Ustad Fahmi Salim Lc MA

10 Syawal 1442 / 22 Mei 2021



Dulu Simon Perez dan orang-orang Yahudi tidak punya tanah. Bisa dilihat Map Geografi tahun 1947 hanya ada negara Palestina. Perlahan tapi pasti mereka berhasil menguasai. Mereka semua pendatang. Simon Perez masuk dengan mencari Visa, karena pemilik tanah adalah orang Palestina.

Jadi isu Palestina ini bukan perebutan wilayah, bukan sekedar sepotong tanah. Kata Buya Muhammad Natsir, isu Palestina ini kita menghadapi satu gerakan akidah. Satu gerakan kepercayaan yang beraksi dengan teratur dan tertib. Perhatikan bahasa Buya Natsir ini teliti sekali : “Gerakan Akidah”. Artinya ideologis .

Sekarang kalau umat islam menampilkan suatu gerakan yang bernuansa ideologis pasti dimusuhi. Pasti disebut radikal, disebut teroris. Tetapi kalau Yahudi punya gerakan ideologis tidak akan disebut teroris.

Coba mana pemimpin dunia islam, atau Indonesia saja, ada atau tidak Pemimpin Indonesia, Tokoh-tokoh Indonesia mengatakan Israel kemarin membantai 221 umat Islam di Palestina itu, mengatakan Israel itu teroris? Ada atau tidak pemimpin mengatakan seperti itu? Tidak ada.

Ini menyakitkan, ketika label teroris hanya ditujukan kepada umat Islam.
Padahal cuma nyolek sedikit saja, sudah luar biasa. Kalau ada gerakan islam yang ideologis pasti dituduh radikal dan teroris. Tetapi Yahudi tidak. Padahal dia ini gerakan ideologis yang beraksi dengan teratur dan tertib. Yang beraksi bukan di satu tempat, tapi dia bergerak di seluruh dunia dengan jaringan kekuatan ekonomi dan finansial.

Kita berhadapan dengan satu gerakan agama. Ini gerakan agama, hati-hati.
Jangan bilang zionisme itu gerakan Politik Sekulerisme. Enggak, siapa bilang? Iya, pura-pura sekuler dia. Pura-pura dia mendukung gerakan Sekulerisme.

Israel ini membanggakan dirinya, dia adalah negara Demokrasi dan Sekuler terbaik di Timur Tengah. Negara- negara tetangganya dikatakan negara-negara otoriter, diktator atau Teokratis (negara agama). Padahal prakteknya Israel itu dia adalah gerakan keagamaan, hanya bungkusnya luar biasa, seolah-olah negara Demokrasi, negara Sekuler.

Dia melandaskan seluruh aktivitas politiknya berdasarkan keyakinan , kitab suci mereka. Dan beraksi politik internasional. Bagaimana mereka mendiskriminasi warga Israel itu berdasarkan ayat-ayat kitab suci mereka. Bagaimana mereka ngotot ingin mendirikan Haikal Sulaiman (Solomon Temple) itu berdasarkan keterangan kitab suci mereka.

Ketika Israel di dukung Amerika mengumumkan memindahkan Kedutaan Besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem Timur lalu Netanyahu menghadiahkan maket wilayah Masjidil Aqsha itu tanpa ada gambar masjid diatasnya, satupun. Dan sudah diganti dengan gambar Solomon Temple, apa itu bukan gerakan keagamaan?

Mereka itu menanamkan suatu cita-cita hidup mendirikan satu negara bagi Kaum Yahudi yang bertebaran di seluruh dunia ini. Dan tahap pertama adalah mendirikan Solomon Temple itu kembali di tempat Masjidil Aqsha sekarang. Itu yang mereka perjuangkan siang malam.

Mereka baca Taurat itu di tengah medan perang untuk menegaskan cita-cita keagamaan mereka. Jadi jangan pernah kita dibodoh-bodohi, tertipu mengatakan Israel itu negara sekuler. Israel itu negara Demokrasi. Tidak ! Mereka itu negara agama, Teokrasi.

