Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

8 Ramadhan 1442 / 20 April 2021



Selalu Bersyukur

Bersyukurlah kita dengan sesungguh -sungguhnya syukur. Tidak ada alasan bagi orang mukmin untuk tidak bersyukur. Selalu bersyukur apa saja kejadiannya.

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan. (Dari HR Ibnu Majah).

Semua keadaan kita syukuri, karena semua keadaan bagi mukmin adalah baik baginya. Kalau diuji dia sabar, kalau diberi kebahagiaan dia bersyukur. Tidak pernah dia menggerutu, kalau sudah waktunya dia akan mencapai kebahagiaan.
Tentunya dengan qalbun Salim, modal kita untuk bertemu dengan Allah nanti.
Semua tidak ada gunanya, harta tidak ada gunanya, anak-anak tidak ada gunanya.

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَا لٌ وَّلَا بَنُوْنَ (88) اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ (89)

“yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 88-89)

Kita harus menata, merawat dan menjaga qolbu. Mudah-mudahan kita bisa khususnya yang sedang bicara. Kita juga tidak lupa terus menerus bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW.


Penciptaan Manusia Yang Ajaib

Ada satu perintah dari Allah yang penting untuk kita laksanakan, yaitu mencermati diri kita sendiri.

Allah SWT berfirman:

وَفِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ

“dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 21)

Maksudnya kita ini supaya melihat tubuh kita. Tubuh secara utuh dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Di dalam tubuh kita itu ternyata luar biasa. Sudah sebagian kita terangkan supaya kita faham, bahwa kita ini tidak ada apa-apanya.

Tentang penciptaan manusia, dari dua sel saja yaitu sperma yang bentuknya seperti kecebong. Segmennya ada kepala, ada leher dan ada generator energi (mitochondrion) dan ada ekornya yang berguna untuk pergerakan.

Kepada murid-murid saya, saya menyampaikan bahwa sesungguhnya anda itu juara. Sel telur itu cuma satu. Yang dicurahkan oleh bapak, 1 mililiter air mani ada 15 juta spermatozoa. Padahal normalnya sekitar 3 mililiter. Kemudian spermatozoa yang jutaan itu berbondong-bondong mencari sel telur.

Bayangkan kita ditutup matanya, disuruh mencari benda. Harus menempuh jarak ratusan kilo meter. Apa yang terjadi? Subhanallah ada spermatozoa yang bisa menemukan sel telur. Tapi banyak yang tidak menemukan. Yang menemukan jumlahnya juga jutaan. Tetapi yang bisa masuk sel telur cuma satu. Spermatozoa yang kuat, yang menemukan jalan dan menembus sel telur itu nanti yang menjadi kita semua ini.

Maka kalau kita cengeng berarti tidak melihat waktu kejadian. Spermatozoa tak ada yang cengeng. Ibarat Marathon jutaan orang mereka berbondong- bondong dari mulut rahim mencari satu telur yang dikeluarkan Ovum.

Hanya satu spermatozoa bisa masuk , karena ada pintunya. Kemudian telur menutup. Dari dua sel itu saja kemudian bisa berkembang seperti kita.
“Subhanallah, walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar”.
Maha suci bagi Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada satu Tuhan pun yang disembah kecuali Allah, Allah Maha besar.

Ini kejadian penciptaan manusia yang ajaib. Maka di surat Al Waqi’ah itu Allah mengingatkan :
“Kamu yang menumbuhkan ataukah Kami yang menumbuhkan?”

Setelah tumbuh menjadi manusia, dilengkapi syaraf yang komplex. Kok bisa-bisanya kabel syaraf ini tidak korsluiting? Sebenarnya ada 4 macam kabel atau pipa dalam tubuh manusia : pipa Arteri, pipa Vena, kabel Syaraf dan pembuluh Limfe yang lebih halus, cairannya transparant seperti jelly. Kalau tempat tertentu ada radang, kelenjar limfe akan membesar.

