Dr. Adian Husaini

13 Ramadhan 1442 / 25 April 2021


Kesalahan Sejarah kita.

Pengajaran sejarah kita fatal sekali karena memutus anak-anak kita dari zaman keagungan kejayaan islam.
Saya akan membandingkan antara Kisah Ken Arok dengan Muhammad Syarif Al Idrisi dalam khazanah peradaban islam. Muhammad Syarif Al Idrisi ini hidup pada tahun 1100 sampai 1166. Ken Arok tahun 1182 sampai 1227, hampir sezaman.

Muhammad Syarif Al Idrisi adalah pelopor dalam ilmu geografi. Dia telah memberikan sumbangan besar dalam pembuatan Peta bumi. Bukunya Nuzhat al-Mush taq fi Ikhtiraq al- Afaq (Tempat orang yang Rindu menembus angkasa) merupakan buku standar dalam ilmu bumi-alam di abad ke 12.

Al Idrisi melukis dengan tepat letak tempat di permukaan bumi dengan ilmu bintang (astronomy). Dia pernah ke Sisilia Italia untuk mengadakan penelitian setempat (on the spot research) . Disana dia dikagumi raja Sisilia turunan Normandia Rogier II (1129-1140), karena ia menghadiahkan bola bumi (globe) yang tepat kepada raja.

Dia juga membuat 71 Peta dan menyusun buku ilmu bumi umum pada tahun 1154 M. Ringkasan bukunya dalam bahasa Arab dicetak tahun 1592 di Roma. Sedang terjemah latin terbit tahun 1619 dengan judul Geographia Nubiensis.

Ini salah satu saja, sebelum zaman ini ada Abu Raihan al Biruni, Ibnu Haitsam yang meninggal 1038 M , bapak Optik modern.

Anak-anak kita di sekolah sama sekali tidak tahu. Tidak ada pelajaran sejarah membahas itu, sejarah para ilmuwan muslim. Yang ada sejarah Ken Arok. Saya membacanya di Wikipedia
Sekarang di Malang ada patung gede, ada GOR Ken Arok. Tentu memunculkan tokoh itu ada maksudnya. Apa yang membuat Ken Arok ini sampai dipatungkan? Dibanggakan begitu besar. Apa sisi positifnya ? saya susah memahami sejarah seperti yang ditulis itu.

Ken Arok tumbuh menjadi berandalan yang lihai mencuri dan gemar berjudi, sehingga membebani Lembong dengan banyak hutang. Lembong pun mengusirnya….
Ia kemudian bersahabat dengan Tita, anak kepala desa Siganggeng, sekarang Senggreng, Sumberpucung, Malang. Keduanya pun menjadi pasangan perampok yang ditakuti di seluruh kawasan Kerajaan Kadiri.

Akhirnya, Ken Arok bertemu seorang brahmana dari India bernama Lohgawe, yang datang ke tanah Jawa mencari titisan Wisnu. Dari ciri-ciri yang ditemukan, Lohgawe yakin kalau Ken Arok adalah orang yang dicarinya.
Atas bantuan Lohgawe, Ken Arok dapat diterima bekerja sebagai pengawal Tunggul Ametung.

Ken Arok kemudian tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung yang cantik. Apalagi Lohgawe juga meramalkan kalau Ken Dedes akan menurunkan raja-raja tanah Jawa. Hal itu semakin membuat Ken Arok berhasrat untuk merebut Ken Dedes, meskipun tidak direstui Lohgawe.

Ken Arok akhirnya memesan keris kepada Empu Gandring. Ken Arok kemudian merebut keris itu dan membunuh Empu Gandring. Keris Empu Gandring kemudian digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung. Ken Dedes menjadi saksi pembunuhan suaminya. Tetapi ia akhirnya mau juga dikawini Ken Arok. Begitu liciknya Ken Arok, yang ditangkap justru Kebo Ijo

Dikisahkan : Malam berikutnya, Ken Arok mencuri keris pusaka itu dari tangan Kebo Hijo yang sedang mabuk arak. Ia lalu menyusup ke kamar tidur Tunggul Ametung dan membunuh majikannya itu di atas ranjang. Ken Dedes menjadi saksi pembunuhan suaminya. Namun hatinya luluh oleh rayuan Ken Arok. Lagi pula, Ken Dedes menikah dengan Tunggul Ametung dilandasi rasa keterpaksaan.

Kalau membaca sejarah yang ditulis ini, saya heran positifnya dimana? Bagaimana bangsa kita membanggakan sosok Ken Arok, padahal begitu banyak tokoh-tokoh yang hebat. Kalau kita sebagai orang islam harusnya membanggakan ilmuwan muslim.

