Dr. Zuhad Masduki MA

16 Ramadhan 1442 / 28 April 2021



Ada buku berjudul Fadhoil Suwaril Qur’an , bukunya cukup tebal isinya adalah riwayat-riwayat yang bersumber dari Rasulullah yang berbicara tentang fadhilahnya Surat- surat Al Qur’an. Tidak semua Surat, tapi sebagian ada ditulis disitu.

Dari pendahuluan kitab tersebut ditulis bahwa Al Qur’an adalah Kitab petunjuk bagi manusia dalam bidang akidah, syari’ah, akhlak dan menyangkut seluruh aspek kehidupan. Ada petunjuknya di dalam Al Qur’an, sehingga kalau kita bicara tentang fadhilah Surat Al Qur’an itu kaitannya adalah dengan mengkaji isi Surat- Surat yang disebutkan fadhilahnya itu.
Bukan kalau Al Qur’an dibaca lalu spontan langsung muncul hal-hal yang aneh-aneh di luar dugaan.

Dalam kajian kita, kita akan sebutkan dulu fadhilahnya, kemudian akan menghubungkan dengan isi dari Surat itu.


1. Fadhilah Surat Al Kahfi

Membaca surat ini banyak diamalkan oleh kaum muslimin. Salah satu riwayat yang termaktub di dalam kitab Fadhoil Suwaril Qur’an mengatakan
“Barang siapa membaca 10 ayat awal surat al Kahfi dan 10 ayat akhir surat al Kahfi maka dia akan terbebas dari gangguan Dajjal”

Dalam hadits itu disebut qoro’a yang artinya membaca secara tartil, lalu memahami, menghayati lalu mengamalkan isinya akan terbebas dari gangguan para Dajjal.

Surat Kahfi isinya banyak cerita. Pada awalnya terdapat kisah Ashabul Kahfi. Sesudahnya disebutkan kisah dua pemilik kebun. Selanjutnya terdapat isyarat tentang kisah Adam dan iblis. Pada pertengahan surat diuraikan kisah Nabi Musa dengan seorang Hamba Allah yang sholeh. Pada akhirnya adalah kisah Dzul Qarnain. Sekian besar dari sisa ayat-ayatnya adalah komentar menyangkut kisah-kisah itu. Disamping beberapa ayat yang menggambarkan peristiwa Kiamat.

Benang merah dengan tema utama yang menghubungkan kisah-kisah Surat ini adalah pelurusan akidah Tauhid dan kepercayaan yang benar.
Pelurusan Akidah menurut para ulama disarankan oleh awal Surat ini dan akhirnya.

Tema utama Surat ini adalah menggambarkan betapa Al Qur’an adalah suatu Kitab yang sangat agung. Karena Al Qur’an mencegah manusia mempersekutukan Allah berkenaan dengan kekuasaannya yang telah terbukti dengan jelas pada uraian Surat-surat Al Qur’an yang lain. Yang dimulai dengan Surat sebelumnya adalah Surat An Nahl dengan tasbih mensucikan dari segala kekurangan dan sekutu.

Surat ini juga menceriterakan secara hak dan benar berita sekelompok manusia yang telah dianugerahi keutamaan pada masanya, sebagaimana diuraikan surat Isra’ yang menyatakan bahwa Allah memberi keutamaan siapa yang dikehendakinya dan melakukan apa saja yang dikehendakinya.

Hal yang paling menunjukkan tema tersebut adalah Ashabul Kahfi (penghuni gua) , karena berita tentang mereka demikian rahasia. Sebab kepergian mereka meninggalkan masyarakat kaumnya didorong oleh keengganan mengakui syirik. Dan keadaan mereka membuktikan setelah tertidur sedemikian lama bahwa memang yang Maha Kuasa itu adalah Maha Esa.

Apa yang dikemukakan oleh para ulama dapat disimpulkan dengan menyatakan bahwa Surat ini bertemakan tentang uraian akidah yang benar melalui pemaparan kisah- kisahnya yang sangat menyentuh.

