Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

22 Ramadhan 1442 / 4 Mei 2021



Pekerjaan Qolbu dalam Taqwa adalah di Dada (Shadr)

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِ سْلَا مِ ۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَ نَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ ۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan membukakan dadanya untuk menerima Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 125)

Ayat ini diulang terus karena penting, agar kita tidak sesak dadanya.
Contohnya orang yang tak mau mengaji, dia merasa sesak dadanya kalau dengar pengajian karena merasa disindir-sindir.Jadi dia tak mau datang.

Yang kedua, dia tidak mau mengaji karena tidak cocok. Dia memandang ngaji melihat orangnya bukan dari isinya Pengajian. Ini juga ujian bagi kita. Makanya banyak contoh orang-orang yang “grudag-grudug” saja. Ulama yang sedang ngetrend diundang, tetapi cuma 30-40 menit saja. Akhirnya juga “blank”, karena tidak nyambung-nyambung. Hanya melihat suatu gambar yang besar.

Alhamdulillah di Majelis Taklim ini banyak titiknya sehingga bisa menyerupai seperti mozaik apakah ini bentuk kuda? Apakah ini bentuk Kupu-Kupu? Kita bisa nyambung- nyambung karena banyak ulama yang kita ajak kesini menerangkan berbagai hal yang kita kemas bersama-sama menjadi satu gambar yang utuh.
Bukan hanya sekali, hanya mengagumi caranya berbicara dan sebagainya , tapi lupa implementasinya dalam qolbu masing- masing.

Apalagi dulu, saya sering diundang pengajian. Mulainya di podium sudah jam 10.30. Berarti saya hanya ngomong paling lama 1 jam. Jam 11.30 selesai, ada do’a dari ulama lain atau dari kita diminta berdo’a, habis itu makan-makan. Prosesnya selalu sama, makan-makan. Habis itu diantar pulang sampai jam 14.00.

Saya pikir payah kalau begini. Akhirnya saya memilih yang lebih pendek tapi rutin. Antara maghrib sampai Isya’, sekitar 1 jam. Jadi kita dapat shalat maghrib, mengaji 1 jam dan shalat isya’. Kita dapat dobel-dobel karena shalat jama’ah isya’ di masjid pahalanya sama dengan shalat setengah malam suntuk. Maka jangan sampai lepas itu. Qolbu kita harus merasa sedih jika tidak bisa ikut.

Jangan sampai tidak ikut terus karena merasa dirinya beda. Ini banyak, orang merasa beda karena mengurusi orang banyak, merasa tak perlu shalat jama’ah. ‘Aku’-nya yang ditonjolkan keluar di dalam dadanya, kita tidak tahu. Tapi buktinya tak pernah berubah-berubah . Sampai tua masih tetap begitu, maa syaa Allah.

Kita di forum ini mengintrospeksi diri. Qolbu kita apa sudah hidup? Apakah sudah sehat ? Bila sudah sehat paling tidak bisa menjadi receiver yang bagus. Menangkap sesuatu bisa masuk semua karena “yasyroh shodrohuu lil-islaam” (Dia akan membukakan dadanya untuk menerima Islam).

Kalau dia diberi tahu bahwa shalat Isya’ berjama’ah itu bagus, dia mau melaksanakan. Bukan kemudian tidak ikut dengan alasan yang dicari.
Itu sebenarnya qolbunya yang melarang :
“Saya kan sedang berbuat baik”.
Berbuat baik itu memang pribadi. Talbis iblis itu memang luar biasa!
Dijadikan alasan-alasan itu menjadi indah dalam dirinya sehingga diikuti.

“Saya kan bekerja untuk orang banyak, kalau shalat kan hanya untuk pribadi”.
Akhirnya macet tidak berkembang. Yang berkembang hanya aspek dunianya, mungkin punya ini punya itu. Karena memang makin hari makin mendapat rezeki dalam bentuk penghasilan. Bukan rezeki dalam bentuk yang bisa dinikmati.

Para ulama sudah mengajari kita bahwa rezeki bukan pendapatan tetapi apa yang boleh kamu nikmati. Penghasilan bisa 25 juta tetapi ternyata yang dikonsumsi hanya 250 ribu, misalnya. Itu namanya yang boleh dinikmati hanya 250 ribu. Nanti kalau meninggal dunia sisanya menjadi milik orang lain karena diwaris.


Menata, Merawat dan Menjaga Qolbu

Hati-hati dengan amalan qolbu ini, kita harus cek terus. Kita harus menata, merawat dan menjaga qolbu.

