Dr.dr. Erlina Burhan Sp.P K

29 Ramadhan 1442 / 11 Mei 2021



Update Covid-19 di Indonesia

Memang terjadi sedikit peningkatan kasus positif dan kasus dirawat di Rumah Sakit pada minggu ke 4 April sampai sekarangpun dikatakan masih terjadi lonjakan sedikit.
Bahkan kemarin Menko Bidang Perekonomian Pak Airlangga mengatakan bahwa ribuan dari Pemudik yang diperiksa ternyata positif Covid. Ini bisa menjadi semacam alarm buat kita agar lebih berhati-hati lagi.

Memang terjadi penurunan sedikit sejak Februari tetapi ada gelombang yang naik di akhir April sampai Mei. Walaupun sedikit ,dikatakan mungkin sekitar 1% tapi kita tetap waspada.
Diduga kenaikan ini faktor utamanya adalah kelalaian protokol kesehatan di tempat umum sehingga terjadi klaster- klaster baru.

Kondisi ini tentu saja dikhawatirkan akan memburuk menjelang akhir bulan Ramadhan saat ini dan juga tradisi mudik yang ternyata masih bisa alasan mudik dengan berbagai cara. Kemudian juga euforia vaksin harus ditekan, karena vaksin saja tidak cukup namun tetap harus menjalankan Protokol Kesehatan.

Pencegahan saat ini yang kita lakukan melalui vaksin hanya salah satu usaha dari pencegahan yang masih harus kita lakukan.


Tujuan Vaksinasi Covid-19

1. Menurunkan kesakitan dan kematian akibat Covid-19
2. Mencapai kekebalan kelompok atau Herd Immunity untuk mencegah dan melindungi masyarakat secara menyeluruh
3. Melindungi dan memperkuat sistem kesehatan secara menyeluruh.
4. Menjaga produktivitas dan meminimalisasi dampak Sosial dan Ekonomi akibat Covid-19


Mengapa Herd Immunity Penting?

Karena dengan kita divaksin itu diri kita terlindungi dan juga kita melindungi orang lain. Kenapa herd Immunity melindungi orang lain? Karena bilamana dalam satu komunitas sebagian besar penduduknya punya kekebalan terhadap Covid, maka hal ini akan melindungi orang-orang yang rentan. Karena orang-orang yang kebal ini tentu saja diharapkan tidak terjangkit Covid sehingga tidak menularkan kepada kelompok rentan yang jumlahnya 30% seperti orang- orang tua, orang-orang yang punya kelemahan atau gangguan imunitas. Rentan untuk terinfeksi dan terkonfirmasi.

Pada saat ini kondisi di Indonesia herd Immunity ini masih jauh dari harapan, karena memang vaksinasi kita belum sampai di atas 10% masyarakat yang divaksin. Mungkin sekitar 18 jutaan yang sudah divaksin. Padahal untuk mencapai herd Immunity dalam perhitungan yang dibutuhkan 181 juta masyarakat Indonesia divaksin. Kita masih jauh dari kenyataan. Ini mengindikasikan bahwa penularan masih sangat rentan terjadi.
Kalau penularan terjadi, maka resikonya adalah akan memicu mutasi virus, karena mutasi terjadi karena penularan yang terus menerus.

Kalau virus masuk ke dalam tubuh kita maka dia akan berkembang biak dengan cara memperbanyak dirinya. Semakin dia banyak maka semakin luas kerusakan yang terjadi.
Virus ini memperbanyak diri dengan cara melakukan copy paste terhadap dirinya sendiri hingga terbentuklah virus-virus baru yang persis sama dengan virus yang pertama.

Bila hal ini terjadi terus-menerus, copy paste – copy paste terus menerus, maka suatu ketika akan terjadi kelemahan sistem sehingga copy pastenya salah. Virus yang terbentuk salah ini kemudian akan mengcopy paste dirinya juga. Penularan terus terjadi dan copy paste yang salah ini ujung- ujungnya akan menimbulkan suatu varian baru. Dan varian baru ini dikatakan akan berkembang biak terus maka potensi varian baru akan terus terjadi.


Perkembangan Vaksin Covid-19 di dunia.

