Zahrul Fata Lc, MA, Phd

20 Ramadhan 1442 / 2 Mei 2021



Liberalisme ibarat Virus Bahaya

Thema kita pada kali ini yaitu membentengi akidah kita dari faham- faham yang disadari atau tidak bisa merusak. Meskipun banyak yang tidak merasakan faham-faham Liberalisme, Pluralisme , Feminisme itu seperti Corona. Penyebarannya cepat dan tidak dirasakan, yang punya background penyakit yang akut bisa membahayakan. Ada yang bisa sembuh dari Corona karena imunnya kuat. Ada pula yang sampai fatal.

Begitu pula pemahaman golongan ini,
kalau Corona merusak fisik seseorang, tapi kalau virus pemikiran ini merusak pemikiran. Efeknya sampai masa- masa yang akan datang. Bahkan sampai orang itu sudah dikafani.
Jadi kalau orang berwacana Liberal pertanggung jawabannya sampai nanti. Sampai yang bersangkutan mencabut wacana yang dia lontarkan. Kalau tidak, maka ketika wacana yang dia lontarkan itu diamini oleh orang-orang yang datang berikutnya maka selama itu pula dia dapat transfer dosa.

Allah SWT berfirman:

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰ ثَا رَهُمْ ۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْۤ اِمَا مٍ مُّبِيْنٍ

“Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas- bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuz).”
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 12)

Kalau ada orang berwacana entah apa motivasinya, mengatakan semua agama sama, kemudian dibungkus dengan argumen-argumen yang seolah ilmiah dan orang-orang awam kemudian menelan wacana itu mentah-mentah, akhirnya meyakini itu turun-temurun, maka yang melempar wacana pertama kali dapat transfer dosa berdasarkan ayat di atas.

Ini bukan menakut-nakuti, tetapi memang demikian FirmanNya.
“Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas- bekas yang mereka tinggalkan”

Kalau orang terkena Virus Corona kemudian akhirnya meninggal, dalam hadits orang yang terkena wabah terus wafat termasuk mati syahid. Tapi kalau Virus Pemikiran, kemudian menjalar kemana-mana , ini membahayakan generasi.

Manusia itu terdiri dari jiwa dan raga, Sebagaimana kita sangat cocern raga kita, maka kita juga harus menjaga pemikiran dan jiwa kita dari hal-hal yang membahayakan.
Maka jangan sampai Virus Liberalisme merasuki pemikiran generasi kita.


Apa itu Liberalisme ?

Liberalisme kalau kita buka dalam ensiklopedia definisinya diantaranya
adalah sebuah gerakan dalam agama Kristen Protestan yang menegaskan adanya kebebasan berfikir dan menegaskan bahwa agama Nasrani hanya bersifat etika saja. Dalam arti agama Nasrani tidak boleh terlalu jauh mengatur kehidupan manusia dalam urusan politik, ekonomi, sosial dan sebagainya.

Diantara imbas dari gerakan liberalisme ini adalah Para Teolog Kristen Barat saat itu akhirnya menggunakan methode historisisme dalam memahami Injil. Injil dikaji ulang bagaimana memahaminya.

Definisi dari historisisme :
Historicism is the belief that an adequate understanding of the nature of anything and an adequate assessment of its value are to be gained by considering it in terms of the place it occupied and the role it played within a process of development.
(Historisisme adalah sebuah kepercayaan bahwa kita tidak bisa memahami hakekat terjadinya sesuatu kecuali dengan melihat latar belakang dimana sesuatu itu terjadi dan mengapa sesuatu itu terjadi).

Metode historis sederhananya begini : Sebuah Undang-Undang atau Aturan itu kadang-kadang sulit memahaminya kalau tidak tahu kronologinya. Kenapa ada aturan itu ?

Dulu zaman kita masih muda tak ada aturan menyalakan lampu motor di siang hari. Sekarang harus menyalakan lampu motor, kalau tidak kena sangsi. Dulu tidak ada aturan, kenapa sekarang ada? Tentu ada kronologinya yang akhirnya kita mematuhi peraturan itu. Itu yang dimaksud dengan methode historis dalam memahami sebuah text atau aturan.

Alasannya mungkin bisa ditanyakan ke Satlantas. Mungkin diantara penyebab kecelakaan lalu lintas karena motor tidak menyalakan lampu. Atau daerah di Indonesia termasuk daerah yang rentan mendung dan berkabut sehingga harus menyalakan lampu motor.

Tentu ada “asbabun nuzul” dimana aturan itu naik. Di Malaysia juga sama, menyalakan lampu motor di siang hari itu wajib, bagi sepeda motor. Di London UK menyalakan lampu motor dan mobil wajib , terutama pada musim-musim dingin yang biasanya berkabut.

Maka saya menduga aturan menyalakan lampu motor di siang hari itu meniru apa yang ada di Kuala Lumpur, Di Malaysia. Malaysia ini bekas jajahan Inggris dan Inggris punya aturan itu.

