Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

15 Ramadhan 1442 / 27 April 2021



Qolbun Salim

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَا لٌ وَّلَا بَنُوْنَ (88) اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ (89)

“yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 88-89)

Kita tak akan bosan mengingatkan ini, bahwa modal kita kelak bertemu Allah adalah Qolbun Salim. Kita harus menata, merawat dan menjaga hati dengan strategy sabar beribadah, total antara hati, lisan dan perbuatan.

Templatenya adalah :
Jangan sampai Qolbu yang menjadi komandan dari bagian-bagiannya, dikalahkan oleh bagiannya.
Diambil alih oleh Akal (al aql)
Diambil alih oleh Nafsu (al hawa)

Kalau Nafsu (al Hawa) menjadi komandan, tampilannya bisa pakai sorban, tapi tahu-tahu ketangkap KPK. Ini al Hawa mensetting dirinya sedemikian rupa sehingga tampilannya betul-betul orang tidak mengetahui.

Sebaliknya Akal (al aql) yang sangat menonjol, akhirnya semua diothak-athik dengan akal pikiran. Sampai ada yang mengatakan : “Al Qur’an itu hanya versinya Nabi Muhammad, karena kecampuran dengan bahasanya beliau. Antara bahasa Tuhan masuk ke dirinya kemudian keluar menjadi bahasa manusia, sehingga tidak murni lagi sebagai Firman Allah”.
Maa Syaa Allah Naudzubillahi min dzalik.

Othak-Athik itu menghambat kita, karena akhirnya kita ikut bertanya- tanya kalau mendengar ceramah seperti itu. Alhamdulillah kita jauh dari itu, mudah-mudahan selamat al Fuad atau al Hawa tidak mengambil alih jadi komandan. Tetapi masih seimbang Al Fuad dipadu dengan As Shadr.
As Shadr, komponen hati (Qolbu) yang positif berhasil dikembangkan , sehingga Al Hawa mengecil, dikendalikan. Al Aql berkembang tetapi di dalam Al Fuad (positif).

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِ سْلَا مِ ۚ 

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah , Dia akan membukakan dadanya untuk menerima Islam….” (QS. Al-An’am 6: Ayat 125)

An Nafs adalah totalitas dari jiwa, kalau secara ilmu Psikhiatri adalah Pemikiran, Perasaan dan Perbuatan atau Ego, Super Ego dan Id, mana yang kuat.

Dalam pengajian ini kita memadukan kajian yang bersifat ilmu yang berlaku umum misalnya Psikhiatri dengan Al Qolb dari Imam Ghozali atau Imam lain. Dengan template ini untuk kita sebagai manusia bisa menganalisis posisi kita ada dimana.

Apakah posisi kita Al Hawanya dominan sehingga menekan yang lain akhirnya tidak bisa menangkap semua yang disampaikan oleh Allah dan Rasulnya ? Takwa yang ada dalam 4 ayat surat Al Baqarah adalah breakdownnya saja. Penjabarannya tentu luas sekali seisi Al Qur’an yang digambarkan 6666 ayat.


Belajar Sabar

Mudah-mudahan kita sabar dalam taat pada Allah khususnya bulan ini, bulan Ramadhan. Karena ada yang tidak sabar akhirnya masih sama dengan dirinya yang dulu. Tidak berubah, ada yang sampai sepuh tidak berubah. Masih bersikap seperti dulu. Mari kita berubah, orang Jawapun ada istilah Mandhito Ratu, pada usia tertentu sudah makin dekat pada pekerjaan- pekerjaan yang bersifat ukhrowi.


Halangan Terhadap Qolbu

Disampaikan dalam Surat At Taubah ayat 24, kita ingatkan terus dengan tujuan agar dapat kita atasi :
– Bapak-bapakmu
– Anak-anakmu
– Saudara-saudaramu
– Isteri-isterimu
– Harta yang Kamu usahakan
– Perniagaan yang Kamu takut rugi
– Tempat tinggal yang kamu sukai

– Kaum Keluarga atau Sukumu
Ini banyak masalah, kita mungkin pernah dengar : “Wong Jawa ora ngerti Jawane”. Seolah kita harus melebihkan keJawaan daripada Islam. Padahal ada contoh dari sahabat Umar bin Khattab r.a, begitu masuk islam maka semua adat yang tidak cocok dengan islam dibuang. Akhirnya beliau menjadi Khalifah. Semuanya begitu. Abu Bakar, Umar, Mush’ab bin Umair.

