Dr. Zuhad Masduki MA

21 Syawal 1442 / 2 Juni 2021



Al Ghosyiyah adalah nama dari hari Kiamat. Hari Kiamat itu namanya banyak, Al Ghosyiyah adalah salah satunya. Kenapa Al Ghosyiyah artinya menjadi Hari Kiamat?
Kata-kata dalam Al Qur’an dapat difahami maknanya dengan pendekatan semantik. Semantik adalah melihat dari dua sisi. Pertama makna dasar dari kata dan yang kedua makna relasionalnya.

Dari makna dasarnya kata Al Ghosyiyah artinya ‘menutup secara mantab’. Makna relasionalnya adalah peristiwa hari Kiamat yang mengakibatkan tertutupnya akal dan kesadaran manusia akibat rasa takut yang sangat mencekam.

Ini digambarkan di dalam Surat Al Hajj ayat 1 dan 2 :

يٰۤـاَيُّهَا النَّا سُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۚ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّا عَةِ شَيْءٌ عَظِيْمٌ (1) يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّاۤ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَا تِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّا سَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰـكِنَّ عَذَا بَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar. Ingatlah pada hari ketika kamu melihatnya (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.” (QS. Al-Hajj 22: Ayat 1-2)

Dari sini Al Ghosyiyah dimaknai hari Kiamat. Peristiwa yang sangat mencekam dan mengakibatkan tertutupnya akal manusia.

Surat Al Ghosyiyah ini intinya nanti setelah kiamat manusia terbagi dua. Yang satu masuk Surga dan yang satu masuk Neraka.


هَلْ اَتٰٮكَ حَدِيْثُ الْغَا شِيَةِ 

hal ataaka hadiisul-ghoosyiyah

“Sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari Kiamat ?” (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 1)

Kata ‘hal’ bukan pertanyaan untuk minta informasi, karena Allah yang bertanya kepada kita. Ini sifatnya adalah untuk memantabkan bahwa Kiamat beritanya sudah sampai kepada kita semua.

Rasulullah SAW kalau mendengar ada sahabatnya yang membaca Surat Al Ghosyiyah beliau berhenti dan mendengarkan bacaannya itu. Bahkan diriwayatkan beliau menjawab : “Ya, beritanya sudah sampai kepada kita”.

Allah SWT berfirman:

وُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ خَا شِعَةٌ 

wujuuhuy yauma-izin khoosyi’ah

“Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk terhina,” (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 2)

Istilah wajah ini dimaksudkan adalah totalitas manusia itu sendiri. Istilahnya kalau dalam bahasan ushul fiqih “menyebut sebagian tetapi untuk menunjuk keseluruhannya”.

Pada hari kiamat itu banyak wajah manusia yang tunduk terhina, karena sangat takut dengan hari Kiamat dan sangat takut akibat dari kedurhakaan yang mereka lakukan.

Allah SWT berfirman:

عَا مِلَةٌ نَّا صِبَةٌ 

‘aamilatun naashibah

” bekerja keras lagi kepayahan,” (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 3)

Ini difahami oleh para ulama dari banyak sisi.

Ada yang memahami bekerja keras di dunia dan kepayahan di Akhirat nanti, karena ini dihadapkan dengan ayat lanjutannya. “lisa’yihaa roodhiyah” -(merasa senang karena usahanya) untuk penghuni Surga.

Nanti orang calon penghuni Neraka, mereka sudah bekerja keras untuk meraih kebahagiaan dan mencapai apa yang diinginkan tetapi amal-amal perbuatan penghuni Neraka itu menjadi sia-sia, tidak bermanfaat untuk mereka sedikitpun.

Ini sesuai dengan yang diinformasikan Allah dalam Surat Al Furqan ayat 23 :
“Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.”

Dalam surat lain disebut amal-amal mereka tidak ditimbang

Allah SWT berfirman:

فَحَبِطَتْ اَعْمَا لُهُمْ فَلَا نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَزْنًـا

“Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap amal mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 105)

Karena tidak sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Kriteria diterimanya amal disisi Allah adalah :
– Pelakunya orang mukmin yang benar sesuai tuntunan Allah.
– Amal yang dilakukan kategorinya baik dan benar menurut tuntunan agama, bukan menurut subyektifitas manusianya.
– Motivasi melakukannya semata-mata karena Allah.

