H.M Arief Rahman Lc MA

21 Ramadhan 1442 / 3 Mei 2021



Ini adalah kisah 4 orang sahabat bernama Abdullah. Sahabat Rasulullah yang bernama Abdullah itu banyak, tetapi sepeninggal Nabi hanya 4 orang sahabat ini yang cukup populer dan dikenal oleh para Sahabat yang lainnya. Bahkan kemudian dalam ilmu hadits juga sangat populer.
Penamaan ini bukan ketika Rasulullah masih hidup, tetapi setelah Rasulullah meninggal.

Empat Orang inilah yang diberi nama empat Abdullah yang kalau dalam bahasa Arab, khususnya dalam ilmu hadits disebut dengan Al Abadillah al Arba’a. Sehingga tidak semua sahabat Abdullah dimasukkan kesini, meskipun ada yang mengatakan ada satu Abdullah lagi yang pantas dikelompokkan kesini , tapi kemudian tidak disetujui karena kriteria tertentu.

Yang dimaksud dengan Empat Abdullah ini adalah sahabat yang dikatakan sebagai Sahabat Kecil. Sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi , tapi usianya masih muda. Bahkan keempat orang ini merupakan anak dari Sahabat yang senior yang sejak awal masuk Islam menyertai Rasulullah, ada yang dari Madinah dan ada sahabat Muhajirin.

Keempat sahabat Abdullah ini terkenal karena mereka menjadi rujukan, referensi utama untuk mengajarkan Islam setelah Rasulullah SAW wafat. Bahkan ada yang pernah diejek karena menghafalkan hadits Nabi padahal Sahabat yang senior masih banyak. Namun beliau tetap semangat meskipun usia masih muda. Setelah Rasulullah SAW dan para sahabat senior meninggal barulah mereka menyadari pentingnya sahabat yang sejak muda ini belajar menghafal hadits dari Rasulullah SAW.

Keempat Abdullah ini menjadi jembatan transfer ilmu dari Rasulullah, kemudian kepada Sahabat dan Tabi’in. Karena mereka inilah kemudian, apa yang pernah diajarkan Rasulullah SAW, apa yang pernah dilakukan oleh para sahabatnya dan Tabi’in dapat diketahui. Betapa pentingnya kedudukan mereka dan para Sahabat lain yang seusia mereka dalam menyampaikan nilai-nilai Islam. Sampai kita rasakan nikmatnya Islam sampai hari ini. Ini menjadi sebuah pembelajaran pentingnya estafet ilmu.

Keempat Abdullah ini usia mereka cukup panjang sehingga apa yang mereka dapatkan dan kemudian disampaikan mempunyai pengaruh yang luar biasa. Sehingga kalau ada Fatwa keempat sahabat ini dianggap sudah cukup. Dikatakan sebagai Qaul Abadillah (Pendapat empat Abdullah) .

Keempat sahabat itu, diurut dari kelahiran mereka yang lebih dulu, sebagai berikut.
– Abdullah bin Umar bin al-Khattab, sering disebut dengan Abdullah Ibnu Umar.
– Abdullah bin Amr bin al-Ash.
– Abdullah bin Abbas ibn Abdul Muthalib
– Abdullah bin az-Zubair Ibnu Awwam.
Dengan mengetahui orang tua mereka maka kita langsung tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang baik dan terpilih.

Abdullah bin Umar r.a lahir tahun 612 M dan wafat tahun 692 M dalam usia 80 tahun. Kemudian Abdullah bin Amr bin al-Ash, Abdullah bin Abbas ibn Abdul Muthalib dan Abdullah bin az-Zubair usianya kurang lebih 68 tahun. Jadi waktu yang cukup panjang untuk menyampaikan ilmunya. Keempat Abdullah ini ketemu dengan Nabi, merasakan hidup pada masa kekhalifahan Abu Bakar , Umar, Usman, Ali, masuk Periode Bani Umayyah sampai pada Khalifah ke enam. Periode kehidupan yang cukup panjang.

Abdullah bin Umar bin al-Khattab. Ayahnya adalah Umar bin al-Khattab, yang menjadi Khalifah yang kedua.

