Dr. Zuhad Masduki MA

30 Ramadhan 1442 / 12 Mei 2021



Tazkiyatun Nufus terjemahannya adalah penyucian jiwa. Pelakunya adalah manusia. Supaya manusia jiwanya bisa suci dengan melakukan langkah-langkah tertentu.

Oleh para ulama Tazkiyatun Nufus didefinisikan sebagai menyucikan diri dari perbuatan syirik dan derivatifnya. Seperti Riya’, Sombong dan sifat-sifat tercela lainnya. Kemudian menginternalisasikan nilai-nilai ketauhidan beserta sifat-sifat positif yang dilahirkan oleh ketauhidan itu antara lain Ikhlas, Sabar, Syukur, Tawakal, Takut dan mengharap kepada Allah atau al-Khouf wa Roja’ Ridha, dan lain sebagainya.

Intinya adalah menjauhkan diri kita dari perbuatan syirik dan seluruh perbuatan buruk yang lahir dari syirik. Kemudian menanamkan ketauhidan di dalam jiwa kita dan melaksanakan nilai-nilai positif yang lahir dari tauhid itu.

Syirik itu apa sebenarnya?

Karena fenomena syirik itu ada dari masa dulu sampai masa kita sekarang.
Ada Syirik Jahri ada Syirik Khoufi yang tidak kelihatan kecuali hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja.

Syirik itu sebenarnya maknanya adalah membuat kekuatan tandingan terhadap Allah SWT. Yang intinya adalah penyembahan kepada hawa nafsu. Dikemukakan di dalam Al Qur’an dalam bentuk pertanyaan.

Allah SWT berfirman:

اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ ۗ اَفَاَ نْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًا 

“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (QS. Al-Furqan 25: Ayat 43)

Dalam Surat Al Jasiyah ayat 23:

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ وَاَ ضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةً ۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah membiarkannya sesat ? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 23)

Dua ayat ini mempertanyakan apakah kita sudah melihat orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Tentu kalau ini akan kita jawab, kita akan mengatakan “oh iya”. Karena di dalam Al Qur’an sudah banyak diceritakan orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya.

Mari kita lihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahan pada masa Nabi Ibrahim fenomenanya seperti apa.?

Kita bisa melihat informasinya di surat Al Anbiya ayat 62 – 68.

Ini kisahnya Nabi Ibrahim berdialog dengan kaumnya yang kemudian Nabi Ibrahim menghancurkan patung- patung mereka. Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu dengan cara memotong kepala-kepala mereka, kecuali berhala yang paling besar tidak dipotong kepalanya oleh Nabi Ibrahim.

قَا لُوْۤا ءَاَنْتَ فَعَلْتَ هٰذَا بِاٰ لِهَتِنَا يٰۤاِ بْرٰهِيْمُ 

“Mereka bertanya, “Apakah engkau yang melakukan ini terhadap Tuhan-Tuhan kami, wahai Ibrahim?”” -(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 62)

قَا لَ بَلْ فَعَلَهٗ ۖ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا فَسْــئَلُوْهُمْ اِنْ كَا نُوْا يَنْطِقُوْنَ

“Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya patung besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.”” (QS. Al- Anbiya 21: Ayat 63)

Ibrahim menyalahkan berhala yang paling besar karena dia membawa kampak. Mereka disuruh tanya pada berhala paling besar itu.

فَرَجَعُوْۤا اِلٰۤى اَنْـفُسِهِمْ فَقَا لُوْۤا اِنَّكُمْ اَنْـتُمُ الظّٰلِمُوْنَ (64) ثُمَّ نُكِسُوْا عَلٰى رُءُوْسِہِمْ ۚ لَـقَدْ عَلِمْتَ مَا هٰۤؤُلَآ ءِ يَنْطِقُوْنَ(65)

“Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan berkata, “Sesungguhnya kamulah yang menzalimi.” Kemudian mereka menundukkan kepala lalu berkata, “Engkau pasti tahu wahai Ibrahim bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.”” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 64-65)

Akhirnya mereka mengakui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara. Jawaban Nabi Ibrahim betul-betul membungkam mereka bahwa itu hanyalah berhala yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat.

