Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

17 Syawal 1442 / 29 Mei 2021




Pendahuluan

Saya tidak mengatakan zaman tidak adanya akhlak tapi memudarnya akhlak. Jadi masih ada tapi mulai ada samar-samar banyak yang hilang diantara akhlak yang mulia itu.
Cakupan bahasa akhlak itu sangat luas sekali, bahkan sampai dikatakan bahwa orang yang akhlaknya mulia melebihi tingkat orang yang beribadah mahdoh.

Dalam bahasan ini kita akan membalik kajian dari akhlak dulu, kemudian membahas apa-apa yang telah memudar. Dari pembahasan Tema Aklak, pengertian akhlak, kemudian rincian dalam pelaksanaannya. Dari sana kita akan tahu mana akhlak yang masih bertahan dan mana yang memudar.

Zaman sekarang penuh dengan perubahan yang luar biasa. Salah satu hal yang menyulitkan banyak pihak. Antara lain yang dialami oleh teman- teman para dosen yaitu Proses Daring.
Proses Daring menyebabkan orang tua menjadi dekat dengan anak, tapi itu untuk orang tua yang memperhatikan anak. Namun ada juga orang tua yang banyak mengeluh dengan Proses Daring ini.

Sebenarnya hikmah Pandemi ini mengembalikan peran orang tua sebagai Madrasah bagi anak. Madrasah utamanya adalah ibu. Karena ibu yang banyak di rumah.
Mari kita ambil potensinya, peranan yang bisa kita ambil untuk mendidik anak.

Di kalangan yang lebih tinggi, misalnya Perguruan Tinggi, kendalinya menjadi sulit karena peran orang tua juga sangat sentral untuk membimbing anak, karena seorang dosen hanya dari kejauhan saja, menginstruksikan secara daring apa-apa yang harus dikerjakan anak didiknya. Ini sulit sekali.

Maka salah satu kiatnya adalah mengajak anak ke forum seperti ini. Karena dalam forum seperti ini kita merefresh terus ilmu Al Islam.
Ada yang mau, ada yang tidak mau. Yang tidak mau mengatakan cukup belajar ke Youtube, ini bermasalah. Yang kedua, di waktu Subuh masih tidur. Ini masalah juga.

Karena itu mari kita gembleng diri kita dan anak-anak kita. Karena kalau anak-anak kita selamat, maka minimal dalam proses di alam kubur kita selamat, ketika anak-anak kita selamat. Kepada anak-anak kita harus diajarkan supaya menyelamatkan anaknya. Sehingga kita punya keamanan dalam alam kubur sampai masanya cucu. Selanjutnya kita tidak tahu karena rentang umur antara diri kita sampai usia cucu dewasa sudah terlalu jauh.

Dalam forum seperti ini saya ingatkan berkali-kali pentingnya merefresh ilmu Al Islam. Ilmu Al Islam itu sangat luar biasa luasnya. Ini seolah membuka buku, dimana bukunya adalah Rasulullah SAW sejak diangkat menjadi Nabi, bahkan mungkin sebelumnya, karena sejak umur sebelum 35 sudah menunjukkan akhlak yang luar biasa. Beliau sudah dijuluki Al Amin, berarti kesempurnaan manusia yang bernama Muhammad Rasulullah SAW ini dibentuk dari Awal.

Banyak orang yang tidak sukses dalam politik karena dibentuk tiba-tiba. Ketika mengalami keutamaan tertentu, misalnya peluang untuk memperoleh sesuatu tergelincir. Akhirnya kita melihat korupsi itu adalah salah satu tergelincirnya manusia dalam proses yang kita kenal sebagai amanah. Banyak sekali yang kena, tidak hanya para politisi, tidak hanya Pejabat di suatu Lembaga atau Negarawan, tapi juga tidak tertutup kemungkinan menyangkut Dokter, Dosen, Pedagang, menyangkut semua profesi.

