Dr. Drs. H. Rozihan SH, MAg

26 Ramadhan 1442 / 8 Mei 2021



Maslahah Wakaf Muaqqat

Wakaf merupakan salah satu amal berupa infak ke jalan Allah SWT. Al Qur’an menyatakan agar benda yang diinfakkan tergolong harta yang paling disenangi.

Uang itu juga disenangi, tidak ada orang yang tidak suka dengan uang. Kita punya cucu kelas 2 saja sudah senang dengan uang.

Sebagaimana dalam surat Ali Imran ayat 92 :

لَنْ تَنَا لُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِ نَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 92)

Harta yang diinfakkan adalah sebagian.

Ada kejadian di Kendal , orang yang sudah tua tidak punya anak. Dia didatangi Pengacara yang mempengaruhinya dengan ayat ini. Akhirnya hartanya diwakafkan semua sampai dia tidak punya apa-apa. Kemudian ada keponakannya yang menggugat ke Pengadilan Agama. Pengacara tadi menjerumuskan, karena yang boleh diwakafkan adalah sebagian harta, maksimum sepertiga dari harta yang dipunyai.

Sa’ad bin Abi Waqash meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk mewasiatkan dua pertiga hartanya beliau berkata, “Tidak boleh”, Lalu Sa’ad berkata, “Setengahnya”. Rasulullah SAW pun berkata, “Tidak boleh”, Lalu Sa’ad berkata lagi, “Kalau begitu sepertiganya”. Nabi SAW bersabda.

الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ – إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ

“Sepertiga. Sepertiganya itu cukup banyak. Sesungguhnya jika engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga meminta-minta kepada orang lain“. [HR Al-Bukhari Muslim]

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik ..” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 267)

Harta yang diinfakkan maksimum sepertiga agar jangan sampai meninggalkan keturunan yang lemah.

Allah SWT berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَا فُوْا عَلَيْهِمْ ۖ 

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadapnya.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 9)


Wakaf Khairi dalam UU

Di negara-negara muslim termasuk di Indonesia wakaf ahli/ dhurri ditiadakan. Sehingga yang termuat dalam hukum positif hanya wakaf khairi yang menitik-beratkan pada kepentingan umum, seperti masjid, lembaga pendidikan, dan jalan desa.
Indonesia telah mengatur perwakafan secara teratur baik sebelum merdeka maupun setelah merdeka . Bahkan dengan lahirnya UU no 41 tahun 2004 tentang Wakaf, Indonesia telah benar-benar mengatur wakaf dalam hukum positif produk Dewan Perwakilan Rakyat.


Fiqih Wakaf Muaqqat Indonesia

Pada pasal 1 ayat 1 UU no 41 tahun 2004 tentang Wakaf bahwa batas peruntukan wakaf tidak hanya yang Muabbad (selama-lamanya), tetapi dapat dilakukan Muaqqat (ditentukan waktunya). Hal ini telah mengubah aturan Wakaf di Indonesia yang Muabbad sebagaimana dalam PP no 28 tahun 1977 dan Kompilasi Hukum Islam.

Artinya wakif atau keluarganya dapat menikmati kembali harta bendanya (mawquf) , sehingga harta benda dapat dinikmati oleh pihak yang menerima, karena telah mengambil manfaat dari mawquf, bahkan jika dikelola secara baik , hasilnya sudah beranak pinak.
Sementara itu wakif dapat menikmati kembali mawquf , lebih-lebih jika wakif ini terjadi kebangkrutan atau sakit- sakitan dan tidak mempunyai biaya perawatan.

Sementara itu jika wakif telah meninggal dunia ,maka mawquf ini dapat dijadikan sebagai harta tinggalan mayit (wakif) ,lebih-lebih jika keluarganya terjadi kemiskinan, sehingga tidak dapat menikmati pendidikan yang wajar.

