Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

17 Syawal 1442 / 29 Mei 2021

Mari kita ingat bahwa nanti ketika kita kembali kepada Allah, yang kita bawa adalah qolbun Salim.

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَا لٌ وَّلَا بَنُوْنَ (88) اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ (89)

“yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 88-89)

Untuk itu kita perlu menata, merawat dan menjaga qolbu.
Kita tidak boleh meminta Rasulullah mengikuti kita, tetapi kita yang harus berdo’a agar mencintai keimanan dan benci kekufuran.

Allah SWT berfirman:

وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَ مْرِ لَعَنِتُّمْ وَ لٰـكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِ يْمَا نَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَا لْفُسُوْقَ وَا لْعِصْيَا نَ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الرّٰشِدُوْنَ

“Dan ketahuilah bahwa di tengah- tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti kamu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 7)

Dalam Qolbu itu tidak sekedar jantung, melainkan entitas yang berisi Al Fuad dalamnya ada Al Aql, As Shadr, Al Hawa dan An Nafs. Tugas kita adalah menjaga struktur ini supaya tidak didominasi oleh Al Aql, ekstrim kiri yang akan menjadikan orang yang Liberalis atau Pluralis. Atau Al Hawa yang akan mempertuhankan hawa nafsu.

Tugas kita agar Al Hawa mengecil, tetapi Al Fuadnya membesar, bukan Al Aqlnya, tapi Al Aql dibimbing Al Fuad sehingga kita nanti menjadi Pribadi yang bisa mengikuti Rasulullah dengan Samikna wa Athokna.

Tentang Kedudukan Akhlak

Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani)

Dalam zaman medsos banyak orang tergelincir, akhlaknya bermasalah karena sekarang yang berbicara bukan mulutnya, tetapi jarinya pada gadget. Hati-hati gadget ini punya fitur kita bisa mengetik pesan, atau kita memforward kiriman orang lain bisa tulisan, gambar atau video.

Antara salah dan benar bisa dilakukan dalam sekejap kalau kita tidak hati-hati. Karena itu kita harus belajar akhlak ini dengan benar, supaya akhlak ini kita kuasai dengan baik. Karena nanti dengan akhlak baik punya kedudukan tinggi, yaitu di dekat Rasulullah SAW.

Fadhilah Akhlak

Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

“Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat dengan sebab akhlaknya yang luhur.” (HR. Ahmad no. 25013 dan Abu Dawud no. 4165. Dinilai shahih oleh Al-Albani)

Artinya orang yang shalat dan puasanya hebat kalau akhlaknya tidak bagus, kalah sama orang yang akhlaknya hebat ,walaupun dia mungkin shalatnya biasa, seperti orang Badui yang bertanya dalam hadits :

Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah SAW, ”Bagaimana pendapatmu jika aku telah mengerjakan sholat maktubah (sholat fardhu lima waktu), berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, dan aku tidak menambahnya dengan suatu apapun. Apakah aku bisa masuk surga?” Rasul menjawab, ”Ya.” (HR Muslim).

Sebenarnya dari shalat dan puasa terkandung akhlak yang luar biasa.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَا لْمُنْكَرِ ۗ

“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar..” -(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 45)

Jadi kalau orang benar-benar hebat shalatnya maka akhlaknya mestinya hebat. Kalau belum, harus latihan lagi karena berarti masih belum sempurna shalatnya. Karena itu para ulama selalu menganjurkan untuk memperbaiki shalat, karena akan dihisab yang pertama kali ketika kita berhadapan dengan Allah SWT.

Lingkup Pembahasan Akhlak

Lingkup pembahasan tentang akhlak sangat luas. Secara sepintas kami sampaikan sebagai berikut :

– Akhlak kepada Allah SWT

– Akhlak kepada Rasulullah SAW

Antara lain membaca Shalawat pada saat nama beliau disebut.
Dikisahkan pada saat Rasulullah naik mimbar, beliau mengucapkan “Aamiin” tiga kali. Kemudian para sahabat menanyakan hal itu. Rasulullah menjawab bahwa telah datang Malaikat Jibril dan berdo’a tiga kali. Dan yang ketiga ini terkait dengan akhlak kepada Rasulullah.