Kalau dilihat akhir-akhir ini Profesi yang diuji oleh Allah adalah wartawan. Dulu waktu kita diajar oleh para guru kita atau para cerdik pandai, yang menjaga suatu negeri adalah : Ulama , Pemimpin dan Wartawan.
Karena wartawanlah yang bisa tahu informasi kemudian melakukan sharing kepada Publik, supaya kalau ada masalah dikawal agar tidak jatuh pada perilaku atau kejahatan yang lebih berat lagi. Ada istilah Preventif karena ada wartawan yang selalu menulis.

Tetapi akhir-akhir ini kalau kita melihat Parameter Televisi, kita melihat malah yang sekarang ditonjolkan adalah kriminalitas, apakah pembunuhan, perampokan atau lainnya. Tetapi disisi lain amanah tidak dijaga. Akhirnya gelombang kendali terhadap masyarakat/ umat/ negara ini sekarang menembus ke Medsos.

Kita kebanjiran berita Medsos. Kalau kita tekuni, habis waktu kita untuk membuka Medsos. Tetapi ini adalah satu kenyataan yang harus kita terima.
Kenyataan yang mungkin dirasa pahit, tetapi marilah kita sabar. Banyak ayat yang sudah kita pelajari bagaimana sabar ini dibalas oleh Allah SWT dengan sangat luar biasa. Salah satunya misalnya dibalas dengan surga.

Allah SWT berfirman:

وَجَزٰٮهُمْ بِمَا صَبَرُوْا جَنَّةً وَّحَرِيْرًا 

“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya berupa surga dan pakaian sutera,” (QS. Al-Insan 76: Ayat 12)

Jadi kita harus kuat dalam bersabar.
Dulu dalam kajian qolbu berkali-kali kita membahas sabar. Sekarang kita balik. Kita lihat akhlaknya, kemudian kita diagnosis dengan Al Qur’an dan Hadits dan kita introspeksi kita ketinggalan dimana.

Sudah kita kenal bahwa Rasulullah SAW itu diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” -(HR. Al-Baihaqi)

Membahas islam tidak lepas dari bahasan akhlak. Maka kalau kita membaca buku, ajaran islam itu dibagi menjadi Akidah, Syari’ah dan Akhlak. Ada juga yang membagi Akidah, Syari’ah dan Muamalah yang didalamnya ada akhlak.

Akidah sudah banyak kita kaji, bahkan ada khilafiyahnya : Asyariyah dan ada yang di luar Asyariyah. Sehingga ketika ada ayat “Tangan Allah”, penafsirannya berbeda-beda. Tapi kita tidak membahas ini.

Syari’ah sudah kita pelajari sedikit tiap hari pada bulan Ramadhan. Alhamdulillah sekarang ini dengan zaman yang maju, semua yang kita tayangkan disini langsung bisa disiarkan oleh Youtube. Otomatis yang tidak hadir bisa menyimak kajian di YouTube .

Cuma kalau kita mengandalkan YouTube kita bisa terpelanting kemana-mana. Karena YouTube ini begitu dibuka seluruh alam kelihatan. Ada hutan yang berisi macam-macam binatang, ada pantai, ada alam yang indah dengan awan, langit yang biru, tapi juga ada banyak yang membuat kita sesak nafas.

Ada usulan dari seorang guru, kalau melihat YouTube dengan puteranya dilihat sama-sama. Nanti orang tua yang membimbing mana yang harus ditekankan dan mana yang tidak. Karena ini adalah zaman yang sangat fluktuatif, sangat turbulent.

Fluktuatif maksudnya grafik naik turun seperti Covid sekarang naik turun. Sekarang Kudus naik sampai ada larangan masuk kota Kudus, tapi ada yang turun seperti di Banjarnegara. Maka kita akan berhadapan terus dengan masalah ini karena kunci dari penularan Covid adalah bertatap muka. Dimana salah satu membawa virus maka yang satu berpotensi untuk ketularan dan mereka biasanya tidak menyadari.

Ayat lain tentang Akhlak Rasulullah SAW adalah Surat Al Ahzab ayat 21

لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰ خِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا 

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)

Jadi sebenarnya literasi tentang Al Qur’an sudah dari dulu ada. Demikian juga literasi Hadits tentang akhlak sudah kita hafal.