قَا لَ اَفَتَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًـا وَّلَا يَضُرُّكُمْ 

“Dia (Ibrahim) berkata, “Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak pula mendatangkan mudarat kepada kamu?” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 66)

اُفٍّ لَّـكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

“Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?”” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 67)

Setelah mereka tak dapat menjawab, secara akal dalil-dalil mereka dimentahkan oleh Nabi Ibrahim, maka mereka kemudian menggunakan kekuatan.

قَا لُوْا حَرِّقُوْهُ وَا نْصُرُوْۤا اٰلِهَتَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ

“Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah Tuhan-Tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.”” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 68)

Ini peristiwa orang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya di masa Nabi Ibrahim.

Dalam Surat As Saffat ayat 95-96, masih dialognya Nabi Ibrahim, beliau mendebat mereka :

قَا لَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَ (95) وَا للّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ (96)

“Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?, padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”” (QS. As-Saffat 37: Ayat 95-96).

Ini fenomena syirik yang nyata pada masa Nabi Ibrahim dalam bentuk menjadikan patung-patung sebagai Tuhan-Tuhan yang disembah oleh mereka.

Imam Ghozali ketika mengomentari ayat ini mengatakan :
“Orang menyembah berhala sebenarnya dia tidak menyembah berhala itu. Tetapi hakekatnya ini adalah bentuk penyembahan kepada Hawa Nafsu manusia”.

Hawa nafsunya , pikiran mereka dipersonifikasikan dalam bentuk berhala. Yang seperti ini masih berjalan terus sampai saat ini dalam wujud yang beda dengan pada masa Nabi Ibrahim.

Sekarang kita lihat pada masa Nabi Muhammad SAW seperti apa fenomena penyembahan kepada berhala-berhala itu.
Kita bisa melihat di Surat An Najm mulai ayat 19 sampai 23, bagaimana Allah mendebat orang-orang yang menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahannya.

Dalam Surat An Najm ayat 19 sampai 21 Allah mengecam berhala-berhala mereka.

اَفَرَءَيْتُمُ اللّٰتَ وَا لْعُزّٰى ۙ  وَمَنٰوةَ الثَّا لِثَةَ الْاُ خْرٰى
اَلَـكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْاُ نْثٰى

“Maka apakah patut kamu menganggap Al-Lata dan Al-`Uzza,
dan Manat, yang ketiga yang paling kemudian sebagai anak perempuan Allah. Apakah pantas untuk kamu yang laki-laki dan untuk-Nya yang perempuan? (QS. An-Najm 53: Ayat 19-21)

Mereka ketika ditanya tentang penyembahan berhala-berhala itu, menjawab dalam Surat Az Zumar ayat 3 :

مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَاۤ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى ۗ 

“Kami tidak menyembah mereka melainkan berharap agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS. Az-Zumar 39: Ayat 3)

Jadi fungsi berhala menurut mereka adalah sebagai obyek tawassul untuk menyampaikan do’a-do’a mereka kepada Tuhan. Manusia tidak bisa berdo’a langsung kepada Tuhan, harus melalui perantara. Perantaranya adalah tiga berhala : Al-Lata, Al-Uzza dan Manat. Mereka percaya bahwa Al-Lata, Al-Uzza dan Manat adalah anak-anak perempuan Tuhan. Nama-nama itu adalah nama-nama perempuan yang feminin.

Kemudian Allah berfirman :

تِلْكَ اِذًا قِسْمَةٌ ضِيْزٰى

Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.” (QS. An-Najm 53: Ayat 22)

Mereka tidak suka anak perempuan, tapi mereka menisbatkan anak perempuan kepada Tuhan. Sementara mereka menisbatkan anak laki-laki kepada diri mereka.

Dalam ayat 23 Allah SWT berfirman:

اِنْ هِيَ اِلَّاۤ اَسْمَآءٌ سَمَّيْتُمُوْهَاۤ اَنْتُمْ وَاٰ بَآ ؤُكُمْ مَّاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍ ۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَ نْفُسُ ۚ وَلَقَدْ جَآءَهُمْ مِّنْ رَّبِّهِمُ الْهُدٰى ۗ 

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk menyembahnya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka.” (QS. An-Najm 23)

Allah tidak menurunkan informasi apapun tentang mereka. Mereka hanya mengikuti dugaan dan kecenderungan hawa nafsu , padahal sudah datang pada mereka, petunjuk dari Tuhan mereka.