Banyak sekali vaksin yang dalam uji klinis, bahkan ada ratusan yang masih diupayakan untuk dikembangkan. Namun saat ini baru 7 vaksin yang beredar di masyarakat.

1. Pfizer Biotech, sudah ada di masyarakat.
2. Moderna, sudah ada di masyarakat
3. Astra Zeneca, sudah ada di masyarakat
4. Novavax, menunggu approval
5. Johnson & Johnson menunggu approval
6. Sinovac Biotech, sudah ada di masyarakat sejak awal.
7. Gamaleya, dari India sudah ada di masyarakat
8. Cansino Biologics, sudah ada di masyarakat
9. Sinopharm, sudah ada di masyarakat

Dan memang saat ini sudah ratusan juta manusia di seluruh penjuru dunia yang sudah mendapatkan vaksin. Kecepatan vaksin di dunia sekitar 7 jutaan dosis yang disuntikkan setiap hari.

Karena penting sekali vaksinasi ini merupakan salah satu upaya pencegahan , saya menghimbau untuk mempersiapkan diri dan kendalikan komorbid yang ada. Karena kalau diri belum siap dan komorbid juga tidak dikendalikan, vaksinasi dapat ditunda.

Salah satu contohnya mempersiapkan diri, jangan sampai pada saat kita mendapatkan jadual, kita sedang demam. >= 37,5° C.
Akibatnya akan ditunda sampai sembuh dan terbukti tidak menderita Covid-19.

Orang-orang/ penderita dengan penyakit kronik harus dikendalikan penyakitnya sehingga pada saat penjadualan vaksinasi tidak dalam serangan. Karena kalau dalam serangan, vaksinasinya ditunda sampai kondisinya terkontrol dengan baik.


Penapisan/Skrining pada vaksinasi Covid-19

Tujuannya memang baik, bukan untuk mempersulit atau mengurangi jumlah sasaran vaksinasi. Tetapi memang agar memenuhi sasaran, memberikan manfaat yang lebih mengurangi efek samping dan meminimalkan resiko Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI) dan mengoptimalkan manfaat/ efektivitas vaksin.


Pelaksanaan Vaksinasi

Pelaksanaannya sekarang sebetulnya lebih flexibel. Kalau dulu ada 4-5 meja, sekarang hanya 1-2 meja.
Pada kelompok Lansia, sekarang sedang diutamakan. Dengan 2 dosis dengan jeda 28 hari.

Kelompok komorbit :
Diabetes tidak usah khawatir, dapat divaksinasi sepanjang tidak ada komplikasi akut.
Penyintas kanker juga tetap diberikan vaksin.

Hipertensi juga dapat divaksinasi , kecuali jika tekanan darahnya di atas 180/110. Ini memang demi kepentingan pasien. Kalau tensi di atas 180/110 kondisinya sudah keadaan tidak fit. Pasti pusing, nggak enak badan. Kalau nanti divaksin, salah satu KIPI dari vaksin ini adalah sakit kepala. Kalau tensinya tinggi di atas angka ini maka sakit kepalanya akan tambah berat.

Kepada penyintas juga jangan khawatir, itu dapat divaksinasi jika sudah lebih dari 3 bulan.
Ibu menyusui juga sekarang bisa diberikan vaksinasi. Sebelumnya ibu menyusui termasuk yang ditunda. Tetapi ternyata sekarang dapat diberikan vaksinasi.
Pos Pelayanan vaksinasi sekarang juga dilengkapi dengan Kit Anafilaksis , artinya kalau ada reaksi alergi yang berbahaya akan segera dapat diatasi.

Banyak sekali berita-berita setelah divaksin ada yang positif. Jangan sampai salah pengertian bahwa menjadi positif karena vaksin itu tidak mungkin karena vaksin yang berisi antigen itu tidak mungkin menyebabkan positif. Karena Vaksin Sinovac isinya adalah virus yang sudah mati. Atau kalau vaksin yang lainnya juga hanya bagian dari virus, atau bahkan ada yang RNA virus yang sintetis yang dibuat.

Juga perlu diingat bahwa setelah di vaksin yang pertama tidak sertamerta antibody terbentuk. Butuh waktu, biasanya setelah 10 hari mulai antibodynya terbentuk. Kemudian tidak segera tinggi, perlu waktu lagi.
Itulah sebabnya butuh suntikan yang kedua untuk membooster, membuat antibody makin tinggi kadarnya sehingga mencapai level yang optimal.

