KH. Anang Rikza Masyhadi

25 Ramadhan 1442 / 7 Mei 2021



Halal haram itu adalah Perintah pertama kali yang Allah luncurkan kepada manusia, yaitu kepada Nabi Adam a.s dan isterinya Sayyidah Hawa a.s. Ketika mereka tinggal di Surga.
Perintah yang pertama kali itu berupa boleh dan tidak boleh, berupa apa yang mesti dikerjakan dan apa yang dilarang untuk dikerjakan.

Dalam Al Qur’an berkali-kali disebutkan ayat yang berhubungan dengan perintah kepada Nabi Adam a.s. sejak pertama kali

Allah SWT berfirman:

وَقُلْنَا يٰۤـاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَـنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا ۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

“Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat berbagai makanan yang ada di sana sesukamu. Tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!”” -(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 35)

Perhatikan kalimat :
– Boleh makan apa saja yang kalian suka, itu artinya adalah halal. Artinya adalah yang boleh dilakukan.
– Jangan kamu dekati pohon ini. Artinya adalah yang haram atau tidak boleh bagi manusia.
Itulah yang dilakukan pertama kali oleh Allah kepada Nabi Adam a.s.

Perintah halal-haram ini kemudian menjadi kaidah kehidupan. Siapapun dia, selama dia adalah makhluk Allah, namanya manusia, orang itu diatur oleh Allah, diatur oleh Rasulullah, diatur oleh Al Qur’an dan As-Sunnah, apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh. Apa yang halal dan apa yang haram. Apa yang patut dan apa yang tidak patut.

Kalau orang melanggar aturan ini, dia melakukan apa yang dilarang dan dia tidak mengerjakan apa yang diperintah berarti dia menyimpang dari aturan. Menyimpang dari yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang.

Dengan itulah agama itu turun. Agama turun melalui Para Rasulnya. Allah mengirim Para Rasul untuk membawa risalah yang diturunkan oleh Allah untuk kepentingan manusia.

Agama atau risalah itu semua isinya adalah tidak lepas dari perintah dan larangan. Tidak lepas dari apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Oleh karena itu kita sebagai manusia harus menerima. Sebagai makhluk, mau tidak mau tidak ada pilihan untuk menerima apa yang diperintahkan Allah dan apa yang dilarang oleh Allah.

Para Nabi dan Rasul itu diangkat oleh Allah dan diturunkan untuk menjelaskan larangan dan perintah ini. Halal dan haram ini sangat prinsip di dalam kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Maka jangan dianggap sepi apa yang menjadi perintah dan larangan Allah SWT.

Ada sebuah hadits Rasulullah SAW

عَنِ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: (( إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ، لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ،

Dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhuma berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara syubhat (samar-samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui hukum -Nya…. [HR Bukhari dan Muslim].

Bagi kita halal dan haram itu sudah jelas. Al Qur’an sudah mengatakan itu semua. Hadits-hadits Nabi sudah mengatakan itu semua. Lalu didukung lagi dengan penjelasan Para Ulama, kurang apa kita penjelasan tentang halal-haram.?

Maka umat islam yang masih berkutat pada ketidakjelasan halal haram ini kelasnya turun dia. Dia bukan lagi manusia yang beriman, tapi dia levelnya adalah manusia biasa. Orang yang baru belajar halal haram.
Mestinya bagi kita, halal haram sudah selesai. Karena disampaikan oleh Rasulullah, yang halal jelas dan yang haram jelas. Diantara yang halal dan haram itulah sesuatu yang meragukan.

Ada lagi peringatan Rasulullah SAW.

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram“. [HR Bukhari].

Saya tidak tahu apakah zaman ini termasuk zaman yang diingatkan oleh Rasulullah. Hari ini banyak sekali orang yang tidak lagi peduli mengambil sesuatu, memakan sesuatu, memiliki sesuatu. Tidak lagi peduli mana yang halal dan mana yang haram.

