Hajriyanto Y Thohari
(Dubes RI di Beirut)

9 Syawal 1442 / 21 Mei 2021




Kekuasaan memproduk Pengetahuan

Kita perlu mengikuti berita-berita, perkembangan yang terjadi di Palestina, baik di Yerusalem, di Tepi barat maupun terutama di Gaza. Kita perlu membuka akses kemana-mana terutama ke sumber-sumber literature untuk semakin lebih memahami bagaimana sebetulnya yang terjadi di Palestina dibawah penjajahan Israel.

Apalagi dalam suasana perang informasi seperti sekarang ini, pemahaman kita terhadap sejarah dengan segala latar belakangnya itu penting oleh karena opini publik itu akhirnya akan sangat diwarnai oleh wacana- wacana yang berkembang di media, baik media cetak, media elektronik, media on line juga media sosial yang akhirnya kalau kita membiarkan saja berbagai opini berkembang maka bisa jadi sesuatu yang salah karena dijejalkan setiap hari akhirnya menjadi suatu kebenaran.

Bukan hanya informasi, bahkan sering kali juga seperti theorinya Michel Foucault , Pengetahuan itu diproduk oleh kekuasaan. Power itu memproduksi Pengetahuan. Dan itu sekarang menjadi kenyataan. Power atau Kekuasaan itu dimiliki oleh siapa dan akhirnya ilmu pengetahuan karena dihasilkan oleh kekuasaan, dan relasi kuasa dan pengetahuan itu akhirnya begitu ditentukan oleh Power. Dan relasi kuasa tidak harus selalu bersifat koersif memaksa, tapi bisa juga bersifat dominatif.

Jadi didominasi oleh informasi- informasi , pengetahuan-pengetahuan, theori-theori tertentu akhirnya orang karena terdominasi kemudian mengikuti itu. Tetapi bisa juga lebih halus lagi yaitu hegemoni. Orang terpaksa tapi sebetulnya dia tidak merasa dipaksa, merasa itu pilihannya, padahal itu karena terhegemoni.
Karena itu kita penting sekali terus mengakses sumber-sumber informasi. Dan lebih daripada itu kemudian mempelajari itu semuanya.

Bangsa Palestina yang dikenal sebagai korban, karena kepandaian mengemas informasi dan kemudahan mengkonstruksi pengetahuan. Karena kekuasaan, kata Foucault kuasa itu memproduk pengetahuan itu bisa terbalik. Dan itu pentingnya pengetahuan karena itu maka umat islam selalu dianjurkan, bahkan diperintahkan oleh agamanya untuk belajar tidak mengenal berhenti, untuk mendengar semua informasi. Kemudian memilih mana yang terbaik.

Allah SWT berfirman:

 فَبَشِّرْ عِبَا دِ (17) الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗ ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ هَدٰٮهُمُ اللّٰهُ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمْ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ (18)

“sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku,
(yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal sehat.”- (QS. Az-Zumar 39: Ayat 17-18)

Kita harus eklektik, terbuka terhadap informasi. Tidak cukup hanya terbuka atau eklektik terhadap informasi, tapi kemudian mereka mengikuti mana yang terbaik diantara informasi, perkataan, opini, wacana, tulisan, theori. Mereka itulah orang yang mendapat petunjuk dan berakal sehat.

Jadi penting sekali kita mengisi panggung- panggung. Tidak boleh panggung-panggung itu dibiarkan kosong, karena akan diisi oleh orang lain yang membawa kepentingannya masing-masing. Karena itu maka harus aktif.

Salah satu aspek yang sangat penting dari Pengajian seperti ini adalah kita mengisi panggung-panggung, sehingga nanti selesai acara kita lebih promotif, lebih mempromosikan diri, termasuk lebih aktif, lebih proaktif bahkan lebih agresif.

Agresif secara fisik, secara aktivitas kita harus lebih agresif, tidak boleh diam-diam saja, tapi juga agresif secara finansial. Berinfak itu juga harus agresif, karena yang berinfak bukan hanya orang yang beriman. Orang yang tidak beriman, orang kafir juga berinfak!

