Ustad Fahmi Salim Lc MA

10 Syawal 1442 / 22 Mei 2021



Berbicara tentang Syawal, secara individual kita menata diri untuk semakin beriman dan bertakwa.
Secara sosial, secara berjamaah kita menginginkan bahwasanya penataan diri kita ‘beyond’ iman dan takwa secara individual.

Kita menginginkan di bulan Syawal ini penataan diri kita, peningkatan keimanan dan ketakwaan itu lebih riil lagi dalam aspek sosial dan kemanusiaan. Karena keimanan dan ketakwaan itu bukan hanya urusan individu, tetapi dia juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan bagaimana kita memberikan solusi atas persoalan-persoalan keumatan, persoalan-persoalan kemanusiaan.

Makanya turun Surat Al Ma’un itu untuk mengingatkan kita semuanya, bahwasanya keimanan, ketakwaan itu erat kaitannya dengan bagaimana kita menata kehidupan sosial kita ini dengan kepedulian dengan nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai solidaritas kepada orang-orang miskin, kaum yang tertindas

Allah SWT berfirman:

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِا لدِّيْنِ (1) فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَ (2) وَ لَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَا مِ الْمِسْكِيْنِ (3)
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ (4) الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَا تِهِمْ سَاهُوْنَ (5) الَّذِيْنَ هُمْ يُرَآءُوْنَ (6) وَيَمْنَعُوْنَ الْمَا عُوْنَ (7)


“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang sholat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap sholatnya, yang berbuat riya’, dan enggan memberikan bantuan.” (QS. Al-Ma’un 107: Ayat 1-7)

Ini adalah merupakan bukti bahwa ajaran islam itu bukanlah ajaran yang utopis, bukan ajaran yang berdimensi spiritual saja, yang berdimensi langit saja tetapi dia juga membumi. Memberikan solusi bagi persoalan- persoalan kehidupan umat manusia.

Maka di bulan Syawal ini mari kita sama-sama saling “tawaashou bil-haqqi wa tawaashou bish-shobr”
(saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran) agar kita dapat meningkatkan kualitas iman dan takwa dengan peduli dan perhatian terhadap urusan-urusan yang menimpa kaum muslimin di seluruh dunia.

Itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Persoalan-persoalan global, persoalan-persoalan dunia, kezaliman yang menimpa umat islam itu menjadi urusan umat, dimanapun kita berada.

Kalau dulu ada Rasulullah SAW menolong umat islam dan akhirnya mengusir Yahudi Bani Qainuqa karena persoalan mereka mengganggu seorang muslimah. Beliau sampai mengerahkan pasukan. Itu bukti bahwa umat islam itu peduli.

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” [Shahih Muslim]

Kita ini dalam islam, ajaran itu bukan hanya untuk asyik masyuk, menikmati kesendirian uzlah spiritual, tetapi islam ini ingin menghadirkan solusi atas persoalan-persoalan kehidupan umat manusia, terutama kaum yang tertindas.

Coba kita perhatikan ayat-ayat dalam Al Qur’anul Kariem yang berbicara tentang peperangan. Itu bukan semata-mata perang, haus darah atau ingin menunjukkan keperkasaan semata-mata, Tidak!
Peperangan, jihad qital dalam islam itu dalam Al Qur’an selalu ada kaitannya dengan menumpas kezaliman.

Perang suci dalam agama islam bukan untuk memerangi umat agama lain. Tetapi yang menjadi titik utama, fokusnya adalah bagaimana memerangi kezaliman. Dan kezaliman ini bersifat universal, ada dimana- mana. Dia tidak memilih komunitas agama tertentu.

Maka terminology perang dalam Al Qur’an selalu dikaitkan dengan orang yang terzalimi.

