Zahrul Fata Lc, MA, Phd

27 Ramadhan 1442 / 9 Mei 2021



Hubungan antara satu agama dengan agama lain itu seharusnya bagaimana? Setidaknya ada tiga macam ketika dulu diperkenalkan oleh pihak Gereja :

In Christian tradition there are now three theological approaches from which the Christian look at other religion.
The first of these is called Exclusivism, which holds that only those who hear and respond to the Christian gospel are entitled to salvation.
Second, Inclusivism, which argues that although Christianity represents the normative revelation of God, salvation is also possible for adherents of other religious tradition.
Third, Pluralism, which holds that all religious traditions of humanity are equally valid paths to the same core of religious reality. In pluralism, no one religion is superior to any other ; each and every religion is equally valid way to truth and God”. (Alister E.McGrath, Christian Theology : an Introduction, Oxford : Blackwell Publisher, 1994).

Cara pandang Ekslusif mengatakan bahwa keselamatan hanya bisa diraih ketika orang masuk agama Kristen.
Inklusif, meskipun keselamatan itu hanya dengan cara dibaptis masuk agama Kristen, tapi ada kemungkinan agama lain juga selamat.
Cara pandang yang ketiga adalah Pluralisme artinya baik agama Kristen atau agama-agama lain itu sama kedudukannya dihadapan Tuhan. Orang tidak harus masuk agama Kristen. Agama apapun nanti juga akan mendapatkan keselamatan.

Ini adalah perubahan sikap dari Kristen yang dulu pada awalnya eksklusif. Seiring berjalannya waktu dipecah menjadi Ekslusif, Inklusif dan Pluralisme.

Sejak berabad-abad lamanya, Gereja Katholik yang berpusat di Roma (lebih tepatnya Vatican) mengajarkan bahwa :
– Agama Kristen adalah satu-satunya agama yang benar.
– Agama selain Kristen : Judaisme, Hinduisme, Buddhisme, Islam dan lain sebagainya itu semua tidak benar.
– Maka hanya mereka yang masuk menjadi Kristen dan tunduk menurut kepada Gereja dijamin selamat sampai ke Surga.
– Adapun kaum Yahudi, orang Hindu, pengikut Buddha, dan umat Islam mereka anggap sesat dan bakal masuk neraka.
– Demikian pula semua orang yang bukan anggota Gereja.

Doktrin itu berdasarkan kesepakatan Dewan Gereja. Doktrin itu dikenal dengan nama dalam bahasa Latin :
Salus extra Ecclesiam non est (Tiada keselamatan di luar Gereja)
Ini yang menjadi keyakinan Katholik dari awal kali masuk di Eropa sampai berabad-abad seperti dirujuk oleh St Agustine , De Baptismo contra Donatistas Liber IV, dalam Sancti Aurelii Augustini Hipponensis Episcopi Opera Omnia, Tomus IX (Paris 1837, hal 237, par 24 (XVII)

Doktrin ini kemudian dikenal sebagai Exclusivism yang dianggap puncak dari sikap : Tidak menerima yang lain (intolerance) , taksub (fanaticism) , picik (bigotry).

Gereja harus sekuat tenaga mengajak mereka untuk mau dibaptis. Kalau tidak mereka akan sengsara di akhirat kelak. Doktrin itu dianggap bertanggung jawab atas penderitaan di dunia. Eksklusivism ini dipegang kuat sampai pertengahan abad ke 20. Kalau melihat sejarah, Katholik mulai masuk Eropa abad ke 4. Dari abad ke 4 sampai abad ke 20 agama Kristen itu agama yang eksklusif yang menganggap agama lain sesat dan salah.

Baru setelah Perang Dunia ke 2 yang menelan jutaan kurban jiwa, sebagian besar Yahudi, gereja mulai berubah sikap. Waktu itu yang menjadi bulan-bulanan adalah orang Yahudi. Di Jerman mereka dikejar-kejar.

Dalam sebuah Muktamar Agung di Vatican pada tahun 1962-1965, Gereja meninjau kembali hubungan dan status agama-agama lain lalu terbitlah dokumen yang bernama NOSTRA AETATE

Gereja Katholik tidak mengingkari kebenaran dan kesucian agama- agama selain Kristen. “Ecclesia catholica nihil eorum, quae in his religionibus vera et sancta sunt, reicit”.

