H.M Arief Rahman Lc MA

14 Ramadhan 1442 / 26 April 2021


Nusaibah binti Ka’ab, ada yang bilang Nasibah binti Ka’ab al Anshoriah adalah sahabat perempuan dari kalangan Anshor. Lahir dan tumbuh di kota Yatsrib, bukan seperti Mush’ab bin Umair yang sahabat Muhajirin.

Nusaibah binti Ka’ab dan keluarganya termasuk orang-orang yang masuk Islam melalui Mush’ab bin Umair, termasuk mereka yang mendapatkan hidayah dari Allah SWT ketika Mush’ab bin Umair diutus oleh Rasulullah SAW ke kota Yatsrib. Termasuk mereka yang awal-awal masuk islam.

1. Biografy

Nama beliau adalah Nusaibah binti Ka’ab bin Amr bin ‘Auf bin Mabdzul bin Gholam al Anshoriah. Beliau termasuk Bani An-Najjar dari Kaum Khazraj. Di Madinah ketika Rasulullah SAW belum datang ada dua kabilah besar Aus dan Khazraj. Dua kabilah ini saling berperang dan dimanfaatkan oleh orang-orang Yahudi sampai kemudian akhirnya mendapat hidayah islam dan mereka bersatu.

Dijelaskan dalam Al Qur’an , Allah SWT berfirman:

وَا عْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ وَا ذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَآءً فَاَ لَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَ صْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖۤ اِخْوَا نًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّا رِ فَاَ نْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan ketika itu kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 103)

Nusaibah binti Ka’ab mempunyai seorang suami. Suami yang pertama namanya Zaid bin ‘Ashim Al-Mazini An-Najjari al Anshori. Dari Zaid bin ‘Ashim beliau mempunyai dua putera yaitu Abdullah dan Habib.
Zaid bin ‘Ashim dan dua puteranya tercatat dengan tinta emas dalam dunia islam. Zaid bin ‘Ashim termasuk ahli Badar, sahabat yang ikut perang Badar. Mereka yang ikut perang Badar dipuji Allah dalam Al Qur’an.

Setelah perang Badar, Zaid meninggal, kemudian Nusaibah binti Ka’ab menikah untuk kedua kalinya dengan seorang sahabat bernama Ghaziyyah Al-Mazini An-Najjari. Dari suami yang kedua, dia dikaruniai seorang puteri bernama Khaulah.

Keluarga ini termasuk keluarga Pejuang. Begitu mendapat hidayah islam kemudian berbai’at kepada Rasulullah SAW. Keluarga ini berkomitmen untuk selalu berada dekat disisi Rasulullah SAW. Dalam banyak peperangan selalu di garis depan. Tidak pernah absen dalam jihad yang diikuti oleh Rasulullah SAW.

Suami pertama mengikuti Perang Badar, waktu itu Nusaibah binti Ka’ab belum ikut berperang. Dalam perang Uhud Nusaibah binti Ka’ab sudah dengan suami kedua. Keluarga ini dalam perang Uhud dikatakan melindungi Nabi seperti gelang mengelilingi Nabi.

Beliau juga termasuk sahabat yang ikut dalam Perjanjian Hudaibiyah ketika bai’at Ridwan. Ini mempunyai hubungan yang erat ketika terjadi Perang Hunain.

Setelah Rasulullah SAW meninggal, Nusaibah binti Ka’ab dan putera- puteranya mengikuti Perang Yamamah melawan orang-orang yang murtad yang dipimpin oleh Musailamah Al Kadzab. Salah satu puteranya wafat menjelang Perang Yamamah.

Dari sini kita melihat bahwa kontribusi Nusaibah binti Ka’ab tidak seperti apa yang dilakukan perempuan. Beliau sebenarnya termasuk yang ditugasi Rasulullah di bagian Medis dan Logistik. Tetapi karena kondisi tertentu terlibat perang secara langsung.

