Dr. Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i, MA

10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021



Diantara hadits-hadits yang lemah, tidak semata-mata muatannya tetapi karena jalur periwayatan juga bisa menjadi pelemahan dari hadits

Hadits ke 10 :

ﺣﺪﻳﺚ «ﻧﻮﻡ اﻟﺼﺎﺋﻢ ﻋﺒﺎﺩﺓ

“Tidurnya orang yang puasa adalah ibadah”

Disini paling populer dan sering kita simak, bahkan kemudian dijadikan pijakan untuk banyak tidur di bulan puasa. Karena tidurnya saja ibadah. Dia lupa bahwa tidur saja ibadah apalagi membaca Al Qur’an, apalagi membantu orang. Itu mestinya cara membacanya demikian.

Hadits ini sendiri ada di dalam kitab Al Jamiush Shagir karya As-Suyuthi , juga tulisannya At Thoriq kutipannya Imam Al Baihaqi. Hanya saja Imam Ash Shuyuti sendiri dan Imam Al Baihaqi memberikan penilaian dhoif. Dikutip tapi untuk diberi kritikan bahwa hadits ini hadits dhoif.

Sebenarnya dari sisi substansi disana tidak ada persoalan. Karena orang yang berpuasa itu melakukan apapun punya nilai ibadah. Bahkan sedang tidak melakukan apapun asal dia sedang berpuasa, maka dia beribadah, termasuk ketika tidur. Jongkok juga ibadah, namanya jongkoknya orang yang puasa.

Orang yang tidak melakukan apa-apa tapi dia sedang ibadah puasa, maka nilainya tetap ibadah. Asal itu hal-hal yang tidak melanggar. Oleh karena itu, hadits ini kalaupun mau dijadikan motivasi untuk orang mengumpulkan pahala tidak dengan cara tidur, tetapi melakukan sesuatu yang lebih manfaat, karena dia tidak mendapatkan nilai lain kecuali nilai dari puasanya itu sendiri.


Hadits ke 11

رُبَّ صَائِمٍ لَيۡسَ لَهُ مِنۡ صِيَامِهِ إِلَّا الۡجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيۡسَ لَهُ مِنۡ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan betapa banyak orang yang salat malam tidak mendapatkan dari salat malamnya kecuali bergadang.”(HR Ibnu Majah 1690)

Hadits riwayat Ibnu Majah ini dinilai dhoif walaupun nanti kita akan dapatkan beberapa hadits pendukung yang shahih, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori.
Misalnya, Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari).

Maka sebenarnya spiritnya tertuang di beberapa hadits shahih ada tetapi bahwa hadits yang dikutip Ibnu Majah sanadnya dhoif.


Hadits ke 12

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ اْلآخِرَةَ فِي جَمَاعَةٍ فِي رَمَضَانَ فَقَدْ أَدْرَكَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ

”Barang siapa shalat Isya yang terakhir dengan berjama’ah di bulan Ramadhan, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan Lailatulqadr.” (Ibnu Khuzaimah 2195)

Makna isya’ yang akhir, ada yang menyebut shalat malamnya agak akhir di waktu shalat malam. Sekalipun sekarang biasanya shalat Isya’ diawalkan karena shalat-shalat sunah malamnya diawalkan, yang terkenal dengan Tarawih.


Hadits ke 13

كَانَ إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ اِجْتَنَبَ النِّسَاءَ وَاغْتَسَلَ بَيْنَ الْأَذَانَيْنِ ، وَجَعَلَ الْعِشَاءَ سَحُوْرًا

“Apabila sudah masuk sepuluh hari, Beliau menjauhi wanita, mandi di antara kedua azan dan menjadikan makan malam sebagai sahur.”

Ini memberikan kesan, memberikan pembelajaran seolah-olah Nabi menuntunkan untuk mandi diantara dua adzan. Ini kalau diamalkan betul menjadi sesuatu yang memberatkan. Apalagi sahurnya pada saat isya.

