Henri Shalahuddin Phd

1 Dzulqo’dah 1442 / 12 Juni 2021



Membudayakan Wakaf

Bagaimana masyarakat Turki Utsmani mau berbondong-bondong melakukan wakaf? Ternyata diantara faktor penyebab wakaf mentradisi di masyarakat karena faktor Pemimpin :

– Tingginya tingkat kepercayaan masyarakat pada Pemerintah.

Karena dikenal sebagai pemerintahan yang adil dengan simbulnya Adalet Kulesi (Menara Keadilan) yang berpegang kepada Hadits Rasulullah SAW :

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي الْأَرْضِ، يَأْوِيْ إِلَيْهِ الضَّعيفُ، وَبِهِ ينتَصِرُ المظلومُ، وَمَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ الله فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْم َالقِيَامَةِ

“Sultan adalah naungan Allah di muka bumi; yang mana orang lemah dapat berlindung kepadanya dan orang yang dizalimi dapat dibantu. Barangsiapa yang memuliakan sultan Allah di dunia, maka Allah akan memuliakannya di hari kiamat kelak.”

Maka kedudukannya sangat tinggi. Kepercayaan masyarakat dan kecintaan pada mereka sangat tinggi .

– Sultan sebagai Pribadi menjadi contoh langsung dalam mewakafkan hartanya.

Dia tidak hanya menghimbau saja, tetapi Sultan menjadi contoh, kemudian diikuti keluarga istana memberi teladan dalam mewakafkan hartanya. Lalu diikuti Sadrazam (Perdana Menteri) , Para Pejabat Menteri-Menteri, Birokrat dan masyarakat umum yang diberi kelebihan harta.

– Sultan Konsisten dalam menjalankan Pemerintahan yang adil yang tidak semena-mena.

Siapapun kalau salah dihukum. Makanya ada Undang- Undang yang khusus untuk menghukum Keluarga bahkan Saudara ataupun Anak Sultan ketika mereka melakukan pelanggaran. Sampai hukuman maksimal hukuman mati seperti yang dialami oleh Prince Sehzade Mustafa putra Sultan Suleiman Al Qanuni, seorang Sultan yang memerintah terlama di Turki Utsmani dan dizamannya Turki Utsmani mencapai Puncak kejayaan. Prince Sehzade Mustafa dihukum mati oleh keputusan Pengadilan yang dipimpin oleh Hakim militer yang merupakan Syeikhul Islam.

– Pengelolaan harta wakaf yang mutqin (terpercaya), terbuka untuk diaudit dan diawasi oleh nazir (pengawas wakaf) yang ditunjuk oleh Pewakif , sehingga manfaat wakaf terus berkembang dan bisa bertahan selama mungkin di daulah Turki Utsmani.

– Jaminan negara atas keamanan aset yang diwakafkan. Jelas, negara tidak ikut bermain disitu

– Faktor kesakralan, kesucian harta wakaf.

Istilah “wakaf” bagi masyarakat muslim di Turki adalah istilah yang sangat sakral tidak mungkin diganti dengan nama lainnya.
Pernah terjadi ketika di masa Republik Turki yang sekuler yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk istilah Wakaf diganti dengan kata Ta’sis, namun akibat dari penggantian itu sedikit sekali masyarakat Turki Utsmani yang mau berwakaf. Karena sedikit itu maka istilahnya dikembalikan lagi dengan nama Wakaf. Dan orang kembali berminat untuk Wakaf. Karena memang bagaimanapun Wakaf itu bukan untuk kepentingan duniawi saja. Tetapi sebagai wujud kecintaan dan ketaatan kepada agama.


Peran dan Misi Wakaf

Wakaf di masyarakat Turki Utsmani sebenarnya mempunyai peran dan misi khusus

– Wakaf mencegah Negara untuk mencampuri Hak atas Properti.
– Wakaf melindungi warisan-warisan arsitektur Islam dan konstruksi lainnya seperti Masjid, Mushola, Saluran air, Air Mancur , Trotoar dan lain-lain dengan cara membiayai pembangunan dan perawatannya.
– Wakaf juga membantu masyarakat dengan memfungsikan dirinya sebagai sistem jaminan sosial (asuransi) dan membayarkan pajak masyarakat di masa-masa sulit.
– Wakaf juga berfungsi sebagai jaminan sosial dengan memberikan dana pensiun kepada orang tua atau penyandang cacat.
– Wakaf memberikan dukungan keuangan kepada Petani, Pengrajin dan lain sebagainya.
– Wakaf juga memberikan santunan atas kerusakan akibat kebakaran , bencana alam dan lain-lain.

