Teguh Wahyudi

12 Dzulqo’dah 1442 / 23 Juni 2021



Latar Belakang

Saya asli lahir di Tuban, S1 jurusan Ekonomi Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Dulu orang tua saya sangat khawatir kalau saya tidak bisa menjadi Pegawai Negeri, terutama ibu yang merasa bahwa jika anaknya menjadi Pegawai Negeri berarti sukses. Maka kakak saya menjadi Pegawai BPPT, dapat beasiswa dari Pak Habibi ke Jepang. Namun akhirnya kakak saya keluar juga dari BPPT dan berbisnis sendiri, itu sangat disesalkan orang tua.

Demikian juga saya. Saya juga dilarang untuk bisnis, padahal ibu secara tidak sadar sudah mengajari bisnis sejak saya SMP. Saya jualan nangka, jualan makanan di Pos Kamling. Pembelinya anak SMP, anak SMA. Kemudian saya diajari fotografer dan membikin Studio Foto. Kalau ada manten saya memotret. Begitu berjalan terus sampai SMA.

Ketika masuk mahasiswa kegiatan saya macam-macam, mulai dari bisnis, organisasi. Saya banyak mendirikan beberapa organisasi di Malang. Terakhir menjadi sekertaris PTMSI di Malang. Ternyata aktif di organisasi juga merupakan sesuatu yang bermanfaat buat kita. Ketika kita ingin punya banyak teman, atau berkarya itu bisa kita dapatkan dengan organisasi.

Tahun 1999-2000 saya mengawali kegiatan bisnis dari Malang dengan kegiatan PKL. Hasil dari PKL tadi menjadi suatu bisnis.


Mengawali Kehidupan di Jepang

Tahun 2003 saya mendapatkan kesempatan untuk belajar di Nagoya Jepang.

Budaya Jepang adalah budaya yang sangat hormat menghormati. Waktu saya masih sekolah kehilangan sepeda, tapi kembali lagi.
Budaya disana sesuatu yang bukan hak milik kita tak boleh dimiliki. Bahkan menyentuh yang bukan miliknya juga dilarang. Saya pernah menemukan dompet kemudian saya serahkan ke Kantor Polisi. Kemudian ditelpun polisi karena pemilik dompet ingin ketemu. Saya diberi hadiah semangka besar.

Jadi di Jepang tak perlu khawatir kehilangan. Kalau di tempat Public misalnya bandara, yang dikhawatirkan bukan orang Jepang tapi orang lain. Saya pernah ketinggalan tas yang isinya uang banyak dan benda berharga di tempat makan. Saya kembali kesana tasnya sudah tak ada. Tapi ketika saya tanyakan petugas ternyata tas saya diamankan. Dan saya mendapatkan tas saya kembali.

Anak-anak Jepang dididik ketika mulai masuk play group, ketika anak bisa diajak bicara dan mengerti.
Nilai-nilai kebaikan ditanamkan dari generasi ke generasi :
– Jangan ambil yang bukan hakmu.
– Budaya disiplin, tepat waktu
– Hormat menghormati.
– Bekerja keras

Budaya ini akan sangat bagus kalau bisa diterapkan di tempat kita. Tapi kenyataannya budaya disini tidak ditanamkan dalam hati.

Ini salah kita karena pendidikan tidak masuk sanubari anak. Saat sekolah SD, SMP, SMA lingkungan mengubah budaya. Ketika kita di dalam kelas, budaya kelas di Indonesia sudah beda.
Ini tidak terjadi di Jepang, di sana lingkungan tetap menjaga budaya yang sama : Menghargai hak, Disiplin baik, Kerja cepat, Perhatian waktu

Memang di Jepang juga ada yang jelek. Kemarin saya sempat ketipu waktu mau beli tanah, kasusnya sampai Pengadilan dan saya kalah. Tapi secara prosentase yang jelek sedikit. Meskipun mereka tak punya agama tapi kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan sebetulnya adalah realita ajaran islam.