Siapa yang membaca 10 ayat awal Surat Kahfi dan 10 ayat akhir Surat Kahfi maka dia akan terlindung dari gangguan Dajjal. Kita perlu definisikan dulu, Dajjal itu apa atau siapa ?

Dajjal dari kata Dajala artinya melapisi atau menutupi. Kalau ada orang punya Pisau berlapis emas, maka lapisan emas itu ada di paling luar, dia menutup lapisan bawahnya.

Kalau ada tembok dicat warna dasarnya kemerah-merahan, lalu warna paling atas putih. Maka yang putih menutup yang bawah itu. Itu namanya Dajala-yudajalu.
Kata Dajjal berubah maknanya sehingga kemudian secara istilah dimaknai sebagai pendusta, pembohong, penipu.

Kalau ada ahli hadits suka melakukan tindakan memalsukan hadits, maka oleh Para kritikus hadits, ahli hadits yang memalsukan hadits itu diberi predikat sebagai Dajjal. Dia pembohong karena membuat hadits palsu. Orang yang sudah diberi predikat seperti ini hadits-haditsnya tidak boleh diterima. Dan saat ini banyak beredar hadits-hadits yang diciptakan oleh orang yang berpredikat Dajjal. Kebohongan dalam bidang agama.

Kebohongan bisa dalam bidang keagamaan, bisa dalam bidang hadits, bisa dalam bidang sosial ekonomi, politik, kebudayaan, pendidikan dan seterusnya. Hanya memang menurut Al Qur’an kebohongan yang paling besar dosanya adalah kebohongan dalam bidang agama, terutama yang berkaitan dengan ketauhidan menyangkut masalah paham keEsaan Allah.

Di dalam Surat Al Kahfi, 10 ayat awal dan 10 ayat akhir secara tekstual kata-kata dajjal tidak ada, yang ada sinonimnya.

Pada 10 ayat awal Al Kahfi ada di ayat ke 5 Allah SWT berfirman:

وَّيُنْذِرَ الَّذِيْنَ قَا لُوا اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًا (4) مَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ وَّلَا لِاٰ بَآئِهِمْ ۗ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْ ۗ اِنْ يَّقُوْلُوْنَ اِلَّا كَذِبًا (5)

“Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak. Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan sesuatu kebohongan belaka.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 4-5)

Di ayat kelima, teks terakhir adalah kazibaa, pelakunya namanya Kadzab sinonim dari Dajjal. Maka dajjal adalah semua orang yang telah menyimpangkan faham Tauhid menjadi faham Syirik.

Kalau kita melihat sejarah di masa turunnya ayat , mereka yang telah melakukan penyimpangan akidah ada 3 golongan.

– Orang Musyrik Mekkah.
– Orang Yahudi
– Orang Nasrani

  1. 1. Orang Musyrik Mekkah
    Orang Musyrik Mekkah mempunyai keyakinan Paganisme. Tuhan yang paling tinggi itu Allah tetapi dibawahnya ada Tuhan-Tuhan lain. Yang besar ada tiga : Lata, Uzza dan Manad, yang fungsinya adalah sebagai obyek tawazul untuk menyampaikan do’a-do’a mereka kepada Allah. Ini sudah dikritik di Al Qur’an dalam surat An Najm dari ayat 23.

    Allah SWT berfirman:

    اِنْ هِيَ اِلَّاۤ اَسْمَآءٌ سَمَّيْتُمُوْهَاۤ اَنْتُمْ وَاٰ بَآ ؤُكُمْ مَّاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍ ۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَ نْفُسُ ۚ وَلَقَدْ جَآءَهُمْ مِّنْ رَّبِّهِمُ الْهُدٰى 


    “Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk menyembahnya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka.” (QS. An-Najm 53: Ayat 23)

    Allah menolak mereka secara logis. Berhala itu dari batu, kenapa punya peran jadi obyek tawazul ? Dajjalnya adalah mereka yang menyimpangkan Tauhid. Mereka mengaku mewarisi agama Nabi Ibrahim yang bertauhid, tetapi dalam prakteknya mereka justru berseberangan dengan ajaran yang ditanamkan oleh Nabi Ibrahim.

