Hajriyanto Y Thohari
(Dubes RI di Beirut)

9 Syawal 1442 / 21 Mei 2021



Perang Melawan Terorisme

Tanggal 11 September 2001 terjadi peristiwa teror Gedung WTC di Amerika. Kemudian Amerika yang pada waktu itu dipimpin Presiden Bush menyatakan perang melawan terorisme “A war against terrorism”
Negara-negara Arab banyak yang dikaitkan dengan terorisme. Seperti Sudan, yang baru dicabut kemarin setelah mau melakukan normalisasi dengan Israel, dicabut statusnya sebagai negara teroris.

Tahun 2016, Israel menyatakan bahwa pokoknya Yerusalem itu harus jadi milik Israel. Itu mimpinya Israel.
Tahun 2017, Amerika memberikan apa yang menjadi mimpi Israel itu. Karena Amerika memberikan pengakuan Yerusalem itu menjadi ibukotanya Israel. Jadi Yerusalem diberikan kepada Israel.

Yang bermimpi Israel, yang menyerahkan Amerika. Bahkan Amerika memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Kalau namanya adi daya dunia tunggal memindahkan itu, yang lain-lainnya akan ikut. Terutama aliansi-aliansinya. Dan tidak ada lagi yang ditakuti, bahkan takut kalau tidak memindahkan. Negara muslim di Eropa yang namanya Kosovo juga memindahkan.

Setelah menyerahkan Yerusalem kepada Israel, berarti Amerika menabrak keputusan LBB yang menyatakan Yerusalem kota internasional. Lalu Dewan Keamanan PBB tahun 1967 setelah perang 6 hari menyatakan status Yerusalem itu nanti dirundingkan dulu. Tetapi Amerika menyerahkannya. Dia Super Power tunggal yang berkuasa di dunia .

Bulan Januari tahun 2020, Amerika menelorkan proposal Perdamaian, namanya Peace to Prosperity (P to P) . Di section 2 ada satu setengah halaman, lalu di section 5 , enam halaman dalam dokumen setebal 181 halaman, disitu mengokohkan bahwa Yerusalem punyanya Israel dan tidak akan terbagi (undivided Yerusalem).

Agustus 2020 menandatangani Abraham Accord atau Kesepakatan Ibrahim. Ini adalah P to P , oleh media sering disebut Deal of the Century, Kesepakatan Terbesar Abad ini. Amerika itu mau mempackage apa-apa kan jagoan.

Amerika membuat apa-apa berhasil.
Membuat celana Jeans saja berhasil, kita semua memakai celana Jeans. Buat Harley Davidson jadi, membuat film ditonton di seluruh dunia. Buat KFC itu dipelosokpun ada KFC. Itulah Super Power.

Abraham Accord ditandatangani di Gedung Putih oleh UEA dan Bahrain. Artinya mulai normalisasi, damai dengan Israel. Kemudian diikuti oleh Maroko, Sudan. Dulu tahun 1979 Mesir dan tahun 1994 Yordania.

Tahun 2021 Presiden Amerika ganti. Orang berharap Presiden baru Amerika menjadi antithesis presiden lama, ternyata sama saja.

Jadi sampai hari ini kekuatan riil nyata di Timur Tengah, di Dunia Arab itu Amerika tidak ada satupun yang melawan. Janganpun melawan, paling hanya Iran yang menggoda Amerika. Iran membuat pernyataan ini itu, tetapi juga hanya berhenti di pernyataan saja. Katanya mau membalas Amerika, tapi ya tidak ada realisasinya, mau balas pakai apa?

Maka kalau Palestina mau merdeka sekarang ini, sebetulnya maunya Amerika. Cuma Amerika ini tidak adil, tidak fair. Malahan terus berpihak luar biasa kepada Israel.

Bagi yang belajar ini perlu diteliti, ada apa sebetulnya ?, Kenapa Amerika sudah jadi kebudayaannya mendukung Israel.? Katanya pengaruh dari orang Yahudi di Amerika besar. Tetapi orang Arab di Amerika juga besar.
Meskipun jumlahnya sudah hampir sama, tetapi di Bisnis dan Politik belum sama. Tetapi sudah ada Arab yang menjadi anggota Konggres.

