Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

22 Ramadhan 1442 / 4 Mei 2021



Saudara karena Iman

Mari kita introspeksi apakah pekerjaan qolbu kita sudah seperti yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya? Dan apakah kita sudah pada tahap seperti pada kajian-kajian selama ini. Alhamdulillah kita makin tambah ilmu, merasa makin tidak pandai karena betapa banyaknya ilmu-ilmu yang disampaikan oleh Allah dan Rasulnya untuk kita ikuti sebagai umatnya dalam berislam ini.

Kalau kita melihat Indonesia dengan cara pandang positif, umat islam bukan saling bertentangan tapi saling melengkapi. Kita sebagai orang awam memandangnya untuk kita gabungkan dalam diri kita.

Ada yang suka tasawuf, mari kita tiru bagaimana langkah-langkah tasawuf untuk memperbaiki hati dan amalan- amalan yang dikomandani oleh hati, yaitu pikiran, lisan dan anggota tubuh atau amalan.

Ada yang suka politik, kalau taushiyah selalu ke arah khilafah. Mari kita kaji. Disini kita mengkaji 800 tahun khilafah Utsmaniah di Turki yang sudah demikian rupa menghasilkan peradaban yang luar biasa. Kekhalifahan Abassiyah, Kekhalifahan Umayyah demikian juga kemudian Fathimiyyah dan Ayyubiyah.

Jadi kita jangan justru merasa kalah perang atau malah merasa grogi atas ajaran islam. Tentu tidak karena saking luasnya islam, saking dalamnya islam maka mengambil sedikit sudah bisa untuk kita pelajari. Bahkan masih ada ustadz yang keliru menyampaikan. ‘Ikhtilafu Ummati Rahmatun’ -(perbedaan adalah rahmat). Sudah kita kaji di Majelis Taklim ini, sejak tahun lalu hal itu justru terbalik.

Yang benar adalah Rasulullah SAW bersabda:

الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ (رواه أحمد عن النعمان بن بشير حديث حسن)

“Al-Jama’ah adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab.” (H.R. Ahmad dari Nu’man bin Basyir dengan derajat hadits Hasan)

Kita ini memang diminta membuat jama’ah yang tidak membeda-bedakan dari mana asal-usulnya, karena memang kita disuruh oleh Allah sebagai orang yang bersaudara. Dipersaudarakan karena iman.


Meningkatkan Taqwa

Kita sudah belajar taqwa dua kali, yang pertama Surat Ali Imran 134, kemudian Surat Al Baqarah 2-5. Saat ini kita akan belajar Surat Al Baqarah 177 tentang taqwa.

Allah SWT berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَا لْمَلٰٓئِکَةِ وَا لْكِتٰبِ وَا لنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰ تَى الْمَا لَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَا لْمَسٰكِيْنَ وَا بْنَ السَّبِيْلِ ۙ وَا لسَّآئِلِيْنَ وَفِى الرِّقَا بِ ۚ وَاَ قَا مَ الصَّلٰوةَ وَاٰ تَى الزَّکٰوةَ ۚ وَا لْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عٰهَدُوْا ۚ وَا لصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan, peminta- minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang- orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang- orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 177)

Banyak orang berfikir bahwa baik dan buruk itu tidak dibimbing Allah. Tapi pagi ini kita diberi khabar oleh Allah SWT , wahyu yang disampaikan kepada Rasulnya bahwa bukanlah menghadapkan wajah ke barat dan ke timur itu adalah kebajikan.

Berarti kalau kita ambil tamsil lain, kebajikan itu bukan atas ukuran kita:
– “Wong aku wis apik”, atau
– “Mengaji? Mosok mengaji kok sering banget, kan sudah cukup?”
Ini justru dapat terjebak merasa sudah selesai urusannya dengan Allah. Padahal ilmunya Allah ternyata luar biasa. Meskipun kita sudah belajar disini setahun, juga belum selesai- selesai. Padahal intensif banyak ustadz, banyak kitab yang dibuka.

Banyak orang yang malas untuk memperbaiki diri atau mengupdate. Merasa sudah selesai, sudah cukup, sudah baik.

