KH. Anang Rikza Masyhadi

11 Ramadhan 1442 / 23 April 2021


Wakaf itu ada beberapa ragam.

1. Wakaf Aset

Wakaf aset adalah kita mewakafkan aset atau harta tak bergerak.
Contohnya tanah, saya mewakafkan tanah kepada masjid, kepada madrasah, kepada pesantren, kepada sekolah misalnya. Itu namanya wakaf aset. Yang diwakafkan adalah asetnya.

2. Wakaf Melalui Uang.

Wakaf melalui uang itu uang hanya media.
Contohnya sebuah masjid karena tidak cukup, sudah luber jamaahnya, masjid akan membebaskan tanah. Kebetulan disamping masjid ada tanah 1 hektar. Lalu dilelang kepada jama’ah, permeternya 100 ribu. Kalau kita memberi uang kepada Takmir Masjid 1 juta berarti kita wakaf 10 meter. Itu namanya wakaf melalui uang karena hakekatnya kita ini mewakafkan tanah. Tetapi caranya dengan melalui uang. Kita mengasih uang kepada dia, uangnya dibelikan tanah.

Sama dengan bila Panitia Masjid mau membangun sarana MCK Masjid. Kita mewakafkan uang dengan nilai 1 juta, 2 juta atau 3 juta dan seterusnya. Itu namanya wakaf melalui uang. Karena oleh Panitia Masjid uangnya dibelikan semen, dibelikan batu, dibelikan besi, dibelikan keramik dan sebagainya. Hakekatnya kita mewakafkan Masjid, tetapi melalui uang.

3. Wakaf Uang

Wakaf uang, obyeknya adalah uang. Maka bersifat produktif. Jadi kalau ada orang mewakafkan Perusahaan namanya wakaf uang. Karena Perusahaan itu akan terus menghasilkan keuntungan.

Contohnya ada orang mewakafkan Pabrik Roti. Di Tazaka ada yang wakaf Pabrik Roti, ada yang wakaf Rumah Makan, ada wakaf macam-macam. Rumah Makan itu adalah aset. Pabrik Roti adalah aset, tetapi Pabrik Roti dan Rumah Makan dituntut tiap hari menghasilkan keuntungan. Keuntungannya masuk kepada wakaf lagi. Itu namanya wakaf uang, wakaf yang bersifat produktif.

4. Wakaf Manfaat (Wakf al Manafi)

Wakaf manfaat yang diwakafkan adalah manfaatnya.
Misalnya saya punya kost-kosan. Ada dua rumah di dekat Kampus. Lalu saya katakan dua rumah kost-kosan ini saya wakafkan manfaatnya kepada mahasiswa Fakultas Syariah selama 5 tahun. Artinya selama 5 tahun rumah itu dipakai oleh mahasiswa Syariah tanpa bayar. Itu namanya wakaf manfaat.

Misalnya saya punya Perusahaan Rental Mobil dengan 50 unit kendaraan yang biasa disewakan. Kemudian dinyatakan : Satu mobil ini, merk ini silahkan dipakai untuk Masjid atau Madrasah atau Yayasan tertentu untuk kegiatan keumatan selama 3 tahun. Setelah 3 tahun mobil dikembalikan lagi. Itu namanya wakaf manfaat.

Tetapi kalau mobilnya diberikan, namanya wakaf aset. Kalau yang diberikan adalah hasil dari Rental Mobil namanya wakaf melalui uang. Kalau wakaf manfaat, tidak memberi mobil dan tidak memberi uang, tapi meminjamkan mobil.

Dana simpanan juga bisa diwakafkan manfaatnya. Punya dana simpanan 100 juta dari pada disimpan maka dipinjamkan kepada Masjid atau Madrasah yang membutuhkan. Setelah Masjid mendapat infak dari jama’ah, kemudian dikembalikanlah uang 100 juta itu. Itu namanya wakaf manfaat.

5. Wakaf Profesi (Waqf Manafi’ul Abdan)

Semua Profesi yang punya nilai ekonomi bisa jadi obyek.
Misalnya ada seorang dokter mewakafkan profesinya. Dia berkata kepada Klinik tempat dia praktek. “Pak, Saya mewakafkan profesi saya 2 jam dalam seminggu”.
Dokter itu mengkhususkan waktu dalam seminggu 2 jam praktek di sebuah Klinik untuk kepentingan Kaum Dhuafa, para Santri dan Fakir miskin dengan cuma-cuma. Itu namanya wakaf Profesi.