Para ahli meneliti kabel syaraf ini panjangnya 75 km. Kita bayangkan ketika kita menginjak duri, refleks kita bisa secepat itu. Padahal perjalanan ini menempuh jarak 75 km. Betapa cepat gerakan antara rangsangan dan refleks serta gerakan otot untuk menghindari, atau teriak “aduh”, atau sambil memandang kakinya ini kenapa?

Maa syaa Allah. Makanya kita sekarang mulai menyadari bahwa qolbu kita diasah, dididik, dibimbing oleh Rasulullah SAW. Berdzikir itu gunanya untuk ini juga karena dzikir itu bukan kebutuhan Allah. Allah dengan ciptaannya yang awalnya cuma dua sel saja, secara otomatis berkembang.

Para ahli mencari tahu kenapa berkembangnya bisa sama? Kenapa hidung bentuknya seperti itu, tidak bercabang dua misalnya. Bentuk hidung semua sama seperti itu, hanya ada yang model pesek, ada yang mancung, ada yang mlengkung. Tapi habis itu berhenti tumbuh. Kenapa alis kita berhenti tumbuh? Bayangkan jika alis memanjang terus sampai ke bawah. Mencukurnya akan repot.

Kemudian syaraf tadi panjangnya 75 km tapi kecepatannya luar biasa. Sehingga ketika menginjak paku orang bisa mengaduh, kemudian melihat kakinya, atau malah ada yang lebih canggih, dia menghindari paku tadi.
Demikian itu kerja syaraf, bentuknya aneh. Bukan bulatan. Ada titik pipih tetapi ada cabang-cabang namanya dendrit.

Jadi kita wajib terus menerus bertasbih : “Subhanallah wa bi hamdihi” , cuma 100 kali tiap pagi dan petang. Paling cuma 2,5 menit.
Itu semua pekerjaan qolbu. Kalau qolbunya tidak nyahut sebagai orang yang dikehendaki Allah dadanya dilonggarkan Allah.

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِ سْلَا مِ ۚ 

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan membukakan dadanya untuk menerima Islam..” (QS. Al-An’am 6: Ayat 125)

Bayangkan perjalanan dakwah Rasulullah 23 tahun dengan Para sahabat , dirangkum menjadi islam yaitu Al Qur’an dan As Sunah. Sehingga kita tidak mengambil sembarangan dari medsos. Tik Tok diambil, nanti tersesat. Yang benar kita bersama- sama mengkaji.

Mari kita syukuri, minimal dengan mengucap Alhamdulillah. Ini baru deklarasi dari mulut saja. Berikutnya hatinya bersyukur.

Bayangkan jika Allah memberi instruksi : “Wahai otak si Fulan, berhentilah bekerja, separuh saja”…
Ini namanya kena stroke.
Kalau kena otak kanan biasanya disertai “pelo”. Kalau kena yang kiri disertai kelumpuhan bagian kanan bila disertai perdarahan.

Atau ada instruksi Allah : “Wahai otak si Fulan, berhentilah”. Maka ada orang yang koma berbulan-bulan tidak bangun-bangun. Di barat kita dengar ada orang koma sampai 8-10 tahun karena pemeliharaan mereka bagus untuk menjaga orang koma. Tetapi di kita malah ada yang tidak sabar, menyerah dan tak mampu. Akhirnya pertolongannya diterminasi.

Semua karena Allah, semua diperintahkan Allah karena selnya juga berasal dari Allah. Maka kita syukuri terus :

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ،

“Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Kalau mau minimalis, 10 kali. Rasulullah menganjurkan 100 kali pagi dan petang.

Kalau kita menuruti perintah Allah, berdzikirlah yang banyak.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا 

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak- banyaknya,” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 41)

Banyak artinya tidak usah dihitung.
Kita masuk kamar mandi berdzikir dalam bentuk do’a. Kemudian keluar kamar mandi berdo’a lagi. “Ghufranaka” (Aku meminta ampunanmu Ya Allah), kaki kanan keluar dulu. Kalau masuk kamar mandi kiri dulu. Jangan terbalik.
Kalau masuk masjid kebalikannya, kaki kanan dulu sambil berdo’a :
“Allohummaf tahlii abwaaba rohmatik”.
(Ya Allah, bukalah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).

