Dr. Zuhad Masduki MA

23 Ramadhan 1442 / 5 Mei 2021



Buruk sangka atau Su’udzon kepada Allah karena dia tidak tahu. Ada beberapa ayat yang mengabadikan ucapan orang-orang yang salah. Yang berburuk sangka kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian sikap-sikap mereka yang keliru diluruskan oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَاِ نْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۚ وَاِ نْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِكَ ۗ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ فَمَا لِ ھٰٓ ؤُلَآ ءِ الْقَوْمِ لَا يَكَا دُوْنَ يَفْقَهُوْنَ حَدِيْثًا

“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, “Ini dari sisi Allah,” dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan, “Ini dari engkau (Muhammad).” Katakanlah, “Semuanya dari sisi Allah.” Maka mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan ?” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 78)

Ada orang-orang yang kalau ditimpa kebaikan, mereka berkata : “Ini dari Allah”, karena menganggap adanya kedekatan mereka dengan Allah.
Sebaliknya kalau mereka mendapatkan keburukan seperti sakit, terluka, kehilangan harta benda, gagal panen dan lain-lain yang disalahkan Nabi Muhammad karena mereka mengikuti ajaran Nabi Muhammad.

Allah menjawab. “qul kullum min ‘ingdillaah” (Semuanya dari sisi Allah).
Dalam tafsir Al Munir karya Wahbah Zuhaily :
Semua yang baik maupun buruk dari Allah berdasarkan Qadla dan Qadarnya yang berlaku untuk orang baik maupun buruk, mukmin maupun kafir.
Qadla dan Qadar berjalan sesuai hukum Sunatullah yang berpijak pada Hukum Sebab dan Akibat.
Allah itu pencipta segala sesuatu dan Allah yang meletakkan sistem dan sunah-sunah yang berjalan di alam semesta. Untuk sampai kesana manusia harus berusaha sesuai Hukum-hukum Sunatullah.

Yang menetapkan sifat-sifat baik buruknya segala sesuatu adalah Allah SWT. Tetapi yang berinteraksi dengan sesuatu itu adalah manusia. Maka kalau manusia benar cara berinteraksinya dia akan memperoleh kebaikan. Sebaliknya kalau dia keliru dalam berinteraksi maka dia akan memperoleh keburukan.

Dalam ayat selanjutnya Allah SWT berfirman:

مَاۤ اَصَا بَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَاۤ اَصَا بَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّـفْسِكَ ۗ وَاَ رْسَلْنٰكَ لِلنَّا سِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِا للّٰهِ شَهِيْدًا

“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari kesalahan dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 79)

Keburukan yang menimpamu karena kamu tidak melaksanakan cara berinteraksi yang benar dengan sunatullah tadi.

Peletak sistem adalah Allah, tetapi yang menggunakan adalah manusia. Maka Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Sistem tadi dalam bahasa agama adalah Qadla dan Qadar. Ini menjadi Rukun iman yang ke enam.

Rukun iman : ” Amantu Billahi wa malaikatihi wa Kutubihi wa Rusulihi wal yaumil akhiri wabil qadri khairihi wasyarrihi “.
Yang terakhir adalah iman kepada Qadla dan Qadar yang baik maupun buruk. Keburukan bukan karena ditimpakan langsung oleh Allah SWT melainkan karena berjalannya sistem akibat ulah manusia yang melawan sistem.

Orang-orang munafik yang berburuk sangka kepada Allah diluruskan pandangannya dalam ayat 78 di atas.
Boleh jadi sekarang juga banyak orang yang buruk sangka kepada Allah, walaupun dia tidak menyadari.
Nabi Muhammad pun terkena hukum sebab akibat. Apalagi kita karena hukum sebab akibat berlaku untuk siapa saja tidak pandang bulu.

Contoh di zaman Nabi Muhammad SAW dalam Perang Uhud, umat Islam kalah. Awalnya sudah menang tapi akhirnya kalah karena ada pasukan pemanah yang tidak mengikuti instruksi Nabi. Mereka diinstruksi untuk tetap menjaga posisinya dalam keadaan apapun. Tetapi ketika merasa sudah mau menang di separo pertama , mereka turun dari posisinya ikut berebut harta rampasan perang.
Pasukan islam yang sudah tidak siap ini diserang balik oleh Pasukan Kafir Mekkah sehingga porak poranda.

Kekalahan itu bukan semata-mata ditimpakan oleh Allah kepada mereka, tetapi justeru karena kesalahan mereka sendiri. Karena mereka melawan sunatullah. Kalau mau menang perang, maka sunatullah perang harus dipakai, kalau tidak dipakai akan mengalami kekalahan.

Ini artinya kalau ditafsirkan untuk perjalanan sejarah umat Islam yang sangat panjang dari masa Nabi sampai masa kita, umat Islam juga mengalami keadaan silih berganti. Suatu saat sukses dalam bidang ekonomi, politik, sosial karena mereka menerapkan hukum Sunatullah itu dengan baik. Tapi pada sisi yang lain, suatu masa umat Islam mengalami kekalahan dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan lain-lain karena mereka mengabaikan hukum Sunatullah tadi.

