KH. Anang Rikza Masyhadi

18 Ramadhan 1442 / 30 April 2021



Di bulan Ramadhan inilah Al Qur’an diturunkan.

Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَا نَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰ نُ هُدًى لِّلنَّا سِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَا لْفُرْقَا نِ ۚ 

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)..” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)

Kapan turunnya Al Qur’an terjadi banyak perdebatan. Dalam ayat lain disebutkan :

اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.” (QS. Al-Qadr 97: Ayat 1)

Malam Lailatul Qadar itu berarti “likuran”, artinya tanggal 20 ke atas. Ibnu Abbas r.a salah seorang sahabat Rasul berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Al Qur’an turun pada bulan Ramadhan itu Al Qur’an turun dari Allah ke Baitul Izzah.

Al Qur’an itu ada 30 juz sudah jadi, kemudian turun dari Allah ke Baitul Izzah, suatu tempat di bawah Arsy -nya Allah SWT. Dari Baitul Izzah itulah Al Qur’an diturunkan satu persatu, ayat demi ayat kepada Rasulullah dalam kurun waktu kurang lebih selama 23 tahun.

Jadi Al Qur’an yang turun pada Lailatul Qadar itu bukan berarti Al Qur’an turun kepada Rasulullah 30 juz pada waktu itu, tetapi itu adalah Al Qur’an 30 juz yang turun dari Allah kemudian disimpan di Baitul Izzah. Lalu dari Baitul Izzah diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah.


Fungsi Al Qur’an

Kita akan membahas apa itu Al Qur’an dan sejauh mana urgensi kita membaca Al Qur’an.
Al Qur’an itu fungsinya banyak. Dari Surat Al Baqarah 185 di atas kita dapatkan fungsi Al Qur’an sebagai
Petunjuk, Penjelas dan Pembeda.

Tidak hanya tiga itu saja, tapi banyak sekali fungsi Al Qur’an :
Al Qur’an adalah Hudan lil Mutaqin atau petunjuk untuk orang-orang yang bertakwa. Tetapi juga dalam ayat lain disebut Hudan lin nas atau petunjuk untuk manusia, bukan hanya orang beriman saja. Tetapi untuk semua termasuk orang-orang kafir.

Kemudian ada lagi Al Qur’an sebagai Penjelas, sebagai Pembeda, sebagai Obat, sebagai Khabar gembira untuk orang yang beriman, sebagai cahaya, sebagai Penerang, sebagai Pemberi peringatan. Itu semua adalah diantara fungsi-fungsi Al Qur’an.

Masing-masing itu adalah konsep.
Bagaimana konsep Al Qur’an sebagai Petunjuk orang bertakwa?
Bagaimana konsep Al Qur’an sebagai Petunjuk untuk manusia ?
Apa yang dimaksud dengan Al Qur’an sebagai Penjelas?
Apa yang dimaksud dengan Al Qur’an sebagai Pembeda ?
Ini semua merupakan sesi yang dapat dibahas.

Allah SWT berfirman:

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْۤا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Sad 38: Ayat 29)

Kita garis bawahi “agar mereka menghayati ayat-ayatnya”.
Ternyata Al Qur’an bukan sekedar untuk dibaca. Tetapi memang harus diperhatikan ayat-ayatnya.
Memperhatikan itu berarti berhenti dan mengamati. Ibarat ada tulisan dipinggir jalan, tulisan itu tidak hanya dibaca ketika kita lewat, tetapi dipikirkan : Apa maksudnya tulisan ini? Kenapa ini ? Ada apa? Dan seterusnya.

Ada 8 cara atau motif orang di dalam membaca Al Qur’an.

1. Untuk Memperbaiki Bacaan (Tahsin)
Belajar membaca karena merasa bacaannya belum baik lalu dia berusaha untuk memperbaiki bacaannya.

2. Untuk Mendengarkan atau Menyimak.
Sebetulnya mendengar dan membaca itu punya kedudukan yang sama. Mendengar itu hakekatnya membaca juga kalau dia mengikuti.

3. Untuk Khatam dan Dapat Pahala.
Membaca dari Al Fatihah sampai ke An Nas, 30 juz khatam lalu kembali lagi ke juz 1 sampai ke juz 30. Terus tanpa berhenti. Tetapi tidak faham arti ataupun isinya. Yang penting pokoknya membaca sampai khatam.

