H.M Arief Rahman Lc MA

28 Ramadhan 1442 / 10 Mei 2021



Kisah Fudhail bin Iyadh banyak sekali yang dapat kita ambil hikmahnya. Banyak ulama atau orang besar yang memang dari keturunan orang besar dan masa kecilnya memang sudah dikader, mendapatkan pendidikan yang baik dan disiapkan untuk menjadi orang besar. Tetapi kisah Fudhail bin Iyadh cukup unik karena dalam sirrahnya pasti disebutkan tentang taubatnya. Artinya ada fase dalam kehidupan Fudhail bin Iyadh ini yang memang bukan perjalanan yang indah. Perjalanan yang memang disiapkan untuk menjadi seorang alim.

Nama lengkapnya adalah Fudhail bin Iyadh bin Mas’uud bin Bisyr At-Tamimi Al-Yarbuu’i al Khurasani. Dari nama yang belakang , al Khurasani menunjukkan bahwa beliau bukan orang Arab. Beliau adalah orang Khurasan, termasuk daerah Persia lama. Daerah Persia Timur diantaranya masuk Afghanistan, Iran, Tajekistan, Usbekistan, Turkmenistan.

Beliau lahir di Samarkand tahun 107 Hijriyah. Kalau dari lahirnya tahun 107 H masuk periode Tabi’in. Tetapi karena beliau tidak bertemu dengan Sahabat, banyak yang memasukkan periode Tabi’ut Tabi’in. Beliau meninggal di Mekkah tahun 187 Hijriyah dan dimakamkan di Pemakaman Ma’la di Mekkah. Dimana disana juga ada makam isteri Rasulullah SAW, Siti Khadijah r.anha.

Beliau hidup kurang lebih 80 tahun hijriyah dengan perjalanan hidup yang bisa kita ambil pelajarannya.
Beliau mendapatkan julukan Al- Abidul Haramain , ahli ibadah di dua Tanah Haram. Sampai ada sebuah puisi menarik yang ditujukan kepada beliau.

Fudhail bin Iyadh termasuk ulama ahli hadits. Dalam perjalanannya sebagai ulama Hadits sampai-sampai seorang Imam Adz Dzahabi seorang ulama kritikus atau komentator yang banyak mengomentari Para Perawi menyebutnya sebagai Syaikhul Islam, karena derajat beliau , karena saking alimnya dan banyak murid yang mengambil hadits dari Fudhail bin Iyadh.

Kemarin agak ramai tentang sejarah Indonesia , karena ada beberapa nama ulama yang tidak tercantum dalam sejarah, dan sebaliknya malah menulis orang yang tidak ada kontribusi untuk Indonesia. Sebenarnya para ulama menulis biografi tokoh dengan baik. Dan ini dari ilmu hadits. Karena ilmu hadits sangat bersandar pada sanad, orang-orang yang membawa hadits tersebut. Maka para ulama menulis siapa saja yang berperan membawa hadits itu. Dari namanya, gurunya dan muridnya. Beserta riwayat perjalanannya sehingga diketahui Si A ketemu dengan Si B dan seterusnya.

Ada beberapa komentar para ulama terkait dengan beliau :
Ibnu Uyainah mengatakan :
“Tsiqoh dan tangannya banyak dicium”.
Imam Al Anshari mengatakan : “Tsiqoh, dapat dipercaya, orang yang sholeh”.
Bahkan Ibnul Mubarok muridnya mengatakan : “Tidak tersisa dimuka bumi menurutku orang yang lebih baik daripada Fudhail bin Iyadh”.
Ibnu Hajar Al-asqolani yang mensyarah hadits imam Al Bukhori mengatakan :
“Tsiqoh, al abid, imam”.

Guru-guru Fudhail bin Iyadh banyak dari ulama Hijaz. Diantaranya adalah Al A’masy, Sufyan ats-Tsauri, Ja’far Ash-Shadiq dan lain-lainnya.
Murid-muridnya juga banyak, diantaranya Sufyan ats-Tsauri (guru dan sekaligus muridnya), Ibnu Uyainah, Imam Syafi’i, Ibnul Mubarok, Yahya al-Qaththan dan lain sebagainya.
Kalau dalam kitab rijalul hadits akan dibahas gurunya siapa saja, muridnya siapa saja dibahas secara sangat detail. Disini sekilas saja.


1. Taubatnya Fudhail bin Iyadh

Fudhail bin Iyadh mempunyai masa kelam dalam hidupnya. Bahkan di dalam sejarah dikatakan dia pernah menjadi perampok yang ditakuti. Kalau perampok biasanya rombongan, Fudhail bin Iyadh ini beroperasi sendiri tanpa rombongan.