Nusaibah juga begitu. Yang semula pengikut Paganisme (Penyembah Berhala) setelah mendengar islam langsung berubah. Salman Al Farisi malah lebih fenomenal lagi, sampai perjalanan ke benua lain , mutar-mutar tidak karuan karena mencari hidayah.

Kemudian yang mengganggu kita pemikiran Tokoh JIL :
“Tidak usah haji, uangnya untuk membangun infra struktur saja, haji itu pemborosan”. Bahkan ada yang sampai ekstrim : “Haji itu ditipu orang Arab, kita disuruh keluar uang banyak”.

Gangguan itu macam-macam dan makin rumit hambatan ini. Akhirnya orang ada yang “stuck”, macet tak bisa kemana-mana. Atau begitu saja tidak mau berubah dari yang sudah dikerjakannya secara nyaman.
Misalnya kalau di Grup biasanya cuma selamat pagi, do’a-do’a terus ada lagu.
Diajak mengaji jawabannya : “Sorry mas, jam segitu saya tidur, maklum sudah tua …”.
Maka yang berhasil masuk Qolbun Salim adalah orang-orang pilihan, seperti spermatozoa yang bisa memasuki sel telur di garis finish. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang Muflihun.


Qolbu yang sehat ibarat Receiver

Al Qolb yang sehat mampu mencapai tahap ini :

اِنَّمَا كَا نَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَ طَعْنَا ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan perkara di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur 24: Ayat 51)

Agar kita dapat menghukumi dengan hukum islam maka untuk itu betapa penting kita mengamalkan do’a :

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا

Rodhitu billahi rabba, wa bil-islami dina, wa bi Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallama nabiyyan wa rasula.

Artinya: “Aku rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi).

Kita rela sebagai hamba Allah.
Kita rela beragama islam, satu-satunya agama yang diberi nama oleh Penciptanya. Kita bandingkan dengan yang lain dinamai oleh manusia.
Islam dikenalkan Allah dalam Al Qur’an :

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِ سْلَا مُ ۗ 

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam..” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 19)

Jadi nama Islam itu langsung dari Allah SWT, bukan karangan Nabi Muhammad SAW.

Untuk mencapai derajat Samikna wa Athokna, olah qolbunya yang penting.
Untuk membedakan mana yang penting, kita bisa memakai Theori persandingan. Diukur saja dengan keyakinan kita, dengan Iman kita, dengan Firman, dengan ketentuan agama. Mana yang memerlukan itu? Wajib atau tidak ? Kebutuhan atau hanya keinginan?


Al Fuad

Berisi pemikiran, lebih ke arah aspek- aspek yang luhur dari pemikiran. Isinya di dalam Al Fuad ada Al Aql. Kalau Al Aql sampai membesar dan mendesak Qolbu akhirnya menjadi JIL. Orang- orang yang mengothak-athik agama. Yang mengatakan : “Sudah tidak relevan ini, fiqihnya harus diganti. Al Qur’an itu cocoknya pada waktu itu tahun 650 an, sekarang tidak cocok lagi”. Ujungnya aneh-aneh.

Al Hawa

Sampai Rasulullah SAW bersabda :

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya merasa puas selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Kalau Al Hawa dituruti maka tidak akan selesai mencari harta. Praktek dokter juga termasuk disini.
Praktek dokter ada aspek luhurnya menolong manusia. Tetapi logikanya sudah tidak nyambung. Di Kota besar sudah ada UGD dimana-mana. Tapi kita masih berfikir mau buka Praktek menolong manusia dari jam 17.00 – 21.00

Masih tidak puas, kadang-kadang ada yang praktek tidak dibatasi. Kalau di Singapore jumlah pasiennya dibatasi. Karena waktu konsultasi untuk satu pasien antara 10-20 menit, maka segmen harus ditata menit demi menit. Pasien puas karena diperiksa dengan sepenuh hati, sepenuh pemikiran ilmu dan standar yang maksimal.