4. Untuk Menghafal atau Mengulang Hafalan.
Boleh-boleh saja dan memang begitu. Bertambahlah hafalan kita ini.

5. Untuk Tadabur dan Merasakan Mukjizatnya
Mentadaburi adalah memperhatikan atau merenungkan ayat-ayat. Ayat demi ayat dikaji, direnungi, didalami.

6. Untuk Mempraktekkan Qiro’at ( Berdasarkan Riwayat)
Misal bacaan : “Wad dhuha wa laili idza saja”
Ada juga yang membacanya :
“Wadl-dluhee wallaili idza sajee. Maa wadda’aka rabuka wa maa qolee’.”
Jadi banyak sekali ragamnya. Ada 7 ragam bacaan, bahkan sekarang berkembang menjadi 10 ragam bacaan. Semuanya ditentukan oleh Rasulullah SAW.

Jadi kalau ada orang membaca Al Qur’an : Wadl-dluhee wallaili idza sajee. jangan disalahkan! Sepanjang dia konsisten. Tetapi kalau membacanya dia tidak konsisten berarti dia tidak mempraktekkan qiro’at tapi memang dia tidak bisa. Hal ini ada theorinya. Itu hanya bisa difahami dan dicerna oleh orang- orang yang memang memiliki ilmu tentang ini.

7. Untuk Dihadiahkan Kepada Mayat
“Mari kita kirimkan Al Fatihah kepada Fulan bin Fulan …”

8. Untuk Mendapatkan Berkah dan Kesembuhan.
“Untuk kesembuhan saudara Fulan bin Fulan mari kita bacakan Al Fatihah ..”
Al Fatihah itu punya banyak nama. Al Fatihah, Fatihatul Kitab, Ummul Kitab, Ummul Quro, Ummul Qur’an.

Termasuk nama lain dari Al Qur’an adalah As Sholah, karena orang kalau sholat tidak membaca Al Fatihah tidak sah sholatnya. Al Fatihah juga disebut dengan As Syafi. As Syafi itu obat, biasanya orang kalau sakit dibacakan Al Fatihah untuk mendapatkan kesembuhan.

Kita berada dimana? Di kelompok mana? Bisa jadi semuanya kita lakukan. Kita membaca untuk memperbaiki bacaan, untuk menyimak, untuk khatam, untuk menghafal, untuk Tadabur, untuk mempraktekkan qiro’at atau hanya dua atau hanya tiga. Tetapi inilah apa yang dilakukan orang ketika dia membaca Al Qur’an.


Al Qur’an itu Mudah

Surat Al Qomar ayat 17, 22, 32, 40 itu empat ayat yang redaksinya sama persis dan diulang-ulang.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰ نَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar 54: Ayat 17)

Allah sudah menegaskan bahwa Al Qur’an itu mudah, tidak sulit. Mudah dibaca, mudah dipelajari, mudah difahami, mudah direnungi, mudah diamalkan. Maka kalau ada orang mengatakan Al Qur’an itu sulit berarti dia bertentangan dengan Al Qur’an , bertentangan dengan apa yang Allah tegaskan. Pertanyaannya adakah orang yang mau mengambil pelajaran setelah Al Qur’an itu dimudahkan oleh Allah.?


Lima aspek Al Qur’an

Lima aspek itu adalah :
Al Qur’an sebagai Bacaan, Al Qur’an sebagai Hafalan, Al Qur’an sebagai Tulisan, Al Qur’an sebagai Pemahaman dan Al Qur’an sebagai Pengamalan.

1. Al Qur’an sebagai Bacaan

Kita harus membaca Al Qur’an. Membaca itu syaratnya 3 B : Benar, Bagus dan Banyak. Jadi jangan banyak-banyakan membaca Al Qur’an dulu sebelum bacaannya benar. Benar itu berarti makhorijul hurufnya benar, kaidah Tajwidnya benar. Panjang pendeknya benar.

Setelah bacaannya benar barulah dia memperbagus bacaan Al Qur’annya. Rasulullah sangat suka orang yang memperbagus bacaan Al Qur’annya.
Setelah Benar dan Bagus barulah yang ketiga : Banyak. Kadang-kadang dalam aspek bacaan Al Qur’an ini orang mengejar banyaknya tanpa memperhatikan benar dan bagusnya.

Yang lebih ironis lagi masih banyak orang islam yang bacaannya belum standard. Ini berarti ironi, sekian tahun berlalu hidupnya, masak bacaan Al Qur’annya belum standar.
Karena kita ini dari kecil sama-sama tidak tahu. Kita tidak tahu membaca huruf latin, tidak bisa membaca huruf Arab Al Qur’an dan tidak bisa berhitung.