Abdullah bin Amr merupakan putera sahabat Amru bin Ash. Amru bin Ash termasuk dalam 10 Sahabat yang dijanjikan masuk Surga. Dia menaklukkan Persia dalam sebuah peperangan besar al-Qadisiyyah. Peperangan ini ada filmnya di Youtube. Perang yang cukup panjang dan mempunyai pelajaran yang luar biasa.

Amru bin Ash menguasai Mesir dan meninggal di kota Fustat, Mesir lama.
Fustat dulunya adalah Perkampungan komunitas Kristen. Di sana ada Masjid Amru bin Ash yang selalu penuh jama’ahnya , terlebih di Bulan Ramadhan. Masjid ini masih ada dan merupakan Masjid tertua di Afrika.

Abdullah bin az-Zubair bin Awwam adalah seorang sahabat yang cukup istimewa.
Zubair bin Awwam masih merupakan keponakan Khadijah r.anha isteri Nabi Muhammad. Zubair bin Awwam mempunyai isteri Asma’ binti Abu Bakar puterinya Abu Bakar , kakaknya Aisyah. Maka Abdullah bin Zubair adalah Keponakan Rasulullah SAW dari isterinya.

Abdullah bin Abbas adalah sepupu Nabi SAW karena Abbas bin Abdul Muthalib adalah saudara dari ayah Nabi Muhammad, yaitu Abdullah bin Abdul Muthalib.

Keempat Abdullah ini penting karena banyak meriwayatkan Hadits. Yang paling banyak Abdullah bin Umar, kurang lebih 2600 an hadits. Abdullah bin Abbas 1600 an hadits, Abdullah bin Amr bin al-Ash sekitar 700 hadits, Abdullah bin az-Zubair sekitar 30 hadits.


1. Abdullah bin Umar bin al-Khattab

Masuk islam bersama ayahnya di Mekkah. Umar bin Khattab duluan dan disusul puteranya. Beliau ikut hijrah ke Madinah, maka beliau termasuk sahabat Muhajirin. Ketika terjadi Perang Badar, umur Abdullah bin Umar ini 13 tahun. Ingin ikut jihad tapi ditolak oleh Rasulullah karena dianggap masih kecil.

Perang pertama yang diikuti adalah Perang Khandaq. Saat berusia 15 tahun. Setelah itu, ia senantiasa turut serta dalam perang yang dipimpin oleh Rasulullah. Demikian juga dalam Perang Mu’tah, Yarmuk, Penaklukkan Mesir dan Afrika dibawah pasukan Amru bin Ash.

Setelah Rasulullah SAW meninggal, beliau mengikuti kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.
Pada saat kekhalifahan Ali ada konflik politik. Abdullah bin Umar tidak memihak kelompok Ali bin Abi Thalib maupun kelompok Muawiyyah. Beliau menjauhi dunia politik.

Dari sisi Intelektual atau kualitas keilmuan, beliau termasuk Perawi yang terbanyak meriwayatkan Hadits setelah sahabat Abu Hurairah karena dekatnya dengan Rasulullah SAW.
Dikatakan oleh Aisyah r.anha :
“Tidak seorangpun mengikuti jejak langkah Rasulullah di tempat-tempat pemberhentian seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Umar”.

Di masa itu ada dua Abdullah yang terkenal dengan sikapnya yang berbeda dalam memahami apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.
Abdullah bin Umar adalah sahabat yang sangat tekstual. Apapun yang dilakukan oleh Rasulullah, masuk akal atau tidak, beliau ikuti.

Berbeda dengan Abdullah bin Abbas.
Abdullah bin Abbas diberi kemampuan pemahaman terhadap nas-nas agama baik sabda Nabi maupun Al Qur’an dengan sangat baik. Sehingga beliau tidak Tekstualis sebagaimana Abdullah bin Umar.

Contoh apa yang dilakukan Abdullah bin Umar, suatu ketika saat Rasulullah sudah meninggal ketika musim haji, kemudian ada rombongan Haji dari Madinah menuju ke Mekkah, dalam perjalanan ada sebuah pohon di tengah jalan, yang disampingnya ada jalan.