    2. Orang Yahudi yang punya keyakinan bahwa Uzair itu anak Allah.

    وَقَا لَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ٱِبْنُ اللّٰهِ وَقَا لَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِاَ فْوَاهِهِمْ ۚ يُضَاهِئُوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۗ قَا تَلَهُمُ اللّٰهُ ۚ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ‏

    “Dan orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah 9: Ayat 30)

    3. Orang Nasrani yang menuhankan Isa. Faham Trinitas.

    لَـقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَا لُوْۤا اِنَّ اللّٰهَ ثَا لِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّاۤ اِلٰـهٌ وَّا حِدٌ ۗ وَاِ نْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ

    “Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 73)

    Kemudian di 10 ayat terakhir ada di ayat ke 102

    اَفَحَسِبَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَنْ يَّتَّخِذُوْا عِبَا دِيْ مِنْ دُوْنِيْۤ اَوْلِيَآءَ ۗ اِنَّاۤ اَعْتَدْنَا جَهَـنَّمَ لِلْكٰفِرِيْنَ نُزُلًا

    “Maka apakah orang kafir menyangka bahwa mereka dapat mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sungguh, Kami telah menyediakan Neraka Jahanam sebagai tempat tinggal bagi orang- orang kafir.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 102)

    Pertanyaan ini adalah merupakan bentuk penyangkalan terhadap orang Musyrik Mekkah, Orang Yahudi dan Nasrani.

    Kalau kita tarik ke masa sekarang , yang dimaksud Dajjal dalam bidang agama adalah pewaris agama-agama itu. Sepanjang mereka masih menyimpangkan ajaran Tauhid menjadi yang lain maka mereka mendapatkan predikat sebagai Dajjal.

    Pada saat shalat kita diajarkan oleh Allah untuk memohon perlindungan dari Dajjal saat duduk tahiyat akhir.

    اللهم إني أعوذ بك من عذاب القبر ومن عذاب النار ومن فتنة المحيا والممات ومن فتنة المسيح الدجال

    Allaahumma inni a’uudzubika min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabinnaari jahannama wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min fitnatil masiihid dajjaal.

    Artinya:
    “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari adzab kubur dari adzab Neraka jahanam , dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah Dajjal.”

    Al Masih Dajjal artinya adalah Al Masih yang palsu. Al Masih yang benar adalah Nabi Isa. Pemimpin agama yang betul-betul murni akidahnya.
    Al Masih Dajjal adalah pemimpin- pemimpin agama yang palsu, yang menjanjikan keselamatan. Padahal apa yang mereka katakan bertentangan dengan firman-firman Allah yang ada dalam kitab Suci.

    Kalau ayat ini kita fahami seperti ini artinya kita dalam beragama harus betul-betul berpegang teguh pada prinsip Tauhid, jangan sampai menyimpang dari prinsip Tauhid.
    Allah itu seperti dalam Surat Al Ikhlas : Esa DzatNya, Esa Sifatnya, Esa Perbuatannya.

    Inilah yang harus kita pegang teguh supaya kita terhindar dari gangguan Dajjal. Karena para Dajjal punya kekuatan. Kekuatan ilmu pengetahuan, kekuatan Ekonomi dan boleh jadi kekuatan Sosial Politik. Sehingga gangguan-gangguan mereka tidak mudah ditangkal. Apalagi kalau kondisi umat islam miskin, kalah dalam berbagai bidang kehidupan. Maka menangkal tipu daya Dajjal tentu tidak mudah.

    Dalam riwayat-riwayat juga dikisahkan Nabi Isa akan turun ke bumi untuk perang dengan Dajjal. Dan akhirnya dia berhasil membunuh Dajjal. Riwayat ini ada yang memahaminya letterlijk, bahwa Nabi Isa kelak akan turun lagi ke bumi. Tapi kalau menurut riwayat yang lain dan menurut ayat-ayat Al Qur’an, Nabi Isa sudah wafat dan tidak mungkin bisa lagi turun ke bumi.

