Zahrul Fata Lc, MA, Phd

27 Ramadhan 1442 / 9 Mei 2021



Gerakan Pluralisme

Pernikahan Beda Agama, CRCS membuat film documentary “Religiosity in Diversity” beberapa orang Indonesia yang menikah beda agama. Maksudnya beda agama disini adalah muslimah dengan non muslim. Kalau perempuannya yang non muslim masih dibenarkan oleh agama, meskipun ada beberapa ulama yang memakruhkannya . Seorang dosen UIN di Yoygya meneliti pernikahan beda agama, ternyata banyak terjadi di Yogya . Karena di Yogya banyak bule dan banyak keluarga yang ingin memperbaiki genetik cucunya.


Beberapa statement sarjana kita yang juga berbau pluralisme.

Abdul Munir Mulkhan , dalam buku “Satu Tuhan Seribu Tafsir” :
Berdasarkan hadits Nabi di atas, kesalehan atau ketakwaan seseorang tidak hanya bisa diukur dengan ukuran ritual formal yang selama ini dikhotbahkan para elit keagamaan. Mereka bisa masuk surga dan berbuat saleh dengan cara mereka sendiri dan paham keagamaan yang dipengaruhi tingkat sosial dan ekonomi masing- masing. Dari sini mungkin bisa dibayangkan “kamar-kamar surga” yang berbeda-beda sesuai cara media dan paham keagamaan setiap orang dan kelas sosialnya. Karena itu bisa jadi “kamar surga” bagi Muhammadiyah yang berbeda dengan “kamar surga” pengikut NU, pengikut Syi’ah ataupun Ahmadiyah. Bahkan, bisa dibayangkan “kamar surga” bagi pemeluk agama berbeda dan partai politik yang berbeda.

Narasi yang begini jelas merupakan narasi yang berbau pluralisme , namun bisa juga kadang-kadang mencari sensasi.

Muhsin Labib, seorang dosen di Jakarta menulis artikel ‘Kafir’ yang Baik dalam majalah Adil no 19 tahun 2007.

“Mukmin sejati pastilah kafir sejati karena ia beriman kepada Allah sekaligus kafir kepada orang-orang zalim (taghut). Karena itu, kita mesti menjadi kafir yang baik, kafir profetik”.


Tinjauan Al Qur’an

Ayat Al Qur’an yang sering dipakai sebagai justifikasi bahwa semua agama adalah sama, yaitu

Surat Al Baqarah 62

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَا لَّذِيْنَ هَا دُوْا وَا لنَّصٰرٰى وَا لصّٰبِئِـيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَعَمِلَ صَا لِحًـا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 62)

Surat Al Maidah 69

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَا لَّذِيْنَ هَا دُوْا وَا لصَّا بِئُـوْنَ وَا لنَّصٰرٰى مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَعَمِلَ صَا لِحًـا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Sabi’in, dan orang-orang Nasrani, barang siapa beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 69)

Surat Al Hajj ayat 17

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَا لَّذِيْنَ هَا دُوْا وَا لصّٰبِــئِيْنَ وَا لنَّصٰرٰى وَا لْمَجُوْسَ وَا لَّذِيْنَ اَشْرَكُوْۤا ۖ اِنَّ اللّٰهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

“Sesungguhnya orang-orang beriman, orang Yahudi, orang Sabi’in, orang Nasrani, orang Majusi, dan orang musyrik, Allah pasti memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat. Sungguh, Allah menjadi saksi atas segala sesuatu.” (QS. Al-Hajj 22: Ayat 17)

Ayat ini memberi kesan bahwa semua agama sama. Ayat di atas kalau dilihat seolah-olah sejalan dengan ayat-ayat yang lain. Orang-orang pluralis mengatakan, perhatikan bahwa Al Qur’an sendiri menyatakan

لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ ۗ 

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), ” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 256)

Allah SWT berfirman:

اَفَاَ نْتَ تُكْرِهُ النَّا سَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

“Tetapi apakah kamu hendak memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?”
(QS. Yunus 10: Ayat 99)

Allah SWT berfirman:

 وَلَوْ شَآءَ اللّٰهُ لَجَـعَلَـكُمْ اُمَّةً وَّا حِدَةً

Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja,” -(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 48)

Dari kenyataan ini mereka menyimpulkan bahwa Pluralisme agama itu sunatullah. Ayat-ayat ini adalah ayat-ayat langganan yang sering dicomot oleh para pluralist untuk menjustifikasi bahwa semua agama sama.

Mereka juga mengambil dalil dari Sunah Nabi.