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنْفِقُوْنَ اَمْوَا لَهُمْ لِيَـصُدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menginfakkan harta mereka untuk menghalang-halangi orang dari jalan Allah…,” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 36)


Gerakan Solidaritas Palestina dan Politik Timur Tengah

Tema ini sangat penting, memang kita perlu sekali untuk terus menggalang solidaritas bagi bangsa Palestina.
Solidaritas dalam panggung-panggung itu tadi, solidaritas dalam wacana, karena dimana-mana sudah mulai ada wacana-wacana tandingan. Setidak- tidaknya ada upaya untuk membawa kita ke arah netral saja. Itu cuma orang perang rebutan tanah dan sebagainya.

Tidak begitu ! kita berada pada posisi berpihak. Kita perlu menggalang solidaritas, baik solidaritas dalam pengertian solidaritas sosial, solidaritas politik, tapi juga solidaritas dalam pengertian finansial kepada bangsa Palestina. Dan itu semua kita lakukan karena pemahaman yang baik tentang Politik Timur Tengah.

Politik Timur Tengah memang tidak sederhana, tidak simple seperti politik ditempat-tempat lain, itu sangat komplex ,tetapi di Timur Tengah itu lebih komplex lagi. Karena di Timur Tengah itu politik bercampur dengan siasat, dengan muslihat.

Maka orang Arab itu menerjemahkan kata Politics dalam bahasa Inggris , terjemahannya dalam bahasa Arab as-siyasah. As-Siyasah masuk ke dalam bahasa Indonesia di KBBI dikatakan Siyasat itu Muslihat. Dan muslihat itu ada licik-liciknya , kemudian dirangkai menjadi kata Tipu Muslihat.

Kita bangsa Indonesia tidak mempunyai terjemahan kata Politics. Karena tidak punya bahasa Indonesia untuk menerjemahkan kata Politics, maka bahasa Indonesianya juga Politik. Kalau orang Arab menyebutnya As-Siyasah, bahkan Ibnu Taimiyah menyebutnya As-Siyasah Asy Syar’iyyah.

Kita memang tidak terlalu kreatif, atau memang kekayaan bahasa kita terbatas sehingga tidak ada bahasa Indonesianya. Seperti bahasa Indonesianya enemy juga tidak ada. Enemy itu beda dengan lawan atau musuh. Terjemahan enemy itu ada di kata opponent . Political enemy atau musuh politik, itu terjemahannya ke bahasa Indonesia sama dengan Political Opponent. Padahal itu beda dengan musuh, tapi karena tidak ada bahasa Indonesianya maka disamakan, menjadi musuh politik.

Apa yang terjadi di Palestina itu bukan konflik antara Israel dan Palestina. Orang suka menyebut konflik, bahkan ada yang menyebut perang Israel- Palestina , atau bahkan perang Israel – Hamas. Padahal itu bukan konflik dan bukan perang. Kalau toh disebut perang, dia adalah Perang yang assimetris. Karena yang satu itu negara lengkap dengan organisasi angkatan perangnya.

Israel itu negara yang punya tentara resmi meskipun mereka menamakan tentaranya itu IDF (Israel Defence Force) yang artinya Pasukan Bela diri. Sehingga kalau mereka menyerang, mengebom itu membela diri.
Maka ketika beberapa hari Israel menyerang Gaza, Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan : “Israel berhak untuk membela diri”.

Ini termasuk kemenangan wacana, bahwa kekuasaan itu memproduk informasi, memproduk pengetahuan. Menyerangpun disebut membela-diri. Itu saking pintarnya, mungkin itu siyasat atau muslihat tadi.

Sementara Palestina sebuah masyarakat yang negaranya belum ada. Nggak boleh punya senjata, nggak boleh punya tentara. Dia hanya boleh punya polisi. Polisi itupun senjatanya bukan senjata api , melainkan pentungan.

Gaza tidak punya angkatan bersenjata. Dia bisa membuat senjata roket dan sebagainya itu buat sendiri. Ada yang disekolahkan ke Teknik, macam- macam dan akhirnya kreatif, bisa membuat roket. Karena tidak bisa orang mengirimi senjata ke Palestina.