Makna yang lain dari ‘aamilatun naashibah (bekerja keras) adalah menunjuk kepada sekelompok manusia yang dalam kehidupan dunia melakukan kegiatan yang menjadikan badan mereka capai, tetapi tidak sesuai dengan tuntunan ajaran islam. Mereka nanti akan masuk ke dalam neraka dalam keadaan payah.

Seorang ulama, Ibrahim al Biqa’i memberi contoh : Sebagian penganut agama, dia menyebut kaum sufi yang melakukan praktek-praktek atas nama agama tetapi Allah tidak merestuinya.
Dalam tafsir Al Manar, kaum sufi itu dalam berdzikir sambil menari-nari putar-putar sampai terjatuh pingsan, ini tidak sesuai dengan tuntunan agama.

Ada lagi penulis tafsir yang mengatakan bahwa amal-amal itu tidak terbatas pada kegiatan yang dinilai bersifat keagamaan. Tetapi bisa juga dalam aneka kegiatan duniawi yang dibolehkan oleh agama. Seperti kegiatan ekonomi. Tetapi yang bersangkutan lengah dari kewajiban agamanya.

Ini sekarang banyak, orang-orang yang istilahnya “maniac kerja” , bekerja dari pagi sampai malam. Mereka tergila-gila dengan pekerjaannya , sehingga melupakan segala sesuatu. Bahkan boleh jadi melupakan kewajibannya terhadap keluarga.
Mereka itu sudah bekerja keras di dunia, tetapi karena tidak sesuai dengan tuntunan agama sehingga amal-amal mereka tidak diperhitungkan di akhirat.

Allah SWT berfirman:

تَصْلٰى نَا رًا حَا مِيَةً (4) تُسْقٰى مِنْ عَيْنٍ اٰنِيَةٍ (5)
لَـيْسَ لَهُمْ طَعَا مٌ اِلَّا مِنْ ضَرِيْعٍ (6) لَّا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِيْ مِنْ جُوْعٍ (7)

tashlaa naaron haamiyah
tusqoo min ‘ainin aaniyah
laisa lahum tho’aamun illaa ming dhorii’
laa yusminu wa laa yughnii ming juu’

“mereka memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas.
Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar.” (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 4-7)

Ayat 4 sampai ayat 7 berbicara calon penghuni Neraka dan bagaimana bentuk siksaan dalam neraka itu.
Minumnya dari sumber yang panas kalau diminum tidak menghilangkan haus. Salah satu makanan penghuni Neraka adalah pohon dhorii. Pohon dhorii konon kalau masih basah, unta mau memakannya, tetapi kalau sudah kering unta tidak mau memakannya karena menjadi sumber racun dan bisa mematikan.

Ini adalah gambaran siksa yang akan didapat oleh penghuni-penghuni neraka. Hakekatnya seperti apa tentu kita tidak tahu. Ini kita yakini saja, bahwa penghuni Neraka nanti akan disiksa dengan berbagai siksaan yang telah disiapkan oleh Allah SWT.

Di dalam Al Qur’an ada penggambaran- penggambaran yang mendekatkan sesuatu yang abstrak / Meta fisika dengan sesuatu yang kongkrit, sehingga paling tidak bisa difahami oleh mitra bicaranya, yaitu manusia.

Menurut ungkapan salah satu penulis tafsir, Al Qur’an itu menakut-nakuti manusia. Yang ditakuti adalah orang yang punya mental budak. Mental budak itu supaya mereka taat, supaya mereka mau melaksanakan perintah, mereka ditakut-takuti. Kalau tidak melaksanakan mereka akan mendapatkan hukuman-hukuman dari Allah SWT.

Lawannya adalah orang-orang yang bermental Pedagang. Untuk mau melakukan amal-amal perbuatan, maka kepada mereka diiming-imingi sesuatu yang menyenangkan, seperti Surga, bonus yang sangat luar biasa. Kalau kita masuk kelompok ini juga tidak salah karena dalam Al Qur’an memang ada “iming-iming” seperti itu.