Ini jelas, bagaimana wakaf itu betul- betul sebagai peringan APBN Negara Turki Utsmani. Karena tingkat kepercayaan masyarakat. Masyarakat percaya karena Para Sultan itu berilmu sebelum memimpin dan ketika memimpin.

Kita bisa melihat Gedung administrasi Wakaf Turki Utsmani di Nicosia, Cyprus. Kemudian Perpustakaan Pribadi Sultan Ahmed III (memerintah 1703-1730), Sultan Mahmud I (1739) , Sultan AbdulMecid (1839-1861). Di jaman mereka, Perpustakaan mencapai puncak keemasannya.
Ada catatan pribadi Sultan Al Fatih, beliau belajar berbagai bahasa dan juga belajar Seni.

Sultan Al Fatih ternyata sejak belia dididik oleh ulama-ulama yang tersohor, misalnya : Mullah Yegan, Aksem Seddin, Mullah Ayas, Mullah Fenari, Mullah Gunari, Mullah Husrev, Hizir Celebi, Ali Kuscu, Hocazade dan Ali Tusi.
Sultan Al Fatih juga belajar berbagai macam ilmu pengetahuan seperti : Matematika, Geometri, Hadits, Tafsir, Fiqih, Sejarah, Administrasi Pemerintahan, Bahasa Arab, Persia, Latin, Yunani dan Serbia.


Tata Kelola Turki Utsmani Berbasis Peradaban

Kita bisa melihat :

– Strategi Sultan dalam menggiatkan budaya ilmu dan menyiapkan kader- kader pemimpin selanjutnya.
– Mengadakan Perpustakaan baik di Masjid, Kolej, Tekke (Pondok Sufi) dan lain sebagainya.
– Mengintegrasikan ajaran dan membumikannya dalam budaya. Sehingga ajaran-ajaran islam itu menjadi budaya yang berjalan di tengah masyarakat.
Misalnya dari hadits Rasulullah :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ…

“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, ….

Diantaranya adalah seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya”. (HR Bukhori Muslim) .

Hadits ini diwujudkan. Hadits ini dinarasikan, artinya tidak selesai dalam ceramah, kemudian selesai begitu saja. Oleh Sultan diteruskan menjadi semacam tradisi dengan membangun semacam Sadaka Tasi.

Sadaka itu shodaqoh, Tasi itu batu. Jadi semacam kotak amal di pinggir-pinggir jalan, dimana tangan yang masuk ke lubang kotak amal itu tidak ketahuan apakah dia mau mengambil sedekah atau memberi sedekah. Jadi orang yang memberi sedekah dan orang yang menerima sedekah tidak saling mengetahui. Sehingga harga diri orang miskin tidak tercoreng. Dia tetap mempunyai kehormatan diri dan tidak terhinakan sama sekali.

Ada lagi Askida Ekmek atau Roti gantung juga demikian. Filosofinya diambil dari Hadits-hadits atau Al Qur’an. Pemberi sedekah dan penerima sedekah saling tidak mengetahui.

– Sultan juga melakukan semacam kampanye tentang kemandirian ekonomi umat melalui lembaga wakaf yang profesional. Dan ini mampu untuk mengerem / menolak kampanye sistem ekonomi merchantelisme yang berkembang di Eropa.

– Sultan juga membuat Undang-Undang berbasis kemaslahatan dan mengatur semua sendi kehidupan.

– Sultan menjadikan Keadilan sebagai syiar tertinggi pemerintahannya.


Penduduk di Negara Turki Utsmani

Negara Turki Utsmani mempunyai nama resmi Devlet-i ‘Aliyye-yi Osmaniyye. Terdiri dari Ras Turki 33,7%, Arab 13,4%, Slavia 20,5%, Romawi 11,4%, Albania 4,2%, Yunani 5,7% dan seterusnya sampai ada Yahudi juga. Dengan multi etnis dari rakyat itu semuanya mempunyai kesempatan yang sama dalam memperoleh kesejahteraan dapat menjadi Pegawai Pemerintahan. Mempunyai kesempatan yang sama dalam mengabdikan dirinya menjadi pegawai di Negara Turki Utsmani.