Tapi dalam perjalanannya kita bisa berhitung, bisa membaca huruf Latin dengan lancar karena Proses belajar.
Bahkan proses belajar yang lain- lainnya bisa kita lakukan dan kita bisa mengetahuinya tetapi satu hal yang kadang-kadang kita terlupa. Yaitu proses belajar membaca Al Qur’an dengan benar dan baik kadang-kadang terlupakan sampai berumur sampai tua.

Apa yang akan kita pertanggung jawabkan dihadapan Allah kalau kita sebagai muslim, bacaan Al Qur’annya tidak standar ?. Itu berarti bahwa memang selama ini banyak di kalangan orang islam tidak menjadikan bacaan Al Qur’an dengan baik itu sebuah agenda. Bahkan saya dapati bahwa anak-anak muda muslim, anak-anak milenial sampai umur 15 – 20 tahun masih belum bisa membaca Al Qur’an dengan baik.

Itu nanti orang tuanya bagaimana akan menghadap Allah? Bagaimana akan mempertanggung-jawabkannya dihadapan Allah? Artinya umur-umur berlalu begitu saja hingga 15-20 tahun ternyata Al Qur’an memang tidak pernah menjadi agenda untuk dipelajari bacaannya dengan baik dan benar.

2. Al Qur’an sebagai Hafalan

Jangan sampai orang muslim tidak punya hafalan Al Qur’an sama sekali. Standar minimal adalah Al Fatihah dan satu atau dua Surat. Karena itu untuk kepentingan Sholat.

Nabi SAW bersabda :

لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ

“tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitaab” (HR. Al Bukhari Muslim)

Berarti minimal kita harus hafal Al Fatihah. Okelah kita sudah hafal semua Al Fatihah meskipun bacaannya nanti bagus atau tidak, itu soal lain.
Lalu surat lainnya apa ? Mungkin Al Ikhlas. Berarti kalau shalat kita membaca Al Fatihah dengan Al Ikhlas. Tetapi shalat kita dalam sehari lima kali, dan beberapa raka’at ?.
Apakah mau Al Fatihah dan Qulhu wallahu Ahad terus? .
Jadi tidak mungkin kita hanya menghafal satu ayat-dua ayat atau satu surat-dua surat saja.

Hafalan harus bertambah . Kita ini punya 6000 ayat lebih, 30 juz. Dan ini menjadi petunjuk bagi kita, masak yang lain bisa kita hafal pelan-pelan tapi Al Qur’an tidak menambah hafalan. Setahun berlalu tak satupun ayat atau Surat yang bertambah di dalam memori kita. Lalu apa yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah, bahwa ketika Allah memberi nikmat memori kita, Allah memberi nikmat pikiran kita.

Pertanyaannya berapa Giga memorimu yang ada di dalam otak yang kau isi dengan hafalan Al Qur’an, sementara yang lain kita hafal juga. Kita banyak menghafal hal-hal yang lain. Kalau sampai orang muslim hafalan Al Qur’annya tidak bertambah. Statis tidak dinamis maka dapat disimpulkan bahwa dia memang tidak menjadikan Al Qur’an sebagai agenda penting dalam hidupnya.

3. Al Qur’an sebagai Tulisan

Al Qur’an itu juga tulisan. Bayangkan kalau Al Qur’an tidak pernah ditulis. Orang yang pertama kali menggagas tulisan adalah Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. Kemudian diteruskan dan dicanangkan secara masal oleh Sayyidina Usman bin Affan ra
Bayangkan kalau Al Qur’an tidak pernah ditulis. Gelap gulita kita ini. Hari ini kita tidak melihat dan tidak bisa membayangkan Al Qur’an seperti apa. Karena tidak pernah ditulis.

Sekarang kita membaca Al Qur’an sudah mudah karena sudah ada bentuknya mushaf, bahkan ada yang di hand phone dan lain sebagainya.
Artinya adalah aspek tulisan itu menjadi salah satu aspek penting dalam Al Qur’an.

Pertanyaannya adalah pernahkah tangan kita digunakan untuk menulis ayat-ayat Al Qur’an? Atau kita hanya sekedar membaca tulisan orang? Atau kita membaca cetakan Al Qur’an? Atau membaca Al Qur’an di dalam aplikasi?
Maka gunakanlah sekali-kali tangan kita untuk menuliskan Al Qur’an. Minimal :

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

bismillaahir-rohmaanir-rohiim

Tulislah ulang supaya menjadi saksi dihadapan Allah bahwa tangan kita pernah digunakan untuk menulis Kalamullah. Karena tangan ini kan digunakan untuk menuliskan banyak hal.
– Dokter menulis resep
– Guru menulis pelajaran
– Notaris, ahli hukum menulis legal drafting.
– Novelist / Sastrawan menulis Syair, Puisi dan Novel.

