnya itu melebihi dari 10 hari pada bulan Dzulhijjah”. Para Sahabat bertanya : “Tidak pula jihad di jalan Allah SWT?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah SWT, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR Abu Dawud)

Kalimat 10 hari di bulan Dzulhijjah ini nanti di awal, di tengah atau di akhir, akan kita dapatkan di keterangan- keterangan para ulama.
Biasanya Jihad fi sabilillah termasuk yang paling besar pahalanya. Berarti pahala pada 10 hari ini hebat, karena melampaui jihad. Tetapi masih ada pengecualian, bila orang yang berjihad termasuk maju perang, berjuang dengan diri dan apa yang dimiliki , dengan niat murni di jalan Allah itu dan dia tidak pulang, bahasa sederhananya dia mati. Artinya amalan ini sebenarnya masih dibawah jihad, kalau jihadnya sampai mati.

Kalau dalam konteks kehidupan sehari-hari, saat ini juga banyak orang yang berjuang, keluar bekerja, bertugas dengan segenap tenaga. Para nakes misalnya, murni , ikhlas ingin menolong orang, pulang tinggal nama- pahalanya masih lebih tinggi daripada amalan 10 hari awal Dzulhijjah. Tapi kalau dia masih tetap sehat, masih bisa pulang. Pahalanya masih kalah dari amalan 10 hari awal Dzulhijjah.


Hadits Kedua

Hadits ini dikutip oleh Abu Dawud juga tapi dengan redaksi yang sedikit berbeda, artinya :

“Tidak ada amalan dihari-hari yang lebih utama dari 10 hari pada bulan Dzulhijjah”. Para Sahabat bertanya :
“Ya Rasulullah, tidak juga dengan jihad fi sabilillah?”. “Ya, tidak juga dengan jihad fi sabilillah”. “Kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan hartanya di jalan Allah, lalu tidak kembali dengan sedikitpun”.(HR Abu Dawud)

Artinya amalan ini masih lebih tinggi daripada jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang berjihad, dengan hartanya. Disini jelas tidak membatasi perang di jalan Allah dalam arti membawa senjata, tapi perjuangan di jalan Allah yang lainnya lalu meninggal di tengah perjuangannya itu.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh imam Bukhari secara maknawiah, artinya hampir sama maknanya.


Hadits Ketiga

Hadits ini masih sama dan hampir mirip , dikutip oleh Abdur Rozag dalam musnadnya, yang artinya :

“Tidak ada amalan yang lebih utama dari amalan di 10 hari bulan Dzulhijjah”.
Para Sahabat bertanya : “Termasuk jihad fi sabilillah ya Rasul?”. “Termasuk jihad fi sabilillah, sepanjang tidak mati”.(Abdul Rozag)

Hadits ini lebih tegas, tidak ada amalan yang lebih utama di sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Termasuk jihad tapi tidak mati. Artinya kalau jihadnya sampai mati, tetap jihad nilainya lebih tinggi. Karena dia sudah tuntas berjuang dengan nyawa dan hartanya. Tapi kalau yang jihad ini masih bisa pulang, maka pahala amalan 10 hari Dzulhijjah masih lebih baik.

Dalam hadits ini tidak ada batasan apa amalannya. Pokoknya amal. Nanti kita lihat ada beberapa kasus tentang Puasa misalnya di 10 hari.


Hadits Ke empat

Hadits yang berikut dari riwayat Abdul Rozag dalam musnadnya juga yang artinya :

“Tidak ada amalan di hari-hari dalam satu tahun itu yang lebih utama dari amalan di 10 hari bulan Dzulhijjah”.
“Itu adalah bulan-bulan yang Allah sempurnakan bagi Nabi Musa waktu itu”.(Abdul Rozag)

Ini ada kaitannya dengan historis, tetapi hadits yang dengan tambahan redaksi seperti ini ada keterangan tentang hari-hari yang disempurnakan untuk Musa, juga dikutip oleh Imam Ibnu Jarir at Thobari dari beberapa jalur periwayatan.

