Dr. Zuhad Masduki MAg

5 Dzulqo’dah 1442 / 16 Juni 2021



Di Surat TaHa ayat 114, Allah juga menegur Nabi agar tidak terburu-buru :

فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَـقُّ ۚ وَلَا تَعْجَلْ بِا لْقُرْاٰ نِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰۤى اِلَيْكَ وَحْيُهٗ ۖ وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

“Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau Muhammad tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 114)

Kata-kata “illaa maa syaaa-alloh”, menurut para mufasir adalah sebagai penguat bahwa apa yang sudah diturunkan kepada Nabi tidak akan dilupakan. Kalau Allah menghendaki tentu bisa, tetapi Allah SWT tidak menghendaki.

“innahuu ya’lamul-jahro wa maa yakhfaa”. Allah mengetahui yang nyata dan apa yang tersembunyi.
Makna dari ayat ini Allah mengetahui yang nyata dan tersembunyi, termasuk keadaanmu wahai Nabi Muhammad, yang tampak maupun yang di dalam batin. Allah tahu bahwa Nabi ingin segera menghafal ayat-ayat Al Qur’an yang diwahyukan.


Tafsir Ayat kedelapan dan kesembilan :

وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرٰى (8) فَذَكِّرْ اِنْ نَّفَعَتِ الذِّكْرٰى (9)

wa nuyassiruka lil-yusroo
fa zakkir in nafa’atiz-zikroo

“Dan Kami akan memudahkan bagimu ke jalan kemudahan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat , oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat,”
(QS. Al-A’la 87: Ayat 8-9)

Nabi dimudahkan memperoleh kemudahan. Di dalam Al Qur’an ada penjelasan beberapa anugerah khusus yang diberikan oleh Allah kepada beliau :

1. Allah menganugerahi kemudahan memperoleh kemudahan.

Allah SWT berfirman:

اَلَمْ نَشْرَحْ لَـكَ صَدْرَكَ 

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?,” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 1)

Kalau kita bandingkan dengan Nabi- Nabi yang lain, Nabi Muhammad SAW tidak memohon tapi sudah diberi oleh Allah SWT.

Misalnya Nabi Musa a.s harus berdo’a dulu kepada Allah :

قَا لَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ (25) وَيَسِّرْ لِيْۤ اَمْرِيْ (26) وَا حْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَا نِیْ (27) يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ (28)

“Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,
agar mereka mengerti perkataanku- (QS. Ta-Ha 20: Ayat 25-28)

Berdo’a bisa dikabulkan bisa tidak. Nabi Muhammad SAW tanpa berdo’a langsung sudah diberi oleh Allah SWT. Sudah dilapangkan dadanya. Ini adalah anugerah khusus yang diberikan kepada beliau.

Memberi kemudahan maksudnya Allah memberi Taufik sehingga memperoleh kemudahan dalam melaksanakan tugas-tugas. Karena itu Nabi Muhammad harus memberi peringatan kepada umatnya.

2. Allah menganugerahi kasih sayang dan kelemah- lembutan.

Allah SWT berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ 

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 159)

Ayat ini menggambarkan bahwa kasih sayang dan kelemah-lembutan yang menghiasai diri pribadi Nabi Muhammad SAW merupakan anugerah Allah juga kepada beliau. Dan anugerah ini menjadi salah satu faktor suksesnya dakwah islamiah yang diemban Rasulullah SAW, sehingga sampai akhir hayat beliau dakwah itu sudah betul-betul sempurna.
Ini juga sebagian dari wujud nyata kemudahan yang diberikan kepada Rasulullah SAW.

Perintahnya adalah memberi peringatan jika peringatan itu bermanfaat. Kata “in nafa’atiz-zikroo”, menurut para ulama bukan pembatasan. Artinya kalimat itu seolah-olah memberi peringatan jika bermanfaat, tapi jika tidak bermanfaat tidak usah memberi peringatan. Tidak begitu!

Peringatan tetap akan berguna baik dalam jangka pendek atau mungkin dalam jangka panjang. Minimal peringatan itu berguna bagi yang memberi peringatan itu sendiri. Karena kalau orang memberi peringatan mesti dia ingat akan apa yang pernah dia ingatkan kepada orang lain.

Maka Nabi Muhammad SAW mulai dari periode Mekkah sampai periode Madinah terus menerus memberi peringatan kepada masyarakat.
Walaupun sikap masyarakat Mekkah waktu itu menentang dengan keras apa yang disampaikan beliau kepada mereka. Tetapi Nabi Muhammad SAW tidak pernah surut dalam memberi peringatan.

Dalam ayat yang lain , Surat An Najm ayat 29 ada perintah untuk berpaling.