    Dalam tafsir Al Manar, turunnya Nabi Isa ke bumi maksudnya ajaran islam itu gabungan dari ajaran Nasrani dan Yahudi. Syari’at Yahudi itu syari’at yang sangat zakelijk, sangat formalistik karena mengatur orang-orang Yahudi yang sulit diatur. Syari’at Isa syari’at yang sangat longgar. Orang beragama itu yang penting menghayati substansinya. Syari’at atau formalitas tidak penting.

    Islam mengambil dua-duanya. Formalitas diambil, Substansi juga diambil. Kita sebagai muslim harus menangkap keduanya. Syari’at agama kita laksanakan : Shalat, Haji, Zakat dan lain-lain. Pesan moral yang ada di dalam syari’at agama juga harus dilaksanakan.

    Kalau betul betul menjadi muslim konsisten seperti itu, inilah nanti yang bisa membunuh Dajjal. Jadi penerapan ajaran islam secara betul dalam kehidupan bermasyarakat yang akan membunuh Dajjal.

    Kalau mayoritas umat Islam melaksanakan inti ajarannya, Dajjal tidak akan muncul, karena pasti akan diberantas umat islam. Tetapi kalau umat Islam tidak melaksanakan ajaran agamanya secara konsisten, Dajjal bisa muncul kemana-mana. Kalau kontrol sosial lemah Dajjal bisa muncul.

    Itulah fadhilah Surat Kahfi. Siapa yang membaca 10 ayat awal dan 10 ayat akhir akan terbebas dari Dajjal.
    Maksudnya supaya membentengi akidah Tauhid. KeEsaan dzat, keEsaan sifat dan keEsaan perbuatan.


    2. Fadhilah Surat Al Waqi’ah

    Fadhilah Surat Al Waqi’ah
    “Siapa yang membaca Surat Al Waqi’ah maka dia tidak akan ditimpa kemelaratan selama-lamanya”.

    Di masyarakat kita banyak orang-orang yang membaca Surat Al Kahfi terutama di malam jum’at. Surat Al Waqi’ah juga begitu. Dibaca di malam jum’at biar tidak terkena kemiskinan.

    Surat Waqi’ah kalau kita baca awalnya bicara tentang hari kiamat. Lalu dari peristiwa kiamat itu nanti orang akan terbagi menjadi tiga :
    Al muqorobun, Ashabul Yamin dan Ashabul Syimal. Lalu ayat berikutnya bicara fasilitasnya masing-masing apa saja. Siksa yang akan diterima Ashabul Syimal, orang-orang yang durhaka kepada Allah SWT. Jadi Surat Al Waqi’ah tidak bicara rezeki.

    Ayat lanjutannya Allah mendebat orang-orang yang tidak mengakui keEsaan Allah SWT. Allah itu pencipta segala sesuatu , termasuk pencipta manusia.

    Maka Allah mendebat mereka.
    Pertanyaan Allah yang pertama :

    نَحْنُ خَلَقْنٰكُمْ فَلَوْلَا تُصَدِّقُوْنَ (57) اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تُمْنُوْنَ (58) ءَاَنْتُمْ تَخْلُقُوْنَهٗۤ اَمْ نَحْنُ الْخٰلِقُوْنَ (59)

    “Kami telah menciptakan kamu, mengapa kamu tidak membenarkan hari Berbangkit ? Maka adakah kamu perhatikan, tentang benih manusia yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, ataukah Kami penciptanya?” (QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 57-59)

    Ketika kamu berhubungan intim, pancaran sperma itu Allah yang menciptakan atau kamu yang menciptakan?

    Tentu bukan manusia yang menciptakan. Yang menciptakan Allah melalui system yang telah ditetapkan. Manusia makan, yang dimakan sebagian menjadi sperma. Ketika hubungan intim spermanya keluar. Itu melalui sistem yang diciptakan Allah. Tidak tiba-tiba saja terjadi.