Kalau yang lain memang ada dukungan dari hadits-hadits yang lain.
Seperti menjauhi isterinya. Nabi kalau 10 hari terakhir beliau merapatkan ikat pinggang dan melaksanakan iktikaf, tinggal di masjid dan tidak masuk ke rumahnya. Hadits ini dinilai ulama hadits batil.


Hadits ke 14

مَنْ صَامَ بَعْدَ اْلفِطْرِ يَوْمًا فَكَأَنَّمَا صَامَ السَّنَةَ ، وحديث : الصَّائِمُ بَعْدَ رَمَضَانَ كَالْكَارِّ بَعْدَ الْفَارِّ

“Barang siapa berpuasa sehari setelah Iedhul Fitri , maka ia seperti berpuasa setahun.”
Dilain riwayat : “Orang yang berpuasa setelah Ramadhan seperti orang yang melompat kembali setelah berlari.” (Kanzul Ummal 24142)

Seperti lompat jauh, maka akan mencapai banyak jarak. Hadits ini juga hadits dha’if. Kadang-kadang dijadikan dasar amalan habis beridhul fitri di tanggal 1, maka tanggal 2 Syawal langsung puasa.

Ada juga yang mendasarkan itu terkait dengan Puasa Syawalnya. Tetapi sebenarnya kalau kita baca di hadits-hadits yang shahih terkait Puasa Syawal tidak menyebutkan awal, tetapi 6 hari di bulan Syawal.


Hadits ke 15

Di dalam hadits yang lain, ada kaitannya dengan Syawal.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَشَوَّالاً وَالأَرْبِعَاءَ وَالْخَمِيْسَ وَالْجُمْعَةَ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, Syawwal, hari Rabu, Kamis dan Jum’at, maka dia akan masuk surga“.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, 3/416. Tapi ada rawi yang tidak dikenali, hingga dinilai oleh ulama : Dhoif. Ada keganjilan juga dari segi isi. Puasa Ramadhan, diikuti Puasa Syawal lalu Puasa Rabu dan Kamis.


Hadits ke 16

لاَ تَكْتَحِلْ بِالنَّهَارِ وَأَنْتَ صَائِمٌ

“Janganlah kamu bercelak di siang hari ketika kamu sedang berpuasa.”

Hadits ini dinilai Ibnu Ma’in munkar.
Kalau di tradisi kita memang tidak ada celak (tidak bercelak). Ini tradisi orang Arab, maka ini juga berpengaruh di Arab, tetapi untuk kita tidak terlalu berpengaruh karena sudah biasa tidak bercelak.


Hadits ke 17

“Orang yang berdzikir kepada Allah pada bulan Ramadhan diampuni dosanya”.

Hadits ini memberikan dorongan untuk senantiasa berdzikir kepada Allah dan orang yang senantiasa berdzikir di bulan Ramadhan diberi ampunan.
Substansi tidak ada masalah, tetapi bila ungkapan ini disandarkan kepada Nabi itu tidak ditemukan dasar yang kuat. Ada di dalam kitab Jamiush Shagir karya A Suyuthi dan dinilai oleh ulama ada rawi Hilal bin Abdurrahman dia dhoif.


Hadits ke 18

الصَّوْمُ فِي الشِّتَاءِ

“Berpuasa itu di musim dingin.”

Kalau ini benar menjadi problem baru bagi orang yang tidak hidup dengan 4 musim. Seperti di tempat kita ini tidak mengenal musim dingin. Yang ada adalah musim penghujan dan musim kemarau. Lalu puasanya kapan?

Kalau dalam hadits ini mungkin berdasarkan pengalaman masyarakat Arab saat itu. Dan nampaknya tidak selalu begitu, karena musim Ramadhan di Arab pun bergeser, pernah mengalami masa-masa Ramadhan yang panas juga.