Di Indonesia tidak, makin banyak pasien dikenal hebat. Pasiennya sampai 200. Padahal badan rasanya sudah tidak karuan karena kerja dari jam 8 pagi sampai jam 16.00. Mungkin pulang sebentar untuk mandi. Tapi berangkat lagi. Ini kalau dari segi ilmu Tenaga Kerja sudah tidak bagus.

Aturan kerja adalah 40 jam per pekan. Kita yang mengusulkan, tetapi kita yang melanggar juga. Ini jangan-jangan karena Al Hawa menguasai. Karena Setan bisa membuat tema sesuatu menjadi indah : “Menolong orang”.
Akhirnya qolbu tidak bisa bersifat sebagai Receiver. Qolbu itu harus bersifat Receiver untuk menerima supaya pada titik tertentu qolbu mengatakan ‘Samikna wa athokna’- (saya mendengar dan saya taat), maka saya melakukan.

Misteri kita sampai dititik ini atau belum itu kita masing-masing yang mengukur, bukan Ustadz atau yang lain
Kita berusaha di forum ini dengan berdo’a

رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

Robbishroh lii shodrii wa yassir lii amrii wahlul ‘uqdatam mil lisaanii yafqohuu qoulii.

“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku”.
Ini do’anya Nabi Musa ketika mau menghadap Fir’aun, disuruh oleh mertuanya.

Qolbu Harus Diolah terus

Salman Al Farisi, bapaknya orang yang menganut Penyembah api. Salman tertarik mengikuti seorang pendeta, dia tidak mau menyembah api. Akhirnya dia bekerja mengumpulkan uang untuk mengembara.
Dari Persia (Iran) dia melakukan perjalanan sampai ke Irak. Mengembara mencari kebenaran. Di Irak ketemu Pendeta yang mendidiknya menjadi Nasrani. Dia diberi tahu rahasia bahwa suatu hari nanti akan ada Nabi terakhir, memang di dalam Kitab Injil yang asli ada khabar Nabi terakhir.

Salman dipesan untuk menemui seseorang di Mesir. Dari Irak dia melakukan perjalanan ke Mesir sambil bekerja mencari bekal. Ini adalah proses menemukan hidayah yang sangat luar biasa. Di Mesir dia dididik Injil. Dia dipesan untuk menemui seorang pendeta di Eropa.

Pendeta yang terakhir ini memberi tahu bahwa Nabi itu bisa lahir di mana saja ,bukan Bani Israel. Nabi itu mempunyai tiga ciri :
– Karena dia Rasul, dia tidak menerima zakat. Dia hanya menerima hadiah.
– Dia diikuti oleh orang yang Fakir Miskin.
– Ada Tanda kenabian di punggungnya.

Perjuangan Salman Al Farisi menunjukkan bahwa hatinya sebagai receiver, mampu menerima hidayah. Akhirnya Allah memperjalankan dia dalam perjalanan yang sangat luar biasa jauhnya. Dia ketemu Nabi di Madinah. Dia belum iman saat bertemu karena masih mau menguji tiga ciri kenabian itu. Setelah yakin baru dia masuk Islam.


Contoh Persandingan

Kita akan menguji qolbu kita apakah bisa menjadi Receiver atau tidak.
Misalnya kita dihadapkan pilihan
– Menonton TV
– Shalat Jamaah Tarawih di Masjid
– Praktek Dokter

Banyak orang yang mempunyai pemikiran shalat jama’ah di Masjid tidak perlu, karena bisa shalat di rumah. Memang benar bahwa shalat di rumah itu sah. Tapi qolbunya tampaknya belum dilatih menjadi qolbu yang berfungsi receiver. Menerima khabar dan kemudian mengimaninya. Lalu berkata Samikna wa athokna.

Tentu ini ada ilmunya. Ilmu itu dapat kita peroleh pelan-pelan di Majelis Taklim yang regular. Kalau yang Mozaik sekedar sebulan sekali tidak mungkin, pasti hilang semangatnya untuk bertindak karena tertutup dengan masalah lain.