Bahkan ada tambahan , mulai ada amalan khusus :

“Siapa yang bisa berpuasa diantara hari-hari yang 10 itu (antara tanggal 1 Dzulhijjah sampai hari Arofah), maka berpuasalah”.(Imam Ibnu Jarir)

Jadi puasanya tidak sampai 10 hari, tapi 8 hari, atau 9 hari bagi yang tidak berhaji. Tapi seruan ini sanadnya lemah (dhoif). Imam Ahmad bahkan menyebutnya sebagai Hadits Munkar.
Termasuk hadits-hadits yang tidak ada jalur periwayatan lain.


Hadits Kelima

Hadits ini dengan redaksi yang sedikit berbeda , yang artinya :

“Tidak ada hari-hari yang lebih mulia disisi Allah dan tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah di dalam hari-hari itu yaitu hari yang sepuluh di bulan Dzulhijjah. Maka perbanyaklah di dalam sepuluh hari itu membaca tasbih, tahlil, takbir dan tahmid”.

Hadits ini juga memberikan gambaran tentang amalan di 10 hari itu tidak puasa saja, tetapi kita juga dapat melakukan dzikir.
Sekalipun seruan untuk puasa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir tadi lemah, Hadits ini juga lemah. Namun meskipun hadits ini kita nilai lemah dan tidak dapat dijadikan rujukan, tidak meniadakan keafdholan hari-hari yang sepuluh itu. Tetapi amalan disepuluh hari itu tidak mesti harus puasa atau harus dzikir. Kembali kepada keumuman amalan apapun, kesholehan apapun disepuluh hari.


Hadits ke enam

Di dalam hadits yang lain riwayat Akhbaru Makkata Lilfakihi , tapi haditsnya juga lemah, artinya :

“Tidak ada amalan-amalan di hari-hari yang lebih utama dari 10 hari di bulan Dzulhijjah”. (Akhbaru Makkata Lilfakihi)

Jadi beritanya hampir sama, tapi ada yang diriwayatkan secara shahih seperti yang dikutip Bukhori tadi, tapi juga ada yang diriwayatkan oleh jalur lain yang lemah. Tetapi secara umum kalau kita simpulkan dari beberapa hadits tentang fadhilah 10 hari bulan Dzulhijjah itu haditsnya shahih. Tetapi bentuk amalan 10 hari itu secara khusus, haditsnya banyak yang lemah.

Karena itu tanpa meniadakan fadhilah 10 hari tidak mengharuskan amalan tertentu. Yang penting melakukan kesalehan-kesalehan di dalam 10 hari yang pertama tersebut.


Hadits ke Tujuh.

Hadits ini untuk menguatkan lagi. Walaupun hadits ini dikutip oleh Imam Turmudzi secara ghorib, bahkan ada yang menyebut mursal.

ما من أيام أحب إلى الله أن يتعبد له فيها من عشر ذي الحجة يعدل صيام كل يوم منها بصيام سنة، وقيام كل ليلة منها بقيام ليلة القدر

“Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai Allah untuk melakukan ibadah pada hari itu selain 10 hari di bulan Dzulhijjah, pahala puasa pada setiap harinya senilai dengan pahala puasa sepanjang tahun, dan sholat pada setiap malamnya senilai dengan sholat pada malam Lailatul Qadar” (HR Turmudzi)

Disana hanya diberi contoh puasa setiap harinya pada 10 hari Dzulhijjah itu setara dengan puasa setahun.
Dan sholat malam pada 10 hari itu setara dengan lailatul qodar. Berarti dapat 10 lailatul qodar.

Hanya saja hadits ini Dha’if (lemah), Abu ‘Isa (At Tirmidzi) berkata, “Hadits ini gharib tidak diketahui selain dari hadits Mas’ud bin Washil, dari An Nahas, … (dst)”, bahkan diriwayat lain dikatakan Hadits ini Mursal.