Maka Allah SWT menegur : “Kebajikan itu bukan hanya menghadap ke Timur atau Barat”
Memang Rasulullah SAW pada waktu itu tiba-tiba ada wahyu ketika shalat dhuhur yang biasanya menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina kemudian Allah memerintahkan menghadap ke Ka’bah di Masjidil Haram.


Menguatkan Keimanan

Allah memberikan pedoman pada kita. Orang yang iman pada Allah dan Hari Akhir itu takut atas perbuatannya sendiri jangan-jangan tidak diridhoi Allah. Maka dia takutnya bukan kepada manusia, bukan kepada isterinya, tapi takutnya kepada Allah dan Hari Akhir. Dimana pada hari akhir nanti tidak ada yang bisa menonjolkan diri, tidak ada yang bisa menutupi kesalahannya. Semua akan ditimbang secara transparant. Bahkan akan ada yang dipermalukan oleh Allah. Mudah-mudahan kita tidak demikian.

Iman kepada Malaikat kita sudah faham. Penampakan malaikat disaksikan oleh banyak sahabatnya Rasulullah karena sedang berkumpul, sehingga kita kenal hadits Jibril yang datang kepada Rasulullah mengajarkan agama. Duduk berhadapan dan memegang paha Rasulullah. Beliau bertanya tentang islam, iman dan ihsan.

Ihsan adalah beribadah seolah-olah kamu melihat Allah sedang mengawasimu. Maka kalau kita shalat dan merasa dicek oleh Allah, tak mungkin shalatnya buru-buru. Kita khusyuk sebagai pengamalan dari Surat Al Mukminun ayat 1-11.

Kita yakin ada Malaikat, karena pernah muncul. Di zaman Nabi Ibrahim a.s juga muncul sebagai tamu. Di zaman Nabi Muhammad sebagai orang yang bertanya. Dan sangat dekatnya, menunjukkan hubungannya sangat dekat dengan Rasulullah SAW.
Kalau sekarang ada yang mengaku bisa melihat Malaikat, atau mungkin malah dia sendiri mengaku Malaikat, tidak usah dihiraukan.

Iman kepada kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah SWT kepada para Nabi, kita sudah faham dari Zabur, Taurat, Injil dan Al Qur’an. Berikutnya iman kepada Para Nabi.


Amalan Qolbu Setelah Iman

Berikutnya yang penting adalah amalan qolbu setelah iman kita kuatkan dalam diri kita.

– Memberikan harta yang dicintai.

Kelas kita kadang-kadang memberi pakaian pantas pakai. Itu masih lumayan daripada tidak memberi.
– Memberi sebagian harta kepada : Orang yang dekat, orang yang punya hubungan darah.
Kalau kita memberi infak, kita cek dulu kalau memberi kepada keluarga sendiri dulu. Jangan kepada teman sering memberi yang gede-gede tetapi keluarganya terlantar.
Berikutnya baru anak-anak yatim, batasnya adalah 17 tahun. Banyak orang berseloroh sudah menikah dan punya anak mengaku anak yatim karena orang tuanya meninggal.
– Berikutnya orang-orang miskin.
– Orang-orang yang dalam perjalanan.
– Orang yang meminta-minta
– Untuk memerdekakan budak.

Perintah islam adalah memerdekakan budak, tidak betul kalau ada yang mengatakan Islam melanggengkan perbudakan.

Do’anyapun tiap hari kita ucapkan :
“Allahumma inni a’udzu bika minal Hammi wal hazan, wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzu bika minal jubni wal bukhl, wa a’udzu bika min ghalabatid dain wa qahrir rijal”

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.”

Kita jangan sampai dijajah oleh orang lain, kita berdo’a terhindar dari 8 hal itu.
Banyak kafarat untuk menghapus dosa dengan cara memerdekakan budak. Contohnya orang yang lupa melakukan hubungan suami isteri di siang hari Puasa Ramadhan. Mungkin karena masih manten baru. Bulan Ramadhan ini kita harus hati-hati, apalagi 10 hari terakhir kita diajari Rasulullah untuk menjauhi isteri dan konsentrasi mencari malam Lailatul Qadar.