Menata Qolbu

Kita tata qolbu apakah ini sudah cocok atau tidak dengan Islam? Karena kita diperintahkan oleh Allah SWT :

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَآ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208)

Kita diminta masuk islam dalam keseluruhan. Kalau dalam bahasa modern “comprehensive and Integrated”. Jangan hanya sepotong- sepotong, Islam hanya bajunya tapi langkah-langkahnya bukan.
Apalagi seperti yang dikatakan oleh ustad Adian Husaini :
“Sejengkal demi sejengkal mengikuti akidah dan kebiasaan orang lain”.

Misal kebiasaan merayakan ulang tahun sambil meniup lilin dan menyanyi. Padahal dalam meniup lilin ada sesuatu tathayyur yaitu ketika meniup lilin lalu ‘make a wish’ (dalam hatinya meminta sesuatu) kemudian berharap nanti dikabulkan. Kata siapa? Hanya meniup lilin kok bisa dikabulkan doanya.

Merawat Qolbu

Kita istighfar, kita cek, kita singkirkan.
Merawatnya kita kembali ke jalannya Rasulullah yang disebut Al Jamaah. Rasulullah mengatakan :
“Siapa yang bersama apa yang aku kerjakan bersama sahabatku”. ( ما أنا عليه وأصحابي )
Kemudian istilahnya ditambah Ahlu Sunnah wal jama’ah.

Menjaga Qolbu

Menjaga ini yang susah. Saya ibaratkan sopir yang mengendarai mobil. Memang kalau mobilnya makin canggih ada power steering. Dulu kita mengalami tanpa power steering sehingga mengendalikannya berat. Setelah ada power steering menjadi lebih ringan. Mari kita terapkan dalam diri kita. Kalau kita mengendarai mobil itu stirnya kita lepaskan, pasti hancur. Itulah qolbu. Kita harus menjaga terus setelah menata dan merawat.

Mengapa ada power steering? Mari kita kaji surat An Nur ayat 51

اِنَّمَا كَا نَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَ طَعْنَا ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan perkara di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur 24: Ayat 51)

“Kami mendengar, dan kami taat.” ini adalah ‘power steering’.
Kalau itu sudah kita pasang dalam qolbu kita. Enak kita, mengikuti perintah apapun enak. Kita disuruh mengaji, enak. Tidak merasa berat, bahkan malah kurang. “Lho kok sudah selesai, padahal saya mau bertanya”.
Tetapi kalau orang yang merasa berat, dia menggerutu di dalam hati.
“Wah, kok ora rampung-rampung”.

Padahal sudah diumumkan , Kajian mulai pukul 05.30 sampai sekitar pukul 07.00. Berarti dia sudah siap-siap 1,5 jam. Kemudian kadang kadang kalau tanya jawabnya menarik akhirnya bisa sampai jam 08.00. Itu tidak berat lagi kalau kita punya power steering.

Bila diibaratkan mobil, punya power steering, ngegasnya enak, ngeremnya juga enak. Kemudinya tidak seperti zaman dulu yang sangat berat.
Dalam diri kita mudah-mudahan seperti itu. Sehingga qolbu kita ini senang saja, bahagia saja isinya ketika melakukan ketaatan.Kalau tidak melakukan ketaatan malah sedih.

Kita sudah tahu kalau shalat isya’ berjamaah pahalanya sama shalat separuh malam maka kalau qolbunya sudah ditata dia tak mau tertinggal. Kegiatan yang lain bisa digeser. Kalau mau ke Mall waktunya diatur setelah pulang dari masjid. Karena Mall buka sampai jam 21.30. Jadi kita lebih mengutamakan upaya-upaya untuk mencukupi kebutuhan qolbu.

Teman-teman dokter juga saya sarankan kalau praktek malam ,coba dievaluasi untuk diganti kegiatan keluarga. Saya tunjukkan sekelompok orang ada isteri, ada anaknya mendorong troly di Mall, alangkah bahagianya, atau menonton bioskop yang baik untuk pembentukan akhlak.

Kalau kita praktek terus kan, pagi sudah praktek , siang praktek. Sore praktek, malam masih praktek, lalu tidak prakteknya kapan? Sebagai umat islamnya kapan? Sebagai ayah kapan? Itulah namanya menata qolbu, kemudian merawatnya supaya tidak terkena infeksi. Mencegah infeksi dikasi vaksinasi. Mencegah jangan sampai berbuat yang resiko tinggi dalam menjaga hati. Sehingga hatinya sehat.

Hati yang Sehat atau Qolbun Salim adalah modal kita bertemu Allah. Settingannya adalah kita menata hati, halangan-halangan kita singkirkan, akhirnya berubah kalau dulu seperti mobil yang tidak pakai power steering sekarang pakai power steering. Sehingga komponen Shadr-nya berkembang.