ثمَّ قال : شَقِي عبدٌ ذُكِرتَ عنده فلم يُصلِّ عليك فقلتُ : آمين

“Kemudian malaikat Jibril AS berdoa lagi: “Celakalah orang yang bila nama Muhammad SAW disebut, dia tidak bershalawat kepadanya.” maka aku berkata Aamiin”.

Mari membuat refleks, begitu mendengar ‘Muhammad’, kita langsung menjawab : ‘Shalallahu alaihi wa Salam’, atau minimal ‘allahumma sholli alaih’.

– Akhlak kepada sesama muslim (dibagi aqrob, tetangga, kawan, muslim secara umum).

Aqrob adalah orang yang mempunyai hubungan kekerabatan. Bisa karena perkawinan atau karena darah.
Ada kalanya orang yang bersatu dalam perkawinan tidak dikaruniai anak. Maka dia tetap punya aqrob dari sisi keluarga isteri/suaminya.

Kemudian Tetangga, malah menjadi tolok ukur keimanan kita.
Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya’”(HR. Bukhari Muslim)

Rasul SAW juga bersabda :

لاَ يَمْنَعْ أَحَدُكُمْ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَةً فِى جِدَارِهِ

“Janganlah salah seorang di antara kalian melarang tetangganya menancapkan kayu di dindingnya”- (HR.Bukhari Muslim)

Intinya jangan sampai kita bertengkar dengan tetangga, karena kita tiap hari bertemu dengan tetangga dan belum tentu bertemu dengan saudara kandung.

Kawan sama dengan muslim secara umum. Jangan sampai kebalik, kepada kawan baik sekali, kepada aqrob malah tidak baik. Ini banyak terjadi. Misal menraktir saudara sekedarnya, tapi menraktir kawan di Restoran terbaik, ini tidak tepat. Yang bagus semuanya diajak.

Kemudian tentang Pesta Perkawinan yang paling jelek menurut Rasulullah :
“Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, hanya orang-orang kaya yang diundang kepadanya, sedangkan kaum fakir dibiarkan (HR Bukhori)

– Akhlak kepada manusia
Tidak hanya kepada muslim.

– Akhlak kepada alam (binatang, tanaman, air, dan lain-lain) .

Rasul berpesan bahwa pada saat kita menyembelih binatang kurban agar memakai pisau yang paling tajam dan hanya dengan sekali sembelihan, agar binatangnya tidak menderita.
Akhlak kepada tanaman, pada saat kita memakai pakaian ihram, kita tidak boleh memetik dahan atau daun tanaman. Kalau itu dilakukan harus membayar denda.

Jadi sebenarnya islam itu sangat kompleks dan sempurna. Tidak hanya satu sisi. Banyak orang yang tidak menyadari, mungkin akibat tak pernah mengaji. Dia merasa dirinya sudah baik, karena mengikut kebanyakan orang. Baik dan buruk diukur dengan hatinya, itu tidak dibenarkan.

1. Akhlak Kepada Allah


Akhlak kepada Allah sudah banyak kita pelajari di kajian sebelumnya. Salah satu yang paling sentral adalah :

A. Beriman – Tauhid – Jangan Syirik

Syirik adalah perbuatan menzhalimi Allah dengan kezhaliman yang paling besar.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَآءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِا للّٰهِ فَقَدِ افْتَـرٰۤى اِثْمًا عَظِيْمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 48)

Demikian pentingnya menghindari Syirik ini sehingga ayat ini diulang lagi pada ayat ke 116.

B. Jangan Munafik

Di dalam Surat Al Baqarah kita belajar tentang orang yang beriman, orang yang kufur dan orang yang munafik.
Ciri tentang orang munafik :

وَاِ ذَا لَقُوْا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَا لُوْاۤ اٰمَنَّا ۚ وَاِ ذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ ۙ قَا لُوْاۤ اِنَّا مَعَكُمْ ۙ اِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.”” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 14)

Menghadapi orang munafik ini susah, karena tampilannya sama dengan kita. Kita tidak tahu dia munafik atau tidak. Hanya Rasulullah yang diberi tahu Malaikat Jibril bahwa si A, si B adalah munafik. Kemudian ada sahabat yang diminta mencatat siapa saja orang yang munafik. Si Pencatat ini diminta untuk merahasiakan sampai dia meninggal.