Bahwa agama-agama lain tersebut adalah pantulan cahaya kebenaran yang menerangi seluruh umat manusia : “haud raro referunt tamen radium illius Veritatis quae illuminat omnes homines”.

Ini bermakna Gereja Katholik telah mengubah sikapnya dari eksklusifisme menjadi Inklusifisme.

Exclusivism is the view that there is only one way to God and salvation. Thus one’s religion is uniquely and supremely true and all other religions are false. Exclusivist Christians refer to Jesus’ statement in John 14:6 : “I am the way, the truth and the live ; no one comes to the Father but through Me”.
(Saya adalah satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran dalam kehidupan ini. Tidak ada yang bisa sampai ke Bapa di Surga kecuali melalui saya, kata Yesus).
Dalam bahasa sederhana untuk bisa sampai surga maka orang harus dibaptis. Kalau tidak dibaptis, orang tidak akan masuk surga ketika meninggal.

Semenjak itu kemudian ada 3 gagasan penting yang dikeluarkan dari muktamar tersebut :
– Inclusivism
– Ecumenism
– Interfaith Dialogue


Inclusivism

Inclusivism is the opinion that while one’s religion is the best and certainly true, salvation is also possible through other faiths.

Inclusivism, bahwa bukan hanya penganut agama Kristen saja yang selamat, tapi agama lain juga ada kemungkinan juga selamat.

Gagasan ini kemudian disambut oleh beberapa sarjana . Ada seorang sarjana bernama Karl Rahner, dia punya istilah “anonymous Christians”. Orang-orang yang belum dibaptis itu sebenarnya Kristen, tapi masih belum saja. Atau orang Kristen tapi masih ilegal. Menurut pandangannya mereka nanti juga masuk Surga.


Ecumenism

Oikumene : The inhabited word from oikos : house.
A movement toward unity and cooperation among various Christian churches.
A movement to reconcile splintered sects by forming “Persekutuan Gereja-gereja” e.g The United Church of Christ (1957) and The Evangelical Lutheran Church in America (1988).

Ecumenism, adalah tidak ada perbedaan yang signifikan antara Gereja yang satu dengan Gereja yang lain. (Di Kristen juga ada semacam madzab-madzab seperti di Islam ada Syi’ah, Ahmadiyah dan Ahlul Sunnah,
dimana mereka saling mengklaim kebenaran. Maka dengan adanya Ecumenism, maka semua Gereja sama-sama benar).


Interfaith Dialogue

Ada Dialog antar umat beragama.
Ini semuanya bermula dari cara pandang yang eksklusif memakan banyak korban.

Gereja menghimbau kepada anak-anaknya supaya mengadakan dialog dan kerjasama dengan pemeluk agama lain secara hati-hati dan penuh cinta kasih dengan tetap menyatakan keyakinan dan kehidupannya sebagai orang Kristen demi memelihara dan meningkatkan kebaikan moral maupun spiritual yang terdapat pada agama- agama tersebut beserta nilai-nilai masyarakat dan budayanya.

Ujung-ujungnya nanti gagasan perubahan dari eksklusif menjadi Inklusif akan bermuara kepada sebuah gerakan yang namanya Pluralism.


Pluralism

Sebuah cara pandang bahwa semua agama-agama penting di dunia ini adalah sama-sama benar. Menuju ke jalan Tuhan. Tidak ada satu agama yang merasa lebih benar, lebih superior dari pada agama yang lain.

Contoh pandangan Pluralism & Relativism

Pluralism identik dengan Relativism.
Merelatifkan semua kebenaran.
Berikut ini tokoh-tokoh pluralism barat :

John Hick dengan pandangan Global Teology : “All religions are equally true and valid”.
Frithjof Schuon : “There are diverse religion , in reality ,it mean that all are right”.
Paul Feyerabend : “Anything goes.. “

Agama di seluruh dunia ini sama, mereka hanya beda namanya saja. Kalau ada perbedaan dalam ibadah itu hanya perbedaan dalam tataran kulit saja, tetapi di dalam inti yang paling dalam, agama itu sama.

Semua ujung-ujungnya menyembah ke satu Tuhan. Ibarat orang mau ke Jakarta ada yang lewat jalur pantura, ada yang lewat jalur selatan, ada yang lewat udara dan bahkan lewat laut.
Orang yang lewat Pantura tidak boleh menyalahkan orang yang lewat selatan. Yang lewat darat tidak boleh menyalahkan yang lewat laut. Ujungnya ketemu di Jakarta.