Nusaibah binti Ka’ab adalah seorang Intelektual yang banyak mendapatkan sabda-sabda Rasulullah SAW dan kemudian disampaikan kepada orang lain. Ada beberapa haditsnya yang dirangkum dalam Kitab At Turmudzi, Abu Dawud, Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab Fiqih Ibnu Khudamah banyak menukil hadits yang diriwayatkan beliau. Dari sini kita mengetahui betapa luar biasa kepribadian beliau.

Salah satu hadits yang diriwayatkan beliau :
Diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, dari ‘Ikrimah dan Ummu Imarah al-Anshari bahwasannya ia datang kepada Rasulullah SAW berkata, “Wahai Rasulullah! Aku melihat segala sesuatu itu selalu berkaitan dengan laki-laki, sedangkan untuk kaum perempuan tidak pernah disinggung sedikitpun.” Maka dari itu, turunlah ayat :

اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَا لْمُسْلِمٰتِ وَا لْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ وَا لْقٰنِتِيْنَ وَا لْقٰنِتٰتِ وَا لصّٰدِقِيْنَ وَا لصّٰدِقٰتِ وَا لصّٰبِرِيْنَ وَا لصّٰبِرٰتِ وَا لْخٰشِعِيْنَ وَا لْخٰشِعٰتِ وَا لْمُتَصَدِّقِيْنَ وَ الْمُتَصَدِّقٰتِ وَا لصَّآئِمِيْنَ وَا لصّٰٓئِمٰتِ وَا لْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَا لْحٰـفِظٰتِ وَا لذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّ الذّٰكِرٰتِ ۙ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 35)

Ini salah satu hadits yang diriwayatkan Nusaibah binti Ka’ab, selain tentang Perang Uhud.

2. Tentang Keislamannya

Islamnya Nusaibah binti Ka’ab dan keluarganya, tidak bisa dilepaskan dari datangnya Mush’ab bin Umair ke Madinah. Begitu masuk islam, keluarga Nusaibah binti Ka’ab ini rindu ingin bertemu Rasulullah SAW, maka beliau ikut melaksanakan ibadah haji dan ikut berbai’at di Bai’atul Aqobah yang kedua bersama 75 sahabat. Terdiri dari 73 laki-laki dan 2 perempuan. Mereka yang awal-awal masuk Islam dan merintis islam di Madinah. Yang berkomitmen untuk menyambut kedatangan Rasulullah SAW.

Bai’at Aqobah Pertama atau disebut bai’atun nissa (bai’at perempuan), karena ada beberapa point bai’at yang diambil, namun belum ada bai’at kesanggupan berperang melindungi Nabi. Rasulullah hanya minta komitmen untuk
– Beribadah kepada Allah, tidak mensekutukannya.
– Tidak mencuri
– Tidak berzina
– Tidak membunuh anak-anak
– Tidak berbuat dusta
– Selalu melakukan kebaikan.

Bai’at Aqobah yang kedua , sudah dilakukan persiapan untuk meminta Rasulullah SAW ke Madinah. Pada bai’at kedua Rasulullah didampingi pamannya yaitu Abbas bin ‘Abdul Muthallib.

Ketika itu Abbas belum masuk islam , ia meminta jaminan keamanan bagi keponakannya Rasulullah SAW. Kepada orang-orang Yatsrib itu Abbas berkata : “Muhammad ini di Mekkah kami lindungi. Tidak ada orang yang berani menyakitinya. Kalau kalian akan membawa Muhammad ke Madinah, maka kami harus memastikan kalian menjaganya sebagaimana kalian menjaga keluarga kalian”.

Maka pada Bai’at kedua point-point isinya adalah :
– Mendengar dan ta’at dalam sesuatu yang disukai maupun yang dibenci.
– Berinfak dalam keadaan lapang dan sempit.
– Beramar makruf nahi mungkar.
– Tidak takut celaan orang-orang yang mencela.
– Melindungi Rasulullah sebagaimana melindungi anak dan isterinya.

Point-point bai’at yang kedua inilah yang kemudian dilaksanakan oleh Nusaibah binti Ka’ab sampai beliau meninggal. Dipegang teguh tidak hanya oleh Nusaibah binti Ka’ab, tetapi juga keluarganya.