Semua serba berdzikir, karena memang kita tidak ada apa-apanya. Sel kita demikian banyak 70 Triliun tapi kita tidak tahu, mereka bekerja sendiri-sendiri secara otonom. Menghasilkan energy mereka kerja sendiri. Apa kita memencet tombolnya? Kan tidak.

Refreshing ini agar digunakan untuk evaluasi diri supaya Shadr kita dimudahkan oleh Allah menerima Islam. Jangan sampai sebaliknya.

 وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَ نَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ ۗ 

“Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia mendaki ke langit.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 125)

Dada yang sempit, mendengar pengajian dikira ustadznya menyindir. Tak mau datang lagi ke Pengajian. Padahal ustadz hanya menyampaikan apa yang diketahuinya dari Al Qur’an dan As Sunah. Intinya supaya kita berbuat baik, betul-betul dari hati yang paling dalam, ikhlas semata-mata karena Allah agar Al Hawa mengecil.

Puasa ini kesempatan bagus untuk mendapatkan Qolbun Salim. Bisa menerima semua hal tentang Islam dan pasrah kepada Allah. Akhirnya dia melaksanakan ibadah dengan suka cita, tak ada rasa terpaksa.
Kalau sedang sakit badannya, mohon ampun tapi qolbunya tetap rindu untuk melaksanakan ibadah.

Ketika masjid ditutup karena Pandemi, siapa yang tidak rindu kembali ke masjid? Tapi ada juga yang malah gembira tak ke masjid, gara-gara corona. Mari kita ucapkan Bismillah kembali ke masjid dan dengan protokol kesehatan, in syaa Allah aman. Qolbu bisa memaksa kembali ke masjid. Dari share WA, perjalanan paling berat itu ke masjid. Bisa ke Eropa, tapi belum tentu bisa ke masjid.

Kita ulang terus halangan kita. Kalau tidak bisa diatasi maka ibadah akan kalang kabut. Mau shodaqoh malah tidak jadi, karena ”digrinjingi” oleh keluarga sendiri :
“Dirinya sendiri masih membutuhkan kok malah shodaqoh untuk orang lain, ngapain? Kita belum ini, belum itu”.
“Belum ke Thailand, belum ke Singapore ngapain shodaqoh?”.

Padahal shodaqoh hanya memberi makan. Modalnya tak sampai 15 ribu bisa untuk memberi makan orang yang berpuasa. Pahalanya sama dengan orang yang berpuasa, tidak mengurangi pahala yang puasa. Banyak teknik untuk shodaqoh. Dibagikan sendiri di jalan atau dibawa ke masjid. Mudah-mudahan kita di Indonesia ketika berbuka puasa bisa seperti di Mesir, di Saudi dimana orang bershodaqoh luar biasa.

Hambatan-hambatan harus dihilangkan supaya kita “laalakum tataqun”.

Allah SWT berfirman:

وَسَا رِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَا لْاَ رْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ 

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 133)

Yang masuk surga nanti bukan orang yang memakai baju hijau dengan lambang jagad diikat ataupun yang ada tulisan Muhammadiyah dan ada sinarnya. Tidak ada, yang masuk surga adalah orang yang Muttaqin.
Surga sedemikian luasnya sehingga kalau umatnya masuk surga semua, tak mungkin ada yang terlewatkan.


Siapa Mereka yang masuk Surga?

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ 

“yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 134)

Sayangnya ayat ini hanya muncul saat halal bihalal. Padahal mestinya ini ayat harian.

1. Bersedekah waktu lapang dan sempit

Ada teman saya mengeluh :
“Pak Kiyai, saya ini dalam sehari kok sampai ditabrak tiga kali!” ..
Ada becak yang kencang dan menabrak mobil sampai penyok. Itupun terjadi berkali-kali.
Jawaban Pak Kiyai : “Bersedekahlah”.
Janganlah kita malah menuduh, ini pasti gara-gara kamu tak pernah sedekah. Tidak, jangan begitu. Berdakwah itu lembut.

