Henri Shalahuddin Phd

1 Dzulqo’dah 1442 / 12 Juni 2021



Pendahuluan

Sebagai umat Islam kita perlu mengetahui akar budaya kita, akar ajaran kita serta pencapaian generasi -generasi sebelum kita sehingga semangat untuk memperbaiki diri bisa diwariskan dari generasi ke generasi , kita bisa konsisten dalam merawat cita-cita kita sebagai khoiru ummah.

Sebagai khoirul ibad, hamba yang terbaik bagi percontohan umat manusia, sebab umat Islam adalah sebaik-baik umat, sebagai umat percontohan dimana kemunduran umat Islam itu bukan hanya merugikan umat Islam itu sendiri, tetapi merugikan umat manusia seluruhnya dan merugikan alam semesta.

Sebab manusia akan kehilangan contoh bagaimana seharusnya menjadi manusia yang baik.
Baik kepada Tuhannya, baik kepada alam sekitarnya, baik kepada sesama manusianya. Kalau umat Islam mundur, berarti manusia itu sebenarnya kehilangan patokan untuk menjadi hamba yang baik.

Oleh karena itu kita akan mengkaji salah satu pencapaian generasi sebelum kita. Profil terakhir kepemimpinan pemerintahan yang didasarkan ajaran islam. Islam memang tidak sebatas ibadah ritual dan kemudian selesai tidak ada hubungannya dengan pembangunan peradaban.

Ternyata semua segmen dari ibadah dalam Rukun islam, Rukun iman dan Amar makruf nahi mungkar itu merupakan motor penggerak pembangunan peradaban itu sendiri.
Bisa kita lihat dalam Rukun islam ada ibadah-ibadah yang gratis seperti Syahadat, Shalat, Puasa itu semuanya gratis tidak berbayar. Tetapi ada dua ibadah lainnya yang menjadi Rukun islam menjadi ibadah yang tidak gratis!
Seperti Zakat dan Haji.

Ini selanjutnya bisa menjadi motivasi kita sebagai generasi khoiru ummah. Sebagai landasan ketika kita mencari pekerjaan, ketika kita bergerak mencari anugerah Allah.

Niat utamanya mudah-mudahan dengan tugas pekerjaan ini kita diberi kemampuan untuk mengeluarkan zakat setiap tahun dan terus bertambah. Itu motivasinya.

Tidak ada satupun umat islam yang faham betul tentang agamanya tidak ada yang bercita-cita menjadi penerima zakat yang terbesar. Pasti dalam dirinya berharap untuk dapat melengkapi rukun islam dengan membayar zakat setiap tahun.


Sekilas Tentang Daulah Utsmaniah

Sebenarnya negara Turki Utsmani adalah sebuah contoh negara yang lahir dari perwujudan peradaban Wakaf. Negara yang dikembangkan dengan wakaf.

Kalau di negara kita saat ini kita bisa melihat Pondok Gontor, sebuah lembaga Pendidikan yang berdiri sebelum Indonesia ada yang diazaskan dengan wakaf.
Makanya kita lihat sekarang ini biaya pendidikan di Gontor sangat terjangkau karena disubsidi oleh wakaf hampir 70%nya.

Misalnya uang makan dalam satu bulan hanya 330 ribu rupiah. Berarti seharinya cuma 10 ribu rupiah dan sekali makan cuma 3300 rupiah, padahal Santri-santri bebas nambah makannya dengan lauk yang selalu variatif.

Negara Turki Utsmani merupakan sebuah negara yang dipimpin oleh Sultan-Sultan yang mengetahui rahasia peradaban dan kunci kejayaan. Ini karena Sultan-Sultan yang memimpin itu mempunyai perbekalan. Dia disiapkan untuk menjadi seorang Pemimpin. Pemimpin yang bukan hanya sebagai simbol kekuasaan atau rutinitas menggantikan pendahulunya, ayahnya seorang Sultan, maka dia akan mewarisi sebagai Sultan.

Bukan sekedar itu, tapi betul-betul disiapkan dengan Skill Kepemimpinan, disiapkan dengan keilmuan yang memadai. Dipersiapkan untuk mengantisipasi, untuk memimpin rakyatnya yang sangat beragam.