Semua kita tulis, tetapi apakah kita pernah menulis Al Qur’an? Apalagi sekarang dijual Al Qur’an tulis itu. Al Qur’an yang ada di Toko-toko itu ada Al Qur’an yang dicetak tidak tebal. Dicetak remang-remang supaya kita menebalkan seperti anak TK menebalkan huruf-huruf abjad.

Beli saja Al Qur’an tulis, siapkan pulpen di rumah, kita tinggal mengikuti saja tulisan itu. Supaya dihadapan Allah kita bisa bersaksi bahwa tangan ini selain banyak menuliskan hal-hal lain, tapi tangan ini pernah digunakan untuk menuliskan Al Qur’an.

4. Al Qur’an sebagai Pemahaman

Jangan sekedar bacaan, jangan sekedar hafalan, jangan sekedar tulisanlah. Inti dari Al Qur’an adalah Pemahaman. Pemahaman kita harus bertambah, harus meningkat .
Masak dari dulu yang difahami hanya satu Surat, dua Surat. Difahamilah Al Qur’an itu. Bukanlah tadi sudah dijelaskan

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰ نَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ

Al Qur’an itu sudah dimudahkan oleh Allah untuk dijadikan pelajaran.
Masalahnya ada atau tidak yang mau mengambil sebagai pelajaran?
Jadi harus difahami, harus berusaha memahami. Tidak boleh putus asa memahami Al Qur’an. Cari sampai ke ujung dunia, sampai kita benar-benar mendapatkan pemahaman.

Sebetulnya hidup kita ini sudah selesai dengan Al Qur’an. Karena petunjuknya sudah banyak. Sehingga kalau ada masalah, ada problem sebetulnya Al Qur’an sudah secara eksplisit maupun implisit secara terang- terangan maupun secara tidak langsung Al Qur’an sudah menunjukkan jalan keluar. Ditambah lagi Hadits-Hadits Rasul SAW.

Jangan sampai pemahaman kita statis, maka perlu mengaji, maka perlu belajar, maka perlu Bedah Al Qur’an, maka perlu mengaji Tafsir. Maka sumber- sumber itu perlu dilacak, dikejar dan ini tidak ada hubungannya dengan disiplin ilmu. Pemahaman itu bukan hanya untuk orang yang belajar agama.

Orang yang belajar agama tugasnya adalah mengajarkan pemahaman Al Qur’an. Tetapi orang-orang yang tidak belajar agama harus tetap berusaha memahami Al Qur’an melalui pemahaman yang benar. Ini yang harus diperhatikan betul.

5. Al Qur’an sebagai Pengamalan

Kalau sudah dibaca , sudah dihafal, sudah ditulis, sudah difahami, baru yang terakhir adalah Pengamalan. Al Qur’an harus menjadi sikap dan perilaku keseharian. Manifestasinya adalah dalam perilaku kita.

Makanya ketika itu untuk Sayyidah Aisyah r,anha istri Rasul ditanya oleh Sahabat :
“Wahai Aisyah, bagaimana akhlak Rasulullah?”
Aisyah kan isteri Rasul, tahulah dia akhlak Rasul di dalam dan di luar rumah. Maka dijawab oleh Siti Aisyah.
“Kana khuluquhul Quran (akhlak Rasulullah adalah Alquran),”

Jadi kalau mau melihat Al Qur’an berjalan, Al Qur’an yang hidup ya Rasulullah itu “The living Qur’an”.
Artinya seluruh ayat-ayat dalam Al Qur’an itu termanifestasikan di dalam akhlakul karimahnya Rasulullah SAW.

Kita ini, berapa ayat yang sudah menjadi sikap kita ?. Berapa ayat yang sudah menjadi Perilaku kita? Berapa ayat yang sudah kita amalkan.?
Masak statis ? Maka kita harus dinamis mengamalkan ayat-ayat Al Qur’an itu di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Lima aspek itu : aspek bacaan, aspek hafalan, aspek tulisan, aspek pemahaman dan aspek pengamalan yaitu akhlakul karimah.
Maka ushikum wa iyaya, kunasehatkan kepada diriku sendiri dan kepada semuanya agar kelima-limanya ini menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here