Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

8 Dzulqo’dah 1442 / 19 Juni 2021



Review terhadap Kajian yang lalu

Akhlak itu Built in atau given.
Bagaimana seseorang merespond terhadap sesuatu masalah menunjukkan akhlaknya. Kalau dia berakhlak mulia maka otomatis respondnya baik. Ini menunjukkan bahwa akhlak itu built in.

Yang kita bawa ke akhirat kelak adalah qolbun salim. Ini perlu diingatkan terus karena manusia pasti lupa. Karena masalah sehari-hari sangat banyak sehingga hal-hal yang bersifat agama kadang-kadang tergerus.

Apalagi kalau dia memang biasa mengesampingkan agama. Ada yang bilang : “Apa-apa kok agama ?”.
Ini menunjukkan agamanya tidak beres. Kalau seseorang agamanya beres, maka menurut Rasulullah SAW semua urusannya menjadi beres.

Supaya iman kita menjadi kuat dan indah dalam diri kita, maka qolbu kita yang isinya macam-macam harus dijaga. Diantaranya adalah An Nafs atau Jiwa harus dijaga.

Allah SWT berfirman:

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا (7) فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا (8)

“demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya,” (QS. Asy-Syams 91: Ayat 7-8)

Masing-masing, termasuk yang bicara ini diberi implant atau diinstall oleh Allah program. Programnya ada dua tentang Kejahatan dan Ketakwaan. Ini berperang terus, kita mau memakai yang mana? Mudah-mudahan karena kita minimal sepekan dua kali mengaji berkumpul dengan orang-orang sholeh, saya yakin di forum ini bukan saya yang paling pintar, kita akan memilih yang baik.

Kalau kita mempunyai komunitas orang-orang alim , orang-orang sholeh jangan dilepas. Harus kita pelihara.
Berikutnya kita harus berusaha supaya Al Hawa kita tekan, supaya tidak dominan terhadap diri kita. Tetapi akal kita juga jangan dominan supaya kita tidak menjadi Liberal.

Rasulullah SAW bersabda

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إن من أحبكم إليّ وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقا وإن أبغضكم إليّ وأبعدكم منّي مجلسا يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون

Dari Jabir bin Abdullah ra, berkata; Rasulullah saw bersabda, “Orang yang paling saya cintai dan paling dekat dengan tempat saya kelak di hari kiamat adalah mereka yang memiliki akhlak mulia. Sementara orang yang paling saya benci dan tempatnya paling jauh dari saya kelak di hari kiamat adalah mereka yang keras dan rakus, suka menghina dan sombong.” -(HR. Tirmizi)

Kita harus membina diri, qolbu kita kita asah dengan menata, merawat, menjaga hati untuk semua hal yang dituntunkan oleh Allah dan Rasulnya, salah satunya akhlak mulia.
Jadi kita harus punya akhlak mulia.
Fadhilah akhlak mulia bisa mengalahkan orang-orang yang berpuasa dan orang-orang yang sholat malam.

Rasulullah SAW bersabda ,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

“Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat dengan sebab akhlaknya yang luhur.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dinilai shahih oleh Al-Albani)

Namun membaca hadits ini jangan terbalik, kalau sudah berakhlak mulia tidak usah puasa sunah dan shalat malam. Artinya orang kalau akhlaknya mulia dan dia ahli puasa senin kamis, ahli puasa bidh dan malamnya tahajud tentu jauh lebih baik. Jadi jangan keliru, kita tetap harus berusaha mengikuti sunah-sunah Nabi Muhammad SAW.

Halangan untuk ini jelas di Surat At Taubah ayat 24. Ini harus kita ingatkan terus, bahwa halangan untuk mencintai Allah dan Rasul ada 8, yaitu : Bapakmu , Anakmu, Saudaramu, Istrimu, Keluargamu, Harta kekayaanmu , Perdaganganmu, dan Rumahmu yang kamu suka.

Kalau kita perhatikan dulu , rumah itu selalu direhab. Betul atau tidak?
Kalau punya rezeki rumah selalu diubah , zaman rumah dengan model Tiang Romawi, diganti dengan Tiang Romawi. Kemudian mode Kaca Jendela Krepyak. Maka jendela yang tadinya membuka biasa diganti Kaca Krepyak.