Saya melihatnya ini adalah soal Kebudayaan dan juga Opini. Ini canggih untuk membangun opini. Ini bukan hanya Presiden Amerika, rakyatnya sebetulnya juga begitu.
Ini aneh dan lucu. Maka perubahan sikap rakyat Amerika diperhatikan dunia. Akhir-akhir ini ada demo sekarang ini. Itu lumayan, ada sebuah perkembangan baru.


Motif Kebijakan Amerika di Timur Tengah

Kalau ingin mengatakan secara singkat, ini ringkasan saya yang debatable , tetapi saya ambil dari membaca beberapa journal dari Periset – Periset tentang kebijakan Amerika di Timur Tengah. Motif Amerika terlibat di Timur Tengah, di Dunia Arab itu ada lima.

1. Pengamanan Akses Terhadap Minyak

Platformnya, atau landasan berpijaknya dari lima hal itu adalah soal akses terhadap minyak. Amerika tidak ingin aksesnya terhadap minyak itu terganggu. Karena Amerika itu kalau tidak ada minyak dia lumpuh.

Super Market itu karena minyak. Orang menuju ke Super Market untuk belanja naik mobil pakai minyak. Orang mau naik pesawat terbang, kapal semua pakai minyak. Jadi Amerika sangat tergantung pada minyak. Maka dia tidak ingin kebutuhannya terhadap minyak terganggu.

2. Dukungan dan Proteksi atas Israel.

3. Pengamanan Basis-Basis dan Pangkalan militer AS di Timur Tengah.

4. Mempertahankan rezim-rezim yang berkuasa di Negara-Negara Arab sehingga tetap menjadi aliansi setianya.

5. Membendung gerakan radikalisme dan Terorisme Islam. (Lihat Rabie. M, 2004. Al Sarhan 2017).

Ini laksana “Pancasila”-nya Politik Luar Negeri AS di Timur Tengah , dimana sila utamanya : Melindungi Israel.
Sila Melindungi Israel itulah yang memimpin Sila-Sila lainnya.

Dalam konteks seperti itu, kira-kira terjadinya “perang” sekarang ini yang baru gencatan senjata.
Kalau diperhatikan seperti hal yang rutin terjadi setiap 4-5 tahun sekali. Selalu terjadi seperti itu. Mungkin itu latihan perang tentara Israel, untuk kesamaptaan, latihan perang, menyerang orang supaya tetap siap. Juga mungkin untuk mencoba senjata- senjatanya. Semau-maunya karena sedang menang.

Mungkin juga untuk memutar lagi Pembangunan Tepi Barat khususnya Gaza sehingga Set-back 10 tahun ke belakang. Kalau saudara-saudara pergi ke Tepi Barat di Gaza, pembangunan infra struktur itu lumayan. Orang-orang Palestina meskipun tertekan , dijajah seperti itu, tidak punya Tentara tapi justru anggarannya bisa untuk membangun. Lumayan kemajuannya di Gaza di tepi Barat !

Dengan perang seperti kemarin, Gaza dan Tepi Barat mundur lagi ke 10 tahun sebelumnya. Nangis kalau melihat itu!
Tetapi kemarin itu bisa bertahan dua minggu itu luar biasa. Bandingkan dengan Perang Arab – Israel tahun 1967 yang hanya berlangsung 6 hari. Padahal perang itu diikuti oleh rakyat Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah dan Mesir.

Arab kalah total, hanya mampu bertahan 6 hari. Arab kehilangan wilayah, kehilangan tentara, kehilangan pesawat-pesawat Tempur.
Bahkan Pesawat Tempurnya Mesir belum terbang sudah disikat di bandaranya.

Akhirnya Mesir kalah dan kehilangan Gurun Sinai. Suriah kehilangan Dataran tinggi Golan, sampai sekarang masih dikuasai oleh Israel. Yordania kehilangan Tepi Barat. Palestina kehilangan Yerusalem. Yerusalem dikuasai Israel dan cuma disisakan sedikit di daerah Yerusalem Timur.

