H. M Arief Rahman Lc MA

24 Syawal 1442 / 5 Juni 2021




Jihad atau Perang pada masa Rasulullah SAW adalah bagian dari dakwah beliau. Sebagai sebuah bagian dari perjuangan untuk mempertahankan islam, untuk meninggikan Kalimat Allah daripada yang lain dan untuk menyampaikan islam sampai ke seluruh tempat yang ada di sekitar kota Madinah. Meskipun tidak semua tempat dibuka atau ditaklukkan oleh Islam melalui peperangan.

Orang-orang Orientalis mengatakan bahwa islam disebarkan dengan pedang, dengan darah. Padahal tidak sedikit dalam sejarah peperangan Rasulullah SAW yang sangat menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

Bahkan ada suatu tempat ketika pasukan kaum muslimin harus diperbantukan ke tempat yang lain karena ada peperangan yang besar, tempat yang diduduki tersebut tidak rela pasukan umat islam meninggalkan mereka, karena selama mereka dalam perlindungan umat islam mereka mendapatkan banyak kenyamanan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pelaksanaan ibadah.

Inilah satu hal yang penting dan bisa kita jadikan sebagai wawasan baik yang terjadi pada masa peperangan zaman Rasulullah SAW.

Jihad adalah puncak tertinggi ajaran islam. Dalam sebuah hadits dikatakan :

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْـجِهَادُ فِـي سَبِيْلِ اللهِ.

“… Pokoknya perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fii sabiilillaah.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Jihad ini bisa berarti Perang, bisa berarti optimalisasi diri untuk menegakkan agama Allah dalam bentuk yang seluas-luasnya.
Tanpa ada semangat ini maka semangat kita untuk menyampaikan nilai-nilai islam akan luntur.

Maka tidak heran ketika Inggris menjajah India, mereka melakukan propaganda kepada umat Islam pada waktu itu dan yang dilemahkan adalah nilai jihad. Mereka mengembangkan ajaran Ahmadiyah dalam rangka melemahkan semangat jihad.

Peperangan pada masa Rasulullah SAW yang banyak kita kenal adalah peperangan besar. Dalam kajian ini akan lebih ditekankan pada prolognya.
Sebelum ada peperangan besar ada peperangan-peperangan kecil yang mendahuluinya.

Sebagaimana kita ketahui bahwasanya perang pertama yang diikuti oleh Rasulullah SAW dalam jumlah yang besar dan dahsyat adalah Perang Badar. Tetapi sebelum Perang Badar ini Rasulullah sudah melakukan ekspedisi atau gerakan militer yang dilakukan secara intensif.

Dalam bahasa Arab ada istilah Ghazwah dan Sariyyah. Ghazwah adalah Perang atau gerakan militer yang diikuti oleh Rasulullah SAW. Sariyyah adalah Perang yang tidak diikuti oleh Nabi. Sariyyah berupa pasukan-pasukan kecil yang dikirim oleh Rasulullah SAW untuk mengganggu atau memberikan tekanan psikologis terhadap orang- orang kafir Quraisy pada waktu itu.
Dalam buku Ar-Rahiq-ul-Makhtum cukup lengkap menjelaskan itu.

Jihad dalam arti Perang pada fase Makiyyah sebelum Rasulullah SAW dan Para sahabatnya hijrah ke Madinah bisa dikatakan tidak ada kontak fisik. Yang ada adalah intimidasi, penyiksaan kepada Rasulullah dan para sahabatnya. Juga kesabaran Rasulullah dan para sahabat sehingga proses hijrah ke Madinah sebagai puncaknya.
Setelah di Madinah baru ada ijin dan perintah untuk melakukan peperangan.


Kronologi Terjadinya Perang

1. Orang Kafir Mekkah mengadakan hubungan dengan Orang Munafiq Madinah

Setelah periode Madinah, orang-orang Mekkah berhubungan dengan para munafiqun di Madinah. Tokoh munafiq di Madinah adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Dia merasa terganggu setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW di Madinah dan islam yang berkembang pesat. Karena dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW dia tidak akan diangkat menjadi Pemimpin di Madinah (Yatsrib pada waktu itu).