 فَا لَّذِيْنَ هَا جَرُوْا وَاُ خْرِجُوْا مِنْ دِيَا رِهِمْ وَاُ وْذُوْا فِيْ سَبِيْلِيْ وَقٰتَلُوْا وَقُتِلُوْا لَاُ كَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ

“Maka orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka.”” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 195)

Selalu dikatakan di dalam Al Qur’an, izin berperang adalah untuk orang- orang yang terusir, dikeluarkan paksa dari negeri-negeri mereka. Kemudian mereka disakiti, ditindas diteror. Jadi jihad qital dalam islam adalah sebagai upaya penguatan orang-orang yang tertindas untuk melawan kezaliman.

Allah SWT berfirman:

اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقٰتَلُوْنَ بِاَ نَّهُمْ ظُلِمُوْا ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ عَلٰى نَـصْرِهِمْ لَـقَدِيْرُ 

“Diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong mereka itu,”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 39)

Selalu ada kata-kata “Zhulimu” untuk memerangi pihak lain. Bukan semata-mata kita ingin menumpahkan darah atau kita ingin sok jagoan. Bukan. Itu semua dilakukan adalah dalam rangka kita mempertahankan diri dan membela kehormatan manusia yang tidak boleh dilanggar hak-hak azasinya. Inilah keistimewaan ajaran islam.

Belum lagi aturan-aturan peperangan di dalam islam itu diatur sedemikian rupa. Supaya tujuan perang menjadi jelas, tidak bias karena dendam, karena emosi atau karena untuk melakukan praktek bumi hangus. Tidak! Karena sentimen suku, ras, agama, Bukan!

Perang di dalam islam diatur sedemikian rupa, betul-betul secara obyektif sampai tujuan dari perang , menumpas kezaliman itu terwujud.

Allah SWT berfirman:

وَقَا تِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَا تِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 190)

Perang saja tidak boleh melampaui batas, sehingga dalam perang dilarang membunuhi orang tua, anak-anak, kaum perempuan.
Dilarang membakar pohon, mengotori air minum. Pihak musuh tetap dihormati. Dalam perang tidak boleh berperilaku pengecut kemudian meracuni pihak lain. Dalam islam nilai-nilai moral sungguh luar biasa. Tidak boleh merusak apalagi merobohkan rumah ibadah, fasilitas umum.

Dan kalau kita mau menyerang diumumkan, jam sekian diumumkan. Jadi bukan dalam kondisi orang lain lengah, ketika orang lain tidur, atau orang lain tidak melakukan persiapan apa-apa lalu kita serang dengan berharap mendapatkan kemenangan. Itu bukan kemenangan yang benar! Itu kemenangan orang-orang yang pengecut, orang-orang pecundang.

Sehingga kalau kita bicara tentang update kondisi umat islam di Palestina kemarin, mereka mendapatkan serangan terlebih dahulu.
Pengusiran paksa warga asli Palestina di wilayah pendudukan Israel di Yerusalem Timur, di District Syeikh Jarrah. Itu tindakan kezaliman.

Kemudian Israel memprovokasi umat Islam yang sedang beriktikaf pada tanggal 10 Mei. 10 Mei bagi mereka selalu dirayakan untuk merayakan kemenangan. Bahwa mereka telah menguasai Tanah Palestina dan mereka merebut wilayah Al Quds (Yerusalem Timur) pada perang Arab Israel tahun 1967.

Setiap tanggal 10 Mei mereka berupaya untuk meruntuhkan moral Kaum Muslimin. Mereka berupaya untuk menganeksasi Masjidil Aqsha . Mereka tidak menghitung bahwa 10 Mei tahun ini terjadi pada akhir bulan Ramadhan. Pada tanggal 27 Ramadhan ketika orang-orang islam beriktikaf.

Mereka melakukan kekerasan di Masjidil Aqsha kemudian dibalas oleh Para pemimpin perlawanan di Gaza.
Palestina ini sejak tahun 1948 sampai tahun 1967 mereka mengalami kekalahan. Sebenarnya mereka masih ada perlawanan. Buktinya ada Perang Arab-Israel, itu bahkan 3 kali, tahun 1948, 1967 dan 1973.