Buya Hamka sudah mengingatkan ketika menulis Tafsir Al Azhar tahun 1964 : “Diajarkannya secara halus apa yang dinamai Nasionalisme, dan hendaklah Nasionalisme diputuskan dengan islam. Sebab itu bangsa Indonesia hendaklah lebih mencintai Gadjah Mada daripada Raden Patah. Orang Mesir lebih memuja Fir’aun daripada mengagungkan sejarah islam …” (lihat, HAMKA, Tafsir Al Azhar Juz VI, Jakarta: Pustaka Panji Mas -1984, hal 300).

Ini rekayasa mengapa orang muslim Indonesia akhirnya tidak bangga dengan Raden Patah, tidak bangga dengan Sultan Agung, tidak bangga dengan Pangeran Diponegoro.

Prof Naqif Alatas sudah lama mengingatkan dari Sejarah Melayu bahwa memang itu para Orientalist yang membuat theori islam itu datang ke Indonesia seperti pelitur di atas kayu. Ini namanya theori pelapisan sejarah islam. Islam betul menjadi mayoritas tetapi tidak merasuk ke jati diri bangsa. Jati diri bangsa ini adalah Hindu – Buddha – Animisme. Itu sampai sekarang, tetap saja umat islam seolah -olah tidak punya peradaban di Indonesia.

Dalam buku Sejarah Nasional SMA :
“Bahkan Kerajaan Majapahit dapat disebut sebagai kerajaan nasional setelah Kerajaan Sriwijaya. Selama hidupnya, Patih Gadjah Mada menjalankan politik persatuan Nusantara. Cita-citanya dijalankan dengan begitu tegas, sehingga menimbulkan Peristiwa Sunda yang terjadi tahun 1351 M” (hal 48).

Yang dikatakan Kerajaan Nasional menyatukan Nusantara itu Hindu Buddha. Islam tidak pernah menyatukan Nusantara. Ini dibantah keras oleh Prof Naqif Alatas. Yang menyatukan Nusantara ini Para Ulama.

Kemudian dalam buku TB Simatupang “Iman Kristen dan Pancasila” :
“Indonesia tidak pernah mengalami sebuah kerajaan Islam yang mencakup seluruh Indonesia seperti zaman Mogul di India. Menurutnya kerajaan Sriwijaya yang Buddha dan Majapahit yang Hindu pernah mempersatukan sebagian besar wilayah Nusantara. “Tetapi tidak pernah ada zaman Islam dalam arti Kerajaan yang mencakup seluruh negeri”. tulis TB Simatupang.
Begitulah, lanjutnya dalam arti tertentu, yang menggantikan Majapahit adalah Pemerintahan Kolonial Belanda dan yang menggantikan yang terakhir tersebut adalah Pemerintahan Republik Indonesia. (TB Simatupang “Iman Kristen dan Pancasila”, hal 11).

Jangan heran, nanti kalau soal persatuan ini islam tidak boleh !
Islam tidak pernah menyatukan Nusantara. Yang pernah itu Hindu Buddha. Ini cara menulis sejarah.
Apakah betul Sriwijaya pernah menyatukan Nusantara?
Apakah betul Majapahit pernah menyatukan Nusantara?
Apa betul Islam tidak menyatukan Nusantara? Ini salah besar. Jauh sebelum kedatangan Kolonial Nusantara sudah disatukan oleh Para Ulama kita. Disatukan dengan satu agama. Bahkan satu madzab Ahlu Sunah wal Jama’ah. Dan disatukan dengan satu bahasa.

Dari Bogor, Kiyai Abdullah bin Nuh sudah pernah menulis.
Islam telah memasuki Nusantara pada 30 H (zaman Khalifah Usman bin Affan). Utusan Usman bin Affan r.a ke Tiongkok memakan waktu 4 tahun.
Khalifah-khalifah islam telah mengirim 32 utusan ke Tiongkok (al ‘Ilaqaat, karya Badrudin, muslim Tionghoa)
Sumber : Ringkasan Sejarah Wali Songo, Abdullah bin Nuh, Surabaya Teladan, tt ).

Dulu zaman Sahabat Nabi saja ke Tiongkok, hampir pasti mereka mampir Nusantara. Cuma tidak ada catatannya tentang sahabat-sahabat Rasulullah yang singgah , tapi secara logika hampir pasti mereka singgah.


Ulama-Ulama Pejuang Hebat

Ini heboh karena kemarin KH Hasyim Asy’ari tidak dimasukkan sejarah!
Memang aneh betul, tokoh sekaliber KH Hasyim Asy’ari yang jasanya luar biasa tidak masuk sejarah.

Contoh beberapa ulama kita yang menjadi Pejuang-pejuang hebat.