Qolbu perlu diasah, dipadu dengan ilmu. Karena tidak ada ilmu akhirnya masjid sepi karena tidak ada yang memilih shalat berjamaah. Padahal masjid sekarang sudah bagus-bagus. Lantainya sudah bagus, dalamnya juga sudah dingin pakai AC.
Mari kita cek qolbu kita apa sudah mampu jadi receiver, bisa menerima berita dari Allah dan Rasulnya atau tidak. Kalau qolbu tidak dilatih bagaimana dia melihat keuntungan shalat jama’ah?


Paradigma / Worldview

Bagaimana memandang akhirat dengan dunia? Sampai ada orang yang berusaha di dunia ini mulai pukul 05.00 sampai pukul 22.00 bahkan kadang- kadang sampai pukul 23.00.
Tetapi ketika ada adzan, atau ada Taushiyah ternyata receiver atau daya tangkapnya tidak bekerja.
Padahal dunia ini tak ada apa-apanya dibandingkan dengan akhirat.

Allah SWT berfirman:

يٰقَوْمِ اِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَا عٌ ۖ وَّاِنَّ الْاٰ خِرَةَ هِيَ دَا رُ الْقَرَا رِ

“Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir 40: Ayat 39)

Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah dunia ini dibandingkan dengan akhirat, melainkan seperti jari yang dicelupkan salah seorang di antara kalian ke dalam air laut lalu ditarik kembali. Lihatlah, seberapa banyak air yang melekat di jarinya itu”.
(HR Muslim)

Allah SWT berfirman:

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌ ۗ وَاِ نَّ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ لَهِيَ الْحَـيَوَا نُ ۘ لَوْ كَا نُوْا يَعْلَمُوْنَ

“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 64)


Shalat Tarawih Memang Istimewa

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An Nasai, Tirmidzi).

Sampai saat ini masih ada pilihan shalat Tarawih antara 8 rakaat dan 20 rakaat. Diskusi tentang ini tidak pernah selesai, khususnya bila dilakukan pada satu masjid. Namun hadits di atas sebenarnya terkait dengan orang yang akan melanjutkan tarawih di rumah.

Misalnya masjid itu biasa 8 rakaat , kemudian ada orang yang mau nambah di rumah maka dia pulang tidak ikut Witir. Atau masjid itu biasanya 20 rakaat, ketika selesai 8 rakaat dia pulang untuk shalat Witir.
Itu ternyata keliru. Yang benar adalah tak peduli imam shalat 8 raka’at ataupun 20 raka’at yang terbaik kita mengikuti sampai selesai Witir. Karena ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.

Kembali pada tiga pilihan :
– Menonton TV
– Shalat Jamaah Tarawih di Masjid
– Praktek Dokter
Qolbu yang hebat yang bisa menerima hal ini. Kalau qolbu tidak dilatih mungkin dia milih yang menguntungkan di dunia : Buka Praktek Dokter.

Ada seorang teman dokter. Saya perhatikan prakteknya tutup sekitar jam 18.00, saat Maghrib. Setelah itu dia bawa sepeda, tapi tidak pulang. Dia ke masjid untuk shalat Isya’ dan Tarawih berjamaah.

Suatu saat saya di sebelahnya, lalu saya tanya : “Pak dokter kenapa tutupnya gasik. Teman- teman kan masih normal-normal saja”.
Dia menjawab : “Tarawih itu kan hanya bisa mengikuti sebulan saja. Selama 11 bulan ini saya sudah praktek. Jadi khusus bulan ini saya berhenti praktek jam 18.00. Saya mengusahakan tiap hari shalat Tarawih”. Maa syaa Allah, tapi itu hanya seorang saja dari jama’ah yang berprofesi dokter.

Saya mengajak sejawat dokter yang di kota untuk berhenti praktek dan melaksanakan Tarawih. Tapi kalau yang di desa tentu lain karena belum banyak klinik atau UGD.
Kalau dikaitkan dengan qolbu, shalat tarawih bersama imam sampai selesai pahalanya luar biasa jangan sampai ditinggalkan. Sayang sekali, kegiatan yang lain harusnya berhenti dan mengutamakan Tarawih.

Shalat Isya’ Berjamaah

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُول اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : (( مَنْ صَلَّى العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ ، فَكَأنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ في جَمَاعَةٍ ، فَكَأنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ )) رواه مُسْلِمٌ .