    Artinya kalau kita mau punya keturunan. Tentunya kita menikah, rezeki anak itu diawali dari orang itu mau menikah. Sistem ini harus diikuti.
    Kalau tidak mau mengikuti sistem ini tentu tidak akan punya keturunan.

    Pertanyaan Allah kedua :

    اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَحْرُثُوْنَ (63)
    ءَاَنْتُمْ تَزْرَعُوْنَهٗۤ اَمْ نَحْنُ الزّٰرِعُوْنَ (64)

    “Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam?”
    “Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan?”
    (QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 63-64)

    Kalau kita menanam biji-bijian, ada lombok padi jagung dan lain-lain. Petani menyebarkan bibit-bibit itu. Setelah beberapa hari tumbuh. Yang menumbuhkan itu Tuhan. Manusia hanya berperan menyiapkan lahan lalu menabur bibit. Yang menumbuhkan bibit itu hingga bertunas adalah Allah SWT. Artinya kalau orang mau panen dia harus mengikuti sistem ini.

    Pertanyaan Allah yang ketiga :

    اَفَرَءَيْتُمُ الْمَآءَ الَّذِيْ تَشْرَبُوْنَ (68)
    ءَاَنْـتُمْ اَنْزَلْـتُمُوْهُ مِنَ الْمُزْنِ اَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُوْنَ (69)

    “Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?” “Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?” (QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 68-69)

    Tentu Allah SWT yang menurunkan melalui sistem itu. Air laut kena panas matahari, menguap ke atas. Lalu disana terjadi awan. Awan berubah menjadi titik-titik air yang turun ke bumi. Siklus itu terjadi terus menerus secara rutin. Air ada yang masuk ke dalam tanah. Lalu kita menggali sumur untuk mengeluarkan air itu.
    Kita hanya menggali sumur, menyedot air itu dari tanah. Tetapi yang menurunkan air dari langit itu Allah SWT.

    Pertanyaan Allah yang ke empat kepada orang yang ingkar akan kekuasaan dan keEsaan Allah adalah tentang api yang kita gunakan untuk memasak.

    اَفَرَءَيْتُمُ النَّا رَ الَّتِيْ تُوْرُوْنَ (71) ءَاَنْتُمْ اَنْشَأْتُمْ شَجَرَتَهَاۤ اَمْ نَحْنُ الْمُنْشِئُـوْنَ (72)

    “Maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (dengan kayu)?
    Kamukah yang menumbuhkan kayu itu ataukah Kami yang menumbuhkan?”
    (QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 71-72)

    Tentu orang menjawab yang menumbuhkan pepohonan adalah Allah SWT. Tetapi untuk menjadikan api harus menebang kayu. Dikeringkan dan dijadikan kayu bakar untuk kita masak-memasak.

    Artinya kalau kita mau dapat rezeki dalam pengertian ayat-ayat ini kita harus mengikuti sistem yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an.

    Mau dapat rezeki dalam wujud punya keturunan mengikuti sistem.
    Mau punya rezeki dalam wujud terpenuhinya kebutuhan makan harus mengikuti sistem.
    Mau dapat rezeki dalam bentuk terpenuhinya kebutuhan minum harus mengikuti sistem.
    Untuk bisa masak dan lain sebagainya juga harus mengikuti sistem supaya mendapatkan api.

    Kalau kita lihat dalam Al Qur’an, sebenarnya Surat Al Waqi’ah yang bicara rezeki, bahwa bila orang kalau membaca Surat Al Waqi’ah tidak akan tertimpa kemiskinan, berarti kalau sistem ini diikuti maka manusia tidak akan ditimpa kemiskinan karena dia akan selalu memperoleh rezeki dengan mengikuti aneka macam sistem yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

    Kalau kita fahami begini, pemahaman kita akan progresif. Bukan hanya dibaca kemudian Allah menjadikan kita kaya raya lalu rezeki datang tanpa diduga-duga. Bukan begitu. Kalau begitu tidak akan terjadi. Rezeki itu harus diusahakan dan datangnya kepada kita melalui aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

    Semoga bermanfaat
    Barokallohu fikum

    #SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here