Zahrul Fata Lc, MA, Phd

20 Ramadhan 1442 / 2 Mei 2021



RAND Corporation

Apa yang dulu diterapkan oleh Snouck Hurgronye juga diterapkan oleh lembaga riset internasional yang ada di Amerika, namanya RAND Corporation (Research And Development) , suatu Lembaga Pemikir (Think Tank) Swasta di Amerika. Amerika Serikat boleh berganti-ganti Presidennya tetapi kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat khususnya ke dunia islam banyak dipengaruhi oleh riset yang dilakukan oleh RAND Corporation.

Dalam salah satu laporannya yang berjudul “Building Moderate Muslim Network”, RAND Corporation memberikan statement :
Some muslim teachers, although of a moderate disposition, lack the ability to link Islamic teachings explicitly with democratic values.

In response, the Asia Foundation has developed a program to assist the efforts of moderate ulama to mine Islamic texts and traditions for authoritative teachings that support democratic values. The result is a corpus of writtings on fiqh (Islamic jurisprudence) that support democracy, pluralism, and gender equality. These texts are on the cutting edge of progressive Muslim thinking and are in great demand internationally.

Beberapa sarjana muslim, meskipun mereka hidup di era yang modern tapi mereka kurang kemampuan untuk menyambungkan ajaran-ajaran islam secara explisit dengan nilai-nilai demokrasi.

Merespon itu maka Asia Foundation ( LSM asing yang mendanai Liberalisasi di Indonesia) telah mengembangkan suatu program untuk membantu usaha-usaha para ulama moderat untuk menyatukan antara text -text agama Islam klasik (Al Qur’an, Hadits dan khasanah keilmuan Islam) yang mensupport nilai-nilai Demokrasi.
Hasilnya adalah, ada sebuah kumpulan dalam Fiqih yang mensupport demokrasi, pluralisme dan
Gender equality.


Demokrasi, Pluralisme dan Gender Equality

Intinya Asia Foundation memberi bantuan dana kepada sarjana muslim yang membenarkan adanya demokrasi, pluralisme, gender equality dengan menguatkannya dengan teks-teks agama.

Tiga hal inilah yang menjadi agenda utama orang Barat untuk meliberalkan Indonesia. Orang atau Sarjana Indonesia yang bisa mencari dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang membenarkan adanya Demokrasi, Pluralisme dan Gender Equality mereka bisa mengajukan proposal untuk mendapat dana.

Maka lahirlah di Indonesia, LSM -LSM lokal yang berbondong- bondong mengajukan proposal untuk mengkampanyekan tiga hal tersebut. Makanya kita lihat beberapa tahun terakhir berbagai wacana tentang Pluralisme, Demokrasi dan Gender equality yang ditulis oleh sarjana kita.

Demokrasi

Demokrasi disini dalam makna yang luas. Karena prinsip demokrasi adalah Suara mayoritas adalah Suara Tuhan.
Dalam sebuah negara Demokrasi, misal suara mayoritas mendukung Pernikahan sesama jenis, maka harus dilegalkan. Demikian itu inti dari Demokrasi.

Pluralisme

Pluralisme adalah paham yang mengatakan bahwa semua agama itu sama. Banyak orang yang gagal faham tentang Pluralisme. Mereka memahami bahwa Pluralisme itu Toleransi. Memang secara bahasa pluralisme itu toleransi. Tetapi dalam istilah tidak demikian.

Contoh tulisan sarjana kita yang menawarkan ide semua agama sama.
“One God many name” salah satu pencetus pluralism atau semua agama sama. Dia mengatakan bahwa semua agama di dunia itu berbeda hanya di tataran kulitnya saja, ujung-ujungnya menyembah kepada satu Tuhan yang sama, meskipun namanya berbeda.
Ide-ide seperti ini selalu ada yang menawarkan ke kampus-kampus islam

Beberapa buku tentang Pluralisme Agama baik yang ditulis oleh Sarjana Barat, atau Sarjana kita :
– When Religion Becomes Evil
– Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam
– Teology Pluralis Multikultural
– Wahdat Al Ahdyan
– Agama dan Keberagaman
– Ilmu Study Agama
– Teology Inklusif

Kita juga bisa mendapati buku Fiqih Lintas Agama , dikarang oleh Cak Nur dan kawan-kawan. Bisa diperhatikan disana ada kerjasama antara Paramadina dengan Asia Foundation. Jadi buku ini mendapat bantuan dari Asia Foundation. Ini adalah Proyek yang mengundang dollar. Yang kasian ada juga sarjana kita yang ikut-ikutan mengkampanyekan ini tapi dia tidak mendapat apa-apa.