Tetapi disini kita dapat gambaran, para ulama yang memegangi hadits ini, sekalipun dhoif, amalan yang semestinya dilakukan adalah puasa dan sholat malam.
Kita akan melihat hadits-hadits yang lain terkait dengan puasanya.


Hadits ke delapan

Dalam hadits Ibnu abi Syaibah , artinya

“Adalah Muhammad, berpuasa di 10 hari Dzulhijjah, kalau dia sudah lewat dari 10 dan telah melampaui hari-hari tasyrik maka dia berbuka sembilan hari seperti halnya saat ia puasa”.(Ibnu Abi Syaibah).

Ini redaksinya “kana Muhammad”, padahal jarang sekali Nabi Muhammad
disebut dengan kalimat seperti itu. Atau mungkin ini sahabat yang bernama Muhammad (?).

Di dalam tambahannya hadits itu dalam riwayat lain dikatakan Rasullah SAW berpuasa 9 hari di bulan Dzulhijjah , berpuasa di hari Asyura dan punya kebiasaan berpuasa tiga hari di setiap bulan.

Keterangannya tiga hari itu adalah Senin awal bulan dan Kamis di pekan ke dua dan ketiga. Jadi artinya Puasa Nabi tidak puasa setiap Senin – Kamis. Tapi Senin di awal bulan kemudian diikuti dengan dua Kamis berikutnya. Itulah tiga hari setiap bulannya.

Ini adalah perspektif lain dari yang sering kita baca atau kita amalkan, yaitu setiap Senin Kamis, Senin Kamis.
Sekalipun kita sebenarnya juga tidak mendapatkan informasi yang tegas Puasa setiap Senin Kamis, Senin Kamis.

Yang ada hanya pertanyaan kenapa Nabi berpuasa pada hari Senin ?

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

Nabi ditanya tentang puasa pada hari Senin, maka beliau bersabda, “Itu adalah hari kelahiranku dan pada hari itu wahyu diturunkan kepadaku.” (HR. Muslim)

Jadi hari itu hari monumental, dimana Nabi dilahirkan dan Nabi diutus sebagai seorang Nabi atau menerima wahyu pertama.


Hadits ke Sembilan

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang lebih shahih dari pada hadits-hadits sebelumnya.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا فِي الْعَشْرِ قَطُّ

Diriwayatkan dari ‘Aisyah, bahwa ia berkata: Saya tidak pernah melihat Rasulullah saw puasa pada sepuluh hari (pertama bulan Zulhijjah). (HR Muslim)

Di dalam syarahnya Imam An-Nawawi menyatakan ada semacam kesangsian para ulama, kenapa Nabi tidak melakukan berpuasa yang sepuluh hari. ( yang dimaksud disini adalah hari-hari ke 1 sampai 9 dari awal Dzulhijjah).

Keanehan itu (10 hari tapi menyebutnya 9 – karena hari ke 10 adalah hari Nahar) disangkal sendiri oleh Para ulama, tampaknya 10 hari ini yang dimaksud bukan awal Dzulhijjah tapi mesti yang lain.

Kalau gambaran Aisyah r.anha dikatakan Nabi tidak pernah puasa, kesannya hari itu tidak disukai oleh Nabi. Atau ada ulama yang mengatakan Makruh.

Padahal puasa yang 10 hari bulan Dzulhijjah itu sangat disunahkan, terutama yang tanggal 9 Dzulhijjah, karena itu Puasa Hari Arofah yang disunahkan bagi yang tidak naik Haji.
Jadi tidak mungkin hadits di atas menjelaskan 10 hari bulan Dzulhijjah.


Hadits ke Sepuluh

Hadits ini sedang hangat, terkait dengan mereka yang mau kurban untuk tidak melakukan potong kuku mulai dari awal Dzulhijjah sampai hari Nahar.