Allah SWT berfirman:

فَاَ عْرِضْ عَنْ مَّنْ تَوَلّٰى ۙ عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ اِلَّا الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا 

“Maka tinggalkanlah (Muhammad) orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan dia hanya mengingini kehidupan dunia.” (QS. An-Najm 53: Ayat 29)

Perintah berpaling disini difahami oleh para ulama dalam arti bukan berpaling tidak memberi peringatan, tetapi berpaling dari cemoohan dan tidak menghiraukan gangguan yang mereka lakukan.

Mereka memberi cemoohan terus. Tuduhan mereka terhadap Nabi Muhammad SAW begitu sadisnya, dari periode Mekkah sampai periode Madinah. Nabi dibully oleh orang-orang yang tidak menerima dakwahnya. Tetapi beliau terus memberikan peringatan kepada mereka.

Kita sekarang ini harusnya meniru Nabi, walaupun sasaran dakwah itu sikapnya tidak bersahabat, tetapi tetap diberi peringatan dengan berbagai cara yang memungkinkan agar peringatan itu sampai kepada mereka. Kita tidak boleh bosan dan putus asa lalu kita berdiam diri.


Tafsir Ayat kesepuluh dan kesebelas :

Allah SWT berfirman:

سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَّخْشٰى (10) وَيَتَجَنَّبُهَا الْاَ شْقَى (11)

sayazzakkaru may yakhsyaa
wa yatajannabuhal-asyqoo

“orang yang takut kepada Allah akan mendapat pelajaran, dan orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya,” (QS. Al-A’la 87: Ayat 10-11)

Peringatan-peringatan yang diberikan kepada sasaran dakwah itu akan direspond oleh orang-orang yang punya potensi takut kepada Allah dan akan ditentang oleh orang-orang yang tidak punya potensi takut kepada Allah SWT. Mereka itu orang-orang yang nanti akan celaka dalam kehidupan di akhirat.

Apalagi kalau memang sasaran dakwah itu sudah mendarah- daging menghayati nilai-nilai lama. Biasanya mereka makin sulit untuk didakwahi. Akan tetapi kalau penghayatan terhadap nilai-nilai lama ini belum mendalam biasanya masih lebih mudah untuk mencerna peringatan- peringatan yang diberikan oleh para Da’i.

Ayat ini juga menjelaskan bahwa manusia itu diberi kebebasan untuk berkehendak oleh Allah SWT : Mau menerima? Atau mau menolak?
Allah SWT sudah menjelaskan konsekwensi dari pilihan itu.

Yang siap menerima, konsekwensinya menjadi orang yang baik lalu masuk Surga. Yang menolak dengan penolakan yang sadis dan tidak bisa menerima sama sekali dakwah itu mereka akan menjadi orang yang paling celaka dan masuk Neraka.

Yang digaris-bawahi oleh para ulama adalah kata “yakhsyaa” (takut).
Takut itu maksudnya apa?
Seorang yang dikatakan yakhsyaa atau merasa khosyah dalam dirinya berarti merasakan ketakutan yang mendalam, sehingga jiwanya bagaikan luluh , tidak berarti sedikitpun dihadapan siapa yang ditakutinya itu, yaitu Allah SWT.

Kata “yakhsyaa” digunakan untuk menggambarkan rasa takut terhadap suatu obyek yang sangat diagungkan. Dalam banyak ayat obyek itu disebutkan sebagai Allah SWT. Karena itu rasa takut dapat disertai dengan rasa kagum kepada Allah SWT.

Kata “asyqoo” adalah bentuk superlativenya yaitu orang yang paling celaka. Maksudnya adalah mendarah-dagingnya sifat yang ditunjuk oleh kata ini pada pelakunya. Dan bahwasanya ia telah mencapai puncak dari segala puncak yang dikenal dalam bidang tersebut.

Kita lihat Tokoh-tokoh Mekkah yang asyqoo itu kan memang pentolan- pentolannya, sehingga mereka tidak mungkin lagi untuk mengubah keyakinannya.

Ayat duabelas dan tigabelas merupakan penjelasan ayat sepuluh dan sebelas.

Allah SWT berfirman:

الَّذِيْ يَصْلَى النَّا رَ الْكُبْرٰى (12) ثُمَّ لَا يَمُوْتُ فِيْهَا وَلَا يَحْيٰى (13)

allazii yashlan-naarol-kubroo
summa laa yamuutu fiihaa wa laa yahyaa

“yaitu orang yang akan memasuki api yang besar (neraka), selanjutnya dia di sana tidak mati dan tidak pula hidup.” -(QS. Al-A’la 87: Ayat 12-13)

Ini menggambarkan betapa ngerinya siksaan yang akan dialami oleh orang -orang yang menolak ajakan-ajakan dakwah yang disampaikan oleh para Nabi dan para Da’i yang datang sesudahnya. Mereka tidak mati. Kalau orangnya mati tidak akan merasakan siksa.