Kelompok yang ketiga yang paling baik, yaitu orang- orang yang betul-betul ikhlas lillahi ta’ala di dalam melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan- larangan dari Allah SWT.

Ayat 8 sampai 16 berbicara tentang penghuni Surga.

Allah SWT berfirman:

وُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ نَّا عِمَةٌ (8) لِّسَعْيِهَا رَا ضِيَةٌ (9)

wujuuhuy yauma-izin naa’imah
lisa’yihaa roodhiyah

“Pada hari itu banyak wajah yang berseri-seri, merasa senang karena usahanya (sendiri),” (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 8-9)

Mereka ridha, lega, puas karena amal perbuatannya di dunia dalam rangka taat kepada Allah SWT diberi ganjaran Surga. Kenikmatan surgawi itu tidak sebanding dengan amal perbuatan manusia di dunia.

Rasulullah SAW bersabda,
“Amal seseorang tidak akan membuatnya masuk surga.”
Para sahabat bertanya, “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Al-Bukhari Muslim).

Dari hadits ini ulama membuat statemen orang masuk Surga itu lebih karena rahmat Allah, bukan semata- mata karena amal. Karena balasan Surga tidak sebanding dengan amal yang dilakukan. Baik dari sisi kuantitasnya maupun dari sisi lamanya dia melakukan amal-amal kebajikan tadi.

Dalam ayat lain disebutkan :

ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً 

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 28)

Rodhiyatan dari sisi manusianya.
Mardhiyah itu dari sisi Allah SWT karena dia melaksanakan Perintahnya dan menjauhi larangannya.

Allah SWT berfirman:

لِّسَعْيِهَا رَا ضِيَةٌ (9) فِيْ جَنَّةٍ عَا لِيَةٍ (10) لَّا تَسْمَعُ فِيْهَا لَا غِيَةً (11)

lisa’yihaa roodhiyah
fii jannatin ‘aaliyah
laa tasma’u fiihaa laaghiyah

“merasa senang karena usahanya (sendiri), dalam surga yang tinggi, di sana tidak mendengar perkataan yang tidak berguna.” (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 9-11)

Posisi Surga itu tinggi, kedudukan atau kualitasnya. Penduduk Surga itu ungkapannya semua ungkapan Salam, ungkapan yang menunjuk pada kedamaian.

Kata Surga di riwayat yang lain bisa dimaknai kehidupan Surgawi.

Allah SWT berfirman:

وَسَا رِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَا لْاَ رْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ 

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 133)

Kata jannah karena indikatornya menunjukkan kehidupan dunia sekarang, maka bisa dibawa maknanya pada metaforis, kehidupan Surgawi, kehidupan di dunia tetapi situasinya seperti kehidupan di Surga. Salah satu indikatornya “laa tasma’u fiihaa laaghiyah” (di sana tidak mendengar perkataan yang tidak berguna).

Hal itu bisa kita ciptakan kalau interaksi sosial bagus, harmonis maka ungkapan diantara kita mesti ungkapan baik yang tidak menyakiti hati. Pasti lemah lembut, menyenangkan dan penuh kedamaian. Tidak ada umpatan-umpatan.

Allah SWT berfirman:

فِيْهَا عَيْنٌ جَا رِيَةٌ (12) فِيْهَا سُرُرٌ مَّرْفُوْعَةٌ (13) وَّاَكْوَا بٌ مَّوْضُوْعَةٌ (14) وَّنَمَا رِقُ مَصْفُوْفَةٌ (15)
وَّزَرَا بِيُّ مَبْثُوْثَةٌ (16)

fiihaa ‘ainung jaariyah
fiihaa sururum marfuu’ah
wa akwaabum maudhuu’ah
wa namaariqu mashfuufah
wa zaroobiyyu mabsuusah

“Di sana ada mata air yang mengalir.
Di sana ada dipan-dipan yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang tersedia, dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani- permadani yang terhampar.” (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 12-16)

Konon kata zaroobiyyu dari kata Azzerbaijan. Karena Azzerbaijan itu negara yang dari dulu menghasilkan permadani-permadani yang halus dan mahal.