Begitu terus menerus, rumah direhab terus alasannya supaya kita nyaman. Tetapi kalau ini menghalangi kita dari mencintai Allah dan Rasul, menghalangi dari jihad di jalan Allah maka waspadalah.!
Waspada terhadap apa?
“fa tarobbashuu hattaa ya-tiyallohu bi-amrih” (maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya)
(QS. At-Taubah 9: Ayat 24)

Menurut saya ini sudah terjadi karena gempa itu bertubi-tubi. Bahkan di Semarang yang tidak biasa gempapun sudah mulai terasa ada gempa.
Pernah pada saat rapat terjadi gempa. Tetapi nampaknya orang Semarang tidak begitu peka. Karena saya pernah mengalami merasa gempa ketika di Klaten, Yogya dan Banjarnegara maka ketika tempat duduk saya rasanya seperti naik perahu, saya yakin itu gempa. Tetapi gempa itu cuma sekejap dan kami tidak jadi keluar.

Khalifah Umar bin Khattab r.a pada saat gubernurnya melaporkan bahwa di wilayahnya terjadi gempa, beliau berkata : “Wahai Gubernur, kedurhakaan kepada Allah apa yang telah kalian lakukan?”..
Jadi gempa ini jangan sekedar difahami bahwa itu adalah akibat dari lempeng-lempeng bumi yang bergerak!
Bukan! Tidak sekedar itu penyebabnya.

Salah satu penyebab adalah “hattaa ya-tiyallohu bi-amrih. Allohu laa yahdil-qoumal-faasiqiin”
(Telah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik).
Karena ini dasarnya kuat dari hadits, kalau kezaliman dan perbuatan dosa sudah umum dimana-mana maka Allah akan memberikan tegurannya.


Waspada terhadap Talbis Iblis

Kalau dibreakdown halangan untuk mencintai Allah dan Rasul itu masih banyak sekali. Kenapa perlu kita ingatkan terus ? Bisa jadi Setan tidak menyuruh kita untuk tidak berbuat amal baik, tetapi Setan akan mengecilkan dulu amal baik kita.

Kita ingin berbuat yang afdhol, kemudian Setan akan berbisik kepada kita : “Tidak perlu memilih yang afdhol, yang penting dilaksanakan saja. Yang penting kamu ikhlas …”
Hal ini menurut Ibnul Qayyim Al Jauzi termasuk talbis iblis.
Talbis iblis itu berusaha mendegradasi keafdholan, mengurangi kesunahan, mendorong ke arah bid’ah sampai yang paling parah masuk ke Syirik. Itu puncak kezaliman.

Kalau sudah Syirik sudah tidak bisa ditolong karena Allah SWT sudah menyampaikan :

 لَئِنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Sungguh, jika engkau menyekutukan Allah , niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 65)

Hilang semua amal kita, maka hati-hatilah terhadap dosa Syirik.
Syirik menurut Ibnu Abbas ibarat seekor semut berada di batu yang hitam, di kegelapan malam. Jadi sulit untuk diketahui.

Maka dari itu hendaknya kita berdoa, sebagaimana doanya nabi SAW :

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا ، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ

“Ya Allah jadikanlah hati kami mencintai keimanan dan jadikanlah ia hiasan dalam hati kami. dan tanamkanlah kebencian kepada kami terhadap kekufuran, kefasiqan dan kedurhakaan. Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (HR Nasaa-iy dishahiihkan syaikh albaaniy)

Mudah-mudahan do’a-do’a kita yang kita panjatkan diijabahi Allah. Kita yakin bahwa majelis taklim dipenuhi rahmat dari Allah dan dikelilingi malaikat.

Menurut para ulama do’a kita akan diijabahi, sebagaimana do’a ayahanda dari Imam Nawawi. Beliau selalu berdo’a ketika berada di majelis taklim, mendo’akan supaya anaknya nanti menjadi anak yang sholeh yang memberikan taushiyah kepada manusia. Dan akhirnya putranya menjadi imam. Dan bukunya terkenal disebut Arba’in Nawawiyah.


