Dr. Drs. H. Rozihan SH, MAg

19 Ramadhan 1442 / 1 Mei 2021



Produk Bank Syari’ah

Pengumpulan Dana :
– Giro Syari’ah
– Tabungan Syari’ah
Keduanya merupakan Wadi’ah.

Penyaluran Dana :
– Akad Mudharabah
– Akad Musyarakah
– Akad Murabahah
– Akad Ijarah
– Akad Ijarah wa Iqtina

Penjelasan

Giro Syari’ah : Simpanan yang mana penarikannya bisa dilakukan sewaktu- waktu dengan memakai biaya / cek Giro , atau lewat pemindah bukuan.
Produk ini hanya ada pada Bank Umum Syari’ah, tidak ada di BPRS.

Tabungan Syari’ah : Simpanan dengan penarikan hanya bisa dilakukan berdasarkan syarat tertentu sesuai kesepakatan , tidak bisa ditarik menggunakan cek Giro.

Akad Mudharabah (bagi hasil) :

Transaksi dengan penanaman dana berasal dari pihak pemilik modal bersama pengelola untuk usaha tertentu sesuai syari’ah, selain itu dengan sistem bagi hasil antara pihak-pihak yang bersangkutan sesuai perjanjian yang sudah disepakati.

Mudharabah bisa Pembiayaan Mudharabah atau Simpanan Mudharabah yang biasa disebut dengan deposito.
Akad Mudharabah yang paling banyak adalah Simpanan Mudharabah dari para Deposan, karena Bank Syari’ah bisa menjual lebih besar. Sehingga mereka yang menempatkan dana deposito di Bank Syari’ah jauh lebih senang karena :

– Tidak ditentukan bagi hasilnya pada awal.
– Bagi hasil bisa turun atau naik.
Dalam kondisi sekarang deposito 100 juta bisa jadi bagi hasilnya 800 ribu. Bisa jadi pada bulan berikutnya naik karena bagi hasilnya dilihat dari keuntungan kegiatan usaha setelah berjalan. Akhir bulan baru dihitung kemudian baru dibagi.

Akad Musyarakah (Penyertaan Modal)

Transaksi dengan penanaman dana berasal dari 2 atau lebih pihak pemilik dana/barang guna menjalankan bisnis tertentu sesuai dengan syari’ah melalui sistem bagi hasil dari kedua belah pihak sesuai perjanjian yang sudah disepakati, apabila pembagian kerugian sesuai proporsi dari modal tiap-tiap pihak. Biasanya berlaku bagi Pembiayaan Property atau yang lain.

Akad Murabahah (Jual Beli)

Transaksi jual beli sebuah barang senilai harga pendapatan barang ditambah dengan margin sesuai kesepakatan para pihak, yang mana pihak penjual memberikan informasi harga perolehan barang terlebih dahulu ke konsumen atau pembeli.

Kalau seseorang membutuhkan pembiayaan kendaraan maka Bank mempersiapkan kendaraan. Kendaraan tidak harus di show room Bank Syari’ah, Bank bisa memberikan Wakalah kepada Nasabah.
Kalau harga dasar kendaraan itu 18 juta, Bank bisa menjual kendaraan 20 juta. Kemudian disepakati mau diangsur berapa kali ? Kalau misal 20 kali maka setiap bulan membayar 1 juta. Kalau sudah setuju maka akad berjalan.

Tapi nasabah yang sudah biasa menggunakan jasa Bank Syari’ah, dia bisa melakukan penawaran. Misalnya 19 juta. Karena plafond yang tidak bisa ditawar yaitu harga dasar kendaraan 18 juta. Kalau disepakati 19 juta dan mau diangsur 20 kali maka tiap bulan membayar 950.000.

Jadi disini tergantung tawar menawar.
Bila Bank menjual dengan harga 30 juta dan tidak ditawar, ada kesan Bank Syari’ah lebih mahal dari pada Bank Konvensional.

Yang membedakan bukan mahalnya, tetapi Akadnya. Akadnya bukan hutang pihutang tapi jual beli.

Ijarah (Sewa)
Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan.

Ijarah wa Iqtina
Pembiayaan barang modal dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak Bank oleh pihak lain.
Istilah ini kemudian berkembang menjadi Ijarah Muntahiyah bit Tamlik, atau dalam bahasa Bank Konvensional disebut Leasing.