3. Kontribusi Nusaibah binti Ka’ab

3.1 Perang Uhud

Ketika orang-orang kafir kalah dalam Perang Badar, mereka ingin membalas dendam. Mereka menyediakan pasukan besar, lebih besar dari pada saat Perang Badar. Kemudian mereka menyerang ke Madinah.

Pada waktu itu Rasulullah SAW menghendaki pertempuran di kota Madinah saja, untuk mempertahankan kota Madinah. Tetapi sahabat yunior yang tidak ikut perang Badar ingin menghadapi musuh di luar kota Madinah, bukan bertahan di kota.

Melihat semangat anak-anak muda seperti itu Rasulullah langsung pulang ke rumah memakai perlengkapan perang, sampai sahabat senior merasa tidak enak. Mereka bahkan menegur anak-anak muda itu. Karena mereka tahu bahwa sebenarnya Rasulullah tidak menginginkan perang di luar kota.

Akhirnya Rasulullah berkata :
“Tidak pantas seorang Nabi yang telah memakai pakaian perang dan peralatannya untuk ditanggalkan”.
Kemudian Rasulullah dan Para Sahabat menuju Uhud.
Ternyata terjadi pengkhianatan, orang-orang munafik yang awalnya mau ikut perang, tapi di tengah jalan pulang ke Madinah dan membuat banyak issue disana.

Peran awal Nusaibah binti Ka’ab adalah menjaga logistik dan sebagai Tim medis. Namun karena kondisi yang sangat kritis pada Perang Uhud itu, karena awalnya menang tapi kemudian berubah kalah. Gara-gara pasukan pemanah yang tidak patuh terhadap instruksi Rasulullah SAW agar menjaga tempat.

Pasukan Pemanah turun gunung untuk mengambil barang rampasan.
Kondisi berbalik setelah diserang dari belakang oleh tentaranya Khalid bin Walid yang pada waktu itu belum masuk islam. Bahkan ada issue bahwa Rasulullah SAW terbunuh.

Berikut ini kisah Nusaibah binti Ka’ab tentang Perang Uhud

Diriwayatkan dari Umarah bin Ghaziyah, dia berkata Ummu Umarah yaitu Nusaibah binti Ka’ab berkata :
“Aku berada disana (yaitu ketika Perang Uhud) , kaum Muslimin berlarian menginggalkan Rasulullah. Hingga yang tetap bertahan bersama beliau hanya segelintir saja, tidak lebih dari 10 orang. Akhirnya aku bersama anak dan suamiku menghampiri Rasulullah SAW. Kami mengelilingi Rasulullah untuk memberikan perlindungan layaknya gelang di pergelangan tangan. Kami sebisa mungkin membela beliau dengan kekuatan dan senjata yang kami punya.

Rasulullah SAW melihatku yang saat itu tidak membawa perisai untuk melindungi diri dari serangan Pasukan musyrik. Saat itu beliau melihat seorang laki-laki melarikan diri dengan membawa perisai.
Maka beliau berteriak kepada orang itu : “‘Berikan perisaimu kepada orang yang sedang berperang.”

Orang itu kemudian melemparkan perisainya ke arahku dan langsung pergi. Kuambil perisai itu untuk melindungi Rasulullah SAW.
Pasukan yang menyerang kami hingga terpojok seperti ini adalah pasukan berkuda Quraisy. Andai mereka pasukan pejalan kaki seperti kami, tentu kami sudah serang mereka.

Seorang penunggang kuda kemudian datang lalu menyerangku. Aku melindungi diri dengan perisai, setelah itu dia tidak berbuat apa-apa lalu pergi. Aku kemudian menebas tungkai kaki kudanya hingga dia terjatuh dari kuda.
Rasulullah SAW berteriak, “Wahai putra Ummu Umarah, bantu ibumu, bantu ibumu!” Anakku kemudian membantuku menyerang penunggang kuda itu hingga aku berhasil membunuhnya.