Pabrik motor, pabrik mobil, pabrik televisi atau pabrik apa saja kalau membuat produk, pasti dilengkapi dengan manual book atau buku panduan. Itu adalah buku panduan perawatan. Buku itu berisi spesifikasi barang itu dan cara perawatannya.
– Bahan bakarnya solar atau bensin
– Olinya menggunakan kekentalan berapa.
– Sistem penggeraknya bagaimana, dan sebagainya.
Maka kalau mau awet kita harus membaca buku manual itu. Kalau kita tidak baca buku panduan, maka barang itu akan cepat rusak.

Sama dengan manusia. Ketika Allah menciptakan kita sebagai manusia. Allah turunkan buku panduan itu. Bagaimana cara merawat, bagaimana cara menjaga diri, bagaimana supaya kita ini selamat, maka dia harus mengikuti buku panduan itu. Buku panduan itu tidak lain adalah Al Qur’an dan Sunah Nabi. Kalau kita mau selamat, kita mau baik maka kita harus merujuk kepada Al Qur’an dan Sunah Rasul karena itu semua menuntun kita bagaimana cara merawat dan menyelamatkan diri kita.


Prinsip Kaidah Halal Haram

Ada ibadah dan muamalah.
Kaidah ibadah

الأصل في العبادات التحريم

“Al aslu fil ibaadari at tahrim”
hukum asal ibadah adalah haram , kecuali ada Perintah yang membolehkan.

Contoh, kita sholat itu ibadah. Tapi sholat apa? Kalau tidak ada perintah jangan dilakukan. Nanti kita shalat terus. Habis Subuh sholat, padahal dilarang sholat habis subuh sampai matahari terbit.

Kita puasa itu ibadah. Tapi puasa terus tiap hari tidak buka. Tidak sahur sepanjang hari. Itu dilarang karena tak ada perintahnya. Tentu kita harus menguasai Al Qur’an, Hadits dan pendapat para ulama untuk menentukan apakah satu jenis ibadah ini memang ada perintahnya atau tidak. Kalau tidak ada perintahnya jangan dilakukan. Itu dalam ibadah, berbeda dengan muamalah.

Muamalah adalah hubungan horizontal manusia dengan manusia menyangkut semua aspek kehidupan.

Kaidah Muamalah

الأصل في الأشياء الإباحة

“al-ashlu fil asy-yaa-i al-ibahah”
Hukum asal dari segala sesuatu adalah mubah. Kecuali ada dalil yang menunjukkan ada keharaman.

Kaidahnya kebalikan dari kaidah ibadah, maka dalam hal muamalah semuanya boleh kecuali ada larangan.
Memakai Hand phone boleh atau tidak? Ini kan konteks muamalah, jadi boleh. Kecuali bila dalam Al Qur’an dan Sunah dengan tegas melarang dengan tegas penggunaan hand phone.

Kita ngobrol dengan teman sampai jam 12 malam, boleh atau tidak? Boleh karena itu kita berteman, saling kunjung mengunjung. Karena memang tidak ada larangan yang jelas dalam Al Qur’an.

Kalau kita bicara dalam konteks muamalah inilah kaidahnya, silahkan lakukan. Kecuali jelas-jelas larangannya. Tetapi kalau dalam ibadah sebaliknya, jangan lakukan, kecuali jelas-jelas ada perintahnya.

Semua yang ada di langit dan di bumi dan apa yang ada diantara keduanya diciptakan oleh Allah itu sebetulnya untuk kepentingan kita. Allah menciptakan langit, menciptakan bumi, menciptakan binatang, menciptakan tumbuh-tumbuhan, menciptakan gunung, menciptakan air untuk kepentingan siapa ? Bahkan Allah menciptakan matahari, menciptakan bulan untuk kepentingan siapa ? Untuk kepentingan manusia!

Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَـكُمْ مَّا فِى الْاَ رْضِ جَمِيْعًا

“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 29)

Bayangkan manusia hidup tanpa matahari. Bayangkan manusia hidup tanpa air. Bayangkan manusia hidup tanpa hamparan bumi yang luas, tanpa tumbuhan, bahkan tanpa binatang. Semua yang ada dibumi dan semua yang ada di langit diperuntukkan untuk manusia.


