dr. Rahaju Boedi Muljanto. SpKJ

15 Dzulqo’dah 1442 / 26 Juni 2021



Memahami Stigma


Masalah pandemi ini belum habis-habis, bahkan makin bertambah parah dan situasinya makin runyam. Bermacam-macam kejadian terjadi di sekitar kita. Banyak issue yang muncul dan issue ini makin meningkatkan stigma.

Bahasan yang akan kami sampaikan adalah mengenai : Stigma, Pandemi Covid-19, Gangguan Psikis akibat Pandemi dan Bagaimana kita mengatasi gangguan Psikis akibat Pandemi ini.

Tentunya kita tetap mempunyai prinsip bahwa pencegahan itu lebih baik daripada pengobatan. Ini harus kita perhatikan baik-baik. Apalagi seperti kita ketahui bahwa Covid yang ada sekarang ini yang semula menakutkan ternyata memang betul-betul menakutkan. Ini akibatnya terhadap situasi mental kita, kondisi mental kita jadi terganggu.

Mau tidak mau, suka tidak suka kita terpapar informasi Covid-19. Sampai ada yang mengatakan : “Ya sudah, sekarang tidak nonton TV saja”.
Karena di TV isinya Covid. Kalau beberapa waktu yang lalu sudah berkurang berita para Nakes yang membawa jenazah, akhir-akhir ini mulai muncul lagi dengan berita-berita. – Tempat pemakaman habis.
– Tempat perawatan penuh sesak
Ini sebetulnya perlu kita antisipasi supaya kita bisa menjaga kesehatan kita sendiri.

Kita masih ingat ada jargon atau semboyan. IMAN – IMUN – AMAN.
Iman tentu kita pertama tawakal kepada Allah SWT. Yang kedua kita juga harus memahami bahwa iman itu urusan vertikal kepada Allah SWT dan kita juga harus memperhatikan hubungan horizontalnya. Kita harus memahami sebetulnya apa yang sedang terjadi di sekitar kita.

Stigma adalah suatu kondisi yang bukan barang baru. Kita baca riwayat- riwayat di dalam kisah keagamaan dulu sudah ada stigma ini. Yang paling tua adalah lepra atau kusta.
Orang sakit kusta sejak zaman Nabi Isa sudah muncul. Dan penderita kusta dikucilkan karena stigma terhadap kusta. Tapi sekarang penderita kusta sudah dapat hidup dengan bebas karena obatnya sudah ditemukan. Sudah terbukti bahwa kusta dapat diobati dan disembuhkan.

Demikian juga sering terjadi pada kesehatan jiwa. Saya sendiri berhadapan dengan situasi dimana stigma terhadap penderita gangguan jiwa demikian hebatnya.

Berikutnya adalah pada penderita HIV AIDS. HIV AIDS juga mengalami stigmatisasi. Mereka lalu dikucilkan padahal kadang-kadang yang menstigmakan lebih dulu meninggal dari pada penderitanya.

Apa yang terjadi di sekitar kita harus kita kenali. Setahun yang lalu kita berhadapan dengan Covid-19 yang demikian ditakuti. Sekarang muncul varian baru, varian Delta yang Informasinya demikian luar biasa. Kalau kemarin katanya cukup pakai masker, sekarang maskernya harus dobel.

Penjelasannya biar dari pakarnya, saya tidak berani berkomentar lebih jauh, tetapi kita harus mengetahui bahwa itu semua ada di sekitar kita dan kita harus mengantisipasi, kita harus berbuat banyak untuk itu.

Kata stigma itu sendiri adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Yang dimaksud pengaruh lingkungan adalah persepsi masyarakat terhadap apa yang disandang atau diderita oleh individu. Kalau ada yang beda sedikit lalu dia seolah-olah dikucilkan.

Stigma ini tidak akan ada habisnya. Padahal seperti pada kusta, begitu ditemukan obatnya, kusta sekarang sudah bukan merupakan sesuatu yang dijadikan stigma.

Saya masih ingat dulu waktu saya masih SD di Jakarta ada yang namanya Crossboy yang kerjanya tukang berkelahi. Ada salah seorang Crossboy yang menderita kusta. Dia paling ditakuti diantara teman- temannya. Karena kalau didekati takut ketularan. Kata dia untungnya ada kusta sehingga dia bisa menang- menangan di kelompoknya.