Kakak saya setelah lulus SMA juga kuliah S1 di Jepang. Dia sekitar 28 tahun di Jepang terus pulang ke Indonesia. Hatinya menyontoh budaya Jepang : Disiplin baik, Kerja cepat, Perhatian waktu mengikuti budaya Jepang.

Ketika kembali ke Indonesia tidak cocok memakai budaya Jepang, bisa-bisa malah ditentang masyarakat.
Dia di Indonesia mendirikan organisasi sosial namanya Indonesia Japan Business Network dimana didalamnya banyak berhubungan dengan kami.


Dari Study Visa menjadi Bisnis Visa

Saat di Jepang saya berfikir betapa susah mendapatkan makanan halal di Jepang. Dari situlah awal mulanya muncul keinginan kami berbisnis.
Maka pada hari sabtu dan minggu kami berusaha mencari tempat dimana produk-produk halal untuk teman-teman muslim di Nagoya dan sekitarnya. Tahun 2003- 2005 kami keliling door to door dengan menggunakan kendaraan bersama kakak yang dulu ada di Osaka.

Sebenarnya dimanapun kita berada, di bumi Allah ini rezeki kalau dicari dengan cara yang berkah dan halal niscaya mudah. Ketika itu saya bisa menghasilkan penjualan 1,8 juta Yen (200 juta rupiah) sebulan hanya dengan dua hari kerja seminggu.

Dari pengalaman itu saya merasa bahwa bisnis ini sangat menguntungkan dan perlu ditingkatkan. Menguntungkan karena dibutuhkan orang sehingga kami bisa menjual sebanyak mungkin produk- produk halal.

Dari omzet 200 juta sebulan, katakan saya ambil untung 30%, maka setiap bulan saya bisa mendapatkan tambahan modal 90 jutaan rupiah. Dalam waktu dua tahun dan hanya kerja dua hari dalam satu minggu saya sudah punya modal. Oleh karena itu saya memutuskan agar saya dapat memberi kontribusi pada Jepang, khususnya mendistribusikan makanan- makanan halal di seluruh Jepang.

Saya memutuskan tidak melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi. Saya minta nasehat pada dosen di Nagoya bahwa saya ingin mencoba untuk berbisnis. Akan tetapi oleh kampus tidak diijinkan. Dikatakan tidak akan mungkin dengan study visa yang saya punyai saat itu. Karena saat itu status saya adalah siswa. Study Visa tak dapat diubah menjadi bisnis Visa.

Menurut fihak Kampus hal itu sangat susah dilakukan. Sebagai seorang muslim tentu saya masih ingin mencoba dan mengecek apakah benar yang dikatakan fihak Kampus? Ternyata hal itu benar!

Saya melacak aturan untuk mengubah Study Visa menjadi Bisnis Visa.
Ternyata langkah yang harus ditempuh banyak sekali. Langkah pertama sudah keliru, tentu kedepannya pasti ditolak.
Langkah kedua ditolak. Langkah ketiga masih ditolak. Sampai langkah keempat saya ditolak.

Saya menganggap bahwa hal itu belum menjadi rezeki saya. Tetapi saya masih mempunyai keyakinan bahwa hal itu bisa dan saya akan mencoba cara yang kelima.

Ternyata cara saya yang kelima mendapatkan lampu hijau. Saya diberi kesempatan : Silahkan, apa yang ingin dibangun di Jepang.
Saya membuat proposal bisnis saat itu, kenapa saya ingin mendirikan Perusahaan karena :
– Kebutuhan kawan-kawan muslim yang luar biasa besarnya atas produk halal.
– Waktunya sudah mendesak

Maka saya mencoba mendirikan Perusahaan makanan halal.
Bulan Februari 2005 perusahaan kami Pabrik Tempe berdiri secara legal di Nissio, Aichi , Nagoya dengan nama Sari Raya Corporation sebagai Perusahaan Indonesia yang pertama kali di Nagoya.