Antara Sunnah dan Bid’ah

Sering ada yang keliru menangkap taushiyah dan kemudian memberi komentar. Akhirnya terjadi perdebatan tentang Bid’ah dan Sunnah.
Yang satu bilang kita harus mengikuti Sunnah bila tidak maka akan terjadi Bid’ah. Yang satu bilang : “Kenapa sedikit-sedikit Bid’ah?”

Kita akan melihat asal-usul peringatan ini adalah khutbah Jum’at oleh Rasulullah SAW. Ada hadits dari Jabir, bahwa

أَخْبَرَنَا عُتْبَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ ثُمَّ يَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَكَانَ إِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ احْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ نَذِيرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ مَسَّاكُمْ ثُمَّ قَالَ مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ أَوْ عَلَيَّ وَأَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ

Telah mengabarkan kepada kami [‘Utbah bin ‘Abdullah] dia berkata; telah memberitakan kepada kami [Ibnul Mubarak] dari [Sufyan] dari [Ja’far bin Muhammad] dari [bapaknya] dari [Jabir bin ‘Abdullah] dia berkata; “Apabila Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkhutbah, maka beliau memuji dan menyanjung Allah dengan hal-hal yang menjadi hak-Nya, kemudian bersabda: ‘Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa telah disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya. Sebenar-benar perkataan adalah kitabullah (Al Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek jelek perkara adalah hal-hal yang baru, setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam neraka’. Kemudian beliau bersabda lagi, ‘Ketika aku diutus, jarak antara aku dan hari Kiamat seperti jarak dua jari ini’. Bila beliau menyebutkan hari Kiamat maka kedua pipinya memerah, suaranya meninggi, dan amarahnya bertambah, seolah-olah beliau memperingatkan pasukan. Beliau bersabda: ‘Hati-hati pada pagi kalian dan sorenya’. Barangsiapa meninggalkan harta, maka itu buat keluarganya dan barangsiapa meninggalkan utang atau sesuatu yang hilang maka itu tanggunganku. Aku adalah wali bagi orang-orang yang beriman ‘.”(Sunan An Nasa’i 1560)

Pujian hamdalah yang sering dibaca adalah :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ

Segala puji bagi Allah yang hanya kepada-Nya kami memuji, memohon pertolongan, dan mohon keampunan.
Kami berlindung kepadaNya dari kekejian diri dan kejahatan amalan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkan, dan barang siapa yang tersesat dari jalanNya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah saja, yang tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya.

Dalam kisah lain diceritakan bahwa dengan kalimat pujian ini berhasil mengislamkan seorang kepala suku. Ketika itu ada seorang kepala suku marah-marah, dan meminta bukti bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ternyata Nabi membaca pujian di atas. Akibatnya Kepala Suku itu gemetar dan mengatakan itu bukan perkataan manusia, itu perkataan Nabi. Dia langsung masuk islam.

Setelah Pujian itu dilanjutkan :
“Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa telah disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberikan petunjuk kepadanya”.
Kalimat ini masih sering diucapkan dalam khutbah Jum’at.

Berikutnya kalimat yang akan kita bahas:
“sesungguhnya ucapan paling benar adalah Kitab Allah dan petunjuk paling baik adalah petunjuk Muhammad”

Kita harus komitmen terhadap aturan di atas, bahwa petunjuk yang benar adalah dari Nabi Muhammad, bukan Kata si Anu. Harus dikonfirmasi , kata si Anu itu ada rujukannya atau tidak ke Al Qur’an atau ke Rasulullah? Kalau tidak ada tinggalkan saja. Kita tidak mengikuti orang, tetapi apa yang diucapkan Rasulullah.

“seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang diada-adakan , dan setiap hal yang diada-adakan itu adalah bidah dan setiap bidah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di dalam neraka”

Bid’ah ini ucapan Rasulullah, maka jangan menyalahkan ustadz yang selalu mengingatkan akan bahaya bid’ah.