Hikmahnya ternyata bahwa berita dari Allah terbukti benar, bahwa si A, si B munafik.

Banyak sahabat penasaran ingin tahu, mereka bertanya apakah diri mereka termasuk daftar munafikun atau tidak? Namun Pencatat ini betul-betul amanah. Sampai beliau meninggal tidak dibuka siapa saja yang tercatat.

C. Akhlak kepada Allah yang lain adalah : Kita Takut kepada Allah, Cinta kepada Allah, Malu kepada Allah, Syukur kepada Allah, Sabar dalam semua urusan ketaatan kepada Allah .
Dalam sabar kita mempunyai Pengharapan (Roja’).

D. Menjaga Allah.

Rasulullah SAW bersabda, “Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu;..” (HR At Turmudzi).

Ujung-ujungnya dari seluruh akhlak yang kita miliki kepada Allah membentuk kita menjadi Pribadi yang Tunduk patuh kepada Allah, Taat Kepada Allah. Kemudian dia akan mengikuti Rasulullah.

Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah Muhammad , “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)

Halangannya macam-macam. Masing-masing punya daftar sendiri dan kita maintain, mempertahankan hasil Ramadhan kita menjadi kebiasaan sehari-hari. Tentu dengan usaha yang keras dan riyadhoh.
Urutannya memelihara yang wajib dulu, kemudian bergerak ke nawafilnya (yang dianjurkan) dengan istiqomah.

2. Akhlak Kepada Rasulullah SAW

Tentunya kepada seluruh Rasul dan Nabi. Tetapi disini kita konsentrasi kepada Rasulullah SAW.

Akhlak Pertama adalah Mengimani. Setelah mengimani, mencintainya.
Setelah mencintai dirinya, mencintai keluarganya. Setelah mencintai keluarganya, mencintai sahabat- sahabatnya. Jangan sampai mencela sahabat Rasul.

Rasulullah SAW telah bersabda , ”Janganlah kalian mencela sahabat- sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. (HR Bukhori Muslim)

Memang ada kelompok islam yang mencela sahabat, oleh MUI sudah dinyatakan sesat. Mudah-mudahan ada Revolusi Mentalnya. Tetapi karena kita ini di Indonesia bukan negara islam maka semuanya ada. Dan itu dijaga negara semuanya.

Karena itu saya katakan dalam forum ini, kita menata, merawat dan menjaga qolbu dalam zaman yang akhlaknya memudar. Karena salah satunya dari perbedaan. Kalau ada Perbedaan yang satu boleh mencerca sahabat dan yang satu wajib mencintai sahabat kalau bertemu bisa konflik horizontal. Makanya kita harus hati-hati kita menjaga akhlak.

Berikutnya adalah Cinta Kepada Orang Shaleh. Bahkan sudah ada lagunya, yang dinyanyikan oleh Cak Nun. Ada petunjuk lima perkara untuk menenangkan hati, salah satunya adalah berkumpul dengan orang Sholeh. Rasulullah SAW menyatakan bila kamu berteman dengan orang Sholeh janganlah kamu berpisah darinya. Ini adalah kiat-kiat agar terjaga akhlak yang baik kepada Rasulullah SAW.

Tapi harus diperhatikan, Rasulullah mengatakan : Jangan mengkultuskan.

Rasulullah SAW bersabda :

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).’”(HR Bukhori)

Dalam ayat terakhir Surat Al Kahfi dikatakan :

قُلْ اِنَّمَاۤ اَنَاۡ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰۤى اِلَيَّ اَنَّمَاۤ اِلٰهُكُمْ اِلٰـهٌ وَّا حِدٌ ۚ

“Katakanlah Muhammad , “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.”.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 110)

Rasulullah adalah manusia biasa, tapi beliau diangkat sebagai Nabi, karena beliau adalah sebaik-baik manusia. Kalau membaca sejarah beliau dari lahir sampai diangkat menjadi Rasul, kemudian dari saat menjadi Rasul sampai wafatnya tidak ada cacat sedikitpun.