Perlu juga diketahui bahwa kalaupun antibody sudah optimal namun kalau virusnya sangat banyak yang masuk ke dalam tubuh, lama-lama antibody ini juga kewalahan. Kalau dianggap antibody adalah tentara dalam suatu negara, maka walaupun tentaranya banyak tapi kalau musuhnya lebih banyak kewalahan juga.

Memang dikatakan kalaupun terserang Covid setelah divaksin tetap saja ada manfaatnya karena biasanya gejalanya tidak terlalu berat.


Efek Simpang kalau divaksin

Kalau obat istilahnya efek Samping.
Kalau vaksin istilahnya efek Simpang atau KIPI. KIPI ini biasanya beragam, umumnya ringan dan sifatnya sementara. Bahkan tidak selalu ada, tergantung dari kondisi tubuh. Ada orang yang biasa-biasa saja.

Gejala yang terbanyak dialami adalah demam yang sangat ringan dan nyeri otot atau ruam-ruam, atau nyeri pada bekas suntikan itu dianggap wajar. Ada yang mengantuk ada yang lapar. Tapi ini wajar dan ringan sekali. Jangan sampai efek-efek ini membuat masyarakat takut untuk divaksin karena vaksinasi itu manfaatnya jauh lebih besar dibanding resiko kalau sakit terinfeksi Covid-19


Pilih Vaksin Yang Mana?

Kalau di atas tadi saya sebutkan beberapa jenis vaksin, kita ini milih vaksin yang mana? Di Indonesia baru ada dua jenis vaksin, yaitu Sinovac dan Astra Zeneca. Kalaupun ada 7 vaksin di Indonesia beredar sebaiknya tidak perlu memilih milih vaksin. Gunakan vaksin yang tersedia dan ada. Karena semua vaksin yang sudah beredar di masyarakat itu sudah melewati standar yang ditetapkan.

Kita tahu produksi vaksin ini juga sangat terbatas. Banyak negara berebut untuk membelinya. Yang menang biasanya adalah negara- negara kaya karena mereka bersedia membayar di awal.

Bisa diingat juga jangan menunda- nunda vaksinasi, karena kalau menunda-nunda kemungkinan terinfeksi akan selalu ada. Kalau memang dapat jadual silahkan segera divaksinasi.


Vaksinasi tidak bisa berdiri sendiri.

Tidak bisa hanya mengandalkan vaksin semata. Kalau untuk mempertahankan diri dari infeksi virus corona ini butuh pertahanan yang berlapis.

Gambaran pertahanan berlapis, pertahanan lapisan pertama ada lobangnya. Virusnya bisa masuk. Mungkin dilapisan kedua dia tertahan. Kalaupun bisa masuk, ditahan pertahanan yang ketiga dan seterusnya.

Jadi memang banyak sekali lapisan pertahanan :
– Menjaga jarak
– Di rumah saja
– Etika batuk
– Jangan keluar rumah
– Jangan menyentuh wajah
– Pakai masker
– Ventilasi di rumah dijaga,
– Segala kebijakan Pemerintah yang mensupport.
– Testing dan Tracing
– Vaksin adalah yang terakhir.
Diharapkan vaksin ini sebagai pemungkas kita agar terhindar dari virus ini.

Tapi ada juga masalah yaitu Distribusi vaksin terutama ke daerah-daerah perlu waktu signifikan. Oleh karena itu protokol kesehatan 5M dan menjaga imunitas masih sangat diperlukan untuk pencegahan.

Dari PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia) membuat himbauan :
Setelah vaksinasi tetap harus menjalankan Protokol 5M (Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari keramaian dan membatasi mobilisasi).
Karena data menunjukkan 0,7-0,8% orang yang sudah mendapatkan vaksin Covid yang dosis lengkap masih dapat terinfeksi Covid.

Resiko terinfeksi bisa terjadi karena :
1. Terinfeksi Covid beberapa hari sebelum vaksin (masa inkubasi)
2. Proteksi Vaksin tidak 100%, bervariasi untuk setiap vaksin.
3. Vaksin tidak bisa membentuk kekebalan terhadap semua strain.
4. Mutasi virus. Vaksin belum terbukti dapat memproteksi terhadap varian baru.
5. Imunitas yang terbentuk paska vaksin setiap orang berbeda -beda.