Sekarang rumah sakit kusta sudah dikonversi menjadi rumah sakit umum biasa. Ini harus kita fahami bahwa suatu saat yang menjadi stigma itu akan hilang, tapi kalau sekarang kita harus waspada.

Stigma ini kalau kita lihat sebetulnya berubah-ubah, berpindah-pindah dari satu penyakit ke penyakit lain. Sifatnya adalah stereotype hanya masalah pembedaan antara dia dan kita. Antara saya dengan anda, antara yang sakit dengan yang mengaku sehat. Saya katakan mengaku sehat karena kita semua yang menstigmakan ini belum tentu lebih sehat dari pada yang sakit.

Ini juga biasanya terkait dengan status sosial yang rendah, kemudian ada diskriminasi. Dia dikucilkan, kemudian ada labelling atau penamaan yang kadang-kadang menjadi nama-nama yang tidak menyenangkan untuk didengar oleh penderitanya.

Beberapa hari terakhir ini kami dari Kesehatan Jiwa juga menyoroti pembicaraan di medsos , antara lain oleh Deddy Corbuzier bahwa katanya orang gila itu nggak ada yang kena Covid. Dia tidak tahu bahwa di semua RSJ di Indonesia ada ruang untuk penderita Covid. Bahkan saat ini di RSJ Surakarta dititipi juga pasien yang bukan gangguan jiwa.

Tentu stigma ini harus kita stop. Dalam kedokteran jiwa sejak zaman dulu juga ada stigmatisasinya walaupun sekarang mulai hilang. Kita harus perhatikan, apalagi sekarang hampir semua orang yang ingin menduduki jabatan harus lewat RSJ. Sehingga mereka faham bahwa RSJ bukan hanya untuk penderita gangguan jiwa yang berat. Banyak juga yang mereka kena gangguan jiwa ringan lalu langsung kita tangani juga.

Covid-19 ini adalah bagian dari masalah kesehatan umum, bagaimana sesuatu yang sangat buruk mengalami stigmatisasi. Ini sangat merugikan baik kepada penderita juga pada lingkungan sendiri.

Termasuk kita yang sehat juga mengalami stigmatisasi. Secara tidak langsung kita melakukannya terhadap penderitanya. Kita takut bertemu.
Betapa sulitnya sekarang kita menemukan tenaga kesehatan yang bisa bekerja dengan tenang di rumah sakit yang merawat pasien Covid.
Semuanya ini menjadi lingkaran setan. Ini harus kita potong.


Mengatasi Stigma

Kepada Individu :

Harus ada Penatalaksanaan yang profesional terhadap penderita yang terbukti baik. Kemudian dilanjutkan dengan tindak lanjut edukasi.
Ini penting sekali, karena kita temukan beberapa orang yang mengalami terpapar oleh Covid-19 tanpa gejala. (dulu disebut OTG). Mereka diisolasi di Rumah Sakit lalu keluar dari Rumah Sakit. Di luar dia mengatakan bahwa Covid itu tidak ada.

Apalagi yang tidak pernah terpapar oleh Covid , sering menyatakan bahwa Covid tidak ada. Ini harus kita edukasi supaya memahami bahwa yang namanya Covid itu ada. Bahwa itu sudah ditemukan oleh para ahli.

Kepada Masyarakat :

Termasuk saya sendiri sebagai dokter walaupun sudah mengikuti webinar berulangkali merasa bahwa sosialisasinya selalu ketinggalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Seperti waktu ada kejadian tsunami Covid-19 di India kita mengikuti berbagai webinarnya karena sekarang secara online, tidak menduga demikian cepatnya ternyata sampai ke negeri kita.

Sosialisasi yang benar tentang Covid ini seharusnya lebih massive lagi agar masyarakat lebih waspada.
Satu tahun yang lalu kita lihat di desa- desa, di RT RW ada pos-pos yang menjaga, sekarang justru pada situasi yang seperti ini tidak kelihatan.

Publikasi tentang langkah-langkah penanganan nampaknya juga ketinggalan dengan kecepatan virus itu sendiri, sehingga publikasi yang muncul tidak cukup cepat untuk mengantisipasinya.

Yang terjadi memang diluar dugaan, seperti varian delta yang sekarang perlu disosialisasikan para ahli.
Saya tidak berani menyampaikannya karena yang saya baca terlalu banyak, sehingga saya tidak tahu mana yang benar. Katanya begini, katanya begitu kecepatannya sehingga sekarang harus masker dobel. Padahal beberapa waktu yang lalu katanya masker dobel tidak efektif.