Berhala itu yang membuat mereka dari bahan batu, lalu dirupakan dalam bentuk tertentu, lalu mereka beri nama, lalu mereka beri fungsi dan peran.
Yang membentuk wujudnya mereka, yang memberi nama juga mereka, yang memberi fungsi dan peran juga mereka. Jadi kalau mereka dibanting pecahpun mereka tidak bisa membalas kepada yang membanting.

Menurut bahasa Imam Ghozali ini adalah Tuhan made in manusia.
Ini adalah syirik yang sangat nyata. Penyembahan kepada hawa nafsu, membuat kekuatan tandingan terhadap Allah SWT.


Syirik Khoufi (Syirik yang tidak nampak)

Misalnya keyakinan tentang hari sial. Ini ada di sebagian masyarakat muslim yang meyakini adanya hari sial. Salah satunya adalah Rebo Wekasan.
Kalau dilihat dari kaca mata Al Qur’an ini syirik. Karena orang yang percaya pada hari sial berarti percaya ada kekuatan selain Allah yang mengatur hari. Padahal hari milik Allah dan yang mengatur hari juga Allah SWT.

Memang di dalam Al Qur’an ada istilah hari sial, tetapi bukan hari-hari tertentu yang menurut orang-orang kalau mengadakan kegiatan akan membawa kesialan. Itu disebut di dalam Surat Al Qamar (54) : 19, dan surat Fussilat (41) :16 .

Ceritanya tentang hukuman ditimpakan kepada kaumnya Nabi Shaleh yang membangkang kepada Nabinya dengan menyembelih onta mukjizatnya. Lalu mereka disiksa oleh Allah dengan angin yang sangat kencang dan sangat dingin sehingga mereka mati.

Pada waktu mereka disiksa oleh Allah itulah oleh mereka disebut hari sial untuk mereka. Tetapi untuk umat lain yang tidak disana tidak sial. Jadi sial itu karena kedurhakaan mereka itu, bukan berarti harinya yang sial.

Sama dengan pada saat ini, kita mengadakan kajian. Pada jam ini juga mungkin ada orang yang bisnisnya bangkrut. Ada orang yang mungkin meninggal dunia, ada orang yang kecelakaan. Ini hari sial untuk mereka karena mendapatkan kemalangan -kemalangan itu.

Kalau kita sampai mempercayai adanya hari-hari sial, kita termasuk kategori syirik khaufi, yang membahayakan bagi keselamatan akidah.


Syirik Paling Kecil (Riya’).

Nabi SAW bersabda :

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ الرِّياَءُ

“Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas kalian ialah syirik kecil”. Mereka bertanya, “Apakah syirik kecil tersebut wahai Rasulullah?” Jawab Beliau, “Riya””. (H.R. Ahmad)

Dampaknya kalau orang riya , membantu tapi ingin dilihat, ingin dipuji pada saat dia membantu, atau sebelumnya atau sesudahnya maka diibaratkan dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 264 :

 فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَا نٍ عَلَيْهِ تُرَا بٌ فَاَ صَا بَهٗ وَا بِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ 

“Perumpamaannya orang itu seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan.” -(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 264)

Ini dampak dari syirik dalam bentuk riya’. Kita tidak mendapatkan pahala dari Allah SWT. Kalau dia menuntut pahala kepada Allah, maka Allah akan menyarankan agar dia meminta kepada siapa dia mempersembahkan amal perbuatannya itu.
Karena tujuannya jadi dua, Allah dan yang lain itu.

Oleh karena itu marilah kita menjauhi Syirik-syirik yang nyata , syirik yang khoufi maupun syirik yang paling kecil, yaitu Riya’ dalam bentuk ingin dipuji.
Orang riya’ hanya mendapat pujian di dunia. Di akhirat dia kehilangan pahala dari Allah SWT.

Kalau kita lihat fenomena masyarakat modern, sekarang ini juga banyak perbuatan- perbuatan syirik. Orang-orang yang tawassul kepada arwah-arwah di kuburan- kuburan juga termasuk syirik. Karena tidak ada dalil dari Al Qur’an maupun Hadits yang menerangkan tentang itu.