– Mendirikan shalat dan membayarkan zakat.

Zakat itu bukan milik kita. Itu adalah hak orang miskin baik yang meminta ataupun yang tidak meminta.
Maka sekarang ramai-ramai mendirikan Baznas, kita doakan saja mereka amanah karena di negeri kita banyak yang kurang amanah.
Sekarang ini pembayaran zakat baru sekitar 3% dari potensi zakat. Mudah- mudahan naik terus karena sekarang gerakan mengaji luar biasa.
Kemarin saya dapat informasi IDI Purbalingga mengaji. Inikan luar biasa, kalau yang mengaji IDI kan zakatnya gede-gede.

– Orang yang menepati janji

Islam itu menghebatkan orang. Orang itu yang dinilai adalah lisannya. Bisa tidak dipegang lisannya? Kalau orang tidak dapat dipegang lisannya kan namanya lucu. Dalam bahasa Jawa namanya “mencla-mencle”, ‘esuk dele sore tempe’. Kalau orang takwa tidak mungkin begitu.
Dalam Surat Al Mukminun disebut :

وَا لَّذِيْنَ هُمْ لِاَ مٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَا عُوْنَ 

“Dan orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya,” (QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 8)

– Orang-orang yang Sabar dalam Kemelaratan dan Penderitaan pada masa Peperangan.

Dulu sudah kita alami. Pendahulu kita para pahlawan susah sekali ada yang makannya hanya ketela pohon, pakaiannya bahkan ada yang dari karung, banyak kutunya dan kena penyakit beri-beri.
Tetapi ketika kita sekarang sudah makmur, kemudian malah hutangnya banyak, maa syaa Allah.
Padahal kita dibimbing oleh Rasulullah jangan sampai masuk dalam jeratan hutang sehingga diajari do’a di atas (agar terhindar dari 8 sifat).

Mari kita introspeksi , ibdak binafsihi. Dari diri kita sendiri mulai membenahi, membersihkan diri dari hutang-hutang. Karena dengan hutang itu kalau nanti meninggal belum bisa dihisab. Kecuali ada yang menanggung. Jadi repot karena dibiarkan akan terlantar tidak dihisab karena masalah hutang.

Jadi mari dicek lagi apakah kita masih punya hutang? Baik sedikit ataupun banyak. Walaupun sedikit meskipun hanya 10 ribu harus dibayar sampai orangnya menghalalkan. Ini sering terjadi, ketika belanja uangnya kurang : “Aku diutangi disik yo”…

Maka kita harus berhati-hati, karena pada suatu hari kalau kita kesulitan seperti sekarang ini. Ada yang anaknya 3 kena PHK semua karena masalah Pandemi.

Alhamdulillah kita bersyukur yang ada dizoom ini. Karena kalau ada di zoom berarti mempunyai pulsa dan itu kemungkinannya ada kelebihan. Kita syukuri dengan banyak mengucapkan :

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Alhamdulillahi ‘ala kulli haal.
“Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan”.

Tapi juga harus bersyukur dalam bentuk lain, yang lebih hakiki. Yaitu melaksanakan perintah Allah dan Rasulnya.

Orang-orang yang mempunyai sifat-sifat ini, sifat ini adalah sebagian karena ada ayat lain yang menunjukkan ketakwaan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itu orang-orang yang bertakwa.


Bagaimana Rasulullah mendiskripsikan Takwa?

Dalam suatu hadits yang panjang sekali yang merupakan taushiyah yang penting karena banyak amalan qolbu.
Disebutkan oleh Rasulullah :
“At Takwa ha hunaa”. Rasulullah menunjuk dada.

Jadi dada itu memang penting sekali, dada sebagai fisik maupun dada (shadr) yang kita kaji berkali-kali yaitu :
“Siapa yang dikehendaki Allah orang itu menjadi baik, maka dia difakihkan dalam agama”.