Gender Equality

Gender Equality adalah kesetaraan antara gender laki dan perempuan.
Tentang kesetaraan gender ada buku Argumen Kesetaraan Jender, karya desertasi Pak Nazarudin yang kemudian dibukukan. Ada lagi buku Fiqih Perempuan karangan KH Husein Muhammad. Beberapa pemikiran dalam buku ini saya singgung dalam desertasi saya. Akan banyak wacana-wacana yang merespond apa yang selama ini dilontarkan oleh orang Barat. Kemudian direspond sarjana-sarjana kita.


Sikap Agama-Agama terhadap Pluralisme

Karena paham ini membahayakan keimanan seorang muslim maka MUI waktu itu segera merespond dengan menerbitkan Fatwa :
“Paham Sekularisme, Pluralisme Agama dan Liberalisme bertentangan dengan ajaran Islam dan umat Islam haram mengikuti paham-paham tersebut”. (Fatwa Majelis Ulama Indonesia 29 Juli 2005).
Istilah khusus Pluralisme dalam study agama-agama adalah Al ta’atddudiyah al diniyyah.

Tentang Al ta’atddudiyah al diniyyah ini ada sarjana kita yang merespondnya dengan sangat luar biasa. Beliau dulu rumahnya di Banyumanik Semarang, sekarang ada di Brunai Darussalam. Beliau dulu Rektor Unisula Semarang, namanya Anies Malik Thoha Lc, MA, PhD. Buku beliau berjudul Trend Plurarisme Agama, ditulis dalam bahasa Arab dan sudah ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Sejatinya gagasan pluralisme agama ini bukan hanya kalangan umat islam saja yang keberatan atau tidak setuju dengan ide ini. Beberapa sarjana Barat dan beberapa agamawan di Indonesia juga tidak setuju dengan adanya pluralisme agama.

Bagi orang Kristen, mereka meyakini bahwa jalan satu-satunya untuk menuju Bapa di Surga harus lewat Yesus.

Bagi orang Yahudi, mereka meyakini bahwa ajaran Nabi Musa itu abadi tidak tergantikan oleh Nabi berikutnya.
Tahun 2015 saya pernah ke Musium orang Yahudi di Sidney, ada tulisan Doktrin agama mereka (semacam Rukun Iman di Islam). Ajaran Nabi Musa itu eternal forever universal tidak tergantikan tidak tergantikan oleh ajaran Nabi yang datang sesudahnya.

Orang Yahudi punya logika : Tuhan sudah menganugerahkan ajarannya kepada Nabi Musa, tak mungkin Tuhan merevisi lagi dengan mengutus Nabi berikutnya. Maka bagi mereka ajaran Nabi Musa sudah final. Mereka lupa bahwa sebelum Nabi Musa diutus ada Nabi- Nabi sebelumnya yang kemudian ajarannya juga diperbarui Nabi Musa.
Mereka mengakui bahwa Nabi Musa memperbarui ajaran Nabi sebelumnya tetapi mereka tidak mau mengakui ajaran Nabi Musa diperbarui oleh Nabi berikutnya.

Yang membedakan antara orang Yahudi dan orang Nasrani adalah :
Kalau orang Nasrani mengakui adanya ajaran Nabi Musa, tetapi juga mengakui adanya ajaran Nabi Isa. Tetapi orang Nasrani disebutkan dalam Al Qur’an berlebihan dalam menganggap Nabi Isa. Mereka tidak meyakini adanya Nabi setelah Nabi Isa.