Kabilah haji jalan lurus, tapi Abdullah bin Umar begitu melewati pohon itu mengelilingi pohon dulu sekali, setelah itu jalan. Ketika ditanya kenapa mengelilingi pohon, dijawab oleh Abdullah bin Umar : “Dulu ketika melewati jalan ini, Rasulullah mengelilingi pohon tersebut. Maka aku mengikutinya”.

Beliau banyak meriwayatkan hadits. Beliau punya anak bernama Salim bin Abdullah dan punya budak bernama Nafi’. Keduanya adalah murid dari Abdullah bin Umar. Sehingga apa yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar banyak melalui kedua orang ini.

Ketika Umar bin Khattab meninggal, beliau berpesan : “Jangan kau jadikan Abdullah bin Umar (putera Umar) untuk masuk formatur Khalifah baru”.
Umar bin Khattab tidak mau ada komentar atau sesuatu yang tak baik sepeninggalnya.


2. Abdullah bin Amr bin al-Ash

Ketika mendengar dakwah Rasulullah Abdullah bin Amr masuk islam lebih dulu daripada bapaknya. Ada yang mengatakan setahun sebelum bapaknya masuk islam. Beliau adalah sahabat yang pertama diijinkan untuk menulis apa yang dikatakan oleh Rasulullah.

Awalnya hadits yang disampaikan oleh Rasulullah itu hanya diulang lalu dihafal oleh para sahabat pada waktu itu. Dan memang orang Arab mempunyai tingkat hafalan yang luar biasa.

Abdullah bin Amru minta ijin pada Rasulullah untuk menuliskan. Karena Rasulullah tahu kemampuan dari Abdullah bin Amru, maka beliau diijinkan untuk menulis apa yang beliau sampaikan.

Abu Hurairah mengatakan : “Abdullah bin Amru bin Ash mempunyai periwayatan hadits daripada aku, karena dia menulis sedangkan aku tidak. Maka apa yang merupakan peninggalan Abdullah bin Amru dikenal dengan As shahifah as shodiqoh. Hadits-hadits yang ada di dalam As shahifah as shodiqoh semuanya dinukil dalam Musnad Ahmad bin Hambal. Warisannya masih ada sampai sekarang. Ini merupakan peninggalan sejarah yang luar biasa.

Abdullah bin Amru termasuk salah seorang sahabat Rasul yang ibadahnya luar biasa. Abdullah bin Amru ini puasa terus dan shalat malam terus. Rasulullah SAW sampai pernah menasehati beliau agar tidak berlebihan dalam beribadah.

Rasulullah berkata : “Cukup puasamu tiga hari dalam satu bulan, jangan setiap hari”. Abdullah bin Amru menjawab : “Saya kuat ya Rasulullah, kalau puasa cuma tiga hari kurang”.
Kata Rasulullah SAW : “Kalau begitu lakukan dua hari dalam sepekan, hari Senin dan Kamis”.
“Masih kurang bagiku, wahai Rasulullah” kata Abdullah bin Amru.
“Jika demikian, baiklah kamu lakukan puasa yang lebih utama, yaitu puasa Nabi Daud, puasa sehari lalu berbuka sehari!” Jawab Rasulullah SAW.

Banyak diantara sahabat ini terjun ikut berjihad berperang bersama Rasulullah SAW dan setelah Rasulullah SAW wafat masih ikut peperangan untuk pembebasan negeri-negeri pada waktu itu. Termasuk Abdullah bin Amru bin Ash, karena orang tuanya Amru bin Ash adalah salah satu Panglima Perang.

Pada masa-masa fitnah, ketika terjadi konflik di akhir kekhalifahan Usman bin Affan, bahkan kemudian sampai Khalifah Usman bin Affan syahid. Kemudian terjadi konflik antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah, Abdullah bin Amru termasuk sahabat yang berpihak pada Muawiyah.

