Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

8 Dzulqo’dah 1442 / 19 Juni 2021



Memudarnya Akhlak

Sekarang ini ada indikasi orang tidak menghormati sesama muslim, terutama yang tua. Di Twitter saya sekali-sekali saja membuka, siapa tahu ada berita. Disana sudah tak ada lagi hormat- menghormati muda dan tua. Di Twitter kalau memaki-maki langsung saja. Di Televisi juga sama, pernah saya sampaikan di jamaah ini, ada orang yang pakai “udheng-udheng” memaki-maki Sekertaris Majelis Ulama. Padahal orang itu bukan menjadi apa-apa.

Perjalanan untuk menjadi seorang Sekertaris Majelis Ulama Nasional itu perjalanan panjang dari seorang yang ahli ilmu, khususnya ilmu agama. Orang alim seperti itu dimaki -maki di Televisi. Yang memaki-maki itu apa kelasnya? Tidak masuk akal.
Dia bukan siapa-siapa di bidang agama. Tidak pernah menulis Kitab, tidak punya Majelis Taklim rutin.

Orang yang seperti Mbah Hasyim Ahmad yang mempunyai Majelis Taklim rutin pasti seperti dalam bahasa Jawa punya konotasi “seperti sumur”. Sumur itu airnya akan diambil oleh manusia kapan saja. Ulama seperti itu.

Jangan sekali-kali menghina sesama muslim, apalagi yang lebih tua, apalagi yang beruban, apalagi yang mempunyai ilmu ( وَحَامِلِ الْقُرْآنِ ).

Nabi Muhammad SAW bersabda :

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرَ الْغَالِي فِيْهِ وَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ

“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati seorang muslim yang beruban (sudah tua), pembawa Al-Qur’an yang tidak berlebih-lebihan padanya dengan melampaui batas dan tidak menjauh dari mengamalkan Al-Qur’an tersebut, serta memuliakan penguasa yang adil.” (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)


Referensi Akhlak Mulia

Ada seorang ulama besar di Banjarnegara namanya Mbah Kiyai Muhammad. Muridnya ribuan, pondoknya di Mantrianom kira-kira 10 km dari kota. Beliau kalau terhadap saya santunnya luar biasa. Padahal saya jauh lebih muda dan sangat menghormati beliau. Tapi beliau hormat terhadap saya.

Belakangan hari beliau baru mengungkapkan kenapa beliau menghormati seorang dokter. Beliau berkata : “Pak dokter, ada dua orang yang menurut khasanah islam tinggi kedudukannya. Yang pertama Ahli Fiqih (ahli hukum agama atau ulama) dan yang kedua adalah dokter”.

Ini bukan meninggikan profesi dokter, tetapi ingin menunjukkan ibrah dari seorang ulama yang menghormati orang semuda saya waktu itu. Seorang Kiyai yang kedudukannya tinggi sangat menghormati orang lain yang bukan siapa-siapa. Kita ini apa? Ilmunya juga seberapa?

Kita harus berusaha agar jangan sampai akhlak umat islam itu memudar. Kita harus mengembangkan terus akhlak umat islam ini sesuai tuntunan dari Allah dan Rasulnya.


Birrul Walidain dalam Al Qur’an

Allah SWT berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا ۗ اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 23)

Perintah Allah :
– Menyembah Allah
– Berbuat baik kepada ibu bapak.
Perintah ini langsung, setelah kepada Allah kemudian kepada orang tua. Ini menunjukkan betapa pentingnya berbuat baik atau berbakti kepada orang tua. Kalau mereka sampai usia lanjut maka itu jadi tanggung jawabmu.

Hati-hati mungkin karena akrabnya di zaman modern ini ada orang tua yang tidak mau disebut bapak atau Abi, minta langsung disebut namanya meniru orang barat. Hal begini bisa saja suatu hari lepas kendali, bicara dengan nada tinggi. Kita harus bicara tidak sekedar bicara tetapi dengan perkataan ‘kariimaa’ (mulia).

Sekarang ini karena Pandemi maka kita tidak ketemu orang tua , tetapi bisa dilakukan dengan Video Call. Ini juga harus dilakukan dengan santun.

Menurut Tafsir dari Ibnu Katsir :
“Janganlah kamu mengeluarkan kata-kata yang buruk kepada keduanya, sehingga kata ‘ah’ pun yang merupakan kata buruk paling ringan- tidak diperbolehkan,” (Ibnu Katsir).