Dari ‘Utsman bin ‘Affan r.a berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat separuh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat Shubuh berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat semalaman penuh.’” (HR. Muslim)

Kalau kita mengikuti jamaah Tarawih dan Isya maka pahalanya dobel. Kalau kita mengikuti isya’ saja pahalanya sama dengan shalat separo malam. Kalau begini kenapa kita tidak mau? Ini perkara Qalbu, qalbunya tidak nyambung, tidak berhasil menjadi receiver. Tidak berhasil memandang ini lebih penting dari pada kepentingan dunia. Dunia itu ibarat air yang melekat di jari kita yang kita celupkan di lautan. Sedangkan air lautan itu ibarat akhirat.

Kalau bisa shalat lima waktu ini kita usahakan berjama’ah. Orang-orang di Timur Tengah bisa. Rumah Sakit Wiladah di Madinah Arab Saudi ketika ada adzan ashar ternyata dokternya sebagian besar shalat di masjid. Adapun yang tak dapat meninggalkan tugas diberi kesempatan kloter kedua. Ternyata orang lain bisa shalat jamaah. Maka kita jangan mengecilkan diri. Akhirnya kasihan masjidnya. Muadzin sudah meneriakkan adzan tapi tidak ada yang datang. Ini karena qolbu umat Islam belum diasah untuk memperoleh informasi fadhilah keutamaan shalat berjamaah di Masjid.

Kedermawanan

كَانَ رَسُولُ اللهِ n أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ n حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ

”Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan, ketika Jibril menemui beliau. Jibril biasa menemui beliau setiap malam sepanjang bulan Ramadhan, lalu mengajari beliau Al-Qur’an. Maka ketika itulah Rasulullah lebih dermawan untuk memberikan kebaikan daripada angin yang bertiup kencang.” (HR. Al-Bukhari Muslim)

Banyak surat datang ke rumah, dari Panti Asuhan, dari Masjid itu tidak apa-apa. Kita meniru Rasulullah saja, dermawan terlebih pada bulan Ramadhan. Dan juga membaca Al Qur’an.

Ada tiga tingkatan membaca Al Qur’an :
– Tilawah yang paling rendah. Hanya membunyikan. Itupun sudah ada pahalanya, satu huruf sepuluh kebaikan.
– Tadarus, mudah-mudahan yang kita lakukan ini masuk Tadarus.

Nabi SAW bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah , mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya”- (HR. Muslim).

Karena pandemi kita masuk di Zoom, bukan Masjid. Mudah-mudahan masih masuk kategori dalam hadits ini.

– Tadabur, ini paling tinggi dengan mengkaji tafsir. Kita juga melakukan kajian Tafsir setiap Rabu dipandu ustad Dr Zuhad.


Halangannya agar kita hindari adalah Berkata Dusta.

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

Doa Lailatul Qadar

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Nabi SAW :

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي “

Wahai Rasulullah, jika aku menjumpai satu malam merupakan lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan di malam itu? Beliau menjawab: Ucapkanlah: ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN…
(HR. At-Turmudzi, Ibn Majah).


Istighfar dan Berdoa Saat Sahur

Jangan lupa berdo’a dan istighfar pada saat sahur.
“Robbanaaa innanaaa aamannaa faghfir lanaa zunuubanaa wa qinaa ‘azaaban-naar” (Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.).

Dasarnya adalah Surat Ali Imran ayat 14-17

Allah SWT berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّا سِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَا لْبَـنِيْنَ وَا لْقَنَا طِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَا لْفِضَّةِ وَا لْخَـيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَا لْاَ نْعَا مِ وَا لْحَـرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَا عُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَا للّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰ بِ (14) قُلْ اَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِّنْ ذٰ لِكُمْ ۗ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَ زْوَا جٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَا نٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ بَصِيْرٌ بِۢا لْعِبَا دِ (15)
اَلَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَاۤ اِنَّنَاۤ اٰمَنَّا فَا غْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ (16) اَلصّٰــبِرِيْنَ وَا لصّٰدِقِــيْنَ وَا لْقٰنِتِــيْنَ وَا لْمُنْفِقِيْنَ وَا لْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِا لْاَ سْحَا رِ (17)

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. Katakanlah, “Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
(Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka. (Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 14-17)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum,

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here