Konsultan Bisnis, dia menjadi konsultan beberapa unit usaha milik Pesantren, milik Masjid, milik Lembaga-lembaga islam yang keuntungannya semua untuk Yayasan, Lembaga Islam, untuk Pesantren dan tidak digaji, namanya wakaf Profesi.
Notaris, Arsitek bisa wakaf Profesi. Arsitek menggambar Masjid indah sekali kemudian dia berikan. Harusnya dia dibayar untuk gambarnya , tapi dia menolak : “Nggak usah pak, ini untuk Masjid saya gratiskan saja”. Itu namanya wakaf Profesi.

6. Wakaf Pengalihan Hak

Yang diwakafkan adalah Hak.
Contohnya adalah Hak kepemilikan saham, hak Royalty atau Hak atas kekayaan Intelektual. Semua yang terkait dengan hak-hak yang dijamin oleh Fiqih maupun Undang-undang, kalau diwakafkan berarti masuk kategori wakaf Pengalihan Hak.
Wakaf tidak hanya benda tak bergerak.


Wakaf Zaman Dulu

Kalau dulu orang mengenal wakaf itu 3 M : Masjid, Madrasah dan Makam. Jadi kalau bicara wakaf, identiknya dengan 3 M itu. Tetapi sekarang Wakaf berkembang jadi 4 M, 5 M dan seterusnya.

Ada wakaf Mall. Kalau kita umrah ke Saudi Arabia, keluar dari Masjidil Haram kemudian melihat di depan Masjidil Haram itu ada Zam Zam Tower, sebuah hotel berbintang tinggi sekali yang diatasnya ada jamnya. Ini semuanya diwakafkan oleh Raja. Kalau kita menginap di hotel ini semua keuntungannya diwakafkan. Tentu setelah dikurangi biaya operasional.

Kalau masuk ke hotel ini, dibawahnya ada Mall. Kalau kita beli makanan atau oleh-oleh disini, hakekatnya kita berwakaf. Jadi kita belanja tapi kita berwakaf. Karena sewa tokonya semuanya hasilnya diwakafkan.

Kita umat islam ketemunya wakaf hanya ketika mati saja. Dikubur di tanah wakaf. Umat islam zaman dulu itu dari lahir sampai mati nggak bisa menghindarkan diri dari wakaf. Lahir di Rumah Sakit Wakaf. Tumbuh kanak-kanak sekolah di Sekolah Wakaf.

Selesai Sekolah masuk Perguruan Tinggi Wakaf. Selesai kuliah, kerja di Perusahaan Wakaf, kemudian naik Kereta, Kereta Wakaf. Naik mobil mengisi bensin di Rest Area, Rest Area wakaf. Menyimpan uang di Perbankan, pada waktu itu Perbankannya wakaf. Kemudian sampai akhirnya sakit di Rumah Sakit Wakaf dan meninggal dimakamkan di tanah wakaf.

Jadi hampir nggak bisa menghindarkan diri dari wakaf. Kalau bisa umat islam kembali lagi jadikanlah wakaf itu bagian dari hidup kita. Karena Rasulullah pernah bersabda: “Tidak ada sahabatku yang tertinggal, kecuali mereka semua telah berwakaf”.

Artinya bahwa disinyalir semua sahabat Nabi seluruhnya mereka tidak ada yang tidak berwakaf. Semuanya berwakaf, meskipun wakafnya bertingkat-tingkat sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Ibnu Khudamah ra pernah ditanya, “Wahai Imam Khudamah, menurut anda siapakah orang yang paling bahagia itu?”. Dijawab oleh Imam Ibnu Khudamah, “Orang yang paling bahagia adalah orang yang ketika nafasnya berhenti, pahalanya masih mengalir”.

Darimana asal kalimat Imam Ibnu Khudamah ini keluar? Ternyata Imam Ibnu Khudamah terinspirasi dari hadits Rasul SAW yang paling masyhur yaitu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim)

Hadits Nabi mengatakan bahwa kalau orang meninggal, semuanya terputus kecuali tiga hal. Tiga hal itu yang disebut pertama kali adalah Shodaqoh Jariyah.

Menurut para ahli hadits sejak zaman sahabat sampai hari ini, semua sepakat bahwa yang dimaksud dengan sedekah jariyah adalah tidak lain dari Wakaf. Karena sedekah yang mengalir. Sedekah yang kita membuat sesuatu terus mengalir dan abadi. Beda dengan sedekah biasa.

Sedekah biasa itu memberi makan orang. Ada pengemis lewat diberi uang. Itu namanya sedekah, tapi sedekah biasa. Kalau sedekah jariyah dia bersifat monumental, itulah wakaf.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here