Akhlak Kepada Orang Tua

Rasulullah SAW bersabda

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang tua kami maka bukan termasuk golongan kami.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab)

Saya akan menyampaikan ibrah atau pelajaran dari kematian seseorang.

Kemarin kami ke Banjarnegara untuk takziah. Yang meninggal adalah isteri seorang ulama paling sepuh di Banjarnegara, yaitu KH. Hasyim Ahmad
Dulu saya banyak mengaji Tafsir Al Qur’an kepada beliau, karena beliau mengajarkan tafsir rutin tiap hari setelah Subuh. Luar biasanya karena usia beliau 87 tahun dan masih berdiri tegak dan memberi taushiyah di berbagai tempat. Beliau seperti orang tua saya.

Karena pandemi ini beliau mengalami peristiwa yang luar biasa. Satu rumah kena cluster Covid-19. Jadi kita harus hati-hati, sekarang ini sangat luar biasa. Penularannya sangat cepat, diprediksi sudah lewat airborne.
Persiapan kita terlambat, akhirnya ulama terbagi tiga. Ada yang percaya, ada yang ragu-ragu, bahkan ada yang sangat menolak dan mengatakan Tidak Ada Covid! Akhirnya banyak ulama yang gugur.

KH Hasyim Ahmad ini kena Covid di keluarganya. Beliau dan isteri, puterinya dan menantunya serta dua orang puteranya. Akhirnya yang dirawat di Rumah Sakit 5 orang. Dalam perjalanan istri beliau tidak kuat karena punya komorbit. Isteri beliau wafat.

Luar biasanya, ini jenasah Covid, tapi banyak yang takziah. Tidak saya duga saya juga diminta memberi sambutan. Ini menunjukkan ada kecintaan tanpa pamrih.

Suasana panas, tapi tiba-tiba timbul awan yang menyejukkan sehingga kita tidak merasa panas lagi. Apakah ini pertanda baik? Wallohu alam, tapi betul-betul acara takziah jadi khusyuk tak ada yang bergeming.

Kami bisa menegosiasi, mobil jenazah Covid tidak langsung ke makam, tapi mampir di depan masjid Al Kautsar untuk disholati dan ada acara proses pemberangkatan.

Sholat jenazah dua tahap, yang pertama di Masjid Agung An Nur. Luar biasa jumlah yang menyolati jenazah, pasti lebih dari 100 orang, karena di masjid An Nur itu kapasitasnya lebih dari 300. Di Masjid Al Kautsar saja sudah lebih dari 100.

Nabi SAW bersabda,

مَا مِنْ مَيِّتٍ يُصَلِّى عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلاَّ شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah seorang mayit dishalatkan (dengan shalat jenazah) oleh sekelompok kaum muslimin yang mencapai 100 orang, lalu semuanya memberi syafa’at (mendoakan), maka syafa’at (do’a mereka) akan diperkenankan.”- (HR. Muslim)

Maka mestinya kita punya keinginan kalau meninggal disholatkan minimal 100 orang. Jangan hanya sekedar meninggal husnul khotimah.
Husnul khotimah itu diawal, ketika nyawa dicabut. Berikutnya proses masih panjang. Sampai akhirnya ketika membagi waris itu juga bagian dari Husnul khotimah.

Tentang husnul khotimah itu Nabi SAW bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud)

Ini baru awal dari Husnul khotimah saja. Berikutnya masih ada empat Proses lagi : Dimandikan, Dikafani, Disholati dan Dimakamkan.
Empat hak orang muslim ini harus dipenuhi, kalau tidak, semua akan kena dosa karena ini Fardhu Kifayah.

Do’anya karena jenazahnya adalah perempuan, lafaz doanya berbunyi:

“Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fu’anhaa, waakrim nuzulahaa wawasi’madkholahaa”.
waghsilhaa bil maai watstsalji wal barod, wanaqqihaa min khotooya kamaa yunaqqotstsaubul abyadhu minadanas, wa abdilhaa daaron khoiron min daarihaa, wa ahlan khoiron min ahlihaa, wa zaujan khoiron min zaujihaa waqqihaa fitnatal qobri, wa ‘adzabannar”.