Kemudian dia taubat dan setelah itu hijrah dari Samarkand ke Mekkah untuk belajar. Setelah sampai pada puncaknya kemudian dia mengajar. Dan mencapai puncak kemasyhurannya.

Menariknya, orang yang terpilih dalam masa jahiliyah, nanti akan terpilih juga ketika telah masuk islam, nanti akan punya banyak potensi juga, sama dengan sahabat Khalid bin Walid. Awalnya panglima kaum kafir setelah bertaubat dan masuk islam menjadi Panglima Kaum Muslimin.

Dalam buku Siyar A’lam an-Nubala’
menceritakan kisah Taubatnya Fudhail bin Iyadh. Dia seorang perampok yang pada suatu ketika terpikat dengan seorang wanita. Ketika ingin bertemu dengan wanita tersebut dia harus memanjat tembok.

Ketika memanjat tembok dia mendengar wanita pemilik rumah tersebut sedang membaca Al Qur’an. Diantara yang didengar oleh Fudhail bin Iyadh adalah Firman dalam Surat Al Hadid ayat 16

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah -, …” (QS. Al-Hadid: 16)

Mendengar ayat tersebut Fudhail tersentak kaget, ada sesuatu yang masuk dalam dirinya sampai dia berkata : “Benar wahai Tuhanku, aku tunduk dengan hatiku karena mengingat padaMu”.

Kemudian dia turun dari tembok dan kembali untuk istirahat di sebuah bangunan tua. Tidak jadi ketemu dengan perempuan tadi.

Ada kafilah yang mau melewati sebuah jalan di dekat tempat Fudhail bin Iyadh istirahat. Pada waktu istirahat, dia mendengar percakapan anggota kafilah :
“Kita mau jalan terus, atau kita istirahat disini ? Karena di depan kita ini kita akan melewati sebuah jalan yang biasanya dihadang oleh perampok yang bernama Fudhail bin Iyadh”.

Kafilah itu berhati-hati dan membuat perhitungan. Ketika Fudhail bin Iyadh mendengar maka dia berfikir : “Malam ini aku ingin berbuat kemaksiatan dengan perempuan. Tetapi orang lain berfikir aku akan merampok mereka?”.
Dia tidak mengira bahwa orang-orang sampai setakut itu terhadap gangguan darinya.

Dia merasa betapa dirinya ini memberi mudharat dan bahaya bagi orang lain.
Dia berfikir apakah kejadian ini adalah karena Allah menggiringku untuk bertemu dengan kafilah ?

Fudhail pun berkata, “Wahai kafilah, akulah Fudhail, lewatlah kalian. Demi Allah, aku berjanji tidak lagi bermaksiat kepada Allah selama-lamanya.”
Sejak saat itu Fudhail bertaubat meninggalkan dunia hitam yang telah ia geluti itu.

Dari kejadian ini kita bisa melihat bahwa orang yang melakukan tindak kejahatan sebesar apapun, kalau mendapatkan hidayah Allah SWT, maka tidak ada yang bisa menghalangi.

Itulah pentingnya kita banyak berdo’a untuk diri kita dan untuk orang lain. Seberapa buruknya orang tersebut masih mempunyai potensi untuk mendapatkan hidayah Allah SWT.


2. Fudhail bin Iyadh dengan seorang Yahudi

Dalam kitab Hilyah Al-Awliya dikatakan seorang Yahudi ingin menguji taubatnya Fudhail bin Iyadh.

Suatu saat setelah Fudhail bin Iyadh bertobat, ia mendatangi teman- temannya yang sekaligus anak buahnya tersebut. Kedatangan Fudhail bin Iyadh ini memiliki maksud untuk menghapuskan janji-janji yang telah disepakatinya dahulu, yakni menyangkut perkerjaannya dalam hal rampok.

Seluruh anak buah Fudhail bin Iyadh menyetujui penghapusan tersebut, kecuali satu. Ia merupakan seorang perampok Yahudi yang berasal dari Abiward.

Orang Yahudi itu berkata :
“Wahai Fudhail, baiklah, aku bersedia menghapuskan janji setia di antara kita. Namun ada syaratnya. Kamu harus meratakan bukit itu”, kata si Yahudi sambil menunjuk sebuah bukit berpasir.

“Bukit itu tidak mungkin dapat diratakan oleh manusia kecuali dengan waktu yang sangat lama”, gumam Fudhail bin Iyadh dalam hati.

Namun demikian, demi menghapuskan perjanjian itu, Fudhail bin Iyadh menyetujui permintaan orang Yahudi tersebut. Hingga berhari-hari Fudhail bin Iyadh belum juga mampu untuk meratakannya.