Kekecewaan Abdullah bin Ubay bin Salul dimanfaatkan oleh orang-orang Quraisy Mekkah. Orang Quraisy mengirim surat kepada Abdullah bin Ubay bin Salul yang intinya menyarankan agar Abdullah bin Ubay mengusir Nabi Muhammad SAW dari Madinah, kalau tidak maka orang Madinah akan diperangi oleh orang Mekkah.

Sejak saat itu Abdullah bin Ubay dan kelompoknya membuat gerakan di Madinah. Tetapi hal ini segera diketahui oleh Rasulullah SAW dan beliau mengancam Abdullah bin Ubay agar tidak menjadi provokator.
Sifat-sifat Abdulah ini sesuai sifat orang munafiq, dia memanfaatkan kondisi yang ada untuk kepentingan pribadinya. Mereka tidak mau rugi dalam kondisi apapun.

2. Tekanan dan intimidasi di Mekkah menimbulkan semangat orang Islam untuk berontak.

Pada awalnya diredam oleh Rasulullah SAW, agar jangan sampai malah merugikan mereka.
Seorang sahabat bernama Sa’ad bin Muadz dari Madinah melaksanakan Umrah ke Mekkah. Beliau minta ijin kepada seorang pembesar Quraisy bernama Umayah bin Khalaf agar bisa mendapatkan keamanan pada saat melakukan ibadah. Beliau dilindungi bahkan diantar Umayah pada saat pelaksanaan ibadah.

Akan tetapi ada orang Quraisy yang melihatnya dan tahu bahwa beliau orang Madinah. Dan Abu Jahal bertanya kepada beliau : “Kenapa kamu bisa melaksanakan Thawaf di Mekkah dengan aman, padahal kalian melindungi orang-orang yang kami cari karena menghina agama kami?” Kalau kamu tidak dilindungi oleh Umayah bin Khalam maka kamu akan kami bunuh”.

Sa’ad bin Muadz adalah salah seorang Pemimpin Anshor yang luar biasa. Sejak melakukan Bai’at Aqobah beliau memegang komitmen janji itu kepada Rasulullah SAW. Sa’ad bin Muadz menjawab ancaman Abu Jahal : “Demi Allah jika engkau menghalangiku saat ini untuk melaksanakan ibadah Umrah pasti aku akan menghalangimu dengan cara yang lebih keras ketika perjalananmu melewati Kota Madinah”.

Madinah mempunyai tempat strategis yang juga ditakuti oleh orang-orang Mekkah, karena kafilah dagang mereka yang menuju Syam pasti melewati Madinah. Orang-orang Quraisy mempunyai perjanjian dengan mereka agar kafilah-kafilah dagang Quraisy baik berangkat ataupun pulang dalam keadaan aman.

Oleh Sa’ad bin Muadz ini dijadikan negosiasi dan ganti mengancam Kafilah dagang. Karena Mekkah ini adalah kota perdagangan yang dalam Surat Quraisy, mereka mempunyai kebiasaan berdagang, ke utara sampai Syam dan ke Selatan sampai Yaman.

Allah SWT berfirman:

لِاِ يْلٰفِ قُرَيْشٍ (1) اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَآءِ وَا لصَّيْفِ (2)

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.” (QS. Quraisy 106: Ayat 1-2)

Dengan hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah dan adanya ancaman Sa’ad tentu menggentarkan kaum Quraisy terhadap kegiatan kafilah dagangnya.

3. Sejak Rasulullah SAW hijrah, tidak sedikit mereka melakukan teror.

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa pada awal-awal hijrah di Madinah Rasulullah SAW sulit tidur khawatir ada hal-hal yang dapat mengganggu beliau maupun sahabat- sahabatnya. Sehingga ada beberapa sahabat yang selalu menjaga Rasulullah SAW, sampai kemudian turun Surat Al Maidah ayat 67

يٰۤـاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗ وَاِ نْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَـتَهٗ ۗ وَا للّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّا سِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْـكٰفِرِيْنَ

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari gangguan manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 67)

Meskipun sudah berada di Madinah tetapi ancaman masih dirasakan oleh Kaum Muslimin di Madinah. Akhirnya Allah SWT menurunkan ayat yang oleh para ulama dikatakan sebagai ayat pertama yang menjadi ijin pendahuluan diperbolehkannya berperang.