Dalam ayat berikutnya Allah SWT berfirman:

وَا خْفِضْ لَهُمَا جَنَا حَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا 

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 24)


Bila Orang Tua Sudah Meninggal

Bagaimana dengan yang tidak punya orang tua? Sesuai hadits Rasulullah yang kira-kira begini :

Rasulullah pernah ditanya oleh seseorang laki-laki : “Ya Rasulullah, saya ada di tempat jauh, saya datang ternyata orang tua sudah meninggal. Tapi beliau meninggalkan sebidang tanah kebun. Bolehkah saya bersedekah atas nama ibu saya? “
Rasulullah mengatakan : “Ya”.
Kemudian sebidang tanah itupun diserahkan kepada Ibnu Umar dan hasilnya untuk kepentingan umat islam.

Inilah yang kemudian kita kenal sebagai wakaf, yang sekarang kita promosikan. Saat ini ada peluang untuk jama’ah berwakaf.
Ada masjid yang mau diperluas karena sangat sempit di satu tempat di daerah Tembalang, dekat dengan kampus Undip dan kost-kostan. Mudah-mudahan nanti bermanfaat untuk membina jama’ah baik yang kecil, yang mahasiswa maupun yang sepuh.

Jadi kalau orang tua sudah meninggal masih ada kesempatan mewakafkan harta kita dengan niat untuk orang tua kita. Ini boleh karena ada dalilnya atau tuntunannya dari Rasulullah SAW. Tidak ada istilah terlambat untuk berbakti kepada orang tua.

Jadi kalau orang tua sudah wafat kita mendoakan terus sehabis shalat. Atau mungkin pada saat rindu kepada orang tua , atau setelah mimpi bertemu orang tua dan sebagainya. Mimpi ketemu orang tua yang meninggal tidak perlu ditakwil, daripada nanti menjadi masalah. Berarti itu waktunya untuk mendo’akan beliau.

Minimal dengan membaca :

رَّبِّ اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً

Rabbighfirlii wali waalidayya warham humma kamaa rabbayaanii shaghiiraa

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat aku di waktu kecil”.

Jangan lupa hal ini hanya beberapa detik saja tapi harus kita lakukan dengan sepenuh hati. Qolbu kita diasah supaya hatinya juga mengatakan yang sama dengan yang kita ucapkan. Jangan sampai seperti orang-orang yang berdo’a sangat cepat hingga tak jelas apa yang diucapkan. Sehingga tidak difahami dalam hati.


Birrul Walidain dalam Hadits

Ada sebuah hadits yang pernah dipalsukan dan akibatnya lima tahun terakhir ini setiap menjelang Ramadhan banyak orang yang mengirim foto, video atau text yang isinya mohon maaf lahir batin.

Hadits palsu itu isinya tiga saja, bila tidak minta maaf pada orang tua, tidak minta maaf pada suami/isteri dan tidak minta maaf pada tetangganya maka puasanya akan sia-sia.
Padahal tindakan itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, para Sahabat ataupun Tabi’in, Tabi’it Tabi’in. Kata para ahli, ini hadits palsu Made In Indonesia.

Adapun hadits aslinya adalah sebagai berikut :

Dari Jabir RA, bahwasanya Nabi SAW naik ke mimbar. Ketika beliau naik ke anak tangga pertama, kedua, dan ketiga beliau mengucapkan, “Amiin”. Lalu para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, kami semua mendengar engkau berkata: Amiin, amiin, amiin. Beliau menjawab, ”Ketika aku menaiki tangga pertama, Jibril datang kepadaku dan berkata: Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadan namun dosanya tidak diampuni. Maka Aku pun berkata: Amiin.

Kemudian Dia Jibril berkata: Celakalah seorang hamba, jika mendapati kedua atau salah satu orang tuanya masih hidup, namun keberadaan kedua orang tuanya tidak membuatnya masuk ke dalam surga. Aku pun berkata: Amiin.
Kemudian Dia Jibril berkata: Celakalah seorang hamba, jika namamu disebutkan dihadapannya tapi dia tidak bershalawat untukmu. Maka Aku pun berkata: Amiin. (HR. Ibnu Khuzaimah)

Jadi ada tiga orang yang dilaknat oleh Malaikat Jibril dan diamini oleh Rasulullah SAW.