Prakteknya memang seolah-olah negara sekuler. Seolah-olah mempraktekkan negara Demokrasi ada Parlemen, dan sebagainya tapi semua keputusannya berlandaskan cita-cita keagamaan.

Bodoh kalau umat islam mengatakan Yahudi itu Demokrasi. Identitas Yahudi itu sebagai etnis, suku bangsa dan juga sebagai agama. Yahudi adalah agama nasional , hanya untuk etnis Yahudi dan mereka ingin tanah, negara, wilayah yang eksklusif untuk Yahudi. Jadi konsep kenegaraannya rasis sekali.

Lambang negaranya ada garis biru di atas dan di bawah. Di tengahnya Bintang David. Menegaskan cita-cita mereka bahwasanya wilayah kekuasaan Israel adalah “mina nahr ila nahr” , dari Sungai Nil sampai Sungai Eufrat.

Coba bayangkan, itu kata mereka. Jadi bukan hanya sebatas Baitul Maqdis. Itu proyek ekspansionis. Kalau mereka tidak dapat menguasai wilayah dari Sungai Nil sampai Sungai Eufrat, minimal dia menguasai politik dan ekonominya sudah dikendalikan oleh Yahudi.

Sekian lama terkubur isue sentral Palestina adalah Baitul Maqdis, Kota Al Quds dan Masjidil Aqsha. Kemudian meledak pada Tahun 2017 ketika Amerika menyetujui proposal The Deal of Century, ini adalah Kesepakatan Abad ini yang ingin membarter wilayah Masjidil Aqsha, Al Quds dengan sepetak tanah gurun pasir kosong di wilayah timur Yerusalem. Abu Dis sebagai Proyek ibu kota baru Palestina untuk menjamin Two State Solution.

Mereka setuju berdamai, tapi orang Palestina harus keluar dan diberi tempat namanya Abu Dis. Mereka akan membantu dengan dana 50 M dollar untuk Proyek Ibukota Palestina baru. 50 M dollar untuk dibarter dengan Masjidil Aqsha, kecil sekali. Mereka akan membangun Solomon Temple disitu. Naudzubillahi min Dzalik.

Pemukiman ilegal Yahudi, otomatis di tepi barat itu menjadi bagian dari teritorial negara Israel. Negara Palestina baru batasannya hanya ditentukan oleh point-point. Karena mereka merasa kuat. Mereka yang menentukan syarat.

Maka apa yang terjadi dalam perang 11 hari terakhir di Gaza itu membalikkan bandul. Menimbulkan keseimbangan politik yang baru. Ini realitas politik yang baru pasca perang Gaza lawan Israel. Ini perang yang ke-empat Hamas dengan Israel. Perang pertama tahun 2009, Kedua tahun 2012, ketiga tahun 2014 dan yang keempat tahun 2021

Tiga perang pertama , Gaza menunjukkan kemampuan militernya sudah bagus , tapi masih jauh tertinggal persenjataannya. Tetapi perang yang terakhir ini Hamas Perlawanan Gaza, Umat islam di Palestina sekarang sudah lebih canggih. Dan berhasil melumpuhkan sistem Pertahanan Rudal Israel yang dikenal dengan Air Dome atau Kubah besi.

Ketika serangan pertama roket dari Gaza langsung dilepaskan 700 roket dalam satu waktu. Dan kelemahan Air Dome, radarnya tidak sanggup dalam satu waktu melacak serangan roket dari Gaza yang jumlahnya di atas 400 roket. Mereka kewalahan kalau sudah lebih dari 400 roket dalam satu serangan maka pasti ada yang bobol. Makanya lalu jatuh masuk ke Tel Aviv , masuk ke Ashdot, masuk ke Sderot , masuk Ashkelon dan sebagainya.