Ada yang mengatakan : “Palestina tidak membutuhkan bantuan finansial, sembako, obat.. kirim saja senjata”.
Mengirimnya lewat mana? Tidak bisa karena semua dipagar. Antara Lebanon dan Israel, kira-kira satu setengah jam dari Beirut dipagar.

Jadi dari Beirut kalau pergi ke Yerusalem langsung menyusuri Pantai Mediterania kira-kira jaraknya 423 km, atau sama dengan jarak Jakarta – Pekalongan. Tapi karena antara Lebanon dan Israel dipagar T Wall, tembok cor Baja tingginya 7-8 meter. Di atas dindingnya yang 8 meter dikasih kawat, kadang-kadang dialiri listrik sepanjang berapa puluh kilo meter. Jadi senjata tak bisa masuk.

Dari Suriah, Israel sudah merebut dataran tinggi Golan sehingga dari Suriah tidak bisa masuk ke Israel. Harus lewat Golan yang sudah dikuasai Israel, direbut tahun 1967.
Dari pintu Mesir, lewat Rafah juga dijaga oleh tentara Israel. Dari Yordan lebih-lebih lagi, untuk masuk ke Israel aparat keamanannya luar biasa. Ada beberapa pintu imigrasi.

Jadi tidak bisa mengirim senjata. Mereka buat senjata sendiri ala kadarnya, itupun juga dipatroli setiap hari. Karena dinding-dinding dan pojok-pojok jalan ditembok semuanya. Di tembok T Wall dan dipasang CCTV.

Orang tidak bisa berkutik, orang dari luar Yerusalem mau ke kota Al Quds untuk ke masjid sudah tidak bisa. Nanti sesudah masuk ke dalam kota, mau masuk ke Masjid semua pintu untuk masuk ke pekarangan Masjidil Aqsha itu juga dijaga oleh Tentara dan Polisi Israel. Tidak setiap orang yang mau datang bisa masuk.

Jadi ini perang yang sangat tidak simetris. Bukan konflik melainkan penjajahan. Bukan hanya sekedar penjajahan seperti Belanda, tetapi penjajahan plus Apartheid, menurut istilah Prof. DR. Joseph Massad , orang Kristen Palestina yang menjadi dosen di Columbia University.

Sejak berdirinya Israel tahun 1948 di tanah Palestina memang sulit dilepaskan dari kolonialisme Inggris. Inggris menjajah Palestina dan dunia Arab akibat menang perang dunia pertama (PD1) . PD1 itu pemenangnya negara-negara Eropa, Inggris, Perancis, Italy, Spanyol.

Yang kalah salah satunya Turki Usmani (Otoman). Otoman itu dulu berkuasa dengan ibukotanya di Istambul, bekas Constantinople. Wilayahnya sampai ke Balkan, bahkan masuk ke Hongaria, dan sebagian Austria yang sekarang.
Karena dulu Otoman pernah mengepung kota Wina, tiga kali berbulan-bulan tetapi gagal menaklukkannya karena keburu masuk musim dingin.

Kemudian beberapa negara yang dulu bekas wilayah negara Soviet, itu dulu wilayah Otoman dan seluruh Timur Tengah dari Maroko, Al Jazair, Tunisia, Lybia di Afrika Utara. Sudan, Mesir, Jazirah Arabia, Lebanon, Suriah, Palestina, Yordania, Irak itu dulu semua wilayah Otoman.

Tetapi karena Otoman kalah dalam PD1, negara-negara itu akhirnya dirampas oleh pemenang perang. Dibagi-bagi oleh pemenang perang. Ada yang diberikan Perancis, wilayah yang kemudian menjadi Lebanon dan Suria. Inggris menguasai Palestina, Yordania, Mesir, Irak, negara-negara Arab teluk. Perancis ditambah lagi negara-negara Afrika Utara, Tunisia, Al Jazair, Maroko. Italy mendapatkan Lybia. Jadi itu nasibnya orang kalah perang, daerahnya dibagi-bagi.

