Dr. Zuhad Masduki MAg

5 Dzulqo’dah 1442 / 16 Juni 2021


Surat Al A’la termasuk surat Makiyyah, surat yang turun di periode Mekkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah.

Allah SWT berfirman:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَ عْلَى 

sabbihisma robbikal-a’laa

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi,” (QS. Al-A’la 87: Ayat 1)

Kata sabbaha itu makna dasarnya adalah berenang. Orang berenang dari tepi menuju tengah, sehingga dia makin menjauh dari tepi.
Dalam istilah agama, kata sabbaha – yusabbihu – tasbihan.
Bertasbih itu menjauhkan Allah dari segala sifat kekurangan, sifat kejelekan, bahkan dari sifat kesempurnaan yang terbayang dari benak manusia, kalau itu tidak sesuai dengan dzat Allah itu sendiri.

Dengan mengucapkan tasbih : Subhanallah, maka kita sebagai pengucap itu mengakui bahwa tidak ada sifat atau perbuatan Allah yang kurang sempurna atau tercela. Tidak ada ketetapan-ketetapan Allah yang tidak adil, baik terhadap si Pengucap maupun terhadap makhluk-makhluk yang lain.

“sabbihisma robbikal-a’laa”, mengandung makna jangan menggunakan kata yang dapat menggambarkan Tuhan dengan gambaran yang mengandung kekurangan. Jangan pula menyebut nama Allah yang baik itu ditempat- tempat yang hina dan tidak wajar untuk disebut disitu, misalnya di toilet.

Ayat yang pertama ini perintahnya kepada Nabi Muhammad SAW. Kalau kita lihat implementasinya di dalam shalat yang diajarkan oleh Rasulullah, kita membaca saat Rukuk dan Sujud.
Dengan membaca do’a rukuk yang diajarkan oleh Rasul.

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ

(Subhaana robbiyal ‘adhiimi wabihamdih) 3x

Mahasuci Tuhanku yang Mahaagung dan segala puji bagiNya (HR Abu Dawud)

Salah satu do’a waktu sujud :

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

(Subhaana robbiyal ‘a’la wabihamdih) 3x

Mahasuci Tuhanku yang Mahatinggi dan segala puji bagiNya (HR Abu Dawud) .

Memang dalam waktu rukuk dan sujud ada do’a yang lain yang diajarkan Nabi

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى

(Subhaanaka alloohumma robbanaa wa bihamdika alloohummaghfirlii)

Mahasuci Engkau, ya Allah Tuhan kami dan segala puji bagiMu. Ya Allah ampunilah aku.(HR Bukhori Muslim).

Para ulama mengatakan tentang do’a do’a yang bermacam-macam ini sebagai Tanawwu Al Ibadah, variasi contoh doa-doa amalan ibadah yang diajarkan Rasul. Mana saja yang kita pakai itu benar. Sepanjang memang ada riwayatnya, bukan karangan sendiri.

Oleh karena itu misalnya kita beda dengan teman kita dalam membaca do’a rukuk dan do’a sujud tidak usah berselisih, karena semuanya benar, riwayatnya shahih.

Ibnul Qayyim khusus menulis tentang ini dalam buku “Al Kalimu Thoyyib”. Umat islam sebaiknya membaca buku itu supaya tidak terjadi pertengkaran menyangkut bacaan do’a yang kita baca dalam shalat kita.
Do’a iftitah yang diajarkan Nabi juga bervariasi, ada yang :
“Alloohumma baa’id bainii wa baina…”
dan ada yang :
“Innii wajjahtu wajhiya lilladzii… “
Keduanya benar tidak ada yang salah.

Karena itu kalau menjadi guru agama, bila mengajarkan shalat sebaiknya semua do’a yang diajarkan oleh Nabi, diajarkan kepada murid-murid kita supaya mereka mengenal. Kalau do’a itu hanya diajarkan satu saja, kesannya do’a itu hanya satu macam, tidak ada yang lain. Inilah penyebab diantara pertengkaran yang sering terjadi diantara umat islam.

Dalam satu jama’ah bacaannya bisa macam-macam. Tidak masalah, semuanya dibenarkan. Persoalan ini hendaknya difahami dengan baik dan diajarkan kepada orang di sekitar kita supaya mereka memahami dengan baik.

Allah SWT itu Maha Tinggi, sedemikian tingginya sehingga Dia tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia dan tidak ada pula yang serupa dengannya. Tidak ada yang dapat mengalahkan Allah SWT, bahkan tidak ada sekutu baginya. Dan tidak ada juga kedudukan yang serupa, bahkan yang mendekati kedudukan Allah SWT.