Ini yang tidak diperhitungkan mereka. Perlawanan Palestina telah memiliki 17 ribu hulu ledak rudal roket. Lebih dari ekspektasi dan jangkauan yang diasumsikan oleh militer Israel.
Makanya sebelas hari mereka langsung menyerah, minta gencatan senjata. Sebab kalau ini terus, berlangsung sampai satu bulan , dua bulan Israel kalang kabut.

Penduduk Israel ini semua pendatang, mereka bisa minta keluar exodus semua ke Eropa. Mereka tidak akan merasa nyaman. Negara kalau tidak ada penduduknya, mereka lari kabur ke luar negeri semua, maka tidak ada arti negara itu.

Mereka minta gencatan senjata dan setuju mengikuti syarat yang ditentukan oleh perlawanan Faksi di Palestina.

1. Tidak boleh ada pengusiran paksa warga asli Palestina di wilayah yang diduduki Israel.
2. Tidak boleh lagi ada upaya-upaya untuk melakukan pendudukan aneksasi terhadap area suci Masjidil Aqsha.

Ini pertama kali Israel tunduk pada persyaratan yang diberikan oleh faksi Perlawanan Palestina. Setelah aksi ini pasti akan mengubah geopolitik. Geopolitik dunia terutama di Timur Tengah akan berubah total.

Semua rakyat Palestina sekarang sadar, opsi perdamaian dengan meja perundingan, negosiasi – sudah tidak menjadi opsi lagi. Karena selalu ditipu, dan selalu hak-hak Palestina semakin dilucuti justru di meja perundingan. Orang tidak punya kekuatan militer tidak bisa menentukan syarat. Tidak punya kekuatan ekonomi, tidak punya kekuatan militer sebagai sebuah negara tak bisa menentukan syarat. Di meja perundingan, semua yang kuat yang menentukan.

Atau pilihannya perang, seperti di Indonesia setelah Proklamasi tahun 1945, belum sepenuhnya berdaulat. Masih terus berjuang tertatih-tatih Revolusi Kemerdekaan sampai Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Empat tahun waktu itu Indonesia tertatih- tatih. Semua perundingan, Perjanjian Renville, Roem Royen, semua itu kita dalam posisi yang inferior karena yang punya senjata dan kekuatan ekonomi mereka.

Tetapi kita bisa perang gerilya ! Jendral Sudirman mengukuhkan bahwa Republik ini masih ada. Ini yang mendesak mereka. Dengan intervensi ini mereka mengakui bahwa Indonesia harus merdeka, karena ada perlawanan militer. Kalau semua Pemimpin bangsa ini hanya berunding dengan Belanda, ya tidak akan merdeka-merdeka.

Maka perlawanan Faksi Palestina itu dugaan saya adalah mencontoh bagaimana perlawanan negara-negara yang dahulu telah mengumumkan kemerdekaannya. Tetapi mereka masih terus mempertahankan dengan perlawanan militer. Harus ada yang seperti Jendral Sudirman. Meja Perundingan harus diback up oleh Perlawanan supaya kita bisa menentukan syarat, supaya bisa mendapatkan pengakuan internasional, membuka mata bahwa ini adalah melawan kezaliman yakni penjajahan.

Semalam saya menyaksikan life Al Jazera, Pidato Perdana Menteri Ismail Haniyyah bahwa Perang Gaza yang ke 4 ini dimana roket-roket Perlawanan Palestina berhasil menembus pertahanan Israel dan mereka terdesak sehingga meminta gencatan senjata itu
– Meruntuhkan Proyek The Deal of Century.
– Meruntuhkan Proyek aneksasi Masjidil Aqsha.
– Meruntuhkan Proyek Yahudisasi Yerusalem dan
– Meruntuhkan upaya-upaya untuk membuat mereka putus asa lalu membuat normalisasi politik dengan Israel.

Jadi perang Gaza ini mengubah konstelasi politik. Yang tadinya negara- negara Arab tidak punya harga diri. Mereka putus asa :
“Ya sudahlah mengalah”…
Akhirnya disuruh pindah ibu kota. Ibaratnya kita, ibu kota di Jakarta, semua penduduk Jakarta harus pindah ke sepetak tanah di Bekasi. Di sepetak tanah itu disuruh bikin ibu kota baru. Kurang ajar!