Introspeksi Qolbu Kita

Mengintrospeksi Qolbu Kita, apakah memiliki “sebagian tanda” Muttaqin.
Bagaimana para sahabat menjadi hebat karena ada beberapa tanda- tanda minimal yang saya temukan. Bagaimana qolbunya ke arah ini sudah beres atau belum?

1. Menguatkan Tauhid

Menyatakan Allah ini adalah satu- satunya yang patut kita sembah. Dan di agama kita status Allah langsung dinyatakan oleh Allah sendiri. Tidak ada di agama lain. Nama Allah yang kita sembah yang menyatakan adalah Allah sendiri, bukan karangan Nabi Muhammad SAW, juga bukan karangan Nabi-Nabi sebelumnya.

Ketika mencipta Adam juga sudah jelas, sehingga kita harus mengingkari Theori Evolusi. Anak-anak kita harus kita ajari bahwa nenek moyang kita adalah Adam, bukan Kera.

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ 

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.””- (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)

Memang kita ini diciptakan untuk di bumi sebagai Khalifah, sebagai pengganti Allah yang diturunkan di muka bumi. Walaupun settingannya Adam ditempatkan di Surga dulu itu adalah scenario Allah. Jangan sampai kita mempunyai keyakinan rumah kita di Surga. Memangnya Surga milik kita? Bukan. Surga itu milik Allah. Allah SWT berfirman:

لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ 

“Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 284)

Ada share di WA yang salah bahwa kita rumahnya Surga. Di bumi hanya indekost nanti pulang ke kampung kita di Surga. Itu karangan orang yang tidak mengerti ilmu. Walaupun kadang- kadang ada orang pintar yang mengikut share, karena asal ngeshare saja.

Allah sendiri yang menyatakan bahwa Dia menjadikan Khalifah di dunia.
Kemudian Malaikat membalas :

قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ 

“Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama- Mu?” – (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)

Settingan awal Malaikat mendeteksi bahwa yang diciptakan Allah mempunyai dua kelakuan yang negatif, yaitu Merusak dan Menumpahkan darah. Sudah terbukti dimana-mana.
Kayu-kayu log diambil dari pulau-pulau lain dan dibawa ke Jawa. Diameternya ada yang 1,5 meter sampai 2 meter.
Disini menjadi penghasilan orang- orang. Disana menjadi gundul dan akhirnya banjir bandang. Allah sudah menyatakan seperti itu.

Halangan Tauhid itu syirik.

Allah SWT berfirman:

وَلَـقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِ لَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ لَئِنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi yang sebelummu, “Sungguh, jika engkau menyekutukan Allah , niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” -(QS. Az-Zumar 39: Ayat 65)

Jaga betul-betul jangan sampai syirik karena amalnya bisa sirna.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يُّشْرِكْ بِا للّٰهِ فَكَاَ نَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ اَوْ تَهْوِيْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ مَكَا نٍ سَحِيْقٍ

“Barang siapa menyekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj 22: Ayat 31)

Syirik itu seperti jatuh dari langit. Seperti apa rasanya? Di film pernah kita lihat, tapi kalau beneran seperti apa rasanya ?

Jangan sampai syirik. Begitu syirik, kita hancur. Mau penampilan sukses tidak masalah, karena memang secara awam orang melihat dari “bleger” atau wujud fisiknya. Wah keren ..
Yang dinilai Pakaiannya, sepatunya, tasnya, jamnya bahkan ali-ali atau batu akik yang besar-besar yang dinilai.

Pengalaman saya waktu di Arab, saya beli batu akik, tapi ternyata membuat sholat tidak khusyuk. Akhirnya saya kembalikan. Alhamdulillah di sana barang yang dibeli bisa ditukar kembali bila ada keluhan. Mudah-mudahan disini jika berdagang bisa seperti itu. Jangan meniru Yahudi : Barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan.

Kembali ke masalah syirik, ini adalah halangan nomer satu yang harus kita hindari sekuat tenaga.


2. Ikhlas Semata-mata karena Allah

Allah SWT berfirman:

اِنَّاۤ اَنْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِا لْحَقِّ فَا عْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ 

“Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab Al-Qur’an kepadamu Muhammad dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 2)

Allah SWT berfirman:

وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۙ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ 

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 5)

Jadi memang beda arti kata ikhlas dalam bahasa Indonesia adalah Rela hati. Menurut Al Qur’an ikhlas adalah ‘mukhlishiina lahud-diina’. Beribadah semata-mata karena Allah SWT.