Allah SWT berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰى (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰى (15) 

qod aflaha mang tazakkaa
wa zakarosma robbihii fa shollaa

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman),
“Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia sholat.” (QS. Al-A’la 87: Ayat 14-15)

Menyucikan diri kalau dalam istilah teknis menjadi Tazkiyatun Nafs, penyucian jiwa. Penyucian jiwa ini berpangkal dari Tauhid, kemudian mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan yang muncul dari Tauhid. Lalu meninggalkan syirik sejauh- jauhnya dan meninggalkan sifat-sifat buruk yang diwariskan oleh Syirik.

Kata “aflaha” berasal dari kata fallah seperti Petani. Petani itu Panen setelah dia mencangkul tanah, menanam benih, merawat, menunggu sampai waktunya berbuah, kemudian dia panen. Itu namanya fallah
Orang yang fallah mesti orang yang menanam. Bukan orang yang mendapatkan rejeki nomplok tanpa berusaha.

Dalam Al Qur’an ada ayat-ayat yang menyebut siapa orang-orang yang fallah, yang akan beruntung.
Dalam Surat Al Mukminun disebut mulai ayat dua sampai sembilan.
– Orang yang khusyuk dalam shalatnya
– Orang yang menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia.
– Orang yang menunaikan zakat
– Orang yang tidak menggunakan kemaluannya kecuali secara sah pada pasangannya
– Orang yang memelihara amanah dan janji.
– Orang yang memelihara waktu-waktu sholat.

Dalam Surat Al A’raf ayat 157 :
– Orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad, memuliakan dan membela beliau, termasuk orang- orang yang beruntung.

Dalam Surat Al Qasas ayat 67
“Maka adapun orang yang bertobat dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, maka mudah-mudahan dia termasuk orang yang beruntung.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 67)

Kalau kita mau masuk kategori orang- orang fallah mari kita lakukan sekian banyak amaliah ini yang langsung ditunjuk oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Ini termasuk orang yang menyucikan diri. Akan beruntung di dalam kehidupan di akhirat nanti.


Allah SWT berfirman:

وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰى  

wa zakarosma robbihii fa shollaa

“Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia sholat.” (QS. Al-A’la 87: Ayat 15)

Dia menyebut dengan lidah, juga menghadirkan sesuatu dalam benak untuk menyatakan kehadiran Allah SWT. Kehadiran Allah dalam jiwa mengantar hubungan dengannya dalam bentuk berdo’a, sholat dan sebagainya. Jadi fashollaa bukan hanya dalam pengertian sholat secara teknis yang dimulai dari Takbiratul Ihram sampai dengan Salam.

Allah SWT berfirman:

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا (16) وَا لْاٰ خِرَةُ خَيْرٌ وَّ اَبْقٰى (17)

bal tu-siruunal-hayaatad-dun-yaa
wal-aakhirotu khoiruw wa abqoo

“Sedangkan kamu memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la 87: Ayat 16-17)

Ayat ini kecaman kepada orang-orang yang hanya mementingkan kehidupan dunia. Ini orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Allah SWT.

Memang dunia itu sangat indah. Ibaratnya kita sekarang ini orang yang sedang wisata, menikmati keindahan alam. Kita jangan terpukau oleh keindahan alam itu sehingga kita tidak kembali ke tempat tinggal kita.
Dunia ini sementara, kita tujuannya ke akhirat. Karena itu dunia ini harus menjadi pijakan untuk menuju akhirat.

Dalam surat Al Qasas ayat 77 dijelaskan Allah SWT berfirman:
“Dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas 28: Ayat 77)

Orientasinya kehidupan dunia harus untuk kehidupan akhirat.
– Orang yang kaya jangan hanya dinikmati sendirian secara hedonistik, tetapi harus digunakan sesuai tuntunan Allah SWT.
– Orang-orang yang punya ilmu jangan hanya dipakai sendiri, tetapi juga harus disebarkan kepada orang lain sehingga dia juga bisa memintarkan orang lain.
– Orang yang mempunyai Skill juga harus diorientasikan untuk mencari kehidupan di akhirat, jangan hanya dipakai untuk kenikmatan hidup duniawi saja. Karena dunia itu sementara, akhirat itu kekal.


Allah SWT berfirman:

اِنَّ هٰذَا لَفِى الصُّحُفِ الْاُ وْلٰى (18) صُحُفِ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى (19)

inna haazaa lafish-shuhufil-uulaa
shuhufi ibroohiima wa muusaa

“Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, yaitu Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS. Al-A’la 87: Ayat 18-19)

Tuntunan yang ada di ayat 14 dan 15 yang berbicara tentang Keberuntungan yang akan diperoleh oleh orang yang menyucikan diri, atau yang disebutkan di ayat 17 bukan hanya ajaran yang ada di Al Qur’an, tetapi ini juga ajaran yang sudah diturunkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Jadi ini bukan barang baru. Ajaran agama itu prinsipnya sama, yang beda rinciannya karena agama itu berlaku abadi untuk semua manusia di semua zaman.

Menurut istilah para ulama, agama itu satu yang berbeda syariatnya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here