Pembangunan negara Turki Utsmani yang wilayahnya sangat luas, terbentang di tiga benua. Sama sekali tidak mengandalkan kekuatan APBN. Karena APBN juga tidak akan mampu untuk mengcover wilayah Turki yang sangat luas itu.

– Bagaimana membangun infrastrukturnya?
– Bagaimana membangun pendidikannya?
– Bagaimana membangun sarana- sarana ibadah rakyatnya yang sangat banyak itu?
– Bagaimana negara itu akan mensejahterakan pegawainya, rakyatnya ?
– Dan lain sebagainya.

Tidak mungkin APBN Turki Utsmani bisa mengcover seluruh proses Pembangunan dan Pemakmuran rakyatnya. Untuk itu kecerdasan Sultan sangat berperan disini. Maka dia mentradisikan Budaya Wakaf.

Tradisi ‘memberi’ dari masyarakat Turki Utsmani itu luar biasa. Sehingga selama tiga abad dari rentang waktu sejak tahun 633, negara Turki Utsmani berkembang menjadi negara Super Power.


Turki Utsmani sebagai prototype negara wakaf

Ini merupakan suatu hal yang menarik sekali. Apalagi di era kehidupan kita sekarang ini, dimana seseorang sudah mulai hidup dengan gaya hedonis, sangat individual sekali. Maka terasa sangat aneh ada orang yang pagi sampai malam bekerja kemudian sebagian hasil pekerjaannya itu diwakafkan untuk kepentingan banyak orang. Ini merupakan suatu hal yang aneh apalagi bagi orang-orang yang tidak beriman.

Wakaf di masyarakat Turki Utsmani itu merupakan ekspresi ketaatan kepada agama dan kecintaan masyarakat Utsmani kepada Negara/Pemimpinnya. Bagaimana kesadaran ini bisa tersebar luas? Nanti akan kita bahas dalam bagian kedua tulisan ini.

Pada umumnya wakaf itu diselenggarakan oleh masyarakat dan merupakan organisasi yang berada diluar mekanisme Negara. Jadi Negara tidak mengintervensi Yayasan-Yayasan Wakaf yang berkembang di masyarakat.

Negara tidak akan menetapkan siapa nadhir-nadhir wakaf, yaitu orang yang dipercaya pewakif untuk mengelola wakafnya. Negara cuma memastikan bahwa tujuan pewakaf terhadap harta yang diwakafkan sesuai dengan dikehendaki pewakafnya. Dia mengontrol supaya tujuannya tidak diselewengkan oleh Nadhir.

Makanya semua wakaf, salinan Akta Wakafnya atau Ikrar Wakaf diserahkan kepada Pengadilan. Ikrar Wakaf ini terdokumentasi sangat rapi sekali sehingga di Istambul saja ada 1,5 juta manuscript tentang wakaf.

Jadi sebetulnya wakaf yang dikelola oleh organisasi masyarakat sipil, sebagai dinamika sosial di masyarakat itu sangat mampu meringankan beban Negara dalam layanan Pendidikan, Keagamaan dan Pembangunan Infra Struktur.

Meskipun masyarakat Turki Utsmani yang beragam ras , beragam bahasa, dan beragam agama itu sebagaimana masyarakat lain dia juga punya kewajiban Pajak, punya kewajiban Zakat dan bagi yang non muslim punya kewajiban Kharaj atau tanda Ketaatan kepada Pemimpin. Tetapi semuanya itu tidak cukup untuk melakukan pembangunan. Maka Sultan atau Pemimpin mengadakan gerakan wakaf.


Protret Umum Kedudukan dan Kepribadian Sultan.

Bagaimana protret umum kedudukan dan kepribadian Sultan sehingga dia sangat dicintai oleh rakyatnya? Sehingga dia sangat ditaati dan mempunyai kewibawaan yang sangat besar? Meskipun kebanyakan pemimpin-pemimpin di Negara Turki Utsmani itu ketika dilantik masih sangat muda belia. Ada yang belasan tahun, ada yang dua puluh tahun atau menginjak tiga puluh tahun.

Jarang sekali kita dapati seorang Pemimpin ketika dilantik di Turki Utsmani sudah mencapai usia-usia yang udzur (60 tahun ke atas), kecuali satu yaitu pengganti Sultan Abdul Hamid II. Yaitu Sultan ke 35 atau disebut Sultan Muhammad V. Pada saat itu beliau dilantik pada usia 65 tahun. Pada saat itu pula Turki mengalami kemunduran yang luar biasa.