Abdullah bin Zaid, bercerita, “Pada hari itu lengan kiriku terluka , darah tidak berhenti mengucur lalu Nabi berkata :
“Balutlah luka itu!” Ibuku datang dengan membawa kain pembalut di pinggangnya. Ibuku langsung
membalut luka itu, sedangkan Rasulullah SAW berdiri melihatnya. Ibuku kemudian mengatakan, “Bangkitlah wahai anakku, serang mereka dengan pedang!”.

Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Siapakah yang mampu beraksi sepertimu wahai Ummu Umarah?”
Laki-laki yang telah menebasku itu
menghampiriku lagi. Rasulullah SAW berkata, “Itu dia laki-laki yang
menebas lengan anakmu, wahai Ummu Umarah” Lalu ibuku pun langsung menghadangnya dan
menebas betisnya. Seketika laki-laki itu terjatuh.

Kemudian Ummu Umarah menceriterakan kondisi ketika terjadi Perang Uhud. Sampai Rasulullah SAW mengatakan : “Sungguh kedudukan Nusaibah binti Ka’ab hari ini lebih baik daripada kedudukan Fulan dan Fulan”.
Karena Rasulullah SAW sendiri melihat bagaimana perjuangan Nusaibah binti Ka’ab dan keluarganya melindungi Nusaibah binti Ka’ab.

Dalam perang Uhud, Ummu Umarah mendapat luka parah, kurang lebih ada 13 tempat, bahkan ada satu luka yang tidak bisa atau lama disembuhkan karena selalu mengucur darahnya.

Ketika Rasulullah melihat luka itu, beliau lalu mendoakan, “Ya Allah, jadikanlah Nusaibah dan anaknya sebagai sahabatku di surga.”

Mendengar doa Rasulullah, Ummu Umarah berkata, “Aku tidak menghiraukan lagi luka yang menimpa diriku, dan aku tinggalkan segala urusan duniawi.”
Itulah doa Rasulullah kepada Ummu Umarah Nusaibah binti Ka’ab dan anaknya, yang dengan tulus ikhlas telah mengorbankan segala yang dimiliki demi kepentingan dakwah Islam. Setelah itu keluarga ini tidak pernah absen dari peperangan bahkan sampai setelah Rasulullah SAW meninggal.

3.2 Perjanjian Hudaibiyah

Rasulullah SAW dan para sahabatnya , ada yang mengatakan 1500, Ada yang mengatakan 1600. Dari Madinah untuk melaksanakan Umrah. Tapi begitu mendekati Kota Mekkah, di daerah Hudaibiyah ada utusan dari Mekkah yang mengatakan bahwasanya mereka tidak boleh masuk kota Mekkah. Padahal pada waktu itu Nabi tidak membawa persenjataan perang dan dalam kondisi ihram, karena mau umrah dengan membawa binatang.

Karena tidak boleh masuk kota Mekkah, Rasulullah kemudian mengutus Usman bin Affan untuk melakukan negosiasi ke Mekkah. Setelah beberapa hari tidak ada khabar Usman balik lagi ke Hudaibiyah, Rasulullah dan sahabatnya mengira bahwa Usman pada waktu itu sudah ditahan. Maka Nabi meminta bai’at pada para sahabat pada waktu itu untuk membebaskan Usman. Sehingga dikenal dengan bai’at Ridwan (bai’at yang diridhoi Allah).

Ini disebutkan dalam Al Qur’an

لَـقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَ نْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَ ثَا بَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًا 

“Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat,” (QS. Al-Fath 48: Ayat 18)

Setelah itu Rasulullah tidak jadi Umrah, membatalkan ihram, bertahalul memotong rambut dan menyembelih hewan. Nusaibah binti Ka’ab mengambil potongan rambut Rasulullah dan disimpan. Saat ini ada di beberapa musium.

Sahabat -sahabat yang melakukan bai’at di Hudaibiyah mempunyai peran yang sangat penting dan krusial ketika terjadi Perang Hunain.