Keterbukaan terhadap data harus dijamin sehingga masyarakat bisa melihat. Karena sekarang kita hidup di era digital sehingga data ini menjadi sesuatu hal yang penting untuk difahami masyarakat.

Masyarakat juga selalu meminta bukti. Kalau belum ada bukti, mereka belum percaya. Ini yang sulit, sehingga sosialisasi yang bagaimanapun juga tanpa keterbukaan menjadi polemik sendiri. Katanya begini tetapi yang terjadi adalah hal yang lain.


Pandemi Covid-19

Covid-19 pertama kali dilaporkan di Wuhan tahun 2019 sehingga namanya Covid-19. Di Indonesia bulan Maret 2020 baru mulai ditemukan, tetapi itupun belum banyak gerakan walaupun para ahli sudah berteriak- teriak.

Berikutnya kita harus bekerja di rumah ,belajar di rumah, ibadah di rumah. Akibatnya mempengaruhi kondisi psikis individu. Sehingga yang muncul waktu itu disebut sebagai Cabin Fever.

Orang yang terkurung di rumah, tidak kemana-mana, banyak yang terjadi padanya. Makin terkurung makin berkurang imunnya. Kalau keluar terpapar malah sakit, mau ke luar takut di dalam jenuh. Inilah yang menyebabkan individu mengalami stress.

Kita ingat pada paparan yang lalu tentang jiwa, ada unsur Organo Biologis atau fisik, kemudian ada unsur Psikologis yang sekarang kita bahas dan ada Sosial Budaya.

Beberapa waktu yang lalu, ada faktor budaya waktu muncul klaster di Sampang kemudian klaster di Kudus. Banyak dinilai orang karena pengaruh sosial budaya sehingga berdampak ke fisik. Ini semua dilandasi Spiritual dan Religi.

Maka dengan agama islam kita, kita harus dapat memperkuat iman kita.
Kembali lagi kita dengan Iman dan Imun maka kita akan Aman.


Mengenal Stress

Individual akan mengalami stress dengan Cabin Fevernya. Stress ini adalah kata-kata sehari-hari yang sering kita temui.
Banyak individu yang mengatakan : “Saya lagi stress lho.. “
Tapi kalau ada yang berkata : “Kamu lagi stress ya?” ternyata dia marah.
Jadi kita harus memahami apa itu stress.

Stress adalah respon atau reaksi pikiran dan atau tubuh terhadap ancaman, kejadian atau perubahan baik yang nyata maupun yang tidak nyata. Hikmahnya kejadian yang nyata ini sering tidak kita pahami. Kalau yang kejadiannya tidak nyata maka individu itu betul-betul mengalami gangguan jiwa yang serius.

Yang kita hadapi sekarang adalah betul-betul keadaan yang nyata, perubahan di lingkungan kita, situasi yang mencekam dengan pandemi tadi. Sebentar-sebentar kita harus takziah.
Sebentar-sebentar kita mendengar ada yang meninggal. Membuka TV isinya berita orang yang meninggal dan Rumah Sakit yang penuh dimana- mana.

Kita harus memberikan respon, bukan malah melarikan diri. Kita harus memberikan respon yang sehat terhadap kondisi yang demikian mencekam.

Ancaman, kejadian atau perubahan itu sendiri disebut sebagai stressor. Stressor bisa internal berupa pikiran, keyakinan atau sikap. Adapun stressor eksternal adalah kehilangan, tragedi, dan perubahan.

Apa yang terjadi sekarang merupakan gabungan antara internal dan eksternal. Eksternal dari situasi yang sekarang ini boleh kita katakan sebagai tragedi. Sementara yang internal dari pikiran kita, kekurang tahuan kita, kekurangan informasi yang benar yang kita dapat juga menjadi sesuatu stressor yang berat untuk kita. Kita tidak bisa memberikan respon atau reaksi yang baik, baik fisik maupun mental kita.

Stress ada dua bentuk :

Eustress atau stress yang positif, ini terjadi manakala stessornya menimbulkan motivasi yang cukup tinggi untuk memotivasi kita berbuat sesuatu atau untuk mencapai sesuatu.
Di dalam kehidupan sehari-hari kita membutuhkan stessor. Tanpa stressor kita tidak akan maju dan diri kita tidak akan hidup.