Pada saat itu memang ada dua BUMN di Tokyo , yaitu Garuda dan BNI. Tapi yang milik Warga Negara Indonesia yang pertama adalah Sari Raya.
Saat mendirikan Perusahaan itu saya sendiri dan saya jadi BOD, kakak saya jadi BOC. Yang susah adalah mengurus Visanya, ini yang menentukan kita boleh bisnis atau tidak. Kita juga bisa memilih Bisnis management atau investor.

Waktu awalnya saya masih jadi investor. Kemudian ketika jadi Bisnis management syarat yang harus dipenuhi adalah mempekerjakan orang Jepang atau orang asing yang sudah punya resident permanent di Jepang. Saya merekrut 3 orang Jepang.


Pasang Surut Sari Raya Corporation

Kami mengalami susah payah di tahun 2006. Kakak menawarkan temannya yang ada di Osaka yang orang Jepang untuk jadi investor. Saya setuju jika tugasnya jelas. Karena dia orang Jepang tentu harapannya produk Sari Raya segera masuk di market-market yang ada di Jepang. Mulai dari General Markets, Modern Markets. Seluruh Market yang ada di Jepang.

Awalnya dia mau, tapi kenyataannya tidak bisa jalan. Akhirnya Perusahaan kalang kabut, banyak orang banyak karyawan, hasilnya tidak maksimal. Akhirnya bubar, karyawan pada berhenti. Perusahan juga berat, akhirnya cabang-cabang kita tutup. Kita kembali ke satu titik, Sari Raya yang awal kita pertahankan meskipun kondisinya susah saat itu.

Luar biasa ujiannya, mau membangun juga susah, mau tutup juga susah. Kondisinya diambang-ambang mau tutup. Karena banyak karyawan kami yang pulang ke Indonesia. Bahkan ada dua karyawan yang meninggal di Jepang.

Karena kondisi itu benar-benar sangat rugi maka tahun 2010 BOD dan BOC kumpul menetapkan siapa yang mau meneruskan Perusahaan, karena modal sudah habis. Ternyata fihak Jepang tak ada yang siap. Kakak juga mau pulang ke Indonesia. Semua BOD dan BOC mundur maka Perusahaan saya ambil alih semua. Di Sari Raya hanya saya yang bertahan dan dibantu oleh isteri.

Berikutnya saya mendirikan Halal Mart. Pabrik bakso halal dan Bakso Instant. Karena saya dulu dari Sumatera dan punya menu-menu seperti Rendang yang terkenal di Jepang maka saya mendirikan Halal Restaurant. Mungkin sekarang sudah ada yang lain tapi modelnya semacam Restaurant atau Halal Mart.

Alhamdulillah mulai tahun 2011 kami mulai berkembang sampai sekarang dan mulai berkontribusi. Kami mengembangkan Trading, impor Produk halal dari beberapa negara terutama dari Indonesia, Malaysia, Vietnam, Thailand dan beberapa Negara Eropa. Kami mendistribusikan di seluruh Jepang , mulai dari Aichi yang ada di tengah antara Tokyo dan Osaka, dikenal dengan istilah Chobo dan mendistribusikan produk-produk di seluruh Jepang.

Kami juga mengembangkan franchise dari produk semacam Fried chicken yang diimpor dari Charoen Pokphand dari Indonesia dan dikembangkan jadi Produk Franchise dari Sari Raya dengan nama Halal Fried Chicken mulai tahun 2020 sudah kita buka Gerai pertama di Nagoya dan juga membuka Halal Mart semacam Alfa Mart di Indonesia. Ini sudah jadi produknya Sari Raya dan akan kita kembangkan di seluruh Propinsi yang ada di Jepang.