Bahkan ada beberapa Sadrazam (Perdana Menteri) bukan dari Ras Turki dan itu banyak sekali misalnya Ibrahim Pasha dizaman Sultan Suleiman bukan Ras Turki melainkan Yunani. Kemudian adalagi Sokollu Mehmed Pasha itu orang Boznia dari negara Balkan. Dari Negara-negara Balkan banyak yang menjadi Menteri atau Perdana Menteri.

Jadi tidak ada Rasisme, atau semangat nasionalisme yang berlebihan sehingga mengalahkan Ras yang lain. Bahkan Turki Utsmani tidak memaksakan bahasa Turki sebagai bahasa nasional yang wajib dikuasai oleh seluruh rakyatnya. Sebagai gantinya bahasa Arab banyak digunakan oleh suku lain sebagai medium bahasa Pendidikan. Kalau di bidang Hukum banyak digunakan bahasa Persia.

Sensus menurut agama yang dianut oleh penduduk Turki Utsmani :
Islam : 58,13%
Roma Ortodoks : 38,34%
Katolik 2,55%
Yahudi 0.48%

Meskipun islam mayoritas tapi selisihnya tidak banyak dibanding agama lain. Ini menandakan bahwa Pemerintah tidak memaksakan rakyatnya untuk masuk islam.
Ketika Turki menaklukkan negara lain, dia memberikan kebebasan kepada dakwah islam untuk masuk, tidak dihalang-halangi. Penduduk juga bebas untuk menerima islam atau tetap dalam keyakinannya.

Jadi toleransi agama pada saat itu merupakan barang yang langka sekali. Karena itu banyak sekali kawasan- kawasan negara yang “mendaftarkan diri mereka untuk dijajah” Turki Utsmani, daripada dijajah oleh negara yang mungkin sama agamanya. Karena meskipun sama agamanya, di negara-negara barat pada waktu itu mereka tidak mengenal toleransi beragama.

Bila ada satu sekte agama menaklukkan negara lain, meskipun seagama namun gereja yang beda sekte dengan mereka akan dihancurkan. Itu bisa kita lihat contohnya Kaisar Serbia yang memilih tunduk kepada Turki Utsmani dari pada tunduk pada Dinasti Habsburg.

Di Turki Utsmani pemeluk-pemeluk agama di luar Islam mempunyai kebebasan untuk mengadakan Pengadilan, Mahkamah sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya dan mempunyai kebebasan mendirikan sekolah menurut agama yang mereka yakini.


Reka Bentuk Pemerintahan Osmanli Devlet-i

Islam merupakan identitas Kesultanan dan Sultan Utsmani yang berpandukan Al Qur’an dan Sunnah dalam membuat Undang-Undang dan Kebijakan.
Adat istiadat masyarakat Turki juga menjadi acuan.

Sultan Al Fatih mengatakan :
“Ini adalah Peraturan, Undang-Undang yang dibuat oleh ayahku dan nenek moyangku. Aku menetapkannya. Oleh karena itu hendaknya generasi- generasi penerusku untuk melanjutkan tradisi-tradisi masyarakat Turki Utsmani yang tidak bertentangan dengan agama Islam”.

Diantara referensi klasik yang digunakan para Sultan dalam mengelola pemerintahan Turki Utsmani adalah Kitab Ahkam Sulthoniyah karya Imam Mawardi yang merupakan tata cara pengelolaan Pemerintahan. Ada juga Kitab Al Kharaj oleh Imam Abu Yusuf madzab Hanafi


Apakah Negara Turki Utsmani negara Monarkhi Absolut?

Untuk menjawab pertanyaan ini kita bisa melihat fakta-fakta :

– Sultan tidak mempunyai kekuasaan dalam Hukum Syari’ah (Hukum Perundang-undangan), karena itu bukan wewenang Sultan, tetapi wewenang Syeihul Islam yang tidak bisa diintervensi sedikitpun oleh Sultan. Maka fatwa seorang Syeihul Islam tidak bisa diganggu gugat oleh Sultan.

– Sultan bisa dipecat oleh mahkamah yang dipimpin Syeihul Islam . Misalnya dalam kasus Sultan Abdul Aziz, Sultan Murad (1876) dan Sultan Abdul Hamid II (1909). Meskipun pemecatan ini tidak selalu karena kesalahan Sultan. Bisa jadi karena fitnah, seperti yang menimpa Sultan Abdul Hamid II.
Yang kita garis bawahi adalah bahwa Sultan tidak mempunyai kekuasaan mutlak.