Bahkan Rasulullah pada masa awal islam melarang orang-orang ziarah kubur karena motivasinya keliru, yaitu bertawassul. Setelah diberi pencerahan oleh Rasulullah dan orang Arab paham maka barulah mereka dibolehkan lagi untuk ziarah kubur.

Rasulullah SAW bersabda :

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi sekarang berziarahlah kalian,” (HR. Muslim).

Untuk dicatat Tazkiyatun Nafs yang paling utama adalah berkaitan dengan Tauhid dan menjauhi Syirik sejauh- jauhnya. Kemudian kita menanamkan nilai-nilai ketauhidan serta sifat positif yang dilahirkannya.

Tauhid

Tauhid itu berkaitan dengan tiga hal :
– Tauhidul Dzat
– Tauhidul Sifat
– Tauhidul Amal.

1. KeEsaan Dzat

Tauhidul Dzat artinya kita meyakini bahwa Allah itu tidak tersusun dari materi. Karena kalau Allah tersusun dari materi-materi, menurut akal berarti ada materi yang adanya mendahului Allah SWT. Ini tidak mungkin, karena Allah adalah pencipta segala sesuatu.

Allah SWT berfirman:

هُوَ الْاَ وَّلُ وَا لْاٰ خِرُ وَا لظَّاهِرُ وَا لْبَا طِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid 57: Ayat 3)

Allah itu awal dan akhir atau dalam bahasa lain Qidam dan Baqa’

Kalau Allah tersusun dari materi berarti Allah butuh materi. Kalau materi yang dibutuhkan tidak ada, maka wujudnya Allah menjadi tidak sempurna.

Allah SWT berfirman:

 وَا للّٰهُ الْغَنِيُّ وَاَ نْـتُمُ الْفُقَرَآءُ ۚ

“Dan Allah-lah Yang Maha Kaya, dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya)..” (QS. Muhammad 47: Ayat 38)

Allah Maha Kaya maka Dia tidak butuh kepada apapun dan tidak butuh kepada siapapun.

Contoh kongkrit dari Tauhidul Dzat adalah Surat Al Ikhlas.

لَمْ يَلِدْ ۙ وَلَمْ يُوْلَدْ 

“(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 3)

Karena yang melahirkan dan yang dilahirkan mesti serupa. Anak mesti serupa dengan bapak ibunya. Allah itu tidak ada yang seperti- sepertinya.

Bapak dan Anak itu saling membutuhkan. Bapak butuh anak dan anak butuh bapak. Allah tidak seperti itu.

Hubungan antara Allah dan Nabi Adam itu adalah hubungan Khalik dan Makhluk. Pencipta dan yang diciptakan.

Hubungan Allah dengan Nabi Isa juga Pencipta dan yang diciptakan. Tidak ada unsur-unsur keTuhanan didalamnya. Tidak ada hubungan lebih dari Khalik dan Makhluk. Maka kalau ada keyakinan melampaui itu namanya Syirik kepada Allah SWT.

Syiriknya Ahli Kitab, seperti disebutkan dalam Surat At Taubah ayat 31:

اِتَّخَذُوْۤا اَحْبَا رَهُمْ وَرُهْبَا نَهُمْ اَرْبَا بًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah .” (QS. At-Taubah 9: Ayat 31)

Maksudnya bukan orang Ahli Kitab itu menyembah Rahib, bukan mereka beribadah untuk Rahib, tetapi Rahib- rahib ini membuat ketentuan-ketentuan yang bertentangan dengan ketentuan Allah SWT. Seperti mengharamkan yang halal atau yang sebaliknya, menghalalkan yang haram. Yang seperti ini sudah masuk kategori mereka itu syirik atau kafir kepada Allah SWT.


2. KeEsaan Sifat

Allah mempunyai Sifat-Sifat yang berbeda dengan sifat manusia. Kalau ada sifat-sifat Allah di dalam Al Qur’an yang sama dengan sifat-sifat manusia, maka sama itu hanya dari sisi nama. Hakekatnya beda, kapasitasnya beda. Perbedaannya Sifat Allah tak terbatas, sifat manusia terbatas.

99 sifat Allah itu ada juga yang dimiliki menusia, kecuali sifat KeTuhanan.
Misalnya Sifat Allah : Ar-Rahman ar Rahiem yang tidak terbatas. Manusia juga punya sifat Ar-Rahman ar Rahiem tetapi terbatas.