Piagam Madinah
Mereka mengatakan bahwa ketika Rasulullah tiba di Madinah membuat Piagam Madinah yang membiarkan orang Yahudi dengan agamanya. Membiarkan orang Najran yang datang ke Madinah juga dibiarkan dengan agamanya.

Kasus Waraqah bin Naufal.
Waraqah adalah pendeta yang didatangi oleh Khatidjah bersama dengan Nabi setelah wahyu pertama turun. Waraqah masih tetap dalam agamanya sampai meninggal.
Menurut mereka itu bukti bahwa semua agama sama, Waraqah yang mengetahui kenabian Muhammad ternyata tidak masuk islam.

Mereka lupa bahwa ketika wahyu pertama turun, Rasulullah belum diperintah untuk berdakwah. Perintah untuk berdakwah baru muncul beberapa bulan kemudian setelah turunnya ayat :

يٰۤاَ يُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَاَ نْذِرْ (2)

“Wahai orang yang berkemul (berselimut) ! Bangunlah, lalu berilah peringatan!” (QS. Al-Muddassir 74: Ayat 1-2)

Saat ayat ini turun, Waraqah sudah meninggal dunia. Waraqah sendiri sudah mengatakan :
“Siapa saja pria yang datang dengan sesuatu yang mirip dengan apa yang telah Anda bawa akan dimusuhi, dan jika saya masih hidup sampai hari ketika Anda akan diusir maka saya akan sekuat tenaga mendukung Anda.”

Ada sunah Rasul yang dianggap berbenturan

Bahwa Rasulullah dalam salah satu haditsnya, beliau mengatakan di hadapan sahabat -sahabatnya :
“Jika sekiranya Nabi Musa itu hidup diantara kalian, maka beliau pasti akan mengikutiku (maksudnya syariatku)”.

Dalam hadits lain Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Demi (Allah) yang jiwa Muhammad berada pada genggaman-Nya, tidak ada satu orangpun dari umat ini baik dia Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan tidak mengimani dengan risalah yang aku diutus menyampaikannya kecuali dia termasuk penghuni neraka”

Hadits ini ada di dalam Shahih Muslim.
Diantara ulama yang mensyarah Shahih Muslim adalah Imam Nawawi.
Imam Nawawi mengatakan :

“Hadits ini menunjukkan bahwa syariat agama-agama sebelum islam terhapus dengan datangnya risalah yang dibawa Nabi Muhammad. Adapun bagi mereka yang belum sampai kepadanya dakwah islam yang dibawa Nabi Muhammad, secara aksioma otomatis mereka ma’dzur (diampuni) sebagaimana yang telah ditetapkan dalam kaedah Ushul yang mengatakan bahwa hukum atau sangsi hukum tidak diberlakukan bagi mereka yang belum sampai kepadanya syariat islam menurut pendapat yang shahih”.

Artinya, begitu orang itu sudah mendengar ada dakwah islam maka dia harus mencari tahu agama Islam dan untuk dia selamat, dia harus memeluk agama islam.

Bagaimana nasib orang-orang yang ada di pelosok pegunungan yang sebenarnya hidup sesudah diutusnya Nabi Muhammad tetapi belum sampai kepada mereka dakwah islam? Maka dia beragama berdasarkan akalnya. Kalau dia mengikuti akalnya maka nanti dia diakhirat akan selamat.

 وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

“tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 15)

Akhirnya relasi antara agama Islam dan agama lainnya bagaimana?


Mengakui keberadaan Agama lain BUKAN kebenarannya

Jika dianalogikan dengan matahari, cahaya islam terbit untuk menyinari seluruh dunia , namun islam tidak pernah dan tidak akan pernah memaksa siapapun untuk bernaung di bawah cahayanya (memeluknya). Karena beragama dalam islam adalah masalah pilihan, ketulusan dan keikhlasan bukan paksaan.

Namun bukan berarti tugas dakwah menyampaikan agama islam berhenti, melainkan harus terus berjalan sampai kapanpun dengan cara damai – sebagaimana tuntunan Al Qur’an – yang sarat dengan hikmah, nasihat yang baik (mauidhah hasanah) dan pengutaraan argumentasi yang logis.

Allah SWT berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِا لْحِكْمَةِ وَا لْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَا دِلْهُمْ بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ 

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 125)


Pluralisme No, Pluralitas Yes

Berangkat dari prinsip Al Qur’an bahwa “Tidak ada paksaan dalam (memeluk) agama karena sudah jelas yang benar dari yang sesat (Al Baqarah 256), maka timbullah makna toleransi dalam islam yang berarti mengakui keberadaan agama lain, bukan kebenarannya. Jadi islam mengakui adanya pluralitas dalam agama, tapi tidak mengakui pluralisme agama, yakni ajakan dan anggapan semua agama benar, karena agama yang benar disisi Allah adalah islam.