Distress atau stress negatif dimana tingkat stressnya terlalu tinggi atau terlalu rendah. Jadi orang tanpa stressor itu bukannya nyaman, tapi malah tidak enak.

Contohnya kalau kita biasanya bekerja atau biasanya keluar rumah, kemudian kita harus tinggal di rumah, maka yang terjadi adalah Cabin Fever. Sehingga mental atau fisik memberikan respon negatif terhadap stressor. Kita tidak tahu mau ngapain lagi ? Atau kita harus bertahan menghadapi stressor itu.


Tahapan Stress

Fase Nyaman

Dalam keadaan Fase Nyaman, kita tidak mengalami hal-hal yang kita rasakan sebagai stress.

Pada saat stressor itu terpapar pada diri kita, stressor itu bisa dalam kondisi stress yang singkat tapi pengaruhnya demikian besarnya, misalnya pada malapetaka atau bencana. Begitu stressor cukup kuat untuk mengganggu kita, maka kita akan mengalami berbagai tanda dan gejala. Kita sebut kita akan masuk pada Fase Peringatan.

Fase Peringatan

Pada Fase Peringatan kita bisa merasakan. Sehari-hari kita bisa merasakan pada keadaan stress, terasa jantung sedikit berdebar- debar , peredaran darah kita , pernafasan kita mungkin sedikit terengah-engah. Demikian juga pada kulit , contohnya di wajah kita agak panas kalau sedang malu, berarti ada stressor.

Secara hormonal kita juga mengalami banyak perubahan. Perubahan pada hormonal ini biasanya cukup signifikan.

Pada Fase Peringatan ini bila individu bisa mengatasi stress dengan baik maka akan kembali lagi ke Fase Nyaman atau kondisi sehat lagi.

Fase Bertahan

Stress seperti yang kita alami sekarang kita menghadapi Covid-19, kita harus waspada karena Covid-19 tidak ada berhentinya sehingga kita mengalami perubahan

1. Aspek Perilaku :
– semangat kita mulai terganggu
– perubahan kebiasaan
– ada gangguan tidur
– jadi mudah marah
– mudah lelah.
Dalam keadaan demikian kita masuk pada Fase Bertahan.

2. Aspek Kognitif
– Kita mulai sulit memecahkan masalah
– Kadang-kadang bingung
– Mimpi buruk
– Gelisah.
Kita berhadapan dengan berbagai hal yang masih dalam batas toleransi fisik maupun mental kita.

Kita bertahan disitu. Berapa lama kita bisa bertahan tergantung pada daya tahan kita masing-masing.
Pointnya kita bertahan disini lalu kita kembalikan ke Fase Peringatan dan kemudian kita usahakan ke Fase Nyaman.

Fase Lelah.

Pada akhir kondisi stress dengan stressor yang demikian kuat maka kita akan mengalami kelelahan. Bayangkan kalau jantung kita berdebar-debar, hormon mengalami perubahan berkelanjutan tidak ada hentinya maka kita akan mengalami kondisi fisik yang betul-betul terganggu.

Keluhan kita yang paling sering adalah :
– Gangguan pencernaan baik itu lambung maupun buang air.
Kita mungkin sering dengar pada saat mahasiswa kalau mau ujian biasanya ketika menunggu giliran ujian duduknya di dekat toilet karena sebentar-sebentar harus buang air kecil. Hal ini karena sistem otonomnya terganggu.

Kemudian ada :
– Sakit kepala
– Ketegangan
– Insomnia atau sulit tidur
– Tak dapat mengendalikan diri
– Menarik diri

Ini semua terjadi tanpa bisa dihambat lagi. Pada kondisi seperti ini individu mau tidak mau harus diintervensi, harus mendapatkan therapy. Kalau tidak mendapatkan therapy maka fisiknya akan mengalami gangguan. Disebut sebagai gangguan psikosomatis. Tapi kalau berlanjut lagi bisa betul-betul gangguan jiwa yang lebih berat.


Mengatasi Masalah Psikis

Bagaimana mengatasi masalah psikis ini? Mengacu dari kepustakaan ada beberapa cara yang dapat dilakukan secara Fisik, Psikologis, Spiritual, Pikiran-Perasaan-Perilaku dan Pengembangan diri.

Secara Fisik

1. Kita bisa merilekskan fisik, khususnya bagian leher dan bahu kita. Diusahakan bisa santai.

2. Melakukan streching, olah raga yang sifatnya meregangkan ketegangan.
Di RSJ Surakarta juga setiap hari mengadakan kegiatan olah raga peregangan sesuai Panduan Kemenkes.