Belajar Dari India

Semua orang sudah tahu, di India kondisinya , situasinya sekarang sangat memprihatinkan. Di atas 400 ribu kasus perhari. Kematian perhari sekitar 3000-4000 orang meninggal perhari.

India dari Agustus 2020 sampai November 2020 grafiknya sangat turun. Melandai sehingga masyarakat lengah. Pemerintah juga lengah sehingga bulan Februari 2021 naik sangat drastis dan sampai sekarang belum terkendali.

Ini terjadi diakibatkan ada beberapa “Superspreader Events” yang menjadi sarana penularan yang sangat super.

– Festival Kumbh Mela, ini festival keagamaan yang ditunggu-tunggu tahun ini karena hanya terjadi sekali dalam 12 tahun. Kegiatan keagamaan di Sungai Gangga dan tidak ada satupun yang memakai masker.
– Mereka menyelenggarakan kegiatan Kriket Internasional yang penontonnya sangat ramai tanpa masker.
– Kebetulan di India bulan-bulan lalu adalah bulan kampanye politik. Ada Pilkada disitu dan tentu saja untuk India yang penduduknya 1,4 Milyard kalau kampanye mestinya ramai sekali.
– Juga ada kerumunan di Pusat-pusat kegiatan masyarakat seperti di Mall, di Kereta api, di tempat hiburan dan lain-lain.

Kemarin saya berbincang-bincang dengan teman dari India, dia mengatakan bahkan di India, dalam satu rumah minimal ada 2 orang yang positif. Bayangkan, itu situasi yang luar biasa dan sistem kesehatannya sekarang collapse. Pasien terus berdatangan. Di satu tempat tidur sudah dipakai dua pasien. Bahkan kadang-kadang oksigen tidak tersedia. Ini tidak mungkin dilakukan di Indonesia, satu tempat tidur untuk dua pasien. Selama ini tidak ada. Jangan sampai kejadian di kita.
Orang yang meninggal sangat banyak bahkan untuk dikremasi mereka antri.


Jangan Lengah

Kenaikan Covid-19 tidak hanya terjadi di India.
Singapore, selama 9 bulan terakhir bulan ini adalah kasus yang tertinggi.
Kamboja, juga mencapai rekor tertinggi pada bulan ini.
Filipina, mereka memperpanjang masa lock down karena kasus juga meningkat.
Malaysia, masyarakat dan Pemerintahnya sudah panik berteriak- teriak kasus meningkat lagi di Malaysia.
India, kremasinya penuh.
Jepang juga kasus naik.
Hong Kong, banyak ditemukan virus Covid-19 bermutasi.


Mutasi SARS Cov-2

Mutasi itu artinya virusnya berubah. Virus-virus tadi kalau terjadi penularan terus menerus, kalau virus ini masuk ke tubuh manusia maka dia akan segera memperbanyak dirinya dengan melakukan copy paste – copy paste dirinya supaya jumlahnya banyak untuk membuat kerusakan lebih banyak lagi.

Terkadang copy paste ini mengalami kesalahan sehingga terbentuklah virus baru atau varian baru. Dalam waktu lebih dari satu tahun dikatakan bahwa
mutasi ini sudah terjadi 40 ribuan lebih varian baru.

Varian baru ini ada yang membuat virus baru menjadi lemah, tidak berbahaya – itu bagus. Tetapi ada juga beberapa varian berdampak pada manusia.

Saya ingatkan kembali bahwa mutasi pada virus adalah kejadian normal. Memang secara alamiah virus ini akan terus bermutasi, berubah susunan genetik sehingga terjadi variasi baru. Varian baru yang menjadi perhatian adalah kalau varian itu masuk ke kelompok Variants of Concern.

Variants of Concern adalah varian baru yang beresiko terhadap manusia. Baik resiko Transmisi atau penyebarannya lebih mudah atau resiko bahwa virus ini punya virulensi yang lebih kuat.
Virulensi ini adalah keganasan yang lebih ganas dan Virus dapat menurunkan efektivitas vaksin. Maka kalau ada salah satu dari tiga kondisi ini dipunyai oleh sifat varian baru, maka varian baru yang terbentuk masuk ke dalam Variants of Concern.