Contohnya dalam kehidupan pasangan suami-isteri. Kalau salah satunya berkhianat maka pasangannya lalu menjadi tidak senang lagi. Lalu ujung- ujungnya adalah bercerai. Hal ini terjadi karena keterbatasan kasih sayang diantara mereka.

Tetapi kalau Allah, walaupun di dunia ini banyak orang durhaka kepada Allah , Syirik, Atheis, melanggar aturan- aturannya , mereka tetap saja diberi kesempatan untuk hidup di dunia dan menikmati kesenangan di dunia sama dengan yang Muslim. Mau kaya juga bisa, mau bahagia juga bisa, mau sukses juga bisa.
Allah kasih sayangnya, rahmatnya tak terbatas. Tidak seperti yang dimiliki oleh manusia.


3. KeEsaan Perbuatan

Semua yang ada di alam semesta itu adalah hasil perbuatan Allah, hanya saja Allah berbuat itu tidak langsung.
Tetapi melalui sistem atau Undang Undang atau aturan yang diciptakan. Maka dengan berlakunya
aturan-aturan itu maka penciptaan – penciptaan itu terjadi.

Misalnya reproduksi manusia tidak langsung dilakukan oleh Allah dalam bentuk wujud manusia , tetapi melalui sistem Perkawinan yang dari situ sperma bercampur ovum setelah itu terbentuk Alaqoh. Dari Alaqoh lalu terbentuk Mudghah, segumpal daging yang hidup. Dari mudghah terbentuk tulang belulang lalu dibungkus daging. Setelah itu Allah meniupkan Ruh ciptaannya. Kemudian dia nanti lahir.
Kita semua begitu proses penciptaannya , kecuali Nabi Adam dan Nabi Isa yang prosesnya berbeda.

Allah mencipta, Allah berbuat melalui sistem. Maka kalau manusia bisa menemukan sistem, manusia akan bisa melakukan perekayasaan- perekayasaan dalam kehidupan di dunia ini. Dan akan membawa kemajuan bagi kemanusiaan.


Sarana-sarana Tazkiyatun Nafsi

1. Kita merealisasikan Tauhid

Karena inilah pangkal dari Tazkiyatun Nafs. Kita realisasikan tiga ketauhidan tadi dalam kehidupan kita. Tauhidul Dzat, Tauhidul Sifat dan Tauhidul Amal.


2. Melalui Syari’at-Syari’at Agama

Ada shalat, zakat, puasa, haji dan lain-lain. Ini kita laksanakan karena ini adalah sarana untuk Tazkiyatun Nafs.

2.1. Shalat

Shalat merupakan sarana penting dalam penyucian jiwa sekaligus menjadi indikator kesucian jiwa. Ia disyari’atkan untuk menanamkan makna-makna kehambaan manusia dan ketauhidan serta Ketuhanan Allah SWT. Shalat juga merupakan dzikir dan do’a serta penegakkan ibadah pada organ-organ utama jasad manusia.
Penegakkan shalat merupakan penghancuran atas sifat angkuh dan pembangkangan terhadap Allah serta menjadi sarana pengakuan akan ketuhanan dan kemahapengaturan Allah SWT. Oleh karena itu , shalat yang dilakukan secara sempurna dapat menghilangkan sifat riyā′, ‘ujub, gurūr (terkecoh oleh kehidupan duniawi) , bahkan seluruh hal yang keji dan mungkar, seperti yang disebut di dalam Surat al- Ankabūt ayat 45:

  اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَا لْمُنْكَرِ ۗ 

“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut 45)

Makna-makna ini harus kita hayati sehingga shalat kita itu betul-betul akan melahirkan akhlak yang baik. Terutama akhlak kepada sesama manusia, harus baik.

2.2. Zakat dan Infak

Ini menurut tulisan-tulisan para ulama zakat dan infak ini akan menjadikan jiwa kita tidak bertabiat kikir. Jadi ini menghapus sifat-sifat kikir yang ada di dalam diri manusia. Karena manusia itu memang memiliki sifat kikir.