Itulah istilah-istilah Akad yang ada pada Bank Syari’ah.


Konsep Pembiayaan Bagi Hasil

– Pembiayaan bagi hasil tidak berarti meminjamkan uang, tetapi merupakan partisipasi dalam usaha.
Orang yang punya usaha UMKM, misal Produsen tahu bisa dibiayai oleh Bank. Bentuknya adalah partisipasi Bank dalam usaha ini. Bagi hasilnya disepakati bersama.

– Investor atau Pemilik dana (dalam hal ini Bank) harus ikut menanggung resiko kerugian usaha sebatas proporsi pembiayaannya
– Para mitra usaha bebas menentukan, dengan persetujuan bersama, rasio keuntungan untuk masing-masing pihak, yang dapat berbeda dari rasio pembiayaan yang disertakan.
– Kerugian yang ditanggung oleh para pihak harus sama dengan proporsi investasinya.
Ini tidak ada dalam Bank Konvensional. Misal nasabah punya dana 40 juta dan Bank 60 juta, bila terjadi kerugian maka masing-masing harus sesuai dengan proporsi investasinya.


Kegiatan Sosial Bank Syari’ah

– Memiliki divisi yang menerima dan menyalurkan zakat, infak dan shodaqoh.
– Memberikan pinjaman kebajikan (Qardhul Hasan). Tidak ada bagi hasil, tidak ada jual beli. Murni pinjaman, berasal dari dana Zakat Infak dan Shodaqoh.
– Menyisihkan sebagian laba untuk kegiatan Sosial Bank Syari’ah.
Kalau di Bank Umum Konvensional mungkin ada CSR.


Alur Operasional Bank Syari’ah

– Dana yang telah dihimpun dimasukkan ke dalam Polling Fund.
– Polling Fund ini kemudian digunakan dalam bentuk Pembiayaan dengan Prinsip Syari’ah
– Dari Pembiayaan ini diperoleh bagian bagi hasil (laba) sesuai kesepakatan awal.
– Keseluruhan pendapatan dari Polling Fund ini kemudian dibagihasilkan antara Bank dengan semua nasabah yang menabung atau menginvestasikan uangnya.
– Bagian nasabah atau hak pihak ketiga akan didistribusikan kepada nasabah , sedangkan bagian Bank akan dimasukkan ke dalam laporan rugi laba sebagai pendapatan operasi utama.

Ini masalah teknis, tetapi yang penting kita tahu Bank Syari’ah ini merupakan Bank Alternatif. Artinya umat Islam Indonesia bisa memilih apakah mau transaksi dengan Bank Syari’ah atau Bank Konvensional.


Fatwa Dewan Syari’ah Nasional

Rujukan Bank Syari’ah adalah kepada Fatwa Dewan Syari’ah Nasional. Fatwanya mengenai :
– Penyaluran dana (Pembiayaan) maupun jasa-jasa Perbankan.
– Kegiatan Akuntansi pada Perbankan Syari’ah.
– Investasi Syari’ah.

Jadi tidak menggunakan fatwa-fatwa ulama yang berpegang pada fiqih-fiqih muamalah, tetapi sudah menggunakan Fatwa DSN. Fatwa DSN sudah dijadikan satu buku. Produk apa saja harus mengacu pada Fatwa DSN.


Fatwa Tentang Giro
No 01/ DSN -MUI / IV/2000

1. Giro berdasarkan bunga

Giro ini tidak dibenarkan secara Syari’ah.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَا لَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَا طِلِ اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَا رَةً عَنْ تَرَا ضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَنْـفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ بِكُمْ رَحِيْمًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 29)

2. Giro berdasarkan Wadi’ah (Titipan)

Giro ini dibenarkan secara Syari’ah

Allah SWT berfirman:

وَاِ نْ كُنْتُمْ عَلٰى سَفَرٍ وَّلَمْ تَجِدُوْا كَا تِبًا فَرِهٰنٌ مَّقْبُوْضَةٌ ۗ فَاِ نْ اَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِى اؤْتُمِنَ اَمَا نَـتَهٗ وَلْيَتَّقِ اللّٰهَ رَبَّهٗ ۗ 

“Dan jika kamu dalam perjalanan sedang kamu tidak mendapatkan seorang penulis, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang. Tetapi, jika sebagian kamu memercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya..”- (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 283)

Kalau Giro sudah dicatat, maka barang tanggungan itu jelas, sifatnya hanya titipan. Tidak ada bagi hasil untuk giro ini.