Kita umat Islam sangat fair, karena dalam salah satu Rukun Iman kita adalah meyakini para Nabi dan Kitab- kitabnya. Jadi betapa masing-masing agama punya doktrin bahwa agamanya paling benar.

Plurarisme ini tantangan bagi agama-agama. Ada buku karangan Harold Coward berjudul “Pluralisme , Tantangan bagi Agama-Agama” -(Yogyakarta, Kanisius, 1989).
Seolah-olah semuanya sama. Plurarisme agama mengatakan bahwa perbedaan antara satu agama dengan agama yang lainnya hanya dalam tataran kulit. Tetapi kalau ditarik lebih ke atas, ujung-ujungnya sama. Intinya begitu, disana ada banyak theori.

Vatican juga menolak Paham Plurarisme agama.

Dominus Jesus (Dekrit Vatican ,2000)
Menolak Plurarisme agama juga menegaskan kembali bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya perantara keselamatan Ilahi dan tidak ada orang yang bisa ke Bapa selain melalui Yesus. (Frans Magnis Suseno , Menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat majemuk, Jakarta, Penerbit Obor)

Kemudian seorang Pendeta Protestan bernama Pdt. Stevri Lumintang mengatakan :
“Theologia abu-abu (pluralisme) yang kehadirannya seperti serigala berbulu domba, seolah-olah menawarkan teology yang sempurna, karena itu teology tersebut mempermasalahkan semua Teology Tradisional yang selama ini dianut dan sudah berakar dalam Gereja. Namun sebenarnya Pluralisme sedang menawarkan agama baru …” (Theologia abu-abu , Malang, Gandum Mas, hal 18-19)

Sikap Hindu

Bagavad Gita IV-11 : “Jalan manapun yang ditempuh manusia ke arahKu, semuanya Aku terima”.
Tulisan ini dicatut oleh para penggagas Plurarisme bahwa seolah-olah semua agama sama. Tapi sebenarnya yang disebut “Jalan” dalam Gita adalah empat yoga, yaitu Karma Yoga, Jnana Yoga, Bhakti Yoga dan Raja Yoga. Semua Yoga ini ada dalam agama Hindu dan tidak ada dalam agama lain. Agama Hindu menyediakan banyak jalan bukan hanya satu – bagi pemeluknya, sesuai dengan kemampuan dan kecenderungannya. (Frank Gaetano Morales dkk, Semua Agama Tidak Sama, Media Hindu, 2006).

Orang Hindu pun tidak setuju dengan wacana Plurarisme agama.


Pluralisme Agama telah menjadi Agenda Politik Negara-negara Barat.

Bisa dilihat di website, tentang Program keislaman AS di Indonesia , 4 Mei 2007.

Dalam usaha menjangkau masyarakat Muslim, Amerika Serikat mensponsori para pembicara dari lusinan pesantren, madrasah serta lembaga-lembaga tinggi Islam, untuk bertukar pandangan tentang pluralisme, toleransi, dan penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia. Kedutaan mengirim sejumlah pemimpin dari 80 Pesantren ke Amerika Serikat untuk mengikuti suatu program tiga minggu tentang pluralisme agama, pendidikan kewarganegaraan dan pembangunan pendidikan.

Pluralisme, demokrasi dan kesetaraan gender yang selama ini didengungkan. Tetapi setelah pluralisme agama ketahuan kedoknya, kemudian istilahnya diganti. Bukan Pluralisme tetapi Multi kulturalisme. Nama yang agak lunak tetapi sejatinya artinya sama.

Dulu ada Islam Liberal kemudian setelah ketahuan kedoknya menjadi Islam moderat. Islam moderat ini menjadi buah simalakama karena di satu sisi dalam islam juga ada Washatiyatul islam yang kalau diterjemahkan kita tidak punya kata lain selain moderat. Tapi moderat versi mereka itu bukan Washatiyatul Islam yang selama ini kita yakini.