“Siapa yang bermaksud menyembelih atau berkurban, maka jangan potong kukunya, jangan pula memotong sedikitpun dari rambutnya di 10 hari awal Dzulhijjah”. (HR Ahmad)

Kita lihat para ulama menyatakan bahwa larangan ini tidak berdampak sampai pada hukum haram. Tetapi sifatnya lebih ke makruh. Dan kenyataan ada hadits lain yang dapat menjadi tambahan alat penyanggah.


Hadits ke Sebelas

Hadits dari Imam Muslim,

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

“Barangsiapa yang memiliki ternak yang hendak disembelih sebagai kurban, jika telah masuk hilal Dzulhijah (masuknya tanggal satu Dzul Hijah), maka sekali-kali janganlah ia mencukur rambut (bulunya) dan memotong kukunya sedikitpun, sehingga ia menyembelihnya”. (HR Muslim).

Stressingnya bukan pada orangnya, tapi lebih ke arah binatangnya, karena yang akan disembelih.
Dari hadits ini ada ulama yang berpendapat bahwa yang tidak boleh dipotong kuku dan rambutnya itu adalah binatang yang akan dikurbankan. Sementara pada hadits sebelumnya memiliki kesan yang tak boleh potong kuku dan rambut adalah orang yang akan kurban.


Hadits ke Dua belas

Dalam hadits riwayat Ibnu Majah

إذا دخل العشر من ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره ولا بشره شيئا حتى يضحي

Artinya: “Apabila sepuluh hari pertama Dzulhijjah telah masuk dan seorang di antara kamu hendak berqurban, maka janganlah menyentuh rambut dan kulit sedikitpun, sampai selesai berkurban,” (HR Ibnu Majah)

Di hadits ini tekanannya kepada orangnya yang mau kurban.
Kalau sudah tahu masuk bulan Dzulhijjah, jangan mengusik rambut dan kuku. Tetapi kalau tidak tahu telah masuk bulan Dzulhijjah , tidak mengapa.


Hadits ke Tiga belas

Hadits dari Imam Ad Darini

“Siapa yang bermaksud kurban maka jangan potong kukunya, juga jangan memotong rambut sedikitpun di sepuluh awal Dzulhijjah”.(Ad Darini)

Rawi yang meriwayatkan lemah, tapi ada keterangan ini hadits shahih.
Kadang orang bingung, karena beritanya sudah banyak orang yang meriwayatkan dengan jalur yang shahih. Sementara Imam Ad Darini mendapatkan hadits yang sama dari jalur yang lemah (dhoif). Jadi hadits Imam Ad Darini ini sebenarnya dhoif tapi muatannya Shahih. Begitu ruwetnya menjelaskan tentang status hadits.


Hadits ke Empat belas

Hadits dari Imam Turmudzi

“Siapa yang melihat hilal Dzulhijjah (dia tahu tanggal 1 Dzulhijjah) dan punya niat kurban, maka jangan sedikitpun mengambil rambut maupun kukunya”.(HR Turmudzi)

Ada tambahan keterangan dibawahnya oleh Imam Turmudzi
“Sebagian ulama secara umum berpandangan pokoknya sudah masuk 10 hari pertama Dzulhijjah mereka sepakat untuk tidak mengambil rambut maupun kuku, tetapi sebagiannya lagi membolehkan, tidak ada masalah”.

Pendapat Imam Syafi’i :
Nabi memberikan bimbingan haji selama di Madinah, jangan meninggalkan sesuatupun sebagaimana saat orang meninggalkan saat berihram.
Bahasa lainnya ini mempertegas bahwa saat itu orang-orang yang kurban, awalnya memang orang yang berhaji. Maka mereka memang diminta tidak potong kuku dan rambut.

Sementara bagi kalangan umum tidak ada masalah. Dasarnya Aisyah memberikan isyarat :
“Kamu jangan melarang-larang sebagaimana larangan yang terjadi pada saat orang berihram”.
Ini yang menjadi dasar bagi pandangan Imam Syafi’i tentang tidak masalah sekiranya jika mau potong rambut dan kuku.

Ini perspektif lain supaya orang tidak terlalu bingung atau kaku di dalam memahami itu.