3. Kalau perlu kita Pijat atau Urut. Hal itu juga bagus.

4. Exercise atau latihan.
Bagi kita orang islam, ada ajaran yang sesuai yaitu dengan sholat yang baik dan benar. Kita sholat betul-betul untuk Allah SWT dan hikmahnya adalah sholat itu sendiri adalah sesuatu yang membuat kita sehat.
Tujuan sholat untuk Allah tetapi dampaknya membawa manfaat secara fisik pada diri kita.
Ini bukan masalah keduniawian, kita harus faham bahwa islam itu adalah pedoman bagi manusia yang akan bermanfaat baik di dunia ataupun akhirat.

Secara Psikologis

5. Mengulang berbagai macam kegiatan dalam hitungan-hitungan 1-10.
Ini panduannya, saya tidak paham kenapa sampai 10, tapi sebenarnya yang penting adalah mengulangnya.
Kita dalam islam juga diajarkan berdzikir yang harus mengulang berapa kali, dilakukan setelah sholat.
Subhanallah, 33 kali
Alhamdulillah, 33 kali
Allahu Akbar, 33 kali
Angkanya darimana? Itu yang diperintahkan Rasulullah.
Jadi hal ini adalah hal yang biasa kita lakukan. Dzikir dengan jumlah hitungan tertentu adalah bagian dari mengatasi masalah psikis yang mungkin ada pada kita.
Kita sholat, kita dzikir dampaknya mendapatkan kenyamanan dan kebahagiaan untuk dunia dan akhirat.

6. Mengendalikan pikiran-pikiran kita.
Yang tidak perlu tidak usah kita pikirin.
Kita mungkin juga lupa bahwa ghibah itu sesuatu yang tidak perlu. Ghibah itu dilarang dan berdosa. Itu adalah bagian dari pikiran yang sebetulnya harus kita kendalikan.

7. Fantasi sesuatu yang baik-baik.
Hambatannya adalah kadang fantasi berbelok ke arah yang tidak baik.

8. Menghargai diri sendiri.
Kebanyakan kita melupakan diri sendiri, kita selalu merasa kurang, kita selalu merasa lemah.
Biasa ada yang berkata : “Maklumlah faktor U” untuk memaafkan diri sendiri.
Jangan mengatakan bahwa anda sudah tua, katakan bahwa anda masih produktif. Tua atau muda itu bukan urusan. Kalau kita berkata kita sudah tua sebetulnya kita sudah mulai kurang menghargai pada diri sendiri.

9. Kita tidak usah mempedulikan hal-hal yang diluar batas kita.
Hal-hal yang tidak penting, tidak terkait dengan kita, kita lepaskan. Bukan kita abaikan tapi kita hanya sekedar tahu saja.
Kita cukup sekedar tahu saja bahwa pandemi makin tidak menentu. Kita tidak perlu memikirkan karena itu bukan bidang kita.
Saya sebagai dokter jiwa, maka saya tidak terlalu memikirkan kondisi yang lain, yang tidak terkait dengan masalah kedokteran. Saya harus tahu tapi tanpa harus terlibat langsung.
Bahasa anak sekarang, jangan suka kepo.

10. Kita harus memperhatikan penampilan diri kita dengan baik.
Kita harus berusaha mengenali diri kita dengan baik. Kata orang tidak kenal maka tidak sayang, tetapi kebanyakan orang tidak kenal sama dirinya sendiri.
“Apakah sekarang saya sedang fit? Atau tidak fit ?”

11. Kalau perlu kita konsultasi kepada ahlinya.
Masalah kita adalah bahwa kita sering bertanya pada orang yang salah.
Saya pernah punya seorang pasien. Memang dia mengalami problem kejiwaan, tetapi sebetulnya akar masalahnya adalah masalah ekonomi.
Sehingga saya menganjurkan dia agar berkonsultasi dulu kepada ahli Perbankan dan ahli Perdagangan supaya masalah usahanya teratasi.
Kalau setelahnya masih ada keluhan, baru saya bantu, atau paling tidak paralel. Jadi saya tidak akan bisa membantu banyak masalah yang dihadapi tanpa diselesaikan akar masalahnya.