Institusionalisasi Pluralisme Agama

Kemudian program itu diimplementasikan dengan dilahirkannya beberapa program study yang sebenarnya ujung-ujungnya mengkampanyekan pluralisme agama. Di UGM Yogya ada ICRS (Indonesian Consortium for Religious Studies) Itu program PhD untuk pluralisme lintas agama secara terselubung. Cuma tidak banyak yang menyadari. Kerjasama antara UGM- UIN Sunan Kalijaga – UnKris Duta Wacana.

Pluralisme Agama tentang Agama-Agama

Setiap orang mempunyai hak kebebasan berpendapat, keyakinan dan agama. Hak ini termasuk hak untuk mengubah agama atau keyakinannya. Dan kebebasan baik sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan yang lain dan dalam ruang publik atau privat untuk memanifestasikan agama dan keyakinannya dalam menghargai, memperingati, mempraktekkan dan mengajarkan. (DUHAM pasal 18)

Akhirnya apa yang terjadi kalau semua agama dianggap sama? Bahkan sekte yang jelas-jelas sesat nanti akan dilindungi atas nama Kebebasan beragama. Kita tidak boleh mengatakan bahwa agama kitalah yang benar dan agama lain salah. Itu namanya memonopoli kebenaran.

Ini seperti spirit liberalisme yang salah satu penyangganya adalah Relativisme. Sehingga ketika ada ajaran-ajaran yang sesat kemudian dibela. Kemudian orang-orang yang membela adanya aliran-aliran sesat terhadap orang yang mengecamnya dianggap Radikal. Kemudian orang yang jadi pahlawan kesiangan membela aliran sesat dianggap moderat.

Akhirnya umat islam akan cakar-cakaran sendiri dengan saudara- saudaranya. Sejatinya itu telah terjadi Perang Belah Bambu. Ada satu pihak disupport untuk membela orang-orang aliran sesat, dipihak lain ada yang dibereskan. Akhirnya terjadi perpecahan antara umat islam sendiri. Ini seperti dulu zaman VOC. Ada orang pribumi menjadi anak emasnya Penjajah. Kemudian dia dipersenjatai untuk melawan Pribumi lain yang melawan Penjajah.

Dalam konteks Ghaswul Fikri juga begitu. Ada beberapa anak bangsa yang dapat bea siswa, dapat dana untuk menyebarkan paham-paham seperti ini. Kemudian membela aliran yang dalam kaca mata agama jelas sesat. Kemudian anak bangsa yang tidak setuju dengan aliran sesat dicap Radikal.

Kita ingat kasus Lia Eden yang dulu dia mengaku sebagai Nabi yang bisa berkomunikasi dengan Malaikat Jibril. Ketika ditangkap dan dimasukkan sel, tidak lama setelah itu ada orang di Jombang mengaku sebagai Malaikat Jibril. Akhirnya polisi mempertemukan antara “Nabi” dan “Malaikat Jibril”. Ternyata Malaikat Jibril tidak kenal Nabi Lia Eden …

Hal-hal seperti ini ada juga yang membela dengan alasan hak kebebasan beragama dan semua agama adalah benar.

Di antara sarjana Barat yang mengkampanyekan pluralisme agama adalah Prof. Huston Smith. Dia mengatakan bahwa semua agama itu dalam titik awalnya (exoteric) memang berbeda. Tapi ujung-ujungnya menyembah kepada satu kekuatan yang sama meskipun berbeda Nabi.

Ada lagi Theori Pohon yang mengatakan bahwa semua agama itu berasal dari akar yang sama. Kemudian nanti ada agama A, agama B dan seterusnya. Theori ini yang mengembangkan Mahatma Gandhi.

Karena semakin banyak munculnya ajaran-ajaran seperti ini, akhirnya MUI mempunyai 10 kriteria sesat.

1. Mengingkari Rukun Iman dan Rukun Islam.
2. Meyakini dan atau Mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil Syar’i (Al Qur’an dan As-Sunah)
3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al Qur’an.
4. Mengingkari kebenaran Alquran.
5. Menafsirkan Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
6. Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam.
7. Menghina, melecehkan, atau merendahkan nabi dan rasul.
8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai utusan terakhir.
9. Mengubah, menambah, dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan secara syar’i.
10. Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here