Jangan tergoda oleh pemberitaan Para Orientalis. Kalau Orientalis memang membuat-buat celah macam-macam.
Karena mereka memang musuh. Orientalis adalah ahli-ahli dari Negeri barat yang mempelajari islam tapi bukan untuk beragama islam, melainkan untuk mencari-cari kelemahan agama islam supaya umatnya murtad.

Tapi kenyataannya kebalik, banyak orang Barat yang masuk islam. Tahun 2001 dulu Islam adalah agama yang paling cepat berkembang di Barat. Ada yang menghujat Nabi dengan cara membuat karikatur macam-macam, akhirnya malah masuk islam dan malah sudah haji.

Jangan tergiur oleh teks-teks yang mendorong kita menjadi kufur kembali. Memang ada situs Orientalis yang tampilannya Arab, tampilan islam, tetapi di dalam akan dipertentangkan antara Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Isa a.s. Akhirnya mereka menyatakan yang benar Nabi Isa a.s. Padahal semuanya benar, kalau islam tidak dibengkokkan.

Jadi hati-hati di dunia maya. Sampai ada teman yang asalnya islam kemudian murtad. Naudzubillahi min dzalik.

Berikutnya adalah Bersyukur.
Kita boleh bersyukur kepada manusia, maka kepada Rasulullah kita bersyukur.

Nabi SAW bersabda,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Jadi kita sering-seringlah mengucap terima kasih kepada orang lain, karena itu adalah perwujudan syukur kita kepada Allah SWT.

Berikutnya Sabar. Kalau kita belajar hadits, makin hari makin luar biasa. Banyak sekali bagaimana kisah Nabi menerima wahyu. Kalau kita tidak hati- hati, tidak sabar bisa tergelincir menjadi orang yang mungkin mengkufuri sebagaimana orang-orang kelompok JIL, mengatakan bahwa Al Qur’an sudah tercemar dengan bahasa seseorang yang namanya Muhammad SAW. Al Qur’an dikatakan sebagai bahasanya manusia, padahal Al Qur’an sudah dijamin Allah yang menjaganya sampai akhir zaman. Tidak ada yang bisa mengubah Al Qur’an.

Berikutnya adalah Tunduk patuh dan Taat kepada Rasulullah. Banyak ayat yang menyebutkan ini, antara lain dalam Surat Al Mukminun, sehingga kita sampai pada derajad Samikna wa Athokna.

Terakhir adalah Membela Rasulullah, walaupun ada suara yang kontroversi :
“Nabi itu tidak perlu dibela..”
Kalau saya tetap mengikuti bahwa Nabi harus dibela. Bukankah kalau ada orang yang kita cintai dilecehkan orang, kita juga akan membelanya?
Ini adalah akhlak kepada Rasulullah SAW yang harus diikuti.

3. Akhlak Kepada Orang Tua

Kalau kita mengikuti nasehat Luqman kepada anak-anaknya, setelah Tidak Syirik berikutnya adalah “Birrul walidain” atau berbuat baik kepada orang tua.

عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ – وَاسْمُهُ سَعْدُ بْنُ إيَاسٍ – قَالَ : حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا . قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ , قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ , قَالَ : حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

Dari Abu Amr asy-Syaibâni –namanya
Sa’d bin Iyâs- berkata, “Pemilik rumah ini telah menceritakan kepadaku –sambil menunjuk rumah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu dengan tangannya, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allâh?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku (Abdullah bin Mas’ud) mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berbakti kepada dua orang tua.” Aku bertanya lagi, ‘Lalu apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allâh.” Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Itu semua telah diceritakan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku, sekiranya aku menambah (pertanyaanku), pasti Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menambah (jawaban Beliau) kepadaku.” (HR Muslim)

Ibnu Mas’ud bertanya tentang amalan yang dicintai Allah.
Dijawab Rasul : “Shalat pada waktunya”.
Namun ada ulama yang berdasar hadits lain yang mengatakan

الصَّلاةُ لِأَوَّلِ وَقْتِهَا

shalat pada awal waktunya.
Tapi di dalam hadits diatas tanpa kata “awal”. Maksudnya ada dalam waktunya. Rasulullah memberi pelajaran batasan waktu shalat.