Secara Spiritual

12. Kita sholat, beribadah dengan baik. Dengan ibadah yang betul-betul khusyuk maka akan memberikan penyelesaian masalah psikis kita.
Kebanyakan ketika sholat kita masih mikir masalah kita. Ini harus dihindarkan.

13. Meditasi , ini bahasa literatur.
Bagi kita ini adalah berdzikir. Sebetulnya banyak sekali dzikir yang diperintahkan sejak kita bangun tidur sampai kita mau tidur lagi.
Jadi meditasi sebenarnya tidak harus dengan duduk bersila seperti yang banyak kita dengar.

14. Harus mengingat tujuan dari ibadah kita.
Kita sering lupa, tujuan kita bukan hanya akhirat, bukan juga hanya dunia.
Kita memohon pada Allah untuk urusan dunia tetapi sebetulnya itu juga untuk kepentingan akhirat kita.
Dengan demikian kita secara psikis bisa hidup lebih nyaman, lebih sehat.

Secara Pikiran, Perasaan dan Perilaku

15. Kita harus cukup istirahat
Kita sering menganggap bahwa istirahat itu hanya tidur saja. Mestinya tidak demikian. Kita sambil berkebun bisa merupakan bagian dari istirahat kita. Masing-masing orang mempunyai cara istirahat yang berbeda-beda.

16. Silaturahim
Banyak yang menganggap bahwa bersilaturahim itu harus bertemu dengan seseorang, berhadap-hadapan. Dalam situasi sekarang silaturahim bisa kita lakukan lewat zoom, kita bisa saling bertegur sapa. Kita bisa bersilaturahim secara daring dalam berbagai kesempatan.
Banyak hadits yang menjelaskan tentang manfaat silaturahim, silahkan dibuka.

17. Berlatih Relaksasi

Tadi sudah dijelaskan pada bab Fisik. Kalau tadi sifatnya formal, coba kita lakukan sesuatu yang dapat melepaskan ketegangan kita.

18.Yoga (karena ini bahasa kepustakaan)
Sebetulnya berkaitan juga dengan apa yang sehari-hari kita lakukan dalam agama kita yang sebetulnya identik dengan Yoga. Kita tidak menyebutnya Yoga dan kita tidak perlu mempersamakan Yoga dengan apa yang kita lakukan.

19.Aroma Terapi
Kalau yang formal banyak kita temukan di Supermarket. Tapi sebetulnya aroma terapi yang paling baik adalah kita menghirup udara segar yang ada di sekitar kita sambil kita menghirup harumnya bunga yang kita tanam, lebih sehat daripada kalau kita pakai aroma terapi zat-zat yang mudah menguap.

20. Tertawa yang Sehat.
Tertawa yang sehat bukan mentertawakan orang. Tertawa yang sehat biasanya kita temukan pada saat kita silaturahim. Itu tertawa yang paling nikmat, bukan tertawa pada saat kita menonton sesuatu yang lucu.
Kita berbicara dengan teman kita, dengan saudara kita, dengan suami, dengan isteri, dengan anak kalau kita bisa tertawa lepas kita akan merasakan menjadi lega. Kalau dalam satu keluarga tidak pernah tertawa perlu hati-hati, jangan-jangan sedang mengalami sesuatu.

Mengembangkan Diri

21. Melakukan kegiatan sehari-hari sesuai prioritas.
Apa yang perlu kita lakukan hari ini kita lakukan sesuai dengan prioritas. Kita tidak memaksakan diri tetapi kita melaksanakan kegiatan sehari-hari supaya efektif dan efisien. Mana yang harus kita dahulukan dan mana yang perlu kita lakukan.

22. Belajar sesuatu yang baru
Itulah gunanya kita mengikuti majelis taklim, kita mengikuti webinar bila ada sesuatu yang baru. Tentunya sesuai dengan kebutuhan dan apa yang kita inginkan.
Setiap Rabu dan Sabtu kita bertemu, ini adalah sesuatu yang positif karena mendapatkan sesuatu yang baru. Besuknya kita merasakan lebih nyaman.

23. Menekuni Hobi
Kita hidup seyogyanya kita punya hobi. Punya “klangenan” (kesukaan terhadap sesuatu. Masing-masing individu sendiri-sendiri. Kita tidak perlu mencela hobi orang lain. Ada yang hobi mengumpulkan perangko, jangan dicela. Hobi itu penting, harus dikembangkan dan dinikmati. Jangan mencari hobi yang menjadikan sakit.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here