3. Giro berdasarkan Mudharabah

Giro ini dibenarkan secara Syari’ah :
– Karena dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana, dan Bank bertindak sebagai mudharib atau Pengelola dana.
– Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, Bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya Mudharabah dengan pihak lain.
– Modal harus dinyatakan jumlahnya dalam bentuk tunai dan bukan piutang
– Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening.
– Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional giro dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.
– Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.

Hal ini berdasarkan qiyas transaksi mudharabah, yakni penyerahan sejumlah harta (dana, modal) dari satu pihak (malik, shahib al maal) kepada Pihak Bank (amil, mudharib) untuk diperniagakan (diproduktifkan) dan keuntungan dibagi diantara mereka sesuai kesepakatan. Diqiyaskan dengan transaksi musaqah (dalam Pertanian ada musaqah dan muzaro’ah).

Musaqah itu ketika Petani penggarap, dia menggarap. Bibitnya dari Pemilik lahan. Muzaro’ah petani menanam tapi benihnya dari petani.


Fatwa Tentang Murabahah
No 04/ DSN-MUI/IV/2000

Murabahah adalah Jual beli, ditetapkan dalilnya :

وَاَ حَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا ۗ 

“Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” – (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 275)

Jadi tidak ada kredit hutang, yang ada adalah murabahah atau jual beli.
Misal mau membeli rumah, rumah diappraisal berapa harganya oleh Bank. Kemudian Bank menjual rumah itu dengan harga yang telah ditetapkan. Nasabah bisa menawar seperti pada jual beli.

Pada dasarnya murabahah yang lazim digunakan dalam praktek Perbankan adalah murabahah yang dilakukan secara cicilan. Maka didasarkan atas kebiasaan yang berlaku inilah, fatwa menetapkan kebolehan murabahah secara cicilan.


Fatwa Tentang Pembiayaan Mudharabah
No 7/DSN-MUI/IV/2000

Mudharabah itu menggunakan methode Bayani (text) dari hadits Nabi riwayat Thabrani:

كَانَ سَيِّدُنَا الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ إِذَا دَفَعَ الْمَالَ مُضَارَبَةً اِشْتَرَطَ عَلَى صَاحِبِهِ أَنْ لاَ يَسْلُكَ بِهِ بَحْرًا، وَلاَ يَنْزِلَ بِهِ وَادِيًا، وَلاَ يَشْتَرِيَ بِهِ دَابَّةً ذَاتَ كَبِدٍ رَطْبَةٍ، فَإِنْ فَعَلَ ذَلِكَ ضَمِنَ، فَبَلَغَ شَرْطُهُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَأَجَازَهُ (رواه الطبراني فى الأوسط عن ابن عباس).

“Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (mudharib) harus menanggung resikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah, beliau membenarkannya.” -(HR. Thabrani dari Ibnu Abbas)

Apakah mudharib itu Bank atau Pengusaha. Kalau mudharibnya Bank maka Deposan adalah shohibul maal. Kalau Bank sebagai shohibul maal maka Pengusaha adalah mudhorib yang harus menjalankan usaha.

Kalimat “tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (mudharib) harus menanggung resikonya” ; maksudnya kalau melanggar ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh shohibul maal maka resiko ditanggung oleh mudhorib.

Berdasarkan Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari Shuhaib:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ثَلاَثٌ فِيْهِنَّ الْبَرَكَةُ: اَلْبَيْعُ إِلَى أَجَلٍ، وَالْمُقَارَضَةُ، وَخَلْطُ الْبُرِّ بِالشَّعِيْرِ لِلْبَيْتِ لاَ لِلْبَيْعِ (رواه ابن ماجه عن صهيب)

“Nabi bersabda, ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual.” (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).

Dari analisa, dapat ditarik pengertian bahwa mudharabah diperbolehkan bahkan diberkahi, dengan ketentuan :
– Mudharabah boleh dibatasi pada waktu tertentu
– Kontrak tidak boleh dikaitkan (muallaq) dengan sebuah kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi.
– Pada dasarnya, dalam mudharabah tidak ada ganti rugi, karena pada dasarnya akad ini bersifat amanah (yad al amanah) ,kecuali akibat kesalahan yang disengaja, kelalaian atau pelanggaran kesepakatan.
– Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan diantara kedua belah pihak maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan dalam musyawarah.