Itulah manfaat ganda yang bisa diperoleh dari Wakaf Muaqqat atau wakaf sementara waktu :
– Untuk wakaf itu sendiri dalam jangka waktu tertentu.
– Ditarik kembali ketika ada kepentingan pribadi atau kepentingan keluarga.


Harta Sebagai Wasilah

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَآءَ اَمْوَا لَـكُمُ الَّتِيْ جَعَلَ اللّٰهُ لَـكُمْ قِيٰمًا وَّا رْزُقُوْهُمْ فِيْهَا وَا كْسُوْهُمْ وَقُوْلُوْا لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوْفًا

wa laa tu-tus-sufahaaa-a amwaalakumullatii ja’alallohu lakum qiyaamaw warzuquuhum fiihaa waksuuhum wa quuluu lahum qoulam ma’ruufaa

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya, harta kamu yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 5)

Kaidah amar “al amr bi-al Shay’ amr bi wasailih” (memerintah sesuatu berarti memerintah sarananya)

Kita masih punya anak kecil/ cucu kecil, harta kita tidak tidak boleh kita serahkan kepada mereka karena belum berakal. Tapi harta bisa kita wakafkan untuk sementara waktu, katakanlah 12 tahun, karena cucu itu masih berusia 5 tahun. Nanti setelah anak atau cucu besar ,berusia 17 tahun dan waktunya masuk ke Perguruan Tinggi , harta baru diserahkan untuk bea siswa mandiri dari ayah/kakeknya.
Ini manfaatnya Wakaf Muaqqat.

Al Qur’an mensifati harta benda dengan “al lati ja’ala Allah lakum qiyaman” setelah lafal “wa la tu’tu al sufaha’a amwalakum”.dalam Surat An Nisa ayat 5.

Wahbah Al Zuhayli penulis Kitab Al Fiqh Al Islam wa adillatuhu menjelaskan makna dari lafal “al lati ja’ala Allah lakum qiyaman” dengan pernyataan bahwa harta benda adalah tonggak kehidupan, sebagai penyebab kebaikan kehidupan rumah tangga dan keteraturan segala perkara.

Jangan sampai bahagia di akhirat tapi di dunia tidak bahagia. Tidak betul itu. Harta itu tonggak kehidupan sampai dia disandingkan dengan shalat : “Aqimu shalata wa atuz zakata”.
Artinya kita diperintahkan untuk shalat dan kerja keras supaya bisa membayar zakat.


Batas Maksimal Wakaf

Wakaf Muaqqat ini dapat dilakukan analog (qiyas) dengan pembatasan wasiat atau dalalat an-nas (Hanafiyyah), maksimal 1/3 harta yang dimiliki.

Kalau kita punya rumah 3 dan punya anak 2 maka kita tidak boleh mewakafkan 3 rumah Itu. Yang dua rumah kita serahkan pada anak-anak kita dalam bentuk wakaf dhurri atau hibah. Kemudian yang untuk kepentingan sosial, maksimal sepertiga, yaitu 1 rumah. Tidak boleh seperti yang terjadi di Kendal tadi.


Manfaat Wakaf Muaqqat

Pahala yang akan diterimanya setelah meninggal dunia , yang berasal dari amalnya sendiri.

Manfaat dari keluarganya yang menyedekahkan hartanya (yang dulunya sebagai mawquf) dan pahalanya diperuntukkan wakif (pahalanya untuk bapaknya).

Manfaat doa dari keluarga wakif setelah meninggal dunia, karena keluarganya telah menjadi orang yang saleh , karena mereka dibesarkan melalui pendidikan, yang diantaranya berasal dari harta yang dahulunya dijadikan obyek wakaf.

Manfaat Wakaf Muaqqat itu dalilnya adalah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

“Apabila seorang manusia meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga, yakni sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak saleh yang mendoakannya”. (HR Muslim)

Cara pembatasan muaqqat pada Wakaf harus dilihat benda yang dijadikan obyeknya.
Jika benda tidak bergerak berupa tanah, maka jangan disertifikatkan ke Badan Pertanahan Nasional, sebab akan terjadi perpindahan hak milik untuk selamanya, tetapi dengan pembuatan akta ikrar tanah wakaf yang dibatasi waktunya.