Allah SWT berfirman:

اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقٰتَلُوْنَ بِاَ نَّهُمْ ظُلِمُوْا ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ عَلٰى نَـصْرِهِمْ لَـقَدِيْرُ 

“Diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong mereka itu,” (QS. Al-Hajj 22: Ayat 39)

Atas dasar ayat itu Rasulullah SAW membentuk pasukan-pasukan kecil. Pasukan-pasukan kecil ini dibentuk 100% dari orang Muhajirin.
Ini sangat terkait dengan klausul Bai’at Aqobah yang kedua.

Dalam Bai’at Aqobah yang kedua salah satu klausulnya : Orang-orang Madinah melindungi Nabi di kota Madinah. Jadi kalau terjadi apa-apa pada Rasulullah SAW di kota Madinah, maka orang-orang Muslimin di kota Madinah mempunyai kewajiban untuk melindungi Rasulullah SAW dan sahabatnya.

Padahal kafilah dagang Quraisy itu melewati Madinah, tetapi tidak masuk ke kota Madinah. Maka klausul Bai’at Aqobah tidak kena, maka pasukan kecil yang dibentuk Rasulullah hanya dari orang Muhajirin.

Sampai kemudian menjelang Perang Badar, ada kronologi yang menjadikan Rasulullah memastikan bahwa orang Anshorpun harus turut serta dalam Perang Badar. Karena ketika keluar dari Kota Madinah itu Rasulullah dan para sahabatnya niatnya tidak untuk berperang, tetapi untuk mengganggu kafilah dagang Quraisy.

Rasulullah SAW juga mengadakan perjanjian dengan Kabilah-Kabilah yang ada di sepanjang jalan yang biasa dilalui Kafilah Quraisy di Madinah untuk tidak saling menyerang diantara mereka. Ini sebagai tindakan pengamanan oleh Rasulullah SAW.


Sariyyah Menjelang Perang Badar

Ada beberapa peristiwa yang ditulis sejarah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya sebelum terjadinya Perang Badar.

1. Pengiriman satuan pasukan atau Ekspedisi Saiful Bahar pada awal-awal Hijrah.

Rasulullah tidak ikut dalam misi ini. Beliau menunjuk pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib bersama 30 orang Muhajirin untuk menghadang Kafilah Quraisy yang kembali dari Syam menuju Mekkah. Pada waktu itu 300 orang Kafilah Quraisy dipimpin oleh Abu Jahal bin Hisyam.

Pasukan muslim yang kecil akan dihadapkan pada Kafilah yang banyak.
Ini memberikan dampak psikologis yang luar biasa tentang eksistensi umat Islam di Madinah. Selain hijrahnya sendiri juga memberi dampak luar biasa pada orang-orang Mekkah pada waktu itu.

Namun ketika ekspedisi Syaiful Bahar ini sudah berhadap-hadapan dan hampir terjadi peperangan dengan Kafilah Quraisy, ada orang yang dihormati orang Mekkah melerai mereka agar tidak terjadi peperangan.

2. Satuan Pasukan (Sariyyah) ke Rabigh

Rabigh ini adalah salah satu miqod, merupakan daerah Pelabuhan. Rasulullah mengirim Ubaidah bin Al Harits bin Abdul Muthalib, merupakan saudara sepupu beliau bersama 60 Muhajirin. Menghadapi orang orang Quraisy Mekkah sejumlah 200 orang yang kembali dari berdagang dan dipimpin oleh Abu Sufyan.
Meskipun terjadi kontak senjata tetapi tidak berlanjut. Bahkan ada salah seorang anak buah Abu Sufyan yang
masuk islam pada waktu itu.