Konsep Takshir (Penundukan)

Allah SWT berfirman:

وَسَخَّرَ لَـكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗ 

“Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya sebagai rahmat dari-Nya.” (QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 13)

Jadi manusia itu mulia sekali karena memang semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua ditundukkan untuk kepentingan manusia.

Wilayah keharaman itu sebetulnya sangatlah sempit. Tetapi sebaliknya wilayah kehalalan itu sangat luas.
Allah sering menyebut yang diharamkan. Daging babi dan bangkai diharamkan. Yang disebut yang diharamkan. Sesuatu yang disebut itu berbilang. Sesuatu yang tak disebut itu tak berbilang.

Berarti ayam halal atau tidak ? tidak disebutkan ayam itu halal.
Telur halal atau haram ? halal, karena tidak pernah disebutkan telur.
Kerupuk halal atau haram ? halal, karena tidak disebutkan. Yang disebutkan keharaman oleh Allah tidak banyak.

Nabi Adam dan Siti Hawa boleh makan apa saja, kecuali satu pohon jangan kamu dekati. Itu menunjukkan yang halal jumlahnya tak terbilang, yang haram jumlahnya sangat sedikit.
Celakanya kita ini seringkali terjebak pada yang sedikit itu.

Kenapa harus minum minuman keras yang diharamkan? Padahal Allah menghalalkan banyak sekali minuman-minuman yang lain.
Kenapa kita harus makan daging babi yang diharamkan oleh Allah? Padahal Allah menghalalkan jenis binatang lain yang jumlahnya banyak sekali.

Kenapa harus makan bangkai yang diharamkan oleh Allah, sementara ada banyak makanan, banyak binatang yang bisa dimakan dengan cara disembelih dengan sangat mudah. Itulah sebaiknya halal-haram itu menunjukkan apa yang Allah berikan kepada kita amat sangat banyak. Dan Allah hanya melarang sangat sedikit saja. Sayangnya kita seringkali tergelincir dengan yang sedikit itu.


Kaidah Pertama :
Dalam sesuatu yang halal ada hal yang menjadikan kita tak memerlukan lagi yang haram.


Dengan banyaknya yang dihalalkan oleh Allah tidak ada alasan lagi kita memerlukan yang haram. Allah menghalalkan daging ayam, sapi, kerbau, onta, kambing, ikan-ikanan semuanya dan lain sebagainya.
Ketika Allah menghalalkan semua jenis binatang itu maka hakekatnya kita tidak lagi butuh daging babi.

Allah menghalalkan minuman air putih, air teh, air susu dan semua jenis minuman. Sebetulnya membuat kita tak butuh lagi memerlukan yang haram. Jadi kalau ada orang yang masih mau melakukan yang haram sebenarnya dia kasihan sekali. Karena orang ini miskin sekali dalam perspektif ini.

“Tidak ada sesuatu yang diharamkan kecuali bahwa ia diganti dengan sesuatu yang lebih baik darinya, sebagai alternatif dan menjadikan kita tak perlu lagi kepada yang haram itu”.(Ibnu Qayyim al Jauziyah)

Contoh :
– Islam mengharamkan mengundi nasib / lotere
– Islam mengharamkan riba
– Islam mengharamkan zina dan homoseksual
– Islam mengharamkan minuman keras.

Allah ganti alternatifnya dan lebih banyak.
Kenapa kita dengan undian nasib itu? Allah ganti dengan Do’a & istikharah. Ikhtiar & Tawakal.
– Kenapa kamu tidak coba ikhtiar?
– Kenapa kamu tidak coba bekerja.?
– Kenapa kamu tidak coba melakukan sesuatu?
– Kenapa kamu tidak mengeluarkan semua kekuatan untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan?

Ketika Allah mengharamkan riba. Alternatifnya Allah ganti dengan sesuatu yang halal, yaitu perdagangan.