Karena Negara Turki Utsmani ini merupakan perwujudan negara wakaf, maka kemunduran Turki Utsmani juga didahului oleh mundurnya Institusi- institusi wakaf.

Seorang Sultan merupakan pemimpin tertinggi dan Panglima Militer di Negara Turki Utsmani.
Profil Sultan kebanyakan juga merupakan ahlul ilmi wal ma’rifah. Dia pakar yang mempunyai latar belakang keilmuan dan Pengetahuan.

Misalnya Sultan Al Fatih, menguasai 5 atau 6 bahasa : Bahasa Turki sebagai bahasa ibu, Bahasa Arab, Bahasa Persia, Bahasa Serbia, Bahasa Yunani dan Bahasa Latin. Ini karena rakyatnya sangat multi etnis dan beragam bahasa. Karena Turki Utsmani tidak mewajibkan masyarakatnya berbicara dengan bahasa resmi maka Sultannya harus menguasai beberapa bahasa yang beredar di rakyatnya.

Disamping itu Sultan Al Fatih juga mendirikan beberapa Pusat study bagi para cerdik pandai lintas disiplin ilmu di Istambul. Maka ketika menaklukkan Konstantiopel, wajah Konstantinopel diubah menjadi pusat peradaban islam. Kemudian disebut dengan Istambul yang berasal dari kata Islam Bol (The city of islam)

Sebagai sosok ahlul ilmi wal ma’rifah banyak sekali Sultan-Sultan di Negara Turki Utsmani yang memiliki Perpustakaan pribadi dan menguasai lebih dari 3 bahasa. Disamping itu profil Sultan juga merupakan ahli Perundang-undangan. Misalnya Sultan Suleiman Al Qanuni. (Al Qanuni berasal dari kata Qanun yang artinya Undang Undang). Karena di masanya itu beliau banyak sekali membuat Undang- Undang yang sangat detail untuk menjalankan Pemerintahnya sehingga budaya dan dinamika di masyarakat teratur dengan baik.

Disamping Sultan Suleiman Al Qanuni juga ada banyak yang lain, seperti Sultan Mahmud, atau sebelumnya Sultan Al Fatih juga membuat perundang undangan yang sangat detail sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Sultan juga merupakan ahli Perencanaan kota dan tata kelola pembangunan. Contohnya, Turki Utsmani itu merupakan negara yang pertama kali mencetuskan sensus penduduk untuk mengetahui kapasitas penduduknya, termasuk dalam bidang militer dan ekonomi. Jadi bukan sensus penduduk yang hanya menghitung jumlahnya saja, dibagi menurut jenis kelaminnya saja atau profesinya saja. Tetapi sensus ini digunakan sebagai data sebagai langkah ke depan melakukan pembangunan yang akan dilakukan.

Sultan juga merupakan simbul kekuatan berdiplomasi dan juga simbul kekuatan Perdamaian. Ini bisa kita lihat dalam rentang sejarahnya yang sangat panjang. Jadi tidak hanya perang, tapi Sultan mempunyai kekuatan berdiplomasi.

Sultan memiliki kepiawaian memimpin rakyatnya yang multi ethnis, multi bahasa dan beragam agama dan budaya. Dan dikenal sebagai pelopor wakaf. Disini kita bisa lihat mengapa wakaf bisa mentradisi sekali di masyarakat Turki Utsmani.


Bentuk Pembangunan Negara Utsmani dengan Wakaf

Hasil atau Produk-produk wakaf secara garis besar terbagi menjadi tiga kategori , meskipun tidak semuanya bisa diakomodir dalam tiga kategori ini :

1. Produk Wakaf Kategori Spiritual (Ruhiyah)

– Pembangunan masjid.
– Wakaf mushaf Al Qur’an.
– Wakaf untuk kesejahteraan bagi Imam, Khotib, Marbot dan Biaya operasional Masjid.
– Wakaf untuk kesejahteraan bagi Pembaca Al Qur’an, Shalawat, pembaca Khatim (pembaca do’a) di masjid Jami’ di Fatih Camii dan masjid-masjid lainnya.