Berarti kalau dia senang mengaji, fakih agamanya itu tanda orang itu disuruh oleh Allah untuk jadi baik. Jangan dihalang-halangi. Mengaji itu penting karena ilmunya Allah memang panjang dan luas. Rasulullah sendiri menyampaikannya sampai 23 tahun.

Allah SWT berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى 

“dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 3)
Allah menjamin bahwa apa yang disampaikan Rasulullah ini kalimat- kalimat langit semua. Pendek tapi penuh arti.

Contohnya adalah hadits ini :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا ، اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يَخْذُلُهُ ، وَلاَ يَحْقِرُهُ ، اَلتَّقْوَى هٰهُنَا ، وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْـمُسْلِمَ ، كُلُّ الْـمُسْلِمِ عَلَى الْـمُسْلِمِ حَرَامٌ ، دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Dari Abu Hurairah Radhyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian jangan saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi ! Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya. Takwa itu disini –beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali-. Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya yang Muslim. Setiap orang Muslim, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim lainnya.” (HR Muslim)

Kita coba rinci amalan qolbu dalam hadits ini.

“Kalian jangan saling mendengki”
Dari hadits ini para ulama membikin kitab tentang hasad (dengki), diterangkan secara luas. Ini adalah amalan qolbu yang penting.
Jangan sampai kita SMS (Senang Melihat orang lain Susah) atau (Susah Melihat orang lain Senang).

“Jangan saling najasy” jangan saling menggosipkan.

“Jangan saling benci”
Apalagi yang sedarah, yang ada hubungan darah jangan sampai memutus silaturahim.
Nabi SAW telah bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, (memutus tali silaturahmi)”. [Mutafaqun ‘alaihi].

Hubungan silaturahim ini arti awalnya adalah hubungan darah. Kalau tidak ada hubungan darah namanya Ukhuwah. Tapi di Indonesia kata silaturahim sudah salah kaprah jadi hubungan baik, dipakai untuk hubungan darah ataupun tidak sedarah.

Silaturahim antara saudara sedarah perlu dijaga. Contoh silaturahim yang putus banyak. Anak Nabi Adam bahkan sampai membunuh saudaranya. Disini juga banyak silaturahim antar saudara sedarah yang putus. Ini penyebabnya selalu tiga : Tahta, Harta dan Wanita.

“jangan saling membelakangi !”
Artinya tidak saling menyapa. Bahkan antar saudara kandung, atau punya hubungan darah paman dengan keponakan. Tapi karena masalah politik hal ini bisa terjadi.

“Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain”.
Kalau sedang ada tawar-menawar jangan menyerobot. Tunggu sampai tawar menawarnya beres.
Bentuk lain, jangan saling mengacau dalam jual beli. Misalnya saling membanting harga. Atau mengambil pelanggan orang lain, ini tidak boleh. Demikian hebatnya islam mengatur.

“dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain”.

Hal ini juga dijelaskan dalam Surat Al Hujurat ayat 10 :

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَ صْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 10)

“Maka ia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya”
Maka orang muslim lain yang kesusahan harus diurus.

و من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم

“Dan barang siapa yang tidak perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya maka dia bukan golongan mereka”. (Imam Al Hakim)

Berarti yang tidak peduli pada umat islam lain tidak termasuk umat Nabi Muhammad. Naudzubillahi min dzalik.

“Jangan ditipu dan jangan menghinakannya”
Ini adalah pedoman yang luar biasa dan ini semua adalah amalan-amalan hati.

Orang hasad itukan hati yang berkata ;
“Kok senang ya dia, kenapa bukan aku?” Ada orang dapat rezeki malah dituduh. Ada orang dapat jabatan malah dikira menyogok.
Tidak usah menuduh begitu!
Maka itu hati-hatilah dengan amalan hati.

“Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya yang Muslim”.
“Setiap orang Muslim, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim lainnya.”
Ini semua amalan hati. Kalau tidak bisa mengendalikan hati yang keluar kasar-kasar. Hati ibarat Teko, kalau teko isinya kotor maka yang keluar adalah comberan-comberan.
Mari kita menata hati, menjaga hati dan merawat hati.


BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here