Sekarang Mesir karena berdamai dengan Israel, Gurun Sinai diserahkan kembali. Luas sekali Gurun Sinai itu, karena mau damai dikembalikan.
Datarin tinggi Golan belum dikembalikan, sekarang masih dikuasai Israel, padahal itu milik Suriah. Yerusalem juga. Malah sekarang bukan hanya Yerusalem Barat yang diambil Israel. Sekarang sudah sampai ke Yerusalem Timur.

Jadi Palestina itu kalau mau berunding apa yang mau dirundingkan? Karena wilayahnya sudah banyak yang diambil Israel. Tepi Barat itu sudah ada 260 ribu pemukiman Israel. Setiap buat pemukiman dibuat pagar T Wall yang 7-8 meter tadi. Angka itu 4 tahun yang lalu, sekarang mungkin sudah 350 ribu atau 400 ribu pemukiman baru.

Palestina sudah digerogoti dari dalam, sudah habis! Sekarang Yerusalem juga sudah dikasihkan oleh Amerika kepada Israel dengan memindahkan Kedutaannya. Akhirnya tidak ada yang bisa dirundingkan.

Habis, tinggal jalur Gaza. Gaza itu panjangnya cuma 40 km. Kira-kira hampir sepanjang Jalan Tol Jakarta Bogor, dan lebarnya ada yang 8 km dan ada yang 6,5 km. Itu semuanya ditembok T Wall dengan CCTV. Ibaratnya orang punya mesin jahit saja ketahuan. Jangankan mesin perang, mesin jahit saja diketahui.

Karena itu tadi saya katakan, Perang yang asimetris. Tapi karena pintar dan canggihnya mengemas informasi sampai orang membuat seimbang : Konflik, atau Perang!

Seakan-akan dua negara.
Bahkan ada yang mau bersikap netral!
Bahkan ilmuwan ada yang netral.
Lucu lagi yang netral itu ahli Ilmu Sosial, Antropology. Ilmu Antropology itu ilmu yang biasanya membela kaum underdog. Karena yang diteliti biasanya Pengemis, Pemulung, Tukang Becak.

Biasanya orang-orang ahli Ilmu Antropology itu membela Underdog, ini ilmuwan malah membela yang kuat, itu aneh. Itu karena pintarnya mengemas informasi.

Sekarang sudah gencatan senjata. Pertempuran 11 hari itu luar biasa. Bayangkan tadi negara perang saja cuma bertahan 6 hari. Ini Gaza digempur habis-habisan, dengan Pesawat Tempur, dengan Drone dengan segala macam. Wilayah yang cuma jalan Tol Jakarta Bogor.
Pesawat Tempur kalau terbang suka kebablasan ! Karena begitu dekatnya. Memang hancur-hancuran, tetapi bertahan 11 hari! Itu luar biasa.

Kenapa bisa bertahan sekian lama? Karena Bangsa Palestina itu mengalami penekanan sejak tahun 2016 tadi. Ketika Amerika memutuskan berbagai kebijakan yang sangat merugikan dirinya. Sudah merasa dizalimi, lalu beberapa negara Arab menormalisasi hubungan dengan Israel. Dia merasa ditinggalkan, tidak berdaya. Habis- habisan!

Akhirnya semangat bertahan : “MATI YO WIS, ORA YO WIS” – kalau dalam bahasa Jawanya.

Orang Palestina itu hebat , 75 tahun lebih bertahan kalau dihitung dari awal-awal tahun 40 an. Kemudian berdirinya Israel tahun 1948 berarti hampir 80 tahun. Bisa mempertahankan semangat perlawanan seperti itu sudah luar biasa. Sudah sampai generasi ketiga.

Saya bayangkan apa mereka menyelenggarakan Penataran seperti kita Penataran P4 ? Atau 4 Pilar Negara supaya cinta Tanah Air ? Semangat berjuang tetap menyala- nyala untuk mentransmisikan dan mensosialisasikan nilai-nilai Nasionalisme, Patriotisme, Cinta Tanah Air itu bagaimana caranya ?
Mereka bisa! Sungguh mengagumkan.