Bisnis Di Masa Pandemi

Disini kita benar-benar diberi kesempatan untuk berkarya. Yang punya kemampuan apapun. Maka mari kita kembangkan sesuatu sehingga menjadi sesuatu yang bernilai manfaat bagi kita ataupun orang lain. Apalagi kalau kita masih mahasiswa atau baru lulus. Kalau tidak dimulai dari sekarang maka kita akan menjadi sesuatu yang kurang bernilai.

Oktober 2020 kemarin saya dua kali opening dua cabang baru Halal Mart & Online Shop dan HSS (Halal Steak Shake) saya mencoba mengundang walikota setempat yang ada disana. Dia datang, walaupun kami tidak kenal. Sekarang kami menjadi teman akrab.

Dia memberi sambutan :
“Inilah saya pertama kali diundang orang asing untuk memberikan sambutan…”
Mereka bangga diundang. Kawan-kawan KBRI juga hadir sehingga bisa berkenalan disitu.

Januari 2021 kami membuka Halal Combini Plus ada mini market dan didalamnya Halal KFC, orang bisa belanja dan bisa makan. Kita buka yang pertama di kota Nagoya.

Rencana bulan Juli nanti mau membuka Halal Station Pizza. Sekarang lagi disiapkan tempatnya.
Rejeki sudah diatur tapi orang harus berusaha. Dengan kondisi Covid begini alhamdulillah penjualan meningkat.

Di Jepang banyak bantuan yang diberikan oleh Pemerintah Jepang, siapa yang pendapatannya menurun akan dibantu Pemerintah.
Dan kami sebagai orang asing yang ada di Jepang mendapat subsidi dari Pemerintah 13 juta rupiah setiap orang. Keluarga saya 3 orang mendapat 39 juta rupiah.

Kalau Perusahaan omzetnya menurun bisa mengajukan permintaan bantuan. Kebetulan saya baru saja membuka Halal Steak, meski pandemi saya optimis akan jalan. Kondisi apapun yang namanya makanan pasti akan dibutuhkan. Tetapi karena Uriage omsetnya menurun, saya mengajukan permohonan dan dapat subsidi untuk Halal Steak yang kalau dirupiahkan 2,3 Juta Yen (300 juta rupiah).


Harapan ke Depan

Sementara ini cabang kami 5 tempat di Aichi. Sistem delivery sudah kerjasama dengan forwarding tinggal menentukan kapan diambil. Untuk kebutuhan sendiri sudah punya truk.

Kami ingin Sari Raya terus berkembang menjadi kontributor produk-produk makanan halal diseluruh Jepang. Untuk itu kami membuka Reseller yang tidak hanya di Jepang. Kami mensupport kegiatan UMKM di Indonesia yang ingin ekspor produk- produk unggulannya yang ingin di jual di Jepang.

Mereka yang tinggal di Indonesia atau dimanapun berada bisa bermitra dengan kami. Yaitu mereka yang memiliki semacam Market Place atau Website atau Face Book, tinggal menjual apa-apa yang ada di Gudang kami di Jepang.

Jadi produk-produk yang ada bisa dijual di kota Padang, di admini di kota Padang marketnya di Jepang. Ini sudah banyak dilakukan kawan-kawan di Indonesia.

Bulan juli kami memberikan Bea Siswa Sari Raya khusus kepada mahasiswa semester 5 ke atas jurusan Teknik Komputer. Bisa dilihat di http://sariraya.com/phone/news.html mulai bulan depan.

Karena kami ingin mengajak generasi muda yang kira-kira punya kemampuan di bidang ilmu komputer, bagaimana kita bisa berbisnis menjual produk dimana kita inginkan.

Misalnya kami yang ada di Jepang , kemudian ada di Padang yang pintar komunikasi misal bisa membikin website atau media sosial yang lain itu jadi sesuatu yang sangat berpeluang saat kita mengembangkan kegiatan bisnis. Ini sudah kami lakukan sejak tahun 2011 yang lalu.

September ini ada kandidat doctor menjadi staf online marketing kami. Kami dapat memberi kontribusi lebih banyak daripada menjadi seorang pegawai yang hanya dapat gaji.