Ketika perang ini selesai dan pada saat beliau duduk dengan para sahabat yang lain di masjid Nabawi beliau melihat Husein bin Ali berjalan. Beliau menyatakan tentang keutamaan dari cucu Nabi Muhammad SAW tersebut.
Meski saling menyapa, namun karena akibat konflik yang lalu hubungan antara Abdullah bin Amru dan Husein bin Ali renggang. Hubungan tidak baik.

Mereka berdua didamaikan sahabat lain. Husein bin Ali bertanya : “Kenapa engkau berada di pihak Muawiyah dan memerangi ayahku ?”.
Abdullah bin Amru bin Ash berkata : “Karena ketika kami, aku dan ayahku bertemu dengan Rasulullah SAW beliau bersabda : “Wahai Abdullah, shalat dan tidurlah, berpuasa dan berbukalah dan taatilah Bapakmu”.
Karena pesan Nabi ini maka sebagai seorang anak beliau mentaati apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

Dalam pengakuan beliau : “Meskipun aku berpihak kepada ayahku, berpihak kepada Muawiyah namun aku sama sekali tidak pernah mengangkat senjata, tidak pernah mengayunkan pedang, tidak pernah melempar tombak , melepas panah dari busur. Karena aku tidak ingin berperang dengan saudara muslim”.

Setelah itu hubungan keduanya menjadi harmonis kembali.
Beliau meninggal pada masa Khalifah Yazid bin Muawiyah, sempat memimpin Mesir sekitar 2 bulan dan setelah itu meninggal.


3. Abdullah bin al-Abbas

Abdullah bin al-Abbas adalah seorang sahabat Nabi sekaligus sepupunya karena anak dari pamannya Abbas bin Abdul Muthalib.

Abbas bin Abdul Muthalib adalah Paman Nabi yang dekat dengan Rasulullah SAW ketika terjadi Bai’at Aqobah. Saat itu Abbas belum masuk islam tetapi mendampingi Nabi, karena orang-orang Madinah ingin mengajak Rasulullah hijrah ke Madinah
Abbas menjadi juru bicara Rasulullah berkata : “Muhammad ini di Mekkah kami lindungi. Tidak ada orang yang berani menyakitinya. Kalau kalian akan membawa Muhammad ke Madinah, maka kami harus memastikan kalian menjaganya sebagaimana kalian menjaga keluarga kalian”.

Pada saat Perang Hunain, Rasulullah juga memanggil Abbas , karena Abbas mempunyai suara yang keras untuk memanggil orang-orang yang ikut Bai’at Hudaibiyah, sehingga dengan 1500 orang mampu mengalahkan orang-orang Hawazin.

Abdullah bin al-Abbas lahir di Mekkah, meninggal di Tha’if, dekat Mekkah. Kalau di Semarang, Tha’if ibarat Bandungan, dataran tinggi, dingin dan banyak kebun buah-buahan. Di dekat makamnya dibangun sebuah masjid yang sering dikunjungi jama’ah Haji.

Ibunya adalah Ummu Fadhl, Lubabah. Beliau adalah wanita kedua yang masuk islam setelah Siti Khadijah isteri Rasul. Ummu Fadhl adalah sahabat dekat Siti Khadijah. Hikmah dari sini adalah ketika kita mendapatkan nikmat Pengajian , dapat ilmu, maka orang yang paling dekat dengan kitalah yang bisa kita ajak untuk ikut belajar.

Yang memberi nama Abdullah pada saat lahir adalah Rasulullah SAW. Setelah memberi nama, beliau mendo’akan Abdullah bin Abbas.

Rasulullah SAW berkata,

اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah, pahamkanlah dia terhadap agama dan ajarkanlah ilmu tafsir kepadanya.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad)

Maka sekarang ada Tafsir Abdullah Ibnu Abbas. Selama ini mungkin yang lebih kita kenal adalah Tafsir Ibnu Katsir.

Pandangan sahabat Sa’ad bin Abi Waqash, mengatakan : “Tidak seorangpun yang aku temui lebih cepat mengerti, lebih tajam berfikir dan lebih banyak menyerap ilmu dan lebih luas santunnya dari pada Abdullah bin Abbas”.