Kita semua dalam rangka mencari solusi, karena selama ini Gereja dianggap yang paling bertanggung jawab memakan korban dan menimbulkan banyak penderitaan karena cara pandang yang eksklusif tadi.

Prof Huston Smith mempunyai theori Transendentalisme bahwa semua agama ujung-ujungnya menuju kepada satu Tuhan. Perbedaan agama itu hanya pada tataran exoteric. Tapi kalau diteruskan dalam tataran Esoteric ,agama itu akhirnya sama.


Gerakan Pluralisme di Indonesia

Gerakan ini kemudian disambut oleh beberapa sarjana kita, diantaranya adalah Cak Nurcholis Madjid.
“Semua agama dalam inti yang paling mendalam adalah sama. Dalam bulan yang suci ini karena bersamaan ada perayaan Waisyak, Maulid Nabi Muhammad dan Kenaikan Isa Al Masih, kita semua harus menuju pada kedamaian”. (Fiqih Lintas Agama, hal 88)

Kemudian ada lagi Budhy Munawar yang dianggap penerusnya Cak Nur. Dia mengatakan “Kita tidak dapat mengatakan bahwa (agama) yang satu lebih baik dari yang lain”. (Buku Islam Pluralis)

Narasi-narasi seperti ini berarti sudah terjangkit virus Pluralisme. Berarti tidak sanggup menyalahkan agama lain.

Dalam bukunya yang lain “Tiga agama satu Tuhan “, Cak Nur mengatakan :
Sebagai sebuah pandangan keagamaan, pada dasarnya islam bersifat inklusif dan merentangkan tafsirannya ke arah yang semakin pluralis. Sebagai contoh, filsafat perennial yang belakangan banyak dibicarakan dalam dialog antar agama di Indonesia merentangkan pandangan pluralis dengan mengatakan bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai agama. Filsafat perennial juga membagi agama pada level esoteric (batin) dan eksoterik (lahir). Satu agama berbeda dengan yang lain dalam level eksoterik, tetapi relative sama dalam level esoteriknya. Oleh karena itu, ada istilah ‘Satu Tuhan Banyak Jalan’. “.(Nurcholis Madjid, Tiga Agama Satu Tuhan, Bandung, Mizan, 1999) xix

Narasi Cak Nur ini terinspirasi oleh theori Transendentalisme dari Prof Houston Smith.

Kemudian ada sebuah disertasi di UIN Jakarta yang juga mengatakan semua agama sama. Disertasi yang menjadi buku, ditulis oleh Abdul Moqsith Ghazali (2009) yang menjadi hukum pluralisme agama.

Ayat yang diklaim adalah Surat Al Baqarah ayat 62.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَا لَّذِيْنَ هَا دُوْا وَا لنَّصٰرٰى وَا لصّٰبِئِـيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَعَمِلَ صَا لِحًـا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 62)

Meskipun islam sudah datang agama-agama lain selain islam penganutnya tidak harus masuk islam untuk bisa selamat. Dia menafsirkan ayat Al Qur’an secara literal bahkan kemudian untuk menjustifikasi statementnya itu penulis disertasi kemudian mencatut dengan tidak utuh pernyataan Rosyid Ridha dalam tafsirnya Al Manar.

Rosyid Ridha dalam Al Manar menyatakan :
“Tidak ada kesangsian tentang tidak disyaratkannya beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Ini karena komunikasi Allah dengan setiap kelompok atau beragam umat beriman (selalu dengan menghadirkan) seorang Nabi dan wahyu yang khusus”.

Intinya, maksud dia mencatut pernyataan Rosyid Ridha itu meskipun islam sudah datang, penganut agama- agama lain itu tidak harus pindah agama ke islam untuk bisa selamat di akhirat kelak.

Padahal kalau dicek pernyataan Rasyid Ridla di Tafsir Al Manar secara utuh tidak demikian. Dia memanipulasi dalil berdasar asumsi awal yang diotaknya mengatakan semua agama sama. Kemudian dia berselancar mencari- cari, mana yang kira-kira bisa menguatkan asumsi itu. Kemudian dia pelintir ayat-ayat itu.


BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here