Seperti masa-masa kita sekarang juga begitu, karena mereka melakukan kesalahan menggunakan hukum Sunatullah. Allah menciptakan sistemnya, pengguna sistem adalah manusia. Oleh karena itu ketika kita dalam situasi kondisi yang tidak bagus maka kita tidak boleh su’udzon kepada Allah SWT. Kita harus melakukan muhasabah (introspeksi dan koreksi diri).

Kalau sekedar introspeksi mungkin lebih mudah. Yang paling sulit adalah koreksi diri. Karena kalau dikoreksi oleh orang lain biasanya sulit. Orang biasanya emosi dan marah ketika dikoreksi oleh orang lain.
Ini yang perlu kita lakukan : Evaluasi, Introspeksi, Koreksi diri menyangkut kondisi kita dalam semua bidang kehidupan politik, sosial, ekonomi dan lain-lain.

Penegasan terhadap Tafsir ini dikuatkan oleh Surat Al Baqarah 126 disitu kita melihat do’a Nabi Ibrahim tentang kota Mekkah :


وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّا رْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ قَا لَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُ مَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗۤ اِلٰى عَذَا بِ النَّا رِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ‏

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri Mekah ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,” Dia (Allah) berfirman, “Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 126)

Yang didoakan oleh Nabi Ibrahim hanya yang beriman kepada Allah dan Hari akhir. Tetapi jawaban Allah : Di dunia , orang-orang kafir punya hak yang sama dengan yang mukmin, berkaitan dengan kehidupan di dunia dan pemanfaatan fasilitas duniawi.

Disini berlaku sunatullah. Kalau si Kafir mau menggunakan hukum sunatullah dia juga akan hidup baik-baik di dunia. Dia mungkin bisa leading dalam Politik, ekonomi, sosial, kebudayaan.
Ada pilihan-pilihan di dunia. Mau sukses bisa, mau gagal bisa. Untuk siapa saja, yang mukmin ataupun kafir.
Tapi kalau di akhirat tidak ada pilihan. Di akhirat hukumnya sudah rigid : Mukmin ke Surga, Kafir ke Neraka.

Hukum Sunatullah dasarnya adalah hukum sebab akibat. Rinciannya ada di dalam Al Qur’an, antara lain ada dalam Surat Al Lail ayat 5-10

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاَ مَّا مَنْ اَعْطٰى وَا تَّقٰى (5) وَصَدَّقَ بِا لْحُسْنٰى (6)
فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰى (7) وَاَ مَّا مَنْۢ بَخِلَ وَا سْتَغْنٰى (8) وَكَذَّبَ بِا لْحُسْنٰى (9) فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰى (10) 

“Maka barang siapa memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan.
Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan pahala yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran.” (QS. Al-Lail 92: Ayat 5-10)

Ayat ini tegas sekali. Kalau orang ingin dimudahkan oleh Allah memperoleh kemudahan dalam aspek kehidupan maka syaratnya tiga : “a’thoo wattaqoo wa shoddaqo bil-husnaa”. Sebaliknya kalau orang ingin dimudahkan memperoleh kesulitan maka syaratnya tiga juga : “bakhila wastaghnaa wa kazzaba bil-husnaa”.

Allah mengabadikan sikap-sikap orang yang keliru, suudzon pada Allah di dalam Surat Al Fajr ayat 15-16 :

فَاَ مَّا الْاِ نْسَا نُ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ رَبُّهٗ فَاَ كْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗ ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَكْرَمَنِ (15) وَاَ مَّاۤ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ  ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَهَا نَنِ (16)

“Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.”” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 15-16)

Jabatan, fasilitas kenikmatan duniawi bukan indikator bahwa orang itu dekat kepada Allah SWT karena itu bisa didapat melalui hukum sebab akibat. Berlaku sama untuk orang mukmin maupun orang kafir.

Orang menjadi Pejabat itu mengikuti hukum Sunatullah. Apalagi di zaman Demokrasi, terlihat jelas bahwa orang mau jadi Pejabat publik asal punya banyak uang bisa membeli suara pemilih, dia bisa memenangkan kontestasi. Sekarang gampang, walaupun cara ini salah dan tidak dipuji oleh agama.

Sebaliknya jika rezekinya berkurang, usahanya bangkrut dia menjadi miskin bukan karena Tuhan menghinakan yang bersangkutan, ini karena ulah dia sendiri yang tidak bisa memprediksi perkembangan yang akan terjadi di depan sehingga usahanya bangkrut.

Misal karena Covid banyak orang usahanya menjadi bangkrut. Sebaliknya ada orang yang dengan Covid usahanya justru jaya. Misalnya dengan jual beli online.

Kekayaan, jabatan, kemiskinan itu semua ujian. Nilai ujiannya adalah bagaimana manusia menyikapi peristiwa itu tadi.
Orang kaya, nilai ujiannya adalah bagaimana kekayaannya dipergunakan oleh yang bersangkutan.
Orang punya jabatan , nilai ujiannya adalah bagaimana jabatannya dipegang secara amanah.