Mengembangkan Entrepreneurship

Saya punya bisnis ketika saya semester 5 usia sekitar 20 tahunan.
Sebenarnya saya tidak terlalu didukung. Karena ibu saya bilang kamu harus jadi pegawai negeri.
Ibu seorang penjahit yang punya sawah sedikit. Dalam hatinya tentu berharap anaknya jangan sampai seperti dia, kalau bisa jadi pegawai negeri yang terima gaji.

Tapi kami ingin lebih baik lagi, jadi pilihan menjadi entrepreneur adalah pilihan yang tepat. Buktinya kami sekarang dapat mempekerjakan 21 orang di Sari Raya. Mereka terdiri dari orang Jepang, Nepal dan Indonesia. Sebelum pandemi ada 5 orang Malaysia, tapi mereka sekarang pulang dan diganti orang Indonesia.

Oleh karena itu sekarang sudah waktunya untuk mandiri menciptakan sesuatu untuk berbakti dan berkarya untuk Indonesia.
Prinsip kalau ingin berwiraswasta menjadi entrepreneur saran saya :

1. Harus menjadi hobby.

Harus senang dengan apa yang akan dilakukan dan bukan merupakan paksaan. Kalau dipaksa pasti tidak bisa. Saya dipaksa ibu untuk menjadi Pegawai, karena hati saya tidak cocok maka saya tidak menjadi Pegawai.
Saya senangnya jadi entrepreneur.

Kita mau kemana?
Apakah mau bekerja menjadi Profesional? Untuk itu tentu harus belajar yang rajin menekuni apapun bidangnya.

Kamu inginnya apa?
Itu pilihan. Entrepreneur itu pasti senang melihat orang yang berhasil. Kalau ditanya dia akan cerita. Ada sesuatu yang diinginkan.
Bagaimana kalau buat resto? Dengan modal sedikit, mungkin mengawetkan rendang dapat dilakukan.

Menentukan pilihan keinginan , itulah yang paling penting. Orang tua tidak tahu anak itu arahnya kemana.

Entrepreneur yang sudah jalan itu kita bangun tidur sudah dapat duit. Pergi kemanapun kita dapat duit. Tetapi kalau kita jadi orang kantor, kalau tidak masuk kantor tidak dapat duit atau ditegur atasan. Hal itu tidak terjadi pada entrepreneur. Saya habis subuh tidur lagi tapi sambil bekerja dengan HP. Sambil main-main HP sambil jualan.

Di Gresik ada orang yang punya 700 gerobak pecel lele. Misal hasilnya 50 ribu permalam. Per malam dia sudah mendapat 35 juta.

2. Mengelola Pilihan-pilihan dengan baik.

Pada saat saya mahasiswa semester 5
saya melakukan PKL penelitian analisa usaha tani antara strawberry dan apel mana yang lebih menguntungkan ?

Waktu mencari data, malah petani meminta agar apelnya yang dikebun dibeli. Disitu terjadi pembicaraannya satu jam dan saya memutuskan tawaran itu saya terima. Padahal saya tak punya uang, saya juga tak punya pasar mau dijual kemana?

Tetapi Petani itu menawarkan apel kepada saya. Jika saya menolak tawaran, maka bisnis langsung stop. Saya tidak mendapat apa-apa dan Petani juga tidak mendapat apa-apa.
Ternyata keputusan menerima sangat menguntungkan kami berdua.

Pembicaraan satu jam menjadi bisnis. Disini adalah bagaimana kita mendapatkan pilihan kita. Tentu hal ini memerlukan perhitungan dan keberanian karena saya juga pernah rugi.

Dulu ada investasi Pohon emas, Saya ikut-ikutan menanam uang disana dan akhirnya uang saya hilang semua disana.

3. Keberanian untuk memutuskan.

Pada prinsipnya tergantung pribadi yang melakukan. Kebiasaan kita waktu muda apa? Kalau itu mulai ditanamkan akan menjadi modal keberanian. Berani mengambil keputusan siapa yang membentuk? Tentunya lingkungan. Lingkungan itu paling awal keluarga.