Variants Of Concern

Varian baru B.1.1.7 yang ditemukan di Inggris. Karena sudah terbukti meningkatkan penularannya , mampu menular ke lebih banyak orang dengan tingkat yang lebih tinggi.

Varian baru B.1. 351 yang ditemukan di Afrika Selatan. Dan ini punya dua keistimewaan yang membahayakan kita, yaitu selain mampu menular dengan lebih cepat juga punya suatu sifat yang bisa menurunkan efektivitas vaksin.

Varian baru P.1 di temukan pertama kali di Brazil, juga sama dengan B.1. 351 selain mudah menular, dia juga menurunkan efektivitas dari vaksin.

Varian baru VOC B.1.1.7 sudah terdeteksi di Indonesia pada Maret 2021.


Varian Baru Covid-19 di India

Variannya disebut B.1.617.
Awalnya dulu di Inggris, tapi kemudian di India dia membentuk varian baru lagi, karena memiliki dua mutasi. Biasanya varian lain mutasinya hanya satu titik. Tapi B.1.617 ini ada dua titik mutasi. Jadi dapat dikatakan akan lebih berpengaruh kepada kita.
Diduga varian dengan dua mutasi ini menjadi penyebab terjadinya pelonjakan kasus di India. Namun belum bisa dikonfirmasi.

Apakah varian B.1.617 ini lebih menular?

Ada data membuktikan memang meningkatkan penularan, tetapi data ini belum cukup untuk dianggap ini sebagai salah satu dampak.

Ternyata kemudian varian ini juga berkembang, mutasinya menjadi tiga varian turunan bernama B.1.617.1 , B.1.617.2 dan B.1.617.3 yang kemudian masuk dalam kelompok B.1.618.

Apakah varian baru dari India ini membuat vaksin kurang efektif? Dikatakan mempunyai kemampuan untuk menghindari sistem imun dan dengan demikian juga menurunkan efektivitas dari vaksin. Namun datanya belum lengkap karena di India yang divaksin baru 200 juta penduduknya, tapi itu masih sedikit dibandingkan dengan populasinya yang 1,4 Milyard.


Belajar Dari Luar Negeri

India

Kalau bicara India yang kita pelajari adalah :
– Jangan lengah.
– Jangan longgar dengan protokol kesehatan karena bisa terjadi seperti di India saat ini dimana orang berkumpul sangat banyak.

Arab Saudi

Tidak ada peningkatan yang signifikan karena dari awal mereka sudah membatasi yang umrah, membatasi yang Haji sehingga lumayan stabil kondisinya.

China

Waktu 2020 mereka melarang perayaan tahun baru. Padahal biasanya tahun baru dirayakan sangat meriah. Dari seluruh dunia orang datang ke China. Orang-orang mudik pulang kampung untuk merayakan tahun baru. Tahun 2020 ditiadakan. Kemudian tahun 2021 ada tapi diadakan pembatasan jumlah orang.

Jadi kita belajarlah dari India, dari Arab Saudi, dan dari China terutama karena kita menghadapi acara keagamaan terbesar yaitu Iedhul Fithri.
Mari kita bersama-sama membatasi diri tidak berkumpul-kumpul. Sedapat mungkin melakukan kegiatan keagamaan di rumah saja. Kalaupun terpaksa bersama-sama jalankan protokol kesehatan yang ketat.


Success Stories

Vietnam.

Kenapa mereka grafiknya sudah turun sekali dan tetap menurun sampai saat ini. Mereka melakukan Testing dan Contact Tracing yang sangat massive. Kalau ada pasien yang positif, pasien di karantina. Kontaknya juga di karantina walaupun kontaknya negatif. Kalau mereka menemukan kasus di masyarakat, langsung lock down di komunitas itu. Travel dihentikan. Berkumpul-kumpul juga dilarang. Bahkan sebelum kasus pertama dideteksi mereka sudah membatasi perjalanan, membatasi perkumpulan.