3. Benar-benar rela diatur oleh Allah dengan agama Islam
.

Maka kita biasakan membaca do’a tiga kali :

رَضِتُ بِااللهِ رَبَا وَبِالْاِسْلاَمِ دِيْنَا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيَا

Rodlittu billahirobba, wabi islamidina, wabimuhammadin nabiyya.
Artinya: “Kami ridho Allah SWT sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Muhammad sebagai Nabi.”

Rodlittu memakai fiil madhi yang artinya ridhanya sudah selesai. Berarti kita faham Allah yang menciptakan kita, Dia yang mengatur kita, Dia membimbing kita, Dia menjaga kita, Dialah yang memberi rezeki kepada kita dan seterusnya, karena Robba itu luas sekali dan itu sangat teratur sekali. Sampai saya katakan, saking teraturnya, tensi orang normal di seluruh dunia, walaupun dia kulit putih, atau hitam ataupun kuning sama semua. Sehingga lahirlah ilmu kedokteran.

Akhirnya ada pertemuan dan kesepakatan Para Ahli di bidang hipertensi. JNC menetapkan bahwa tensi normal adalah 120/80. Kalau dipandang sebagai hipertensi batasnya 140/90.

Bayangkan kalau tidak sama. Orang kulit hitam tensinya beda, orang kulit putih tensinya beda. Ini menunjukkan Allah mengatur demikian luar biasa. Maka kita ridha Allah sebagai Tuhan yang disembah.

Allah sendiri menyatakan :

اِنَّنِيْۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَاۡ فَا عْبُدْنِيْ  ۙ وَاَ قِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku.” (QS. Ta-Ha 20: Ayat 14)

Maka kita harus ikut islam mengatur kehidupan kita. Tata cara dari lahir sampai mati, dari bangun tidur sampai tidur kita ikuti islam sebagai aturan.

Kalau masih ada yang mengatakan : “Tradisi harus dipelihara”. Benar juga tapi dengan syarat bahwa tradisi itu tidak tabrakan dengan islam. Kalau tabrakan dengan islam kita tiru Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab dan yang lain. Begitu masuk islam , semua ditinggal bila tidak cocok dengan islam.

Maka kalau Nabi mengatur kita, pedomannya adalah Surat Al Hasyr ayat 7 :

 وَمَاۤ اٰتٰٮكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰٮكُمْ عَنْهُ فَا نْتَهُوْا ۚ 

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 7)

Kalau Rasul memberi perintah, kerjakanlah. Jangan ditawar lagi.
Contoh orang yang masih ngeyel terhadap perintah Rasul :

إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، فَادْعُوا

“Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa yang dipanjatkan di antara adzan dan iqamah, maka berdoalah.” -(HR. Ahmad)

Ini adalah petunjuk dari yang kita syahadati namanya Muhammad SAW. Berarti setelah adzan kita harus berdo’a. Kalau tidak berdo’a kita shalat dua raka’at. Bisa lebih, ada shalat sunah wudhu, shalat tahiyatul masjid, ada shalat Qobliyah. Berarti shalatnya bisa tiga kali. In syaa Allah doanya itu diterima.

Jangan diganggu yang sholat ini dengan speaker yang keras dengan ucapan-ucapan yang bukan do’a. Apalagi dengan lagu-lagu. Itu boleh saja tapi di halaqoh lain, jangan pada waktu antara adzan dan iqomah.
Kalau betul-betul ridha kepada Allah dan, ridha diatur Islam mestinya tak ada debat tentang hal ini.

Alhamdulillah sudah banyak masjid yang berubah. Dulunya hingar bingar sekarang menjadi senyap. Dan ini memang disunahkan karena kita ini Ahlul Sunnah wal jamaah.


4. Taat kepada Allah dan Taat kepada Rasulullah dan Menolak Bid’ah.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 59)

Kalau kita faham ini maka tak akan banyak khilafiyah.

Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)

Kemudian ada yang penting dikatakan Rasulullah, yaitu tentang bid’ah.
Jangan sampai alergi belajar tentang bid’ah. Jangan pula menuduh Wahabi. Sekarang ini lucu, timbul serang menyerang, tidak nyambung.
Dikaji saja apa dia benar sesuai Al Qur’an dan Sunah? Kalau memang benar kita ikuti, dari siapapun. Kita tidak memandang siapa yang bicara.

Ali bin Abi Thalib r.a mengajarkan

انظر ما قال ولا تنظر من قال

“undzur maa qoola walaa tandzur man qoola” (Lihat apa yang disampaikan namun jangan lihat siapa yang menyampaikan).

Rasulullah SAW bersabda :

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah perkara agama yang diada-adakan, setiap perkara agama yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim)

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here