1. Syeh Yusuf Al Maqassari

Syeh Yusuf Al Maqassari , beliau hidup di abad ke 17. Beliau bukan hanya seorang ulama yang bisa mengajar agama saja, beliau memimpin perang. 4000 pasukan kerajaan Banten itu beliau yang memimpin setelah Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap.
Jadi meskipun beliau dibuang sampai ke Afrika Selatan tapi beliau tetap mengembangkan islam disana.

2. Syeh Abdul Shomad al Palimbani

Beliau menulis satu kitab judulnya “Nasihatul muslimin wa tadzkiratul mukminin fî Fadhl al-Jihad wa Karamah al-Mujahidin” . Kitab ini menurut Prof Azyumardi Azra menjadi rujukan utama berbagai karya mengenai jihad dalam Perang Aceh yang sangat panjang.
Beliau juga mengirim surat juga ke Raja Mataram Hamengku Buwono 1 , kakek buyut Pangeran Diponegoro, agar terus melawan penjajah.
Kepada Paku Alam juga dikirim surat.

3. KH Hasyim Asy’ari

Fatwa jihadnya KH Hasyim Asy’ari yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945. Sekarang diperingati sebagai Hari Santri. Fatwa itu sangat dahsyat karena fatwa itu mewajibkan seluruh kaum muslimin, wajib mempertahankan kemerdekaan.
Di koran Jawa Tengah ada berita dengan judul “60 Miljoen Kaoem Moeslimin Indonesia siap berjihad fi sabilillah”.
Itulah yang kemudian kita dapat mempertahankan kemerdekaan.
Setelah itu kemudian memunculkan Tokoh islam yang luar biasa yaitu
Panglima Besar Sudirman.

Sebuah video yang merupakan wawancara Fadli Zon dengan sejarawan Batara Richard Hutagalung, ada di You Tube.
Ada fakta yang penting bahwa ternyata waktu agresi kedua Belanda tentara Belanda yang datang ke Jawa mau memaksakan kehendaknya menjajah kembali, jumlahnya 300 ribu totalnya. Terdiri dari 200 ribu Belanda dan Australia dan yang 100 ribu adalah tentara KNIL dan tentara China, laskar Po An Tui. Sementara TNI kita cuma 100 ribu dipimpin Panglima Sudirman. Beliau seorang guru dari Muhammadiyah.

Tentara Belanda dengan senjata modern dan Tank tidak berhasil mengalahkan TNI kita yang senjatanya sederhana. Ini karena ada semangat akibat Fatwa jihad. Di buku sejarah hal ini tidak ada, aneh sekali bahwa perjuangan kaum muslimin Indonesia mempertahankan kemerdekaan tidak ditulis sejarah.

4. KH Ahmad Dahlan

Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dengan Keppres no 657 tahun 1961 pada zaman Bung Karno.
Konsiderannya :
1. KH Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan umat islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.
2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya , telah banyak memberikan ajaran islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan dan beramal bagi masyarakat dan umat dengan dasar iman dan islam.

Bung Karno kagum sama KH Ahmad Dahlan. Kata Bung Karno pada saat beliau pidato di Muktamar Muhammadiyah tahun 1962 :
“Sejak umur 15 tahun saya mendengar ceramah KH Ahmad Dahlan. Karena kagum dengan Kiyai Dahlan, saya sejak itu nginthil KH Ahmad Dahlan”.
Waktu itu Bung Karno mondok di rumah HOS Tjokro Aminoto di Surabaya.

Sampai akhir hayatnya Bung Karno tetap minta disholatkan sebagai warga Muhammadiyah. Dan beliau minta Buya Hamka untuk mengimami sholat jenazah. Waktu itu dilematis sekali karena Buya Hamka baru saja keluar dari Penjara tahun 1966. Dua tahun Buya Hamka dipenjara oleh Rezim Orde Lama. Ini dari cerita Pak Afif Hamka anaknya Buya Hamka.

Menurut saya ini adalah salah satu hal yang sangat penting, terutama bagi orang tua bagaimana mendidik anaknya dengan benar, salah satunya adalah dengan memahami sejarah Perjuangan Umat Islam Indonesia sehingga anak-anak muslim menyadari tugasnya adalah melanjutkan perjuangan Para Nabi, Para Ulama kita di Nusantara.

Ada beberapa momentum penting setelah masuknya islam ke Indonesia. Berawal dari Khotbatul wada Rasulullah, kemudian para sahabat berpencar ke seluruh penjuru dunia.
Kemudian perkembangan umat Islam Indonesia sangat fantastis karena negeri ini dulunya 100% non muslim. Tanpa pemaksaan masyarakat di Indonesia suka rela memeluk islam. Akhirnya sekarang hampir 100% muslim. Prestasinya sangat fantastis. Hambatannya setelah penjajah datang dengan misi Gold, Gospel and Glory.
Alhamdulillah umat Islam selamat, tidak berubah agama, meskipun dijajah ratusan tahun.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here