Perang Hunain terjadi setelah fathu Mekkah. Ditaklukkannya kota Mekkah, banyak orang masuk Islam, kemudian terjadi perang Hunain dengan Bani Hawazin. Pada saat itu pasukan Rasulullah sudah sangat banyak, diantaranya banyak yang mualaf.
Karena banyaknya pasukan maka mereka yakin tak akan kalah.

Kenyataan berbeda, karena yang dihadapi adalah kabilah yang ahli Perang. Di awal peperangan sudah terjebak strategy yang diterapkan Bani Hawazin di Perang Hunain. Mereka terkejut dengan serangan dari pihak musuh. Seperti Perang Uhud, pasukan Muslimin kacau balau, banyak yang mundur.

Pada saat itulah Rasulullah meminta kepada pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib untuk memanggil orang- orang yang pernah berbai’at di bai’atul Ridwan Hudaibiyah.

Abbas berteriak : “Wahai orang-orang yang pernah berbai’at di Hudaibiyah, Rasulullah memanggil kalian”.
Dengan kurang lebih 1500 orang ini Rasulullah melanjutkan Perang Hunain, termasuk didalamnya Nusaibah binti Ka’ab dan juga keluarganya.


3. 3. Perang Yamamah

Setelah Rasulullah SAW meninggal, banyak orang yang murtad, tidak mau membayar zakat sampai muncul Nabi palsu Musailamah al Kadzab.

Kemudian diutuslah Habib bin Zaid , putera Nusaibah binti Ka’ab untuk menasehati Musailamah al Kadzab. Ketika Habib bertemu dengan Musailamah al Kadzab terjadilah dialog.

Musailamah bertanya kepadanya, “Apakah kamu mengaku Muhammad itu Rasulullah?”

“Ya, benar! Aku mengakui Muhammad sesungguhnya Rasulullah!” jawab Habib tegas.

Musailamah terdiam karena marah. “Apakah kamu mengakui, aku sebagai Rasulullah?” tanya Musailamah lagi.

Habib bin Zaid menjawab dengan nada menghina dan menyakitkan hati. “Agaknya telingaku tuli. Aku tidak pernah mendengar yang begitu.”

Wajah Musailamah berubah. Bibirnya gemeretak karena marah. Lalu katanya kepada algojo, “Potong tubuhnya sepotong!”

Algojo menghampiri Habib bin Zaid, lalu dipotongnya bagian tubuh Habib, dan potongan itu menggelinding di tanah.

Musailamah bertanya kembali, “Apakah kamu mengakui Muhammad itu Rasulullah?”

Jawab Habib, “Ya, aku mengakui sesungguhnya Muhammad Rasulullah!”

“Apakah kamu mengakui aku Rasulullah?”

“Telah kukatakan kepadamu, telingaku tuli mendengar ucapanmu itu!”

Musailamah kembali menyuruh algojo memotong bagian lain tubuh Habib, dan potongannya jatuh di dekat potongan yang pertama. Demikian seterusnya sampai Habib mendapatkan syahidnya dalam keadaan terpotong-potong.

Peristiwa ini dibuatkan syair oleh sahabatnya dan didengar Nusaibah binti Ka’ab yang menimbulkan kesedihan mendalam dan sekaligus mendorongnya untuk ikut berperang melawan Musailamah al Kadzab. Padahal waktu itu usianya sudah tua.

Beliau minta ijin kepada Abu Bakar untuk ikut perang dan diijinkan. Karena Abu Bakar selalu mengikuti sepak terjang Nusaibah binti Ka’ab dalam peperangan. Akhirnya Musailamah pun mati terbunuh di peperangan tersebut oleh Wahsyi bersama Abdullah putera Nusaibah binti Ka’ab. Setelah membunuh Musailamah, Abdullah mendatangi ibunya Nusaibah binti Ka’ab dan memperlihatkan bukti telah membunuh Musailamah.

Meskipun Nusaibah binti Ka’ab banyak mengikuti peperangan, namun Allah SWT menghendaki beliau meninggal dengan tenang di atas tempat tidur di rumahnya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here