Allah memerintahkan sedekah itu saat kita longgar maupun sempit. Bersedekahlah dengan ikhlas, jangan mengharap sesuatu balasan selain dari Allah. Shalat Dhuha jangan karena ingin kaya. Kalau mau kaya carilah rezeki. Dan ingat bahwa rezeki itu bukan hanya uang.

Ada wanita ketika dia hamil 3 bulan dideteksi dengan USG, Naudzubillahi min dzalik – tulang kepala bayi tidak menutup – dan itu terjadi kedua kalinya pada dirinya. Setelah diteliti ternyata memang ada genetik ketika spermatozoa bertemu dengan sel telur tidak lengkap. Akhirnya tulang tidak menutup di kepala, alias anencephaly.
Kesimpulan kehamilannya harus diterminasi.

Dari sini sudah tergambar rezeki bukan hanya uang. Anak yang lahir utuh itu rezeki luar biasa. Lahir bisa menangis, kaki jarinya lima, tangan jarinya juga lima. Ada jempolnya, ada kukunya. Kalau ibunya menganggap itu bukan rezeki akan bahaya nantinya. Ada bayi yang ditaruh di tempat sampah, ada yang dibekap dengan bantal. Naudzubillahi min dzalik. Kekejaman orang makin luar biasa. Tidak ada rasa kasih sayang sama sekali.

Ketika kita dalam keadaan sempit, tetaplah bersedekah! Sambil berdo’a kepada Allah : “Jauhkanlah aku dari musibah, mudahkanlah urusanku”..
Berdo’a dan disertai amaliah Shalat Dhuha. Dhuha tetap shalat, doanya oleh Nabi diajarkan :

أَللّٰهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الْرِّجَالِ

Allahumma Inni a’udzubika minal hammi wal huzni, wal ajzi, wal kasali, wal bukhli, wal jubni, wal dhola’id daini, wa gholabatir rijali

“Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih serta duka cita ataupun kecemasan, dari rasa lemah serta kelemahan, dari kebakhilan serta sifat pengecut dan beban hutang serta tekanan orang-orang jahat.”

Infak diwaktu sempit itu berat. Di tempat guru saya dulu di Comal kalau ada orang yang datang-datang mengeluh langsung diperintahkan menyembelih kambing. Dagingnya dibagikan dan tulangnya untuk makanan buaya di Kali Comal. Beliau beralasan untuk melatih agar mereka mau shodaqoh.


2. Mengendalikan Kemarahan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ
رَوَاهُ البُخَارِي


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari)

Marah itu spektrumnya luas, dari jengkel yang tidak kelihatan marah tapi ucapannya ‘ngegas’. Matanya agak melotot, mukanya merah. Kemudian sampai ada ucapan-ucapan kotor.

Pada saat saya mengawal umrah ada seorang yang nampaknya saudagar, pakai jubah putih, tapi kasar memaki-maki saya. Langsung saya sitirkan satu hadits Rasul, dia langsung diam. Berarti dia masih ada iman. Qolbunya tersentuh ucapan saya dan tidak memaki-maki lagi.

Marah itu dilarang, karena ketika kemarahan meletup maka tensinya kalau diukur mungkin bisa tinggi sekali. Kemudian ada pengerutan pembuluh darah. Kemudian dicurahkan hormon yang bertentangan dengan endorfin, semacam adrenaline dan lainnya. Ini semua memicu berbagai kerusakan.

Kalau sudah ada kelemahan di pembuluh darah aorta yang menipis maka ada kemungkinan pecah. Atau ada sumbatan yang dekat percabangan dia dapat terdorong dengan cepat dan membuntu percabangan. Kalau sumbatan di salah satu segmen otak terjadilah stroke.

Jadi banyak sekali mudharat dari kemarahan. Maka kita perlu belajar terus agar tidak terpicu dengan lingkungan. Rasulullah ketika memberikan ciri orang mukmin yang bahagia, ada empat salah satunya adalah al mar’atus sholihah, atau wanita yang sholehah yang membangunkan suaminya dan mengajak shalat malam.