Kenapa mereka berani? Karena kita tidak punya kekuatan! Dengan logika kekuatan ini yang membalikkan konstelasi politik berubah semuanya dan Proyek The Deal of Century, Proyek Yahudisasi Yerusalem, Proyek Aneksasi Masjidil Aqsha, Proyek untuk membuat umat islam dan Bangsa Palestina ini putus asa lalu kemudian melakukan normalisasi politik dengan Israel, itu semua hancur dengan adanya Perang terakhir.

Ini sejarah, sebelumnya tidak pernah bisa seperti ini. Israel hanya paham satu logika, negara-negara besar, negara-negara kuat hanya paham satu logika yaitu Logika Kekuatan. Kalau tidak kekuatan uang, kekuatan militer.

Umat islam tak punya uang, tapi harus punya kekuatan militer. Bagaimana caranya beli senjata? Tapi tak punya uang? Tentu harus pakai otak.
Orang Gaza membikin ribuan roket itu dari mana? Itu liputannya ada di Aljazera , eksklusif. Mereka ambil pipa-pipa air di tengah gurun, kemudian bangkai- bangkai kapal perang dunia 1 yang digunakan tentara sekutu, yang tenggelam di Perariran Israel, Palestina.

Mereka menyelam dan ternyata banyak bangkai Kapal Selam. Mereka mengambilnya. Itu diangkat dan dibikin bahan untuk membuat Rudal, Roket.

Harus menggunakan akal, mereka itu generasi milenial, generasi terdidik, ahli-ahli teknik, orang-orang yang berdedikasi tinggi dan berilmu memanfaatkan sumber daya yang mereka miliki. Ini untuk bisa menunjukkan kekuatan dan mengubah konstelasi.

Kompleks Masjidil Aqsha luasnya yang dipagari tembok adalah 14, 4 hektar. Tidak besar dibanding dengan perkebunan di Ponorogo atau di Jawa Timur kecil. Di dalam kompleks masjidil Aqsha ada beberapa masjid. Nama Al Aqsha adalah nama bagi satu areal yang ada.
Disitu ada masjid Al-Qibli, Masjid Qubbat As Sakhrah , masjid Al-Marwani dan lainnya.


Keutamaan Baitul Maqdis

Banyak keutamaan, terutama bagi orang yang berziarah.

Negeri tempat pertama kali Allah ciptakan manusia.

Adam diciptakan dari tanah wilayah ini, dari kompleks Masjidil Aqsha. Nanti kembalinya manusia, yang disebut dengan Padang Mahsyar itu terjadi di sepetak tanah ini.
“Maka datanglah dan shalat di sana, karena shalat 1 rakaat disana pahalanya sama dengan 1000 rakaat shalat di luar”.

Kalau tidak bisa datang, tidak bisa shalat kita minimal menghadiahkan minyak untuk menyalakan lilin, untuk lampu Penerang di Masjidil Aqsha.
Supaya Masjidil Aqsha ini makmur, aktivitas kegiatan jama’ahnya makmur.
Ziarah ke Al Aqsha itu penting, jangan hanya tahu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Mekkah dan Madinah saja.
Al Quds dengan Masjidil Aqsha adalah kota suci umat islam yang ketiga.

Kiblat yang pertama. Ini rahasianya kenapa Nabi Muhammad isra’ Miradj, pulang mendapat kewajiban ibadah shalat 5 waktu. Nabi shalat diperintahkan menghadap Baitul Maqdis. Ini rahasia dari Al Qur’an, Allah SWT ingin fokus perhatian umat islam ketika pertama Shalat itu Baitul Maqdis. Baru pindah kiblat itu setelah 16 bulan Nabi di Madinah.

Jadi selama periode isra’ Miradj sampai hijrah, satu setengah tahun lebih ditambah periode Madinah 16 bulan, itulah masa umat islam shalatnya menghadap ke Baitul Maqdis. Allah sengaja menjadikan Masjidil Aqsha kiblat pertama umat Islam untuk mengingatkan umat islam.