Banyak orang salah paham dengan terminology pluralisme. Mereka tidak bisa membedakan pluralisme dengan pluralitas.

Kalau mengakui kebenaran agama lain itu sangat membingungkan.
Contoh kongkritnya kita sebagai muslim mengimani bahwa Nabi Isa itu tidak lebih dari seorang Nabi. Bagaimana kita sanggup juga membenarkan keyakinan orang lain yang menganggap Nabi Isa itu anak Tuhan? Itu membingungkan !

Maka sikap yang benar, saya mengimani Nabi Isa tidak lebih dari seorang Nabi. Kalau anda menganggapnya lebih dari seorang Nabi, anak Tuhan sang Juru Selamat itu adalah urusanmu sendiri !
Anda akan mempertanggung jawabkan keyakinan anda kelak. Dan saya juga akan mempertanggung jawabkan apa yang saya yakini.

Analoginya kurang lebih begini :
Hubungan kita dengan orang di luar agama kita seperti seorang bapak memperkenalkan calon menantunya kepada puterinya.
“Wahai puteriku, ini adalah laki-laki yang menurut ayah cocok jadi suamimu. Ayah sudah tahu siapa dia, keluarganya, latar belakangnya dari A sampai Z. Dia cocok untuk kamu”.

Sang Puteri menjawab : “Tidak usah yah, saya sudah punya calon sendiri. Saya sudah kenal dia lama, sudah tahu juga calon saya ini. Saya lebih memilih dia daripada calon yang ayah katakan”.

Maka sang ayah hanya bisa mengatakan : “Silahkan kamu pilih calonmu yang kamu yakini itu puteriku. Kamu akan menanggung resiko dari pilihanmu. Kelak jangan sampai di kemudian hari kamu menyesali”.

Kita juga demikian. Ini lho agama yang benar menurut kami. Yang anda yakini itu tidak benar berdasarkan cara pandang kami. Tapi kalau anda “kekeuh” dengan keyakinan anda silahkan nanti anda menanggung resiko dan mempertanggung jawabkan pilihan anda.


Kedudukan Agama-Agama, Paska Kedatangan Islam

Pengakuan terhadap keberadaan sesuatu, bukan berarti pembenaran atas perbuatan yang dilakukannya.
Bukankah kita mengakui adanya setan? Tapi apakah kita membenarkan apa yang diperbuat setan apalagi mengikutinya.?

Sudah menjadi kehendak Allah menjadikan kehidupan ini berpasang -pasangan : taat – maksiat, baik – buruk, iman – kafir, syukur – kufur dan seterusnya.

Tapi pada saat yang sama , Allah meridhai hamba-hambanya untuk bersyukur alias tidak terjerumus dalam kekufuran atau kekafiran. Sebagaimana yang tersurat dalam firmanNya :

اِنْ تَكْفُرُوْا فَاِ نَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۗ وَلَا يَرْضٰى لِعِبَا دِهِ الْـكُفْرَ ۚ وَاِ نْ تَشْكُرُوْا يَرْضَهُ لَـكُمْ ۗ 

“Jika kamu kafir ketahuilah maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridai kekafiran hamba-hambanya. Jika kamu bersyukur, Dia meridai kesyukuranmu itu.” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 7)

Dari ayat ini kemudian ulama merumuskan bahwa tidak semua yang Allah kehendaki itu Allah ridhai.
Allah menghendaki adanya agama islam dan agama yang lain. Allah menghendaki adanya Surga dan Neraka. Tapi tidak semua yang Allah kehendaki itu Allah ridhai.

Untuk agama yang diridhai Allah adalah islam. Allah SWT berfirman:

 اَ لْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَـكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَ تْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَـكُمُ الْاِ سْلَا مَ دِيْنًا ۗ 

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu..” -(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 3)

Jadi harus dibedakan antara dikehendaki Allah dan diridhai Allah.
Misalnya saya menonjok orang,
Itu juga bagian dari kehendak Allah, tapi perbuatan itu tidak diridhai Allah.

Ibnu Taimiyyah membagi iradah (kehendak) Allah berdasarkan ayat di atas menjadi dua.

1. Al Iradah al Kauniyyah : Kehendak Allah secara umum yang mencakup ketaatan dan kemaksiatan sekaligus, adanya baik – buruk, iman – kufur dan seterusnya.