1. Orang diberi kesempatan hidup di bulan Ramadhan tapi dosanya tidak mendapatkan ampunan.

Ramadhan itu Allah memberikan bonus luar biasa, memberikan ampunan dan setiap amalan pahalanya dilipatgandakan. Kalau sampai tidak mendapat ampunan bukankah celaka sekali ?

Saya punya teman yang luar biasa. Setiap Ramadhan beliau menutup praktek dokternya pas adzan maghrib, kemudian beliau naik sepeda pulang ke rumah terus shalat Isya dan tarawih di masjid.

Ketika saya tanya kenapa tidak praktek seperti yang lain?
Jawaban beliau : “Shalat tarawih kan hanya sebulan saja dan hanya ada di bulan Ramadhan? Kalau dilewatkan kan sayang sekali …”
Ternyata hal itu tidak mempengaruhi rezeki keuangannya.
Ini ibrah bahwa kita harus menyediakan waktu untuk Allah, untuk keluarga dan untuk ilmu.
Seorang dokter, atau profesi lain harus membaca untuk menambah ilmu. Kita ini sangat kekurangan ilmu.

Mari kita budayakan para dokter khususnya di kota yang sudah banyak dokter untuk tidak praktek malam hari dan kita ramaikan shalat tarawih di masjid.

2. Orang diberi kesempatan untuk merawat orang tuanya tapi tidak masuk surga.

Peluangnya mestinya masuk surga, tapi kenapa lepas karena akhlak kepada orang tua tidak dijaga. Akhirnya dia tidak masuk surga dan mendapat laknat.
Doa ini adalah do’a yang luar biasa karena yang berdo’a malaikat Jibril itu Penghulunya Malaikat, sedangkan yang mengaminkan Nabi Muhammad SAW itu Penghulunya Nabi.

3. Orang mendengar Nama Nabi Muhammad SAW disebut, tapi dia tidak bershalawat.

Ini harus kita latih agar membuat reflex bershalawat :
صلى الله عليه وسلم
‎Shallallāhu ‘alayhi wa as-sallām
Atau yang minimalis :
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ
Allahumma sholli ala Muhammad

Ini penting karena dijadikan do’a oleh Malaikat Jibril dan diamini oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam hadits lain , birrul walidain Adalah Amalan Yang Dicintai Allah

عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ لِمِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ مَاذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ مَاذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ سَكَتَ عَنِّي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

Dari Abi Amru Asy Syaibani dari Ibnu Mas’ud ia berkata; Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling mulia?” beliau menjawab: “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apakah lagi wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Apa lagi wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Kemudian berjihad di jalan Allah.” Lalu Rasulullah SAW diam, sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (HR Tirmidzi no 1820)

Amalan yang paling dicintai Allah adalah Shalat tepat waktu. Dalam redaksi lain disebut Shalat di awal waktu.

Amalan yang kedua paling dicintai Allah adalah berbakti kepada kedua orang tua. Sama dengan tuntunan dalam Al Qur’an.

Yang ketiga adalah jihad. Meskipun ada kontroversi kata jihad , karena ada yang menganggap jihad itu radikalisme kita tak perlu takut. Kita belajar islam harus otentik dari Nabi SAW.

Tiga hal ini menjadi kunci atau pedoman bagi kita bahwa amalan strategis adalah shalat, birrul walidain dan jihad.

Berarti bagi yang sudah senior, shalatnya harus lebih diperhatikan lagi, baik durasinya maupun pemahaman maknanya. Jangan sampai durasinya ecek-ecek atau KW2 , kita shalat harus tenang dan khusyuk.

Birrul walidain harus kita pelajari betul bagaimana yang seharusnya karena dalam hadits lain dikatakan pintunya surga adalah orang tua kita masing- masing.

Walaupun bagi wanita dikatakan pintu Surganya adalah suaminya, tetapi tetap harus berbakti kepada orang tuanya, tapi dia wajib minta ijin pada suaminya. Dan suami juga wajib mengijinkan, tidak boleh melarang isterinya untuk birrul walidain.
Suami yang melarang isterinya birrul walidain akan kena dua hal : Tidak mendapat pahala dan mendapatkan dosa. Jangan sampai terjadi.

Hadits yang lain : Berkata-kata Baik Kepada Orang Tua

Akhlak berikutnya adalah bagaimana berkata-kata.