“Hai umat Islam, kamu itu punya kiblat.
Masjidil Haram itu yang kedua. Yang pertama Baitul Maqdis. Maka kamu tidak boleh mengalihkan perhatian atau tidak perduli kepada kiblat pertamamu itu”.

Rasulullah sejak lahir sudah merindukan Baitul Maqdis. Disebutkan dalam hadits.

دعوة أبي إبراهيم ، وبشرى عيسى ، ورأت أمي حين حملت بي كأنه خرج منها نور أضاءت له قصور بصرى من أرض الشام

“Aku adalah hasil doa ayahku Nabi Ibrahim dan kabar gembira Nabi Isa. Dan ibuku bermimpi ketika beliau mengandungku, seakan keluar cahaya darinya menyinari istana Bushra di negeri Syam.” (HR Al-Hakim).

Kemudian waktu Rasulullah isra’ Miradj diperlihatkan Baitul Maqdis. Inilah pusat dakwahnya Para Nabi dan Rasul. Dari 25 Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah yang ada di dalam Al Qur’an, 18 Nabi dan Rasul itu mereka berdakwah dan tinggal di Baitul Maqdis, Masjidil Aqsha. Belum lagi Mariam, keluarga Imran. keluarga Zakaria, semuanya mulai dari Nabi Ibrahim sampai Nabi Isa itu di Baitul Maqdis. Termasuk Nabi Luth itu di Negeri Syam.

Kalau kita beriman kepada Rasul, tapi kita tidak percaya Al Aqsha adalah tempat suci umat Islam, rusak iman kita ! Karena 18 Nabi dan Rasul itu berdakwah dan tinggal di kompleks Masjidil Aqsha . Itu pusat dakwah Para Nabi.

Masjidil Aqsha dan Masjidil Haram dua- duanya adalah warisan Nabi Ibrahim. Rumah Pertama dibangun adalah Masjidil Haram dan Rumah Kedua yang dibangun untuk beribadah kepada Allah adalah Masjidil Aqsha. Kata Nabi SAW : “Jaraknya 40 tahun”. (HR Ahmad dari Abu Dzar).

Dua-duanya dimakmurkan oleh Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim hijrah dari Babilonia ke Baitul Maqdis. Dan kemudian beliau membawa isteri keduanya yang bernama Hajar dan anak bayinya ke lembah yang bernama Bakkah.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّا سِ لَـلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَ 

“Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 96)

Jadi kedua-duanya dimakmurkan. Kalau kita hanya memakmurkan Masjidil Haram tetapi tidak memakmurkan Masjidil Aqsha, keimanan kita belum sempurna.
Ini masuk ke Rukun Iman.

Rukun Iman kepada Allah

Allah yang menjadikan Masjidil Aqsha ini tanah suci.

Allah SWT berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْۤ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَ قْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ 

“Maha Suci Allah , yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami”. (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 1)

Iman kepada Malaikat.

Malaikat Jibril khusus membawa Nabi Muhammad ke negeri ini, ke kompleks Masjidil Aqsha ini untuk Isra’ dan Miradj dari situ.

Iman Kepada Hari Akhirat

Iman kepada Hari Akhirat itu harus sempurna dengan beriman kepada semua Peristiwa yang terkait di akhir zaman untuk menuju Hari Kiamat. Semua itu terjadi di Baitul Maqdis.
– Turunnya Dajjal.
– Turunnya Nabi Isa.
– Padang Mahsyar nanti.

Setelah kita mati semua , di Hari Kiamat dibangkitkan manusia dari alam kuburnya, semua akan bergerak menuju Padang Mahsyar, menuju Baitul Maqdis.

Yang mati di Ponorogo, di Jawa Timur, jangan salah nanti bangun dari kuburnya lalu menuju Australia. Itu salah route. Nanti semua routenya satu, menuju Baitul Maqdis, ke Padang Mahsyar.