3. Sariyyah yang dipimpin ke Al Kharrar

Terjadi pada bulan Dzulqo’dah pada tahun 1 Hijriyah. Rasulullah SAW mengirim Sa’ad bin Abi Waqqash bersama 20 orang Muhajirin untuk menghadang kafilah dagang Quraisy. Beliau berpesan kepada Sa’ad agar tidak sampai ke Al Kharrar. Tetapi ternyata kafilah dagang ini lebih cepat sampai sehingga akhirnya lolos dari penghadangan.

4. Perang di Al Abwa atau Perang Waddan pada bulan Safar tahun 2 H.

Disini Rasulullah SAW pergi sendiri memimpin ekspedisi, setelah menetapkan Sa’ad bin Ubadah sebagai wakil beliau di Madinah. Karena perjalanan jihad ini memerlukan waktu yang cukup lama. Maka di Madinah harus ada orang yang diberi tanggung jawab memimpin. Ini tercatat rapi dalam sejarah.

Pada perang Al Abwa Rasulullah bersama dengan 70 orang Muhajirin.
Dengan tujuan menghadang kafilah dagang Quraisy. Beliau pergi hingga tiba di Waddan tapi tidak terjadi apa-apa, ada kemungkinan kafilah dagang telah lewat. Ini merupakan pasukan pertama yang dipimpin Rasulullah SAW meskipun tidak terjadi peperangan.

Sejak meninggalkan Madinah sampai pulang kembali kurang lebih memakan waktu 15 hari. Dalam kisah ini kemudian muncul hukum Shalat jamak dan Shalat Qashar. Berapa lama boleh melakukan shalat jamak qashar.

5. Perang Buwath

Pada bulan Rabbi’ul awwal tahun ke 2 H Rasulullah SAW pergi bersama 200 orang sahabat untuk menghadang Kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Umayah bin Khalaf beserta 100 orang dan membawa 2500 unta dengan barang dagangan yang penuh. Tetapi sekali lagi ternyata Kafilah ini lolos sehingga tidak terjadi peperangan. Pencegatan ini ternyata juga diketahui oleh orang-orang Mekkah ketika mereka melewati tempat- tempat itu.

6. Perang Safwan

Terjadi pada bulan Rabbi’ul awwal tahun ke 2 H. Ada seorang bernama Karz bin Jabir al Fihri bersama dengan beberapa orang Musyrik menyerang kandang hewan dan merampas domba-domba orang muslim di pinggir kota Madinah.

Rasulullah SAW bersama 70 orang sahabat mengejar mereka. Tetapi sampai di Safwan, di arah Badar tidak bisa mengejar orang-orang Quraisy yang mengganggu orang Madinah.
Ini adalah prolog yang mendahului terjadinya Perang Badar.

7. Perang Dzul Usyairah

Terjadi pada bulan Jumadil Akhir pada tahun 2 H. Disini Rasulullah SAW bersama 150 atau 200 orang Muhajirin keluar untuk menghadang kafilah dagang Quraisy ketika mereka pergi ke Syam. Khabar yang sampai ke beliau kafilah itu membawa harta orang- orang Quraisy.

Namun tatkala sampai di Dzul Usyairah, rombongan kafilah Quraisy telah lewat. Kemudian beliau berusaha mencegat kembalinya kafilah ini dari negeri Syam. Abu Sufyan yang memimpin kafilah dagang Quraisy sangat cerdik, mereka lolos dari hadangan. Hal ini yang kemudian menjadi penyebab meletusnya Perang Badar al Kubra.

8. Pengiriman Pasukan ke Nahlah

Pada bulan Rojab tahun ke 2 H, Rasulullah SAW mengirim Abdullah bin Jahsy al Asadi bersama 12 Muhajirin ke Nahlah. Nahlah adalah daerah antara Thoif dan Mekkah. Jadi cukup jauh dari kota Madinah. Kedua belas Muhajirin itu hanya membawa 6 unta untuk perjalanan ke Nahlah.

Rasulullah SAW menulis pesan kepada Panglimanya, dengan catatan hanya boleh dibuka setelah dua hari perjalanan.
Bunyi pesannya sebagai berikut :
“Jika engkau sudah menempuh dua hari perjalanan dan membaca pesan ini, maka pergilah ke Nahlah, diantara Thoif dan Mekkah untuk menyelidiki kafilah dagang Quraisy. Begitu pesan ini dibuka, maka yang akan terus silahkan terus, yang tidak ingin terus silahkan kembali ke Madinah”.

