Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

15 Ramadhan 1442 / 27 April 2021



Menganalisis Hati Kita

Umat Islam di Indonesia ini sejak dulu kala, kalau Ramadhan grafiknya justru menurun ketika menjelang Iedhul Fitri. Indikatornya dari jama’ah shalat Tarawih. Di Mall makin ramai bahkan dulu ada satu sarana untuk mengalihkan kita ke Mall. Sekarang tak ada karena Pandemi. Namanya midnight sale. Itu usaha untuk menggiring umat islam yang mereka tahu saat ini kita dalam ibadah yang suci. Pekerjaan hatinya paling menonjol dibanding ibadah lain.

Ibadah lain fisiknya yang menonjol. Contohnya haji orang harus datang ke Tanah Suci dan melakukan kegiatan- kegiatan. Shalat , Membaca Al Qur’an, Zakat juga dapat terlihat karena ada uang yang harus dikeluarkan untuk orang lain.

Puasa tidak bisa dipotret. Jadi sangat dominan pekerjaan hatinya. Di malam harinya juga demikian. Diseru oleh Rasulullah bahwa malam hari itu usaha kita harus makin kuat karena 10 hari terakhir itu adalah Lailatul Qadar. Memang ada yang menganalisis dengan melihat udara dan cuaca – tapi Rasulullah saja dibuat lupa – tidak mengetahui lagi Lailatul Qadar.

Beliau cuma memberikan pedoman :
Kita diminta mencari di 10 malam terakhir yang ganjil. Berarti harus ada usaha yang luar biasa. Namun yang terjadi justru grafiknya menurun.
Maka saya ibaratkan Ramadhan ini adalah maraton. Persis seperti proses penciptaan manusia, bahwa berjuta-juta spermatozoa yang bisa mencapai finish cuma satu.

Mudah-mudahan kita termasuk yang sukses sampai akhir Ramadhan diantara sekian juta umat islam yang kemarin itu yang berbondong-bondong menyambut Ramadhan.

Kalau dulu Masjidil Haram kita pakai sebagai indikator banyaknya manusia , menjelang tanggal ke 21 penerbangan ke Jeddah atau Madinah luar biasa. Harganyapun meningkat sekali untuk Umrah Ramadhan. Menunjukkan memang ini waktu yang dikejar.

Umat Islam di Indonesia ini belum seperti itu. Maka saya berinisiatif mengunggah suatu persoalan :
Hati kita ini kalau dianalisis masuk yang mana?


Memahami Tentang Takwa

Kita awali dulu dari Taqwa, kita perhatikan dua ayat ini, tujuannya takwa (la’allakum tattaquun)

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” -(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183)


يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَا لَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ 

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 21)

Kita akan belajar deskripsi takwa.
Bagi laki-laki yang biasa jum’atan ke masjid sudah familier dengan definisi takwa. Yaitu melakukan apa yang diperintah Allah dan Rasulnya serta menjauhi larangan-larangannya.

Dari definisi ini mari kita deskripsikan berdasar Firman Allah yang sangat kita kenal.

Allah SWT berfirman:

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ  ۛ  فِيْهِ  ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ (2) الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِا لْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ (3) وَا لَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَاۤ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِا لْاٰ خِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ (4) اُولٰٓئِكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ (5)

“Kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.
Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 2-5)


Beriman Kepada yang Ghoib

Masalah keimanan itu tidak nyata. Dulu sewaktu kecil, di kampung sebelah banyak orang yang tak mau menerima islam, mereka melecehkan orang- orang yang beriman, sehingga sering berkelahi antar kampung.

Mereka bilang :
“Tak ada yang melihat akhirat”
“Kalau orang yang mati tak krasan disana pasti dia pulang”
“Jengkang-jengking nyatane kere terus” – maksudnya orang shalat terus (gerakannya menungging – “njengking” bahasa Jawa) kenyataannya miskin terus tak berubah jadi kaya.

Padahal beragama tujuannya tidak untuk kaya tetapi mencari ridha Allah agar bisa masuk Surga. Untuk beragama orang kaya atau miskin boleh. Sehat atau cacat boleh karena tujuannya beribadah mencapai ketenangan batin. Nanti suatu hari diridhoi husnul khotimah dan di Surga bersama dengan orang-orang yang bertakwa lainnya.

Alhamdulillah zaman berubah, dakwah makin banyak dan Masjid mushola berdiri. Sudah tidak ada lagi perbedaan.

Sekarang nampaknya timbul permasalahan baru. Tokoh yang paling fenomenal yaitu KH Hasyim Asy’ari dicoret dari daftar Tokoh-tokoh Sejarah. Tetapi sebaliknya Tokoh golongan kiri malah dimasukkan.
Kita doakan kepada Allah SWT agar bangsa kita ini diselamatkan.

Ghoib ini akan saya uraikan dengan templatenya pendekatan qolbu. Karena hanya qolbu yang bisa menerima keimanan yang ghoib ini.


Menginfakkan Sebagian Rezeki

Orang yang bertakwa itu mereka yakin di dalam hartanya ada hak orang-orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta. Karena orang miskin ini ada yang harga dirinya tinggi, mereka tidak mau meminta.