2. Produk Wakaf Kategori Intelektual

– Wakaf untuk Lembaga-lembaga Pendidikan seperti Kuttab atau Madrasah Ibtidaiyah, Medrese (Universitas), Teke (Pondok Sufi) , Khawaniq (Rumah-rumah bagi para pelajar) , Darul Funun (Universitas Applied Science), Dar Al Tibb (Fakultas Kedokteran), Darul Qura’ (Kajian Al Qur’an) , Enderun Mektebi (Sekolah Pendidikan Pegawai- semacam STPDN disini).

– Wakaf untuk Penerbitan Karya Ilmiah dan Perpustakaan.

Jangan dibayangkan perpustakaan itu murah, karena dulu belum ada percetakan sehingga menggandakan buku itu adalah menulis ulang. Biaya satu buku itu harganya sangat mahal. Banyak orang menjual sawah atau menjual rumah untuk membeli buku. Berbeda dengan sekarang, mungkin orang menjual buku untuk membeli rumah atau membeli sawah.

Orang yang kaya banyak yang mewakafkan buku untuk mendirikan Perpustakaan atau menerbitkan Karya Ilmiah. Buku yang dihasilkan dalam segala bidang keilmuan, setelah selesai ditimbang berapa beratnya. Kemudian diganti emas dan diberi insentif. Pembayaran oleh Baitul Mal. Dengan demikian hak ciptanya sudah menjadi milik Baitul Mal.

– Wakaf untuk Pendidikan wanita yang siap menikah.
– Wakaf untuk Pelatihan Profesi bagi generasi muda, dan lain sebagainya.

3. Produk Wakaf kategori Moral/Sosial

– Produk wakaf Hamam (Turkish Public Bath, Pemandian umum) , Sebil (Kran Air minum di jalan-jalan), Sumur dan Imaret (Dapur Umum)

Imaret setiap harinya menyediakan menu-menu makanan untuk 500 sampai 2000 orang. Dan ini tersebar luas diseluruh Turki Utsmani sehingga orang yang paling miskin di negara itu bisa merasakan menu makanan kelas orang kaya, minimal sepekan sekali pada Hari jum’at. Menu makanannya dikenal dengan “dane” ( daging kambing dan nasi) dan “zerde” (nasi yang diwarnai dan dibumbui dengan kunyit dan dimaniskan dengan madu atau gula)

– Ada produk wakaf yang disalurkan untuk santunan orang tua, anak yatim, fakir miskin dan penyandang disabilitas.

– Wakaf asuransi untuk musafir. Ada juga Rumah sakit khusus untuk musafir.

– Jaminan untuk menyusui.
Wakaf khusus untuk melayani orang-orang yang terjerat hutang (gharim).

– Wakaf untuk istri yang marah (bait duqqah).

Semacam shelter, rumah singgah bagi istri yang dimarahi/marah pada suami dan rumah orang tuanya jauh. Istri yang marah itu bisa tinggal disitu dan makan disitu sampai masalah rumah tangganya mereda. Di Bait Duqqah juga disediakan advokat untuk menjadi Pembelanya, membantu dia sehingga kembali kepada suaminya atau bercerai dengan baik-baik.

– Bea Siswa menikah bagi pemuda yang kurang mampu. Namun tentu saja ini hanya untuk pernikahan yang pertama kali.

– Wakaf penggantian barang majikan yang rusak oleh pekerja. Karena kadang-kadang ada pekerja yang memecahkan piring karena dia tidak sengaja dan tidak mampu mengganti serta diancam untuk dipecat.

– Tunjangan untuk orang tua pemilik perahu penyeberangan yang tidak mampu bekerja.

– Sarana kesehatan dan dokter, bahkan ada apotik yang membagikan obat, sepekan dua kali memberi pelayanan obat gratis bagi masyarakat.

– Wakaf untuk hewan dan penguburannya. Termasuk kuda-kuda yang sudah tidak produktif. Karena sudah tua, oleh pemiliknya sudah dilepaskan. Kuda-kuda yang dibuang itu dikumpulkan oleh institusi wakaf dan diberi makan.

– Wakaf untuk infra struktur, jembatan dan saluran air dan sebagainya.

Kenapa masyarakat mau berbondong -bondong mewakafkan hartanya? Ternyata itu karena Peran Pemimpin.


BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here