– Putra Sultan Suleiman Al Qanuni dihukum mati karena bekerjasama dengan dinasti Safawi.

– Sultan juga mengirimkan pegawai- pegawai rahasia untuk menyelidiki tugas amir-amir wilayah (Gubernur dan Bupati).
Apakah mereka menjalankan Pemerintahan dengan baik?
Jika terbukti tidak menerapkan prinsip keadilan, maka hukuman maksimalnya adalah hukuman mati. Minimal dipecat.

– Anak-anak Sultan tidak ada yang menduduki jabatan apapun dalam pemerintahan selain Putera mahkota. Terlebih lagi setelah masa Sultan Selim II (1566-1574). Namun sebelumnya, putera mahkota ditugaskan menjadi Sanjakbeg atau Sanjak Bey ( walikota atau Gubernur atau Bupati) di wilayah-wilayah untuk mempersiapkan dirinya sebagai seorang Sultan. Dia cakap atau tidak memimpin di daerah , kalau cakap diteruskan menjadi Sultan.

Tetapi setelah Sultan Selim II, banyak sekali musuh-musuh Turki Utsmani yang mengancam keselamatan putera mahkota yang ditugaskan menjadi Sanjakbeg tadi. Maka pendidikan atau persiapan Kepemimpinan itu dilakukan dalam Topkapi Sarayi di Istambul di Pusat Pemerintahan Turki Utsmani.


Struktur Pemerintahan Osmanli Devieti

– Sultan sebagai Pemegang Kekuasaan Tertinggi.
– Sadrazam (Perdana Menteri).

– Vezir, yaitu Menteri. Definisinya sangat unik : orang-orang yang bahunya mengambil tanggung jawab untuk meringankan beban masyarakat.
Jumlahnya berubah dari masa ke masa.

– Kazasker (Pengadilan Militer).
Di Rumeli, wilayah Turki Utsmani bagian Eropa , di Anatolia untuk wilayah Asia dan di Afrika.
Kazasker menghukum Pejabat Militer yang tidak amanah.

– Defterdar dan Basdefterdar.
Semacam Accounting, Menteri Keuangan. Dipilih dengan kriteria : Amanah, Berakhlak baik, Hemat, Mencari income untuk negara. Mendapatkan gaji tinggi agar tidak mudah disuap.

– Nisanci (Mensesneg) . Dia yang menyiapkan dekrit Presiden, kemudian mendokumentasi dan menyebarkannya.
Dekrit Presiden ini juga tidak mutlak harus berjalan. Dia bisa dibatalkan oleh Fatwa seorang Mufti atau Syeihul Islam.

– Sanjak Beg atau wali kota.

Sultan pun harus mendapatkan persetujuan dari Syeihul Islam dalam membuat Kebijakan, Undang-Undang atau Dekritnya (Firman Sultan).
Syeihul Islam selevel dengan Perdana Menteri. Bedanya Syeihul Islam keputusannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun (termasuk oleh Sultan).


Kedudukan Syeihul Islam

– Syeihul Islam bertanggung jawab pada urusan mahkamah, fatwa, pendidikan dan keilmuan, serta persetujuan atas firman (dekrit Sultan).
– Syeihul Islam diangkat Sultan, tapi Sultan tidak bisa mengintervensi keputusan Syeihul Islam dan Kazasker
– Sultan bisa mengganti Syeihul Islam tetapi tidak bisa menolak atau mengabaikan fatwanya.
– Syeihul Islam bisa menolak firman Sultan (dekrit Sultan) seperti yang dilakukan Syeihul Islam Abu Al Su’ud Efendi : “Tidak sah perintah Sultan jika tidak berjalan sesuai dengan Syari’at”.

Inilah yang membuat Pemerintahan Turki Utsmani selalu dalam rel-rel Keadilan. Tetapi disisi lain, ketika Syeihul Islam dijabat oleh orang-orang yang tidak amanah, meskipun dia berilmu, maka disitulah awal kehancuran dari Turki Utsmani. Sebagaimana pernah terjadi, Syeihul Islam disusupi , dijabat oleh anggota Free Masonry. Inilah yang menandai kehancuran Turki Utsmani, termasuk dicopotnya Sultan Abdul Hamid II.

– Syeihul Islam bisa menghakimi Sultan dan mencopot jabatannya. Tetapi Sultan tidak bisa menghakimi Syeihul Islam.