Pada suatu pagi, ketika Fudhail bin Iyadh yang telah lelah mencangkul bukit tersebut, datang sebuah badai angin yang dengan sekejab dapat meratakan bukit tersebut.

Si Yahudi yang melihat kejadian tersebut heran bukan main. Tetapi Yahudi ini tidak menyerah begitu saja.
Dia berkata, “Itu belum cukup untuk menghapus perjanjian kita”.
“Masuklah ke dalam rumahku dan ambillah segenggam uang yang berada di bawah permadaniku. Dengan begitu, aku akan menghapuskan seluruh perjanjian tersebut”

Demi menghapuskan perjanjian tersebut, Fudhail bin Iyadh kembali menuruti permintaan si Yahudi tersebut. Fudhail bin Iyadh berjalan dan memasuki rumah si Yahudi.
Yahudi yang licik itu tahu bahwa disitu tidak ada uang, karena sudah diganti dengan pasir.

Tatkala Fudhail bin Iyadh memasukkan tangannya ke dalam permadani tersebut, tanpa disangka yang diperoleh Fudhail bin Iyadh adalah segenggam uang emas sesuai dengan permintaan si Yahudi.

“Dengan uang emas yang ku serahkan ini, sudah berarti menghapuskan perjanjian tersebut”, kata Fudhail bin Iyadh.

Melihat hal tersebut, si Yahudi kaget. Ia tidak menyangka, keajaiban kembali mendatangi Fudhail bin Iyadh.
Dengan sedikit terbata-bata, si Yahudi berkata, “Islam-kanlah aku, wahai Fudhail bin Iyadh”. Dengan gembira Fudhail bin Iyadh menuntun si Yahudi untuk bersyahadat.

Pelajaran yang bisa diambil, banyak cobaan terhadap orang yang ingin kembali kepada Allah SWT. Tapi bila niat itu benar maka Allah SWT akan memberikan jalan keluar.

 وَمَنْ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا 

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,” (QS. At-Talaq 65: Ayat 2)


3. Fudhail bin Iyadh dan Khalifah

Setelah bertaubat kemudian Fudhail bin Iyadh hijrah dari Samarkand menuju Mekkah. Masa pemerintahan pada waktu itu dipimpin oleh Khalifah Harun Ar Rasyid.

Suatu ketika Khalifah sedang resah. Beliau berkata kepada Menterinya :
“Tunjukkan padaku orang yang bisa menjelaskan siapa diriku. Aku bosan dengan kekayaan, bosan dengan kekuasaan, bosan dengan kondisi saat ini”.

Dibawalah beberapa tokoh ulama kepada Khalifah Harun Ar Rasyid. Dan Khalifah ternyata menguji para Tokoh itu. Beliau bertanya : “Apakah kamu punya hutang atau sesuatu yang bisa kubantu?”.

Namun ketika Tokoh ulama itu membenarkan bahwa ada sesuatu yang bisa dibantu Khalifah, ternyata Khalifah langsung pergi setelah memberi bantuan uang.
Kejadian ini berulang pada tokoh yang lain dan ketika dia masih membutuhkan sesuatu, langsung ditinggal pergi setelah diberi uang.

Begitu seterusnya sampai kemudian ditunjukkan untuk bertemu dengan Fudhail bin Iyadh, yang pada waktu itu sudah menjadi seorang Pengajar yang alim dan zuhud.

Mereka pun mendatangi rumah Fudhail pada malam hari. Ternyata dia sedang membaca Al-Qur’an, lalu Menteri mengetuk pintunya. Fudhail bertanya dari dalam: “Siapa ini?”
Menteri menjawab: “Sambutlah Amirul Mu’minin.”
Fudhail menjawab: “Ini sudah malam.
Apakah tidak ada waktu lagi untuk besok?”

Menteri berkata : “Ini yang datang Khalifah!”. Fudhail menjawab : “Apa urusan saya dengan Amirul Mu’minin?!”
Tapi setelah Menteri memaksa , maka Fudhail pun membuka pintu dan mengajak masuk rumahnya.
Sebelum Khalifah bertanya, langsung Fudhail bin Iyadh menyampaikan nasehatnya :

“Menjadi seorang Pemimpin dengan kekuasaan dan penyesalan adalah kenestapaan di Hari Akhir, kalau bisa engkau tidak melakukan itu!”
“Sabda Nabi : “Siapa yang di Pagi hari menipu orang lain niscaya dia tidak akan mencium baunya Surga”.

Begitu dinasehati, Khalifah Harun Ar Rasyid kemudian menangis sampai Menterinya marah kepada Fudhail.
“Kenapa engkau menyakiti Khalifah?”
Setelah beberapa saat, Khalifah Harun Ar Rasyid menguji seperti biasa :
“Apakah kamu punya hutang atau sesuatu yang bisa kubantu?”.