Artinya:
“Ya Allah, Ampunilah dia, maafkanlah dia dan tempat-kanlah di tempat yang mulia, luaskan kuburannya.
Mandikan dia dengan air , salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya di dunia, berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya di dunia, suami yang lebih baik daripada suaminya , dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari fitnah kubur dan Neraka.”

Mengapa kita berdo’a agar kuburnya diluaskan? Karena ada hadits yang menyatakan nanti di alam Barzakh ada orang yang kuburnya disempitkan, betul-betul menghimpit dirinya.
Dalam konotasi menghapus dosa maka kita berdo’a agar dia dimandikan seperti mencuci baju yang putih.

Di alam Barzah, ruh kita bermasyarakat. Karena ruh adalah materi, namun ilmu kita hanya sedikit.
Rasulullah diberi ilmu, tapi sedikit, apalagi kita?

Di alam Barzah orang mukmin yang selamat diganti dengan pasangan yang lebih baik. Kalau tidak beriman dan banyak dosa akan diazab.
Perjalanan ini panjang sekali, sampai Yaumul Qiyamah.

Maka itu kita terus berusaha agar di dunia baik, di akhiratnya juga baik dengan berdo’a

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah 2 : Ayat 201).

Kita perlu membuat investasi akhirat di dunia ini. Salah satu tanda orang baik adalah yang takziah banyak. Salah satu tanda orang jahat kebalikannya.
Kalau orang dilahirkan normalnya timbul kegembiraan dan ketika meninggal timbul kesedihan.
Tapi jika ketika mati disyukuri orang kan repot. Itu suatu yang tidak tepat pada manusia. Jadi mari kita persiapkan kematian kita.

Mengapa kisah kematian ini saya masukkan ke contoh akhlak mulia, karena dulu saat pertemuan beliau dengan kami sangat simple.
Beliau almarhumah dengan bu Masrifan ketemu saat lomba merangkai bunga, langsung “klik”.
Orang dengan orang lain itu punya aura yang bisa langsung cocok pada awal pertemuan. Kalau antara lelaki dan perempuan mungkin jadi cinta pandangan pertama. Tapi ini antara wanita dengan wanita.

Saya, masih anak kemarin sore jadi dokter di Puskesmas, dengan Mbah Hasyim Ahmad bertemu di rapat Golkar, karena waktu itu semua PNS harus Golkar. Juga bisa langsung cocok dengan Mbah Hasyim Ahmad. Perjalanan berikutnya saya dianggap anaknya yang “mbarep” (sulung).
Kalau hari Raya Iedhul Fitri, mbah Hasyim tidak mau sarapan sebelum saya hadir menemani sarapan.

Kami berdua saling mencintai karena Allah, mudah-mudahan begitu. Kita harus membangun persahabatan yang begitu, karena banyak hubungan hanya atas dasar kepentingan bisnis atau lain-lain. Kepentingan Partai kepada konstituennya apalagi?

Tapi memang ada hubungan yang tanpa kepentingan sama sekali, kecuali karena Allah. Saya selalu mengaji kepada beliau, mengambil ilmunya. Beliau juga mengambil ilmu saya di bidang kedokteran. Saya sering didorong beliau untuk tampil memberi ceramah kesehatan. Itulah salah satu contoh akhlak mulia.

Kita tidak pernah tahu nanti yang akan mentakziahi kita ketika mati siapa? Saya pernah khawatir ketika masuk ke Perumahan tempat saya karena muslimnya minoritas. Kalau saya mati siapa yang akan menyolati?

Karena diajari terus oleh guru kita :
– Kalau meninggal disholatkan minimal 100 orang.
– Kalau tidak mencapai 100, minimal 40 orang.
– Kalau kurang bagaimana?

Dalam satu hadits Rasulullah menyuruh buat 3 baris.
Rasulullah SAW bersabda,
“Tidaklah seorang muslim mati lalu dishalatkan oleh tiga shaf kaum muslimin melainkan do’a mereka akan dikabulkan.” (HR. Tirmidzi no. 1028 dan Abu Daud)



BERSAMBUNG BAGIAN 4


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here