Di sana ada Telaga. Telaga Nabi SAW panjangnya membentang dari Masjid Haram sampai Baitul Maqdis. Itulah telaga Kautsarnya Nabi.

إِنَّ لِي حَوْضًا عَرْضُهُ كَمَا بَيْنَ أَيْلَةَ إِلَى الْكَعْبَةِ،

“Sungguh aku memiliki telaga yang luasnya bagai antara Baitul Maqdis dan Ka‘bah…,” (HR Abu Ya‘la dan Ibnu Hibban).

Di tengah-tengahnya melewati mimbarnya Rasulullah.

مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي

“Diantara rumahku dan mimbarku adalah raudhah diantara taman-taman surga dan mimbarku berada di atas telagaku di surga”.(HR Bukhori Muslim).

Kita transit minum di Telaga untuk menuju Padang Mahsyar. Ini semua terkait dengan alam akhirat dan Baitul Maqdis. Jadi masuk Rukun Iman juga.
Masjidil Aqsha ini luar biasa, kalau kita datang kesana, mudah-mudahan sudah dalam keadaan merdeka. Tetapi kalaupun belum merdeka dalam kondisi apapun kita tetap dianjurkan.

ﻻ ﺗُﺸَﺪُّ ﺍﻟﺮِّﺣﺎﻝُ ﺇﻻ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔِ ﻣﺴﺎﺟﺪَ : ﺍﻟﻤﺴﺠﺪِ ﺍﻟﺤَﺮﺍﻡِ، ﻭﻣﺴﺠﺪِ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝِ ﺻﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠَّﻢ، ﻭﻣﺴﺠﺪِ ﺍﻷﻗﺼﻰ .

“Tidak boleh mengadakan perjalanan/safar kecuali menuju ke ketiga masjid: Masjid al Haram, masjid ar Rasul SAW dan masjid al Aqsha.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Aroma di Masjidil Aqsha berbeda dengan aroma di Masjidil Haram. Aroma di Masjidil Aqsha adalah aroma akhirat, aroma Pertempuran Akhir Zaman. Begitu sakralnya kita membayangkan perjuangan 18 Nabi dan Rasul berdakwah. Itulah kiblat Para Nabi.

Pintu gerbang langit.

Isra’ Miradj itu dari sana. Kenapa Nabi tidak Miradj dari Masjidil Haram saja? Kenapa harus ke Masjidil Aqsha? Karena Pintu Gerbang Langit ada disana. Di Masjidil Aqsha.
Dari Padang Mahsyar nanti orang menuju Surga atau Neraka dari sana titik pointnya. Titik Kumpulnya manusia di Padang Mahsyar untuk mendapatkan Hisab Pengadilan Akhirat adalah Baitul Maqdis.

Masjid Al Qibli adalah masjid yang dibangun Nabi Ibrahim a.s dan semua keturunannya. Mereka itu shalat disitu. Kalau Masjidil Haram di Mekkah yang membangun Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Baru kemudian Nabi Muhammad datang. Tetapi di Masjidil Aqsha ini 18 Nabi membangun Masjid.

Jadi tidak ada istilah Solomon Temple karena semua Nabi itu semuanya Muslim. Mereka mengagungkan Allah, membangun Masjid.

أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ دَاوُدَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَنَى بَيْتَ الْمَقْدِسِ

”Sesungguhnya ketika Nabi Sulaiman bin Dawud membangun kembali Baitul Maqdis, ..”. (HR An-Nasa’i).

Tidak ada yang membangun Temple. Temple itu tempat Penyembahan Berhala, musyrik. Nabi Sulaiman tidak berbuat kemusyrikan. Beliau bertauhid, cuma kemudian Tauhidnya diselewengkan oleh Yahudi. Tauhidnya rusak. Mereka mengaku Tuhan Yang Maha Esa tetapi prakteknya tidak menyembah Allah satu-satunya. Keyakinan mereka sudah campur dengan kesyirikan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here