2.3.Puasa

Puasa juga merupakan sarana untuk Tazkiyatun Nafs. Tapi puasa kita jangan hanya berhenti pada formalitas meninggalkan makan- minum, hubungan sex dan perbuatan- perbuatan lain yang dilarang oleh agama, tetapi kita harus bisa menangkap substansi dari puasa.

Antara lain puasa adalah latihan menghayati kehadiran Allah di dalam kehidupan kita. Kalau perasaan ini ada pada kita dan kuat, maka kesadaran tentang kehadiran Allah itu akan menjadi pengendali bagi kita, Pengawasan Melekat bagi kita untuk tidak melakukan penyimpangan -penyimpangan di dalam kehidupan kita dalam berbagai aspeknya. Tetapi kalau puasa itu masih baru pada tatanan formalitas, belum mengantar kepada kesucian jiwa.
Maka mari kita hayati puasa kita agar lebih dalam lagi sehingga betul -betul akan mengantar pada Tazkiyatun Nafs.

2.4. Haji

Haji sebenarnya juga latihan untuk membiasakan amal-amal baik. Di dalam Al Qur’an dikatakan di Surat Al Baqarah 197 :

 فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَا لَ فِى الْحَجِّ ۗ

“Barang siapa mengerjakan haji dalam bulan-bulan itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam melakukan ibadah haji.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 197)

Bulan haji mulai Bulan Syawal sampai bulan Dzulhijjah. Kita mengendalikan diri juga dalam waktu waktu haji itu selama kita berpakaian ihram. Kalau pembiasaan ini kemudian bisa dilakukan paska Haji maka inilah yang akan mengantar kepada Tazkiyatun Nafs kepada yang bersangkutan.


2.5. Membaca Al Qur’an

Membaca Al Qur’an dalam tulisan- tulisan ulama dijelaskan ada adab- adabnya :

1. Memahami keagungan dan kemuliaan kalamullah itu sendiri
2. Mengagungkan Allah, Dzat yang berfirman dalam ayat-ayat itu tadi.
3. Hadirnya hati saat membaca Al Qur’an dan meninggalkan bisikan- bisikan setan.
4. Tadabur dalam hati merenungkan makna-makna Al Qur’an.
Tadabur itu bisa membaca terjemahnya atau kita melakukan kajian- kajian sehingga maknanya betul betul kita ketahui, kemudian kita hayati kemudian kita implementasikan di dalam kehidupan kita bermasyarakat.
5. Tafahum, berusaha untuk betul betul memahami makna dari ayat-ayat yang kita baca.
6. Menghindari hambatan hambatan dalam menggali dan menemukan pemahaman pemahaman baru dari Al Qur’an yang merupakan lautan ilmu yang tidak bertepi.
Biasanya hambatan orang untuk menerima pemahaman Al Qur’an, terutama yang baru itu input-input lama yang mungkin tidak sejalan dengan makna-makna baru yang digali dari Al Qur’an.
7. Qur’an seperti bicara dengan kita. Sehingga kalau kita ada perasaan itu kita akan betul-betul memperhatikan ayat-ayat yang kita baca.
8. Ta’asur, berarti kita siap untuk dipengaruhi oleh ayat-ayatnya yang kita baca. Selalu ayat itu yang kita implementasikan di dalam kehidupan kita.

Itu antara lain etika membaca Al Qur’an supaya mengantar kepada Tazkiyatun Nafs. Jadi tidak sekedar membaca untuk dapat pahala.
Ini membaca dapat pahala dan menyucikan jiwa kita, karena kemudian kita terdorong untuk mengamalkan isinya.


2.6. Dzikir dan Tafahum

Dzikir menyangkut Allah dan juga ayat-ayat Allah itu.

2. 7. Mengingat Kematian

Al Qur’an itu menjawab tiga pertanyaan
– Kita ini dari mana
– Sekarang ada dimana
– Lalu setelah ini kita mau kemana
Kalau tiga hal ini betul betul kita hayati, terutama kita mau kemana, mengingat kematian, maka ini juga akan menjadi sarana Tazkiyatun Nafs, karena kita akan mengendalikan diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan dosa, karena setelah mati kita akan mempertanggung jawabkan amal- amal perbuatan kita yang kita lakukan selama ini.

2.8. Meninggalkan Semua yang diharamkan oleh Allah SWT


Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here