Luar biasa Vietnam ini.
Berbeda dengan kita. Kita cenderung denial, menganggap remeh pada waktu awal. Di Vietnam sebelum ada kasus mereka sudah melakukan pembatasan- pembatasan. Penduduknya taat dengan protokol kesehatan. Dan hal yang juga menarik adalah mereka melakukan komunikasi yang efektif, membangun narasi yang konsisten, selaras dan serius kepada masyarakat.
Kita bandingkan dengan di Indonesia. Apakah komunikasi di Indonesia ini konsisten dan selaras ?

Australia

Kita lihat kasus di Australia di grafiknya landai, datar saja sejak November 2020 sampai Mei 2021 tidak ada peningkatan. Karena Australia bertindak cepat. Sejak Maret tahun lalu sudah menutup perbatasan, menjalankan sistem isolasi mandiri di rumah masing-masing, cepat membuat sistem Testing dan Tracing sehingga ekonominyapun lebih cepat pulih.

Sama dengan Vietnam, mereka melakukan komunikasi efektif kepada masyarakat dengan narasi yang dibangun jelas dan konsisten. Karena mereka ingin menghentikan Pandemi.
Satu hal lagi di Australia ada dua partai politik yang sangat berlawanan dan bersaing berat. Namun pada saat Pandemi mereka bersatu padu dalam melawan Pandemi.
Mereka juga sangat piawai dalam menentukan kebutuhan dari kelompok komunitas. Karena disana ada populasi lansia, produk asing dan sebagainya , mereka cepat mengatasi kebutuhan-kebutuhannya.

New Zealand

Sama dengan Australia, grafiknya mereka juga landai sejak Agustus 2020. Ada kenaikan di bulan Maret 2020 naik sekali langsung mereka bertindak cepat. Terjadi penurunan yang sangat drastis sejak April 2020 sampai saat ini Mei 2021. Satu tahun mereka landai. Karena mereka juga bertindak cepat menutup perbatasan, menutup negaranya enggak boleh ada orang masuk, lock down secara nasional. Melakukan Testing dan Tracing dengan intensif dengan 10 ribu test perhari, padahal penduduknya sedikit. Mereka juga taat pada protokol kesehatan dan komunikasi yang efektif kepada masyarakat dengan narasi yang konsisten. Aparat keamanan menindak pelanggaran Prokes.


Update Varian Baru di Indonesia

Kita ada varian baru B.1.1.7, B.1.351 dan B.1.617. Ternyata tiga varian baru sudah ada di Indonesia.
Sampai saat ini sudah ada 16 kasus varian baru di Indonesia.
– 2 kasus B.1.617 asal India ada di Jakarta.
– 1 kasus B.1.351 asal Afrika ada di Bali dan bahkan sudah meninggal dunia.
– 13 kasus B.1.1.7 asal Inggris ada di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Bali.


Apakah vaksin yang saat ini ada masih bisa menangani varian baru?

Dikatakan Pfizer ampuh menangani varian baru B.1.1.7 penelitian di Israel. Namun sebenarnya seluruh vaksin itu masih efektif menangani varian-varian baru , walau tidak seefektif varian lama. Jadi memang terjadi penurunan efektivitas tetapi tidak signifikan.

Kasus Covid-19 di Indonesia naik lagi, ini berita. Apakah akan menjadi awal gelombang kedua? Mudah-mudahan tidak, tapi kita tetap waspada.

Dari Kemenkes mencatat ada sejumlah indikasi lonjakan kasus dalam satu pekan terakhir.
Kasus harian meningkat, sekarang sudah kembali 6000. Sebelumnya 4000 an. Orang dirawat juga meningkat 1,2% . Kematian juga meningkat dari sebelumnya hingga 20%. Mobilitas manusia Indonesia juga meningkat.

Kami dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menghimbau masyarakat untuk

1. Tetap melaksanakan 5M
2. Menjalani vaksinasi
3. Tetap menjalankan Protokol Kesehatan walaupun sudah divaksin
4. Melakukan silaturahim Iedhul Fithri secara virtual
5. Taat kepada larangan mudik
6. Setiap individu masyarakat mengambil peran pencegahan dan saling mengingatkan untuk mengatasi Pandemi
7. Tetap waspada akan adanya potensi Covid-19 gelombang kedua di Indonesia

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here