Sikap-sikap yang tidak benar ini harus kita jauhi. Termasuk bagian dari su’udzon kepada Allah SWT. Su’udzon ini dampaknya luas. Dalam bidang sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan lain sebagainya.

Di Surat Al Fajr ayat 15-16 Allah menggunakan bahasa “ibtalaa” yang artinya menguji. Dan ini lebih tegas lagi disampaikan oleh Allah di Surat Al Baqarah 155 , bahwa kita hidup ini memang untuk diuji :

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ 

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah- buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155)

Rasa takut bisa dalam bidang macam-macam, politik, ekonomi, akidah, sosial dan sebagainya.

Buah-buahan bisa kekurangan buah dalam arti buah sebenarnya karena gagal panen, atau buah dalam arti harapan dari apa yang kita usahakan. Kita sudah beraktivitas, tetapi buah dari aktivitas itu hancur karena ada kendala-kendala. Cita-cita yang ingin kita tuju sudah kita upayakan dan hampir terlaksana, tiba-tiba ada musibah. Sehingga cita-cita tidak berhasil kita raih.

Allah disini menggunakan kata ganti Kami, yang menurut rumus Tafsir Modern, Kami yang disandarkan kepada Allah artinya dalam realisasinya melibatkan pihak lain selain Allah SWT. Yang terlibat manusia itu sendiri. Sehingga ujian itu terlaksana karena kerjasama antara Allah dengan manusia. Allah yang menetapkan sistemnya, manusia penggunanya.

Maka kalau dia menggunakannya benar, hasil ujiannya bagus. Kalau menggunakannya keliru hasil ujiannya menjadi buruk. Maka kalau kita kena keburukan, ucapan yang harus kita katakan adalah :
“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”
Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepadaNya.
Karena kita milik Allah maka harus mengikuti tuntunan Allah. Kalau kita keluar dari tuntunan, kita mesti kena musibah.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un adalah salah satu bentuk introspeksi diri supaya kita berjalan lagi pada garis yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Bukan sekedar kalimat Tarji’ saja, tapi ada filosofy yang sangat tinggi.
Ibaratnya kita tiap hari menggunakan mobil produk Jepang, harus diisi minyak. Kalau tidak akan macet. Tak bisa diisi air karena tak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Pabrik.

Sebagai contoh kongkrit kita bisa belajar dari kasus Umar bin Khattab.
Ketika beliau menjadi Khalifah pernah membuat rencana ke Palestina. Tetapi saat mau kunjungan, di Palestina terjadi wabah penyakit sehingga Umar mengalihkan kunjungannya ke tempat lain.

Terjadilah perdebatan antara Umar dengan sahabat yang lain.
“Apakah Anda hendak melarikan diri dari ketetapan Allah?” kata seorang sahabat. ”Ya, kita melarikan diri dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain,” jawab Umar.

Maksudnya kalau dia tetap berkunjung ke Palestina , karena disana ada wabah boleh jadi dia terjangkit wabah dan mati. Mati karena wabah itu takdir.
Dia pergi ke tempat lain dan selamat. Selamat itu juga takdir karena disana tidak ada wabah, sehingga dia aman dan tetap hidup. Artinya segala sesuatu karena Hukum sebab akibat.

Kalau ucapan Umar bin Khattab itu kita bikin identifikasi, maka :
– Kita sukses itu takdir
– Kita gagal itu takdir
– Kita kaya juga takdir
– Kita miskin juga takdir
– Kita sehat itu takdir
– Kita sakit itu takdir
Tidak ada yang keluar dari takdir, semua atas Qadla dan Qadar Allah SWT.

Imam Ghozali membuat tiga rincian : Qadla, Qadar dan Ikhtiar.
Qadla itu sistemnya
Qadar atau Takdir itu implementasinya
Ikhtiar itu memilih dari aneka macam sistem yang ditetapkan oleh Allah. Kalau kita sudah memilih lalu ditetapkan menjadi Takdir.
Takdir itu ditulisnya diakhir, bukan diawal. Ini juga ditegaskan oleh Nabi dalam salah satu sabdanya.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Artinya:

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kamu berlaku jujur karena kejujuran menuntunmu pada kebenaran, dan kebenaran menuntunmu ke surga. Dan senantiasa seseorang berlaku jujur dan selalu jujur sehingga dia tercatat di sisi Allah SWT sebagai orang yang jujur. Dan hindarilah olehmu berlaku dusta karena kedustaan menuntunmu pada kejahatan, dan kejahatan menuntunmu ke neraka. Dan seseorang senantiasa berlaku dusta dan selalu dusta sehingga dia tercatat di sisi Allah SWT sebagai pendusta.” (H.R. Muslim)

Predikat yang didapat oleh seseorang sebagai orang jujur maupun pendusta diawali dengan tindakan. Kita melakukan kejujuran selama periode tertentu maka predikatnya jujur.
Kita melakukan kebohongan selama beberapa kurun waktu maka predikatnya sebagai pembohong.

Supaya kita terhindar dari su’udzon kepada Allah SWT maka hukum ini betul-betul harus kita fahami dengan sebaik-baiknya. Rukun Iman yang ke enam Qadla Qadar dan Ikhtiar harus kita fahami dengan sebaiknya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here