Fudhail bin Iyadh menjawab : “Ya, aku punya hutang. Hutang kepatuhan kepada Allah. Seandainya Allah memintaku untuk melunasi, maka celakalah diriku!”

Khalifah Harun Ar Rasyid menangis lagi ketika mendengar jawaban itu.
Khalifah masih bertanya :
“Bukan itu. Yang aku maksud adalah hutang harta”.
Fudhail menjawab : “Aku tidak mau bantuanmu, aku bersyukur kepada Allah SWT”.

Setelah mendengar jawaban Fudhail, rombongan Khalifah meninggalkan rumah Fudhail , sambil meninggalkan uang. Mungkin sebagai ungkapan rasa terima kasih telah mendapatkan nasehat.

Begitu melihat ada uang yang ditinggalkan oleh Khalifah Harun Ar Rasyid, Fudhail bin Iyadh marah dan berkata :
“Sungguh anda keterlaluan , Aku mengajakmu kepada jalan keselamatan, sementara anda malah ingin menjerumuskanku ?! Ambil uang tersebut, berikan kepada yang berhak “

Ini kisah Fudhail menjaga kehormatan beliau di mata orang lain.


4. Fudhail bin dan Muridnya


Ada salah seorang murid Fudhail dari tempat yang jauh yang juga ahli hadits. Namanya Abdullah bin Mubarok.
Tidak sedikit para Pengajar konsentrasi di tempat asalnya.
Ibnul Mubarok juga mengalami masa-masa yang tidak lurus di awal kehidupannya. Abdullah bin Mubarok juga seorang Mujahid yang terjun di medan perang.

Abdullah bin Mubarok mengirim sebuah surat berisi syair kepada Fudhail bin Iyadh, mengingatkan mana yang utama , yang harus dilakukan.

Begini bunyi surat itu:

يا عابد الحرمين لو أبصرتنا … لعلمت أنك في العبادة تلعب
من كان يخضب خده بدموعه … فنحورنا بدمائنا تتخضب
أو كان يتعب خيله في باطل … فيخولنا يوم الصبيحة تتعب
ريح العبير لكم ونحن عبيرنا … وهج السنابك والغبار الأطيب
ولقد أتانا من مقال نبينا … قول صحيح صادق لا يكذب
لا يستوي وغبار خيل الله في … أنف امرئ ودخان نار تلهب
هذا كتاب الله ينطق بيننا … ليس الشهيد بميت لا يكذب

“Wahai ahli ibadah di dua tanah Haram
seandainya kau melihat kami, niscaya kau akan tahu …
bahwa engkau dengan ibadahmu itu hanyalah main-main belaka…
Orang yang membasahi pipinya dengan linangan air matanya…
sementara kami membasahi leher kami dengan darah-darah kami…
Atau orang yang membuat lelah kuda perangnya dalam kesia-siaan …
sementara kuda-kuda kami lelah payah di medan pertempuran ..
Parfum wewangian bagimu adalah aroma wangi yang semerbak …
sementara wewangian kami adalah pasir dan debu-debu yang mengepul …
Padalah telah datang kepada kita sabda Nabi kita ….
perkataan yang jujur lagi benar dan tidak dusta …
Bahwa tidak akan bertemu debu-debu kuda di jalan Allah di hidung seseorang
dan kobaran api neraka yang menyala-nyala …
Inilah pula Kitabullah yang berbicara di antara kita …
bahwa orang mati syahid itu tidaklah mati, dan ini bukanlah kedustaan …”

Abdullah bin Mubarok mengingatkan bahwa ibadah itu tidak hanya berada di Masjid atau tempat ibadah. Tetapi berjihad di Jalan Allah memperjuangkan agama juga bagian dari ibadah.

Fudhail bin Iyadh mengatakan :
“Benar Abdullah bin Mubarok dengan suratnya tadi”.
Kemudian Fudhail bin Iyadh menyampaikan keutamaan hadits berjihad di jalan Allah kepada pembawa surat.

Dikatakan kepada Nabi SAW : Amalan apa yang setara dengan jihad fii sabiilillah? Nabi SAW berkata: “Kalian tidak bisa mengerjakan amalan yang setara dengan jihad.” Para shahabat mengulangi pertanyaan tersebut dua kali atau tiga kali, dan Nabi tetap menjawab: “Kalian tidak bisa mengerjakan amalan yang setara dengan jihad.” Kemudian Nabi SAW bersabda pada kali yang ketiga: “Perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah itu seperti orang yang berpuasa, shalat, dan khusyu’ dengan membaca ayat-ayat Allah. Dia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya sampai orang yang berjihad di jalan Allah Ta’ala itu kembali.” (HR Muslim)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here