3. Memberi Maaf kepada orang yang salah kepada kita.

Ini juga pekerjaan qolbu yang luar biasa. Disini ada suatu yang aneh. Ketika ada orang dizalimi dan ada kesempatan membalas dia berkata :
“Perkara minta maaf sudah dimaafkan, tetapi hukum tetap jalan…”
Ini aneh, karena dengan berjalannya hukum berarti ada pembalasan.

Hukum di Saudi Arabia ketika ada orang yang dibunuh, keluarga dari si terbunuh diberi dua pilihan : Memaafkan dan mengganti uang, atau menghukumnya. Kalau dipilih memaafkan maka semua proses hukum berhenti. Ini adalah proses hukum yang mengikuti sunah Nabi SAW. Kalau keluarga tak mau memaafkan maka proses hukum berlanjut dan terjadi qishash.

Kalau tak ada qishash maka seperti sekarang ini. Nonton TV berita yang muncul pembunuhan. Maka saya tidak suka nonton TV. Kita tiap hari disuguhi pembunuhan. Dan pembunuhnya diwawancara pula. Wartawan berhentilah mewawancarai pembunuh.
Sampai rinci diceritakan padahal yang melihat TV itu luas, ada yang tua ada yang muda, ada anak-anak.
Kita butuh tontonan yang menenteramkan hati seperti channel Arab Saudi, itu menenteramkan hati.

Menahan marah sering tidak terlaksana, karena sakitnya luar biasa. Sehingga tidak mau memaafkan. Padahal memaafkan itu luar biasa. Penuh dengan keunggulan. Rasulullah menyampaikan orang yang tawaduk, selalu memaafkan itu derajadnya luar biasa. Ini pekerjaan qolbu yang berat, mudah-mudahan Allah memberi hidayah kita bisa melaksanakan.

Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan (Mukhsin). Maka zaman dulu di Jepara banyak anak-anak namanya Mukhsin. Tetapi sekarang zamannya ganti, nama yang banyak Tony, Jacky yang tak ada maknanya. Padahal salah satu kewajiban orang tua memberi nama anak yang bagus.


Pengendalian Nafsu di Masa Ramadhan

Dalam bulan Ramadhan ketika diajak berdebat, diajak untuk bertengkar maka katakan : “Aku berpuasa”.

Rasulullah SAW bersabda,

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

“Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Ini pekerjaan yang berat, karena biasanya orang dikasari pasti membalas dengan lebih keras. Ada format “Pembalasan lebih kejam dari pada Perbuatan”. Tapi Nabi tidak mengajarkan itu. Rasul mengajarkan kesabaran.

Kita dapat melihat Surat An Nahl ayat 126

وَاِ نْ عَا قَبْتُمْ فَعَا قِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖ ۚ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ

“Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 126)

Bila orang sabar ketika dizalimi maka itu lebih baik baginya. Dizalimi artinya kita tidak berbuat salah, tiba-tiba ada orang mengambil hak kita.
Orang yang dizalimi biasanya akan membalas ditambah ada rasa jengkelnya, maka jadilah Pembalasan lebih kejam dari Perbuatan. Tetapi islam tidak membolehkan hal itu. Bahkan memaafkan perbuatan itu lebih baik.

Allah SWT berfirman:

وَا صْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ اِلَّا بِا للّٰهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِيْ ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُوْنَ

“Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 127)

Sabar itu terwujud kalau ada pertolongan Allah, karena sabar itu tak ada batasnya. Dengan kita bersabar maka pertengkaran akan reda.

Ada kisah orang yang marah karena mendapat oleh-oleh batik dari temannya. Dia marah karena batik itu ada cacatnya, dan dia merasa dihina dengan pemberian itu. Padahal itu batik Tulis yang dikerjakan pakai tangan. Pasti ada cacatnya.

Orang yang memberi batik Tulis itu justru dimarahi dengan hebat.
Hebatnya dia justru minta maaf!
“Maaf, saya sedang puasa. Nanti batik itu saya tukarkan ke penjualnya, saya ganti yang lebih baik”.
Dan orang yang diberi itupun tetap marah. Ini kisah beneran, akhirnya orang yang marah-marah itu pergi sendiri.