Negara-negara Arab masih solid mendukung Palestina. Solusinya hanya satu, Penjajah harus keluar. Hanya ada satu negara yaitu Palestina. Mereka tidak mengakui Israel. Namun perang, bahasa kekuatan, yang menang yang menentukan.

Kalau dulu dalam 3 kali perang Arab Israel tidak ada yang mengakui negara Israel, setelah itu habis terseok-seok
di diplomasi. Negara- negara Arab itu diplomasinya hancur karena secara militer mereka kalah. Sehingga ketika diplomasi perundingan untuk gencatan senjata untuk menghadirkan perdamaian, yang menentukan syarat terwujudnya perdamaian adalah pihak-pihak yang menang. Dalam hal ini Israel yang didukung sekutunya, Amerika Serikat dan lain-lain.

Jadi kita tidak bisa berharap banyak, sehingga ada tiga hal status yang sangat prinsipiil dalam perjuangan bangsa Palestina.

1. Status Masjidil Aqsha dan Kota Al Quds.
2. Hak kembali bagi pengungsi Palestina yang ada jutaan jumlahnya diseantero negara-negara Arab
3. Hak untuk mereka mendirikan negara yang merdeka dan memiliki syarat-syarat kondisi negara merdeka : Punya otoritas, punya wilayah, punya penduduk, punya pengakuan internasional.

Palestina punya penduduk. Pengakuan minimal dari negara-negara Arab dan islam sudah dijamin ada pengakuan. Tetapi wilayah yang dimiliki Palestina sudah diserobot, tinggal berapa persen saja dari wilayah tanah Palestina yang secara historis dihuni oleh Bangsa Arab itu selama ribuan tahun.

Menjadi kekuasaan umat Islam penuh pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, kemudian pada zaman Otoman. Sempat lepas di era Perang Salib, kurang lebih 90 tahun. Kemudian setelah itu kembali lagi ke pangkuan umat islam.

Kemudian melalui konspirasi Global tahun 1917, Inggris sebagai pasukan Sekutu yang menang perang pada Perang Dunia 1 kemudian mengkapling -kapling wilayah kekuasaan Otoman Turki.

Inggris, Perancis dan Kekaisaran Rusia mengkapling-kapling wilayah Otoman untuk mereka kuasai. Perancis menguasai Afrika Utara, sehingga rata-rata negara Arab di Afrika Utara berbahasa Perancis, selain berbahasa Arab. Mereka menguasai Syria, Libanon. Inggris menguasai Mesir, Irak, Palestina dan juga sebagian besar jazirah Arabia Najd.

Kelahiran Saudi Arabia sebagai kerajaan juga tidak lepas dari faktor dukungan global, dalam hal ini Inggris. Itu banyak sekali riwayatnya, kita tidak membahas ini, tapi kita fokus masalah bagaimana kondisi dunia islam ini kacau balau sejak tahun 1917 paska perang dunia pertama. Karena kekuatan dunia pada saat itu ada rekonfigurasi kekuatan globlal.

Kekuatan global dunia pada abad 18 dan 19 itu didominasi oleh tiga kekuatan dunia :
– Poros Inggris, Rusia dan Perancis.
– Poros Jerman dan wilayah Eropa Timur
– Poros dunia islam. Karena kekuatan dunia islam pada waktu itu disatukan oleh kekhalifahan Turki Usmaniah yang memiliki wilayah jangkauan yang luas dan kekayaan alam yang luar biasa.

Inggris mencium wilayah kekuasaan islam mempunyai sumber daya alam yang luar biasa. Maka sejak awal abad 20 ketika awal lemahnya kekuatan Otoman Turki mereka sudah mengirimkan insinyur-insinyur untuk meneliti sumber-sumber kekayaan minyak di Timur Tengah.