Ayat kedua dan ketiga menjelaskan siapa Allah yang Maha Tinggi itu dan apa perannya.

Allah SWT berfirman:

الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوّٰى (2) وَا لَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدٰى (3)

allazii kholaqo fa sawwaa
wallazii qoddaro fa hadaa

“yang menciptakan, lalu menyempurnakan penciptaan-Nya, yang menentukan kadar masing- masing dan memberi petunjuk,” (QS. Al-A’la 87: Ayat 2-3)

Kata “kholaqo” (mencipta) tidak menyebut obyeknya. Menurut kaidah bahasa, kalau Allah menggunakan kata kerja transitif yang seharusnya ada obyeknya, tetapi obyeknya tidak disebut maka obyeknya menjadi luas.
Artinya : Allah mencipta segala sesuatu. Muncul karena penerapan kaidah di atas.

Allah menyempurnakan penciptaannya sesuai dengan yang diciptakan. Manusia karena fungsinya menjadi khalifah di muka bumi, maka kelengkapan yang diberikan kepada manusia lebih banyak dibanding alat-alat kelengkapan yang dimiliki oleh makhluk-makhluk yang lain.

Seperti kita baca pada Surat At Tin, manusia itu terdiri dari dua unsur, jasmani dan ruhani. Manusia dilengkapi dengan 4 daya : Daya akal, daya qolbu, daya hidup dan daya fisik. Sementara makhluk-makhluk yang lain, kelengkapannya tidak sampai sebanyak ini. Tetapi makhluk-makhluk Allah selain manusia ini juga sempurna sesuai dengan fungsi masing-masing.

Allah SWT berfirman:

الَّذِيْۤ اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهٗ وَبَدَاَ خَلْقَ الْاِ نْسَا نِ مِنْ طِيْنٍ 

“yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah,” (QS. As-Sajdah 32: Ayat 7)

Jadi tidak ada makhluk Allah yang tidak sempurna. Namun manusia yang paling baik.

Kata “qoddaro” artinya antara lain mengukur, memberi kadar (ukuran). Setiap makhluk yang diciptakan oleh Allah diberi ukuran oleh Allah. Batas-batas tertentu dalam dirinya, dalam sifatnya dan dalam kemampuan maksimalnya. Mereka tidak dapat melampaui batas ketetapan itu.
Allah menuntun sekaligus menunjukkan kepada makhluk- makhluknya itu arah yang seharusnya mereka tuju. Ini yang dimaksud dengan “fa hadaa”.

Petunjuk manusia karena dia menjadi khalifah di muka bumi dan karena dia berbeda dengan makhluk-makhluk yang lain, maka petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Allah kepada manusia jumlahnya juga lebih banyak.

Hidayah Allah diidentifikasi oleh Para Ulama ada empat : Instink, Indera, Akal, Agama. Instink dan Indera diberikan kepada semua makhluk. Akal juga diberikan pada hewan, tetapi pada level yang tidak setinggi yang dimiliki oleh manusia. Agama hanya untuk manusia, tidak untuk hewan.

Dalam tafsir modern, misalnya Tafsir Al Manar, Tafsir Al Maraghi, Tafsir Al Munir karya Wahbah Al Zuhayli dan Tafsir Al Mishbah karya Muhammad Quraish Shihab disebutkan dari kata qoddaro – Yuqoddiru – Taqdir, nanti muncul konsep Takdir dalam arti Sistem yang ditetapkan oleh Allah SWT yang berlaku dalam kehidupan di alam semesta. Ada takdir, ada Sunatullah. Mereka himpun ayat-ayat yang bicara tentang Takdir.

Misalnya di Surat Yasin ayat 38-39

وَا لشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا   ۗ ذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ (38) وَا لْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَا زِلَ حَتّٰى عَا دَ كَا لْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ

“dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.” (QS. Ya-Sin 36: Ayat 38-39)

Ada lagi dalam Surat Al Furqan ayat 2 :

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهٗ تَقْدِيْرًا

“dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.” (QS. Al-Furqan 25: Ayat 2)

Kemudian di Surat At Talaq ayat 3 :

قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq 65: Ayat 3)

Dari ayat-ayat ini kemudian ulama menjelaskan bahwa peristiwa- peristiwa yang terjadi di alam raya ini dari sisi kejadiannya dalam kadar dan ukuran tertentu serta pada tempat dan waktu tertentu. Itulah yang dinamai dengan qodar /takdir atau bahasa sekarang sistem.

Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa takdir. Termasuk terhadap manusia. Hanya nanti dalam penggunaan Al Qur’an yang berlaku pada manusia, sebutannya Sunatullah atau Hukum-hukum kemasyarakatan yang berlaku pada masyarakat. Kalau takdir sifatnya lebih umum. Termasuk yang berlaku pada alam semesta.

Kita pernah membahas persoalan ini ketika kita menafsirkan ayat terakhir Surat At Tin :

اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَ حْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ

“Bukankah Allah hakim yang paling adil?” (QS. At-Tin 95: Ayat 8)

Dari sini Imam Al Ghozali membuat konsep Qadha- Qadar dan Ikhtiar.
Qadha artinya sistem yang ditetapkan oleh Allah. Kalau Takdir adalah penerapan sistem dalam kehidupan sehingga dia terikat oleh waktu kapan terjadinya dan terikat oleh ruang dimana itu terjadi. Ikhtiar adalah memilih dari aneka macam sistem yang ditetapkan oleh Allah SWT.

Sistem itu banyak dan manusia bisa memilah dan memilih mana yang mau diamalkan. Lalu dia menjadi Takdir.
Termasuk dalam hal ini misalnya manusia itu mau pintar atau mau bodoh? Mau berhasil atau mau gagal? Mau sukses atau mau jatuh? Semua ada sistemnya, tinggal kita mau memilih yang mana.

Tidak ada peristiwa di dunia ini yang tidak mengikuti sistem. Termasuk bagi sebuah negara. Apakah negara itu mau maju atau tidak, itu juga tergantung apakah dia mau mengikuti sistem yang mana.

Pemahaman seperti ini menurut sejarah sudah dilaksanakan oleh para Sahabat dulu. Ada riwayat waktu Umar bin Khattab menjabat sebagai Khalifah. Beliau pernah membuat skedul untuk mengunjungi Palestina. Tetapi pada saat waktu kunjungan sudah tiba, di Palestina sedang terjadi wabah Tha’un. (Kira-kira seperti sekarang ini ada Virus Corona).

Lalu Umar mengalihkan kunjungan ke tempat lain, tidak jadi berkunjung ke Palestina. Maka ada sahabat yang menegur : “Wahai Umar, apakah anda mau lari dari Takdir?”.
Lalu Umar menjawabnya :
“Na’am nafirru min qadarillah ila qadarillah”. “Benar, kita menghindari suatu takdir Allah dan menuju takdir Allah yang lain”.

Maksudnya kalau Umar tetap ke Palestina, karena disana sedang terjadi wabah berpotensi dia ketularan dan mati. Maka matinya itu adalah takdir karena dia memilih berkunjung kesitu. Dia kemudian mengalihkan kunjungan ke tempat lain yang tidak ada wabah. Sehingga dia selamat. Selamat ini juga takdir karena dia tidak ketularan wabah yang sedang berkembang di tempat itu.

Tuntunan Nabi kalau ada wabah yang di dalam jangan keluar menuju ke tempat yang lain. Yang di luar jangan masuk, supaya dia tidak tertulari oleh wabah itu. Jadi Para sahabat dulu juga sudah menggunakan konsep ini. Hanya kalau kita tidak membaca sejarah, kadang-kadang kita tidak tahu bahwa ini sebenarnya sudah diterapkan oleh para Sahabat dulu.
Bahkan kalau kita memeriksa hadits- hadits Nabi. Hadits Nabi juga menjelaskan berlakunya Takdir itu diakhir, bukan di awal. Ini ada dalam bab Takdir.

Rasulullah SAW bersabda:

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta” (HR. Muslim).

Predikat jujur itu ditulisnya diakhir setelah dia melakukan kejujuran, selama dalam waktu tertentu. Yang memilih jujur akan mendapat predikat jujur. Predikat pendusta itu juga didapat seseorang setelah dia melakukan kedustaan selama dalam waktu tertentu. Yang memilih dusta akan mendapat predikat pendusta.

Ini adalah Takdir yang sifatnya dinamis dan progresif, bukan takdir yang fatalistik. Mayoritas umat islam masih berpegang pada Takdir yang fatalistik. Hanya sebagian kecil umat islam yang sudah hijrah kepada Takdir yang bersifat Progresif.

Tafsir Ayat keempat dan kelima menunjukkan siapakah Allah.