Kemudian yang kedua adalah berbakti kepada orang tua.
Kemudian yang ketiga jihad , pertama kali jihad dengan harta dan berikutnya jihad dengan jiwa. Sekarang banyak yang menghindari kata jihad karena telah diselewengkan artinya menjadi Radikalisme dan lain-lain. Jihad itu adalah puncaknya agama islam.

Akhlak kepada orang tua ini merupakan hal kunci juga. Berbahagialah yang masih mempunyai orang tua. Karena bisa melaksanakan
“Birrul walidain”, jangan sampai terlambat. Nanti orang tua sudah meninggal hanya jadi penyesalan karena belum berbuat sesuatu untuk orang tua. Sudah terlewatkan, tapi masih ada usaha untuk memperbaiki diri dengan cara mendoakannya minimal setelah shalat lima waktu.

“Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira”. (Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat aku di waktu kecil).

Sebelumnya membaca istighfar dulu. Do’a dilakukan dengan suara lirih, tak perlu semua orang tahu.

Salah satu yang penting untuk diketahui adalah akhlaknya Abu Hurairah kepada ibunya.

Abu Hurairah masuk islam ditentang oleh keluarganya, khususnya ibunya. Ibunya sudah tua, karena Abu Hurairah masuk islamnya sudah dewasa. Kalau beliau pulang ke rumah ibunya pasti beliau dimarahi ibunya. Bahkan pernah diguyur air karena beliau disuruh kembali ke agamanya yang lama, tapi tidak mau. Abu Hurairah tetap istiqomah pada agama islam dan selalu mengikuti Rasulullah.

Akhirnya beliau diberi rumah di sekitar masjid (semacam penampungan). Beliau suka memelihara kucing, karena itu beliau disebut Abu Hurairah (bapaknya kucing). Beliau tidak berputus asa terhadap ibunya. Tetap birrul walidain, berbuat baik.

Lama-lama tidak kuat lagi, kemudian menyampaikan kepada Rasulullah :
“Ya Rasulullah, tolong mendoakan ibu saya”. Rasulullah bertanya : “Mendoakan bagaimana?”
“Mendoakan supaya ibu saya masuk islam”. Langsung Rasulullah mengangkat tangan dan mendoakan supaya ibunya Abu Hurairah mendapat hidayah, memeluk agama islam.

Suatu hari Abu Hurairah datang ke rumah ibunya. Meskipun beliau agak takut. Pada saat itu ibunya sedang mandi. Setelah selesai, ibunya keluar dan berkata : “Aku sudah bersyahadat kepada Allah dan Rasulnya”.
Maa Syaa Allah, jadi kalau Rasul berdo’a jawabannya kontan.

Sungguh berbahagia dulu para sahabat yang bersama beliau dan didoakan. Dan jarang yang meminta do’a untuk dirinya sendiri. Hanya satu saja, Tsa’labah yang meminta kaya. Tetapi kemudian justru dari kekayaannya dia menjadi tergelincir.

4. Akhlak Kepada Guru

Umar bin Khattab mengatakan :

تَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَعَلَّمُوْنَ مِنْه

“ Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian”. (HR Al Baihaqi)

Ini yang sekarang mulai memudar. Kepada orang tua juga mulai memudar. Rasulullah pernah menyampaikan tanda-tanda kiamat antara lain ketika Budak wanita melahirkan majikannya. Artinya anak menjadi bos bagi orang tuanya.
Mungkin ini sudah mulai ada.

Kita harus bisa mendidik anak supaya anak tidak menjadi mandor kita atau bos kita. Tetapi kita yang harus membimbingnya supaya dia selamat di dunia dan akhirat.

Di Fakultas Kedokteran, akhlak kepada guru ini bahkan masuk ke Sumpah Dokter. Salah satu sumpah dokter adalah : “Saya akan memberi kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya”.