Dunia sudah mulai ada yang jenuh, yang membela juga jenuh, yang membantu juga jenuh, bahkan dicekoki dengan informasi yang macam- macam. “Kita netral saja, itu urusan orang Arab dan orang Yahudi , jauh juga” ..dan sebagainya.

Republik Indonesia alhamdulillah, kita jangan sampai punya pandangan yang meremehkan negara kita.
Indonesia masih jauh lebih konsisten daripada negara-negara Arab. Indonesia itu sampai sekarang tidak mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel walaupun yang membujuk banyak. Yang menekan juga ada, tapi bertahan.

Turki itu galaknya bukan main kalau ngomong, padahal dia membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Ada kantor Kedubesnya.
Iran yang juga galaknya bukan main, dulu pada waktu Shah Iran ada hubungan diplomatik. Setelah revolusi tahun 1979 diputuskan lagi hubungan diplomatiknya. Tidak tahu nanti kalau ganti penguasa lagi, bisa berubah lagi hubungan diplomatiknya.

Indonesia konsisten, hebat itu. Dari sudut itu kita harus angkat topi dan terus mendukung. Supaya jangan sampai “mblendre”, tetapi supaya konsisten dan komitment dengan itu.
Menteri Luar Negeri kita juga sangat aktif, kemarin terbang ke PBB dan pidatonya sangat keras, artinya konsisten.

Menlu mengatakan bahwa apa yang terjadi bukan konflik, bukan perang konvensional tapi perang yang asimetris. Israel itu negara, Palestina dan Hamas itu bukan negara, dia Ormas.

Karena itu dalam sidang Majelis Umum PBB tanggal 20 Mei 2021 Menteri luar negeri Retno Marsudi menegaskan kembali Penjajahan Israel terhadap Palestina harus segera diakhiri. Pemilihan terminologynya saja berani bukan konflik tapi Penjajahan adalah issue utama.

Masyarakat Internasional berhutang kepada Bangsa Palestina karena :
Masyarakat beradab setelah Perang Dunia kedua akan menciptakan tata dunia baru yang lebih adil.
Segala macam pidato yang indah-indah diucapkan Barat :
– Hak Azasi Manusia
– Hak untuk menentukan nasib sendiri
– Declaration of Human Rights
– Declaration of Independence dan sebagainya.

Macam-macam ucapan muluk-muluk, “We are The World”, Kita adalah satu bumi …indahnya bukan main.
Ini menjadi hutang bagi kita dan penjajahan agresi Israel atas Palestina bukan saja pantas dikecam tetapi itu pelanggaran berat Hukum Internasional.

Menlu Retno juga menyampaikan Indonesia meminta Majelis Umum PBB mengambil langkah menghentikan Kekerasan dan aksi militer Israel untuk mencegah makin banyak korban jiwa , sudah di atas 100 nyawa, yang luka tidak terhitung, kerusakan luar biasa, segera harus dibuat gencatan senjata.

Karena jumlahnya tidak seimbang, karena memang perang tidak seimbang. Perang antara Negara dengan Ormas. Ormasnya tidak punya senjata, itu bukan perang tapi Pembunuhan, Genosida (ethnic cleansing) kalau dibiarkan.

Maka Indonesia mengusulkan :

1. Penempatan pasukan Perdamaian. Dan melindungi status Masjidil Aqsha

2. Memastikan akses kemanusiaan dan perlindungan rakyat sipil.
Harus dibuka kalau Israel tidak bisa dimintakan untuk membuka, tidak akan bisa mengirimkan bantuan. Lewat mana? Ini yang sangat penting.

3. Mendorong dimulainya perundingan lagi, multi lateral yang credible.
Amerika harus ditekan, jangan begitu. Sekarang dia tak ada lawannya, dulu lawannya Soviet, sudah rontok.

Supaya ada kemerdekaan harus dengan perundingan. Cuma perundingan ini tidak sama kuatnya. Kalau yang satu sudah tak mau berunding saja sudah susah.
Alhamdulillah sekarang sudah gencatan senjata. Artinya kalau gencatan senjata dipatuhi, setidak- tidaknya korban jiwa berkurang.