Hadits ini dari segi kualitas lemah. Ada di Sunan At Turmudzi no 727 dalam derajat mursal. Diriwayatkan oleh Tabi’in bersandar kepada Rasulullah, tapi Tabi’in ini tidak pernah bertemu dengan Rasul.


Hadits ke 19

اِسْتَعِيْنُوْا بِطَعَامِ السَّحَرِ عَلَى صِيَامِ النَّهَارِ ، وَبِالْقَيْلُوْلَةِ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ

“Mintalah pertolongan dengan makan sahur untuk membantu puasa di siang hari, dan tidur siang untuk qiyamullail.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Hakim dan Ibnu Majah. Hanya saja nilainya adalah dha’if. Tetapi secara substansi bahwa sahur itu adalah tuntunan, di dalam beberapa hadits shahih ada.

Diantaranya yang sangat populer
Nabi SAW bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” -(HR. Bukhari Muslim).

Bagi orang puasa kalau sahur setidaknya memberikan penguat tubuhnya di siang hari saat puasa. Itu bentuk salah satu berkahnya.


Hadits ke 20

مَنْ أَفْطَرَ يَوْماً مِنْ رَمَضَانَ ، مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلاَ مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ ، وَإِنْ صَامَهُ

“Barang siapa berbuka sehari saja di bulan Ramadhan tanpa udzur dan tanpa sakit, maka ia tidak bisa diqadha’ oleh puasa setahun, meskipun ia melakukannya.”

Ini substansinya memberi dorongan buat seseorang untuk menjaga betul puasanya. Jangan sampai kemudian dia membatalkan secara sengaja di bulan Ramadhan. Karena ada juga orang yang memanfaatkan rukshah- rukshah di bulan Ramadhan sekalipun rukshah itu memang diberikan.

Misalnya orang yang melakukan safar. Tapi ada yang memanfaatkan supaya tidak puasa di bulan Ramadhan dengan melakukan safar. Ini tidak masalah tetapi bukan berarti kewajiban puasanya gugur. Karena harus diganti di luar Ramadhan. Dan itu jauh lebih berat dari pada melaksanakan puasa di bulan Ramadhan karena banyak temannya.


Hadits ke 21

Do’a-do’a yang sering kita simak

اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت

“Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu.”
Ya Allah, untukmu aku berpuasa dan atas rezekimu aku berbuka.

Hadits ini ada di dalam Ibnu Sunny dalam kitabnya “Amal al-Yaum wa al-Lailah”. Juga diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya dan beberapa kitab lainnya. Hanya saja ulama menyebut hadits ini matruk. Masuk kategori dhoif, lemah sekali.

Secara substansi do’a ini tidak ada masalah, tetapi ketika do’a ini disandarkan kepada Nabi menjadi masalah karena tidak ditemukan bukti-bukti yang shahih bahwa ini bersumber dari Nabi.

Banyak orang yang berdoa berbuka puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW adalah :

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/
‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’

Ini ada dalilnya yang kuat. Tapi sebenarnya ini kesannya bukan do’a , lebih berkesan semacam rasa syukur , pernyataan setelah minum hilang dahaganya, kerongkongan telah basah.

Sedangkan doa berbuka puasa yang tersebar dimasyarakat :

اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين

“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas rezeki-Mu aku berbuka, aku memohon Rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha Penyayang.”

Tetapi memang do’a ini kalau disandarkan kepada Rasulullah ada problem di kualitas periwayatannya.


Hadits ke 22

ثَلَاثٌ لَا يُفۡطِرۡنَ الصَّائِمَ: الۡحِجَامَةُ وَالۡقَيۡءُ وَالاِحۡتِلَامُ

“Ada tiga hal yang tidak membatalkan orang yang berpuasa, al hijamah (bekam) , muntah dan ihtilam (mimpi basah)”.(Hadits dhoif At Turmudzi no 719)

Inilah hadits-hadits yang dinilai lemah di sekitar Ramadhan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here