Hadits ke Lima belas

Dalam sunan Al Kubra,
“Nabi berpuasa 9 hari di bulan Dzulhijjah”

Dalam hadits ini jelas puasanya adalah 9 hari, tidak 10 hari.


Hadits ke Enam Belas

Hadits yang ada hubungannya dengan potong rambut.

Kata Abdullah bin Amr, Nabi telah menyerukan,
“Hari Ied adalah hari pesta, yang Allah SWT jadikan untuk umat islam saat itu, bahwa Iedhul Adha adalah pesta sembelihan”.
Lalu ada orang yang bertanya :
“Apa pandanganmu jika ini memang sunah untuk kurban, bagaimana jika aku tidak mendapati hewan kurban kecuali hewan betina.? Apakah aku boleh menyembelihnya?”
Abdullah bin Amr menjawab:
“Jangan, tetapi cukup kamu potong rambut dan kukumu, maka itulah kesempurnaan kurbanmu di sisi Allah”.

Dalam penjelasan syarah :
Umumnya yang dikurbankan adalah hewan yang jantan. Disini ada penekanan bahwa dia mendapatkan hanya tinggal hewan betina yang masih produktif dan diharapkan masih dapat berkembang biak.

Hadits di atas menjadi jelas kenapa kita dilarang memotong kuku dan rambut. Jika rambut sudah dicukur di tanggal 8 Dzulhijjah misalnya, maka tidak ada yang dicukur lagi.

Padahal bila tidak mendapat hewan kurban setelah dia berniat kurban. Karena tak ada yang disembelih, maka memotong kuku dan rambut pada hari Ied itu adalah suatu ibadah. Itu menjadi kesempurnaan kurban.

Saya menangkap semangat hadits ini, sama dengan situasi pada saat pandemi seperti ini apa kita masih perlu menyembelih semua kurban? Sementara kebutuhan lain masih ada.
Jadi tidak perlu menyembelih. Jika kamu sudah niat, bisa saja dialihkan pada yang lebih penting. Itu sudah merupakan kesempurnaan kurbanmu pada tahun ini.


Hadits ke Tujuh belas

Ada seorang perempuan bertanya kepada Aisyah tentang daging kurban.
Aisyah berkata :
“Suatu saat Ali datang dari sebuah perjalanan. Dia diberi sajian daging kurban yang sudah agak lama”
Lalu Ali bertanya kepada Rasulullah, karena dia sangsi mau makan daging kurban tahun lalu, padahal Nabi pernah mengatakan tidak boleh menyimpan daging kurban lebih dari 3 hari. Jawaban Rasul :” Makanlah daging dari Dzulhijjah yang lalu ke Dzulhijjah ini”.

Sebenarnya dulu sudah dijelaskan Rasulullah , dulu tidak boleh karena dulu musim paceklik. Disaat krisis kalau masih ada yang menyimpan daging itu aneh, egois. Karena itu Rasulullah melarang menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari.
Tapi setelah tidak ada paceklik, maka daging boleh disimpan lama dengan dijadikan dendeng.

Bahkan sekarang Muhammadiyah mengusung RendangMU, yaitu mengolah daging kurban jadi rendang dalam kaleng yang bisa disimpan 1 sampai 2 tahun dalam kemasan yang higienis. Cara menyembelihnya syar’i lalu dibagi-bagikan kepada orang yang jauh lebih membutuhkan.

Lebih-lebih di saat isoman, atau di daerah bencana, akan sangat mudah karena kalengan. Kemarin sudah dibuktikan RendangMu dimanfaatkan di daerah yang terkena bencana.
Dasarnya adalah hadits di atas.

Itulah beberapa hadits tentang 10 hari awal Dzulhijjah.
– apa yang harus diamalkan oleh seorang muslim?
– intinya ada fadhilah di 10 hari awal Dzulhijjah. Tentang amalnya apa, tidak ada yang mengikat.
– Maka mari kita lakukan apapun bentuk kesholehannya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK









LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here