Ini adalah sumpah, jadi tidak ada dokter yang tidak menghormati gurunya. Tapi bisa saja nanti bergeser, karena misalnya dalam proses sama- sama praktek di satu kota. Karena itu hati-hati.

Adab murid kepada guru menurut Imam Al Ghozali :

آداب المتعلم مع العالم: يبدؤه بالسلام ، ويقل بين يديه الكلام ، ويقوم له إذا قام ، ولا يقول له : قال فلان خلاف ما قلت ، ولا يسأل جليسه في مجلسه ، ولا يبتسم عند مخاطبته ، ولا يشير عليه بخلاف رأيه ، ولا يأخذ بثوبه إذا قام ، ولا يستفهمه عن مسألة في طريقه حتى يبلغ إلى منزله، ولا يكثر عليه عند ملله.

“Adab murid terhadap guru, yakni: mendahului beruluk salam, tidak banyak berbicara di depan guru, berdiri ketika guru berdiri, tidak mengatakan kepada guru, “Pendapat fulan berbeda dengan pendapat Anda”, tidak bertanya-tanya kepada teman duduknya ketika guru di dalam majelis, tidak mengumbar senyum ketika berbicara kepada guru, tidak menunjukkan secara terang-terangan karena perbedaan pendapat dengan guru, tidak menarik pakaian guru ketika berdiri, tidak menanyakan suatu masalah di tengah perjalanan hingga guru sampai di rumah, tidak banyak mengajukan pertanyaan kepada guru ketika guru sedang lelah.” (Imam Al Ghozali)

Adab pertama adalah murid memberi salam lebih dulu kepada guru. Tetapi guru juga terkena aturan waktu masuk ruang harus memberi salam dulu.
Ada ajaran baik dari film Upin dan Ipin tentang hormat kepada Guru.
Kemudian jangan banyak bicara, bila guru memberi nasehat, murid mendengarkan.

Kalau gurunya berdiri setelah selesai mengajar, maka murid berdiri juga.
Tidak boleh mengatakan pendapat yang berbeda kepada guru, kecuali kalau bertanya diperbolehkan.

Jangan berbisik-bisik dengan teman saat ada guru. Ini sering terjadi. Untuk mengingatkan ini secara pribadi saja. Jangan pada saat forum, karena menambah orang yang berbisik.
Jangan senyum-senyum jika guru sedang berkhutbah.
Jangan berlaku kasar kepada guru.
Jangan bertanya ketika guru berjalan. Tunggu sampai guru tiba di tempat tujuannya baru bertanya. Dan jangan bertanya saat guru lelah.

5. Akhlak Kepada Sesama Muslim

Salah satu akhlak yang penting disebutkan dalam hadits ini.

«فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ؛ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا؛ فِي بَلَدِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ تَلْقَونَ رَبَّكُمْ، إِلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ، أَلا هَلْ بَلَّغْتُ؟». قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: «اللَّهُمَّ اشْهَدْ، لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ، أَلا فَلا تَرْجِعُنَّ بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ».

“Sesungguhnya darah kalian dan harta kalian diharamkan atas kalian sebagaimana kehormatan hari ini , di bulan ini , di negeri kalian ini hingga kalian bertemu Rabb kalian, hingga kalian bertemu Rabb kalian. Ingatlah bukankah aku telah menyampaikan ?”. Para sahabat berkata, “Iya”. Nabi berkata, “Ya Allah saksikanlah, dan hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, bisa jadi yang disampaikan lebih memahami daripada yang dengar langsung. Ingatlah janganlah sepeninggalku kalian kembali menjadi kafir, sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain” (HR. Bukhari Muslim)

Ini adalah khutbah Rasulullah pada saat haji Wada’ di Padang Arofah.

Ada orang yang menangis saat itu yaitu Abu Bakar. Sahabat bertanya kepada beliau. Dijawab bahwa beliau merasa bahwa pidato ini adalah isyarat perpisahan dari Rasulullah.
Karena pada saat itu turun ayat terakhir

اَ لْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَـكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَ تْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَـكُمُ الْاِ سْلَا مَ دِيْنًا ۗ

“.. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 3)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here