Kita boleh bertanya kalau di negara yang sering berkabut hal itu wajar ada aturan menyalakan lampu motor di siang hari. Tetapi kalau di negara yang, terang benderang seperti Malaysia dan Indonesia apa relevan? Maka kita dalam hal ini sah-sah saja jika meninjau ulang aturan itu. Dan itu wajar selama aturan itu buatan manusia maka boleh saja kita meninjau ulang atau mengamandemen
sebuah Undang Undang atau aturan itu.

Di Turki ada seorang ulama kharismatik namanya Bediuzzaman Said Nursi, beliau hidup pada zaman Kemal Ataturk. Beliau punya statemen yang terkenal sampai sekarang.
“Audzu billahi minnasy syaithoni wa minnash siyasah” (Saya berlindung kepada Allah dari Setan dan dari Politik).

Beliau mengatakan statemen itu karena memang hidup di masa Kemal Ataturk yang memang luar biasa ganasnya terhadap semua yang berbau islam. Jadi sangat relevan sekali beliau mengatakan itu pada masa itu.

Kita tidak bisa mengadopsi perkataan atau sikap beliau terhadap politik dalam konteks Indonesia. Kondisi politik dimana Nursi berhadapan dengan politik saat itu tentunya berbeda dengan kondisi politik di Indonesia. Kita tidak bisa mengadopsi sebuah prinsip dimana kondisinya berbeda. Itulah yang disebut dengan Historisisme.

Sebuah aturan di Kitab Suci itu ditinjau ulang karena bisa jadi relevan pada saat itu tapi tidak relevan pada masa berikutnya. Itu yang dilakukan oleh sarjana Barat terhadap Kitab sucinya pada masa-masa Renaissance. Pada masa-masa mereka tersadarkan bahwa selama ini mereka ditindas oleh Gereja.

Mereka tidak punya sama sekali kesempatan untuk berfikir sejatinya Doktrin Gereja ini benar atau tidak karena benar-benar akal mereka benar-benar dikekang. Mereka disuruh “pasrah bongkokan” terhadap apa yang Gereja katakan. Dan itu berlangsung sangat lama, berabad-abad.

Historisisme ini yang menjadikan adanya pemicu Liberalisme di Barat. Bermula dari kritik mereka terhadap Bible mereka. Karena mereka melihat ajaran-ajaran di Bible tidak relevant pada masa kini.


Sejarah Liberalisme

Liberalisme ibarat sebuah Piramida ada 4 tiang penyangganya :
Freedom (Kebebasan), Individualisme (yang penting adalah hak pribadi untuk berfikir menentukan garis hidup), Relativisme (kebenaran itu relatif, Gereja bisa salah) , Rationalism (penggunaan akal tidak serta merta menerima Doktrin Gereja)
Ini adalah empat penyangga yang kemudian memunculkan sebuah pola pikir atau world view yang baru akibat adanya kekangan dari Gereja. Selama berabad-abad masyarakat Eropa dikekang oleh Gereja.

Kalau kita runut ke belakang :

Dari abad pertama Masehi sampai abad ketiga orang Eropa tidak mengenal agama Samawi. Mereka menyembah Kaisar mereka. Dakwah Nabi Isa belum sampai menyeberang ke bumi Eropa. Kalau ada satu dua orang yang menganut agama lain yang dianut orang Eropa, yaitu menyembah Kaisar, orang itu dianggap pendatang haram dan akan dieksekusi. Hal itu yang terjadi pada pengikut Isa.

Masuk abad ke empat, keadaan berubah drastis. Pada saat agama Kristen pertama kali masuk ke Eropa atau Romawi saat itu, mula-mula yang masuk Kristen adalah kalangan bangsawan di sana. Kemudian Kaisar yang sudah memeluk agama Kristen akhirnya memaksakan agama itu supaya dipeluk oleh seluruh penghuni Eropa. Agama Kristen yang dulu dimusuhi menjadi agama legal, bahkan resmi harus dianut oleh bangsa Eropa.

Tetapi agama Kristen yang masuk ke Eropa sejak pertama kali bukan agama Kristen yang diajarkan Nabi Isa. Melainkan agama Kristen yang sudah bercampur aduk dengan budaya Berhala. Ini diakui oleh sarjana Barat.

Di abad ke empat itulah hingga berabad-abad sampai abad ke 14 masyarakat Eropa hidup dibawah Doktrin Gereja yang bekerja sama dengan Penguasa. Abad ke empat sampai abad ke 14 dalam sejarah disebut dengan Middle Age atau Dark Age (Masa Kegelapan).

Kita tahu pada tahun 711 , abad 8 Islam sampai ke Spanyol dan membangun peradaban yang luar biasa pada saat orang Eropa hidup dalam kegelapan. Orang Eropa berkelana ke negeri lain ketika negaranya dijajah di kampung halamannya. Maka berbondong- bondonglah sarjana barat nyantri ke sarjana Muslim yang ada di Spanyol, bahkan mereka ada yang sampai menyeberang ke Mesir yang sudah dibawah kekuasaan Islam.