Jika Palestina di bom terus bagaimana ? Tidak bisa membalas.
Jangankan di Gaza, Israel itu pesawat tempurnya membombardir Suriah juga tidak bisa dibalas. PM Lebanon melaporkan perkembangan situasi dalam waktu 4 bulan terjadi 1867 pelanggaran yang dilakukan Israel, dan tidak bisa bertindak apa-apa. Dronenya beterbangan kesana kemari tak ada yang bisa menindaknya.

Jadi keadaan di beberapa negara Arab itu situasinya seperti itu. Jangan dibayangkan mereka maju. Mereka negara yang kuat diembargo tidak bisa beli senjata. Negaranya dikacau terus. Tidak punya uang, sampai rakyatnya banyak mengalami kesulitan.

Di Irak itu setelah invasi, negara yang sangat kaya minyak itu jumlah kemiskinannya makin besar.
Suriah juga diembargo. Mobil yang ada mobil tua-tua karena mobil baru tidak bisa masuk. Akhirnya mobil paling baru itu mobil 15-20 tahun yang lalu. Kadang-kadang nggak bisa berjalan karena bannya enggak ada rodanya. Beli ban tidak bisa masuk karena diembargo. Iran itu juga diembargo.

Dulu Irak diembargo 12 tahun. Dalam masa 12 tahun itu saya berkunjung kesana tiga kali. Melihat mobilnya makin lama makin tua karena tidak ada mobil baru. Rodanya makin lama makin halus.


Nasionalisme Harus Seimbang dengan Peri Kemanusiaan

Setelah gencatan senjata, bantuan ibarat bencana Alam, habis Gempa bumi atau Tsunami. Pasca darurat sekarang. Sekarang untuk rehabilitasi dan recovery. Bangunan-bangunan yang rusak, Sekolah-sekolah yang rusak, Rumah Sakit-rumah sakit yang rusak, jalan-jalan yang rusak dan sebagainya.

Hunian-hunian yang rusak, ya kita harus membantu. Sesuai dengan kemampuan kita. Dengan tanpa harus melupakan bantuan-bantuan untuk saudara-saudara kita sendiri di Tanah air. Itu juga memerlukan bantuan.

Walhasil betapa besarnya pintu surga bagi kita sekalian karena peluang untuk membantu banyak pihak. Dan ini tidak harus dipertentangkan.
Orang tidak boleh mempertentangkan ini yang di dalam atau di luar negeri? Kalau bisa membantu dua-duanya itu bagus! Kenapa mesti memilih? Dan kemudian memilihnya dengan mengabaikan kemanusiaan.

Bung Karno dulu ketika pidato kelahiran Pancasila mencanangkan tentang Persatuan Indonesia, dulu menyebutnya Nasionalisme Kebangsaan. Bung Karno khawatir kalau terlalu menekankan pada Nasionalisme nanti mengabaikan Kemanusiaan universal. Nanti bisa menjadi Nasionalisme yang Chauvinistic, yang mengabaikan bangsa lain.

Maka Bung Karno membuat keseimbangan Nasionalisme dan Internasionalisme. Atau Peri Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dan Persatuan Nasional. Jangan sampai Persatuan Nasional mengabaikan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Tapi juga jangan sampai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab itu kemudian mengabaikan negaranya, karena itu berkeseimbangan.

Kita bisa melakukan itu semua, dan sebagai orang Islam kita harus adil ,tidak boleh kita justru berpihak kepada yang kuat yang melakukan penindasan dan penjajahan. Kaum Intelektual dan terpelajar mestinya lebih Pro kepada yang underdog.

Kalau ada mobil bertabrakan dengan orang yang berjalan kaki polisi selalu membuat dalil pertama : Mobilnya yang salah. Karena bagi yang besar itu tidak cukup hati-hati! Tetapi juga harus memperhatikan ketidak-hatihatian orang lain. Orang yang berjalan tidak mungkin disalahkan bila ketabrak mobil.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here