Allah SWT berfirman:

وَاَ حَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا ۗ 

wa ahallallohul-bai’a wa harromar-ribaa

“Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 275)

Ketika Allah melarang kita zina dan homoseksual, Allah ganti dengan ikatan pernikahan yang halal.
Kenapa berzina? Kenapa tidak nikah sekalian yang halal?
Kenapa harus homoseksual, sementara banyak kaum perempuan.

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗ 

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum 30: Ayat 21)

Kalau bisa membikin keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah, kenapa harus berhubungan sesama jenis? Kenapa harus berzina?

Kenapa harus minum minuman keras itu? Sementara Allah menghalalkan minuman-minuman yang lezat yang banyak sekali.


Kaidah kedua
Sesuatu yang mengantarkan pada yang haram adalah haram.


Islam mengharamkan zina, maka sesuatu yang mengantarkan kita pada perbuatan zina juga haram.
Pornografi, pornoaksi, perselingkuhan, pergaulan bebas, lagu-lagu yang jorok dan lain sebagainya. Karena itu adalah media dan perbuatan yang menjerumuskan kita sedikit lagi akan zina.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَا نَ فَا حِشَةً ۗ وَسَآءَ سَبِيْلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 32)

Larangannya kenapa untuk mendekati? Mendekati saja tidak boleh, apalagi melakukannya. Ketika Allah mengharamkan perzinaan, Allah mengharamkan perselingkuhan, karena perselingkuhan itu sedikit lagi menjadi zina.


Kaidah ketiga
Menyiasati Yang Haram adalah Haram


Kalau yang haram ya haram, tidak usah disiasati lagi. Ada kisah, dulu Allah telah mengharamkan orang-orang Yahudi untuk menangkap ikan pada hari sabtu. Orang Yahudi ini membikin akal-akalan menyiasati aturan ini. Maka dia pasang jaring-jaring itu pada hari jum’at dan mengambilnya pada hari Ahad. Ini menyiasati. Maka itu haram.

Minuman keras itu haram, tapi kemudian disiasati dengan cara apapun supaya halal, tetap haram. Meskipun itu hidangan dimana kita diundang dalam komunitas pluralisme , dengan alasan menghormati tuan rumahpun tetap tidak bisa.
Babi itu tetap haram, meskipun kandungannya babinya sedikit tetap haram. Makanya jangan menyiasati yang haram karena menyiasati yang haram adalah haram.

Rasulullah SAW bersabda:

لَيَسْتَحِلَّنَّ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ بِاسْمٍ يُسَمُّونَهَا إِيَّاهُ.

‘Sungguh, akan ada sekelompok dari umatku yang menghalalkan khamr, mereka menamakannya dengan nama yang mereka tetapkan untuknya” – (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Ini adalah salah satu contoh menyiasati yang haram. Minuman keras itu haram. Mau ganti nama apa saja supaya mengaburkan keharamannya, dia tetap haram.

“Akan datang suatu masa dimana orang-orang menghalalkan riba dengan kemasan jual beli”
Riba tetap haram ,apapun kita siasati mau bolak balik, ganti nama adalah tetap haram.


Kaidah ke empat
Niat baik tidak menghalalkan yang haram.


Kalau kita mencuri sarung, dengan niat untuk disedekahkan kepada orang, supaya orang itu bisa shalat, tidak boleh itu! Karena niat yang baik tidak mengharamkan yang haram.
Mencuri itu haram, tidak bisa mencuri itu menjadi halal karena niat baiknya.

Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، …

“Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja….” (HR. Muslim)


Kaidah ke lima
Hindari yang subhat supaya tidak terjerumus pada yang haram


Usahakan kita selalu ada di sisi yang halal. Jangan sampai ada di sisi yang haram. Dan jangan di tengah. Karena di tengah itu remang-remang, meragukan.

Kaidah-kaidah ini menjadi kaidah kehidupan bagi kita. Dan ini sangat fundamental akan menentukan kita selamat atau tidak. Kalau kita bisa melakukan ini dengan baik kita selamat. Tetapi kalau kita tidak bisa menjalankan perintah dan larangan ini maka kita akan termasuk orang-orang yang celaka.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here