Dr. Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i, MAg

24 Ramadhan 1442 / 6 Mei 2021



Tak terasa kita akan memasuki bulan Syawal. Pesan khususnya akan banyak bicara tentang Syawal. Karena itu kita akan menyajikan hadits-hadits tentang puasa Syawal dengan harapan kita mendapatkan gambaran tentang fadhilah puasa Syawal hingga masyarakat muslim yang telah melakukan puasa Ramadhan masih mengikuti kegiatan puasa berikutnya. Bahkan ada yang sehari setelah tidak berpuasa di bulan Syawal itu, sehingga ada yang tanggal 2 Syawal sudah mulai berpuasa.

Bagaimana sebenarnya gambaran di dalam hadits itu sendiri.?


Hadits Pertama : Puasa 6 hari

Di dalam Hadits Imam Muslim dari Abu Ayyub Al Anshari ada penjelasan :

عَنْ أبِي أَيُّوْبَ اْلأَنْصَارِيِّ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه و سلّم- قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَ أَْتبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَهْرِ

Dari Abu Ayyub al-Anshari –radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam– bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa satu tahun penuh” (HR. Imam Muslim dalam Shahihnya 1164).

Di dalam hadits ini, siapa yang berpuasa Ramadhan lalu diiringi 6 hari di bulan Syawal. Disana tidak ada informasi awal, tengah ataukah akhir.
Yang penting 6 dari bulan Syawal.
Ini adalah salah satu sunah. Suatu perkara yang ada tuntunannya. Sekalipun nanti kita sering kali mengutamakan sunah dari pada yang wajib-wajib lainnya.
Contohnya, ada yang lebih senang mendahulukan Puasa Syawal dari pada menyahur hutang puasanya.


Hadits kedua : Puasa Rabu Kamis

Di kutipan At Tirmidzi, hanya saja hadits ini lemah (karena didalam perawinya ada ulama bernama Al Husain bin Muhammad yang dinilai ulama Majhul) . Hadits ini berbunyi :

حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُرَيْرِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ مَدُّوَيْهِ قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا هَارُونُ بْنُ سَلْمَانَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مُسْلِمٍ الْقُرَشِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَأَلْتُ أَوْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِ الدَّهْرِ فَقَالَ إِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا صُمْ رَمَضَانَ وَالَّذِي يَلِيهِ وَكُلَّ أَرْبِعَاءَ وَخَمِيسٍ فَإِذَا أَنْتَ قَدْ صُمْتَ الدَّهْرَ وَأَفْطَرْتَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَائِشَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ مُسْلِمٍ الْقُرَشِيِّ حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَرَوَى بَعْضُهُمْ عَنْ هَارُونَ بْنِ سَلْمَانَ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ

Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Muhammad Al Jurairi dan Muhammad bin Muddawaih keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin Musa telah mengabarkan kepada kami Harun bin Salman dari ‘Ubaidullah bin Muslim Al Qurasyi dari ayahnya dia berkata, saya telah bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengenai puasa dahr (setahun penuh). Beliau bersabda: ” Sesungguhnya keluargamu memiliki hak atas kamu, berpuasalah pada bulan Ramadlan dan enam hari setelahnya serta setiap hari rabu dan kamis, jika kamu lakukan, maka hal itu sama dengan berpuasa dahr.” Dalam bab ini dari ‘Aisyah. Abu ‘Isa berkata, hadits Muslim Al Qurasyi merupakan hadits gharib. Sebagian ahlul hadits meriwayatkan dari Harun bin Salman dari Muslim bin ‘Ubaidullah dari ayahnya. (HR Tirmidzi 679)

Rasul pernah ditanya tentang puasa sepanjang masa. Maka Nabi memberikan jawaban yang sifatnya jangan begitu, sesungguhnya keluargamu punya hak atas kamu.
Jadi Nabi memberikan semacam warning : Jangan begitu, kamu kesannya mencari enak sendiri untuk kebagusan sendiri sementara kamu dipundakmu ada tanggung jawab terhadap keluargamu.
Solusinya Nabi menyarankan puasa setiap hari Rabu dan Kamis.


Hadits Ketiga : Puasa Setahun

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)

“Barangsiapa yang berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka seperti berpuasa setahun penuh. Barangsiapa mengerjakan satu kebaikan, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat.” (HR. Ibnu Majah no. 1715. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Memahami hadits ini harus memanfaatkan mathematika. Kalau Puasa Ramadhan 30 hari ditambah 6 hari, menjadi 36 dikalikan 10. Maka hasilnya menjadi 360 setara dengan satu tahun. Oleh karena itu sebenarnya ini sudah merupakan jawaban.


Hadits Keempat : Puasa Syawal mengganti Puasa bulan Haram.