Sampai ayat ke 16 ini adalah deskripsi kenikmatan Surgawi yang nanti akan dinikmati oleh orang-orang yang masuk ke dalam Surga. Ini sifatnya gambaran yang diberikan pada manusia menyangkut nikmatnya Surga. Sangat nikmat sekali, apalagi bagi orang-orang Arab.
Hakekat sebenarnya seperti apa, kita juga tidak mengetahui. Karena yang namanya Surga itu belum pernah ada mata yang melihat di dunia.

Rasulullah SAW bersabda,

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Allah azza wa jalla berfirman, ‘Aku telah menyediakan bagi hamba- hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah pula terbetik dalam kalbu manusia’.” (HR Bukhori Muslim)

Ayat ke 17 sampai ke 20 berbicara tentang Tauhid.KeEsaan Allah meliputi tiga hal : KeEsaan Dzat, KeEsaan Sifat, KeEsaan Perbuatan.

Ayat-ayat ini berbicara tentang Tauhid sisi ketiga, Allah itu Esa Perbuatannya atau biasa disebut dengan Tauhid Rubbubiyah, kaitannya dengan Allah mencipta, memberi rezeki, memberi fasilitas, memberi ganjaran, memberi siksa dan lainnya.

Semua yang di alam semesta itu hasil perbuatan Allah. Allah menciptakan segala sesuatu melalui Sistem yang telah ditetapkan olehNya.

Ayat ini mitra bicaranya adalah orang- orang yang tidak mengakui KeEsaan Allah SWT. Kalau ayat ini direnungkan oleh manusia maka pasti akan mengantar kepada keyakinan bahwa apa yang ada di alam semesta itu ada yang menciptakan dan yang menciptakan itu Allah SWT. Orang akan mengakui KeEsaan Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِ بِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ 

a fa laa yangzhuruuna ilal-ibili kaifa khuliqot

“Maka tidaklah mereka memerhatikan unta, bagaimana diciptakan?” (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 17)

Menurut Para Mufasir, disini unta disebut karena konteksnya Arabia. Di Arabia unta itu adalah binatang yang sangat familiar dengan mereka. Dipakai sebagai alat transportasi, juga ini kekayaan Bangsa Arab yang sangat utama dan Unta itu juga bagian dari makanan mereka. Maka unta yang disebut disini.

Kalau dalam tafsir-tafsir modern dijelaskan kehebatan penciptaan unta itu. Unta itu binatang yang tubuhnya sangat aneh dibanding binatang- binatang yang lain, sangat besar. Walaupun binatang ini sangat besar tapi dia binatang yang sangat tunduk kepada tuannya, walaupun tuannya anak kecil. Kalau diperintah dia pasti mengikuti instruksi tuannya.

Struktur tubuhnya unta itu luar biasa. Kemampuan kerjanya unta itu juga luar biasa, kekuatannya mengarungi Padang pasir juga luar biasa. Kakinya juga tidak sama dengan kaki binatang- binatang yang lain. Kaki unta itu bagian bawahnya ibarat bantal, lunak. Sehingga dia kalau menapak di Padang pasir tidak ambles, tidak seperti kaki kuda. Kuda kalau di Padang pasir tentu akan kesulitan kalau berlari.

Jadi banyak kecanggihan dan kehebatan unta, maka dari itu manusia diperintahkan memperhatikan unta. Dengan itu mereka akan sampai pada kesimpulan bahwa Pencipta Unta ini adalah Dzat yang Maha Kuasa.

Allah SWT berfirman:

وَاِ لَى السَّمَآءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَاِ لَى الْجِبَا لِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَاِ لَى الْاَ رْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)

wa ilas-samaaa-i kaifa rufi’at
wa ilal-jibaali kaifa nushibat
wa ilal-ardhi kaifa suthihat

“Dan langit, bagaimana ditinggikan?
Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan? Dan bumi bagaimana dihamparkan?” (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 18-20)

Langit yang tinggi tanpa ada tiang penyangganya! Sangat luar biasa.
Kalau dari penjelasan ahli-ahli geology mereka sudah bisa menjelaskan bagaimana proses penciptaan ini semua. Penciptaan gunung, penciptaan bumi, bagaimana dia dihamparkan oleh Allah SWT.