Allah SWT berfirman:

وَا لَّذِيْۤ اَخْرَجَ الْمَرْعٰى (4) فَجَعَلَهٗ غُثَآءً اَحْوٰى (5)

wallaziii akhrojal-mar’aa
fa ja’alahuu ghusaaa-an ahwaa

“dan yang menumbuhkan rerumputan,
lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman.” (QS. Al-A’la 87: Ayat 4-5)

Maksudnya Allah mengeluarkan rumput- rumputan. Hujan turun, maka dengan turunnya hujan bumi menjadi subur dan rumput tumbuh di tempat itu. Pohon-pohonan juga tumbuh subur.

Kata “mar’aa” makna aslinya adalah tempat menggembala. Tetapi kemudian maknanya beralih menjadi rumput. Tempat menggembala itu ditumbuhi rumput. Ketika tempat itu lama tidak kena siraman hujan maka rumput itu menjadi kering.

Ini juga membicarakan sunatullah tadi. Kalau kita ingin rumput dan tumbuh-tumbuhan bertumbuh dengan baik maka kebutuhan air harus dipenuhi. Kalau kebutuhan airnya tidak dipenuhi maka rumput-rumputan dan tanaman yang kita tanam pasti akan kering dan mati.

Ayat ini menceritakan tentang siapa Allah. Allah itu yang menciptakan manusia dan yang menciptakan sistem yang berlaku secara pasti dalam kehidupan manusia semuanya yang ada di alam semesta.


Tafsir Ayat keenam dan ketujuh.

Allah SWT berfirman:

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسٰۤى (6) اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰهُ ۗ اِنَّهٗ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفٰى (7)

sanuqri-uka fa laa tangsaaa
illaa maa syaaa-alloh, innahuu ya’lamul-jahro wa maa yakhfaa

“Kami akan membacakan Al-Qur’an kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa, kecuali jika Allah menghendaki. Sungguh, Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.” (QS. Al-A’la 87: Ayat 6-7)

Allah akan menghimpun ayat-ayat Al Qur’an ke dalam dada Nabi Muhammad SAW sehingga beliau tidak akan melupakan ayat-ayat itu. Atau dengan kata lain Allah akan menjadikan beliau menghafalnya sehingga beliau tidak akan khawatir satu bagianpun dari ayat-ayat Al Qur’an yang sudah dibacakan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Sebelum menerima wahyu Surat Al A’la ini Rasulullah telah menerima wahyu yang lain, karena Surat ini bukan Surat yang turun pertama kali. Rupanya beliau pernah merasa khawatir jangan sampai apa yang telah diterimanya hilang dari ingatan beliau, atau mungkin terlupakan.

Dalam Surat Al Qiyamah ayat 16 sampai 19 Allah pernah menegur Nabi Muhammad karena beliau buru-buru menirukan bacaan Jibril yang sedang membacakan Al Qur’an kepadanya.

Allah SWT berfirman:

لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَا نَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖ (16) اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰ نَهٗ (17) فَاِ ذَا قَرَأْنٰهُ فَا تَّبِعْ قُرْاٰ نَهٗ (18)
ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَا نَهٗ (19)

“Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya di dadamu dan membacakannya.
Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.” (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 16-19)

Jadi Allah sudah menanggung kepada Nabi Muhammad SAW sehingga beliau tidak akan pernah melupakan ayat-ayat yang telah dibacakan itu.

Dalam ayat keenam “sanuqri-uka”, menggunakan kata Kami. Kaidahnya adalah bahwa kata Kami yang disandarkan pada Allah memiliki dua makna. Pertama li takzim (sifatnya mengagungkan Allah) dan yang kedua lil-musyarokah, artinya ada keterlibatan pihak lain di dalam realisasi aktivitas-aktivitas itu.

Allah dalam membacakan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad ada keterlibatan selain Allah, yaitu Malaikat Jibril. Jadi Al Qur’an itu dibacakan semuanya oleh Jibril, tidak langsung dari Allah kepada Rasulullah. Sehingga Al Qur’an itu lafal dan maknanya betul-betul dari Allah SWT.

Adanya peran Jibril disana banyak disebut dalam Al Qur’an. Misalnya dalam Surat Asy-Syu’ara’ ayat 192-194

وَاِ نَّهٗ لَـتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَ مِيْنُ (193) عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ (194)

“Dan sungguh, Al-Qur’an ini benar- benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, Yang dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan,” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 192-194)

BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here