Namun kedua belas sahabat ini tetap menuju ke Nahlah. Sampai di Nahlah, seperti yang dikatakan Nabi ditempat tersebut mereka bertemu dengan kafilah dagang Quraisy. Dalam pesan dikatakan bahwa Rasulullah hanya ingin mendapatkan informasi tentang keberadaan kafilah dagang itu kemudian diinformasikan ke Madinah.

Tetapi begitu mereka melihat kafilah dagang itu kemudian mereka bermusyawarah apa yang akan mereka lakukan. Apakah hanya sekedar mendapatkan informasi? Atau diharuskan merampas?
Mereka kebingungan karena saat itu adalah bulan Rajab, yang termasuk bulan Haram yang dimuliakan. Ada empat bulan yang dimuliakan orang Arab, dan pada bulan Haram tidak boleh ada peperangan.

Mereka mengatakan : “Kita saat ini berada di akhir bulan Rojab, jika kita memerangi mereka berarti kita telah melanggar bulan suci. Tetapi jika mereka dibiarkan, malam ini juga mereka akan memasuki tanah suci”.
Akhirnya mereka sepakat untuk menyerang kafilah dagang Quraisy itu.
Sehingga ada orang Quraisy yang terluka bahkan meninggal dunia. Dan ada yang ditawan dan barang rampasan dibawa ke Madinah.

Begitu sampai di Madinah Rasulullah SAW kaget dan kecewa terhadap sikap yang diambil oleh Abdullah bin Jahsy tersebut. Rasulullah mengatakan :
“Aku tidak memerintahkan kalian untuk berperang di bulan suci”, maka Rasulullah pun tidak mau menerima barang rampasan dan tawanan yang dibawa.

Kejadian ini tentu sangat memukul hati keduabelas orang tadi dan kemudian berita ini juga menghebohkan kota Mekkah karena terjadi pembunuhan di bulan Haram. Sehingga ini dijadikan salah satu alasan untuk menaikkan fitnah kepada Rasulullah bahwasanya orang-orang Madinah telah menodai kesucian bulan Haram.

Akhirnya turunlah Firman Allah SWT yang menjelaskan keadaan pada saat itu.

Allah SWT berfirman:

يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَـرَا مِ قِتَا لٍ فِيْهِ ۗ قُلْ قِتَا لٌ فِيْهِ كَبِيْرٌ ۗ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَ کُفْرٌ بِۢهٖ وَا لْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ وَاِ خْرَا جُ اَهْلِهٖ مِنْهُ اَكْبَرُ عِنْدَ اللّٰهِ ۚ وَا لْفِتْنَةُ اَکْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ 

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar. Tetapi menghalangi orang dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, menghalangi orang masuk Masjidilharam, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar dosanya dalam pandangan Allah. Sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 217)

Ayat ini menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy sebelumnya lebih berdosa dari pada sekedar berperang di bulan Haram. Wahyu menjelaskan bahwa suara sumbang yang disebarkan oleh orang-orang musyrik memancing sepak terjang umat muslim.

Setelah insiden tersebut, orang-orang Mekkah secara psikologis semakin takut akan eksistensi umat Islam di Madinah, karena mereka sudah berani menyerang orang Mekkah di dekat Mekkah.

Kemudian pada bulan Sya’ban pada tahun ke 2 H, Allah SWT menurunkan beberapa Firman yang mewajibkan umat Islam berperang pada waktu itu.

Allah SWT berfirman:

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

“Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir.

Tetapi jika mereka berhenti, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti, maka tidak ada lagi permusuhan kecuali terhadap orang-orang zalim.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 190-193)

Kemudian ada peristiwa yang membangkitkan semangat umat islam untuk berjihad. Pada bulan Sya’ban tahun ke 2 H, Allah SWT memerintahkan untuk memindahkan kiblat umat Islam dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Maka kerinduan terhadap kota Mekkah juga semakin besar.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here