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، أَنَّ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ، كَانَ يَصُومُ أَشْهُرَ الْحُرُمِ ‏.‏ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ‏ “‏ صُمْ شَوَّالاً ‏”‏ ‏.‏ فَتَرَكَ أَشْهُرَ الْحُرُمِ ثُمَّ لَمْ يَزَلْ يَصُومُ شَوَّالاً حَتَّى مَاتَ

Seperti diceritakan dari Muhammad bin Ibrahim, Usamah bin Zaid terbiasa puasa di bulan-bulan Haram. Rasulullah SAW kemudian berkata, “Puasalah di Bulan Syawal.” Lalu dia melaksanakan puasa tersebut hingga akhir hayat. (HR Sunan Ibnu Majah)

Tetapi dalam hadits ini tidak dijelaskan berapa hari puasanya.


Hadits Kelima : Puasa Rabu, Kamis, Jum’at

Di dalam hadits riwayat Imam Ahmad, hanya saja ini termasuk hadits dhoif, karena ada sosok yang tidak dikenali disana. Sosok Arif orang bijak dari kalangan Quroisy. Dia siapa itu tidak jelas. Kalau dalam ilmu hadits riwayat ini dinilai lemah karena ada nama yang tidak jelas.

Terjemahan haditsnya adalah :
“Siapa yang berpuasa Ramadhan juga Syawal dan hari Rabu, Kamis, Jum’at maka masuk Surga”

Ini supaya kita kaya akan informasi bahwa hadits tentang Puasa Syawal itu tidak sendirian. Tetapi mengiringi beberapa sunah-sunah puasa lain, ada puasa Rabu, Kamis, Jum’at.
Kalau kita memperhatikan hadits ini juga bisa dimaknai sebenarnya masih dalam satu bulan Syawal itu.

Kalau kita perhatikan boleh jadi ini adalah Rabu, Kamis, Jum’at itu adalah 3 hari berurutan. Boleh jadi ini adalah yang kita kenal ayyamul bidh itu – hanya disebutkannya pada Rabu, Kamis, Jum’at, karena ada kemungkinan harinya pas itu. Tapi itu interpretasi saya.


Hadits Keenam : Puasa Setahun

Hadits Riwayat Imam Ahmad bin Hambal dari Tsauban :

Terjemahan Hadits
“Barang siapa berpuasa Ramadhan sebulan sama dengan puasa 10 bulan. Dan, puasa 6 hari setelah Iedhul Fitri maka itu adalah kesempurnaan , sama dengan puasa setahun.” (HR. Ahmad).

Karena memang satu kebaikan dikalikan 10, maka 1 bulan Ramadhan punya bobot sama dengan 10 bulan. Dua bulannya lagi ditutupi dengan puasa 6 hari. Puasa 6 hari dikali 10 sama dengan 60 hari atau 2 bulan. Jadi kalau tadi sudah 10 bulan ditambah 2 bulan, Total setahun. Lagi-lagi ini pendekatan mathematiknya harus jalan.


Hadits Ke Tujuh

Dalam hadits riwayat Ad Darimi, ini juga sama dari Tsauban.

Terjemahan Haditsnya sebagai berikut :
“Rasulullah SAW bersabda, Puasa satu bulan dibalas dengan 10 bulan. Sementara 6 hari setelahnya itu dibalas sebagai pahala 2 bulan. Maka itulah kesempurnaan 1 tahun, yaitu 1 bulan Ramadhan diikuti dengan 6 hari setelahnya”.


Hadits Ke Delapan : Larangan Puasa Terus Menerus

Dari Abdullah bin Amru bin Ash

Terjemahan Hadits :
Suatu saat Rasulullah SAW mengasi wejangan kepada Abdullah bin Amru Bin Ash : “Wahai Abdullah bin Amru aku simak kamu berpuasa dahr (selamanya). Dan kamu melakukan shalat malam terus. Kalau itu kamu lakukan berarti kamu telah membebani diri, membuat kamu lelah sendiri”.
Maka kata Rasulullah : “Tidak ada puasa bagi orang yang melakukan puasa terus menerus”.
Sebenarnya puasa satu tahun itu cukup dilakukan 3 hari saja dari setiap bulan.

Lalu Abdullah bin Amru bin Ash berkata : “Aku masih lebih kuat dari itu ya Rasulullah”. Rasulullah SAW berkata : “Berpuasalah dengan Puasa Daud. Sehari puasa, sehari tidak”.
“Tetapi kalau sudah perang jangan lari”.

Makna dibalik pernyataan Nabi tadi : Kalau sudah ditekadi jangan mundur. Lakukan saja. Puasa sunah dari Abdullah bin Amru bin Ash cenderung over, menghabiskan waktunya hanya untuk Puasa dan Shalat malam. Tetapi Nabi mencoba menengahi agar tidak ekstrim seperti itu. Sebagai gantinya kalau ingin mendapat pahala satu tahun utuh, karena dalam amalan islam satu kebaikan dilipatkan 10 kali. Maka puasa 3 hari sudah cukup mewakili sebulannya. Tapi karena dia merasa kurang, maka dia disuruh Puasa Daud

Sebenarnya Nabi tidak menganjurkan Puasa Daud, ini konteksnya adalah orang yang minta lebih. Dalam riwayat yang lain dikatakan : “Lebih dari itu jangan”. Artinya kita dilarang melampaui Puasa Daud.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here