Mereka terbelalak bahwa wilayah gurun tandus itu ternyata dibawah bumi dan lautan itu mengandung cadangan minyak yang sangat luar biasa. Maka kesempatan mereka ingin memenangkan Perang Dunia pertama dengan berbagai cara, dengan berbagai tipu muslihat dan kelicikan. Untuk melemahkan dunia islam. Dan itu berhasil ketika Sultan Abdul Hamid II dilengserkan dari tahta.

Sultan Abdul Hamid II adalah Raja Turki yang paling kuat terakhir (1876-1908). Dialah yang mempertahankan eksistensi Baitul Maqdis, Palestina. Tidak mau menjual sepetak tanahpun kepada bangsa Yahudi yang datang dari Eropa melalui gerakan Zionism international. Theodore Herzl mengajukan permintaan dengan imbalan Sultan mau memberikan tanah, tidak gratis tapi dengan imbalan besar. Semua hutang-hutang kekhalifahan Turki Usmani akan diputihkan. Kemudian mereka akan membangun restrukturisasi industri.

Kekuatan Finansial mereka luar biasa, diarahkan semua untuk meraih suatu cita-cita. Ini harus menjadi pelajaran bagi umat islam. Bagaimana kekayaan orang-orang islam digunakan untuk memperjuangkan nilai/prinsip/akidah. Coba lihat , Yahudi saja yang begitu rusak, mereka yakin dengan prinsip- prinsip agama. Dan mereka memperjuangkan dengan hartanya.

Bagaimana dengan kita?
Mau berjuang kok tidak mau mengeluarkan harta? Itu mustahil. Dalam Al Qur’an selalu diungkapkan

Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ هَا جَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ ۙ اَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللّٰهِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْفَآئِزُوْنَ

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 20)

Jadi harta duluan yang digunakan untuk berjihad, baru kemudian nyawa. Karena perjuangan itu mempertahankan tanah.

Makanya ini penting selama kasus konflik, penyerobotan Israel/ Yahudi ini terhadap tanah Palestina. Kita belajar banyak. Bahwa kita jangan mudah menjual tanah atau property yang dimiliki oleh umat islam kepada non muslim. Kalau anda mau jual tanah atau property ya kepada orang islam. Ini catatan penting.

Dimana saja, nggak di kota nggak di desa, kita ini problem tanah.
Tanah ini otoritas. Tanah ini sakral, jangan kita asal-asal jual Tanah, jual property tidak melihat siapa yang membeli. Kalau sudah penguasaan lahan, mereka akan menguasai semuanya. Pertanian bisa diambil dikuasai. Produksi hilir dikuasai.

Sampai distribusinya coba bayangkan. Ekonomi umat islam ini morat-marit karena kita menjual lahan property kita.

Kita diiming-imingi siapa yang mau cepat haji, dapat uang banyak. Tapi lahannya makin lama makin habis karena jual tanah. Jual perkebunannya, jual ladangnya, jual sawahnya.
Property di tengah-tengah kota dijual. Itu orang-orang islam semua pada minggir. Akhirnya yang di tengah- tengah kota di Pulau Jawa ini siapa? Sudah sedikit orang islamnya.

Ayo kembali, kita harus menguasai lahan. Beli lahan-lahan di tengah kota, jangan kita jual. Ini pelajaran, jangan merasa kita mayoritas lalu merasa aman, menjual lahan seenaknya saja. Tidak boleh, lahan itu penting. Itu penguasaan otoritas.

Kekuatan umat , kekuatan suatu Bangsa itu dari tanah. Coba lihat Penjajah Belanda. Dia minoritas, kecil. Belanda itu cuma beberapa gelintir tapi bisa menguasai, karena dia menguasai tanah. Kita disuruh tanam paksa, kerja paksa ! Naudzubillahi min dzalik.

Begitu juga Problem Palestina sehingga dengan mudahnya mereka setelah Perang Dunia 1 membagi-bagi tanah wilayah kekuasaan Turki Usmani seperti mereka memotong-motong Pizza.


BERSAMBUNG BAGIAN 2


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here