وإذا تكَلَّمَ خَفَضُوا أصواتَهم عندَه ، وما يُحِدُّون إليه النظرَ؛ تعظيمًا له

“jika para sahabat berbicara dengan Rasulullah, mereka merendahkan suara mereka dan mereka tidak memandang tajam sebagai bentuk pengagungan terhadap Rasulullah” (HR. Al Bukhari).

Ini berbicaranya sahabat kepada Rasulullah, menjadi ibrah bagi kita kepada orang yang lebih tua atau lebih dihormati.
– Jangan sampai kita bersuara tinggi, apalagi sampai memaki-maki.
Dalam surat Al Hujurat ayat 2 juga ada larangan meninggikan suara.
– Jangan memandang dengan tajam, jangan memandang orang lain dengan sorot mata benci ataupun dengki. Hal seperti itu bisa terdeteksi.
Hati-hati dengan pandangan mata, khususnya kepada orang tua.

Hadits lainnya : Seorang anak muda jangan “nimbrung” pembicaraan orang tua.

Abdullah Ibnu Umar adalah putera Umar bin Khattab yang tidak mau diangkat menjadi Khalifah, karena dilarang orang tuanya. Hal ini berbeda dengan sekarang, dimana banyak orang tua mendorong anak jadi pejabat.

Beliau akhirnya menjadi ahli ilmu yang haditsnya banyak sekali dan beliau didoakan umat : Radhiallahu anhu (semoga Allah meridhoi).

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?” Lalu orang menerka-nerka pepohonan wadhi. Abdullah Berkata: “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.” Kemudian mereka berkata: “Wahai Rasulullah beri tahukanlah kami pohon apa itu?” Lalu beliau menjawab: “ia adalah pohon kurma.” (HR Bukhori).

Ini juga pelajaran tentang akhlak, ketika seorang anak muda berkumpul dengan orang tua, jangan menyeletuk atau nimbrung pembicaraan serius orang tua. Kecuali kalau situasinya sudah cair boleh-boleh saja.
Dalam hadits di atas Ibnu Umar yang masih kecil bisa menjawab pertanyaan Rasulullah, tapi dia menahan diri tidak mau menjawab.

Pelajaran kedua adalah tentang Tamsil Pohon kurma. Pohon kurma itu makin panas makin bagus. Berarti umat islam harus meniru. Sekarang ini tantangan kita makin berat :
– Ada pandemi Covid-19
– Mungkin ada pajak yang mau naik?
Umat islam harus kuat bagai Pohon kurma di musim panas, buahnya makin banyak.

Kita ingat Bunda Maria setelah melahirkan diperintah menggoyang pohon kurma agar mendapatkan makanan. Artinya saat itu pada musim panas, bukan musim salju.
Kita harus tahu hal itu, jangan terpengaruh mereka yang mengatakan kelahiran Nabi Isa pada musim salju.


Pendidikan Dari Allah Dalam Kisah Nabi Ibrahim

Allah SWT berfirman:

وَا ذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِبْرٰهِيْمَ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا (41) اِذْ قَا لَ لِاَ بِيْهِ يٰۤـاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَ لَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـئًـا (42) يٰۤـاَبَتِ اِنِّيْ قَدْ جَآءَنِيْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَا تَّبِعْنِيْۤ اَهْدِكَ صِرَا طًا سَوِيًّا (43) يٰۤـاَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطٰنَ ۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَا نَ لِلرَّحْمٰنِ عَصِيًّا (44) يٰۤاَ بَتِ اِنِّيْۤ اَخَا فُ اَنْ يَّمَسَّكَ عَذَا بٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطٰنِ وَلِيًّا (45)

“Dan ceritakanlah Muhammad kisah Ibrahim di dalam Kitab Al-Qur’an , sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran, dan seorang nabi. Ingatlah ketika dia berkata kepada ayahnya,
“Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?”
“Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus”.
“Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.”
“Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.””
(QS. Maryam 19: Ayat 41-45)

Nabi Ibrahim menghadapi tantangan yang besar karena ayahnya tidak mau menerima ajakan dari Nabi Ibrahim.
Padahal Nabi Ibrahim adalah Nabi yang shidiq. Walaupun beliau Nabi tapi tetap berkata-kata dengan baik kepada orang tuanya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here