2. Al Iradah al Syar’iyyah yang dalam bahasa lain disebut Ridha : Kehendak Allah yang secara khusus berhubungan dengan ketaatan saja : Kebaikan, keimanan, kesyukuran dan hal-hal yang terpuji lainnya sebagaimana yang tersurat dalam firmanNya :

يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ 

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)



Pendapat Kontra Pluralisme

Pluralisme ini sebenarnya tantangan bagi semua agama-agama. Bukan hanya islam yang keberatan adanya gagasan pluralisme agama ini. Agama agama lain juga tergerus.

Dekrit Vatican tahun 2000 :
Menolak Plurarisme agama juga menegaskan kembali bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya perantara keselamatan Ilahi dan tidak ada orang yang bisa ke Bapa selain melalui Yesus. (Frans Magnis Suseno , Menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat majemuk, Jakarta, Penerbit Obor)

Kemudian seorang Pendeta Protestan bernama Pdt. Stevri Lumintang mengatakan :
“Theologia abu-abu (pluralisme) yang kehadirannya seperti serigala berbulu domba, seolah-olah menawarkan teology yang sempurna, karena itu teology tersebut mempermasalahkan semua Teology Tradisional yang selama ini dianut dan sudah berakar dalam Gereja. Namun sebenarnya Pluralisme sedang menawarkan agama baru …” (Theologia abu-abu , Malang, Gandum Mas, hal 18-19)

Sikap Hindu juga sama. Semua agama punya keunikan masing- masing yang tidak bisa disamakan begitu saja. Mengapa wacana pluralisme agama ini begitu kuat? Karena memang sejak. Tahun 2000 an didukung oleh dana yang luar biasa.

Tetapi setelah MUI mengeluarkan fatwa tentang keharaman pluralisme agama ini kemudian mereka kelimpungan akhirnya mengganti nama pluralisme menjadi multi kulturalisme yang ujung-ujungnya sama juga.

Sekarang terakhir diganti namanya Islam moderat. Ini nama yang agak halus karena ada padanan kata dalam islam yaitu Washatiyah islam. Tetapi islam moderat yang mereka mau adalah yang mengakui, bukan hanya sekedar keberadaan tapi kebenaran, toleransi, menghargai.

Toleransi itu bukan menghargai keyakinan orang lain. Kalau kata menghargai selalu ada unsur mengakui kebenaran disana. Toleransi itu membiarkan.

Allah SWT berfirman:

لَـكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun 109: Ayat 6)

“lakum diinukum wa liya diin” adalah membiarkan.


Umat Islam tidak perlu diajari toleransi

Bernard Lewis, Professor of history Princeton University NJ mengatakan :
“In considering the long record of Muslim rule over non Muslim, a key question is that of perception and attitudes. How did muslims view their dhimmi subjects.?
One important point should be made right away. There is little sign of any deep rooted emotional hostility directed against Jews or for that matter any other group such as the anti Semitism of the Christian world.
On the whole in contrast to Christian anti Semitism , the Muslim attitude toward non Muslim is one not of hate or fear or envy but simply contempt. [ For those who had been given the opportunity to accept the truth and who willfully choose to persist in their disbelief] ( the Jews of Islam p 32-33).

Dalam catatan sejarah ketika muslim menguasai non muslim bagaimana mereka memperlakukan kelompok minoritas? Umat islam punya kaidah bahwa ada orang diluar agama mereka yang disebut dhimmi.

Ada sesuatu yang patut ditegaskan disini ketika umat islam berkuasa mereka sangat respek buat minoritas. Itu berbeda dengan yang terjadi ketika Kristen memegang dunia. Mereka itu sangat anti sekali kepada Ras Semit yang berbeda dengan mereka.

Jadi umat islam tidak usah diajari tentang toleransi. Sampai sekarang Borobudur masih ada. Duluan mana Islam dengan Borobudur? Borobudur dan tempat-tempat ibadah masih ada.
Sampai sekarang Sphinx di Mesir dan tempat-tempat agama masih ada. Kalau kita ke Spanyol juga demikian.

Maka Islam itu mengakui Pluralitas tapi tidak mengakui Pluralisme agama. Dari situlah makna toleransi dalam islam.

Secara logika bahasa, toleransi itu muncul ketika ada perbedaan pandangan. Toleransi itu berusaha memahami perbedaan pandangan.
Pluralisme itu menyamakan semua agama. Kalau semua sama ngapain toleransi? Logika bahasanya demikian.

Untuk bisa hidup rukun dan damai, kita tidak harus mencabut prinsip yang ada dalam diri kita. Kalau semua agama sama Rasulullah tak akan bersedih ketika pamannya meninggal dalam keadaan tidak bersyahadat. Kalau semua agama sama Rasulullah tidak perlu dakwah sampai berdarah-darah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here