Dalam tulisan Prof. Dr. Zaghlul an-Najjar , ahli geology Mesir menjelaskan tentang bagaimana bumi dihamparkan. Padahal secara ilmiah
Bumi itu bentuknya bulat atau lonjong. Ini tidak bertentangan dengan realitas ilmiah. Karena bumi ukurannya sangat besar maka kita melihatnya seolah- olah bumi itu datar, karena begitu luasnya bumi.

Kalau contoh ini betul-betul difikirkan oleh manusia maka akan mengantarkan pada Tauhid, kepercayaan bahwa ada penciptanya. Dan penciptanya adalah Allah SWT, Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Allah SWT berfirman:

فَذَكِّرْ ۗ اِنَّمَاۤ اَنْتَ مُذَكِّرٌ 

fa zakkir, innamaaa angta muzakkir

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan,” (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 21)

Nabi Muhammad SAW diingatkan lewat ayat ini, supaya beliau memberi peringatan kepada bangsa Arab yang waktu itu menjadi sasaran dakwahnya. Diperingatkan tentang kedurhakaan mereka. Kalau mereka tidak menerima ajaran-ajaran Allah SWT nanti seperti apa, dan bila menerima nanti seperti apa. Nabi Muhammad hanya sebatas sebagai pemberi peringatan.

Allah SWT berfirman:

لَـسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ 

lasta ‘alaihim bimushoithir

“engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,” (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 22)

Ayat ini sejalan dengan Surat Al Baqarah 256 :

لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ ۗ 

“Tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 256)

Makanya ketika kita berdakwah itu kita memberi pencerahan kepada sasaran dakwah. Kalau informasi kita bisa diterima, lalu direnungkan, barulah mereka memutuskan, diterima atau tidak diterima.

Tetapi kalau orang sudah masuk dalam agama, maka dia terikat oleh tuntunan-tuntunan agama yang ada di dalamnya. Tetapi untuk masuk, kita tidak boleh memaksa kepada manusia.

Allah SWT berfirman:

اِلَّا مَنْ تَوَلّٰى وَكَفَرَ (23)فَيُعَذِّبُهُ اللّٰهُ الْعَذَا بَ الْاَ كْبَرَ (24)


illaa mang tawallaa wa kafar
fa yu’azzibuhullohul-‘azaabal-akbar

“kecuali orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar.” (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 24)

Karena masuk agama tidak ada paksaan, dalam ayat yang lain Allah berfirman :

فَمَنْ شَآءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ 

“barang siapa menghendaki beriman hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki kafir biarlah dia kafir.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 29)

Tetapi dampak dari pilihan itu sudah dijelaskan Allah SWT. Kalau beriman dampaknya masuk Surga dan kalau Kafir dampaknya masuk Neraka.
Allah sudah memberi kebebasan kepada manusia, karena manusia adalah makhluk yang diberi kebebasan untuk memilih, antara taat atau tidak taat.

Ketaatan manusia itu disebut ketaatan ikhtiari, ketaatan berdasarkan pilihan bebas. Kalau selain manusia, hewan-hewan, benda-benda, tumbuh- tumbuhan ketaatannya memang sudah taken for granted, ditetapkan oleh Allah seperti itu. Mereka tidak bisa keluar dari setting yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اِلَيْنَاۤ اِيَا بَهُمْ (25) ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا حِسَا بَهُمْ (26)

inna ilainaaa iyaabahum
summa inna ‘alainaa hisaabahum

“Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya Kamilah membuat perhitungan atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 25-26)

Semua orang akan kembali kepada Allah SWT. Yang mukmin maupun yang kafir semua akan kembali kepada Allah SWT.

Kita bekerja keras, sungguh-sungguh, nanti kita pasti akan menemui Allah SWT. Semua harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah dilakukan di bumi. Allah yang akan menentukan kita ke Surga atau ke Neraka.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here