Dulu Otoman juga pernah menang waktu perang merebut Constantinople, ibukota Byzantium atau Romawi Timur. Karena menang perang kemudian dikuasai, bahkan nama Constantinople diubah oleh Otoman menjadi Istambul. Lalu terus menaklukkan mana-mana sampai mengepung kota Wina.

Orang meramalkan, kalau dulu Otoman berhasil menaklukkan Wina, ibukota Austria sekarang mungkin Eropa sudah jadi benua islam.
Dulu ketika Andalusia sudah dikuasai hampir 800 tahun. Mau terus melebarkan sayapnya dihadang di Gunung Milenia Bordeaux Perancis Selatan. Orang bilang kalau dulu menang, Perancis – Belanda dan sebagainya jadi dunia islam.

Karena kalah PD1 pada tahun 1914 an lalu tahun 1917 dibagi-bagi LBB (Lembaga Bangsa- Bangsa) pada waktu itu. Kemudian pada tahun 1948 ketika selesai era kolonialisme, pada waktu itu Amerika belum ikut menjajah. Amerika bahkan menjadi sahabatnya negara-negara Arab.

Amerika mengirimkan guru-guru, obat- obatan, ahli-ahli minyak untuk mencari minyak dan juga Amerika mengirimkan missionary untuk menyebarkan agama ke Bilad asy-Syam , tetapi tidak banyak berhasil melakukan konversi agama dari Islam maupun Yahudi ke agama Nasrani. Tapi para missionary itu membangun pendidikan. Mereka banyak membuat sekolah-sekolah, universitas-universitas.

Universitas yang paling top di Beirut sekarang American University of Beirut (AUB) dibangun tahun 1866 oleh missionary. Yang dibangun bukan satu, tapi banyak. Di Cairo juga membuat American University of Cairo (AUC) dan banyak sekolah yang lain. Di Suriah membuat Syrian Colleges lalu diubah menjadi American University of Beirut.

Kemudian Amerika mendukung kemerdekaan negara-negara Arab itu dari kolonialisme barat. Setidak- tidaknya doktrin menentukan nasib sendiri. Maka kemudian jadi sahabatnya.

Tetapi Arab terkejut sekali ketika tahun 1948 Amerika mendukung Israel.
Empat jam setelah deklarasi berdirinya Israel yang didirikan di atas tanah Palestina , Amerika melalui Presiden Truman memberikan pengakuan. Sejak itu keterlibatan Amerika dalam memproteksi Israel semakin besar dan jejaknya disana menjadi yang paling besar. Proses ini berangsur-angsur, tidak langsung.

Dunia terbelah menjadi dua. Poros Amerika, Amerika makin besar makin kuat karena menang perang dunia kedua (PD2) . Dimana Amerika memimpin Sekutu. Setelah PD2 beralih ke Perang Dingin.

Pada waktu itu masih ada Poros Soviet. Beberapa negara Arab bergabung ke Poros Soviet. Bergabungnya mereka karena jengkel Amerika mendukung Israel.
Dalam Politik ada adagium : Temannya musuhku adalah musuhku.

Amerika dan Israel makin erat. Karena Israel ini andalan Amerika di Timur Tengah. Perimbangan kekuasaan di Timur Tengah itu yang menjadi ujung tombaknya Amerika adalah Israel.
Senjata-senjata Amerika semuanya dipunyai Israel. Bahkan banyak senjata dan Pesawat tempur yang hanya dipunyai oleh dua negara :Amerika dan Israel. Seperti sekarang Pesawat tempur yang paling canggih F35 itu yang punya cuma Amerika dan Israel.

Pasca perang dingin Soviet runtuh, negara-negara Arab tidak lagi punya jagoan. Tidak ada lagi Poros Timur. Soviet runtuh, tembok Berlin runtuh. Negara-negara Arab mulai nempel, mendekat ke Amerika, karena tempelan lamanya sudah runtuh.
Disitu Israel makin kuat, apalagi pasca perang dingin era adi daya tunggal. Super Power dunia cuma Amerika saja.


BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here