Dia bertekad : Saya bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Tetapi orang bertakwa tahu bahwa sebagian haknya ada di mereka yaitu 2,5% penghasilan kita. Itu adalah minimal, maka kalau mau memberi 3% atau lebih diperbolehkan. Berupa Shodaqoh atau infak yang sering jumlahnya lebih besar dari Zakat. Hal itu sering terjadi.

Pada beberapa hari yang lalu saya mendengar ada seorang kaya yang terkenal di Banyumanik memberikan tanah ribuan meter persegi.

Maa Syaa Allah, mudah-mudahan kita ketularan. Artinya suatu hari kita dimampukan oleh Allah. Mampu dalam arti mempunyai tetapi hati juga mampu untuk memberikan dengan ikhlas semata-mata karena Allah untuk kepentingan umat, diurus oleh orang- orang yang berkeinginan melaksanakan kegiatan dakwah atau pendidikan. Misalnya untuk Ponpes, Madrasah atau Islamic Center.

Ketika beriman terhadap Kitab harus kita kaitkan dengan Surat Al Baqarah ayat 85, jangan sampai kita iman itu pilih-pilih (seperti Yahudi).
Iman pada sebagian dan kufur pada sebagian yang lain.

Kalau kita iman harus totalitas Al Qur’an itu. Untuk itu mestinya harus dipelajari. Paling tidak seperti forum ini, mulai mengkaji tentang tafsir Al Qur’an setiap Rabu. Harapannya kita makin lama makin faham tentang bunyi Al Qur’an, tentang makna Al Qur’an , tentang keajaiban Al Qur’an, tentang fadhilah-fadhilah Surat Al Qur’an dan sebagainya.

Sehingga kita tidak memaknai Al Qur’an sebagai jimat. Banyak desa yang memperlakukan Al Qur’an hanya sebagai jimat. Diajak mengaji juga sulit karena dalam pandangan mereka Pengajian itu harus ada snacknya , harus ada “ubo rampenya”. Akhirnya pengajian tidak berlanjut.

Saya berharap ada yang mengajak saya untuk mengaji. Akhirnya memang ada yang meminta saya untuk mengaji secara rutin. Beberapa masjid mengusulkan waktu yang sebenarnya Prime Time-nya dokter untuk praktek, Maghrib sampai Isya’. Mereka menawarkan dan tawaran itu saya terima.

Saya sandingkan antara Mengaji mengajar ilmu dengan membuka Praktek dokter. Mengajar ilmu dapatnya apa dan Buka Praktek Dokter dapat apa? Disitulah gunanya ilmu, nanti dengan template qolbu kita bahas.


Beriman Kepada Kitab-kitab Suci dan Akhirat

Kita sudah faham semua, Nabi Daud a.s memperoleh Zabur. Nabi Musa a.s memperoleh Taurat dan Nabi Isa a.s memperoleh Injil. Nabi Muhammad SAW memperoleh Al Qur’an.
Dalam ayat ke empat kembali lagi ke masalah ghoib. Dikuatkan lagi bahwa Akhirat itu nyata. Banyak sabda Rasulullah SAW yang menekankan pada Akhirat.

Misalnya Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih)

Hari akhir ini tujuan. Kalau orang percaya pada hari akhir pasti hati-hati karena semua nanti dipertanggung- jawabkan.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 36)

Sampai hati yang bergerak memikirkan sesuatu, atau apa yang terbetik dalam pikiran kita, itu semua nanti diminta pertanggung jawaban. Pendengarannya juga, penglihatannya juga.

Orang-orang yang merugi, kelak akan menyesal.
“Dan mereka berkata, “Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan peringatan itu tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.”” (QS. Al-Mulk 67: Ayat 10)

Akhirat itu tumpuan, kalau yakin dengan akhirat maka pasti di dunia ini banyak berfikir, “Nanti bekal saya apa?”

Allah SWT berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِ نَّ خَيْرَ الزَّا دِ التَّقْوٰى ۖ وَا تَّقُوْنِ يٰۤاُ ولِى الْاَ لْبَا بِ

wa tazawwaduu fa inna khoiroz-zaadit-taqwaa wattaquuni yaaa ulil-albaab

“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 197)

Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk dan mereka orang yang takwa.

Kita harus mulai memikirkan, kalau kita nanti la’allakum tattaquun, maka indikator-indikator ini muncul dalam diri kita.
– Bagaimana keyakinan kita terhadap akhirat?
– Bagaimana keyakinan kita terhadap yang ghoib?

Yang ghoib banyak sekali berita-berita dari Allah SWT dan berita dari Rasulullah SAW. Dan juga Kitabnya yang merupakan Petunjuk bagi Mutaqin.

Ibarat kita membeli sesuatu yang baru maka harus segera membaca Manualnya. Anak-anak muda yang beli HP baru pasti langsung buka Manual. Dicari bagaimana cara mengoperasikan? Bagaimana amannya ketika men-charge dan sebagainya.

Tapi dirinya sendiri agar selamat di dunia dan akhirat ada Manualnya yaitu Al Qur’an, tidak pernah dipelajari. Atau sedikit sekali dipelajari karena merasa sudah cukup.

Banyak teman-teman muslimin muslimat yang merasa sudah cukup.
“O wis apik owk, dikon apa maneh?”
(Sudah bagus, mau disuruh apa lagi?)
Jadi “BAGUS” itu diukur oleh dirinya sendiri. Karena manusia dari struktur Qolbunya ada Al Hawa (nafsu).


BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here