Setiap bid’ah itu sesat dan yang sesat masuk neraka. Artinya kita harus mengidentifikasi mana yang Sunnah dan mana yang Bid’ah. Karena kita harus menghindari yang Bid’ah. Hendaknya perdebatan tentang hal ini dihentikan. Namun di Youtube malah perdebatan tentang hal ini dikonroversikan. Kata si A begini, tapi kata si B begitu. Ini tidak sehat untuk umat.

Rasulullah ketika menyebutkan Hari Kiamat wajahnya memerah, suaranya meninggi.

Ada satu hadits yang mengatakan :
“Bila sedang berkhutbah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerah matanya, suaranya keras dan kemarahan beliau memuncak, seakan- akan beliau sedang memperingatkan pasukan” (dari musuh)…[HR. Muslim]

Jadi ketika khutbah itu harus bersemangat, bukan sejuk dan pelan-pelan. Akibatnya jama’ah tidur semua karena banyak yang capai. Karena halangan paling utama orang mendengarkan khutbah adalah mengantuk.

Beliau bersabda: ‘Hati-hati pada pagi kalian dan sorenya’.Barangsiapa meninggalkan harta, maka itu buat keluarganya dan barangsiapa meninggalkan utang atau sesuatu yang hilang maka itu tanggunganku. Aku adalah wali bagi orang-orang yang beriman ‘.”

Maksudnya bisa jadi pada suatu hari timbul musibah. Salah satu musibah adalah kiamat kecil. Setelah musibah maka hartanya ganti pemilik.
Makanya ketika mencari harta, jangan sampai lupa hak-haknya Allah dan Rasulnya serta hak-hak Keluarganya. Karena nanti akan rugi besar. Harta yang dikumpulkan kelak bukan haknya.

Kesimpulannya Sabda Rasulullah tentang Bid’ah itu sesat mestinya harus disampaikan oleh Para Mubaligh, Para Da’i. Jangan malah dipertentangkan. Kita harus dapat mendiagnosa mana Sunnah dan mana Bid’ah. Bid’ah ditinggalkan dan Sunnah diikuti.


Akhlak

Para ulama sepakat bahwa akhlak itu given atau diciptakan oleh Allah.
Pengalaman saya di masjid Kampung menemui anak itu berbeda-beda. Ada seorang anak yang tanpa disuruh dia menemui saya dan bertanya : “Pak dokter, malam ini mengaji atau tidak?” – “ngaji, boleh”- jawab saya.

Langsung dia mengajak ke teman- temannya yang lain yang sebaya : “Jangan pulang, kita mengaji..”.
Itu dilakukan olehnya setiap hari, sebelum Pandemi Covid. Tapi kemudian terhenti saat Pandemi.

Itu luar biasa, artinya dalam peristiwa itu ada anak yang mendapatkan “given” yang luar biasa :
– Dia berakhlak tinggi,
– Hormat kepada gurunya dengan bertanya apakah ada waktu untuk mengaji.
– Dia mengajak temannya untuk berbuat kebaikan tiap hari dan temannya taat.

Kita tidak mengajarkan sesuatu tapi anak itu sendiri yang telah mendapatkan akhlak dari Allah SWT.
Maka para ulama sepakat bahwa akhlak itu diciptakan oleh Allah terhadap seseorang.

Didefinisikan bahwa akhlak itu suatu respond atau kegiatan yang dilakukan seseorang dengan tidak dipikirkan terlebih dulu. Dia muncul spontan. Bahwa dia itu sopan atau tidak sopan, itulah akhlak yang melekat pada seseorang.

Definisi akhlak yang saya kutip :
Sifat atau perangai seseorang yang telah melekat dan biasanya akan tercermin dari perilaku orang tersebut.
Seseorang yang memiliki sifat baik biasanya akan memiliki perangai atau akhlak yang baik juga. Dan sebaliknya seseorang yang memiliki perangai yang tidak baik cenderung memiliki akhlak yang tercela.

Perangai ini juga given, tapi para ahli dan ulama sepakat bahwa perangai bisa dilatih. Ada seorang yang asalnya pemarah, kemudian karena dilatih bisa menjadi lebih sabar.


BERSAMBUNG BAGIAN 2


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here