Sekarang ini mungkin orang tua mampu, tapi kurang peduli pada anak. Orang tua merasa sudah beres jika anaknya sekolah. Hal ini sebetulnya sama dengan saya dulu. Tapi saya dapat bergaul dengan lingkungan yang kira-kira membentuk kharakter.

Dulu Unibraw tidak punya UKM Tenis Meja, kami kemudian maju kepada Purek III mau mengajukan pembuatan UKM Tenis Meja. Ternyata harus minta ijin pada UKM yang lain karena pasti akan mengurangi jatah anggaran UKM lain.

Untuk itu kami harus kampanye. Ini kesempatan kita untuk belajar meraih keinginan. Setiap orang pasti punya kesempatan, tinggal kita mau atau tidak. Dan hal itu biasanya orang tua tidak tahu.


Perjuangan Dakwah di Jepang

Tahun 2013 kami punya gedung. Lantai satunya untuk bisnis kami, bagian atas lantai dua kita pakai sebagai masjid. Shalat Jum’at, shalat Tarawih dan Shalat Iedhul Fitri disitu. Hal itu berlangsung sampai Tahun 2016.

Karena jama’ahnya semakin banyak akhirnya kita mencari lokasi untuk masjid : Tanah ataupun bangunan.
Ternyata ada Gereja yang dijual , alhamdulillah tahun 2016 kita beli dan sekarang menjadi Hak milik kita.

Masjid itu menjadi masjid pertama yang dimilik Warga negara Indonesia di kota Nissio, Aichi , Nagoya. Mungkin sekarang ada di Tokyo yang dimiliki KBRI. Di kota lain mungkin ada tapi masjid ini pengurusnya semuanya adalah orang Indonesia. Kebanyakan masjid di Jepang dikelola oleh Pakistan, Sri Langka.

Setelah Masjid itu berdiri kami membangun Madrasah. Pada saat ini siswanya ada 57 anak.
Setelah Madrasah berdiri pada bulan April tahun ini kami mendirikan sekolah Indonesia, yang memberikan kesempatan kepada WNI yang kira-kira ingin belajar mulai dari SD, SMP, SMA dengan model Pendidikan Jarak Jauh.

Pendidikan Jarak Jauh sudah dilakukan oleh KBRI tapi yang kami bentuk adalah Sekolah Islam yang diberikan secara khusus untuk masyarakat Indonesia yang ada di Jepang supaya rasa nasionalisme orang-orang Indonesia yang ada di Jepang tetap melekat.

Semua boleh sekolah disitu. Ijazahnya disamakan Negeri dan sudah mendapat SK Kemendikbud. Namanya Sekolah PKBM Darussalam.

Karena kalau sudah lama di Jepang, anak-anak kita lupa terhadap Indonesia. Ibu kota Indonesia tidak tahu. Presiden Indonesiapun juga tidak tahu. Jadi kita berikan pelajaran wajibnya di sekolah yang ada disini yaitu : Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila dan Budi Pekerti dan Agama Islam. Ini tiga mata pelajaran wajib.
Di bulan April kemarin diresmikan oleh Pak Dubes.

Zakat kami salurkan ke kota Malang dan kami memberikan beasiswa dan sumbangan ke Panti Asuhan, tetap jalan sampai sekarang.

Yang akan digarap halal sertifikasi supaya bisa menggarap produk- produk di Jepang yang ingin menghalalkan produknya atau restaurant Jepang yang ingin menarik konsumen muslim.

Kami bekerjasama dengan BPJPH, saat ini masih mencari bentuk seperti apa yang cocok dengan Jepang.
Ini adalah dakwah, sertifikasi halal.
Kemudian direncanakan masjid akan dikembangkan menjadi Islamic centre untuk beribadah, belajar, berdakwah, bertukar budaya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here