Contoh-contoh dan Kesimpulan

Undang-Undang yang dibuat oleh Sultan dengan latar belakang keilmuannya.

Undang Undang Restoran dan Penjual Makanan.

“Hendaknya juru masak di restoran, penjual nasi dan roti memegang teguh (memperhatikan) proses memasak dengan baik, dan bersih. Kemudian menyajikan makanan dengan piring dan tempat yang higienis yang dicuci dengan air dan dibersihkan dengan sapu tangan (serbet). Tempat penyajian piring dan sendok yang besar hendaknya terbebas dari penyakit (kuman)”.


Undang-Undang dalam memanfaatkan hewan.

“Tidak menggunakan kuda yang luka (sakit), dan tidak boleh lalai memberi minum kuda dan keledai, serta menyediakan rumput. Tidak boleh memberi beban pada binatang tersebut melebihi kapasitasnya, sebab ia adalah hewan yang tidak bisa mengeluh”.

Kalau hewan saja sangat diperhatikan dalam Pemerintahan Turki Utsmani, apalagi manusianya ? Disitu ada juga Undang-Undang yang sangat melarang sekali penangkapan orang tanpa melalui prosedur Pengadilan.


Contoh Wakafnya Sultan Al Fatih :

Sahn Seman (Universitas yang memproduksi ulama-ulama dan ahli-ahli hukum).

Masjid Al Fatih, disampingnya dikelilingi lembaga-lembaga Pendidikan. Termasuk penginapan gratis bagi musafir selama tiga hari dengan mendapat makan dan minum. Kalau lebih dari 3 hari dia harus bayar. Biayanya 20 Akce atau sekitar 50 Lira uang sekarang (kurang lebih 100 ribu rupiah).

Hal yang unik di pintu masuk masjid ada tulisan persyaratan wakaf oleh Sultan Al Fatih :

Wasiat untuk memakmurkan masjid Al Fatih :
1. Mempersiapkan 10 Hafiz Al Qur’an untuk membaca Al Qur’an tiap hari jum’at sebelum Shalat Jumat dilaksanakan.
2. Mempersiapkan setiap hari di setiap selesai Shalat Subuh 20 orang sholeh untuk membacakan khatim (do’a, shalawat dst)
3. Mempersiapkan setiap hari di setiap selesai Shalat Subuh 20 orang sholeh untuk membaca 70.000 kalimatut Tauhid.
4. Mempersiapkan setiap hari disetiap selesai shalat Subuh 10 orang sholeh untuk membaca 10.000 shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Yang bertugas ini diberi gaji tetap. Wakaf masjid biasanya diiringi dengan wakaf produktif.
Dapurnya biasanya pasar-pasar atau rumah-rumah yang disewakan, dimana hasil penyewaan digunakan untuk operasional masjid dan kesejahteraan bagi orang-orang yang bertugas di dalamnya.


Hal-hal yang bisa diteladani dari Sultan Turki Utsmani

Kepribadian Sultan Al Fatih itu dia sangat jarang untuk tertawa terbahak- bahak.
Dia sangat cerdas, kecerdasannya terus bekerja dalam segala pekerjaan yang sedang ditangani.
Beliau juga berbicara dengan bahasa Turki, Yunani, Serbia dengan sangat fasih sekali dan sangat piawai sekali membaca dan memahami bahasa- bahasa lain, termasuk bahasa Arab karena ada Undang-Undang yang ditulis oleh Sultan Al Fatih dalam bahasa Arab, termasuk Akta Wakaf Masjid Hagia Sophia. Panjang gulungan Wakaf itu sampai 63,5 meter dengan lebar 80 cm.

Beliau setiap harinya ada waktu khusus untuk membaca. Jadi setelah menjabat Sultan, beliau selalu menyediakan waktunya untuk memperdalam ilmu. Buku yang beliau gemari adalah buku sejarah. Pemimpin harus “melek” sejarah sehingga kebijakan-kebijakannya tidak kontra produktif. Diantara buku sejarah yang beliau baca : At Tarikh Ar Romawi (Sejarah masyarakat Eropa).

Dengan begitu beliau juga menguasai ilmu Geografi, secara khusus Geografi Italia, karena setelah beliau menaklukkan Konstantiopel beliau ingin mewujudkan sabda Nabi yaitu menaklukkan Roma.
Beliau juga menguasai semua Pemerintahan yang ada di Eropa dan yang lebih hebat beliau mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here