Salah satu saksi tentang luasnya ilmu Abdullah bin Abbas, adalah Umar bin Khattab yang sering konsultasi dengan Abdullah bin Abbas. Suatu ketika Umar bin Khattab membawa Abdullah bin Abbas dalam pertemuan sahabat- sahabat yang pernah ikut Perang Badar. Ternyata ketika mereka tahu Umar bin Khattab mengajak Abdullah bin Abbas, ada sahabat yang kurang berkenan karena umur Abdullah bin Abbas yang masih muda.

Ada sahabat yang protes : “Kenapa mengajak dia dalam pertemuan seperti ini?” Umar bin Khattab dengan tenang menjawab : “Nanti kamu akan tahu siapa dia”.

Setelah pertemuan dibuka, Umar bin Khattab menyampaikan kepada para sahabat tentang Firman Allah :

اِذَا جَآءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَا لْفَتْحُ (1) وَرَاَ يْتَ النَّا سَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَا جًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَا سْتَغْفِرْهُ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ تَوَّا بًا (3)

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat.”
(QS. An-Nasr 110: Ayat 1-3)

Lantas Umar bertanya, “Bagaimana komentar kalian tentang surat ini?”.
Sebagian sahabat berkomentar, “Tentang ayat ini, setahu kami, kita diperintahkan agar memuji Allah dan meminta ampunan kepada-Nya, ketika kita diberi pertolongan dan diberi kemenangan.” Sebagian lagi berkomentar, “Kalau kami tidak tahu.” Atau bahkan tidak ada yang berkomentar sama sekali.

Lantas Umar bertanya kepada Abdullah bin Abbas : “Wahai Ibnu Abbas, beginikah kamu menafsirkan ayat tadi?” Abdullah bin Abbas menjawab, “Surat tersebut adalah pertanda wafatnya Rasulullah SAW sudah dekat. Allah memberitahunya dengan ayatnya: “Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan’, itu berarti penaklukan Makkah dan tugas Rasulullah sudah selesai itulah tanda ajal Muhammad , karenanya “Bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat.”

Dalam sebuah Riwayat Muslim setelah turunnya Surat An Nasr ini beliau selalu bertasbih , bertahmid :
“Subhanakallahumma wabihamdika astaghfiruka wa atubu ilaik” (Mahasuci Engkau wahai Allah dan dengan memuji Engkau saya memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).
Tasbih ini terus diamalkan sampai beliau wafat.

Ketika masa fitnah, Abdullah bin Abbas berada di pihak Ali bin Abu Thalib. Tetapi beliau berusaha menyadarkan orang-orang Khawarij pada waktu itu dan pernah mengingatkan cucu Rasulullah, Husein bin Ali agar tidak pergi ke Karbala.

Pada waktu itu Husein bin Ali mendengar bahwa orang-orang di Irak berkumpul untuk membai’at Husein bin Ali untuk menjadi Khalifah. Husein bin Ali dan keluarganya pergi menuju ke Irak.

Abdullah bin Abbas memperingatkan bahwa mereka yang mengundang itu tidak bisa dipegang perkataannya.
Kenyataan yang mengundang tidak hadir, yang hadir adalah orang-orang yang memusuhi Husein. Husein bin Ali dan keluarganya terbunuh dalam peristiwa itu.

Ketika Abdullah bin Abbas meninggal di Tha’if, maka ada yang berkata :
“Hari ini telah wafat Rabani (ulama) umat,”


4. Abdullah bin az-Zubair

Abdullah bin az-Zubair adalah sahabat yang lahir di Kuba – Madinah. Beliau adalah putra dari seorang sahabat Zubair bin al-Awwam, keponakan Siti Khadijah. Ibunya adalah Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq, kakak dari Ummul Mukminin Aisyah r. ‘anha. Jadi Abdullah bin Zubair adalah keponakan Nabi dari isterinya. Ia adalah bayi pertama di dalam Islam yang dilahirkan setelah hijrah di Madinah.

Abdullah bin az-Zubair seorang anak yang pemberani. Dia selalu berjihad bersama Rasulullah.