Mudah-mudahan kita bisa mengikuti sunah Rasul SAW, pekerjaan qolbunya bisa menimbulkan refleks.
Refleks itu bisa terjadi, refleks qolbu, refleks perasaan. Ada orang yang refleksnya setiap gerakan mengucapkan Alhamdulillah. Setiap apa yang dia terima bisa jadi kegembiraan. Lama-lama menjadi refleks alhamdulillah. Kita lebih baik refleks begitu daripada refleksnya latah yang tak karuan.

Kita buat refleks kita nyambung pada dzikir : Allohu Akbar, Maa Syaa Allah, Alhamdulillah, Naudzubillahi min dzalik ..
Itu semua menjadi dzikir sesuai Perintah Allah :
“Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat nama-Nya sebanyak- banyaknya,”
“Bertasbihlah kamu pagi dan petang”


Kisah Sahabat Yang Bertengkar

Ada seorang pemuda miskin bernama Rabi’ah bin Ka’ab yang sering berkumpul di masjid Rasulullah. Termasuk Abu Hurairah ada disitu memelihara kucing banyak sekali, sampai dapat julukan Bapaknya Kucing.

Suatu hari Rabi’ah menawarkan diri menjadi pembantu Rasulullah. Dia diterima karena Rasulullah sering melihat bahwa orang ini orang baik. Rabi’ah ini dikelompokkan sebagai Tamu islam.

Sudah lama dia mengabdi pada Rasulullah dan akhirnya disuruh berdo’a : “Kamu mau minta apa wahai Rabi’ah?” Karena dia tak pernah meminta pada Rasulullah. Dia minta waktu : “Ya Rasulullah saya minta waktu mau berfikir”. Agak aneh juga, umumnya kalau ditawari, akan minta kaya atau minta sukses.

Luar biasanya jawaban Rabi’ah : “Ya Rasulullah saya ingin menemani Engkau di Surga”.
Namun dia tetap bekerja dengan rajin. Bahkan kadang-kadang dia tidak tidur, menjaga Rasulullah di depan pintu. Padahal dia tidak disuruh.

Akhirnya pada suatu hari Rasulullah bertanya : “Rabi’ah kenapa kamu tidak menikah?”. Pertanyaan ini sampai berulang kali diajukan Rasulullah. Akhirnya dia disuruh ke suatu keluarga, dan mengatakan bahwa dia utusan Rasulullah diperintah untuk melamar puteri keluarga tersebut. Akhirnya dia menikah, karena para sahabat bersikap “samikna wa athokna”.

Rabi’ah diberi hadiah sebidang tanah. Kebetulan tanah itu bersebelahan dengan tanah Abu Bakar Ash-Shidiq. Terjadi konflik batas tanah, antara milik Rabi’ah dan milik Abu Bakar. Pada saat itu Rabi’ah tidak kenal Abu Bakar. Saking jengkelnya Abu Bakar mengeluarkan kata-kata yang kasar saat bertengkar.

Abu Bakar setelah marah ingat surat Ali Imran ayat 135.

وَا لَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَا حِشَةً اَوْ ظَلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَا سْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 135)

Abu Bakar sadar dan minta maaf pada Rabi’ah. Jadi minta maaf itu pekerjaan qolbu. Kalau orang tidak merasa salah tak mau dia minta maaf.
Abu Bakar berkata : “Sekarang buatlah kata-kata kasar yang setimpal dengan apa yang dulu saya ucapkan untuk membalas aku”.

Oleh kawan-kawannya Rabi’ah diberi tahu siapa yang bertengkar dengannya. Rabi’ah tak mau membalas, justru dia minta maaf terus. Dan akhirnya mengadu pada Rasulullah. Rasulullah berkata : “Betul kamu harus tetap berkata baik, tidak perlu membalas yang setimpal”.
Intinya kalau ada pertengkaran jangan ucapkan kata-kata kasar, kalau salah kita minta maaf dan memperbaikinya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here