Mudharabah untuk usaha individu (Bank sebagai shohibul maal) belum banyak diminati, karena pengusaha tidak mendapat untung banyak.
Misal Bank memberi modal pada pengusaha. Bagi hasilnya 60:40 dimana mudhorib mendapatkan 60. Bila dapat untung 100 juta, Mudhorib hanya berhak 60 juta. Dan yang 40 juta diserahkan Bank.

Maka mereka memilih akad Murabahah, kalau orang memperoleh keuntungan 100 juta, mereka cukup mengeluarkan zakat 2,5% atau 2,5 juta rupiah. Maka produk Pembiayaan Mudharabah belum banyak laku di Bank Syari’ah.


Fatwa Tentang Ijarah
No 9/DSN-MUI/IV/2000

Dasar hukumnya :

Allah SWT berfirman:

وَاِ نْ اَرَدْتُّمْ اَنْ تَسْتَرْضِعُوْۤا اَوْلَا دَكُمْ فَلَا جُنَا حَ عَلَيْكُمْ اِذَا سَلَّمْتُمْ مَّاۤ اٰتَيْتُمْ بِا لْمَعْرُوْفِ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

” Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 233)

Kita punya anak tapi tidak mau menyusui sendiri. Tidak dosa bila menyewa orang lain agar menyusui bayi kita.

Nabi SAW bersabda,

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” -(HR. Ibnu Majah, shahih)

Jadi dari sinilah kemudian Akad Ijarah sah-sah saja. Yang kemudian berkembang adalah Ijarah Muntahiyah bi Tamlik atau Leasing (sewa beli).


Fatwa Tentang Hawalah
No 12/DSN-MUI/IV/2000

Hawalah bermakna mengalihkan atau memindahkan.
Secara istilah berarti pengalihan penagihan hutang dari orang yang berhutang kepada orang lain yang akan menanggung hutang.

Dasar hukumnya

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيٍّ فَلْيَتْبَعْ

Rasulullah SAW bersabda: “Menunda membayar hutang bagi orang kaya adalah kezhaliman dan apabila seorang dari kalian hutangnya dialihkan kepada orang kaya, hendaklah dia ikuti”. (HR Bukhori 2125)


Fatwa Tentang Wakalah
No 10/DSN-MUI/IV/2000

Produk ini produk yang paling populer di Bank Syari’ah. Wakalah adalah tindakan mewakilkan kuasa dirinya (Surat Kuasa).

Ketika orang mau membeli kendaraan, karena kendaraan tidak ada di Bank, maka Bank memberikan kuasa atau Wakalah untuk membeli kendaraan. Nanti kuitansinya diserahkan kepada Bank. Karena ini tidak dilakukan sendiri oleh Bank maka dikerjakan oleh orang yang melakukan Pembiayaan.

Dasar hukumnya

Allah SWT berfirman:

وَكَذٰلِكَ بَعَثْنٰهُمْ لِيَتَسَآءَلُوْا بَيْنَهُمْ ۗ قَا لَ قَآئِلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۗ قَا لُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۗ قَا لُوْا رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ ۗ فَا بْعَثُوْۤا اَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هٰذِهٖۤ اِلَى الْمَدِيْنَةِ فَلْيَنْظُرْ اَيُّهَاۤ اَزْكٰى طَعَا مًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ اَحَدًا

“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, “Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?” Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.” Berkata (yang lain lagi), “Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali menceritakan halmu kepada siapa pun.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 19)

Hadis Nabi :

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ أَبَا رَافِعٍ وَرَجُلاً مِنَ اْلأَنْصَارِ، فَزَوَّجَاهُ مَيْمُوْنَةَ بِنْتَ الْحَارِثِ (رواه مالك في الموطأ)

“Rasulullah SAW mewakilkan kepada Abu Rafi’ dan seorang Anshar untuk mengawinkan (qabul perkawinan Nabi dengan) Maimunah r.a.” (HR. Malik dalam al-Muwaththa’).

Perkawinan juga bisa diwakilkan. Sekarang mewakilkan harus tertulis, dengan wakalah atau Surat Kuasa.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here