Sedangkan untuk wakaf uang harus ditentukan pada sertifikat muaqqat pada Lembaga Keuangan Syari’ah sebagai diatur dalam Peraturan Perundang Undangan yang berlaku.
Misalnya : Saya wakafkan uang saya 2 Milyard. Ditempatkan di Tabungan. Kalau ditempatkan di Bank Syari’ah bisa dapat bagi hasil 3 juta tiap bulan. Uang ini digunakan untuk kepentingan sosial. Dalam waktu tertentu, katakan 5 tahun uang itu bisa ditarik kembali. Ini namanya Wakaf Muaqqat berupa uang.


Persoalan Fiqih Klasik

1. Kembali kepada Fiqih Klasik, maka terjadi ikhtilaf atau perbedaan pendapat.

Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa Wakaf tidak boleh dibatasi waktunya , sehingga jika suatu benda telah diwakafkan maka benda tersebut sudah lepas dari pemiliknya dan tidak dapat ditarik kembali oleh Wakif. Artinya setelah terjadi Ikrar Wakaf dari Wakif maka langsung terjadi peristiwa hukum yang mengikat (lazim) yang berarti berlaku selamanya. (Muabbad).

Malikkiyah dan Hanafiyyah berpendapat bahwa benda yang diwakafkan belum lepas dari milik wakif, sehingga dapat ditarik oleh wakif sebagaimana pinjaman (ariyah).
Begitu juga benda yang diwakafkan tidak harus miliknya wakif sendiri, tetapi dapat juga dari benda yang disewakan.

2. Wakaf Muaqqat yang terdapat dalam Pasal 1(1) Undang-Undang no 41 tahun 2004 tergolong mukhafazah ala al nasl (memelihara keturunan) dalam tingkatan mashlahah hajiyyah (sekunder) yang berfungsi sebagai penyempurna mashlahah daruriyyah (primer).

Menjaga keturunan maksudnya, supaya ketika ditinggalkan keturunannya tidak menjadi keturunan yang lemah. Lemah ekonominya, lemah pendidikannya karena tidak ada yang dipergunakan untuk membiayai, sementara orang tuanya sudah meninggal dunia.

Maqosidus shariyah tujuan hukum islam itu ada tiga aspek :

– Mashlahah Dharuriyyah : (Primer)
Maslahah dharuriyah adalah perkara-perkara yang menjadi tempat tegaknya kehidupan manusia, yang bila ditinggalkan, maka rusaklah kehidupan manusia, yang bila ditinggalkan, maka rusaklah kehidupan, merajalelalah kerusakan, timbullah fitnah, dan kehancuran yang hebat.

– Mashlahah Hajiyyah : (Sekunder)
Yang dimaksud dengan maslahat hajiyyah adalah persoalan-persoalan yang dibutuhkan oleh manusia untuk menghilangkan kesulitan dan kesusahan yang dihadapi.

– Mashlahah Tahsiniyyah : (tersier)
Maslahah tahasiniyah adalah sifatnya untuk memelihara kebagusan dan kebaikan budi pekerti serta keindahan saja.


Pengembangan Wakaf

Contoh Program Wakaf dari Tabung Wakaf Indonesia , mempunyai tiga Program :
– Program Sosial : Rumah Penyembuhan Terpadu Parung, Layanan Kesehatan Cuma-cuma, Wisma Muallaf, Rumah Baca Lingkar Pena, Beastudi Etos

– Program Terpadu : Program wakaf dalam bentuk niaga, property, perkebunan dll, Pendirian Rumah Cahaya, Wakaf Perkebunan Coklat

– Program Produktif : Pemberian modal pembuatan tahu, Investasi di usaha mikro, Penyertaan modal di BMT, Pengelolaan Wakaf Saham, Peternakan kambing sistem paroan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here