Hasil dari nyantri kepada Sarjana Muslim, beberapa tahun kemudian mereka balik ke Eropa lagi. Mereka kemudian sadar akan yang selama ini mereka alami. Akhirnya mereka mulai berfikir dan sampai pada tahap berani menentang Gereja. Ada beberapa sarjana barat yang kemudian mempunyai penemuan, tetapi penemuannya bertentangan dengan keyakinan Gereja, kemudian penemuannya dibredel dan penemunya dieksekusi.

Galileo menemukan bahwa pusat tata Surya bukan bumi, tetapi matahari. Padahal keyakinan Gereja bahwa bumi pusat tata Surya. Matahari yang mengelilingi bumi. Karena bertentangan dengan Gereja maka dia dieksekusi. Dan masih banyak lagi. Lama-lama kemudian bangsa Eropa sadar.

Sebelum tahun 1500 di Italia ada gerakan namanya Humanism. Gerakan memanusiakan manusia. Karena selama ini manusia di mata Gereja, tidak boleh menggunakan anugerah Tuhan yang terindah bagi manusia, yaitu akal. Gerakan ini karena mereka merasa hilang jati dirinya sebagai manusia, karena selama ini mereka dijajah oleh Gereja. Ini imbas dari gesekan beberapa orang Barat yang terpengaruh karya-karya sarjana muslim.

Gerakan humanism berjalan, kemudian Eropa memasuki masa Renaissance atau Pencerahan. Tidak lama setelah itu di Jerman ada gerakan, namanya Reformasi Agama yang mencetuskan agama baru yang memprotes apa yang selama ini diyakini oleh Katholik. Dan lahirlah agama Kristen Protestan yang dimotori oleh Martin Luther.

Sebelum Martin Luther menggagas reformasi agama , ada beberapa sarjana yang sudah mulai mengkritik Gereja tapi gaung mereka tidak sampai meluas karena keburu diperkarakan oleh Gereja.
Sejak saat itu kemudian terjadi revolusi di Inggris, di Perancis yang semuanya itu merupakan pemberontakan barat terhadap kesewenang-wenangan Gereja.
Setelah itu kemudian barat memasuki era yang namanya enlightenment atau Pencerahan sehingga kemudian masuk ke abad modern.

Barat menjadi Liberal karena sejak pertama kali kedatangannya di bumi Eropa, agama Kristen sudah bukan sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Isa. Yang mengatakan itu sarjana Barat bernama John William Draper dalam buku “History of the conflict between Religion and Science”.

Dia menulis di halaman 64/65
“Two causes led to amalgamation of Christianity with paganism :
1. The political necessities of the new dynasty ;
2. The policy adopted by the new religion to insure its spread”.

Ada dua sebab yang mengantarkan adanya perpaduan antara agama Kristen dan Paganism (budaya syirik atau berhala). Sebab itu :
– Karena memang secara politik Romawi pada saat itu perlu untuk mengadopsi agama ini.
– Hanya dengan begini, agama yang baru dipeluk orang Barat itu bisa tersebar luas.

Dalam perjalanannya Liberalisme ini adalah sebuah Worldview, cara pandang kehidupan yang tidak hanya menjadi inspirasi orang Barat dalam meniti kehidupan dunia. Dia juga berusaha menyebarluaskan faham ini ke luar Eropa.

Inti dari Liberalisme itu adalah Doktrin agama harus tunduk terhadap realitas kehidupan yang ada. Kalau ada aturan agama yang dianggap berseberangan dengan realitas atau kebutuhan manusia saat ini, maka Doktrin agama itu harus mengalah atau dikalahkan.
Doktrin ini mulai ditularkan ke dunia- dunia lain, terutama ke dunia islam. Sejak saat itu kemudian Liberalisme bergandengan tangan dengan Imperialisme yang merambah ke bumi- bumi di luar Eropa, tersebar ke seluruh dunia.


Masuknya Liberalisme ke Indonesia

Ada beberapa pintu masuknya liberalisasi ke dunia islam, dimana masuknya ke Indonesia adalah melalui
Penjajahan Belanda. Kita mengenal ada orientalis yang punya andil besar dalam mengekalkan penjajahan Eropa ke bumi Indonesia, yaitu Snouck Hurgronye. Dia meneliti kondisi umat Islam di Indonesia. Hasil penelitiannya itu kemudian direkomendasikan kepada Pemerintah VOC supaya bisa langgeng dalam menjajah Indonesia.

Intinya adalah VOC harus menerapkan
strategy Politik Belah Bambu dalam melaksanakan penjajahannya di Indonesia. Karena kekuatan global islam tidak dipecah belah akan membahayakan. Hal itu juga terjadi paska kemerdekaan. Islam ini adalah ancaman bagi barat, maka kekuatan itu harus dipecah belah sehingga Barat terus berkibar dengan Peradabannya.



BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here