Pada suatu saat Umar bin Khattab berjalan melintasi kerumunan anak kecil termasuk Abdullah bin Zubair. Anak-anak kecil lari semua, kecuali Abdullah bin Zubair.
Umar bin Khattab bertanya : “Kenapa kamu tidak ikut lari ?” Jawaban Abdullah : “Tidak ada alasan saya untuk lari, saya tidak salah kepadamu”. Ini menunjukkan keberaniannya sejak kanak-kanak.

Di antara peperangan yang ia ikuti adalah Perang Yarmuk, penaklukkan Maroko, dan Perang Konstantinopel (Turki saat ini).

Rasulullah SAW ketika masih hidup pernah menyampaikan bahwa nanti Islam akan sampai ke Konstantiopel (Romawi Timur). Sabda Rasulullah ini menjadi pemicu para Sahabat untuk menyiapkan pasukan untuk menyebarkan islam kesana.
Pada masa Usman bin Affan dibentuk armada perang pertama melewati lautan.

Sampai ada sahabat yang didoakan Nabi
– Kamu nanti akan meninggal di seberang lautan
– Kamu nanti akan perang dengan menggunakan kapal.
Maka di Turki ada beberapa makam sahabat disana. Salah satu sahabat yang berperang untuk menaklukkan Konstatinopel adalah Abdullah bin Zubair.

Abdullah Ibnu Zubair adalah seorang yang mendalam ilmunya. Seorang yang mulia, mujahid, dan ahli ibadah. Ia rutin berpuasa di siang hari. Dan shalat yang panjang di malam hari. Sampai ada seorang sahabat yang mengatakan : “Aku tidak pernah melihat orang yang shalat lebih baik daripada shalat Abdullah bin Zubair”.
Sahabat yang lain berkata : “Abdullah bin Zubair ini mempunyai tiga keistimewaan : Pemberani, Ahli Ibadah dan Ahli diplomasi”.

Abdullah bin Zubair adalah salah seorang sahabat yang mempunyai kemampuan menulis yang baik. Maka beliau termasuk salah seorang sahabat yang diperintahkan oleh Usman bin Affan untuk menyalin Mushaf.

Ketika Rasulullah masih hidup kebanyakan sahabat diajarkan wahyu oleh Rasulullah SAW kemudian dihafal. Sebagian sahabat menulis, misalnya Ali bin Abi Thalib. Yang mengumpulkan tulisan termasuk isteri Nabi, yaitu Hafshah r.anha. Kumpulan tulisan Hafshah r.anha menjadi salah satu referensi utama penulisan Al Qur’an di masa Usman bin Affan. Salah satu yang ditunjuk untuk menjadi sekertaris Nabi adalah Abdullah bin Zubair. Selain dia ada Muawiyah bin Abu Sofyan dan Zaid bin Tsabit .

Ketika terjadi konflik, Abdullah bin Zubair awalnya pada masa Muawiyah tidak ikut gerakan politik, tetapi setelah kekhalifahan Yazid, beliau sempat mendirikan kekhalifahan sendiri, meskipun dalam waktu tidak terlalu lama dinamakan Pemberontakan yang kemudian dipadamkan.

Beliau meninggal dalam kondisi yang tidak baik untuk diceritakan. Beliau dikepung di Kota Mekkah, bahkan Ka’bah kena lemparan Manjanik (Batu yang dilemparkan) hingga rusak. Kemudian dibangun oleh Abdullah bin Zubair lagi.
Setelah Mekkah dikepung oleh Bani Umayah pemberontakan dapat dipadamkan dan Abdullah bin Zubair gugur dengan kepala terpenggal. Kepalanya dimakamkan oleh ibunya yang masih hidup di Madinah.

Ini diangkat jadi tema agar kita tahu ada sahabat Rasulullah SAW yang mendidik Putera-Puterinya untuk mewarisi apa yang mereka dapatkan dari Rasulullah SAW dengan harapan mereka nanti akan menjadi Penjaga- Penjaga Islam, menyampaikan apa yang mereka terima kepada generasi selanjutnya, baik itu dalam sikap, dalam keilmuan ataupun pengamalan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here